Review MOOIMOM: Corset, Nursing Bra, Slimming Suit

Dilema sebagian ibu-ibu setelah melahirkan adalah perut yang menggelambir hihihi. Mau bagaimana lagi, 9-10 bulan “mengantongi” jabang bayi, setelah bayi keluar longgarlah perut para emak. Sebelum melahirkan, saya berikrar (pada diri sendiri sih) bahwa saya akan rajin pakai korset. Alamaaaak, kenyataannya rajin sih rajin tapi nggak nyamannya itu loh yang membuat saya tersiksa memakai korset.

Dua hari pertama setelah melahirkan, saya memakai gurita khusus ibu. Lalu, hari ketiga dan selanjutnya saya memakai korset 3-band (korset dengan 3 perekat). Tapi malangnya, kulit saya yang sensitif menjadi kemerah-merahan dan gatal-gatal setiap kali memakai korset 3-band. Selain itu, timbul ketidaknyamanan juga saat memakai karena korsetnya suka menggulung sendiri sehingga harus sering dibetulkan posisi rekatannya.

Ternyata hunting korset yang nyaman dan ramah kantong itu nggak gampang buat saya. Sampai akhirnya saya menemukan korset MOOIMOM yang bahannya nyaman, cara memakainya nggak ribet, dan harganya cukup affordable.

Saya punya tiga macam korset MOOIMOM. Karena reviewnya menurut saya positif dan saya puas memakainya, saya pun mencoba produk MOOIMOM lainnya yaitu bra dan baju pelangsing. Berikut reviewnya.

Continue reading “Review MOOIMOM: Corset, Nursing Bra, Slimming Suit”

Film Chrisye: Mengupas Kisah Cinta, Cita, dan Religi

Hari ini H-1 penayangan perdana Film Chrisye di bioskop. Mungkin ada di antara kalian yang masih menimbang-nimbang, mau nonton nggak ya? Atau mungkin ada yang sudah apatis duluan dengan film Indonesia (duuh, jangan donk). Saya bukan fans Chrisye, yang saya tahu hanyalah Chrisye sang musisi legendaris dengan suaranya yang khas, lagu-lagunya yang tak lekang oleh zaman, dan gaya panggungnya yang kaku. Kalau saya pribadi, saat tahu film Chrisye akan ditayangkan, terbersit pertanyaan: “Kira-kira kisah apa yang mau diangkat di film ini ya? Apa kira-kira menarik atau justru membosankan? Jadi, perlu nggak saya nonton?”.

Yaah kalau hanya memprediksi saja sih nggak bakal nemu jawaban, tonton dulu donk baru bisa komentar. Beruntungnya saya berkesempatan untuk menghadiri undangan exclusive Gala Premier Film Chrisye di Epicentrum XXI Jakarta pada hari Jumat, 1 Desember 2017 lalu yang digelar oleh MNC Pictures bersama Vito Global Visi. Gala Premier yang dilanjutkan dengan Press Conference ini menghadirkan sang sutradara Rizal Mantovani, Ibu Damayanti Noor (istri almarhum Chrisye), jajaran aktor dan aktris pemeran: Vino G. Bastian, Velove Vexia, Ray Sahetapy, Andi Arsyil, Dwi Sasono, dan pemain pendukung lainnya. Tak hanya itu, di acara Gala Premiere ini turut hadir juga sejumlah pejabat, film maker, dan deretan musisi Indonesia.

Saya mau membagikan sinopsis yang saya dapat setelah menonton Gala Premiere, tenang saja, no spoiler kok.

Sinopsis Continue reading “Film Chrisye: Mengupas Kisah Cinta, Cita, dan Religi”

Sabtu Kelabu: Tentang Kehilangan

Memasuki bulan Desember kali ini, saya excited menjelang liburan panjang di akhir tahun. Tiket kereta sudah ada di tangan. Kami sekeluarga berencana pulang kampung ke sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Kebumen. Sudah hampir setengah tahun saya tidak pulang ke kota kelahiran. Rencananya kami –saya, suami, dan baby Halwa– akan berlibur dari sebelum Natal hingga selesai Tahun Baru.

Jumat pagi, saya dan suami (Mas Ry) berjalan-jalan pagi bersama Halwa. Sudah menjadi kebiasaan kami saat libur untuk menyempatkan jalan-jalan di sekitar rumah. Apalagi, suasana pagi di kawasan Kampus UI Depok sangat cocok untuk berolahraga atau hanya sekadar menikmati udara segarnya. Pagi itu, saya bercerita kepada Mas Ry soal mimpi saya semalam tentang meninggalnya simbah kakung (kakek). Konon katanya, mimpi buruk pantang diceritakan. Mimpi buruk juga tidak boleh ditafsirkan karena tidak semua mimpi itu benar dan mimpi mungkin hanya bawaan perasaan atau bisikan hati. Namun, kali itu saya merasa perlu menceritakan perihal mimpi saya pada suami dengan tujuan untuk antisipasi seandainya hal itu sungguh terjadi.

Halwa (saat usia 1 bulan) bersama simbah buyut

Sejak sebulan terakhir ini simbah kakung memang kerap sakit-sakitan: mulai dari terjatuh di dekat sumur hingga kepalanya sakit, katarak yang hendak dioperasi, hingga kabar terakhir mengatakan simbah stroke karena terjadi penyumbatan pembuluh darah di otak sehingga beliau harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari terakhir. Siang hari itu, terlepas dari firasat mimpi buruk saya semalam, saya mendapat kabar bahwa kondisi simbah kritis dan harus dirawat di ICU. Pikiran saya tidak tenang, doa selalu saya lantunkan memohon yang terbaik untuk simbah.

Continue reading “Sabtu Kelabu: Tentang Kehilangan”

Rekreasi ke Waterbom PIK dengan Kupon Diskon BambiDeal

Menjelang weekend minggu lalu, saya ingin mengajak Halwa berenang. Biasanya kami berenang di waterpark dekat rumah yang HTM-nya 35.000 saat weekend. Kali itu saya ingin sekalian ajak Halwa jalan-jalan yang agak jauhan tapi tetap dengan harga murah. Hehe. Passss banget buka BambiDeal, ada diskon tiket masuk ke Waterbom Pondok Indah Kapuk (PIK) dari harga Rp 270.000 menjadi Rp 85.000. Wow banget kan? Kapan lagi dapat diskonan 69%. Setelah diskusi dengan Mas Ry, akhirnya kami putuskan untuk rekreasi ke Waterbom PIK. Continue reading “Rekreasi ke Waterbom PIK dengan Kupon Diskon BambiDeal”

Sajikan Gambar Menarik untuk Artikel Blog

Pernah nggak Mommies membaca blog yang isinya hanya tulisan tanpa gambar? Menurut saya membaca blog yang isinya melulu tulisan terasa hambar dan membosankan. Memang sih kalau konten artikelnya bagus dan berkualitas, hal itu nggak akan jadi masalah. Tapi alangkah lebih baik kalau saja artikel berkualitas dipadukan dengan gambar yang juga berkualitas? Pastinya itu akan membuat tampilan blog lebih hidup dan menarik minat pembaca untuk mampir membaca tulisan kita.

Nggak dipungkiri, gambar memang punya kekuatan tersendiri buat menarik perhatian reader agar lebih fokus membaca konten blog dari awal hingga akhir. Artikel yang menggunakan gambar menarik tentunya akan beredar lebih cepat di media sosial dibandingan dengan artikel dengan kualitas yang sama tapi dengan gambar yang kurang menarik. Jadi, yuk mulai sekarang kita tampilkan gambar terbaik untuk menyejukkan mata para reader kita. Mommies nggak perlu bingung untuk cari gambar-gambar yang menarik karena saat ini sudah banyak website yang menyediakan gambar gratisan dengan kualitas baik, misalnya Pexels, Pixabay, Gratisography, StockSnap.io, Unsplash, Death to Stock Photos, Tookapic Stock, PicJumbo,  Im Free, New Old Stock, Jay Mantri, Life of Pix, etc (saya belum pernah explore ke semua situs tersebut, by the way).

Photo by Mantas Hesthaven on Unsplash

Continue reading “Sajikan Gambar Menarik untuk Artikel Blog”

Yuk Konsumsi Telur, si Protein Hewani Padat Gizi

Setiap Ibu pasti pasti pernah menghadapi anaknya yang susah makan (GTM = Gerakan Tutup Mulut), tidak terkecuali saya, hehe. Badai GTM Halwa itu hilang timbul. Kadang dia lahap makan, tapi kadang ya gitu deh bisa masuk 5 suap aja alhamdulillah. Grafik pertumbuhan berat badannya selalu saya pantau, asalkan masih masuk range berat badan sesuai tahapan usianya sih saya tenang saja meskipun garisnya ada di batas bawah. Melihat fenomena nggak doyan makan seperti itu, saya jadi berpikir untuk memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) yang padat gizi. Susu? Ah dia nggak doyan susu formula atau UHT. Baru saya berikan akhir-akhir ini sih tapi reaksinya nggak terlalu happy.

Mencari bahan MPASI yang padat gizi, murah, dan gampang dijumpai sehari-hari sebenarnya tidak sulit, misalnya saja telur ayam. Beruntungnya di dekat rumah saya ada warungnya si Bang Udin yang superrr lengkap menjual sembako dan kebutuhan sehari-hari. Warung yang hanya berjarak 10 langkah dari rumah saya ini menjual telur dengan kisaran harga 20-22 ribu per kilo. Nah di depan warung Bang Udin, ada yang jual ayam potong. Pokoknya bersyukur deh saya bisa mendapat bahan protein hewani dengan mudah untuk konsumsi keluarga.

Continue reading “Yuk Konsumsi Telur, si Protein Hewani Padat Gizi”

Mengatasi Napas Grok-grok pada Bayi

Nggak terasa usia baby Halwa menjelang satu tahun. Dikaruniai anak yang sehat, pintar, lincah, pertumbuhan dan perkembangan sesuai tahap usia adalah hal yang patut disyukuri.

Flashback setahun lalu saat saya dan mas Ry hanya berduaan saja (tanpa keluarga) menghadapi persalinan, saat menegangkan di ruang bersalin, hingga masa setelah Halwa lahir. Namanya juga perantau, kudu mandiri donk Mak! Pengasuhan Halwa pun mostly ditangani saya dan Mas Ry.

Jauh-jauh hari sebelum Halwa lahir, saya melakukan beberapa persiapan “ilmu” untuk menghadapi situasi tidak-ada-yang-membantu-merawat Halwa, antara lain dengan membaca buku-buku pengasuhan dan perawatan bayi. Mengikuti Whatsapp grup support ASI Eksklusif, mengikuti seminar pre-natal, dll. Untuk apa? Biar nggak panik-panik amat pas punya bayi nantinya, Mak.

Seminggu setelah Halwa lahir, semua berjalan baik-baik saja tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah ya. Nah, saat Halwa berusia 2-3 minggu, mulailah kepanikan terjadi. Saat itu saya mendengar napas halwa bunyi “grok grok” kasar seperti ada yang menyumbat jalan napasnya. Meskipun tadi saya bilang sudah “persiapan ilmu” sebelum punya bayi, tapi tetap saja menghadapi realita itu lumayan bikin emak panik, he he he. Apalagi waktu itu Mas Ry sudah pergi ke kantor, saya hanya berdua saja dengan baby Halwa dan napas grok-grok-nya. Maju mundur mau periksa ke dokter anak sambil mikir: “Ini wajar nggak ya? Perlu ke dokter nggak ya?” (Ngaku deh, sebagian ibu yang baru punya satu anak pasti pernah begitu juga kan, panikan, bertanya-tanya anak saya begini wajar nggak, anak saya nggak poop berhari-hari wajar nggak, anak saya nggak mau nyusu maunya bobo mulu wajar nggak? Hehehe, begitulah ya emak baru).

Akhirnya saya cari tahu tentang napas grok-grok pada bayi. Saya tanya ke teman yang berprofesi dokter dan dia sudah lebih berpengalaman mengasuh 3 orang anak. Menurutnya, napas yang berbunyi tersebut disebabkan karena terdapat lendir di saluran napasnya dan ini umum terjadi pada newbon. Dia sarankan olesi transpulmin yang bisa dibeli di apotek dan sering-sering jemur Halwa pagi hari. Hari itu juga saya minta Mas Ry mampir apotek sepulang dari kantor. Beli si transpulmin yang dimaksud. Oh ya ternyata transpulmin ada dua macam, untuk anak di bawah 2 tahun dan di atas 2 tahun. Jadi, untuk Halwa saya beli Transpulmin BB (Balsam Bayi).

Untuk selanjutnya, Transpulmin BB ini selalu saya gunakan jika Halwa terindikasi batuk pilek (selesma / commom cold).

Continue reading “Mengatasi Napas Grok-grok pada Bayi”

Tips Menulis Konten Reportase ala Blogger

Pernah nggak kamu merasa galau karena tulisan yang sudah kamu buat dengan sepenuh hati tapi nggak ada yang mampir mengunjungi blog kamu? Apalagi kalau tulisannya tentang reportase acara, boro-boro ye pada ninggalin komentar, dilirik pun enggak. Huhu. Miris.

Atau kamu termasuk mom blogger yang risau karena nggak pernah bisa dateng ke event kaya blogger-blogger kekinian lainnya? Merasa kurang mingled dengan sesama blogger ? Tossss. Sama tuh sama yang selalu merasa riweuh sama urusan anak sehingga nggak sempet posting update blogpost.

Nah kalau kamu punya ciri-ciri seperti yang saya bilang di atas, simak di sini ya saya mau bagiin ilmu dari acara yang saya ikuti kemarin. Saya merasa beruntung banget nih dapet kesempatan ikutan acara The Power of Content yang diadakan oleh IFB. Di sini saya nemu jawaban dari kegalauan saya menghadapi kendala dalam blogging.

“The Power of Content” Event

Acara The Power of Content yang diselenggarakan oleh Indonesian Female Blogger (IFB) bekerja sama dengan Indonesian Social Blogpeneur (ISB). Worth it banget buat saya ikutan acara yang diselenggarakan di Kanawa Coffee & Munch di kawasan Senopati pada Sabtu, 13 Mei 2017. Mungkin setelah lahiran 7 bulan lalu, ini adalah event blogger pertama yang saya datangi, tentunya saya datang dengan para “pengikut” (Mas Ry dan Baby Halwa).

Di event ini saya ketemu lagi dengan blogger kondang yang jadi host acaranya yaitu Mayo (Yonna Kairupan) pakar MUA yang kenalannya para selebritis itu loh, yang suka ngedandanin orang jadi kaya zombie, yang youtubers ngehits, yang juga adalah foundernya IFB. Udah pada tahu donk ya sama emak cakep satu ini. Saya ketemu pertama kali sama Mayo di acara Fun Blogging di Jakarta.

Selain Mayo, saya juga ketemu lagi sama dokter sekaligus beauty blogger kece yang kononnya punya pageviews lebih dari 6000 per hari. Amazing kaaann…. Dia adalah Mba Amanda Anandita, temen arisan backlinks saya. Pertama kali ketemu dia pas acara ID BlogHolic di Dilo Bogor.  Di sini Mba Amanda sharing bagaimana dia meniti karir pencapaian PV setinggi itu. Rahasianya adalah blog yang dia tulis fokus hanya di niche seputar kecantikan sehingga orang-orang yang googling tentang tips seputar make up, kosmetik, kecantikan bisa menemukan banyak ulasan dan info di blognya.

Nah, selain kedua blogger yang sudah saya kenal itu, saya kenalan juga sama blogger lucu yang lebih familiar disebut Nyonya Malas (hello kemana aja masa baru kenal sama newly mom satu ini siiih), dia adalah Emanuella Christianti (Ella). Mba Ella yang baru melahirkan bayi Gayatri 4 bulan lalu bercerita tentang rahasia ngeblogging dan memenangkan lomba blognya. Mau tau apa? Jawabannya: rajin-rajinlah kepo. Kekepoannya itu membuat dia jadi ingin tahu segala hal, mencari referensi dari berbagai sumber sehingga akhirnya membuahkan tulisan yang lengkap. Inspiratif kan mak?

Ini nih narasumber yang ditunggu-tunggu, blogger famous yang humble banget, nggak pelit bagi ilmu, yang sudah melanglangbuana kemana-mana, yang pokoknya mah kebangetan kalau nggak kenal sama teh Ani Berta. Ini kali kedua saya ketemu teh Ani, pertemuan pertama pas di Fun Blogging dia jadi pengisi acara juga. Kiprah teh Ani di dunia blogging diawali dari menjadi volunter content writer di Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Pada akhirnya dari keikhlasan dan keuletannya, teh Ani bisa ngehits dan mendapat banyak berkah dari hobi ngeblognya. Yuk langsung simak ya siraman ilmu dari mastahnya di infografis di bawah ini.

 

Nah, dalam sesi tanya jawab, saya menanyakan kendala yang saya temui dalam membuat blogpost. Klasik sih kendalanya, hehe, yaitu soal waktu, teknis menulis, dan konsistensi menulis. Si NyonyaMalas menginspirasi saya dengan memberikan kuncinya yaitu membuat draft kapan saja, pun saat lagi nyusuin bayinya. Oleh karena itu dia yang abis lahiran sudah bisa aktif lagi nih update isi blognya. Kalau dia bisa, saya juga bisa donk ya harusnyaaa….

Mayo juga memberi ide nih kalau kita ingin break the limits atau selangkah lebih maju, kita harus punya niat kuat untuk berubah. Caranya?

  1. Lakukan hal yang impossible, yang menurut orang lain nggak mungkin ya kita kerjakan aja.
  2. Berikan timeline lalu lakukan evaluasi

Mayo ngasih contoh ketika dia bikin challenges #90daysMakeupChallenges. Ternyata si NyonyaMalas juga kemarin bikin challenges tentang 30 mitos pada bayi. Naah dari sini saya jadi terinspirasi mereka untuk bikin hastag sendiri yang tujuannya buat semangatin diri sendiri nih.

Kalau kalian sendiri, kira-kira kendala dalam blogging apa sih dan solusinya gimana? Boleh donk dishare yaaa…

Tips Memilih Popok Sekali Pakai yang Tepat untuk Bayi Baru Lahir

Hallo mommies, akhirnya saya bisa memposting artikel yang berkaitan dengan bayi. Setelah melahirkan dan penuh dengan keriweuhan mengurus baby Halwa, saya memplokamirkan diri menjadi mom blogger (prok, prok, prokkk). Saya baru punya satu anak, mohon maklum ya kalau masih proses belajar urus bayi, mohon maklum kalau nanti akan banyak mengeluh rempong, mohon maklum kalau nggak rajin posting blog #eeh.

Di postingan kali ini, saya pengen sharing tentang pemilihan popok untuk si kecil, terutama newborn ya. Awalnya banyak kegalauan untuk memilih popok bayi. Ada yang menyarankan agar beberapa bulan pertama pakai popok kain saja, jangan pakai popok sekali pakai (pospak) karena risiko ruam. Tapi, kondisi saya saat itu tidak memungkinkan untuk konsisten memakaikan popok kain. Lelahnya itu subhanallah… Bayi sehari pipis berkali-kali, kalau pakai popok kain bukan hanya popoknya saja yang basah tapi juga alas ompol dan bedongnya. Untuk mencuci setumpukan cucian bayi itu loh penuh perjuangan sekali. Mamak lelah dan angkat tangan deh pokoknya.

Akhirnya saja berubah haluan, saya mix penggunaan antara popok kain dan pospak. Sebelum memilih pospak, saya baca review ibu-ibu tentang pospak. Saya juga banyak bertanya ke ibu-ibu senior tentang rekomendasi pospak pilihan ibu-ibu. Setelah mendapat cukup informasi, saya mengambil beberapa kesimpulan tentang hal-hal yang harus diperhatikan saat memilih popok bayi sekali pakai:

  1. Gampang dicari

Maksud ‘gampang dicari’ adalah popoknya banyak dijual di pasaran. Mulai dari warung kelontongan, mini market, sampe mall besar sekalipun. Jadi, misalnya  kita kehabisan popok sewaktu-waktu, kita bisa beli popok itu kapan aja dan nggak perlu jauh-jauh ke mall, beli di warung atau mini market juga nggak masalah.

  1. Bahannya lembut

Bahan yang lembut ini penting banget karena akan mempengaruhi kenyamanan si baby saat beraktivitas. Popok yang berbahan lembut akan meminimalisir kulit baby terkena iritasi/ ruam popok. Selain itu, baby juga akan jarang rewel hanya karena popoknya bikin nggak betah gerak.

  1. Daya serap tinggi

Mom, tau donk ya kalau bayi baru lahir itu bisa pipis sampe 20x sehari. Kalau popok yang dipakai nggak punya daya serap yang cepat dan tinggi, pasti sulit menjaga kelembabannya. Daya serap tinggi juga dapat mencegah kebocoran karena lapisannya bisa menyerap pipis berkali-kali sehingga popok bisa dipakai dalam waktu lama.

  1. Lapisan yang punya sirkulasi udara yang bagus

Popok yang bagus menurut saya salah satunya adalah popok yang punya aerasi atau perputaran udara yang bagus, so baby bisa tetap nyaman meskipun sudah pipis beberapa kali dalam satu popok.

  1. Ban pinggang yang nyaman

Satu lagi nih yang menurut saya penting untuk diperhatikan saat mau memilih popok. Bayi yang baru lahir pusarnya kan masih sensitif ya, jadi kita mesti pakaikan dia popok yang ban pinggangnya nyaman dan berlekuk. Hal ini berfungsi untuk melindungi pusar bayi yang belum sembuh.

  1. Meminta saran dari orang terdekat

Menurut saya, testimoni juga penting karena dari situ kita bisa tahu produk yang kita pilih apakah sudah terbukti bagus atau enggak. Testimoni dari orang-orang adalah salah satu faktor penting untuk menentukan apakah kita harus coba pakai produk tersebut atau nggak.

 

Nah, 6 hal di atas menurut saya sangat penting untuk diperhatikan saat memilih popok bayi sekali pakai, apalagi untuk newborn baby yang kulitnya masih sensitif sekali. Saya sendiri sempat beberapa kali berganti merk pospak karena nggak langsung cocok ketika dicoba di kulit bayi. Pas kebetulan Ibu Prof di kantor menghadiahi MamyPoko Extra Dry Newborn banyak banget buat Halwa, saat dipakai ternyata cocok banget buat kulit Halwa. Akhirnya sampai sekarang saya memakai Mamypoko, itu juga karena dapat saran dari teman-teman dan review ibu-ibu di grup WA banyak memakai produknya Mamypoko. Jadi bisa dibilang Mamypoko ini memang sudah dipercaya dari generasi ke generasi hehehe.

Baby Halwa nyaman memakai MamyPoko Extra Dry Newborn, bobonya pules dan jarang rewel kebangun (kebangun kalau pas mau minta nenen aja). MamyPoko Extra Dry punya lapisan bergelombang yang bisa menyerap banyak cairan dan mengunci pipis di dalamnya, jadi lapisan keringnya tetep terjaga. Sirkulasi udaranya bagus karena lapisannya berpori sehingga panas dan lembab bisa terlepas dan kulit bayi bebas iritasi/ruam.

Saya jadi lega kalau bawa baby Halwa jalan-jalan keluar rumah dalam waktu lama karena dia bisa betah beraktivitas tanpa nangis kejer gara-gara popoknya bikin iritasi atau gerah. Btw, saya baru tahu kalau Mamypoko juga punya popok yang khusus untuk bayi prematur loh. Ukurannya menyesuaikan ukuran tubuh baby yang lahirnya prematur. Jadi, nggak perlu bingung lagi buat mommies yang punya bayi premature karena si Mamypoko ini menurut saya sangat menolong.

Selain MamyPoko Extra Dry dan Extra Soft, Halwa cocok juga pake produk Pampers (yang premium dominasi warna pink-gold), Sweety Premium, Nepia Genki (ini produk paling oke dan mahal yang pernah dipake), terus sekarang nemu lagi popok andalan dengan harga terjangkau dan kualitas juga oke yaitu Merries (warna ijo). Itu semua merk yang Mommy rekomendasikan untuk dicoba ya Moms, silakan.

Oh iya, Mom. Selain hal-hal di atas, waktu milih popok biasakan juga untuk mencari testimony dari teman atau keluarga yang pernah pakai produk tersebut. Kalau memang testimoninya bagus, ya nggak ada salahnya buat dicoba. Seperti saya kemarin-kemarin banyak bertanya dan minta rekomendasi keluarga dan teman-teman, hehehe.

Sekian tips per-popok-bayi-an dari saya, nantikan cerita-cerita lainnya ya Mom.

The Best Gift is Love

Seseorang pernah berkata pada saya enam tahun lalu, “Kalau nggak mau kecewa dan sakit hati, jangan jatuh cinta dulu karena wanita lebih rentan patah hati”. Jawaban itu keluar dari seorang kakak, di hari pernikahannya, saat saya bertanya bagaimana akhirnya dia memilih laki-laki sebagai pendampingnya. Dalam hati saya salut, sambil membatin “Bagaimana bisa ya menikah tanpa jatuh cinta. Dia bisa, tapi saya belum tentu bisa seperti dia. Kondisi ini tidak berlaku untuk semua orang”.

Dua tahun yang lalu….

Mei 2015. Sepulang dari Jepang setelah menghadiri konferensi ilmiah di Yokohama, saya landing di Soekarno Hatta dan sedang menanti bagasi. Ada seorang teman mengirim chat bermaksud mengenalkan seorang laki-laki pada saya. Jujur saja saya agak malas meresponnya. Saya malas dengan topik perjodohan, apalagi menikah, karena tekad saya bulat untuk memperjuangkan kembali kesempatan studi master di UK. Marriage is 1000 miles away… Malam itu, di tengah lelah dalam perjalanan taxi menuju Depok, saya memaksakan diri untuk berbasa-basi merespon teman saya karena nggak enak kan ya kalau langsung menolak.

Juni 2015. Entah bagaimana awalnya, saya yang sekadar berbasa-basi dan bermaksud menolak halus tawaran perkenalan dari teman saya itu, akhirnya dipertemukan dengan si laki-laki. Dan entah kenapa, saya bersedia sampai tahap itu. Saya sendiri bingung. Kami ketemuan bertiga: saya, teman saya, dan si laki-laki. Setelah ketemuan itu, saya berniat nggak akan melanjutkan ke tahap lebih serius. Sudah stop saja lah. Saya mau fokus lanjut studi dulu. Tapiii, lagi-lagi si pihak lelaki berniat untuk ke tahap serius. Nah loh, saya harus cari alasan buat nolak dengan elegan #lho.

Juli 2015. Saya berniat menolak, by evidence based. Iya harus berdasar bukti biar logis. Nggak hanya sekadar “I dont like you” kemudian kelar perkara. Karena jiwa researcher sepertinya sudah tertanam dalam mindset, saya minta waktu kurang lebih 2 minggu untuk mengeksplor si laki-laki. Saya ajukan beberapa pertanyaan kualitatif, melakukan indepth interview, tidak lupa triangulasi informasi *halaah*. Jarak usia dan perbedaan background menjadi salah satu hambatan untuk bisa menggali informasi tentang si laki-laki. Akhirnya, setelah saya berhasil mengumpulkan cukup informasi dari beberapa sumber, saya berkesimpulan bahwa saya belum menemukan celah untuk menolak si laki-laki ini. Selanjutnya, saya hanya pasrah beristikharoh dan menyerahkan ke ortu saya.

Agustus 2015. Sebulan setelah si laki-laki menemui ortu saya, diadakan pertemuan antarkeluaga untuk melakukan prosesi lamaran. Saya masih agak kaget dan nggak menyangka bisa sampai tahap ini.

September 2015. Sebulan setelah proses lamaran dan pertemuan kedua keluarga, kami menikah. Taraaaaa………. (Happy Ending).

Singkat cerita, begitulah bagaimana saya dan si laki-laki, sebut saja Mas Ry, menikah. Prosesnya secepat kilat. Mungkin begitulah yang namanya takdir ya. Kurang dari empat bulan berkenalan, berakhirnya di pelaminan. Awalnya tentu saja saya dipenuhi keraguan karena belum berencana menikah (apalagi secepat itu) tapi akhirnya dipertemukan juga dengan pendamping hidup. Tentunya masih banyak cerita tentang kebimbangan di dalamnya (yang tidak saya kupas tuntas) hingga akhirnya saya memutuskan untuk menikah.

Apakah saya cinta Mas Ry?

Jujur saja tidak ada cinta di awalnya. Ternyata kalimat enam tahun lalu yang dikatakan seorang kakak terjadi juga pada saya. Bahwa, bisa ya menikah tanpa ada rasa cinta. Iya sangat bisa, saya sudah membuktikannya sendiri. Koq bisa? Entah ya, saya hanya berbekal istikharoh dan tiba pada keyakinan bahwa Mas Ry adalah seseorang yang ditakdirkan untuk saya. Dia adalah jawaban dari doa-doa saya.

Setelah menikah, masa sulit bagi saya dan Mas Ry untuk beradaptasi satu sama lain. Saya yang defaultnya belum mahir dan disiplin mengurus diri sendiri, tiba-tiba harus “dibebani” untuk mengurus Mas Ry. Meskipun Mas Ry tipikal orang mandiri dan nggak banyak menuntut, ada dorongan kuat dalam diri saya bahwa seorang istri harus bisa masak, rajin bangun pagi, rapi mengurus rumah, dan minimal menyiapkan secangkir teh untuk suami. Aduhai itu beban berat buat saya loh.

Ke tukang sayur  saya lebih sering kesiangan dan kehabisan sayuran. Di tukang sayur pun, kadang saya masih suka tanya-tanya mana lengkuas dan mana jahe, atau pertanyaan tentang bumbu yang dipakai untuk masak sayur ini dan itu. Tukang sayur adalah saksi hidup betapa kemampuan masak saya di bawah rata-rata. Hahhaa. Nguprak resep dan mengolah sayur lauk bisa menghabiskan 2 jam di dapur. Effort yang besar buat saya loh untuk bisa menyiapkan hidangan makan malam dan sarapan. Dan saya akan sangat kesal kalau Mas Ry makannya cuma sedikit. Iya dulu saya sering ngambek dan nangis karena merasa usaha saya nggak dihargai, padahal sih mungkin memang rasa masakannya yang nggak enak. Hehe.

 

Kapan ada cinta?

Saya mulai bisa merasa nyaman hidup dengan Mas Ry adalah saat saya menyadari bahwa rasa sayangnya ke saya begitu besar, terutama saat saya hamil baby Halwa. Awal kehamilan yang tidak mudah bagi saya karena obgyn berkata ada risiko keguguran sehingga saya harus bedrest beberapa minggu. Mas Ry selalu bisa menenangkan dan menguatkan saya saat itu. Dia pernah ijin pulang dari kantor hanya demi memastikan istrinya mau makan siang. Dia pernah menerjang hujan demi memenuhi permintaan istrinya yang sedang ngidam sate. Dia yang ikhlas dicubit istrinya kalau mengendara motornya nggak smooth, sudah begitu masih dibandingkan pula dengan abang gojek yang mengendara motornya lebih pelan karena tau penumpangnya hamil. Dia yang bersemangat bangunin dan anterin istri di Minggu pagi agar istrinya mau ikut prenatal yoga, kalimat pamungkasnya kalau saya males-malesan bangun “Ini yang hamil siapa ya, kenapa aku yang ribut”. Hehehe. Dia juga selalu menemani dan antar jemput saya di setiap aktivitas. Dia menurut saja saat saya “jerumuskan” dia untuk ikut kelas persalinan, kelas edukasi ASI, dan aktivitas yoga couple.

Saat baby Halwa lahir, kami berdua yang notabene perantau hanya berdua-duaan saja menyambut baby Halwa di RS. Mas Ry membuktikan dirinya pantas dilabeli suami siaga, dia yang mondar-mandir mengurus segala hal. Tidak sekalipun mengeluh walaupun saya tahu raut wajahnya menunjukkan kelelahan.

Saat saya terkena baby blues syndrom pascamelahirkan, Mas Ry dengan sabarnya saban hari mendengarkan curhatan saya yang isinya itu-itu saja: lelah menjaga bayi seorang diri, nyerinya puting lecet, bekas jahitan yang masih nyut-nyutan, pekerjaan kantor yang tak kunjung selesai (walaupun saya ambil cuti tapi masih ada PR yang harus saya kerjakan). Hampir setiap pulang kantor dia mendapati istrinya menangis sesenggukan atau bermata sembab sambil mewek bilang “Kayaknya aku belum pantes jadi seorang Ibu. Aku belum siap punya anak”. Mungkin dalam hatinya Mas Ry bilang “Lha itu bayi udah brojol tapi koq belum siap punya anak” *tepok jidat* haha.

Begitulah kurang lebihnya, cinta itu tumbuh subur karena dipupuk. Ternyata sayang dan cinta bisa dibangun melalui proses. Meskipun tidak pernah ada bucket bunga untuk saya, bukan berarti dia tidak sayang. Kata Mas Ry, daripada uangnya buat belikan bunga kan mending buat beli durian, bisa dimakan. Ya ya ya, itulah suami saya. Efisien. Kami jarang sekali mengumbar keromantisan di media sosial. Boro-boro saling komentar semacam “I love you” di status update, lha wong update status saja kami jarang melakukan. Kalau pun tag atau mention, paling bagus hanya di-like or love oleh si pasangan. Kalau lagi sama-sama kurang kerjaan barulah kami saling berbalas komentar, haha.

Romantis yang belakangan ini saya maknai adalah saat dia selalu ada untuk saya, menyodorkan bahu atau menawarkan dekapan saat saya dalam situasi insecure. Romantis tidak melulu ditampilkan menjadi konsumsi publik, cukup kami yang meresapinya sepenuh jiwa. Pada akhirnya, dialah si romantis yang selalu bisa saya andalkan dan saya sayangi.

Kejutan untuk si dia

Kami jarang saling memberi gift untuk kejutan, tapi kami sering mengejutkan satu sama lain (hehe). Bagaimana tidak terkejut kalau apa yang baru saja terlintas di pikiran, ternyata bisa seolah “dibaca” oleh si dia? Entah saya ataupun Mas Ry sering sekali merasakan hal itu. “Itu yang namanya sehati kali ya”, kata Mas Ry. Saya hanya mengangkat bahu.

Pernah suatu ketika dengan sengaja saya tanya hadiah apa yang sedang dia inginkan? Tanpa basa basi, langsung dijawab: “Jam Tangan”. Langsung saya mengecek harga jam tangan, Mas Ry lanjutin lagi “Jam Tangan Suunto Ambit3”. Pas saya cek detilnya, ya ampun harganya mahal hahahaha. Jadi urung niat mau kasih hadiah dalam waktu dekat, perlu nabung-nabung dulu kalau harganya selangit begitu sih.

Tapi menurut saya nggak apa juga kalau suatu saat saya benar-benar menghadiahi  si Suunto Ambit itu buat Mas Ry, sebagai rasa terima kasih atas pengorbanan, keikhlasan, kasih sayang, dan pengertiannya selama ini. Sabar dulu tapi ya Sayang, hehe. Kalau mau hadiah yang realistis dan bisa segera dibeli barangkali baju baru buat lebaran kali ya. Kan sebentar lagi masuk bulan suci Ramadhan, nah saatnya pula hunting baju lebaran 2017. Hehehe…

Love is the Best Gift

Akhirnya saya berkesimpulan kalau cinta adalah anugerah terindah yang nilainya tak terkira. Menikah tanpa jatuh cinta sangatlah mungkin, bukan berarti tidak akan pernah ada cinta dan rasa sayang. Cinta itu perlu ditanam, disiram, dan dipupuk agar tumbuh subur. Salah satu cara menjaganya adalah dengan saling memberi hadiah atau kejutan antarpasangan. Tidakpun dengan pemberian barang mewah sebagai hadiah, kita bisa memberikan perhatian, pelukan, pujian, atau hanya secangkir teh di pagi hari.