Thomas Alfa Edison dan Sayur Asem

Akhir-akhir ini, salah satu grup whatsapp yang saya ikuti sering membahas soal makanan, diet, dan tentu saja agenda wajib per-bully-an antaranggota. Belakangan ini, satu kawan kami (Ajat) yang sedang kuliah di Australia sana gemar-gemarnya memasak dan memposting foto hasil masakannya. Bentuk-masakannya memang tampak menarik, tapi entah bagaimana rasanya. Kata si empunya sih, cukup kacau rasanya. Hahaha….  Entahlah, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Bersamaan dengan Ajat yang sering posting foto hasil masakannya, kami para perempuan merasa tertantang untuk mulai rajin memasak lagi. Salah seorang kawan ((Reni) sudah berhasil membuat donat kentang pertamanya walaupun lebih tampak seperti roti goreng, tapi rasanya enak menurut pengakuannya. Saya? Masih setia membuat omelet demi omelet ala saya sendiri. Entah itu lebih mirip seperti telur dadar atau memang bisa dikatakan omelet, tidak penting. Yang pasti bentuknya enak dilihat dan rasanya pas di lidah. Hehehe.

Saya ingat, kemarin dulu ketika saya sedang gemar memasak, benda wajib yang harus ada di dapur selain peralatan masak adalah ponsel. Kenapa ponsel? Ponsel sangat membantu saya dalam proses memasak, dari mulai menyiapkan racikan sampai memperbaiki rasa masakan yang kacau. Tentu saja ponsel tersebut harus didukung oleh pulsa yang cukup untuk melakukan panggilan ke nomor Ibu dan teman-teman saya. Merekalah yang akan membantu mengarahkan saya tentang apa yang harus saya lakukan selanjutnya?

Jujur saja, antara kemiri, merica, dan ketumbar saya masih sering salah membedakan. Begitu pula dengan jahe, lengkuas, dan kunyit. Budhe penjual sayuran dekat kosan saya sepertinya sudah memaklumi hal ini sehingga Budhe sering membantu saya mengambilkan bumbu-bumbu dapur yang saya perlukan. Dalam proses memasaknya sendiri, saya melakukannya sambil menelepon siapapun yang bisa saya andalkan untuk mengarahkan saya. 

Saya suka sayur asem. Apalagi sayur asem disandingkan dengan tempe goreng dan sambal terasi. Nikmat tiada tara. Tapi sayangnya, saya belum berhasil membuat sayur asem yang enak dan pas di lidah. Bahkan untuk bisa disebut sayur asem saja, saya masih harus berjuang keras. #lebay.

#Percobaan 1:
Dengan sedikit pengarahan dari Umma-nya Aim dan Aira, dengan sangat percaya diri saya mulai meracik, memasukkan, dan mengaduk-aduk sayur asem. Tetapi, Saya terlalu banyak menakar air dan sayurannya pun saya rasa berlebihan sehingga porsi sayur asemnya kebanyakan. Ketika saya mencicipi rasanya….. OMG, hambaaaar sekali. Aneh. Saya langsung menelpon Umma Aim-Aira:

Liaaaaa, sayur asem aku nggak ada rasanya. Mana bikinnya dalam porsi yang banyak. Hiks”... seketika saya merasa gagal membuat sayur asem sesuai harapan.

Tambah terasi udang, coba” katanya,

Saya segera turun ke lantai bawah untuk membeli terasi di warung Ibu kost. Tanpa pikir panjang, setelah mendapat terasi langsung saya masukkan sedikit demi sedikit ke adonan sayur. Tapi tunggu, oooh tidaaaak. entah terasi macam apa yang saya beli, warnanya kemerahan dan rasanya aneh. Saya jadi teringan liputan Investigasi beberapa waktu lalu terkait terasi yang pembuatannya menggunakan pewarna. Aduh, saya jadi illfeel dengan adonan sayur asem saya yang menjelma kemerah-merahan.

Mission Failed. Saya buang semua sayuran saya dengan rasa kecewa.


#Percobaan 2:
Kali ini “persenjataan” saya cukup lengkap. Terasi udang yang cukup ber-merk sudah saya beli. Ibu kost mendapati saya membawa kantong plastik isi sayuran dan menanyakan saya akan memasak apa hari ini.

Sayur asem Bu. Ibu kalau masak gimana bumbunya?” tanya saya berharap Ibu kost mau share tips memasak sayur asem yang benar.

“Ibu mah nggak ngeracik-racik bumbu, udah Eska beli aja ni bumbu instant sayur asem. Tinggal diaduk aja pake air” kata si Ibu sambil menunjuk bumbu instan di warungnya.

Saya berpikir… “Em…. kalau pakai bumbu instant kemungkinan memang rasanya lebih terjamin dan terstandar rasa sayur asemnya. Tapi koq ngga ada tantangannya ya… Ibaratnya ikut pertandingan sih menang Walk Out. Menang sebelum bertanding. Ngga seru ah”

Saya memutuskan tidak membeli bumbu instant, mau racik-racik bumbu sendiri saja. Sebelum memasak tentu saja saya berkomunikasi dulu dengan Umma Aim-Aira. Setelah yakin semua sudah Ok dan saya siap memasak, dengan percaya diri saya mulai memasak. Kemudian ketika hampir selesai:

Liaaaaa…. sayur asem aku ngga ada rasanya lagi. Udah pake terasi padahal”, teriak saya lewat telepon.

“Coba garam sama gula pasirnya ditambah, sedikit sedikit aja. Dimainin garam sama gulanya kalau kamu nggak mau pake bumbu masak”, sahut suara di seberang sana.

Iya saya memang mencoba menghindari penggunaan perasa. Selain lebih sehat juga agar masakan saya menggunakan bumbu-bumbuan alami dan tanpa campuran bahan pengawet. Mencoba ideal dalam hal ini tidak salah toh.

Alhasil sayur asem buatan saya kali ini lumayan mirip dengan sayur asem yang saya harapkan walaupun tetaaap saja rasanya ada yang kurang pas. At least dari segi bentuk dan aromanya sudah lebih layak untuk dikatakan sebagai sayur asem. 


#Percobaan 3
Saya belum berani untuk mencobanya lagi, takut kecewa kalau kali ini rasanya tidak benar-benar enak. Kapan-kapan saja lah saya mencobanya. Kalau ada Thomas Alfa Edison di sini mungkin beliau akan berkata”

“Tenang Cha, masih ada 998 kesempatan lagi untuk bisa mendapat rasa sayur asem yang pas sesuai harapan” 

Hah? 998 percobaan lagi??!! !@#$%^&*())&^%$#@@
Please follow and like me:

Loyalitas di Balik Pintu Gerbang


Sebut saja namanya Pak Hasan. Beliau seorang yang berjasa menjaga keamanan indekos tempat saya tinggal. Beliau juga yang selalu menjamin kebersihan di tiap sudut ruangan indekos saya. Sudah seperti bapak yang menjaga anak-anak kost dan memenuhi keperluan kami  (saya dan teman-teman_red), terutama untuk keperluan yang tidak bisa kami tangani sendiri: genteng bocor, memasang pipa gas ke kompor, membetulkan keran air, mengangkat galon air mineral ke lantai atas, mengganti lampu yang mati, dan pekerjaan lainnya (kalau di rumah, saya selalu mengandalkan ayah saya mengerjakan hal-hal tersebut)


Sama seperti arti namanya, beliau sangat baik. Bahkan terlampau baik. Saya dan teman-teman saja yang agak badung. Kadang kami pulang larut malam untuk alasan pekerjaan, mengerjakan tugas kuliah, atau hanya sekedar bermain-main. Setiap malam di depan televisi dekat pintu gerbang, beliau selalu menunggui kami pulang. Namun, selarut apa pun kami pulang, beliau tidak pernah marah atau menegur (dan itu yang membuat saya nyaman. hehehe, dasar badung saya-nya ya).


Saya tahu beliau tak pernah tidur lelap jika anak kost belum semua kembali ke indekos. Juga jika jumlah motor yang ada di halaman garasi belum lengkap seperti biasa: pasti ada anak kost yang belum pulang dan itu adalah saya (karena kali ini cuma saya yang bawa motor).


Hal yang pasti beliau lakukan adalah membukakan pintu gerbang. Namun, itu yang membuat saya tidak nyaman kadangkala. Saya tidak ingin merepotkan orang lain tapi kenyataannya saya yang paling sering merepotkan beliau untuk hanya sekedar membukakan pintu gerbang saat saya pulang. Saat beliau sudah tampak tertidur pun, jika beliau mendengar suara motor saya atau mendengar decit slot pintu gerbang yang dibuka pasti beliau akan segera terbangun dan menghampiri pintu gerbang. Saya merasa tidak enak sendiri telah mengganggu istirahat beliau.


Oleh sebab itu, kalau saya pulang malam, saya sering mematikan mesin motor beberapa meter sebelum sampai kosan (agar tidak berisik) lalu saya mengendap-endap membuka pintu gerbang. Tentunya bukan karena takut ketahuan pulang larut malam tetapi lebih karena saya tidak ingin mengganggu istirahat beliau. Jika saya “kepergok” sedang membuka pintu gerbang, kalimat yang beliau akan ucapkan adalah :

 “Sudah mba, nggak usah ditutup biar Bapak aja yang tutup lagi pintunya nanti”

Beliau mengatakan itu dengan mata merah karena baru terbangun dari tidur. Saya cuma meringis saja sambil minta maaf karena pulang malam. Hal itu juga yang terjadi malam tadi. Saya tertidur pukul 19.00 dan baru bangun jam 11.50. Lantas, saya yang memang suka lupa makan ini merasa lapar dan baru ingat kalau seharian saya baru makan sekali saja siang tadi (Ada ya, makan aja sampe lupa! Itu seloroh yang biasa dilontarkan teman-teman saya kalau saya lupa makan). Akhirnya tengah malam tadi saya minta ijin untuk keluar mencari nasi goreng. Pak Hasan sudah hendak tidur waktu saya pergi tapi beliau sengaja menunggui saya pulang dulu. Sekembalinya saya ke kos, kalimat yang sering beliau ucapkan pun terlontar.


“Ngga usah ditutup mba, biar Bapak saja nanti yang tutup”. Tapi saya memang lebih sering tidak menghiraukan kalimat itu dan saya tetap menutup dan mengunci pintu gerbangnya lagi.


Hmmm, kalau dipikir-pikir si Bapak ini loyal sekali dengan pekerjaannya. Itu yang saya salutkan. Padahal, mungkin pekerjaan menjaga keamanan dan kebersihan indekos itu sering dipandang sebelah mata, tapi toh Bapak ini tetap menjalankan pekerjaannya dengan baik. 

–***—

Kalau ditinjau lebih jauh lagi, sebenarnya pencapaian apa yang beliau inginkan dalam pekerjaannya ini ya? Pastinya beliau bukan mengharap kenaikan jabatan atau mengejar karir ‘kan ya? Maksud saya, tidaklah sama pekerjaan beliau dengan para karyawan perusahaan atau pegawai negeri yang mengajukan promosi kenaikan pangkat dan golongan.


Atau mungkin beliau bekerja hanya untuk mengumpulkan sejumlah uang agar bisa menghidupi keluarganya? Ya ya ya, itu yang paling memungkinkan. Tapi keloyalan tidak semata-mata didasari oleh uang bukan?


Saya jadi teringat obrolan dengan Ibu Bos saya di kantor. Ketika itu beliau memilih topik tentang keprofesionalan dan etos kerja. Dalam nasihatnya, beliau mengatakan kurang lebihnya begini,


“….Mba Eska, kita nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita nantinya. Yang perlu dilakukan saat ini adalah menjalankan apa yang ada dengan sebaik-baiknya karena kebaikan itu akan terus berulang di masa mendatang. Orang pintar itu banyak Mba, tapi orang yang bisa menjadi tumpuan hidup bagi orang lain itu sangatlah jarang. Jadilah orang yang tidak hanya sekedar pintar tapi juga bisa menjadi tumpuan bagi orang lain….”.


Kemudian Ibu Bos saya ini mencontohkan beberapa orang yang sering membantu beliau.

“Lihat Pak X, dia tidak punya jabatan struktural atau fungsional apapun tapi selalu ada saja hal yang dia kerjakan. Dia akan membantu siapapun dan melaksanakan apapun yang diperintahkan. Mulai dari pesan tiket pesawat, fotokopi dokumen, pesan makanan, dan apapun yang jujur saja kadang saya tidak bisa melakukannya seorang diri. Saya butuh dia untuk menjadi tumpuan saya dalam hal-hal tertentu.”

–***—

Saya sedikit menebak-nebak alasan di balik keloyalan penjaga kosan saya. Beliau pastinya memaknai sebuah pekerjaan bukan dengan sekedar uang, tapi lebih jauh daripada itu. Mungkin beliau menganggap pekerjaannya adalah sebuah tanggung jawab, ibadah, atau sebuah amanah yang memang harus beliau laksanakan dengan  sebaik-baiknya. Apapun alasannya itu, yang jelas beliau sudah menjadi tumpuan hidup bagi orang lain, termasuk saya…


Memang sangat kontras dengan keadaan yang sering kita lihat di mana sebagian orang begitu menggilai jabatan dan mengejar uang, uang, dan lagi-lagi uang. Padahal kewajiban dan urusan pekerjaan belum tentu beres.

Segalanya keperluan hidup memang membutuhkan uang. Namun, uang bukan segala-galanya. Hidup itu bukan sekedar mencari uang, bukan?


Repost: (from my previous blog), 2012
Please follow and like me:

“Friendship”



Saya lupa dari mana dan bagaimana awal terbentuknya grup “Friendship” ini. Saya juga tidak ingat kapan tahun tercetusnya grup ini. Dulu saya hanya berniat mengumpulkan teman-teman saya dalam satu wadah agar kami bisa saling berbagi info, bertegur sapa, bertukar kabar, dan bermacam hal yang bisa kami lakukan layaknya hubungan akrab sebuah pertemanan. Secara pribadi, saya sendiri memang pernah memiliki kedekatan personal dengan masing-masing mereka, baik saat SMP, SMA, maupun kuliah. 

Saya menyatukan mereka hanya karena saya tidak ingin “kehilangan” mereka. Pada dasarnya saya sendiri tidak terlalu pandai me-maintain sebuah hubungan jika kami sudah terpisah jarak. Misalnya, saya tidak akan mengirim SMS atau menelpon terlebih dulu jika tidak ada keperluan atau jika tidak sedang merasa sangat kangen. Parahnya lagi, saya jarang sekali merasa kangen. Hehehe. Jadi sebenarnya saya gampang sekali “lepas” dan “hilang”. Oleh karena itu, tujuan membuat grup “Friendship” juga agar saya merasa terikat dengan teman-teman saya. 

Egoisnya saya, dulu saya lupa menanyakan apakah masing-masing dari mereka merasa nyaman untuk dikumpulkan dalam satu forum dan berkomunikasi satu dengan lainnya. Saya dekat dengan masing-masing mereka, tapi belum tentu antarmereka juga bisa merasa dekat kan?? Yang saya peduli, ketika saya sedang ingin berbagi, mereka semuanya ada. Mungkin ada benarnya, awal group ini terbentuk karena keegoisan saya. Saya mengakuinya. 

Namun, yang menakjubkan, kami masih eksis berdiskusi hingga saat ini. Dari teori komunikasi yang pernah saya dengar, kedekatan dan keakraban itu bisa terjadi jika ada kesamaan latar belakang, hobi, prinsip dll antara satu orang dengan lainnya. Mungkin kami bisa akrab karena kami berasal dari kota kecil yang sama dan pernah bersekolah di tempat yang sama. Sesederhana itu ya awal sebuah keakraban. 

Setiap hari kami bertemu di dunia maya karena keberadaan kami saat ini tidak hanya sekedar lintas kota ataupun provinsi, tetapi juga lintas negara/benua. Kami baru bisa kopi darat sesekali dalam setahun, kalau beruntung bisa dua kali, itupun tidak selalu full team. Walaupun begitu, kami selalu menikmati setiap moment kebersamaan yang ada. Tentunya kemajuan teknologi sangat berperan dalam mengakrabkan hubungan kami.

Apa saja yang kami obrolkan setiap hari?
Banyak hal! Dari mulai hal remeh temeh tidak penting, hingga diskusi urusan pekerjaan, kesehatan, masa depan, bahkan terkadang kami ikut memikirkan urusan negara ini. Saya merasa grup ini seperti “tempat sampah”, segala macam yang ingin “dibuang” ya tinggal dibuang saja. Haha.. Bayangkan saja, jika hanya ingin bilang “Lapar, Ngantuk, atau Stress” sepertinya annoyingjika di-share di media sosial semacam FB atau twitter. Alih-alih update statusyang tidak penting semacam itu, mendingan sharesaja di grup Friendship. 

Akrab itu tidak harus selalu menceritakan hal-hal yang bersifat pribadi. Rasanya sangat jarang kami berbagi hal-hal yang menjadi privasi kami masing-masing. Gosip-gosip pun tidak banyak terjadi, kami tidak suka gosip. Okay, mungkin benar adanya kami terdiri dari 9 laki-laki dan 4 perempuan yang artinya akan sedikit gosip beredar karena dominan laki-laki. Tapi secara alamiah, kami akan segera memadamkan api gosip yang terpercik. Kami akan mencoba memberikan hal positif pada pikiran-pikiran beraura negatif, saling mendukung, mengirim semangat dan motivasi, menepuk pundak dari jarak jauh, atau sedikit “menjewer” jika dirasa ada yang salah.

Susah untuk diejawantahkan lebih jauh. Kami ini unik! Tidak ada ucapan “selamat ulang tahun” setiap tahunnya kepada seorangpun di grup ini. Entah ya mungkin karena kami tidak pernah menspesialkan hari lahir satu sama lain atau karena kami menganggap bahwa doa itu jauh lebih penting dari sekadar ucapan selamat? Tidak pula ada surprise. Tidak ada kalimat-kalimat bernada sentimentil seperti “semoga persahabatan kita langgeng, aku sayang kalian, etc, etc, etc”. Mentok-mentoknya hanya lontaran kalimat “Aku seneng bisa kenal kalian”, itu saja…. dan itupun sangat jarang terjadi. Hahahahaha…. Sungguh tidak romantis ya!

Kami terlalu simple dalam memaknai dan menjalin hubungan ini. Tidak bertele-tele, tidak menuntut, tidak ambil pusing, tidak sentimentil, tidak romantis. Kami mencoba berproses menjadi semakin baik, tumbuh dewasa di lingkungan dan profesi masing-masing, saling membantu, saling mengingatkan dalam kebaikan, berkomunikasi dengan santun dan beretika. Semuanya mengalir begitu saja….

Pada akhirnya, saya selalu membayangkan… pada suatu waktu nanti, mungkin sepuluh, dua puluh, atau berapa puluh tahun nanti. Ketika keberadaan saya entah di mana dan mereka ada di mana, saya berharap Allah selalu menyayangi dan menyatukan kami dalam kebaikan, serta menuntun kami dalam berproses menjadi insan yang lebih baik setiap waktunya. Aamiin….
Please follow and like me:

Isi Surat Itu…..


Malam itu sayamendapati sebuah email dari dosen pembimbing skripsi saya, dr H. Engkus Kusdinar Achmad, MPH. Ada sepercik rasa haru dan senang, beliau masih saja memberi kalimat-kalimat yang begitu memotivasi, menasihati, dan mendoakan. Beliau adalah seorang Bapak yang sangat baik, bijaksana, mengayomi, dan disiplin waktu. Yang khas dari beliau yaitu beliau selalu menyegerakan salat dan terburu-buru beranjak ke Mushola saat mendengar gema adzan. Tak jarang beliau meninggalkan saya saat kami sedang konsultasi di ruangannya. 

Beliau juga satu-satunya dosen yang selalu menerapkan peraturan di dalam kelas: bagi siapa saja yang datang terlambat masuk kelasnya, wajib bayar Rp 5000. Sedangkan jika beliau sendiri yang terlambat datang, beliau akan membayar dua kali lipatnya. Dan itu benar-benar terjadi! Di akhir semester, sang ketua kelas mengakumulasi rupiah-rupiah hasil keterlambatan para mahasiswa dan Bapak dosen tersebut.

Beliau juga selalu membuat kelas terasa lebih “hidup”. Hal yang ditekankan beliau setiap mengajar adalah adanya dinamika kelas dimana mahasiswa yang aktif akan mendapat tambahan poin nilai. Beliau akan menegur secara halus mahasiswanya yang tampak menguap atau sedang terlelap pulas..  


“Coba Ica, kira-kira pendapat kamu bagaimana tentang penjelasan temanmu tadi?” (begitulah tegurannya kalau sedang memergoki saya mengantuk di kelas, hehehe. Ica adalah panggilan kesayangan beliau pada saya.)


Agaknya perjumpaan saya dengan beliau menjadi kisah tersendiri, dimana beliau adalah seseorang pertama yang membuat sayasanggup menjalani dan menyelesaikan study saya di kampus. Bapak dengan 8 orang putra-putri tersebut mampu membagikan inspirasinya pada saya hingga pada akhirnya hubungan kami tidak hanya sebatas obrolan tentang kuliah dan skripsi, tetapi juga tentang sebuah cita-cita, perjalanan hidup, pengalaman, dan tujuan dari hidup. Segala apa yang saya ceritakan, beliau punya solusinya.

Alhamdulillah, sangat beruntung rasanya bisa mengenal beliau. Beberapa teman sempat berterus terang merasa iri padasaya karena sayamendapat beliau sebagai pembimbing, maklumlah Bapak berjenggot putih dan berpeci itu memang menjadi dosen favorit di kampus saya. Sorot matanya yang meneduhkan dan gaya bicaranya yang selalu tenang membawa arti tersendiri di setiap kehadirannya.

Berikut ini balasan email dari beliau, saat saya meminta beliauuntuk menjadi pemberireferensi dalam sebuah urusan.





Thursday, November 24, 2011 11:14 AM
Wa”alaikumussalam Wr.Wb. 
Alhamdulillah, Ica. Saya dan keluarga sehat walafiat. Saya baru pulang haji malam minggu yang lalu setelah meninggalkan tanah air 25 hari. Sepulangnya dari sana rasanya lahir batin lebih sehat. Semoga demikian juga keadaannya dengan Ica dan keluarga besar Ica di kampung halaman.
Saya sangat senang Ica sudah mulai dapat menerapkan ilmu dan pengalaman belajar dimasa lalu sewaktu kuliah dulu dalam kehidupan di dunia nyata. Walaupun mungkin tidak selalu sesuai dengan keinginan, bidang garapan dan tempat mengabdikan ilmu sekarang,  anggaplah itu sebagai  pelajaran tambahan untuk mematangkan proses pembelajaran dulu. Pada hakikatnya memang, kita tidak pernah berhenti belajar. Modal untuk bekerja sekarang 30% diantaranya dari hasil belajar dulu, namun sisanya yang lebih besar justru diperoleh dari tempat pekerjaan sekarang dan di masa datang.
Mengenai pengambilan nama saya untuk keperluan referensi, buat saya tidak ada masalah. Silahkan saja. Malah saya senang karena saya masih bisa memberikan manfaat kepada Ica sekalipun Ica sudah tidak menjadi bimbingan saya lagi. Terus terang, seringkali saya menyebut nama Ica di kelas sebagai mahasiswa bimbingan saya yang berprestasi. Mudah-mudahan sebutan tersebut akan memberi tambahan motivasi kepada adik-adik kelas Ica di FKMUI.
Semoga Ica selalu dapat menampilkan yang terbaik dalam pekerjaan dan hidup ini. Selalu diingat bahwa kita hidup di dunia sekedar singgah sebentar saja. Tujuan hidup kita ada di seberang itu . . . yang kekal, akhirat. Selalu minta doa restu kepada kedua orang tua dan jadikan diri Ica kebanggaan mereka berdua. 

Sukses selalu, ya. . 
Salam,
Pak Kus




***
BAPAK KUSDINAR, SELAMAT HARI GURU Yaaaaa ^^ 


Repost: November 25, 2011 (from my previous blog)
Please follow and like me:

Pasangan TunaWicara dan Putri Kecil


Sekilas mereka seperti orang-orang pada umumnya. Sebuah keluarga kecil: sepasang suami-istri yang sedang mengajak putrinya berlibur. Ya, ini memang masa-masa liburan anak sekolah pascapenerimaan raport. Saya memperhatikan mereka yang sedang sibuk berbagi tempat duduk di kereta ini. Tempat duduknya memang untuk jatah dua orang sajadan gadis kecil  (yang menurut perkiraan sayaadalah putri mereka) dipangku ibunya. Namun, rupanya gadis itu ingin merasakan duduk sendiri tanpa dipangku ibunya.
Lama kelamaan saya menyadari sesuatu. Sepasang suami-istri di hadapansaya adalah penyandang tunawicara. Sedari tadi mereka berdua berkomunikasi dengan isyarat tangan dan bahasa nonverbal yang hanya dipahami oleh mereka sendiri. Agaknya saya mengalami dejavu, saya teringat beberapa bulan silam saat saya menjalani praktikum  kesehatan masyarakat di satu kelurahan. Saat itu saya berkunjung ke sebuah posyandu.
—***—
Di Posyandu…
Siang itu datang seorang ibu muda yang cantik, dia menggandeng anaknya yang masih balita, tak kalah cantiknya. Saat ibu dan anak itu mendekat ke meja posyandu dan berbicara dengan salah satu kaderposyandu, barulah saya sadar kalau ibu cantik itu tidak bisa bicara. Anaknya pun tampak diam saja. Sesaat setelah anaknya ditimbang dan diukur tinggi badannya, ibu dan anak itu pamit pulang.
Tak lama kemudian, ibu-ibu kader mulai berceloteh (seperti ibu-ibu pada umumnya yang senang berbicara). Sebenarnya saya agak risih, tapi karena saya ada di situ mau tidak mau saya mendengar percakapan mereka.
“Kesian bener dia, cantik-cantik tapi gagu” seloroh seorang ibu kader.
“Anaknya daritadi diem aja, bisa ngomong nggak sih dia? Jangan-jangan gagu juga” timpal ibu lainnya.
“Dia dari RT mana? Coba biar gue nanti bilang ke lakinya biar ngajarin anaknya ngomong. Kesian juga lho, anaknya udah 4 tahun tapi belum bisa ngomong” semakin seru saja celotehan ibu-ibu ini.
“Eh setau gue, lakinya juga gagu, jadi wajar aja anaknya kalo belum bisa ngomong…” sahut lainnya.
Saya hanya menyimak percakapan mereka. Lalu saya berpikir, keluarga kan madrasah pertama bagi seorang anak dan seorang ibu adalah guru pertamanya. Bahasa pertama yang dipelajari seoranganak adalah bahasa ibunya. Jika ibunya tidak bisa bicara, paling tidak masih ada ayah yang akan mengajari anaknya mengucap kata. Tapi kalau ayahnya pun tidak bisa bicara sedangkan anak itu hanya tinggal bersama ayah dan ibunya saja??? Ooh sungguh saya tidak habis pikir bagaimana anak itu nantinya bisa berkomunikasi.
—***—
Kereta malam terus melaju. Sudah hampir setengah perjalanan kereta membawa saya meninggalkan kota kelahiran di Jawa Tengah menuju ke ibu kota negara. Di kereta itu saya duduk sebangku dengan Via, seorang anak perempuan kelas 6 SD. Via adalah adik teman saya, Mas Okky. Mas Okky menitipkan Via pada saya agar Via ada teman perjalanan ke Jakarta. Via akan menghabiskan liburan di kontrakan kakaknya di daerah Jakarta Timur. Kebetulan Mas Okky dan istrinya sudah lebih dulu berangkat ke Jakarta.
Baru malam itu saya berkenalan dengan Via. Dia anak yang cantik, sedikit tomboy, asyik, lincah, dan rasa ingin tahu-nya tinggi. Kami pun langsung akrab malam itu. Sepanjang perkenalan, Via banyak bercerita dan menanyakan banyak halpada saya. Sepertinya dia ingin lebih mengenali teman seperjalanannya ini 😀
Agaknya saya menyadari kalau sedari tadi Via memperhatikan keluarga kecil yang duduk di hadapan kami ini. Saya salut karena Via sama sekali tidak banyak bertanya atau berbisik mengenai “kelainan” pada pasangan suami-istri itu. Rupanya Via cukup dewasa untuk bisa menjaga perasaan orang lain.
Tatapan mata Via beradu dengan si gadis kecil (yang pada akhirnya gadis itu kembali duduk dipangku oleh ibunya). Gadis kecil itu terlihat lesu, mungkin mengantuk atau kedinginan. Entahlah. Untuk mencairkan suasana (dan utamanya mengobati rasa penasaran saya tentang apakah si gadis ini bisa bicara atau tidak), saya pun memulai pembicaraan.
“Adek namanya siapa?” Tanyasaya sambil tersenyum pada si gadis kecil yang tampak menyandarkan kepala di atas kedua tangannya di meja kereta. Sejenak hening, saya jadi salah tingkah. Saya khawatir gadis ini juga tidak bisa bicara seperti kedua orangtuanya dan saya akan merasa sangat bersalah karena telah mencoba mengajaknya bicara. Saya takut menyinggung perasaannya dan juga kedua orangtuanya. Benar-benar hening…... #semakin salah tingkah.
“Andien…” kata gadis itu lirih…(Horray…..!!! Akhirnya terdengar jawaban dari mulut mungilnya. Hatiku bersorak, gadis ini ternyata bisa bicara).
“Namanya Andien, mbaaak” tegas Via pada saya (ternyata dari tadi Via menyaksikan “adegan” tanya-jawab saya dengan si gadis kecil itu. Saya menebak kalau Via juga ingin tahu apakah gadis itu bisa bicara atau tidak)
“Ehh, ooh Andien kelas berapa?” tanya saya lagi, agak gugup. 🙂
“Satu” , jawab Andien.
“Sekolahnya dimana?” tanya saya semakinbersemangat.
“MIN Tanuraksan” jawabnya lagi (semakin meyakinkan saya bahwa gadis ini normal).
Kali ini, Via berbisik pada saya untuk pertanyaan ingin tahunya:
“Mba, MIN itu apa sih mba??”
“Madrasah Ibtidaiyah Negeri, sama kayak SD tapi disana dia lebih banyak pelajaran agamanya” jelas saya padanya.
Kedua orang tuaAndien sedari tadi hanya memperhatikan pembicaraan antara saya dengan Andien. Awalnya mereka terdiam (mungkin merasa aneh) saat saya memulai membuka obrolan dengan putrinya. Namun, akhirnya sesekali mereka ikut menimpali dengan riang. Tetap dengan bahasa isyarat tentunya. Saya kurang mengerti dengan bahasamereka. Tapi dari apa yang saya tangkap, mereka bercerita pada saya kalau Andien baru kelas 1 SD. Andien anak yang pintar. Mereka kini akan berlibur ke Tangerang. Ayah Andien orang Jakarta, sedangkan Ibunya orang Jawa Tengah (kurang lebihnya itulah yang bisa saya pahami dari suara dan bahasa tubuh mereka). Saya pun tersenyum dan berangguk-angguk tanda mengerti (walaupun sebenarnya saya hanya berlagak mengerti). Orang tua Andien senang bercerita, terlihat dari cara mereka “berbicara” pada saya dengan riang.
Setelah itu, diam-diam saya tertarik untuk memperhatikan komunikasi antara suami-istri penyandang tunawicara itu. Saya berharap bisa menebak-nebak isi pembicaraan dalam bahasa mereka tetapi saya tetap tak bisa mengerti, kecuali jika mereka menggunakan bahasa tubuh yang sekali dua kali mereka lakukan. Saya kembali menatap Andien dan bertanya-tanya dalam hati bagaimana kedua orangtua ini mengajarkan bicara pada si putri kecilnya itu. Atau mungkin ada orang lain yang mengajarkannya? Siapa pun yang mengajarkan itu, saya turut senang karena si kecil Andien bisa berkomunikasi dengan baik. Andien masih punya masa depan yang panjang dan dia bisa mengejar cita-citanya.
Sesekali kulihat suami-istri itu becanda, tentunya dengan bahasa yang dipahami oleh mereka berdua saja. Mereka tertawa lepas seolah tidak ada beban hidup yang ditanggungnya. Saya takjub melihat pemandangan itu, terlebih lagi mereka murah senyum dan tidak rendah diri. Malahan, mereka akan menanggapi dengan semangat saat saya mengajaknya mengobrol.
Bukankah hidup itu indah jika kita selalu bersyukur? Pasangan suami-istri itu telah menyadarkan saya bahwa dalam kekurangan pun, mereka tetap bisa menjalani hidup dengan baik seperti orang-orang pada umumnya. Mereka memang tidak sempurna dalam berbicara, tetapi bukannya Allah selalu bisa mendengar doa-doa dan keluhan hamba-Nya dalam frekuensi suara berapapun?
—***—
PS:
Kalau saya membandingkan kondisi jaman sekarang, sangat disayangkan sekali kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Remaja lelaki dan perempuan yang mengaku “gaul” berbicara tanpa etika. Pengemudi yang terjebak di macetnya jalanan ibu kota sering kelepasan mengeluarkan kata-kata umpatan. Nikmat berbicara yang mereka miliki malah disalahgunakan untuk mengumpat, berkata tidak baik, menggunjing, dan hal-hal  tidak patut ditiru lainnya. Andaikan mereka mau melihat orang-orang seperti pasangan suami-istri tunawicara itu dan mereka mau bersyukur dengan cara menggunakan lisan mereka hanya untuk berkata-kata baik.
Aah, ini pun jadi satu pelajaran penting bagi saya sendiri, sebagai koreksi apakah saya sudah memilih kata-kata baik dalam setiap perkataan….
Repost: December 21, 2011 (from my previous blog)
Please follow and like me:

Bahagia Tak Berskala

Apa itu bahagia?

Setiap orang punya definisi sendiri tentang makna bahagia, bisa jadi berbeda satu sama lain dalam memaknai kebahagiaan. Yang pasti, Tuhan itu Mahaadil sehingga setiap hamba-Nya akan diberi kesempatan untuk merasakan bahagia.

Pernah sesekali terpikir, jika si kaya dan si miskin sama-sama bisa merasakan kebahagiaan, lalu di manakah sebenarnya letak kebahagiaan itu sehingga semua orang bisa mencapainya?

Seseorang kaya raya, bergelimang harta, hidup penuh kemewahan, dan tanpa kekurangan suatu apapun. Itukah gambaran seseorang yang berbahagia?

Jika demikian, di mana letak “keadilan” dari makna bahagia itu sendiri jika kita berbicara tentang fakir miskin, tunawisma macam “manusia gerobak” (seseorang yang menjadikan gerobak dorong sebagai rumahnya dan hidupnya selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya), serta anak yatim piatu yang ditelantarkan orangtuanya sejak bayi? Jangankan memikirkan harta, bisa mendapati perut kenyang dan tidur nyenyak dalam sehari saja mereka sudah bisa bahagia koq. Baiklah, Tuhan memang adil dalam memberi kebahagiaan. Setiap manusia diberi arti bahagia dengan caranya sendiri. Namun, saya masih saja bertanya-tanya:

 

Apakah bahagia itu bisa diukur?

Apa tolok ukur bahagia itu?

Apakah bahagia memiliki level atau skala?

 

Jika seseorang dikatakan bahagia, indikator apa

yang bisa digunakan sebagai determinan kebahagiaannya?

Andai saja bahagia itu memang memiliki skala, misalkan diberi antara 1-10. Di mana cut off point kebahagiaan untuk si kaya dan si miskin? Sama atau berbeda kah? Jika berbeda, berarti Tuhan tidak adil ya? –> Pertanyaan ini sudah sangat lama singgah di otak saya yang sedang ingin kritis ini.

Tanyalah pada petani, mungkin mereka merasa bahagia ketika hasil panen melimpah ruah dengan kualitas baik. Jika bertanya pada mahasiswa, mungkin letak bahagianya pada saat IP mereka meningkat drastis dan uang saku bulanan tercukupi. Berbeda lagi dengan pemain sepak bola, barangkali mereka sangat bahagia saat kesebelasan tim mampu memenangkan pertandingan. Satu contoh lagi, bahagia bagi pasangan suami-istri mungkin ketika buah hati mereka telah lahir.

Kesimpulan dari kerumitan cara berpikir saya yaitu dalam mencapai makna kebahagiaan, setiap orang berada pada kondisi tertentu yang berbeda satu sama lain. Bahagia itu tidak berskala, tidak berlevel, dan tidak terukur. Namun, bahagia itu memiliki tolok ukur yaitu pada rasa syukur dari masing-masing individu.

 

 

Siapapun orangnya, apapun pekerjaannya, bagaimanapun keadaannya, di manapun ia berada… letak kebahagiaan tetap pada rasa syukurnya padaTuhan. Pada kenyataannya, ada sebuah keluarga sederhana dengan kondisi rumah berbilik-bilik bambu reot tetapi hidupnya lebih bahagia dibandingkan keluarga konglomerat yang setiap hari sibuk berburu dan menjaga hartanya.

Hal itu bisa saja terjadi jika keluarga sederhana tersebut selalu mensyukuri apapun nikmat yang telah mereka peroleh, sekecil apapun nikmat tersebut. Lain halnya dengan keluarga konglomerat. Jika mereka tak pernah puas dengan apa yang telah dicapainya, mereka telanjur lupa untuk bersyukur atas segudang nikmat yang telah diberi-Nya.

Ternyata, bahagia itu sederhana, bukan? Sesederhana rasa syukurmu terhadap segala nikmat yang telah diberi-Nya

NOTE:
Bahagia itu tak berskala. Kata seorang kawan, jika bahagia diberi skala itu akan sangatlah panjang deretan angka-angka yang berjejer.
Bahagia itu relatif. Bahkan untuk setiap orang, definisi bahagia bisa berubah dari waktu ke waktu.

Repost: January 10, 2012 (from my previous blog)

 

Please follow and like me:

Forgiven but Unforgettable

 “Kalau punya masalah, jangan disimpan sendiri, nanti stress… berbagilah ke orang lain. Kalau nggak bisa cerita ke Ibu, paling enggak ya cerita ke temen terdekat kamu…”

Masih hangat di ingatan, pesan Ibu kepada saya beberapa belas tahun lalu. Saya lupa saat itu kejadian apa yang membuat Ibu memberikan nasihat seperti itu. Saya mencoba menurutinya hingga sekarang.

Rasa-rasanya gap antara anak dengan orangtua begitu terasa berjarak sedari saya kecil hingga duduk di bangku kuliah. Itulah kenapa sangat sedikit saya bisa menceritakan masalah saya kepada Ibu dan Bapak. Saya lebih memilih berbagi kisah dengan buku harian dan langit malam….. haha terdengar sentimentil ya.

Di postingan sebelumnya pernah saya katakan, jika memendam sesuatu yang menyesakkan tapi tidak bisa terungkapkan, saya akan menulis bahkan sambil terisak menangis mencari ketentraman di ujung pena pada selembar kertas. Copying stress saya lainnya yaitu saya akan keluar rumah di malam hari, dengan lincahnya memanjat ke atap rumah atau ke bak belakang truk (dulu kami punya truk yang selalu diparkir di halaman depan rumah) kemudian saya akan dengan leluasa tidur-tiduran beralaskan tikar sambil menatap langit, mengajak bicara bintang-bintang, dan sesekali terdiam merenung. Itu sudah lebih dari cukup untuk sedikit mengobati perasaan kacau saya.

“Bintang-bintang dan langit malam itu sahabat baik saya, ketika saya bercerita, bintang-bintang itu akan berkedip-kedip seolah pertanda mengerti dan memahami perasaan saya….”

Saya benar-benar pernah sangat mempercayai hal ini!

Kenapa saat itu saya tidak berbagi dengan teman? Pengalaman hidup mengajarkan saya bahwa tidak ada yang bisa kita percayai selain diri sendiri dan Tuhan. Saat saya mencoba mempercayai seseorang sebagai “teman baik” kemudian saya tahu ternyata dia tidak demikian karena sebuah “pengkhianatan” yang dia lakukan, kecewa saya tak berkesudahan. Hal semacam itu sudah sering saya alami sejak sekolah dasar pun sampai saat ini sehingga saya menjadi pribadi yang tidak gampang percaya kepada orang lain. Itulah kenapa saya menjadi pribadi yang sangat pemilih pada hati mana saya mau berbagi, pada telinga mana saya akan bercerita, dan pada binar mata mana saya bisa percaya.

Sekali lancung ujian, selamanya orang tak akan percaya —> It’s work for me!

Setiap orang berhak atas kesempatan kedua, pun dalam hal “dipercayai kembali”. Saya memahami ini. Sekarang, mari kita buat permisalannya. Jika sebuah hubungan diibaratkan seperti piring kaca yang dipecahkan (hubungan yang retak karena sesuatu hal_red), meskipun sudah dicoba untuk direkatkan kembali menjadi bagian yang utuh, serpihan pecahannya tetaplah tidak akan bisa sempurna. Kenyataannya seperti itu toh

Maybe it has been forgiven, but unforgettable yet!

852e2-path2013-09-0522_05

Manusia memang tempat salah dan lupa. Janganlah berekspektasi berlebihan kepada siapa pun. Secara tidak sadar, terkadang kita “menuntut” seseorang agar menjadi sesuai apa yang ada di pikiran kita. Padahal, mereka adalah mereka apa adanya, yang pada kenyataannya bukanlah seperti apa yang kita pikirkan atau harapkan, bahkan mungkin mereka jauh dari tuntutan pikiran kita. Saat tersadar pada kenyataan itulah kita akan merasa dikecewakan, entah karena perbuatannya, perilakunya, kebohongannya, atau pengkhianatannya. Padahal itu tidak seharusnya terjadi jika kita menerapkan prinsip not to judge the book by its cover.

Tidak ada manusia yang sempurna, diri saya pun jauh dari kata sempurna. Oleh karenanya, saya mafhum jika pernah ada seseorang yang saya kecewakan atau saya sakiti perasannya kemudian perlahan mereka mundur dan menjauh tidak peduli pada saya karena saya pun akan melakukan hal demikian.

Kalau bertanya tentang siapa yang patut disalahkan, mungkin jawabannya ada di masa lalu.

Please follow and like me:

Menulis daripada Mati

Inspirasi saya untuk kembali menulis datang seketika setelah saya selesai bertugas sebagai relawan guru di Kelas Inspirasi Bogor, tepatnya 11 September 2013 lalu. Salah satu rekan tim saya, Mba Prita (wanita hebat yang baru saya kenal), bercerita tentang kondisi kelas yang beliau kunjungi. Penulis yang juga seorang ibu dari dua anak ini mengajak murid-murid di kelasnya untuk menuliskan hal yang paling mengecewakan atau menyedihkan yang pernah dirasakan oleh masing-masing murid.

Mba Prita lalu meminta salah seorang murid maju untuk membacakan isi tulisan yang ia buat. Di tengah-tengah murid itu membaca tulisannya sendiri, ia menangis. Mba Prita lantas memeluk dan menenangkan muridnya tersebut. Menurut penjelasan yang disampaikan Mba Prita, murid tersebut menangis tersedu karena tengah memendam sesuatu hal yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapapun. Kurang lebihnya, murid tersebut mengungkapkan dalam tulisannya bahwa perlakuan kedua orangtuanya di rumah seolah selalu menyalahkan si murid tersebut. Itulah hal yang ia pendam sehingga membuatnya menangis saat membaca tulisannya sendiri.

Mba Prita dan salah satu muridnya (Photo taken by Om Benny)

Tulisan mampu bercerita tentang hal yang tak terungkap oleh lisan manusia…
Begitulah, menulis menjadi sebuah proses katarsis….

Menurut JS Badudu, Katarsis adalah metode psikologi (psikoterapi) yang menghilangkan beban mental seseorang dengan menghilangkan ingatan traumatisnya dengan membiarkan menceritakan semuanya.

Thanks Mba Prita for inspiring me…
Ingatan saya melayang ke beberapa belas tahun lalu. Saya sudah mulai mempraktikkan proses katarsis itu sejak di bangku sekolah dasar. Saya rajin menulis di buku diary, tidak rutin, tapi selalu dan hampir pasti saya menulis saat saya menghadapi masalah. Ketika saya merasa orangtua tidak ada waktu untuk bisa diajak berbagi, ketika teman-teman saya tidak bisa menjadi sahabat baik yang bisa mendengar keluh kesah, ketika saya merasa dunia menjauh dan saya seorang sendiri menghadapi segala permasalahan….. saat itulah saya menulis. Kebiasaan menulis itu pun berlanjut hingga saya duduk di bangku SMP dan SMA. Sebagian orang mungkin berpikir bahwa menulis diary adalah sesuatu yang sangat melankolis.. Hmm, mungkin ada benarnya ya.

Bagi saya, menulis adalah media pengungkapan emosi dan terapi kejiwaan. Pena di jemari saya akan menari-nari liar seirama dengan beban dan emosi yang saya tuangkan. Tidak sekali atau dua kali saya menangis ketika saya sedang menuliskan isi perasaan saya, hal itu membuat saya paham kenapa murid Mba Prita menangis saat membaca tulisannya sendiri.

Saya akan terus menulis sampai saya bosan atau saya menemukan kedamaian. Saat saya merasa lega dan telah menumpahkan emosi saya dalam bentuk tulisan, saya berhenti menulis. Jika saya mau, saya akan membaca lagi tulisan yang saya buat. Tetapi lebih sering saya langsung menutup buku dan tidak ingin membacanya sekalipun! Karena bisa jadi apa yang sudah tertulis itu terlalu menyakitkan untuk dibaca kembali. Ibaratnya, membacanya itu bagaikan mengulang dan mengingatkan lagi terhadap situasi menyebalkan yang telah terjadi. Saya akan simpan dengan rapi buku harian saya di tempat yang —menurut saya— aman, hanya saya dan tuhan yang tahu. 😛

Semakin beranjak dewasa, saya melakukan proses katarsis hanya ketika perasaan saya sudah “kacau” dan tidak mampu lagi berbagi. Saya akan menuangkan perasaan saya di selembar kertas, mungkin sebanyak dua halaman atau lebih. Saya menulis tanpa henti selama 15-30 menit, apa saja saya tulis tanpa memperhatikan proses editing, tanpa berpikir tulisan saya sudah cukup baik atau belum. Setelah selesai menulis, saya langsung merobek dan membuang kertas-kertas tadi. Selama emosi sudah terungkapkan, lembaran kertas itu akan menjadi onggokan sampah.

Mencomot dari bio-nya Mba Theoresia Rumthe: “Menulislah dan Jangan Bunuh Diri”. Saya setuju dengan tagline tersebut. Saya pun menganjurkan hal serupa: “Menulislah daripada Memendam Emosi sampai Mati”

 

Please follow and like me:

Tentang Rumah Baru

I’m back…

Ini blog baru saya, bak rumah singgah untuk setiap cerita yang ingin diuraikan. Dua tahun lalu saya menghapus personal blog saya yang sudah lumayan banyak terisi tulisan. Alasan dihapus? Hmm… karena saya merasa sedikit malu ketika saya menyadari ada yang diam-diam –seseorang yang tidak saya sangka– selalu memantau, memerhatikan, atau bahkan begitu mengidolakan saya? Haha… Entahlah…. yang pasti, beberapa hari setelah upacara wisudaan saya di tahun 2011 lalu, seseorang tersebut secara mengejutkan mengirimi saya lembaran-lembaran kertas yang terjilid rapih berisi seluruh tulisan di blog saya saat itu. Wow, saya takjub!

Sekarang saya hanya tersenyum-senyum saja kalau mengingat bagaimana kepanikan saya sesaat setelah menerima bingkisan dari Pak Pos yang ternyata berisi keseluruhan tulisan di blog saya. Semestinya kepanikan yang tak beralasan itu tidak harus terjadi sih karena sedari awal harusnya saya tahu kalau sesuatu yang dipublikasikan di media sosial itu artinya kita siap mengabarkan postingan kita ke seluruh penjuru dunia, tak terkecuali siapa pun.

Namun, ini lain cerita. Seseorang yang terpisah jauh, yang saya anggap tidak akan sebegitunya mencari tahu tentang saya, eeh ternyata “beliau” ini rajin memantau bahkan dengan telatennya mencetak lembar demi lembar tulisan saya (yang menurut saya isinya dominan dengan hal yang tidak terlalu penting, hehehe).

Tidak akan terjadi lagi.

Sekarang ini saya cukup dewasa menanggapi hal-hal serupa (#halah).
“Rumah baru” ini tentu saja masih bercerita seputar kehidupan saya. Lebih tepatnya perjalanan hidup yang sebenarnya hanya numpang singgah sejenak di dunia… Saya berharap blog ini bisa menjadi media komunikasi yang lebih baik dari sekadar ucapan lisan saya. Saya tidak pandai mengungkapkan segala sesuatunya secara verbal maupun lisan, namun melalui tulisan saya merasa lebih bisa mengungkapkan kejujuran isi hati (#eaaaaa).

Untuk seseorang yang telah menjilidkan dengan rapih lembar demi lembar cerita saya… terimakasih Bapak…. agaknya justru belakangan ini saya merasa bangga karena Bapak sudah menjadi pengagum rahasia putri sulungnya ini. Kumpulan tulisan blog yang Bapak kirim dulu masih tersimpan rapih di lemari buku. Saya malu mau membacanya lagi karena tulisan saya jauh-jauh tidak lebih baik dari tulisan Bapak.


Tentang Rumah Baru,
Akan ada beberapa tulisan lama saya yang saya posting di blog ini, dengan sedikit editan seperlunya.Terimakasih sudah berkunjung 🙂




Please follow and like me: