Pergi dalam Diam

….waktu kecil dulu, orang-orang dewasa  -yang (merasa) lebih tau tentang baik buruk buat kita- sering membuat keputusan atas sesuatu untuk kita. Ternyata setelah dewasapun kita sering juga mengalaminya. Fait accompli – orang Perancis bilang. Sesuatu sudah diputuskan untuk kita tanpa kita dimintai pertimbangan. Kadang jadi sakit hati yaa. Tapi (karena kita sudah dewasa) tentu kita harus bisa membujuk hati kita, bahwa itu semata-mata untuk kebaikan kita. Nggak usah pakai suudzon, apalagi kalau dengan suudzon itu kita justru akan bertambah sedih. Rugi kan? lha alasan yang jelas untuk bersedih aja selalu ada kok, masak ndadak nyari-nyari tambahan alasan untuk bersedih yang nggak jelas. Lagipula, sekali-kali dilepaskan dari tanggungjawab membuat keputusan itu enak lho..kalau ada apa-apa kita nggak ketempuhan….hehehe.. (SNQ)
Kutipan isi update status dari seorang rekan kantor, pas sekali sebagai pembuka tulisan kali ini…
Segala sesuatunya sudah diputuskan tanpa pertimbangan kita. Sekalinya kita dimintai pertimbangan adalah saat sesuatu sudah pada ambang kritis sehingga apapun yang kita sampaikan juga tidak akan mengubah keadaan tersebut. Namun, jika kita tiba-tiba berpendapat sebelum dimintai pertimbangan, cans membuat runyam keadaan semakin besar, terlalu berisiko! Jadi ada kalanya diam itu menjadi sebaik-baiknya pilihan walaupun dalam hati amat sangat ingin berontak. 
Anda pernah mengalami keadaan tersebut?
Saat berada di posisi yang sulit, terkadang kedewasaan seseorang justru membuatnya memilih untuk diam. Diam karena belum punya kalimat baik yang perlu diucapkan. Sesungguhnya mengetahui sesuatu yang buruk akan terjadi tetapi kita tidak mampu berbuat apa pun (untuk mencegahnya) adalah kondisi yang menjengkelkan. 

Kalau saya mengalami kondisi seperti itu?? Saya memilih perlahan pergi menjauh dalam diam….
Please follow and like me:

Cerita Tukang Ojek (Part 3): Saya mau qurban buat bapak saya

Pukul 00.31
Antara Gondangdia dan Pasar Senen (cerita perjalanan petang tadi)
Saya: “Pasar Senen ya, ada helm-nya nggak Pak?” 
Ojek: “Iya, ada banyak”
Tukang ojek menyahut sambil mengarahkan saya ke motornya.
Ojek:”Alhamdulillah” katanya lagi sambil mematikan puntung rokok di tangannya.
Saya:”Eh kenapa Pak?” tanya saya iseng, agak heran dengan ucapan syukurnya yang diiringi gerakannya mematikan rokok.

Ojek:”Saya seneng aja. Bersyukur gitu. Dapet rejeki lagi” lanjut abang ojek.

Saya tidak fokus dengan jawaban bapak itu. Saya lebih tertarik untuk mengomentari rokoknya. Sambil menunggu bapak ojek menyiapkan motor dan helm, serta memposisikan tas saya, saya iseng bertanya:

Saya: “Bapak ngerokok ya? Jangan ngerokok Pak.” (Eska lagi bawel, sedikit-sedikit suka komentar)
Ojek: “Enggak, ini kan sudah saya matikan rokoknya,” entah ini jawaban polos atau ngeles. Bapak berkacamata itu menjawab sambil menunjukkan puntung rokok yang sudah dimatikan (tapi saya lihat sisa batangnya masih disimpan, mungkin dibuang sayang). 
Saya: “Duit koq dibakar-bakar, ngerokok itu nggak sehat lho Pak.” (OMG Eskaaaaa…… komentar mulu sih!)
Ojek: “Hehehe”


Saya memang agak sensitif kalau bicara soal rokok. Saya benci rokok dan perokok aktif. Titik.

Di perjalanan, bapak ojek itu tiba-tiba bercerita:
Ojek: “Saya sedang ngumpulin duit ini mba”
Saya: “Eh… oh.. buat apa Pak?”
Ojek: “Buat beli kambing. Mau qurban buat almarhum bapak saya”.
Saya: “Oooh…. ,” 
Saya menepis kecurigaan kenapa bapak ini tiba-tiba bercerita bahwa dia sedang mengumpulkan uang. Tadinya saya merasa agak aneh tapi sekarang saya hanya fokus mengingat-ingat hukum berqurban bagi orang yang sudah meninggal.

Saya: “Bapaknya sudah nggak ada Pak?”  
Pertanyaan ini hanya untuk memastikan saya tidak salah dengar kalau bapak si tukang ojek ini sudah almarhum. 
Ojek: “Iya, sudah meninggal. Tapi saya mau qurban atas nama almarhum bapak saya. Biar pahalanya nanti buat bapak saya gitu” 
Saya: “Setahu saya dalam Islam tidak membolehkan berqurban atas nama orang yang sudah meninggal Pak. Kenapa nggak atas nama bapak saja? Bapak yang qurban untuk diri bapak dan keluarga, nanti pahalanya bisa untuk keluarga bapak juga.

Ojek: “Oh? Nggak boleh?” Bapak itu tampak kaget.
Sepertinya saya sudah membuat bapak ojek itu bingung atas pernyataan saya. Tetapi yang saya pelajari kemarin itu, qurban untuk orang yang sudah meninggal memang tidak ada dalam syariat Islam berdasarkan dalil terajih. Saya mencoba mencari kalimat yang mudah dipahami bapak ini, juga kalimat yang tidak terlalu “mengagetkan”.

Alhamdulilah koneksi internet saya cukup lancar selama perjalanan. Masih separuh jalan untuk sampai di Pasar Senen. Saya coba membuka sumber-sumber terpercaya melalui website yang membahas tentang hukum berqurban. Saya mencari referensi untuk memberi penjelasan kepada bapak ini.

Di perhentian lampu merah..
Ojek: “Jadi kalau saya mau potong kambing buat qurban atas nama bapak saya, itu nggak boleh ya mba? Kan maksudnya biar bapak saya dapet pahalanya gitu. Makanya saya lagi ngumpul-ngumpulin duit buat beli kambing”.
Saya: “Iya Pak, yang saya tahu itu tidak dicontohkan oleh Rasulullah. Bapak potong hewan qurban untuk bapak dan keluarga, nanti pahalanya akan didapat oleh keluarga bapak, termasuk orang yang sudah meninggal juga akan tetap dapat pahalanya….”

Ojek: “Tapi kan cuma kambing mba, bukan sapi”

Saya: “Iya, cukup seekor kambing pahalanya bisa untuk satu keluarga koq”

Ojek: “Wah, saya baru tahu malahan… Makasih ya Mbak”
Saya masih tetap bergoogling, meyakinkan diri saya sendiri atas jawaban yang saya berikan ke bapak ojeg. Akan merasa sangat berdosa jika saya bicara tidak berdasarkan dalil. Sesampainya di Stasiun Pasar Senen, saya mencoba menjelaskan kembali kepada bapak ojek ini, saya khawatir pembicaraan yang sepotong-sepotong tadi tidak ditangkap secara komprehensif:
Saya: “Dulu sebelum meninggal, apakah almarhum bapaknya pernah berwasiat agar disembelihkan hewan qurban?”
Ojek: “Nggak pernah sih”
Saya: “Kalau dulu bapaknya pernah berwasiat, wasiatnya boleh dilaksanakan Pak. Tapi kalau enggak berwasiat, bapak berqurban untuk diri sendiri dan diniatkan juga untuk keluarga yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Nanti insyaAllah almarhum bapaknya juga dapat pahala dari qurban itu koq. Pahala qurban seekor kambing itu bisa untuk satu keluarga.
Dalam aturan Islam, qurban itu hanya untuk orang yang masih hidup saja. Nah, kalau berqurban untuk orang yang sudah meninggal, para ulama memang berbeda beda pendapatnya. Tetapi, Rasulullah dari dulu nggak pernah mencontohkannya. Rasulullah nggak pernah melakukan penyembelihan hewan qurban untuk saudara-saudaranya yang sudah meninggal. Jadi, sebaiknya kita ikut Rasulullah saja.
Tampak Bapak itu mengangguk-angguk. Setelah bapak ojek itu menunjukkan pintu masuk stasiun, saya membayar sejumlah uang.
Saya: “Ini Pak, cukup nggak?”
(saya sering menanyakan ini karena takut pihak yang dipakai jasanya belum ridho dengan harga yang saya beri. Apalagi di awal tadi kami memang tidak menyepakati harga tertentu)
Ojek: “Iya terimakasih”
Saya: “Bener sudah pas?”
Ojek: “Iya alhamdulillah. Terimakasih banyak mba”

Bismillah, mudah-mudahan penjelasan saya tadi bermanfaat untuk si bapak ojek dan mudah-mudah bapak ojek itu mendapat rejeki untuk bisa membeli hewan qurban. Aamiin….


Beberapa referensi tentang hukum berqurban untuk orang yang sudah meninggal:

http://ulamasunnah.wordpress.com/2010/02/27/berkurban-bagi-orang-yang-telah-meninggal/

http://www.darussalaf.or.id/fiqih/fiqih-ringkas-dalam-berkurban/

http://dzulqarnain.net/berqurban-untuk-orang-yang-telah-meninggal.html





Please follow and like me:

Cerita Tukang Ojek (Part 2): Helm itu penting, wahai abang ojek!

Pukul 22.32 di kereta Sawunggalih.

Banyak perubahan terjadi di perusahaan KAI. Mulai dari stasiun yang sudah tampak tertata rapi, kepedulian terhadap kebersihan yang sudah mulai ditingkatkan, serta kondisi kereta yang lebih nyaman. Kereta kelas bisnis yang saya naiki ini ada sambungan listriknya sehingga tidak perlu khawatir hp atau laptop kehabisan baterai. Semoga di kemudian hari setiap kereta dilengkapi dengan meja makan/meja kerja sehingga saya bisa nyaman menggunakan leptop seperti di kereta kelas eksekutif. 
Malam ini, kebetulan saya bisa satu bangku dengan Reni. Kalau memang sudah berjodoh, tanpa perencanaan pun bisa terjadi ya. Selalu ada kebetulan-kebetulan yang tidak direncanakan. Teman sebangku saya tertidur pulas, sepertinya kelelahan. Saya sendiri senang menikmati perjalanan malam dan memilih terjaga sepanjang perjalanan (selain karena takut kebablasan di stasiun tujuan nanti. hehehe).

Perjalanan ke Stasiun Senen petang tadi diawali dengan perjalanan menumpang mobil Mba Fitri (rekan kantor) dari kampus sampai di Stasiun Tanjung Barat. Kemudian dari Stasiun Tanjung Barat saya naik commuterline sampai di Stasiun Gondangdia. Setelah itu, saya lanjut naik ojek menuju Stasiun Pasar Senen. Saya agak waspada dengan tukang ojek di tempat umum semacam stasiun. Selalu ada perasaan tidak se-aman menggunakan ojek di lingkungan kampus. Setiap pangkalan ojek sekitar kampus, tukang ojek lebih tertib bergiliran mengantar penumpang. Jauh berbeda dengan tukang ojek di tempat umum yang berebutan dan agak memaksa dalam mencari penumpang. Mereka tidak salah sih, namanya juga mencari rejeki, hanya saja ketertiban mereka masih kurang.

Saya memang niat memakai ojek dari Stasiun Gondangdia menuju Stasiun Pasar Senen, tapi jika para tukang ojek mulai “beraksi” mengerumuni saya, saya selalu tampak tidak butuh mereka. Seperti dugaan, begitu saya berjalan menuruni tangga keluar Stasiun Gondangdia, belasan tukang ojek sudah ramai menunggu mencari penumpang. Saya mengabaikan tawaran dengan cara menunduk seolah tidak peduli. Sampai pada akhirnya ada seorang bapak berkacamata yang menawari saya. Sepertinya orang baik, saya pilih bapak ojek itu.

Saya: “Pasar Senen ya, ada helm-nya nggak Pak?”

Seperti biasanya, saya tidak melakukan tawar menawar harga di awal. Hal yang harus ditanyakan pertama kali sebelum naik ojek adalah helm. Saya memilih untuk membatalkan naik ojek jika tukang ojek tidak menyediakan helm bagi penumpangnya. Walau bagaimanpun, prinsip safety first harus diterapkan demi kebaikan kita sendiri. Kecuali untuk jarak dan kondisi jalan yang menurut saya bisa ditoleransi, saya masih bisa mengabaikan penggunaan helm. Tapi untuk tukang ojek yang beralasan:
– “deket koq, nggak usah pake helm nggak apa-apa”
– “nggak ada polisi, nggak perlu helm”
– “hehe, saya helmnya cuma satu”

Saya akan bawel pada tukang ojek yang beralasan seperti di atas. Saya juga akan sedikit memaksa mereka mengusahakan ada helm untuk saya.
– “Pak, bukan soal ada polisi atau enggak. Saya peduli keselamatan diri saya”
– “Walaupun jaraknya dekat, tapi tetap saja saya mau pake helm”
– “Yah, koq nggak ada helm buat penumpang sih Pak, bisa pinjemin helm ke temennya nggak Pak?”
Rata-rata tukang ojek itu kooperatif koq karena mereka kan tidak ingin kehilangan calon penumpangnya. Tapi, bagi tukang ojek yang agak membantah, akan saya tegaskan:
“Bapak, helm itu bukan soal ada polisi atau enggak. Saya peduli keselamatan saya. Ada teman saya naik ojek, kecelakaan, meninggal di tempat baik tukang ojek maupun penumpangnya. Seharusnya, teman saya akan diwisuda seminggu setelah hari itu. Teman saya tidak pakai helm, kepalanya hancur. Kalau Bapak nggak ada helm, saya takut ah, mau cari ojek yang ada helmnya saja…”

Saya tidak mengarang cerita tentang teman saya. Itu kisah nyata teman kampus saya (mendiang Novi) yang mengalami kecelakaan saat menumpang ojek hendak pulang ke rumahnya. Kecelakaan beruntun, ditabrak oleh 3 kendaraan beroda empat. Novi dan tukang ojeknya nahas meninggal di lokasi kecelakaan. Padahal, seminggu setelah kejadian itu seharusnya Novi diwisuda. Dia sudah tertinggal satu tahun dibanding teman seangkatan yang sudah lebih dulu diwisuda. Novi belum sempat melihat toga wisudanya hingga detik terakhir hidupnya. Saya dan teman-teman mengantarkan toga wisuda Novi sembari melayat. Tempurung otaknya hancur, malam kejadian itu pihak RSCM bekerja keras menyusun dan menjahit serpihannya. 

Saya pernah menjelaskan perihal cerita nyata itu pada seorang tukang ojek di wilayah Kuningan yang ngotot berkata “tidak apa-apa, tidak usah pakai helm, nggak ada polisi”

Setelah mendengar cerita saya, bapak ojek di daerah Kuningan itu langsung mengeluarkan helmnya untuk saya. Sepertinya cerita saya menarik bagi si bapak ojek. Dalam perjalanan, bapak ojek masih menanyakan kelanjutan cerita tentang teman saya yang meninggal: “Tukang ojeknya meninggal juga ya??” tanyanya 😀


(TO BE CONTINUED)




Please follow and like me:

Cerita Tukang Ojek (Part 1): Bersyukur

Pukul 19.16 WIB di Peron Stasiun Pasar Senen
Saya tiba di stasiun jauh-jauh lebih awal dari jam keberangkatan kereta. Sembari menunggu kereta Sawunggalih datang, saya membuka laptop untuk menulis. Pikir saya, mumpung baterai laptop masih full dan suasana kondusif untuk bisa mengetik. Biasanya saya tiba di stasiun atau bandara dalam jangka waktu yang sangat mepet dari jam keberangkatan kereta/pesawat. Ternyata hari ini bisa juga saya datang awal bahkan hampir 1.5 jam lebih awal, baru kali ini loh…
Saya ingin bercerita tentang 2 tukang ojek yang saya temui hari ini. Tukang ojek pertama adalah yang mengantar saya dari pinggiran jalan raya dekat kosan menuju kampus. Saya berencana meninggalkan kosan sejak pagi tadi sekaligus membawa satu tas barang yang akan saya bawa pulang kampung di sore harinya. Jadi, sepulang dari kampus saya langsung menuju stasiun dan tidak perlu kembali ke kosan hanya untuk mengambil tas barang.
Saya bertemu dengan bapak tukang ojek yang baik. Bagaimana saya tahu dia baik? Aura orang baik terkadang bisa kita rasakan saat pertama bertemu dan ngobrol. Saya jarang sekali mengajak ngobrol tukang ojek karena saya pakai ojek hanya untuk jarak yang relatif dekat. Lain lagi dengan supir taksi, saya memakai taksi untuk perjalanan yang berjarak cukup jauh sehingga seringkali saya ajak ngobrol supir taksi agar dia tidak mengantuk.
“Hati-hati rok-nya ya mba,” kata Bapak tukang ojek mengingatkan saya sambil membantu membawakan tas saya. Saya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Memang bagi pengendara motor yang menggunakan rok, jilbab, pakaian panjang, atau mantel, diharapkan berhati-hati karena tanpa sadar ujung pakaian atau mantel yang menjulur ke arah roda bisa masuk ke gerigi. Dampaknya sangat berbahaya. Bisa dibayangkan perlahan-lahan pakaian/mantel itu tergulung gerigi dan pengendara bisa terjatuh. 
Saya: “Pernah kejadian ya Pak?” 
Ojek: “Iya, pernah lihat sampai ada yang jatuh. Kalau pakai mantel juga, hati-hati mba. Pernah tuh saya lihat ABRI mantelnya kegulung roda,”jelas bapak ojek.
Saya: “Iya memang bahaya, saya juga kalau di jalan sering diperingatkan dan memperingatkan orang. Ngeri ya Pak kalau sampai jatuh.” 
Kemudian bapak ojek bertanya kenapa saya pergi ke kantor bawa tas besar.
Ojek: “Mau ada acara nginep ya?”
Saya: “Enggak, saya mau pulang kampung”
Ojek: “Oh, libur lebaran lama ya mba. Saya juga mau ke Bogor nanti lebaran”
Saya familiar dengan bapak ojek yang satu ini. Seingat saya, ini bukan kali pertama saya diantar dia.
Saya: “Pak rumah dimana?”
Ojek: “Deket Tante Puteh koq rumah saya”. 
Nah kan betul, dia tetangga Tante Puteh (pemilik kosan saya).
Saya: “Bisa ya Pak kalau kapan-kapan saya minta jemput. Biasanya kalau mau bepergian kaya pulang kampung begini, saya biasanya minta Tante carikan ojek buat saya. Tapi tetangga Tante yang sering anter saya biasanya pas lagi ngga bisa. Bapak ada nomer hp?”
Ojek:”Iya ada. Iya boleh nanti hubungi saya. Kalau saya pas lagi nggak anter/jemput nanti saya anter mba. Saya juga ada langganan anak sekolah yang anter-jemput setiap ke sekolah”.
Sesampainya di kampus, saya mencatat nomer hp Pak Yayan. Kemudian saya memberikan sejumlah uang.  Saya sering tidak melakukan tawar menawar di awal. Kalau saya sudah tahu perkiraan harganya, saya lebih baik memberi agak lebih.
Saya: “Cukup nggak Pak kalau segini?”
Ojek: “Iya Alhamdulillah, terimakasih ya mba”
Pak Yayan tersenyum kemudian pergi. Saya senang ketika mendengar Pak Yayan mengucap syukur atas rejeki Allah yang diberikan melalui saya. Memang seharusnya seperti itu, seberapapun rejeki yang kita dapat, kita harus pandai mensyukuri nikmat itu.
(TO BE CONTINUED)
Please follow and like me:

Friendzone

Obrolan suatu malam….. (dengan sedikit gubahan alur dan isi percakapan)
Suatu malam di sebuah tempat bernama Warung Mie Ayam, saya dengan seorang teman laki-laki yang saya kenal hampir 13 tahun lalu. Masih dengan gaya khasnya yang santai, cuek, analis, dan kritis, dia berhasil “menampar” saya dengan kalimat-kalimatnya malam itu. Kami memang sedikit berdebat seperti biasanya, tetapi kali ini saya menjadi objek utamanya. 
 
“Kalau kamu nggak nikah sama X (menyebutkan nama seseorang), masing-masing pasangan kalian pasti kasihan” selorohnya dengan frontal yang membuat saya kaget sekaligus mengernyitkan dahi untuk pertanyaan:
“Kenapa tiba-tiba kamu berkata begitu? Apa maksudnya?” Dengan jujur saya katakan padanya bahwa saya tidak suka dengan pernyataan dia yang sangat tiba-tiba itu.

Masih asyik melahap mie ayam di mangkoknya, kawan saya ini melanjutkan, “Kalian sudah terlalu dekat”. Oke, lagi-lagi saya membantah pernyataan itu dengan berkata “Biasa saja, kamu kan tahu saya memang bisa dekat dengan siapa saja kalau memang cocok. Kenapa masih saja kamu heran.”
“Dekatnya beda, saya lihat beda” lanjutnya, masih asyik dengan mangkok mie ayam-nya.
Beda bagaimana? Biasa saja! Saya merasa itu biasa saja. Dekat yang wajar karena memang sudah bersahabat lama. Kami jarang komunikasi jika memang tidak benar-benar perlu. Apalagi dengan kesibukan kami masing-masing, ketemu pun hampir nggak pernah. Memang sih sekalinya ketemu kami bisa sangat asyik. Tapi kan masih dalam koridor wajaaaar”, saya tetap membela diri. Tetapi kawan saya segera memotong:
“Iya, kamu anggap biasa. Tapi dia??? Apa juga menganggap kedekatan kalian adalah hal yang biasa saja?”
Saya cukup kenal dengan kawan saya ini. Serangan pertanyaannya sudah dipastikan bukan pertanda perasaan jealous. Justru saya merasa tertuduh dalam hal ini, saya masih saja menebak ke mana arah pembicaraan atas “tuduhan” versinya ini.
Setelah menghabiskan seluruh isi mangkoknya, kawan saya mulai agak fair mengarahkan maksud ucapannya:
“Ayolah, ini sudah bukan masa-masanya kalian becanda seperti dulu. Khususnya buat kamu, sudah harus mulai memaknai agak serius” okay, terlalu rumit kalimatnya untuk saya cerna, saya tetap diam mendengarkan sambil terus menebak arah pembicaraan ini.
“Mungkin biasa saja ya. Tapi apa kamu nggak kasian sama pasangan kamu nantinya, kamu ngga peduli perasaannya? Bagaimana kalau dia tau kamu bisa dekat dengan banyak teman laki-laki. Makanya saya bilang, kamu nikah saja sama X itu, toh kalian sudah dekat kan? Daripada nanti kamu dengan orang lain, X dengan orang lain. Kasihan pasangan kalian masing-masing,” 

Saya kaget sekali dengan ucapan dia yang mengalir begitu saja. Dengan gaya kritisnya yang ceplas-ceplos itu saya sudah biasa, tapi saya tidak mengira dia akan menceramahi saya seperti ini.

“Ya kecuali kalau kamu nanti terima dapat pasangan hidup yang …. gaul, biasa becanda dan pergi bareng temen ceweknya, nggak terlalu mikirin sikap kamu, hidup yang … oh oke you know I mean..?” Saya hanya mengangguk mengiyakan. Kawan saya melanjutkan:
“It’s ok dengan sikap kamu seperti ini. Tapi kalau kamu ingin mendapatkan pasangan yang…. Yang bisa menjaga dirinya hanya untuk kamu… yang begitu menjaga ‘batas’ antara laki-laki dan perempuan, ya… kamu tau sendiri kan?” Walaupun dia tidak seutuhnya merangkai kalimat demi kalimatnya, saya sudah cukup memahami maksudnya. Saya hanya diam, berpikir, dan mencari celah untuk bisa membela diri lagi, tapi di sisi lain sejujurnya saya sudah mengakui kesalahan saya.
Melihat saya tidak bereaksi membantah seperti biasanya, dia melanjutkan: 
Okay, sorry, dalam diri saya sendiri bisa timbul banyak pendapat yang mungkin akan berbeda-beda tergantung kondisi dan waktu, hmm, begini…. teman laki-laki mungkin akan merasa nyaman ngobrol dengan kamu karena kamu bisa menempatkan diri ketika bersama mereka. Mereka nyaman dan merasa dekat. Just a friendzone, mereka nggak akan menembus batas pertemanan dengan kamu. Tapi hubungan yang terlalu dekat, dampaknya ya ke kamunya sendiri juga. Kamu itu perempuan….”. Penjelasan panjang lebarnya membuat saya mencapai pada kesimpulan kalau kawan saya ini ingin mengutarakan:
“Please, jaga sikap kamu!
JLEBBBBBB!!
Sepulang makan malam, saya kepikiran dengan ucapan kawan saya tadi… Benar-benar saya merasa tertampar! Tamparan selanjutnya datang di malam itu juga, ketika saya mencoba berdiskusi dengan seorang teman perempuan via message.
“Sorry ya, dia ada benernya juga.  Bagaimanapun, hubungan dekat dan becanda berlebihan dengan yang bukan mahram itu dekat dengan fitnah. Terserahlah mau dilihat pakai kacamata siapa, coba menurut kamu kalau dari kacamata Islam bagaimana. Dengan merasa dekat dengan seorang laki-laki adalah hal yang biasa hanya karena kamu sudah menganggap dia teman dan sebaliknya….  Kamu yakin dianya juga biasa aja? Atau yakin nggak pernah sedetikpun hati kamu terlena?”
Tamparan kali ini lebih dahsyat. Saya ngga ada celah sedikitpun untuk membela diri.
SKAK MAT!
“Please, mulai sadar kalau kamu itu perempuan… jaga diri… Ayo sama-sama belajar untuk berubah jadi lebih baik lagi. Memang yang namanya perubahan selalu sepaket dengan ketidaknyamanan”salah satu nasihat tersirat dari kawan saya ini.

-oOo-
Jujur saja saya malu dengan diri sendiri. Saya malu pada Allah. Selama ini saya mencoba perlahan memperbaiki diri, menjaga sikap, tetapi ternyata masih tetap saja ada yang luput. Iya manusia tak luput dari khilaf. Tapi khilaf yang disengaja dan disadari seharusnya segera diakhiri. Saya bukannya tidak tahu aturan karena saya termasuk orang yang sangat menjaga “batas” itu. Namun, bagi orang yang menjaga batasan, nila setitik akan segera merusak susu sebelanga. Akan cepat terlihatnya. 

Selama ini saya menyikapi hal-hal semacam “kedekatan” itu adalah suatu hal yang biasa saja karena pada dasarnya saya memang lebih banyak berteman dengan laki-laki sedari dulu. Tetapi apa yang kita anggap biasa saja, ternyata belum tentu menjadi biasa di mata orang lain. Di sinilah kita musti berhati-hati, jangan-jangan memang ada yang salah dengan diri kita tanpa kita sadari. Ah, memang ya kuman di seberang lautan tampak sedangkan gajah di pelupuk mata kadang tidak tampak….


Di sinilah peran seorang sahabat yang bisa kita jadikan “cermin” untuk melihat diri kita sendiri melalui sudut pandangnya, “rem”untuk menahan sikap kita yang tanpa sadar kadang kebablasan, “sirine” sebagai peringatan dan tanda bahaya, dan juga “cambuk” agar sesekali bisa pecut kita agar menjadi pribadi lebih baik. 

Saya bersyukur masih dikelilingi dengan orang-orang yang bisa saling mengingatkan satu sama lain dan bersama-sama belajar menjadi lebih baik… Perubahan itu adalah sebuah proses. Setiap orang berhak atas kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Please follow and like me:

Ketika Angka 0.5 itu Sangat Berarti

Hari Kamis selalu menjadi hari yang saya nanti-nantikan karena loper koran akan membawakan majalah BOBO untuk saya. Loper koran selalu datang setiap hari untuk mengantar Harian Suara Merdeka, tetapi hanya di Hari Kamis, dengan suka cita saya akan menyambut loper koran. Saya masih ingat betul, majalah ber-tagline “BOBO Teman Bermain dan Belajar” selalu saya buka dari sampul belakang. Di bagian akhir ada Cerita dari Negeri Dongeng “Oky dan Nirmala”. Oky adalah kurcaci berbaju hijau tua. Saya heran kenapa Oky tidak pernah berganti warna baju setiap saya melihatnya di Hari Kamis. “Hijau lagi, hijau lagi”. Sahabat Oky adalah Nirmala, bidadari cantik bergaun pink, rambut kuning tergerai, memakai mahkota, berlipstik merah, dan selalu membawa tongkat ajaibnya. 

Ketika saya menulis ini, saya tidak browsing gambar Oky dan Nirmala. Benar-benar ingatan saya masih segar mengingat kejadian di masa lalu. Bahkan untuk merasakan kekesalan, kemarahan, kekecewaan, dan rasa malu tiap kejadian yang tidak berkenan di hati, saya masih bisa mengingat, merasakan, bahkan tak urung terbawa perasaan ke belasan tahun silam. 

Ketika Hari Kamis tidak lagi menjadi hari spesial….

Itu terjadi ketika saya duduk di kelas 2 SD, pada penerimaan raport Cawu III  (dulu masih sistem Cawu, bukan Semester) sekaligus kenaikan kelas. Saya mendapat rangking 2. Apa arti ranking 2 yang hanya sekali seumur hidup terjadi selama 6 tahun saya bersekolah di SD? Seolah semuanya tampak murka, Bapak dan Ibu berubah sikap secara drastis sesaat setelah melihat angka 2 terpampang di buku raport saya. Sebenarnya saya tidak terlalu bermasalah dengan ranking. Jika boleh membela diri, selisih nilai saya dengan nilai teman pemilik ranking 1 hanya terpaut 0.5 point, selain itu saya absen sakit 4 hari pada Cawu itu! 

Bayangkan, betapa angka 0.5 berdampak besar terhadap hidup saya saat itu. Saya takut bukan karena ranking, tapi lebih karena saya mengecewakan kedua orang tua saya (okay, air mata saya mulai berderai saat ini). Saya merasa menjadi orang paling bersalah, paling dibenci, dan paling tidak berguna. Tidak ada teman berbagi. Saya ingat Ibu langsung mendiamkan saya sepulang kami mengambil raport di sekolah. Kemudian, sesampainya di rumah, Bapak segera mengambil keputusan begitu melihat raport saya.  

“Nggak ada langganan majalah lagi. Bapak stop mulai minggu depan”, kalian tahu, mendengar ancaman itu sangat mengesalkan. Saya tahu setelah ini akan tambah banyak rentetan ancaman-ancaman dan hal-hal tidak mengenakkan lainnya (apalagi jika saya mencoba protes). Tidak ada langganan majalah itu berarti tidak ada lagi Hari Kamis yang selalu dinantikan dan otomatis loper koran tidak lagi menjadi seseorang spesial dalam hidup saya. Saya tidak bisa protes, saya diam. 

Ketika Adzan Magrib menjadi sesuatu yang menyebalkan….

Jam nonton TV juga mulai dibatasi. “Nggak ada lagi TV nyala setelah adzan magrib.”, okay ini ancaman selanjutnya. Dulu saya suka menonton film “Bidadari” atau sinetron keluarga setiap jam 8 malam, dan mulai saat itu jangan harap ada suara TV saat magrib tiba. Begitu TV menayangkan adzan magrib, “sirine” peringatan dari orang tua saya langsung “berbunyi”:

“Ayo, matikan TV-nya sekarang, solat, terus belajar. Kalau ngga nurut nanti bla bla bla”. Saya lagi-lagi hanya bisa diam, menurut, matikan TV, masuk kamar.

Saya diam karena saya tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Aksi protes hanya akan berbuntut panjang dan merugikan saya sendiri. Bapak bukan sosok seorang yang bisa dibujuk dengan mudah. Tidak ada negoisasi dalam bentuk apapun. Tidak butuh janji-janji seperti  “Saya akan belajar, tapi perbolehkan nonton TV, jangan stop langganan majalahnya”. Tidak, tidak akan mempan. Beliau hanya perlu bukti. 

Saya benci, benci sekali. Pun teman yang kala itu mendapat ranking 1 ikut menjadi alasan kebencian saya. Hal yang sangat menyiksa bagi saya saat itu yaitu karena saya tidak bisa memprotes atau menentang atas sesuatu yang tidak saya sukai tetapi saya terpaksa harus menjalaninya. Itu sangaaat menyakitkan. 

Saya tidak menyalahkan cara Bapak dan Ibu dalam mendidik saya. Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik bagi anaknya, apalagi saya anak pertama dan memiliki orang tua yang sangat concern terhadap pendidikan. Saya adalah anak yang selalu didoktrin bahwa setiap perilaku saya akan menjadi panutan adik-adik saya nantinya. “Kamu harus jadi contoh. Adekmu itu nanti akan ngikutin kamu”, ujar Bapak saya.

Dan kala itu saya mulai membenci jadi anak pertama…

“Allah kenapa sih dulu kakak aku ngga jadi hidup? Coba kalo aku punya kakak, kan aku ngga akan dikata-katain terus, ngga akan disuruh begini begitu, ngga selalu disalahin… Pasti enak punya kakak, nanti kakak aku yang akan selalu disalahin, bukan aku,” adu saya dalam sebuah doa dan catatan.


NOTE:

  • Ketika saya punya anak nanti, saya akan bersikap lebih fair terhadap anak-anak saya. Saya akan mengutamakan komunikasi dan kesepakatan bersama dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan anak-anak. Anak harus terlibat dalam pengambilan keputusan terhadap dirinya dan hal tersebut harus diajarkan sejak dini. Saya tidak berharap menjadi orang tua yang otoriter yang hanya satu pihak dalam membuat peraturan. Mendisiplinkan anak akan lebih mudah dan mengena ketika kesadaran itu muncul pada diri anak, bukan karena sebuah keterpaksaan.
  • Sayangnya, dunia pendidikan di Indonesia selalu dinilai dengan angka. Ranking bagus, nilai sempurna, IPK tinggi. Tidak murni salah, hanya saja kurikulum yang ada, yang memberi celah besar pada permainan angka ini tidak diiringi dengan pendidikan moral, etika, dan agama sebagai pondasi utama di setiap jenjang pendidikannya. Seharusnya moral dan etika itu diajarkan bukan hanya saat anak-anak belajar Kewarganegaraan ataupun agama bukan hanya saat guru mengajari Pendidikan Agama. Akan tetapi, di semua mata ajar dan di lingkungan pendidikan akan lebih baik lagi jika pendidikan moral, etika, dan agama selalu diterapkan dan menjadi pondasi utama. Dengan demikian, integritas dan karakter baik seseorang sudah ditanamkan semenjak masa anak-anak di segala sisi kehidupannya.

Please follow and like me: