Go Mukena Bersih: berawal dari ide sederhana

Apabila datang Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu (Al-Imam Bukhari ramimahullahu).

Bulan ramadhan menjadi suatu kerinduan tersendiri bagi insan beriman. Kehadiran bulan penuh berkah ini disambut dengan segenap suka cita karena banyaknya keutamaan yang dijanjikan. Umat muslim berlomba meraih pahala di bulan penuh kebaikan ini, baik melalui kesibukan berpuasa, bercengkerama dengan Al-Qur’an, maupun ibadah-ibadan lainnya. Semua dilakukan untuk meningkatkan derajat ketakwaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Masih dalam rangka meraih keutamaan-keutamaan di bulan suci ini, Rina Nur Oktaviana, tidak mau ketinggalan untuk menebar kebaikan. Nae, sapaan akrab Rina, memiliki ide sederhana: menyumbangkan mukena-mukena bersih dan layak pakai ke mushola di sekitar tempat tinggal. Nae mengajak teman-temannya agar rajin menyisihkan uang Rp 5.000 per minggu untuk membeli mukena. Jika uang sudah terkumpul, mereka belikan mukena kemudian mereka berikan ke beberapa mushola yang masih kekurangan mukena bersih.

Siapa yang menyangka, berawal dari ide sederhana seorang Nae dan diiringi komitmen 9 orang teman-teman Nae, mereka membuat Gerakan Go Mukena Bersih yang kini mulai dikenal khalayak ramai. Gerakan ini bertujuan untuk mengumpulkan donasi-donasi, baik dalam bentuk mukena maupun dana, yang nantinya akan dibelanjakan mukena-mukena dan disumbangkan ke berbagai mushola dan masjid yang membutuhkan.

Eksistensi Gerakan Go Mukena Bersih menginjak tahun keduanya di bulan penuh berkah tahun ini. Kegiatan yang pada ramadhan tahun lalu hanya ditargetkan di Kampung Pemulung Cipayung, Depok kini sasarannya meluas hingga ke wilayah Jabodetabek lainnya, termasuk juga mushola di stasiun-stasiun kereta, terminal, mall, dan tempat-tempat yang menjadi titik keramaian massa. Sumbangan mukena yang datang pun seperti tiada hentinya. Jika menengok laporan donasi Gerakan Go Mukena Bersih, per 11 Juli 2014 terkumpul sebanyak 145 buah mukena dan total sumbangan dana sebesar Rp 10.490.119. Wow! Angka yang sangat di luar dugaan.

“Awalnya, kami bersepuluh menyisihkan uang Rp 5000 setiap minggunya, lalu kami belikan mukena kalau uang sudah terkumpul. Kemudian kami berpikiran untuk mengajak teman-teman lainnya. Kami sebarkan info lewat grup BB dan Whatsapp. Alhamdulillah, kami nggak nyangka respon orang-orang begitu positif dengan kegiatan kami. Banyak yang menyumbang mukena-mukena baru, ada juga yang menyumbang mukena bekas layak pakai, dan beberapa donatur juga menyumbang dalam bentuk uang” tutur Nae dalam obrolan hangat kemarin sore.

 

Mukena-mukena yang dikumpulkan dari donatur kemudian dijahitkan logo “Go Mukena Bersih” sebelum disebarkan ke mushola-mushola.

20140717_170545
Logo Go Mukena Bersih yang dijahitkan pada mukena sebelum disumbangkan ke mushola

 

Beberapa waktu lalu, salah satu stasiun TV nasional juga menyiarkan liputan kegiatan ini

Kemarin sore, 17 Juli 2014, saya berkesempatan untuk bertemu langsung dengan Nae di rumahnya –yang penuh dengan mukena sumbangan pastinya- 😀

20140717_170645
saya (kiri) dan Nae (kanan)
20140717_170554
mukena-mukena baru yang disumbangkan oleh para donatur
20140717_170609
mukena bekas layak pakai
20140717_170813
kondisi ruang tengah rumah Nae yang dipenuhi sumbangan-sumbangan mukena

 

Nae benar-benar menginspirasi ramadhan saya kali ini. Keuletan dan kegigihannya bersama teman-temannya untuk berdakwah dan menebar kebaikan patut dicontoh. Bermula dari ide sederhana yang kemudian dia ajak orang lain untuk turut berpartisipasi dalam kebaikan. Ah iya, bukankah benar bahwa segala hal besar selalu diawali dari langkah kecil?

Semangat dan kebaikan itu menular dan bergulir bak bola salju, sedikit demi sedikit jika dilakukan terus menerus akan membuahkan kebermanfaatan. Jadi, jangan ragu untuk melakukan hal-hal kecil yang bernilai kebaikan. Jika sudah berniat melakukan suatu hal yang baik, kita harus segera melakukannya. Bisa jadi kebaikan tersebut hanya menjadi jatah kesempatan di masa lalu, sedangkan nanti ataupun esok mungkin hanyalah milik harapan dan ketidakpastian.

Bagi pembaca yang kebetulan berada di wilayah Jabodetabek dan kebetulan mengetahui di sekitar tempat tinggalnya masih ada mushola/langgar/masjid yang kekurangan mukena, bisa diinformasikan ke saya. Kebetulan Nae sedang memerlukan banyak volunteer untuk menyebarkan mukena-mukena hasil sumbangan donatur yang jumlahnya membludag dari hari ke hari (alhamdulillah….. :D). Atau barangkali ada yang tertarik untuk berpartisipasi menjadi donatur? Kami akan senang hati menerima bantuan dari pembaca sekalian yang ingin mendonasikan mukena baru, mukena bekas, atau berupa uang tunai (100% akan kami belikan mukena). Untuk keterangan lebih lanjut silakan buka tautan ini.

Mumpung masih dalam suasana Ramadhan, yuk beramal baik 🙂

Bersama Kita Sebarkan Kebaikan dengan #SemangatBerbagi. Ikuti acara puncak Smarfren #SemangatBerbagi tanggal 19 Juli 2014 di Cilandak Town Square Jakarta.

 

Acknowledgement:

Saya baru menulis ini selepas sahur pagi tadi, deadline hari ini nih…hehehe. Kebetulan saya baru mengenal Nae dua hari lalu melalui teman saya. Malam itu saya bertemu teman saya selepas taraweh di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Depok. Teman saya mengajak saya untuk menjadi volunteer kegiatan Go Mukena Bersih ini. Kemudian saya berkunjung ke rumah Nae kemarin sore untuk mengambil mukena, saudara-saudara… iya jadi foto-foto itu baru saya dapatkan kemarin sore dan tulisan ini fresh from oven banget! Yuk berpartisipasi dalam kegiatan ini.

ALHAMDULILLAAAH….. TULISAN INI BERHASIL MENJADI JUARA 1 DALAM KONTES SEMANGAT BERBAGI BLOG EMAK GAOEL BERSAMA SMARTFREN 🙂 🙂 🙂

Please follow and like me:

Kekonyolan di TOL

Ouuh….How silly I am!! Begitulah kalimat yang terlontar setiap kali saya mengingat pengalaman yang sangat memalukan ini.

Sore itu, berbekal peta sederhana coretan tangan Rince, saya dan Adila mengendarai sepeda motor menuju ruko Cibubur. Honestly, saya buta arah. Jangan mengajak saya berbicara utara-selatan. Nggak ngerti. Selain itu, daya spasial saya juga sangat buruk. Terbukti rekor saya nyasar sudah ratusan kali. Setiap datang ke tempat baru naik motor sendirian, bisa dipastikan 90% pasti nyasar dan 5%-nya jalan pulang melalui jalanan yang berbeda dengan jalan saat berangkat.

“Ah wanita, sudah biasa”, kira-kira begitulah komentar kebanyakan orang. Menurut buku “Why Men doesn’t Listen and Women can’t Read Maps” oleh Allan dan Barbara Pease, pada umumnya wanita mempunyai kemampuan ruang yang terbatas. Terkadang dia sanggup menggunakan peta ketika tujuannya ke arah Utara, tetapi jika ke Selatan, itu artinya bencana baginya (termasuk untuk saya yang nggak bisa baca peta).

Kembali lagi ke peta. Saya menikmati perjalanan sore itu dengan tetap was-was. Setelah melewati Jalan Jambore, saya ambil “posisi aman” –in my opinion– yaitu kiri jalan. Melewati Cibubur Junction ternyata ada persimpangan jalan di depan… Kemana saya harus melangkah?? Sudah bisa ditebak, saya yang amat takut mengambil posisi menyeberang ke kanan, dengan segala kelatahan saya, akhirnya saya tetap pada pendirian untuk lurus saja di kiri jalan. “Sudahlah gampang nanti cari puteran balik kalau salah jalan” batin saya.

Baru beberapa puluh meter setelah itu, saya dibuat terkejut dengan senyuman aneh beberapa orang di dalam mobil. Saya pelankan gas sambil meyakinkan diri kalau penampilan saya sudah oke (nggak seperti badut_red). Masih dalam keraguan yang nyata, saya bertanya-tanya dalam hati:
“Aduh, apa yang salah dengan saya? Kenapa orang-orang senyum-senyum ngga jelas begitu?

Saya dan Adila berdiskusi karena merasa janggal melihat tidak ada sepeda motor yang melewati jalan ini (selain kami).

Saya: “Dila, ini salah jalan nggak ya, coba liat petanya lagi”.

Adila: “Koq aneh ya Cha, nggak ada motor yang lewat sini.

Saya: “ Ini jalan tol bukan ya?” tanya saya sambil masih saja melaju.

Adila: “Jangan-jangan iya Cha, makanya orang-orang daritadi liatin kita”

Saya: “Terus gimana donk ini? Kita kemana? Aduh!” *frustasi* “Tadi kan ada polisi, kenapa dia gak ngejar kita sih” mulai menuduh Pak Polisi yang tak bersalah.

………………..

Adila: “Pantesan Cha, polisi di persimpangan tuh ngliatin kita sambil bengong”. (Dengan muka polosnya)

@#$%%^%$#**&&&*(

Jyaaaah, pantesan orang-orang pada senyam-senyum ngeledek begitu. Jadi motor saya masuk tol nih? maluuuuuu >.<.

Di akhir cerita, kami berdua berhenti setelah menyadari kepolosan kesalahan kami. Lalu Adila ke tengah jalan, dengan sigapnya Adila melambaikan kedua tangan memberhentikan kendaraan beroda empat yang akan melintas. Jadi, saya bisa putar balik dengan aman (untung helm saya ada kaca penutupnya, jadi malunya ketutupan deh).

 

Saat saya bercerita pada teman-teman tentang pengalaman memalukan ini, mereka bertanya:

Teman: “Emang kamu nggak liat kalau itu jalan tol?” pertanyaan yang seolah menguji kecerdasan saya.

Saya: “Kan nggak keliatan pintu tol-nya disitu, pintu tol agak jauhan”

Teman: “Sebelum masuk jalan itu, kamu nggak liat tanda-tanda jalan tol?

Saya: “errrrr….”, bingung, sejujurnya enggak liat.

Teman: “Kamu tahu rambu jalan tol itu kaya apa????” benar-benar menguji pengetahuan umum saya.

Saya: “ENGGAAAAAAKK……”

 

Diikutkan dalam “The Silly Moment Giveaway” Nunu el Fasa dan HM Zwan

 

Please follow and like me:

Sibling Rivalry: Kejutan Bagi si Nomor Satu

Merujuk pada Buku Just Tell Me What to Say yang ditulis oleh Betsy Brown Braun (yang sebenarnya saya sendiri belum pernah membacanya, hanya sekilas membaca tulisan milik Ika Kartika Amila dalam tugas tesis terjemahan beranotasi buku Just Tell Me What to Say):

For the first two years of yout firstborn’s life, she was the center of your world. Whatever she wanted, she pretty much got it, right then and there. No one else was there with needs to be met. Then second baby arrived. Wow, was Number One in for a surprise!

Sibling rivalry can begin the moment the second child comes home from the hospital. Sometimes you won’t see evidence of it until the younger child begins to encroach on the first child’s life, reaching, then crawling, and then walking into her space.

 Inti permasalahan saudara kandung adalah keinginan alami untuk memiliki orangtua secara utuh. Ada perasaaan “bersaing” meskipun mereka masih terlalu kecil untuk bisa mengerti. Hal ini disebabkan sampai usia 2 tahun, anak adalah pusat dunia yang merasa memiliki segalanya hingga muncullah si nomor dua yang membuat suprise bagi si nomor satu.

Saya adalah si nomor satu yang selalu merasa memenangkan hati banyak orang. Betapa tidak, sebagai satu-satunya cucu pertama perempuan di kedua keluarga besar, tampaknya kehadiran saya begitu memikat perhatian semua orang. Jadwal roadshow saya padat merayap, kalau boleh dikatakan sedikit berlebihan, “perebutan” hak milik itu benar adanya. Kali ini jadwal menginap di rumah simbah dari bapak, di lain waktu jadwal bermain di rumah simbah dari Ibu, dan di saat lainnya sudah di take in bude, bulik, dan om untuk keperluan tamasya, kondangan, silaturahmi, berkunjung ke rumah pacar, atau sekedar bermain dengan iming-iming dimasakkan ayam bacem kesukaan saya.

Masa kejayaan itu saya alami hingga si nomor dua muncul di usia saya yang belum genap 4 tahun. Secara alami, naluri si nomor satu mulai merasakan adanya sibling rivalry yang artinya adalah: periode emas untuk menjadi si nomor satu harus segera diakhiri secara perlahan. Mungkin alasan belum siap untuk menerima adanya pergeseran level perhatian, hal ini membuat si nomor satu suka berbuat kericuhan demi mempertahankan posisi yang sudah disandangnya selama hampir 4 tahun (he he he).

Mungkin orangtua saya saat itu belum terlalu memahami bahwa setiap anak menginginkan kepemilikan orangtua secara utuh tak terbagi. Tentu saja orangtua saya tidak sempat memikirkan hal itu karena kondisi si nomor dua memang sangat memerlukan perhatian ekstra disebabkan kelainan tulang kaki yang dialaminya sejak lahir. Saya melihat orangtua saya begitu fokus kesana kemari demi mengobati si nomor dua, baik menempuh jalan operasi maupun alternatif. Meskipun saya masih terlampau kecil untuk mengerti, saya bisa melihat gurat wajah lelah bapak dan ibu yang berjuang agar kelak anak keduanya bisa berjalan dan menapakkan kedua kakinya dengan sempurna. The time goes by and I realize that after years later…..

 

Fair doesn’t mean that things will work out the way you or your children want them to….. (Betsy Brown Braun)

Saya, si nomor satu ini, adalah tipikal anak yang “nggak mau dan nggak bisa dilarang”. Seingat saya, jarang sekali bapak dan ibu melarang saya melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Sewaktu kecil mungkin saya sering dilarang. Tapi setelah saya menunjukkan jiwa berontak di usia belasan tahun, mereka sudah jarang lagi menghalangi keinginan putrinya ini. Pernah sesekali dua lah, saya dilarang yaitu saat saya minta ijin mau bermain ke Dataran Tinggi Dieng bersama teman band dan Om Ipang’s family (pemilik studio band). Waktu itu, kami ingin liburan sambil merayakan kelulusan dan menyambut datangnya masa-masa berseragam abu-abu-putih. Kedua kalinya yang saya ingat, mereka melarang saya pergi ke Papua untuk bekerja di Free Port dengan alasan “Keadaan lagi ricuh di sana, nanti kamu bisa ketembak”. Alasan yang menurut saya agak lucu dan konyol tapi benar adanya sih. Selebihnya, bentuk larangan dan ketidaksetujuan yang ditunjukkan oleh orangtua lebih bersifat lunak dan berupa himbauan. Tapi pada akhirnya mereka akan berkata “Terserah kamu saja lah”.

 

Sebuah larangan muncul karena adanya dorongan untuk bisa berbuat adil tentunya. Namun, usaha untuk mewujudkan bahwa hidup itu adil, terkadang justru membuat seorang anak semakin tidak siap menerima kenyataan. Dulu saya sering bertanya-tanya di dalam hati:

“Kenapa ya, bapak sama ibu perhatian banget sama si adek? Perasaan dulu pas aku seusia dia, aku nggak diperlakukan sebegitunya. Kenapa ya koq berbeda?”

Saya jarang atau tidak pernah dimarahi karena pulang terlambat ke rumah atau karena bermain terlampau larut. Kalau saya mau berbuat sedikit nakal nih, bisa saja jam les tambahan yang 3x dalam seminggu itu saya pakai untuk membolos dan bermain sesuka hati. Toh mau pulang malam pun, bapak dan ibu hanya tahu bahwa saya ini ada les tambahan, titik. Tidak pernah mereka menelpon untuk bertanya “Koq belum pulang? Lagi dimana?”

Tapi kondisi ini sangat jauh berbeda dengan yang dialami oleh si nomor dua, adik saya. Kalau sudah jamnya pulang sekolah tapi dia belum nongol di rumah, ibu akan panik dan mulai bawel bertanya ke setiap orang “Kemana ya dia? Koq jam segini belum pulang?” lalu ibu pasti akan segera menelpon adik saya “Lagi dimana? Koq belum pulang?”

Ketika saya dan adik saya, Hilda, sudah mulai bisa akur dan saling bercerita selayaknya kakak dan adik, Hilda pernah mengutarakan ke-iriannya pada saya.

“Enak ya, jadi Mba Put. Kalau mau pergi-pergi main gampang. Kalau aku sih pasti dilarang: ‘nggak boleh kesini, nggak boleh kesana’. Masa aku liburan suruh di rumah aja, nggak boleh kemana-mana. Kapan aku bisa mandiri kalau kaya gini?” selorohnya.

Wowww, saya takjub! Kalau boleh dibilang iri, saya iri banget sama Hilda yang selalu ditelpon setiap pulang telat, selalu dicari-cari kalau belum setor muka di depan ibu. Ketika saya ungkapkan hal itu, Hilda menjawab:

Iiih nggak enak tau Mbaaa, masa lagi main ditelponin suruh cepet pulang. Enak tuh jadi Mba Put, mau main kemanapun dan kapanpun selalu dibolehin. Huh”….

Ah benarkah demikian?? Sepertinya memang benar adanya. Hal iseng yang pernah saya lakukan adalah saat sedang liburan kuliah di rumah, saya pergi main sedari pagi sampai menjelang jam 11 malam. Tanpa telpon, tanpa sms, tanpa ada yang menanyakan apapun! Saya sengaja melakukan itu, saya ingin merasakan “dimarahi karena anak gadis pulangnya malam banget” (LOL).

Saat pulang, saya percaya diri untuk mendapat serangan pertanyaan dari bapak dan Ibu.

“Tok, tok”... suara ketuk pintu. Bapak membukakan pintu. ‘siap-siap ditanya nih’ batin saya.

“Oh, sudah pulang”, kata bapak singkat. ‘Lalu?’ batin saya lagi

…………………………………

Ah gagal. Saya ke dapur. Ibu sedang masak-masak sesuatu. Saya mengucap salam dan kembali membatin ‘siap-siap nih….’

“Pulang sama siapa?” tanya Ibu. Kalau pertanyaan ini, jawabannya cukup gampang. Sebut saja satu nama teman laki-laki semacam “Adit” atau “Hammam”, pasti beres. (Ibu akan merasa aman kalau anaknya ini pulang dengan teman laki-laki ketimbang pulang sendiri atau dengan teman perempuan. Aneh ndak? 😛 )

…………………..

Gagal juga’, batin saya. Saya to the point saja pura-pura mengeluh ke Ibu.

“Ibu nggak tanya, aku darimana? Seharian pergi kemana aja? Koq Cuma nanya pulang sama siapa sih? Masa anak gadisnya pergi seharian dari pagi terus pulang malem nggak dimarahin????” tanya saya borongan 😛

Ibu agak kaget, menghentikan kegiatan goreng-gorengnya sejenak, menoleh pada saya sambil tertawa: “Jadi kamu minta dimarahin…??? He he he”….

Aduuuh ini, krik-krik banget deh ya…. -__-

Tanpa saya sadari, sifat adil itu sangat relatif sesuai kebutuhan .

Setelah lebih besar, pelan-pelan ia akan bisa mengerti dan memahami, ia telah diperlakukan secara adil bukan karena memperoleh sesuatu yang sama persis seperti orang lain, tetapi karena ia telah memperoleh apa yang ia perlukan.

Setiap anak itu unik dan orangtua kita tentunya lebih mengenal anak-anaknya sendiri, bagaimana perangainya, bagaimana cara menghadapinya, dan apa yang terbaik untuk mereka. Sikap “membedakan dan kurang adil” sepertinya hanya sebuah judgment bagi saya.

Fair doesn’t mean that things will work out the way you or your children want them to…..

 

Please follow and like me:

NKRI Harga Mati, NKRI Tempat Kembali

Katanya, Kami Bagian NKRI

Juli, 2013 beberapa hari menjelang Ramadhan

“Di Jakarta mereka bangun gedung-gedung pencakar langit, rencana adakan bus-bus bertingkat, kami di sini tidak minta apa-apa…. kami tidak menuntut kemewahan agar menjadi seperti saudara-saudara kami di Jakarta! Tapi minimal beri kami sesuatu yang layak!”

“…. Tolong sampaikan ke para pimpinan di pusat tentang kondisi kami di sini. Tolong beri yang layak… Indonesia itu bukan hanya Jakarta!”

DEG! Saya terpukul mendengar pernyataan menggebu-gebu dari seorang pejabat pemerintah daerah di sebuah kabupaten di Kepulauan Rote, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Hari itu saya baru tiba di Rote setelah menempuh perjalanan laut selama kurang dari dua jam dari Kota Kupang.

Saat itu, baru kali pertama saya mengunjungi salah satu pulau terluar Indonesia dan kali pertama pula saya melakukan perjalanan tanpa seorang teman. Kedatangan saya disambut oleh seorang pimpinan dinas kesehatan dan seorang direktur RSUD. Beban berat terasa karena kehadiran saya membawa beberapa nama instansi besar, ya tentu saja berat karena saya tak menyangka harapan mereka kepada saya juga sangat besar: “sebuah keadilan untuk daerah –yang katanya– masih bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

“….Katanya sih kami bagian dari NKRI tapi tidak ada kami diperhatikan! Sudah 11 tahun, iya 11 tahun sudah kami bertahan dengan kondisi seperti ini! Jadi, wajar saja kan kalau suatu saat nanti kami minta merdeka dari Indonesia. Kalau boleh memilih, kami mending bergabung dengan Australi saja, mereka memberi banyak sekali bantuan dan perhatian penuh pada kami”

Kali ini pernyataan beliau benar-benar membuat hati saya remuk redam, mata saya mulai panas. Bapak itu berhasil menularkan emosinya pada saya, bisa jadi itu adalah ungkapan yang sudah terpendam selama belasan tahun dan menurut beliau mungkin sayalah orang yang tepat untuk ditumpahi segala unek-unek yang mengganjal di hatinya. Ah, ingin rasanya saya mengutuk, tapi pada siapa? Ya Tuhan, mereka di sini bertahan hidup dengan segala keterbatasan….

Malam harinya, saya tidak bisa tidur. Terpikir perbincangan ngalor-ngidul siang tadi. Saya percaya, pemerintah bukan tidak mempedulikan mereka. Pasti pemerintah (di balik segala kekurangannya, saya rasa…) sudah bekerja keras dan berusaha melakukan yang terbaik untuk negeri ini. Hanya saja, yang namanya pembangunan baik itu infrastruktur, ekonomi, mental, maupun SDM di NTT tidak mudah dibandingkan pulau-pulau lainnya lantaran medan yang cukup berat.

Saya ingin mengajak pembaca membayangkan suatu daerah kepulauan terpencil dengan kondisi tidak punya dokter spesialis kandungan dan minim fasilitas medis. Jika ada ibu hamil tua yang sedang sekarat memerlukan pertolongan bersalin, mereka harus merujuk ke Kota Kupang yang harus ditempuh dengan perjalanan laut selama kurang dari 2 jam, itu pun tergantung dari kondisi cuaca. Jika cuaca buruk bagaimana?

“Ya tinggal berdoa saja semoga ibu tidak mati hari ini, dan itulah yang pernah terjadi”

Beberapa hari kemudian setelah selesai urusan dan menyempatkan diri berkeliling ke pantai-pantai cantik di Kepulauan Rote, saya mengepak barang untuk kembali ke Kota Kupang. Ya perjalanan saya dijadwalkan untuk lanjut ke Pulau Alor. Namun, di luar dugaan, sepertinya Tuhan ingin menguji saya hari itu. Dia kirimkan angin barat sehingga perjalanan saya tertahan hampir 2 hari karena tidak ada kapal feri, boat, maupun pesawat yang beroperasi.

“Jadi begini rasanya,terisolasi dalam kehidupan di pulau terluar yang moda transportasi untuk menuju kotanya sangat ditentukan oleh cuaca. Di sini sepi, tidak ada hiburan: bioskop, mall, salon dan spa, kuliner, sport center,book store … betapa jauh beruntungnya kehidupan saya. Tapi di sinilah sisi lain wajah Ibu Pertiwi yang tak semua orang bisa mengerti bahwa saudara setanah airnya masih memerlukan sesuatu yang layak di saat mereka di sana sudah hidup dalam ‘kemewahan’….” saya membatin syukur dalam hati.

 

NKRI seharusnya menjadi harga mati!

Mengutip cerita kehidupan mantan orang nomor satu di Indonesia, Prof. Habibie dan Ibu Ainun (alm), yang dulu sebenarnya sudah terjamin dengan kemapanan pekerjaan dan kehidupan di Jerman tapi mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Dalam salah satu dialognya, Ibu Ainun mengingatkan suaminya akan sebuah janji untuk pulang dan mengabdi pada negeri.

Tidak berbeda jauh dengan Prof. Habibie dan Ibu Ainun (alm), atasan saya yang juga sepasang suami-istri profesor pun juga akhirnya kembali ke tanah air setelah 5 tahun tinggal di Negeri Paman Sam demi menyelesaikan pendidikan di Johns Hopskin University. “Amerika bukan tempat untuk tinggal, kami pulang untuk mengabdi” ungkap beliau ketika saya menanyakan kenapa mereka tidak tinggal saja di US.

Satu lagi cerita tentang penulis “9 Summers 10 Autums, dari Kota Apel ke Negeri Apel”: Iwan Ariawan. Lulusan Statistika IPB yang berasal dari Kota Batu, Malang, yang penuh dengan perjuangan hidup untuk dapat berkuliah dan menyelesaikan pendidikan, kemudian bisa mendapat pekerjaan di Jakarta dan akhirnya takdir membawanya untuk bekerja di New York. Setelah 10 tahun bermukim di negara adidaya itu akhirnya beliau pulang ke Indonesia tercinta.

Saya terkadang berpikir sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran mereka-mereka saat itu. Jauh-jauh berhijrah ke luar negeri, memiliki pekerjaan dan kehidupan yang (menurut sebagian orang) cukup menjanjikan, tetapi mereka memutuskan untuk pulang dengan alasan “Mengabdi pada Pertiwi”. Sementara, sebagian orang ada yang berbodong-bondong berusaha untuk meninggalkan Indonesia. “Bosen gak si lo sama Indonesia? Semrawut gini, gue mau cari kerjaan dan tinggal di luar” terang salah seorang teman kursus IELTS preparation di IALF, dua tahun lalu. Bahkan beberapa bulan lalu teman dekat saya sudah merencanakan untuk mendapatkan green card dan membawa keluarganya untuk menjadi WNA. Sedih… 🙁

Mungkinkah mereka yang memutuskan untuk kembali ke Indonesia karena melihat sebuah keoptimisan untuk Indonesia yang lebih baik? Apapun itu, satu hal yang bisa saya simpulkan:

Pada setiap orang yang dalam jiwanya terpatri ‘NKRI Harga Mati’, sejauh apapun mereka pergi, pada akhirnya Indonesia-lah tempat kembali.

 

Think Globally, Act Locally

Indonesia…

Cerita saya saat di Rote hanyalah secuil dari gambaran Indonesia. Saat kita hidup serba kecukupan, akses informasi, transportasi, air bersih, entertainment, dan fasilitas lainnya tersedia dengan mudahnya, janganlah terlalu banyak menuntut karena masih ada saudara kita di bagian Indonesia lainnya yang bahkan masih berjuang untuk bisa menuntut sebuah kelayakan. Bersyukurlah dengan kehidupan yang kita miliki dan bergeraklah!

Banyak masalah di negeri ini yang perlu dituntaskan, banyak PR yang masih harus dikerjakan. Kata Pak Anies Baswedan dalam slogan Indonesia Mengajar-nya “Jangan Mengutuk Kegelapan, Nyalakan Lilin”. Siapapun kita, apapun profesi kita, di manapun kita berada, cobalah berbuat yang terbaik untuk Indonesia.

Apa yang kita lakukan mungkin belum sebombastis untuk menjadikan perubahan besar pada bangsa ini, tapi percayalah negeri ini memerlukan orang-orang yang berkomitmen dan berintegritas. Dalam pidatonya, Bung Karno pernah berteriak lantang: “Beri kami 10 pemuda, kami akan mengguncang dunia!”. Bukankah hal besar yang terjadi di dunia ini sesungguhnya bermula dari hal-hal kecil yang yang disertai dengan komitmen dan keoptimisan?

Sebuah prinsip bahwa NKRI adalah harga mati bagi jiwa-jiwa yang merindukan sebuah perubahan akan membawa kita kembali ke pangkuan ibu pertiwi sejauh apapun kaki berjejak di berbagai negeri.

 

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Aku dan Indonesia

Saya Dan Indonesia

Please follow and like me: