Heart of Spora: Menjadi “Spora” Kebaikan

Desa Grenggeng telah menjadi pemasok terbesar produk anyaman pandan setengah jadi (complong) di Indonesia sejak ratusan tahun silam. Data menunjukkan bahwa 60% dari 2.046 Kepala Keluarga di Desa Grenggeng bermatapencaharian petani dan penganyam pandan. Namun, potensi tersebut belum mampu menuntaskan kemiskinan di Desa Grenggeng. Hal ini disebabkan karena pengepul oportunis yang berperan menyalurkan hasil complong ke pembeli besar telah melakukan praktik perdagangan yang tidak adil. Pengepul memberikan sejumlah pinjaman kepada pada pengrajin anyaman pandan dan pinjaman tersebut harus dikembalikan dalam bentuk complong dengan harga di bawah harga pasar. Sistem perdagangan ini sangat merugikan para pengrajin di Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Melalui “Heart of Spora” (HoS), putra daerah pun akhirnya tergerak untuk membantu membangkitkan kondisi perekonomian masyarakat di Desa Grenggeng. Mereka percaya bahwa setiap desa di Indonesia memiliki potensi untuk membuat masyarakatnya mandiri secara finansial hanya dengan sedikit uluran tangan. HoS hadir sebagai social enterprise yang bergerak di bidang kerajinan lokal. Founder dan sekaligus CEO pertama Heart of Spora, Tiara Deysa Rianti, adalah sosok energik yang memiliki passion dalam bidang social enterprise. Beruntung sekali saya bisa mengenal dan melakukan sedikit wawancara dengan Tiara untuk dijadikan bahan reportase.

 

 

Berkenalan dengan Heart of Spora (HoS)

HoS didirikan pada 21 Juli 2015 oleh sekumpulan putra daerah yang peduli terhadap nasib para pengrajin lokal. Nama “Heart of Spora” sendiri terinspirasi dari filosofi spora tanaman yang dapat memberikan harapan baru bagi lingkungan yang tandus. Harapan ini berasal dari ketulusan hati yang dapat menebarkan manfaat bagi para pemuda dan pengrajin lokal agar lebih berdaya.

Umum diketahui, pengrajin lokal yang hidup di bawah garis kemiskinan dan lapangan pekerjaan yang terbatas di desa menjadi sebab terjadinya arus urbanisasi. Banyak pemuda pergi meninggalkan kampung halamannya demi mendapat pekerjaan yang menjanjikan. Hal inilah yang menjadi cikal bakal visi dan misi dibentuknya HoS.

Source: Fan Page Heart of Spora

Visi yang diusung oleh HoS adalah Qualified product for better quality of life, sedangkan misi yang hendak dijalankan antara lain (1) Menggerakkan pemuda, terutama para pemuda daerah untuk turut mengembangkan daerahnya dengan memaksimalkan kearifan lokalnya, (2) Membuat masyarakat mandiri secara finansial serta mudahnya akses pendidikan dan kesehatan, dan (3) Mengkampanyekan 4 people power untuk berkontribusi bagi siapapun, yaitu: Donation, Volunteering, Sharing, dan Shop with us. Misi HoS tersebut nantinya akan dituangkan melalui koperasi dan yayasan.

 

Desa Grenggeng, Salah Satu Mitra Binaan HoS

Seperti sudah disinggung di awal tadi bahwa potensi besar yang dimiliki oleh Desa Grenggeng dengan produksi anyaman pandannya belum mampu menyelesaikan permasalahan ekonomi warga Desa Grenggeng.

Melalui banyak kunjungan dan studi lapangan dari tim kami, ternyata masalah yang timbul disebabkan oleh ketidakadilan perdagangan oleh para tengkulak dan terbatasnya akses pasar dan permodalan,” kata Tiara, Founder HoS.

Harapan yang ingin dicapai oleh HoS di Desa Grenggeng adalah terwujudnya kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat Desa Grenggeng. Langkah yang dilakukan yaitu melalui sistem perdagangan yang adil antara produsen dan konsumen dan menyediakan lapangan pekerjaan/ usaha baru bagi masyarakat.

Produk-produk Anyaman Pandan Desa Grenggeng (Source: Fan Page Heart of Spora)

 

HoS mengawali kegiatannya berkolaborasi karya dengan KUP Margo Rahayu Grenggeng pada Bulan April 2015, kemudian dilanjutkan dengan pembentukan tim internal dan sosialisasi program pemberdayaan HoS di Desa Grenggeng. HoS juga berkolaborasi dengan komunitas di Kabupaten Kebumen. Selain itu, pelatihan desain produk juga diberikan oleh tim HoS kepada warga Desa Grenggeng.

Tidak berhenti pada pemberdayaan masyarakat saja, berbagai kegiatan semacam expo baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional diikuti oleh HoS sepanjang tahun 2015-2016, seperti Bootcamp SE DBS Foundation & UKM Center UI;  Pesta Kriya 2015 Kebumen Expo; Pameran INACRAFT JCC; dan Pameran Gramedia. Pada Bulan Juli 2016, HoS terpilih sebagai 15 Social Enterprise Terbaik UnLtd Indonesia dan selanjutnya mendapatkan pendampingan dan mentoring bersama UnLtd Indonesia, uji pasar, dan kontrol kualitas.

 

Sosialisasi Kegiatan HoS

Target penerima manfaat dari pembinaan oleh HoS yaitu sebanyak 15.000 pengrajin anyaman pandan di Kabupaten Kebumen dan kaum muda lokal pencari kerja. Target sasaran lainnya yaitu masyarakat Kebumen, Pemda Kebumen, pemerhati sosial budaya, kaum muda yang tertarik dengan kegiatan sosial, budaya, industri kreatif, dan kearifan lokal.

Sosialisasi yang dilakukan kepada kelompok-kelompok binaan dilakukan secara langsung melalui tatap muka. Sementara itu, sosialisasi ke masyarakat umum dikenalkan melalui media online maupun offline, pameran-pameran, kompetisi, dan forum komunitas. Sosialisasi ke pemerintah dilakukan melalui advokasi Pemda dan SKPD terkait.

 

Peran Penting Media Digital dan Internet

Di era modern seperti sekarang ini, internet memiliki peranan penting dalam berbagai aspek. Hampir setiap harinya kebutuhan penggunaan internet tak pernah luput dari kehidupan kita. Begitu pun dengan HoS, untuk mendukung kegiatan-kegiatannya, internet berperan dalam membantu  menyebarluaskan campaign dan mengkomunikasikan ide dan program Hos pada masyarakat luas.

“(Peran media digital) cukup penting untuk membangun branding dan mengkomunikasikan program-program HoS kepada publik, terutama program-program campaign,” tutur Tiara.

Saat ini, dengan kecanggihan teknologi internet 4G LTE, berselancar di dunia maya semakin cepat sehingga lebih memudahkan dan mendukung pekerjaan yang butuh media internet. Melalui teknologi tersebut, kerajinan anyaman pandan Desa Grenggeng dapat semakin dikenal luas oleh masyarakat, bahkan tidak menutup kemungkinan nantinya kerajinan anyaman pandan bisa mendunia. Tentu saja ini tak lepas dari peran tim kreatif HoS yang tidak pernah kehabisan ide untuk share segala kegiatan, produk, dan program campaign melalui berbagai media sosial.

Cita-cita HoS

Masih banyak cita-cita yang ingin dicapai oleh HoS. Belum lama ini, HoS membentuk koperasi untuk bahan baku. Ke depannya, HoS ingin memasuki produksi produk jadi yang lebih inovatif dan menyiapkan sistem dan SDM untuk  wisata edukasi anyaman pandan. Namun, yang paling utama, HoS ingin meningkatkan kesejahteraan pemuda dan pengrajin. Langkah yang akan ditempuh yakni melalui yayasan dan koperasi dengan 3 tahapan: 1) Melatih keterampilan dan etika kerja, 2) Membuka akses dan jaringan untuk pemasaran dan distribusi. 3) Memberi akses permodalan untuk menumbuhkan lapangan usaha baru.

 

Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar di Jakarta. Indonesia baru akan bercahaya karena lilin-lilin di desa. –Mohammad Hatta

Belum genap dua tahun usia HoS tetapi kebermanfaatannya sudah dapat dirasakan oleh para mitra binaan pada khususnya. Salut untuk tim Heart of Spora yang selalu bersemangat menebar kebermanfaatan kepada masyarakat luas. Tidak banyak loh, pemuda-pemudi berprestasi dari almamater ternama yang mau “Mbalik Deso, Mbangun Deso” (Pulang Kampung, Membangun Kampung). Tidak banyak, tetapi pasti ada, dan Heart of Spora adalah buktinya.

Bagi yang ingin mengetahui tentang HoS lebih lanjut, bisa langsung kunjungi akun medosnya ya:

Fan Page FB: Heart of SPORA

Website: www.heartofspora.co.id

IG: @heartofspora

Source: Fan Page Heart of Spora

 

Please follow and like me:

Secangkir Teh dalam Pernikahan

Menikmati suguhan teh manis hangat sudah menjadi tradisi masyarakat di Indonesia. Fenomena ini pun akhirnya mendarah-daging di keluarga saya. Entah apakah ini suatu tradisi, tetapi membuatkan secangkir teh untuk suami di pagi hari laiknya suatu kewajiban.

Pernikahan saya baru genap setahun. Saya bukan tipe yang rajin menyuguhkan teh di pagi hari, tidak seperti ibu saya atau ibu-ibu kebanyakan di daerah saya, Jawa Tengah. Gimana mau menyuguhkan teh kalau saya saja sering bangun lebih siang daripada suami, bahkan seringkali saya masih terlelap saat suami berpamitan pergi ke kantor. Oops! Untungnya, Mas Ry nggak pernah protes. Walaupun jarang membuat teh pagi-pagi, tetapi wajib banget bikin teh panas menjelang petang untuk menyambut suami pulang. Stok teh memang nggak boleh kosong di rumah saya. Continue reading “Secangkir Teh dalam Pernikahan”

Please follow and like me:

Arisan Backlinks: Tya Napitupulu dan Kekerasan pada Perempuan

Teman Arisan Blogger yang akan saya bahas adalah seorang mahasiswa UI (wah kita satu almamater donk yah) bernama Chintya, tapi dia lebih dikenal dengan nama Tya Napitupulu. Tya, begitu sapaan akrabnya, mengambil Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Sejarah (FIB UI). Meskipun berstatus mahasiswa, Tya mengaku lebih aktif berkegiatan dengan komunitas di luar kampus. Apalagi setelah Tya menyadari bahwa passionnya bukan di program studi yang dia ambil saat ini.

Tya adalah seorang relawan di Yayasan Lentera Sintas Indonesia. Lentera ini awalnya adalah komunitas bagi penyintas kekerasan seksual, tapi kemudian berkembang menjadi sebuah yayasan. Selain terlibat aktif di Lentera, Tya juga aktif menjadi Sahabat Jurnal Perempuan. Kegiatan-kegiatan di luar kampus tersebut melengkapi hari-hari Tya selain berkuliah di kampus kuning. Continue reading “Arisan Backlinks: Tya Napitupulu dan Kekerasan pada Perempuan”

Please follow and like me:

Arisan Backlinks: Enry Mazni- Blogger yang Hobi Traveling ala Backpaker

“Backpaker” adalah satu kata yang langsung terlintas ketika saya harus menceritakan tentang teman Blogger saya kali ini. Nama lengkapnya Enry Mazni, dia lahir dan besar di Tj Batu Kepri 33 tahun yang lalu. Enry melanjutkan SMA di kota Bukittinggi kemudian melanjutkan D3 jurusan jurusan Rekam Medis dan Informasi Kesehatan di kota Padang. Saat ini, Enry yang seorang abdi negara di salah satu instansi kesehatan milik pemerintah ini sedang melanjutkan kuliah D4 jurusan Manajemen Informasi Kesehatan di Universitas Esa Unggul.

Hobi Enry adalah traveling. Jika kita intip blognya di www.enrymazni.com, kita akan disuguhkan dengan postingan-postingannya tentang pengalaman traveling, baik di dalam maupun di luar negeri. Jujur saja saya envy sekali begitu buka blognya, maklum lah saya seorang mamah muda yang lagi butuh piknik banget. Baca cerita jalan-jalan Enry semakin bikin saya ingin menjamah tempat-tempat wisata yang dia review.

Menurut Enry, hobi jalan-jalannya muncul saat pertama kali mencoba trip ke Singapore tahun 2012 dan sampai saat ini hobi traveling itu masih berlanjut apalagi setelah bergabung dengan komunitas backpacker. Dari yang saya baca di blognya, untuk menghemat budget biasanya Enry transit di KLIA2, salah satu bandara di Malaysia, sebelum dia melanjutkan perjalanannya ke negara-negara tujuan. Rekam jejak Enry di dunia traveling sudah menjamah beberapa negara dan kota, seperti Malaysia (Kuala Lumpur, Johor Bahru, Malaka, Kuala Terengganu, Redang Island), Singapore, Thailand (Bangkok, Hat Yai, Phuket, Krabi), Vietnam (Ho Chi Minh City, Mui Ne), Cambodia (Siem Reap, Phnom Penh), Hong Kong, Macau, dan Manila. Untuk misi backpacker selanjutnya, tujuan Enry adalah Nepal/Khasmir karena di sana dia ingin melihat salju.

Dari blog Enry, saya mendapat informasi bahwa ada komunitas CouchSurfing. Setelah saya googling, komunitas ini adalah kumpulan para traveler dari seluruh penjuru dunia yang akan saling membantu menyediakan akomodasi, memberikan informasi, dan juga membangun network satu sama lain. Seru banget kalau bisa join menjadi member CouchSurfing ya karena kalau kita berkunjung ke suatu negara, kita akan disambut dan bisa meet up dengan sesama member komunitas tersebut. Keuntungan lainnya adalah CouchSurfing sangat membantu dalam menghemat budget penginapan saat bepergian ala backpaker.

Pengalaman-pengalaman traveling Enry tersebut dituliskan di blognya (selain juga wawasan berbau rekam medis). Enry mengawali terjun di dunia blog pada tahun 2009, alasannya karena dia ingin membagikan artikel- artikel tentang dunia profesi rekam medis. Namun, lambat laun seiring dengan hobi traveling Enry, blog tersebut pun akhirnya membahas cerita perjalanan backpaker-nya. Enry mengaku masih banyak yang belum ditulis karena kesibukannya nge-trip sambung menyambung.

Saya sendiri salut dengan Enry meskipun dia mengaku bahwa belum berprestasi di dunia blog, belum terlalu mengenal SEO, tetapi semangatnya untuk menulis itu patut ditiru. Lihat saja blognya, untuk materi terkait rekam medis saja sudah banyak sekali dia tulis. Nah tinggal kita tunggu saja nih cerita traveling Enry di belahan dunia lainnya agar segera dituliskan ya.

Bagi yang ingin berkenalan lebih jauh dengan Enry, berdiskusi tentang dunia rekam medis dan traveling, atau mungkin mau tau tentang cerita serunya selama nge-trip, silakan kontak langsung ya.

 

FB : Enry Mazni

FP : enrymaznidotcom

IG : Enry Mazni

Email: enriedunant@yahoo.co.id

 

Please follow and like me:

Arisan Backlinks: Traveling bersama Nining Wahyoe

Ngakunya sebagai blogger abal-abal, tapi jangan salah sangka dulu. Yuk mari lihat blognya di sini yang mostly mengupas cerita jalan-jalannya Mbak Nining yang bikin mupeng liburan syalalala. Sekilas liat foto-foto dan judul tulisannya, rasanya kepingin banget bisa jalan-jalan ke tempat itu. Kali ini teman blogger yang akan saya bahas adalah seorang bangsawan (bangsa karyawan_red) yang cuma punya waktu untuk menulis pengalaman travelingnya di saat weekend.

Nama lengkapnya Nining Wahyuningsih tapi dia lebih suka menyingkatnya dengan Nining Wahyoe. Wanita berdarah Sunda ini lahir dan besar di Banten. Mba Nining mengenyam pendidikan S1 dan S2 di Universitas Gunadarma Depok. Karena terlanjur cinta sama Depok akhirnya sampai saat ini dia berdomisili di Depok. Persis kaya saya nih. Lanjut kuliah di Depok dan hingga sekarang berkeluarga pun memilih domisili di Depok.

Ibu dari dua orang anak Cantika Nuri Syabani (8th) dan Maharaz Alif Dya’ban (5th) ini mengaku suka traveling ala backpacker. Mba Nining lebih sering bepergian hanya berdua dengan suami karena menurutnya kalau kiddos dibawa traveling ala backpaker itu kasihan kecuali kalau tujuan jalannya ke lokasi yang kids friendly. Jadi kalau Mba Nining dan suami lagi jalan-jalan berdua, anak-anaknya dititip ke omanya. Waah asyik banget bisa pacaran sama suami tanpa gangguan bocah-bocah ya. Hehehe.

Selain hobi traveling, Mba Nining juga menyukai photography terutama food photography. Kenapa food photography? Alasannya karena Mba Nining suka makan hehehe. Dari hobi photography0nya ini, Mba Nining bergabung dengan komunitas pecinta fotografi instagram yaitu uploadkompakan.

Di dunia blogging, Mba Nining mulai ngeblog dari tahun 2012. Blognya dimanfaatkan seperti diary untuk menyimpan catatan-catatan kehidupannya agar suatu saat bisa dibaca kembali. Kalau soal SEO dan printilan-printilan teknis terkait blog, kayaknya Mba Nining tuh sebelas-dua belas sama saya alias masih dalam tahap belajar. Untuk itulah dulu kami dipertemukan di workshop ID BlogHolic di Dilo, Bogor karena kami memang ingin belajar lebih jauh soal per-bloggingan.

Dari hasil mengintip blog ceritaweekend, saya jadi dapet informasi nih soal kolam renang Batoe 54 yang ada di Jagakarsa. Ah jadi pengen coba berenang di sana. Selama ini saya kalau berenang di Matoa, boleh lah sekali-kali cobain kolam renang yang pernah direview sama Mba Nining ini ya.

Oh ya, blog mba Nining ini tampilannya simpel dan enak dilihat. Kalau boleh kasih sedikit masukan mungkin penggunaan tanda baca dan kaidah EBI dalam tulisannya perlu lebih diperhatikan agar pembaca bisa lebih mudah dan jelas membacanya. Saya mau kasih komentar di blog Mba Nining tapi nggak bisa, mungkin perlu diatur settingannya agar pembaca bisa beri komentar di postingan Mba Nining. Untuk bisa berkenalan lebih lanjut dengan Mba Nining, silakan kontak ke:

  • Blog:http://ceritaweekend.blogspot.co.id/
  • Facebook: https://www.facebook.com/nining.wahyuningsih.908 (Nining Wahyuningsih).
  • Twitter/ Instagram: @nining_wahyoe.

 

Please follow and like me:

Pengalaman Melahirkan dengan “Gentle Birth” dan Minim Trauma

Sabtu, 1 Oktober 2016 usia kandungan saya tepat 38 minggu 5 hari. Pagi itu tidak ada yang berbeda dari sebelumnya. Weekend adalah waktunya saya dan suami bisa menghabiskan waktu bersama. Rutinitas weekend kami memang agak berbeda selama saya hamil. Sabtu adalah waktunya kontrol ke dokter untuk antenatal care (ANC) dan Minggu pagi adalah waktunya saya untuk mengikuti kelas prenatal yoga di dekat danau Kampus UI. Pagi itu kami sudah bersiap untuk jalan-jalan, kebetulan saya lagi pengen banget makan lontong sayur. Namun, tiba-tiba segala rencana berubah arah hari itu.

Pukul 06.30

Saya merasakan nyeri di perut bagian bawah. Hal ini wajar terjadi karena di usia kehamilan trimester ketiga, kontraksi palsu yang ditandai dengan perut terasa kencang di bagian bawah seringkali saya alami. Biasanya sih hal ini terjadi kalau saya lagi kecapean.

Pukul 07.00

Ketika saya cek, keluar lendir dan darah segar dari vagina dan volumenya agak banyak. Agak banyak di sini maksudnya seperti ketika saya sedang menstruasi hari ke-2-4 saat darah yang mengalir sedang banyak-banyaknya. Nyeri di perut datang semakin intens. Kalau boleh dibilang, nyerinya itu seperti nyeri haid. FYI, bagi sebagian wanita, nyeri haid adalah bukan hal yang main-main karena rasanya aduhaiii… saya sendiri kalau lagi haid sering guling-guling di kasur, meringkuk, dan nggak bisa bangun. Hehehe. Namun, nyerinya kali itu masih bisa saya atasi.

Saya telepon ibu saya di kampung untuk mengabari kondisi saya pagi ini. Saya telepon dengan nada ceria seperti biasanya, sesekali meringis nahan nyeri sih. Ibu orangnya agak panikan jadi kalau saya mengabarinya pakai nada panik, beliau pasti ikut panik. Hehe. Benar saja, saya yang mengabari dengan suara sebiasa mungkin ternyata membuat ibu heboh. “Cepetan ke rumah sakit loh soalnya ada orang yang tipe melahirkannya emang cepet, jangan sampai kebrojolan di rumah!”. Wkwkwkwkwk…

Saya dan suami bersiap ke rumah sakit. Satu tas besar yang berisi kebutuhan newborn dan ibu pascamelahirkan sudah saya siapkan jauh-jauh hari sehingga hari itu kami tidak kelabakan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Saya orangnya yang agak santai (tapi serius) pagi itu masih sempat saja mengeringkan rambut pakai hair dryer sembari menunggu driver taksi datang menjemput.

Saya cek waktu kontraksinya muncul sudah teratur per 5 menit sekali. Wow! Padahal sependek yang saya tahu biasanya kontraksi menjelang persalinan itu diawali dengan kontraksi palsu yang sering muncul dan hilang. Biasanya juga terjadi beberapa jam sekali hingga pada akhirnya teratur terjadi per 10 menit sekali, dan seterusnya.

Ketika driver taksi datang, saya mengatur napas dan menghitung waktu agar saya bisa berjalan dengan baik keluar rumah menuju ke dalam taksi. Rasanya ya masih sama, nyut-nyut seperti nyeri haid tapi munculnya sudah teratur tiap 5 menit sekali. Jadi saat nyut-nyut itu hilang, saya segera berjalan ke arah taksi. “Bisa jalan nggak?” tanya ibu kontrakan yang rumahnya masih satu komplek dengan rumah kami ketika melihat saya keluar rumah. “Hehehe, jangankan jalan Bu, joget aja saya masih bisa,” seloroh saya sambil nyengir. 😛

Pukul 08.30

Saya tiba di lobi RS dan langsung menuju ke bagian informasi untuk bisa mengakses ruang bersalin. Di sinilah saya merasa betapa pentingnya mengumpulkan informasi-informasi terkait rencana persalinan dari jauh-jauh hari. Ketika hari-H itu terjadi, saya tidak panik karena saya tahu harus datang ke bagian mana. Bahkan saya sudah reservasi ruang perawatan ibu dan bayi dari jauh-jauh hari.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya perawat di bagian informasi.

“Saya mau ke ruang bersalin, kayaknya sih saya mau melahirkan”, jawab saya.

Perawat itu agak tergopoh mengambilkan kursi roda untuk saya dan saya disuruh duduk di atasnya

“Emmm, saya masih bisa jalan koq Mba,” kata saya menolak halus. Iya saya memang masih kuat berjalan.

SOP nya begitu Bu, nggak apa-apa duduk saja di sini nanti saya antar ke ruangan,” kata si perawat. Ya sudah saya manut deh.

Saya dibawa ke ruangan observasi. Sebelumnya, saya ijin ke toilet. Maklum ya ibu hamil besar hobi banget keluar-masuk toilet.

“Bisa jalan ke toilet sendiri Bu?” tanya perawat di ruang observasi. Setelah saya mengiyakan, dia menunjukkan letak toilet.

Di ruang observasi, bidan melakukan cek dalam atau cek panggul (Vaginal Toucher) untuk tahu sudah ada pembukaan jalan lahir atau belum. Dia memasukkan jari ke dalam vagina saya, pemeriksaan ini dirasa nggak nyaman bagi sebagian besar kaum wanita. Tapi menurut saya sih nggak sakit, hanya risih sedikit. Saya tahu kalau saya harus rileks agar otot sekitar vagina juga bisa rileks saat pemeriksaan dalam.

“Sudah ada pembukaan Bu?” tanya saya.

“Ya, sekitar 2 atau 3 lah,” kata si bidan.

“Ooouh… begini toh rasanya pembukaan 2 atau 3, gimana kalau sudah mau pembukaan lengkap ya? Nyerinya pasti Wowwww bangettt,” batin saya. Saya tetap berusaha rileks dan mengatur napas.

Sekitar 10 menit kemudian, bidan memberi tahu saya kalau dokter obgyn saya kebetulan sedang ada tindakan di ruangan tersebut jadi bisa sekaligus mengobservasi saya. Ah iya, kebetulan sekali memang hari Sabtu yang seharusnya saya bertemu obgyn di poliklinik untuk ANC, sekarang malah bisa ketemu di ruang observasi.

Cek panggul kembali dilakukan oleh obgyn. Agak lama dan khidmat dia mengeceknya, lebih lama dari si bidan sebelumnya.

“Gimana Dok? Sudah pembukaan berapa?” tanya saya.

Dokter berhenti sejenak. Dia melanjutkan “Ibu, ini udah bukaan 8! Ibu tahan nyeri banget sih Bu!” serunya dengan nada terkejut.

Saya cuma tersenyum, dalam hati deg-degan banget. Saya sambil berpikir juga masa iya jarak antara pembukaan 2-3 ke pembukaan 8 hanya selang beberapa menit ya? Atau mungkin bidan tadi yang kurang jeli ngeceknya sehingga dia kira masih pembukaan 3. Ahh yasudah lah yaaa…

Tim tenaga kesehatan yang akan membantu saya bersalin bersegera mempersiapkan ruangan bersalin untuk saya. Sebelum saya dipindah dari ruang observasi ke ruang bersalin, saya ijin lagi untuk ke toilet (tuh kan, hobi banget ke toilet). Kali ini bidan dan perawat kompak melarang saya. Katanya, sudah pembukaan besar dilarang jalan-jalan. Akhirnya mereka membantu saya BAK menggunakan pispot.

Di ruang bersalin, kondisi saya masih sama seperti sebelumnya ketika di rumah. Entah perawat atau bidan ada yang bertanya kepada saya, lebih tepatnya mungkin dia heran karena reaksi saya –di saat pembukaan delapan ini- biasa saja tidak seperti ibu hamil kebanyakan, bahkan saya malah mau ijin jalan ke toilet sendiri. Apakah benar saya biasa saja? Hahaha, sebenarnya rasanya campur aduk. Maklum pengalaman pertama.

Menuju Pertemuan yang Membahagiakan

Hi world, my name is Adzkia Halwa

Saya terbaring di atas bed dan merasakan kesibukan di sana sini mempersiapkan segala sesuatunya. Ada yang memasangkan selang oksigen, ada yang memasukkan jarum infus di pergelangan tangan saya, dan ada yang memantau alat detak jantung. Semua sibuk dengan urusan masing-masing.

Saya seperti bermeditasi sejenak di ruangan itu sambil berusaha mengatur pernapasan sebaik mungkin. Gelombang cinta dari sang bayi datang semakin hebat dan hebatnya. Saya mencoba berkomunikasi dengan diri sendiri, Allah, dan janin di dalam kandungan saya. This will be pass… Allah sudah ciptakan janin dalam rahim saya, Allah pasti juga sudah berikan jalan lahir untuknya. Allah sudah mendesain tubuh saya sedemikian rupa beserta perangkat-perangkatnya untuk bisa mengandung dan melahirkan bayi saya. Terlepas dari segala upaya saya selama ini dalam memberdayakan diri, saya berpasrah kepada-Nya. Masih hangat di ingatan saya ketika seminggu yang lalu hasil USG memperlihatkan posisi janin yang masih telentang meskipun kepala sudah berada di bawah. Obgyn mengatakan “Persalinan normal masih mungkin dilakukan tapi agak seret, agak lama bayi keluarnya kalau posisi masih seperti ini. Agar bayi bisa mapan ke posisi yang tepat pun kemungkinannya ada, tapi kalau sudah usia kandungan besar ya agak susah”.

Lantunan dzikir dan untaian doa tak terhenti dari mulut saya, berharap proses persalinan berjalan dengan baik, entah pervaginam atau persectio. Mudah-mudahan ibu dan bayi selamat. Andaikan dalam perjalanannya nanti harus berakhir di meja operasi, saya pun ikhlas. Setiap bayi sudah memiliki cara lahirnya masing-masing. Jika saja terjadi hal-hal di luar dugaan yang menyebabkan komplikasi persalinan tidak tertangani, saya hanya berharap kepada Sang Pemilik Kehidupan agar dimudahkan untuk saya kembali dalam keadaan khusnul khotimah dan syahid. Saya mencoba fokus, saya seolah lupa perkataan obgyn seminggu lalu bahwa letak bayi masih di posisi telentang dengan satu lilitan tali pusat.

Selanjutnya saya berupaya me-recall teknik pernapasan perut yang sering dipraktikkan saat sesi kelas yoga prenatal. Saya pun berusaha mengingat teknik mengejan yang pernah diajarkan oleh instruktur saat senam hamil di RS. Kata orang-orang sih, kalau sudah di ruang bersalin, segala teori yang pernah dipelajari akan terlupakan. Menurut saya? Saya ingat semua yang ingin saya ingat, hanya saja mengaplikasikan pada realitanya saya agak kesulitan karena gelombang cinta itu datang semakin hebat sehingga untuk bisa bernapas dalam dan panjang pun saya sedikit kewalahan.

Saya pun kembali mengajak bayi saya berbicara agar dia kooperatif saat proses persalinan itu tiba. “Kita akan segera bertemu, Nak…”.

Sekitar Pukul 09.30

Perjuangan saya di ruang bersalin hampir mencapai titik puncaknya. Di sela-sela mengejan, terjadi obrolan-obrolan antara saya, obgyn, dan bidan.

“Bu, jangan di angkat, letakkan saja pantat (maaf) nya,” kata dokter berkali-kali.

“Ini udah saya letakkin Dok,” jawab saya sambil mikir pant*t mana lagi yang musti diletakkan.

Ah ternyata ya bersalin itu terkadang membuat kita berada di antara sadar dan tidak sadar. Menurut saya, saya sudah berusaha rileks dan pada posisi yang benar tapi menurut tenaga medis, posisi saya masih salah.

Lucunya lagi, di sela-sela saya mengejan, dokter memberikan instruksi begini,

Dokter: “Ibu, nanti kalau saya bilang STOP, Ibu jangan mengejan ya Bu.”

Saya: “Oke”

Beberapa saat kemudian….

Dokter: “Stop Bu, stop!”…. “Ibu stop jangan ngeden!”

Saya: (sambil berteriak galak) “Saya udah nggak ngeden koq!”

Dokter, perawat, bidan: (heboh) “Ibu stop Bu! Stop!”

Haduh beneran deh saya tuh “merasa” udah nahan untuk nggak ngeden sesuai instruksi dokter tapi ya seperti saya bilang sebelumnya, bersalin itu menempatkan kita dalam posisi antara sadar dan tidak sadar. Hehehe.

Alhamdulillah dengan 3x mengejan, bayi mungil cantik meluncur sempurna pada pukul 09.50, tepatnya kurang dari 4 jam sejak saya merasakan nyeri kontraksi.

Saya: “Eh, udah dok? Udah selesai nih?”

Dokter: “Iya selamat ya Bu, bayinya sudah lahir”

Saya: (masih nggak percaya, nanya lagi ke suami): “Ini udah selesai? Udah lahir beneran?”. Suami mengiyakan. Saya meminta suami untuk “mengawal” bayi kami yang baru lahir, takut tertukar dengan bayi-bayi lainnya. Percaya tidak percaya, cukup banyak bayi yang lahir di tanggal itu. Entah kebetulan atau memang ada yang memilih Hari Kesaktian Pancasila sebagai hari lahir para bayi.

Dokter menjahit luka sobekan (saya sendiri nggak tahu berapa jahitan, dokter tidak memberi tahu). Di sela-sela dokter menjahit bekas robekan, kami pun mengobrol.

Dokter: “Ibu, tadi saya bilang stop jangan ngeden kenapa masih aja ngeden”

Saya: “Beneran deh Dok, saya udah nahan nggak ngeden, bahkan sampai saya nahan napas loh Dok”

Dokter: “Ya nggak usah sampai nahan napas juga kali Bu, hehe. Ini anak pertama ya Bu? Cepet banget lahirnya, sering ikutan senam ya?”

Saya: “Iya Dok, rutin ikutan yoga hamil”.

Dokter: “Kalau sering olahraga memang membantu persalinan. Bayinya tadi juga cepet banget keluarnya kaya roller coaster. Ibu tau roller coaster kan?

Saya: “Iya, saya pernah naik itu (roller coastaer) beberapa kali”

Dokter: “Pantesan, bayinya meluncur tadi Bu keluarnya, hehe”

Obrolan-obrolan tadi membuat saya tidak merasakan sakit dijahit. Tidak terasa dokter selesai menjahit bekas robekan jalan lahir.

Tak henti-hentinya saya mengucap syukur kepada Allah atas kemudahan-kemudahan yang telah Dia berikan kepada saya. Padahal kemarin saya masih masuk kantor seperti biasanya. Teman kantor mengajak jalan ke mall sore harinya, dan malamnya suami masih ngajak nyari angkringan. Keesokan paginya saya merasakan kontraksi dan kurang dari 4 jam bayi saya lahir. Alhamdulillah atas segala kenikmatan ini.

Persalinan yang awalnya saya takutkan akhirnya bisa saja jalani dengan sangat rileks dan gentle. Selama hamil, saya berusaha memberdayakan diri sendiri sehingga sugesti “gentle birth” tertanam dalam benak saya. Saya pun bersyukur karena dipertemukan dengan Komunitas GBUS (Gentle Birth Untuk Semua) yang anggota-anggotanya senang berbagi dan mensupport satu sama lainnya. Yang saya percaya, setiap anak sudah dirancang jalan dan cara lahirnya masing-masing. Kebetulan ini pengalaman pertama saya hamil dan melahirkan. Beruntungnya saya diberi kemudahan dalam menjalani prosesnya sehingga minim trauma. Untuk selanjutnya saya menjadi lebih percaya diri jika suatu saat nanti diberi rejeki untuk memiliki anak lagi.

Saran saya bagi yang sedang menantikan kelahiran buah hatinya: tidak perlu takut. Sugesti diri sendiri bahwa proses persalinan tidak semenakutkan yang sering ditampilkan di televisi itu. Berdayakan diri sendiri, cari ilmu sebanyak-banyaknya seputar proses kehamilan dan persalinan, makan makanan yang bergizi, rajin berolahraga, rencanakan persalinan yang diinginkan, libatkan suami dalam setiap proses, dan yang paling utama adalah perbanyak berdoa.

Selamat menanti datangnya gelombang cinta ya 🙂

 

Please follow and like me:

Program SMSbunda: Upaya Menurunkan AKI di Indonesia

ANGKA KEMATIAN IBU

Angka Kematian Ibu, atau biasa disebut dengan AKI, di Indonesia masih belum juga mencapai target yang diharapkan. Pemerintah dan segenap jajarannya sudah sangat mengusahakan agar AKI bisa turun meskipun hasil penelitian selama beberapa tahun terakhir menunjukkan kalau AKI belum juga mencapai target dalam waktu yang diharapkan.

Kajian Human Development Report 2015 yang dirilis oleh  United Nation Development Program (UNDP), AKI di Indonesia berada pada posisi 190 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut masih sangat jauh dari target Millenium Development Goals (MDG’s) yang disepakati PBB, mestinya pada 2015 toleransi AKI adalah 102 kematian per 100.000 kelahiran hidup.  Menurut WHO dan UNICEF, tingkat kematian ibu dan bayi di Indonesia tertinggi  di kawasan Asia-Pasifik. Pada lima tahun terakhir, diperkirakan 9.600 perempuan meninggal setiap tahun akibat komplikasi selama kehamilan. (www.direktorijateng.com)

By the way, apakah kalian sudah familiar dengan istilah AKI? Menurut ICD 10, berikut ini definisi AKI (Angka Kematian Ibu):

Kematian Ibu adalah ”Kematian seorang wanita yang terjadi saat hamil atau dalam 42 hari setelah akhir kehamilannya (tanpa melihat usia dan letak kehamilannya) yang diakibatkan oleh sebab apapun yang terkait dengan atau diperburuk oleh kehamilan dan penanganannya. Namun, kematian ini tidak disebabkan oleh insiden dan kecelakaan.”

Kalau dijelaskan secara ringkas, kematian ibu menunjukkan lingkup yang sangat luas mencakup kematian ibu saat masa hamil, bersalin, dan nifas. Kematian ini bisa disebabkan oleh penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung di sini maksudnya adalah kematian yang disebabkan oleh penyebab langsung yang terkait dengan kehamilan dan persalinan. Contoh penyebab langsung (direct): perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, infeksi, partus macet, dan abortus. Sebaliknya, penyebab tidak langsung (indirect) maksudnya adalah kematian yang disebabkan oleh penyakit dan yang tidak terkait dengan kehamilan dan persalinan (semoga penjelasannya cukup bisa dimengerti ya).

PENCEGAHAN TERJADINYA KEMATIAN IBU

Berikut ini saya kutipkan paragraf dari Rencana Percepatan Penurunan AKI Nasional (RAN PP AKI) Kementerian Kesehatan RI tahun 2013:

Diperkirakan 15 % kehamilan dan persalinan akan mengalami komplikasi. Sebagian komplikasi ini dapat mengancam jiwa, tetapi sebagian besar komplikasi dapat dicegah dan ditangani bila:

1) ibu segera mencari pertolongan ke tenaga kesehatan

2) tenaga kesehatan melakukan prosedur penanganan yang sesuai

3) tenaga kesehatan mampu melakukan identifikasi dini komplikasi

4) apabila komplikasi terjadi, tenaga kesehatan dapat memberikan pertolongan pertama dan melakukan tindakan stabilisasi pasien sebelum melakukan rujukan;

5) proses rujukan efektif;

6) pelayanan di RS yang cepat dan tepat guna.

Dengan demikian, untuk komplikasi yang membutuhkan pelayanan di RS, diperlukan penanganan yang berkesinambungan (continuum of care), yaitu dari pelayanan di tingkat dasar sampai di RS. Jadi pada prinsipnya, jika ibu hamil atau bersalin yang mengalami komplikasi bisa mendapatkan pertolongan yang tepat waktu dan tepat guna, insyaAllah kematian ibu bisa dicegah. Namun, pada kenyataannya seringkali langkah-langkah pencegahan dan penanganan komplikasi tidak berjalan sesuai harapan karena keterlambatan di setiap langkah. Nah, apakah kalian pernah mendengar tentang “3 Terlambat”?

  • Terlambat mengambil keputusan: ini biasanya disebabkan oleh tradisi dan wewenang pengambilan keputusan di dalam keluarga. Selain itu, bisa juga disebabkan karena keluarga tidak mengetahui tanda bahaya yang mengancam keselamatan ibu hamil. Tenaga kesehatan mungkin juga berperan dalam keterlambatan ini misalnya dia terlambat mengidentifiasi komplikasi karena kompetensi yang kurang mumpuni.
  • Terlambat mencapai RS rujukan (rujukan tidak efektif): ini biasanya disebabkan masalah geografis dan ketidaktersediaan alat transportasi untuk merujuk pasien.
  • Terlambat mendapatkan pertolongan di RS rujukan: ini mungkin disebabkan karena ketidaktersediaan tenaga medis (SPOG, anestesi, anak, dll), obat-obatan, darah, dan fasilitas.

Well, kayaknya kompleks banget ya permasalahan AKI ini. Tapi percayalah, pemerintah dari tingkat lokal hingga nasional sangat bekerja keras untuk menangani masalah tingginya AKI di Indonesia. AKI ini bukan melulu urusan orang kesehatan lho ya, tetapi juga lintas sektor. Kita mesti bahu-membahu untuk bisa menyelesaikan PR besar ini.

Pemberdayaan masyarakat juga harus dijalankan, terutama bagi ibu hamil itu sendiri. Oleh karena itu, ibu hamil harus pandai dan sangat menjaga kehamilannya dengan cara menjaga asupan makanan bergizi, rajin berolahraga, mencari ilmu dan pengetahuan seputar kehamilan dan persalinan (terutama mengenal tanda bahaya yang mengancam keselamatan ibu dan bayi), tidak termakan mitos-mitos yang menyesatkan, rajin memeriksakan kehamilannya (ANC/ antenatal care). Semua ini demi keselamatan si ibu sendiri dan juga janin yang ada di dalam kandungan.

Nah, dalam rangka upaya menekan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencanangkan Program SMSBunda yang bertujuan untuk menurunkan hingga 25% angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir.

 

PROGRAM SMSBUNDA

Program SMSbunda merupakan satu di antara ikhtiar menyebarluaskan informasi kesehatan ibu hamil dengan basis pesan singkat atau SMS. Program ini digagas oleh Jhpiego dengan support pendanaan dari General Elektrik (GE) Foundation. Jhpiego adalah lembaga sosial dari John Hopkins University Amerika yang sudah 30 tahun membantu pemerintah Indonesia (Kementrian Kesehatan RI) dalam isu kesehatan masyarakat.

SMSBunda pertama kali diluncurkan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada April 2014. Hingga April 2016 tercatat sedikitnya 230.000 ibu hamil mengakses program ini yang tersebar sejumlah kabupaten/kota di Indonesia. Di Provinsi Jawa Tengah pada 2015 program ini secara resmi telah diluncurkan di 11 kabupaten/kota: Kota Semarang, Kudus, Grobogan, Kendal, Batang, Kab. Pekalongan, Kab. Tegal, Brebes, Banyumas, Cilacap dan Purbalingga. Program ini akan terus dioptimalkan dan akan direplikasi di seluruh kabupaten/kota.

Melalui program SMSbunda, ibu hamil yang terdaftar dapat menerima pesan kesehatan tentang kehamilan selama masa kehamilan, persalinan hingga bayi berusia dua tahun. Dengan bekal informasi ini diharapkan mampu mengurangi risiko saat melahirkan. Pesan SMSbunda bersumber dari buku panduan kesehatan yang diterbitkan oleh  Kementrian Kesehatan. Pesan yang diterima sesuai kebutuhan ibu hamil karena menyesuaikan usia kehamilan.

Manfaat SMSbunda adalah meningkatkan pengetahuan ibu tentang kehamilan, dapat mengidentifikasi tanda bahaya selama hamil dan nifas, serta dapat mencari pertolongan tepat waktu saat terjadi emergency.

Bagaimana Cara Mendaftar SMSbunda?

Cara mendapatkan layanan SMSBunda sangat mudah. Cukup mendaftar sekali melalui SMS ke nomor 0811-8469-468 dengan biaya Rp 200 (tergantung masing-masing operator) dengan menyebutkan hari perkiraan kelahiran. Ibu hamil akan menerima SMS gratis secara berkala tentang info kehamilan, persalinan, dan pascamelahirkan hingga bayi berusia dua tahun.

Berikut cara mendaftar SMSbunda:

  1. Daftar ke SMSbunda

Ketik REG <spasi> Perkiraan tanggal bersalin <spasi> Kota/ Kabupaten

Contoh: REG 05/07/2016 SEMARANG

Kirim ke nomor 0811-8469-468

  1. Ganti Tanggal Bersalin

Ketik LAHIR <spasi> Perubahan Tanggal Bersalin

Kirim ke nomor 0811-8469-468

  1. Daftarkan Teman ke SMSbunda

Ketik UNDANG <spasi> No. Hp Teman <spasi> Perkiran Tangal Bersalin <spasi> Kota/Kabupaten

Contoh: UNDANG 08123456789 05/07/2016 SEMARANG

Kirim ke nomor 0811-8469-468

PROGRAM SMSBUNDA DI JAWA TENGAH

Jawa Tengah merupakan satu dari 10 provinsi dengan AKI tertinggi. Pada tahun 2014, kasus ibu meninggal di Jawa Tengah mencapai 711 kasus dan bayi meninggal sebanyak 5.666 kasus. Itu artinya selama tahun 2014, setiap hari terdapat hampir dua orang ibu hamil meninggal dan hampir 16 bayi baru lahir meninggal tiap hari. Sedangkan pada 2015 terjadi sebanyak 619 kasus ibu meninggal dan 5.571 bayi meninggal dunia. AKI dan AKB di Jawa Tengah masih memprihatinkan. (www.direktorijateng.com)

Seperti kita ketahui bersama, Pulau Jawa adalah pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia dan Provinsi Jawa Tengah masuk ke dalam 5 provinsi terpadat di Indonesia menurut Data Sensus Penduduk 2010. Jadi, bisa disimpulkan ya kalau Provinsi Jawa Tengah juga merupakan 5 provinsi penyumbang AKI terbesar di Indonesia. Nah, upaya penurunan AKI di Jawa Tengah ini harus terus digalakkan agar nantinya jika AKI di Jawa Tengah bisa menurun, diperkirakan AKI nasional juga bisa ikut turun. Seperti disebutkan sebelumnya kalau Program SMSbunda  sudah diluncurkan di 11 kab/kota dan akan terus dioptimalkan dan direplikasi ke kab/kota lainnya. Semoga ikhtiar ini menjadi jalan untuk menekan AKI di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah. Aamiin…

Yuuuk para ibu hamil di seluruh Indonesia, kita daftar Program SMSbunda yuuuuk…… Kalau tidak dimulai dari pemberdayaan diri sendiri, siapa lagi yang akan peduli akan keselamatan jiwa ibu dan janin di dalam kandungan ibu? Kebetulan saya sendiri juga sedang hamil dan saya merasakan sendiri manfaat menjadi partisipan dalam Program SMSbunda ini, banyak sekali ilmu dan pengetahuan seputar kehamilan dan persalinan yang saya dapatkan melalui program ini 🙂

Referensi:

Dokumen RAN PP AKI 2013 – 2015, Kementerian Kesehatan RI

http://www.direktorijateng.com/2016/06/lomba-karya-jurnalistik-tentang-upaya.html

http://www.gandjelrel.com/2016/06/lomba-blog-sms-bunda.html

http://sp2010.bps.go.id/index.php

Please follow and like me:

Arisan Backlinks: Mengenal Sosok Penuh Gairah “Prita Hw”, Aktivis Penggerak Literasi dan Pendidikan

 

Saat membaca tentang rendahnya minat baca anak Indonesia, saya langsung teringat dengan seseorang yang begitu energik dan penuh gairah dalam dunia literasi. Sosok itu adalah Prita Hendriana Wijayanti. Prita Hw, begitu sapaan akrabnya, adalah wanita asal Jember yang menamatkan pendidikannya di jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan, FISIP, Universitas Airlangga Surabaya. Saat ini Prita dan suaminya berdomisili di Bekasi, Jawa Barat.

Neng Prita Hw

Di dunia perkuliahan, Prita merasakan kegelisahan setiap ia mendengar ‘doktrin’ bahwa minat baca anak Indonesia rendah.  Dari situlah, Prita mendirikan INSAN BACA, jaringan pengelola taman baca dan perpustakaan independen pertama di Surabaya pada tahun 2007. Di tahun yang sama pula, Prita me-remake perpustakaan lingkungan hidup Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur menjadi Kedai Baca WALHI Jatim yang sekaligus menjadi skripsinya saat itu yang berfokus pada strategi pemasaran pusat informasi.

Pada tahun 2008, Prita mendirikan Pondok Baca Bocah di Rumah Susun Penjaringan Sari Surabaya dan sempat menerima CSR dari XL dan Kompas, serta komunitas lain. Pada tahun 2012, karena harus berpindah domisili, koleksinya dihibahkan pada Taman Baca Balai RW Rusun Penjaringan Sari yang dikelola Perpustakaan Kota Surabaya.

Di tahun 2010, Prita berkenalan dengan mas Gol A Gong dan kawan-kawan, kemudian ia bergabung menjadi Pengurus Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Pusat yang saat itu dinaungi Subdit Budaya Baca, Pendidikan Non Formal Informal, Kemdikbud, di staf Litbang. INSAN BACA bersama Yayasan Khadijah NU kemudian mendirikan TBM@Mall Surabaya Membaca sebagai representasi TBM ruang publik, di Kapas Krampung Plaza Surabaya atas dukungan Kemdikbud pada 2010-2011. Sampai pada 2012, di tahun ke-5 nya, Prita sebagai pendiri INSAN BACA menerima penghargaan sebagai Pembaharu Sosial dalam SOCIAL AWARD “Panggung Inspirasi Perubahan” oleh Forum Lintas Pembaharu dan Dinas Sosial Surabaya.

Akhirnya, sekarang Prita diamanahi untuk mengelola Rumah Baca HOS Tjokroaminoto di Desa Setia Asih, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi yang merupakan daya dukung untuk jaringan Sekolah Raya. Kebahagiaannya berlipat ganda. Baru-baru ini ia ‘dilamar’ untuk membantu Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Jawa Barat di Divisi Organisasi. Sistem Rumah Baca HOS Tjokroaminoto ini akan menciptakan sistem yang boleh direplikasi oleh seluruh jaringan Sekolah Raya yang memiliki perpustakaan independen.

Ketertarikan Prita di dunia literasi terinspirasi dari eyang putrinya sedari dulu sangat aktif di berbagai organisasi, gemar menularkan semangat berbahasa inggris, menggambar sederhana, membaca, juga kecintaan mencatat dan menulis. Menurut penuturan Prita, kecintaannya pada buku dimulai dengan kebiasaan yang ditanamkan eyang putri bahwa setiap informasi itu berharga. Hal ini ditunjukkan dengan kebiasaan eyang putri yang selalu membaca setiap bungkus koran atau selebaran bungkus belanjaan sayur mayur atau bumbu dapur dari warung belanja. Kemudian eyang putri akan mengeksekusi informasi yang didapat dalam bentuk tindakan. Dari situlah Prita merasa bahwa semua informasi memiliki kekuatan.

Concern Prita saat ini ada di tiga hal: menulis, public speaking, dan literasi. Aktivis penggerak literasi dan pendidikan ini memiliki passion yang kuat dalam minat baca, perpustakaan, perbukuan, kepenulisan, hingga fasilitasi. Portofolio yang bejibun dari seorang Prita –yang juga hobi traveling ini-bisa diintip di dalam blognya. Masyaa Allah, segudang prestasinya memang sangat menunjukkan kelekatan sosok Prita yang sangat passionate di bidang yang ia geluti.

Dalam dunia blogging, Prita sudah memulainya sejak sebelum tahun 2012 dengan platform multiply yang kemudian ia pindahkan ke blogspot. Kala itu blognya ia fungsikan sebagai “etalase” yang berisi tulisan curhatan atau kontemplasi tentang kondisi sekitarnya. Ada pula tulisan tentang pernyataan kritis Prita yang pernah dimuat di surat kabar. Namun, Prita mengakui kalau saat itu ia tak cukup serius di dunia penulisan karena kesibukan pekerjaannya. Kemudian Prita memutuskan resign pada November 2015 dari perusahaan advertising yang sudah digelutinya selama 5 tahun. Sejak saat itu, Prita mulai memikirkan nasib blognya, terlebih lagi setelah banyak support dan suntikan semangat dari kawan-kawannya sesama relawan di komunitas Sekolah Raya.

Prita tampak menikmati dunia seorang blogger setelah ia mulai mengikuti berbagai komunitas blogger di Facebook dan juga kopi darat dengan komunitas.

“Yang jelas, dengan semaraknya blogosphere saat ini, tujuan utama saya nge-blog benar-benar harus saya ingat, yaitu untuk menampung pikiran-pikiran kritis saya tentang situasi negeri yang ada di lingkungan terdekat, dan membagi ‘kemewahan’ yang saya punya dengan berkesempatan dikelilingi orang-orang luar biasa dan pengalaman berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Semuanya diharapkan dapat memberikan inspirasi baru. Sebagai personal dan lifestyle blog, saya mengambil tiga highlight untuk blog ini, yaitu inspirasi, aktivitas literasi, dan kisah perjalanan.”

Impian Prita selanjutnya adalah lebih serius di dunia blogging, serta menyiapkan ranah social entrepreneur yang sedang dimatangkan bersama suaminya. Oh ya, tanggal 2 Juli 2016 Prita memindahkan alamat blognya ke www.pritahw.com. Harapannya, semoga apa yang ia tuliskan semakin informatif dan membawa keberkahan bagi semua. Prita meyakini, kelak apa yang ia tulis akan dipertanggungjawabkan. Di blog barunya dengan title ‘Dunia Gairah’ ini Prita berkolaborasi dengan suaminya, Nana Warsita (www.na2warsita.blogspot.com). Suami bertugas sebagai fotografer andalan dan desainer grafis. Sementara Prita yang mengulik urusan ide, teks, juga otak atik pernak pernik si rumah maya. Khusus traveling, blog yang mereka kelola lainnya beralamatkan di www.travelingjemberyuk.blogspot.com.

Bagi yang mau berkenalan lebih dekat dengan Prita, atau berdiskusi seputar dunia literasi, silakan kontak via medsosnya yaaa….

FB : Prita Hw

FB Fanpage : Pritahw dot com

Twitter & IG : @pritahw

 

Please follow and like me:

Resensi Novel: “Embun di Atas Daun Maple”  

Judul: Embun di Atas Daun Maple.

Penulis: Hadis Mevlana.

Penerbit: Tinta Medina, Creative Imprint of Tiga Serangkai, Solo

Tebal: 286

Cetakan Pertama: September 2014.

Novel “Embun di Atas Daun Maple” mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Sofyan dari Teluk Kuantan yang sedang menimba ilmu di University of Saskatchewan, Kanada. Pemuda muslim yang teguh pada keyakinannya dalam memeluk Islam selalu mencoba menyampaikan tentang dakwah dan kebenaran secara logis, sederhana, dan berdasarkan fakta. Penjelasannya dalam menjabarkan Islam mampu diterima dengan baik oleh teman-temannya yang non-muslim sekalipun, termasuk oleh Kiara, gadis orthodox berparas cantik keturuan Rusia-Aceh. Kiara gemar sekali mengajak Sofyan berdiskusi secara kritis dan terbuka. Dari setiap pertanyaan dan rasa penasaran Kiara yang selalu disambut apik oleh Sofyan, ternyata sepotong hatinya pun berujung pada sebuah rasa cinta pada Sofyan. Yang lebih menakjubkannya, di akhir cerita, dua kalimat syahadat pun terucap dengan pasti dari mulut gadis manis ini.

Pembaca akan terbawa ke suasana di Saskatoon dan teduhnya berada di tepi Sungai Saskatchewan dengan rerimbunan daun dari pohon maple. Di sanalah lokasi favorit Sofyan saat merenung untuk menemukan jawaban atau sekadar menumpahkan kerinduan akan kampung halamannya. Penulis mendeskripsikan setting lokasi dengan baik sehingga pembaca seolah-olah turut merasakan berada di Kanada.

Novel ini berbeda dengan novel-novel lainnya yang secara klise membahas tema percintaan. Bahkan pembaca mungkin tidak sadar jika penulis menyelipkan satu-dua fragmen yang mengupas tentang perasaan. Dengan membaca novel ini, pembaca akan terlarut dengan alur yang disusun sedemikian rapi dan memancing rasa penasaran di setiap segmen yang disajikan.

Di dalam novel ini diceritakan kehidupan Sofyan selama menempuh pendidikan di Saskatoon dengan dikelilingi teman-temannya yang hangat dan bersahabat. Toleransi dalam beragama dan kesantunan dalam mengutarakan pendapat bisa kita rasakan ketika membaca novel ini. Kita juga akan menemukan berbagai pengetahuan, terutama lintas agama, yang disajikan dalam bentuk diskusi dan obrolan santai. Penulis mengemas diskusi lintas agama yang berujung pada kedamaian, bukan perang dingin atau dendam di hati.

Kesan saya ketika membaca novel ini adalah keinginan untuk terus membacanya hingga akhir cerita. Saya ingin menemukan pengetahuan-pengetahuan baru ataupun lawas yang  selalu disajikan oleh penulis melalui bahasa yang mudah dicerna. Semakin membaca novel ini, semakin diri ini ingin mempelajari Islam lebih jauh lagi. Betapa masih sangat banyak yang belum saya tahu tentang Islam dan betapa bekal ilmu saya harus selalu di-upgrade setiap waktu, baik tentang sejarah peradaban Islam, isi kandungan Al-Quran, perbedaan sejarah yang tertuang dalam Al-Quran versus kitab suci agama lain, dan sebagainya.

Penulis terlihat sangat memahami tentang Islam, Kristen, dan Katolik. Hal ini tampak dari paparan-paparannya saat mengutip ayat Al-Quran atau pasal-pasal dalam Al-Kitab. Pun demikian saat penulis merincikan penjelasan-penjelasan tentang perbedaan yang ada di antara Islam dengan agama lainnya. Novel ini, meskipun tidak banyak konflik yang berujung klimaks di dalamnya dan ending yang menurut saya agak menggantung, tetap merupakan bacaan yang menyejukkan hati dan bermutu. Menemukan intisarinya bagaikan menelan suplemen dan dopping untuk selalu memperluas wawasan terkait Islam.

Please follow and like me:

Arisan Backlinks: Inna Riana si Emak Riweuh yang Produktif dengan Segudang Aktivitas

Profil blogger yang akan saya bahas kali ini adalah Mba Inna Riana aka Riana Wulandari. Mba Inna, sapaan akrabnya, lebih dikenal sebagai “emak riweuh” yang akhirnya julukan tersebut menjadi nama personal branding blognya. Pertemuan saya dengan Mba Inna pertama kali di acara BlogHolicID di Dilo Bogor. Selanjutnya, Mba Inna menjadi salah satu koordinator di grup WhatsApp Arisan Backlinks yang sangat rajin mengingatkan membernya untuk segera setor arisan tiap dua minggu sekali.

Seorang ibu dari 3 orang anak ini, lahir 40 tahun lalu. Setelah menikah tahun 2002 lalu, Mba Inna mengikuti suaminya merantau di beberapa daerah di Indonesia: Semarang, Banjarmasin, Solo, Denpasar, Palangkaraya, dan Makassar. Kata Mba Inna, dalam 11 tahun ini beliau sudah pindah rumah sebanyak 10 kali. Waaah, saya cuma terbayang betapa rempongnya berpindah-pindah rumah seperti Mba Inna. Saya sendiri saja malas duluan jika membayangkan harus berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Apalagi sampai sepuluh kali ya.

Wanita berdarah campuran Sunda dan Jawa ini membuat nama “Emak Riweuh” untuk blog dan twitternya karena terinspirasi dari situasi rumah tangganya yang diakui riweuh alias repot karena Mba Inna mengasuh ketiga anaknya tanpa asisten rumah tangga. Meskipun riweuh, Mba Inna ini tetap menyempatkan waktunya  untuk menuliskan pengalamannya di rantau dan tempat-tempat wisata yang pernah ia kunjungi

Yang saya salutkan dari seorang Mba Inna adalah kemampuan manajemen waktunya dalam berkegiatan sehari-hari sebagai ibu rumah tangga, blogger, mengurus orang tua, dan merintis usaha kecil-kecilannya. Sudah kebayang memang pasti riweuh banget ya menjadi seorang Mba Inna. Mba Inna dan suaminya juga punya toko obat loh. Selain itu, sempat juga berjualan aksesori handmade secara online dan dititip ke toko busana muslim tetangganya tapi sementara ini usaha tersebut vakum karena Mba Inna kerepotan dalam membagi waktunya yang superrrr padat itu.

Di tengah kepadatan aktivitasnya, wanita berkacamata lulusan Kesejahteraan Sosial FISIP UNPAD Bandung ini ternyata mengelola tujuh blog! APA? Iya TUJUH BLOG! Meskipun menurutnya hanya tiga blog saja yang selalu up to date, tetap saja saya takjub dengan “ke-iseng-an”nya dalam beternak blog. He he he… Yuk silakan diintip nih alamat blognya Mba Inna:

  1. www.emakriweuh.com tentang parenting, jalan-jalan, dan blogging.
  2. www.innariana.com tentang cerita curhat, fashion, fiksi, dan lomba.
  3. www.dapurngebut.com tentang resep masakan, cerita memasak, dan seputar kuliner.
  4. www.inas-craft.blogspot.com tentang aksesoris handmade dan tutorial cara membuatnya. Rencananya, Mba Inna ingin membuat online store khusus dari blog ini. Semoga terwujud segera ya Mba…
  5. Blog Kompasiana : www.kompasiana.com/innariana. Tidak aktif.
  6. Blog Detik : http://innariana.blogdetik.com. Tidak aktif.
  7. Blog rahasia

“Sejak mengenal blog, saya seolah menemukan dunia baru. Mendapat banyak ilmu dan teman baru lewat komunitas blogger. Berkat blog, saya bisa menerbitkan buku antologi “Heart Ring. Ketika Hati Saling Memiliki” pada tahun 2014 bersama komunitas Warung Blogger. Pada tahun yang sama, saya terpilih menjadi Finalis 50 Besar Srikandi Blogger 2014. Berkat ajang ini, saya mendapatkan kesempatan berkunjung ke Kantor Google Indonesia di Jakarta. Meskipun tidak menang, saya senang bisa kenalan dengan para finalis yang sekarang sudah menjadi blogger ternama.” (Inna Riana).

Waaaah ternyata sebelumnya, di tahun 2014, saya pernah ada di satu event dengan Mba Inna yaitu saat acara Srikandi Blogger. Saat itu, saya baru saja mengenal Komunitas Emak2 Blogger (KEB) dan saya diberi kesempatan mengisi sesi fashion show di acara tersebut. Ternyata oh ternyata, saat itu Mba Inna sudah melanglangbuana di dunia blog dan bahkan menjadi 50 besar finalis Srikandi Blogger! Saluuutt….

Oh ya, saat ramadhan kemarin, timeline FB dan instagram saya hampir tidak pernah telat dari postingan masakan dari Mba Inna yang hobi masak di “dapur ngebut”nya ini. Dalam sehari dia bisa memposting dua sampai tiga kali. Pertama makanan sahur, cemilan pengantar buka puasa, dan makanan buka puasa.

“Dapur ngebut memang selalu ngebut dalam memasak. Ketika matang, hasil masakan saya potret dengan terburu-buru. Saat sahur, saya cuma punya waktu 10 menit untuk memotret sebelum membangunkan pasukan riweuh untuk makan sahur. Untuk memotret masakan buka puasa atau cemilannya, saya ‘berkejaran’ dengan matahari yang mau tenggelam. Lalu buru-buru mandi jelang adzan maghrib. Keringetan bo!”

Di dunia blog, Mba Inna sesekali ikut meramaikan giveaway dari teman-teman blogger untuk menjalin silaturahim dan meramaikan ajang, terkadang jadi sponsor juga. Tetapi, Mba Inna jarang sekali ikutan lomba blog, katanya sih karena nggak kuat begadang untuk menemukan ide yang tokcer hehehehe. Ada pun prestasi dan hadiah lomba yang pernah diperoleh oleh Mba Inna antara lain smartphone Samsung Galaxy Note 3 sebagai Juara kedua dari Morinaga Chil-Go! Writing Competition pada Februari 2016.

Selain ngeblog, Mba Inna juga hobi memotret dengan smartphone. Terkadang dia ikutan kontes foto, berikut ini hadiah yang pernah dimenangkannya:

  • April 2015: Juara dua kontes foto Smartphonegraphy (via Twitter). Mendapat hadiah menginap gratis di Hotel Padjadjaran Suite and Resort, serta voucher diskon Jungle, Jungle Land, dan Jungle Fest
  • Maret 2016: salah satu dari tiga pemenang kontes foto dari Mariza Foods (via Instagram). Mendapat hadiah satu set alat masak merk Maxim dan produk Mariza foods.

Waah lumayan banget kan menjadi seorang blogger (yang sangat produktif seperti Mba Inna ini). Yuk teman-teman yang mau mengenal lebih dekat lagi dengan Emak Riweuh, silakan mampir ke medsosnua

Facebook: Inna Riana

Twitter: @EmakRiweuh

Instagram: @innariana

Email: helloinnariana@gmail.com

 

Please follow and like me: