Nak, Selalu Ada Cinta dalam Untaian Doa Untukmu

Saya bekerja di salah satu pusat riset di kampus. Usai cuti melahirkan dan saya harus kembali ke rutinitas pekerjaan, hari pertama masuk kerja Halwa dititipkan di daycare. Jangan tanya bagaimana perasaan saya waktu ninggalin dia di sana ya, campur aduk dan baper banget!

Saat saya masuk kantor dan berjumpa dengan Bapak-Ibu Profesor dan teman-teman, mereka menanyakan di mana anak saya. Saya jawab  “daycare”. Tahu apa respon mereka? Mereka kompak menasehati saya agar jangan titip Halwa di daycare, kalau memang saya belum punya asisten, bawa saja Halwa ke kantor. WOW! Saya bener-bener terharu diizinkan membawa bayi saya ke kantor. Ah rasanya bahagia dan bersyukur banget bekerja di lingkungan seperti ini, tempat yang sangat ramah dan bernuansa kekeluargaan.

Sejak saat itu, dimulailah hari-hari saya membawa Halwa ke kantor setiap hari hingga dia berusia 10 bulan. Saya cukup bahagia karena di saat working mom di Indonesia pada umumnya hanya punya waktu intens bersama anak selama 3 bulan saat cuti, saya punya waktu yang lebih panjang lagi. Tapi jangan salah ya, beban pikiran saya juga semakin bertambah. Continue reading “Nak, Selalu Ada Cinta dalam Untaian Doa Untukmu”

Please follow and like me:

Resolusi 2018: Ingin Menjejakkan Kaki ke Benua Eropa

Akhir November kemarin saya mendapati satu email dari nama yang nggak asing buat saya, Ms. Willems. Saat saya baca emailnya, ternyata beliau “mengundang” saya untuk datang ke Program Short Course di Negeri Kincir Angin. Memang sudah menjadi impian saya untuk bisa menjejakkan kaki di Benua Eropa, khususnya untuk bersekolah di sana. Bahkan hal itu sudah menjadi resolusi saya dari tahun 2016 hingga sekarang. Namun, impian untuk mengambil studi master harus tertunda sementara waktu karena dalam perjalanan menuju impian saya itu, saya mendapat rejeki lain yaitu suami dan anak. Karena saat ini waktunya belum memungkinkan untuk saya studi overseas dua tahun, saya putuskan untuk mendaftar short course yang waktunya lebih singkat.

Bagi siapapun yang mengaku sebagai Scholarship Hunter, pasti ngerti banget hal-hal apa saja yang harus diperjuangkan untuk bisa bersekolah di luar negeri dan mendapat beasiswa. Tentunya ada dua hal penting yang jadi kunci utama: LoA (Letter of Acceptance) dari universitas tujuan dan beasiswa. Untuk mendapat satu dari kedua hal itu juga bukan perkara mudah. Ada banyak hal yang harus dikorbankan baik dari segi waktu, biaya, energi, dan pikiran. Sebelum ke arah sana pun kita harus mengumpulkan banyak informasi tentang cara pendaftaran, deadline, persyaratan, pilihan program studi, funding, dll. Mungkin lain kali akan saya bahas mengenai hal ini ya. Continue reading “Resolusi 2018: Ingin Menjejakkan Kaki ke Benua Eropa”

Please follow and like me:

Sabtu Kelabu: Tentang Kehilangan

Memasuki bulan Desember kali ini, saya excited menjelang liburan panjang di akhir tahun. Tiket kereta sudah ada di tangan. Kami sekeluarga berencana pulang kampung ke sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Kebumen. Sudah hampir setengah tahun saya tidak pulang ke kota kelahiran. Rencananya kami –saya, suami, dan baby Halwa– akan berlibur dari sebelum Natal hingga selesai Tahun Baru.

Jumat pagi, saya dan suami (Mas Ry) berjalan-jalan pagi bersama Halwa. Sudah menjadi kebiasaan kami saat libur untuk menyempatkan jalan-jalan di sekitar rumah. Apalagi, suasana pagi di kawasan Kampus UI Depok sangat cocok untuk berolahraga atau hanya sekadar menikmati udara segarnya. Pagi itu, saya bercerita kepada Mas Ry soal mimpi saya semalam tentang meninggalnya simbah kakung (kakek). Konon katanya, mimpi buruk pantang diceritakan. Mimpi buruk juga tidak boleh ditafsirkan karena tidak semua mimpi itu benar dan mimpi mungkin hanya bawaan perasaan atau bisikan hati. Namun, kali itu saya merasa perlu menceritakan perihal mimpi saya pada suami dengan tujuan untuk antisipasi seandainya hal itu sungguh terjadi.

Halwa (saat usia 1 bulan) bersama simbah buyut

Sejak sebulan terakhir ini simbah kakung memang kerap sakit-sakitan: mulai dari terjatuh di dekat sumur hingga kepalanya sakit, katarak yang hendak dioperasi, hingga kabar terakhir mengatakan simbah stroke karena terjadi penyumbatan pembuluh darah di otak sehingga beliau harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari terakhir. Siang hari itu, terlepas dari firasat mimpi buruk saya semalam, saya mendapat kabar bahwa kondisi simbah kritis dan harus dirawat di ICU. Pikiran saya tidak tenang, doa selalu saya lantunkan memohon yang terbaik untuk simbah.

Continue reading “Sabtu Kelabu: Tentang Kehilangan”

Please follow and like me:

Yuk Konsumsi Telur, si Protein Hewani Padat Gizi

Setiap Ibu pasti pasti pernah menghadapi anaknya yang susah makan (GTM = Gerakan Tutup Mulut), tidak terkecuali saya, hehe. Badai GTM Halwa itu hilang timbul. Kadang dia lahap makan, tapi kadang ya gitu deh bisa masuk 5 suap aja alhamdulillah. Grafik pertumbuhan berat badannya selalu saya pantau, asalkan masih masuk range berat badan sesuai tahapan usianya sih saya tenang saja meskipun garisnya ada di batas bawah. Melihat fenomena nggak doyan makan seperti itu, saya jadi berpikir untuk memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) yang padat gizi. Susu? Ah dia nggak doyan susu formula atau UHT. Baru saya berikan akhir-akhir ini sih tapi reaksinya nggak terlalu happy.

Mencari bahan MPASI yang padat gizi, murah, dan gampang dijumpai sehari-hari sebenarnya tidak sulit, misalnya saja telur ayam. Beruntungnya di dekat rumah saya ada warungnya si Bang Udin yang superrr lengkap menjual sembako dan kebutuhan sehari-hari. Warung yang hanya berjarak 10 langkah dari rumah saya ini menjual telur dengan kisaran harga 20-22 ribu per kilo. Nah di depan warung Bang Udin, ada yang jual ayam potong. Pokoknya bersyukur deh saya bisa mendapat bahan protein hewani dengan mudah untuk konsumsi keluarga.

Continue reading “Yuk Konsumsi Telur, si Protein Hewani Padat Gizi”

Please follow and like me:

Mengatasi Napas Grok-grok pada Bayi

Nggak terasa usia baby Halwa menjelang satu tahun. Dikaruniai anak yang sehat, pintar, lincah, pertumbuhan dan perkembangan sesuai tahap usia adalah hal yang patut disyukuri.

Flashback setahun lalu saat saya dan mas Ry hanya berduaan saja (tanpa keluarga) menghadapi persalinan, saat menegangkan di ruang bersalin, hingga masa setelah Halwa lahir. Namanya juga perantau, kudu mandiri donk Mak! Pengasuhan Halwa pun mostly ditangani saya dan Mas Ry.

Jauh-jauh hari sebelum Halwa lahir, saya melakukan beberapa persiapan “ilmu” untuk menghadapi situasi tidak-ada-yang-membantu-merawat Halwa, antara lain dengan membaca buku-buku pengasuhan dan perawatan bayi. Mengikuti Whatsapp grup support ASI Eksklusif, mengikuti seminar pre-natal, dll. Untuk apa? Biar nggak panik-panik amat pas punya bayi nantinya, Mak.

Seminggu setelah Halwa lahir, semua berjalan baik-baik saja tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah ya. Nah, saat Halwa berusia 2-3 minggu, mulailah kepanikan terjadi. Saat itu saya mendengar napas halwa bunyi “grok grok” kasar seperti ada yang menyumbat jalan napasnya. Meskipun tadi saya bilang sudah “persiapan ilmu” sebelum punya bayi, tapi tetap saja menghadapi realita itu lumayan bikin emak panik, he he he. Apalagi waktu itu Mas Ry sudah pergi ke kantor, saya hanya berdua saja dengan baby Halwa dan napas grok-grok-nya. Maju mundur mau periksa ke dokter anak sambil mikir: “Ini wajar nggak ya? Perlu ke dokter nggak ya?” (Ngaku deh, sebagian ibu yang baru punya satu anak pasti pernah begitu juga kan, panikan, bertanya-tanya anak saya begini wajar nggak, anak saya nggak poop berhari-hari wajar nggak, anak saya nggak mau nyusu maunya bobo mulu wajar nggak? Hehehe, begitulah ya emak baru).

Akhirnya saya cari tahu tentang napas grok-grok pada bayi. Saya tanya ke teman yang berprofesi dokter dan dia sudah lebih berpengalaman mengasuh 3 orang anak. Menurutnya, napas yang berbunyi tersebut disebabkan karena terdapat lendir di saluran napasnya dan ini umum terjadi pada newbon. Dia sarankan olesi transpulmin yang bisa dibeli di apotek dan sering-sering jemur Halwa pagi hari. Hari itu juga saya minta Mas Ry mampir apotek sepulang dari kantor. Beli si transpulmin yang dimaksud. Oh ya ternyata transpulmin ada dua macam, untuk anak di bawah 2 tahun dan di atas 2 tahun. Jadi, untuk Halwa saya beli Transpulmin BB (Balsam Bayi).

Untuk selanjutnya, Transpulmin BB ini selalu saya gunakan jika Halwa terindikasi batuk pilek (selesma / commom cold).

Continue reading “Mengatasi Napas Grok-grok pada Bayi”

Please follow and like me:

Heart of Spora: Menjadi “Spora” Kebaikan

Desa Grenggeng telah menjadi pemasok terbesar produk anyaman pandan setengah jadi (complong) di Indonesia sejak ratusan tahun silam. Data menunjukkan bahwa 60% dari 2.046 Kepala Keluarga di Desa Grenggeng bermatapencaharian petani dan penganyam pandan. Namun, potensi tersebut belum mampu menuntaskan kemiskinan di Desa Grenggeng. Hal ini disebabkan karena pengepul oportunis yang berperan menyalurkan hasil complong ke pembeli besar telah melakukan praktik perdagangan yang tidak adil. Pengepul memberikan sejumlah pinjaman kepada pada pengrajin anyaman pandan dan pinjaman tersebut harus dikembalikan dalam bentuk complong dengan harga di bawah harga pasar. Sistem perdagangan ini sangat merugikan para pengrajin di Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Melalui “Heart of Spora” (HoS), putra daerah pun akhirnya tergerak untuk membantu membangkitkan kondisi perekonomian masyarakat di Desa Grenggeng. Mereka percaya bahwa setiap desa di Indonesia memiliki potensi untuk membuat masyarakatnya mandiri secara finansial hanya dengan sedikit uluran tangan. HoS hadir sebagai social enterprise yang bergerak di bidang kerajinan lokal. Founder dan sekaligus CEO pertama Heart of Spora, Tiara Deysa Rianti, adalah sosok energik yang memiliki passion dalam bidang social enterprise. Beruntung sekali saya bisa mengenal dan melakukan sedikit wawancara dengan Tiara untuk dijadikan bahan reportase.

 

 

Berkenalan dengan Heart of Spora (HoS)

HoS didirikan pada 21 Juli 2015 oleh sekumpulan putra daerah yang peduli terhadap nasib para pengrajin lokal. Nama “Heart of Spora” sendiri terinspirasi dari filosofi spora tanaman yang dapat memberikan harapan baru bagi lingkungan yang tandus. Harapan ini berasal dari ketulusan hati yang dapat menebarkan manfaat bagi para pemuda dan pengrajin lokal agar lebih berdaya.

Umum diketahui, pengrajin lokal yang hidup di bawah garis kemiskinan dan lapangan pekerjaan yang terbatas di desa menjadi sebab terjadinya arus urbanisasi. Banyak pemuda pergi meninggalkan kampung halamannya demi mendapat pekerjaan yang menjanjikan. Hal inilah yang menjadi cikal bakal visi dan misi dibentuknya HoS.

Source: Fan Page Heart of Spora

Visi yang diusung oleh HoS adalah Qualified product for better quality of life, sedangkan misi yang hendak dijalankan antara lain (1) Menggerakkan pemuda, terutama para pemuda daerah untuk turut mengembangkan daerahnya dengan memaksimalkan kearifan lokalnya, (2) Membuat masyarakat mandiri secara finansial serta mudahnya akses pendidikan dan kesehatan, dan (3) Mengkampanyekan 4 people power untuk berkontribusi bagi siapapun, yaitu: Donation, Volunteering, Sharing, dan Shop with us. Misi HoS tersebut nantinya akan dituangkan melalui koperasi dan yayasan.

 

Desa Grenggeng, Salah Satu Mitra Binaan HoS

Seperti sudah disinggung di awal tadi bahwa potensi besar yang dimiliki oleh Desa Grenggeng dengan produksi anyaman pandannya belum mampu menyelesaikan permasalahan ekonomi warga Desa Grenggeng.

Melalui banyak kunjungan dan studi lapangan dari tim kami, ternyata masalah yang timbul disebabkan oleh ketidakadilan perdagangan oleh para tengkulak dan terbatasnya akses pasar dan permodalan,” kata Tiara, Founder HoS.

Harapan yang ingin dicapai oleh HoS di Desa Grenggeng adalah terwujudnya kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat Desa Grenggeng. Langkah yang dilakukan yaitu melalui sistem perdagangan yang adil antara produsen dan konsumen dan menyediakan lapangan pekerjaan/ usaha baru bagi masyarakat.

Produk-produk Anyaman Pandan Desa Grenggeng (Source: Fan Page Heart of Spora)

 

HoS mengawali kegiatannya berkolaborasi karya dengan KUP Margo Rahayu Grenggeng pada Bulan April 2015, kemudian dilanjutkan dengan pembentukan tim internal dan sosialisasi program pemberdayaan HoS di Desa Grenggeng. HoS juga berkolaborasi dengan komunitas di Kabupaten Kebumen. Selain itu, pelatihan desain produk juga diberikan oleh tim HoS kepada warga Desa Grenggeng.

Tidak berhenti pada pemberdayaan masyarakat saja, berbagai kegiatan semacam expo baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional diikuti oleh HoS sepanjang tahun 2015-2016, seperti Bootcamp SE DBS Foundation & UKM Center UI;  Pesta Kriya 2015 Kebumen Expo; Pameran INACRAFT JCC; dan Pameran Gramedia. Pada Bulan Juli 2016, HoS terpilih sebagai 15 Social Enterprise Terbaik UnLtd Indonesia dan selanjutnya mendapatkan pendampingan dan mentoring bersama UnLtd Indonesia, uji pasar, dan kontrol kualitas.

 

Sosialisasi Kegiatan HoS

Target penerima manfaat dari pembinaan oleh HoS yaitu sebanyak 15.000 pengrajin anyaman pandan di Kabupaten Kebumen dan kaum muda lokal pencari kerja. Target sasaran lainnya yaitu masyarakat Kebumen, Pemda Kebumen, pemerhati sosial budaya, kaum muda yang tertarik dengan kegiatan sosial, budaya, industri kreatif, dan kearifan lokal.

Sosialisasi yang dilakukan kepada kelompok-kelompok binaan dilakukan secara langsung melalui tatap muka. Sementara itu, sosialisasi ke masyarakat umum dikenalkan melalui media online maupun offline, pameran-pameran, kompetisi, dan forum komunitas. Sosialisasi ke pemerintah dilakukan melalui advokasi Pemda dan SKPD terkait.

 

Peran Penting Media Digital dan Internet

Di era modern seperti sekarang ini, internet memiliki peranan penting dalam berbagai aspek. Hampir setiap harinya kebutuhan penggunaan internet tak pernah luput dari kehidupan kita. Begitu pun dengan HoS, untuk mendukung kegiatan-kegiatannya, internet berperan dalam membantu  menyebarluaskan campaign dan mengkomunikasikan ide dan program Hos pada masyarakat luas.

“(Peran media digital) cukup penting untuk membangun branding dan mengkomunikasikan program-program HoS kepada publik, terutama program-program campaign,” tutur Tiara.

Saat ini, dengan kecanggihan teknologi internet 4G LTE, berselancar di dunia maya semakin cepat sehingga lebih memudahkan dan mendukung pekerjaan yang butuh media internet. Melalui teknologi tersebut, kerajinan anyaman pandan Desa Grenggeng dapat semakin dikenal luas oleh masyarakat, bahkan tidak menutup kemungkinan nantinya kerajinan anyaman pandan bisa mendunia. Tentu saja ini tak lepas dari peran tim kreatif HoS yang tidak pernah kehabisan ide untuk share segala kegiatan, produk, dan program campaign melalui berbagai media sosial.

Cita-cita HoS

Masih banyak cita-cita yang ingin dicapai oleh HoS. Belum lama ini, HoS membentuk koperasi untuk bahan baku. Ke depannya, HoS ingin memasuki produksi produk jadi yang lebih inovatif dan menyiapkan sistem dan SDM untuk  wisata edukasi anyaman pandan. Namun, yang paling utama, HoS ingin meningkatkan kesejahteraan pemuda dan pengrajin. Langkah yang akan ditempuh yakni melalui yayasan dan koperasi dengan 3 tahapan: 1) Melatih keterampilan dan etika kerja, 2) Membuka akses dan jaringan untuk pemasaran dan distribusi. 3) Memberi akses permodalan untuk menumbuhkan lapangan usaha baru.

 

Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar di Jakarta. Indonesia baru akan bercahaya karena lilin-lilin di desa. –Mohammad Hatta

Belum genap dua tahun usia HoS tetapi kebermanfaatannya sudah dapat dirasakan oleh para mitra binaan pada khususnya. Salut untuk tim Heart of Spora yang selalu bersemangat menebar kebermanfaatan kepada masyarakat luas. Tidak banyak loh, pemuda-pemudi berprestasi dari almamater ternama yang mau “Mbalik Deso, Mbangun Deso” (Pulang Kampung, Membangun Kampung). Tidak banyak, tetapi pasti ada, dan Heart of Spora adalah buktinya.

Bagi yang ingin mengetahui tentang HoS lebih lanjut, bisa langsung kunjungi akun medosnya ya:

Fan Page FB: Heart of SPORA

Website: www.heartofspora.co.id

IG: @heartofspora

Source: Fan Page Heart of Spora

 

Please follow and like me:

Program SMSbunda: Upaya Menurunkan AKI di Indonesia

ANGKA KEMATIAN IBU

Angka Kematian Ibu, atau biasa disebut dengan AKI, di Indonesia masih belum juga mencapai target yang diharapkan. Pemerintah dan segenap jajarannya sudah sangat mengusahakan agar AKI bisa turun meskipun hasil penelitian selama beberapa tahun terakhir menunjukkan kalau AKI belum juga mencapai target dalam waktu yang diharapkan.

Kajian Human Development Report 2015 yang dirilis oleh  United Nation Development Program (UNDP), AKI di Indonesia berada pada posisi 190 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut masih sangat jauh dari target Millenium Development Goals (MDG’s) yang disepakati PBB, mestinya pada 2015 toleransi AKI adalah 102 kematian per 100.000 kelahiran hidup.  Menurut WHO dan UNICEF, tingkat kematian ibu dan bayi di Indonesia tertinggi  di kawasan Asia-Pasifik. Pada lima tahun terakhir, diperkirakan 9.600 perempuan meninggal setiap tahun akibat komplikasi selama kehamilan. (www.direktorijateng.com)

By the way, apakah kalian sudah familiar dengan istilah AKI? Menurut ICD 10, berikut ini definisi AKI (Angka Kematian Ibu):

Kematian Ibu adalah ”Kematian seorang wanita yang terjadi saat hamil atau dalam 42 hari setelah akhir kehamilannya (tanpa melihat usia dan letak kehamilannya) yang diakibatkan oleh sebab apapun yang terkait dengan atau diperburuk oleh kehamilan dan penanganannya. Namun, kematian ini tidak disebabkan oleh insiden dan kecelakaan.”

Kalau dijelaskan secara ringkas, kematian ibu menunjukkan lingkup yang sangat luas mencakup kematian ibu saat masa hamil, bersalin, dan nifas. Kematian ini bisa disebabkan oleh penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung di sini maksudnya adalah kematian yang disebabkan oleh penyebab langsung yang terkait dengan kehamilan dan persalinan. Contoh penyebab langsung (direct): perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, infeksi, partus macet, dan abortus. Sebaliknya, penyebab tidak langsung (indirect) maksudnya adalah kematian yang disebabkan oleh penyakit dan yang tidak terkait dengan kehamilan dan persalinan (semoga penjelasannya cukup bisa dimengerti ya).

PENCEGAHAN TERJADINYA KEMATIAN IBU

Berikut ini saya kutipkan paragraf dari Rencana Percepatan Penurunan AKI Nasional (RAN PP AKI) Kementerian Kesehatan RI tahun 2013:

Diperkirakan 15 % kehamilan dan persalinan akan mengalami komplikasi. Sebagian komplikasi ini dapat mengancam jiwa, tetapi sebagian besar komplikasi dapat dicegah dan ditangani bila:

1) ibu segera mencari pertolongan ke tenaga kesehatan

2) tenaga kesehatan melakukan prosedur penanganan yang sesuai

3) tenaga kesehatan mampu melakukan identifikasi dini komplikasi

4) apabila komplikasi terjadi, tenaga kesehatan dapat memberikan pertolongan pertama dan melakukan tindakan stabilisasi pasien sebelum melakukan rujukan;

5) proses rujukan efektif;

6) pelayanan di RS yang cepat dan tepat guna.

Dengan demikian, untuk komplikasi yang membutuhkan pelayanan di RS, diperlukan penanganan yang berkesinambungan (continuum of care), yaitu dari pelayanan di tingkat dasar sampai di RS. Jadi pada prinsipnya, jika ibu hamil atau bersalin yang mengalami komplikasi bisa mendapatkan pertolongan yang tepat waktu dan tepat guna, insyaAllah kematian ibu bisa dicegah. Namun, pada kenyataannya seringkali langkah-langkah pencegahan dan penanganan komplikasi tidak berjalan sesuai harapan karena keterlambatan di setiap langkah. Nah, apakah kalian pernah mendengar tentang “3 Terlambat”?

  • Terlambat mengambil keputusan: ini biasanya disebabkan oleh tradisi dan wewenang pengambilan keputusan di dalam keluarga. Selain itu, bisa juga disebabkan karena keluarga tidak mengetahui tanda bahaya yang mengancam keselamatan ibu hamil. Tenaga kesehatan mungkin juga berperan dalam keterlambatan ini misalnya dia terlambat mengidentifiasi komplikasi karena kompetensi yang kurang mumpuni.
  • Terlambat mencapai RS rujukan (rujukan tidak efektif): ini biasanya disebabkan masalah geografis dan ketidaktersediaan alat transportasi untuk merujuk pasien.
  • Terlambat mendapatkan pertolongan di RS rujukan: ini mungkin disebabkan karena ketidaktersediaan tenaga medis (SPOG, anestesi, anak, dll), obat-obatan, darah, dan fasilitas.

Well, kayaknya kompleks banget ya permasalahan AKI ini. Tapi percayalah, pemerintah dari tingkat lokal hingga nasional sangat bekerja keras untuk menangani masalah tingginya AKI di Indonesia. AKI ini bukan melulu urusan orang kesehatan lho ya, tetapi juga lintas sektor. Kita mesti bahu-membahu untuk bisa menyelesaikan PR besar ini.

Pemberdayaan masyarakat juga harus dijalankan, terutama bagi ibu hamil itu sendiri. Oleh karena itu, ibu hamil harus pandai dan sangat menjaga kehamilannya dengan cara menjaga asupan makanan bergizi, rajin berolahraga, mencari ilmu dan pengetahuan seputar kehamilan dan persalinan (terutama mengenal tanda bahaya yang mengancam keselamatan ibu dan bayi), tidak termakan mitos-mitos yang menyesatkan, rajin memeriksakan kehamilannya (ANC/ antenatal care). Semua ini demi keselamatan si ibu sendiri dan juga janin yang ada di dalam kandungan.

Nah, dalam rangka upaya menekan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencanangkan Program SMSBunda yang bertujuan untuk menurunkan hingga 25% angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir.

 

PROGRAM SMSBUNDA

Program SMSbunda merupakan satu di antara ikhtiar menyebarluaskan informasi kesehatan ibu hamil dengan basis pesan singkat atau SMS. Program ini digagas oleh Jhpiego dengan support pendanaan dari General Elektrik (GE) Foundation. Jhpiego adalah lembaga sosial dari John Hopkins University Amerika yang sudah 30 tahun membantu pemerintah Indonesia (Kementrian Kesehatan RI) dalam isu kesehatan masyarakat.

SMSBunda pertama kali diluncurkan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada April 2014. Hingga April 2016 tercatat sedikitnya 230.000 ibu hamil mengakses program ini yang tersebar sejumlah kabupaten/kota di Indonesia. Di Provinsi Jawa Tengah pada 2015 program ini secara resmi telah diluncurkan di 11 kabupaten/kota: Kota Semarang, Kudus, Grobogan, Kendal, Batang, Kab. Pekalongan, Kab. Tegal, Brebes, Banyumas, Cilacap dan Purbalingga. Program ini akan terus dioptimalkan dan akan direplikasi di seluruh kabupaten/kota.

Melalui program SMSbunda, ibu hamil yang terdaftar dapat menerima pesan kesehatan tentang kehamilan selama masa kehamilan, persalinan hingga bayi berusia dua tahun. Dengan bekal informasi ini diharapkan mampu mengurangi risiko saat melahirkan. Pesan SMSbunda bersumber dari buku panduan kesehatan yang diterbitkan oleh  Kementrian Kesehatan. Pesan yang diterima sesuai kebutuhan ibu hamil karena menyesuaikan usia kehamilan.

Manfaat SMSbunda adalah meningkatkan pengetahuan ibu tentang kehamilan, dapat mengidentifikasi tanda bahaya selama hamil dan nifas, serta dapat mencari pertolongan tepat waktu saat terjadi emergency.

Bagaimana Cara Mendaftar SMSbunda?

Cara mendapatkan layanan SMSBunda sangat mudah. Cukup mendaftar sekali melalui SMS ke nomor 0811-8469-468 dengan biaya Rp 200 (tergantung masing-masing operator) dengan menyebutkan hari perkiraan kelahiran. Ibu hamil akan menerima SMS gratis secara berkala tentang info kehamilan, persalinan, dan pascamelahirkan hingga bayi berusia dua tahun.

Berikut cara mendaftar SMSbunda:

  1. Daftar ke SMSbunda

Ketik REG <spasi> Perkiraan tanggal bersalin <spasi> Kota/ Kabupaten

Contoh: REG 05/07/2016 SEMARANG

Kirim ke nomor 0811-8469-468

  1. Ganti Tanggal Bersalin

Ketik LAHIR <spasi> Perubahan Tanggal Bersalin

Kirim ke nomor 0811-8469-468

  1. Daftarkan Teman ke SMSbunda

Ketik UNDANG <spasi> No. Hp Teman <spasi> Perkiran Tangal Bersalin <spasi> Kota/Kabupaten

Contoh: UNDANG 08123456789 05/07/2016 SEMARANG

Kirim ke nomor 0811-8469-468

PROGRAM SMSBUNDA DI JAWA TENGAH

Jawa Tengah merupakan satu dari 10 provinsi dengan AKI tertinggi. Pada tahun 2014, kasus ibu meninggal di Jawa Tengah mencapai 711 kasus dan bayi meninggal sebanyak 5.666 kasus. Itu artinya selama tahun 2014, setiap hari terdapat hampir dua orang ibu hamil meninggal dan hampir 16 bayi baru lahir meninggal tiap hari. Sedangkan pada 2015 terjadi sebanyak 619 kasus ibu meninggal dan 5.571 bayi meninggal dunia. AKI dan AKB di Jawa Tengah masih memprihatinkan. (www.direktorijateng.com)

Seperti kita ketahui bersama, Pulau Jawa adalah pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia dan Provinsi Jawa Tengah masuk ke dalam 5 provinsi terpadat di Indonesia menurut Data Sensus Penduduk 2010. Jadi, bisa disimpulkan ya kalau Provinsi Jawa Tengah juga merupakan 5 provinsi penyumbang AKI terbesar di Indonesia. Nah, upaya penurunan AKI di Jawa Tengah ini harus terus digalakkan agar nantinya jika AKI di Jawa Tengah bisa menurun, diperkirakan AKI nasional juga bisa ikut turun. Seperti disebutkan sebelumnya kalau Program SMSbunda  sudah diluncurkan di 11 kab/kota dan akan terus dioptimalkan dan direplikasi ke kab/kota lainnya. Semoga ikhtiar ini menjadi jalan untuk menekan AKI di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah. Aamiin…

Yuuuk para ibu hamil di seluruh Indonesia, kita daftar Program SMSbunda yuuuuk…… Kalau tidak dimulai dari pemberdayaan diri sendiri, siapa lagi yang akan peduli akan keselamatan jiwa ibu dan janin di dalam kandungan ibu? Kebetulan saya sendiri juga sedang hamil dan saya merasakan sendiri manfaat menjadi partisipan dalam Program SMSbunda ini, banyak sekali ilmu dan pengetahuan seputar kehamilan dan persalinan yang saya dapatkan melalui program ini 🙂

Referensi:

Dokumen RAN PP AKI 2013 – 2015, Kementerian Kesehatan RI

http://www.direktorijateng.com/2016/06/lomba-karya-jurnalistik-tentang-upaya.html

http://www.gandjelrel.com/2016/06/lomba-blog-sms-bunda.html

http://sp2010.bps.go.id/index.php

Please follow and like me:

Keluhan Terjawab dengan 6 Fitur Terbaru di Aplikasi #NewMyBlueBird

Sejak tahun 2012, tepatnya sejak saya mulai bekerja, saya adalah loyal customer Blue Bird. Tak terhitung berapa mil perjalanan yang saya tempuh bersama si ‘Burung Biru’ ini. Meskipun harga buka pintu dan tarif argometernya bisa dibilang tertinggi di antara armada taksi lainnya, tetapi soal kualitas boleh lah diadu. “Ada harga, ada rupa“. Walaupun demikian, masih banyak hal yang perlu dibenahi dari armada yang sudah beroperasi sejak tahun 1972 ini.

sumber: FanPage Blue Bird Group

Di jaman perkembangan teknologi begitu pesat seperti saat ini, kebutuhan masyarakat akan sesuatu yang praktis dan serba digital semakin haus untuk dipenuhi. Demikian pula dengan saya. Saya sempat merasa ribet dalam hal order taksi Blue Bird di saat saya harus buru-buru mobile dari satu tempat ke tempat lainnya. Jujur saja, saya mulai tertarik dengan taksi berbasis aplikasi online karena begitu banyak kemudahan dan efisiensi waktu yang saya peroleh. Hingga pada akhirnya saya tahu kalau Blue Bird juga memiliki aplikasi berbasis online yang baru dibenahinya. Hal ini cukup melegakan bagi saya karena saya dapat menikmati fitur-fitur terbaru dari aplikasi Blue Bird.

6 Fitur Baru #MyNewBlueBird

Aplikasi #NewMyBlueBird app bisa di-download di mybb.bluebirdgroup.com. Apa saja keluhan yang bisa teratasi dan kemudahan yang didapatkan dari aplikasi ini? Berikut ini kisah pengalaman pribadi saya dengan Blue Bird.

1. Ribetnya order taksi via Call Center

Ketika mobilitas saya tinggi, kecepatan dalam mengorder taksi menjadi kebutuhan yang tak bisa diabaikan. Nah, selama ini saya selalu order taksi melalui Call Center. Respon operator cukup cepat jika memang bukan saat peak hour ya. Namun, yang kadang bikin kesal adalah ketika saya harus menunggu nada sambung yang begitu lama dan telepon saya tidak diangkat-angkat oleh operator. Jika pun operator mengangkatnya, jawabannya adalah ‘kami carikan taksinya dulu ya Bu‘. Penantian itu sangat membuat hati ini galau! Padahal saya sedang buru-buru harus move on dari satu tempat ke lokasi tujuan. Satu hal lagi, pulsa jadi tidak irit kalau harus menelepon Call Center kan? 😛

Melalui aplikasi barunya, Blue Bird memberikan solusi: Dengan fitur “Advance & Multiple Booking” di #NewMyBlueBird, sekarang kita bisa memesan taksi sesuai waktu yang diinginkan. Bahkan, kita bisa membuat rencana dari hari sebelumnya sehingga kita tidak perlu lagi khawatir. Selain itu, fitur ini memudahkan kita untuk bisa memesan lebih dari satu taksi di saat yang bersamaan. Ini berguna sekali kalau kita sedang pergi berombongan dan perlu order lebih dari satu taksi dalam sekali waktu. Rasanya, inovasi ini baru dimiliki oleh Blue Bird saja ya.

Fitur “Advance & Multiple Booking” di #NewMyBlueBird

 

2. Apakah di sekitar lokasi saya ada taksi Blue Bird?

Pernah suatu siang saya sedang berada di Kota Semarang, saat peak hour. Saya mau mencegat Blue Bird di pinggir jalan tapi hasilnya nihil. Saya telepon operator untuk reservasi. Akhirnya, sudah hampir empat puluh menit berlalu, tapi si ‘Burung Biru’ tak juga terlihat batang hidungnya. Wasting time! “Kalau tau akan buang waktu kaya gini kan mending saya naik taksi lainnya, atau ngojek aja biar cepet,” omel saya dalam hati.

Melalui aplikasi barunya, Blue Bird memberikan solusi: Melalui fitur “Nearby Taxi”, sekarang kita bisa melihat berapa banyak taksi yang tersedia di titik penjemputan. Jadi, kita bisa semakin yakin untuk klik “Book Blue Bird Now” dan langsung order taksi (jika memang banyak taksi available di sekitar kita) atau kita pun bisa memutuskan untuk menggunakan moda transportasi lainnya jika memang tidak ada taksi yang available di sekitar kita saat kita sedang terburu-buru. Ini sangat memudahkan kita untuk mengambil keputusan, bukan?

Fitur “Nearby Taxi”

 

3. Attitude driver yang berbeda

Dari hasil chit-chat saya dengan beberapa driver Blue Bird yang ramah-ramah itu, saya mendapat banyak informasi tentang Blue Bird Group. Termasuk di antaranya syarat rekruitmen, fasilitas yang didapatkan oleh driver, beasiswa yang diberikan untuk anak-anak driver Blue Bird, training ketat yang diberlakukan kepada semua driver, apresiasi perusahaan dengan memberangkatkan umroh para driver, dsb. Dari percakapan-percakapan tersebut, saya menyimpulkan bahwa pelayanan dari para driver itu mostly memiliki standar yang sama, terutama dalam hal kesantunan dan keramahannya. Namun sayangnya, saya pernah menemukan satu di antara banyak driver itu yang impolite dan berujung pada komplain saya ke Call Center karena menurut saya tingkah si driver tersebut sangat menjengkelkan.

Melalui aplikasi barunya, Blue Bird memberikan solusi: Di Blue Bird, kualitas pelayanan yang baik selalu menjadi perhatian utama sehingga melalui  fitur “Driver Rating”, kini customer bisa memberikan penilaian kepada pengemudi. Hal ini akan menjadi masukan yang sangat berarti untuk memastikan perjalanan kita selanjutnya dengan Blue Bird agar selalu nyaman dan menyenangkan.

Fitur “Driver Rating”

 

4. Waspada dengan catat nomor pintu taksi dan nama driver

Sudah menjadi kebiasaan saya, setiap kali melakukan perjalanan dini hari atau pagi-pagi buta pasti perasaan saya was-was. Maklum ya karena di pemberitaan terkadang banyak mengabarkan info kejahatan yang dilakukan oleh pengemudi transportasi umum. Oleh sebab itu, saya selalu mencatat nomor pintu taksi. Tak lupa saya juga mencermati identitas driver yang terpampang di atas dashboard mobil. Info nomor pintu taksi dan nama driver tersebut selalu saya share ke keluarga dan teman-teman terdekat saya. Dengan demikian, jika ada sesuatu yang terjadi pada saya, harapannya si pelaku kejahatan bisa segera terlacak.

Melalui aplikasi barunya, Blue Bird memberikan solusi: Dengan fitur “Share My Journey” sekarang kita bisa share lokasi ke orang-orang terdekat dengan mudah dan praktis. Jadi, keluarga dan teman-teman kita bisa mengetahui posisi kita dengan tepat dan pasti di setiap perjalanan kita menuju destinasi.

Fitur “Share My Journey”

 

5. Galau karena taksi tak kunjung datang

Jika saya sudah berhasil reservasi taksi melalui Call Center, biasanya langkah selanjutnya adalah menanti si driver datang ke lokasi penjemputan. Masalahnya adalah, saat saya berpindah rumah, lokasi rumah saya berada di gang yang agak sulit terjangkau oleh taksi. Biasanya, operator akan menanyakan ancer-ancer lokasi penjemputan, tapi tetap saja kadang ancer-ancer itu membingungkan bagi driver yang tidak terbiasa melalui wilayah saya. Pada akhirnya, saya harus terpaksa menerima kenyataan si driver yang berputar-putar mencari jalan menuju ke lokasi rumah dan taksi tiba di lokasi tidak sesuai waktu yang diperkirakan.

Melalui aplikasi barunya, Blue Bird memberikan solusi: Dengan fitur “Tracking System & Call Driver”, kini kita bisa monitor keberadaan pengemudi atau meneleponnya langsung untuk memastikan. Jadi, ketika si driver ternyata berjalan menuju ke arah yang salah, kita bisa langsung menelepon dan memberitahunya agar kembali ke jalan yang benar :). Hal ini menurut saya sangat praktis karena kita tidak perlu melacak keberadaan driver melalui operator. Jadi, kita tidak perlu berkali-kali menghubungi operator karena sekarang kita bisa langsung berkomunikasi dengan si driver yang akan menjemput. Proses lebih cepat, dan tetap aman tentunya, karena nomor kita tidak akan muncul di sistem pengemudi. Lebih nyaman, kan?

Fitur “Tracking System & Call Driver”

 

6. Was-was dengan argometer yang angkanya terus berjalan

Satu hal yang terkadang membuat was-was ketika saya berkendara dengan taksi adalah pertanyaan dalam hati “Macet nggak ya jalanan? Duitnya cukup nggak ya buat bayar taksi?” Kemudian ekor mata ini tak lepas untuk melirik-lirik angka di argometer yang terus meningkat jumlahnya :P. Ah, sungguh membuat perjalanan terasa tidak nyaman gara-gara memikirkan kisaran biaya yang harus dibayarkan pada akhirnya.

Melalui aplikasi barunya, Blue Bird memberikan solusi: Dengan fitur “Fare Estimation & E-Receipt“, sebelum kita memulai perjalanan, kita bisa mencari tahu estimasi tarif yang harus kita bayarkan. Struknya pun akan langsung dikirimkan melalui email kita. Dengan begitu, perjalanan kita akan semakin nyaman dan kita terbebas dari rasa khawatir kekurangan uang. Praktis, bukan?

Fitur “Fare Estimation & E-Receipt”

 

Saran-saran terkait Optimalisasi Aplikasi

Penjelasan di atas merupakan keluhan-keluhan saya selama ini yang sudah terjawab melalui 6 fitur terbaru di aplikasi #NewMyBlueBird. Berikut ini beberapa masukan dari saya yang mungkin bisa digunakan oleh Blue Bird untuk semakin berbenah agar menjadi lebih baik lagi.

  1. Terkait dengan keluhan saya terhadap salah seorang driver yang sikapnya kurang sopan, di dalam aplikasi sebaiknya ditambahkan fitur “Customer Service” agar customer dapat langsung mengadukan keluhan kepada pihak manajemen. Selain itu, akan lebih baik lagi jika terjadi interaksi dua arah dari pihak manajemen dalam menindaklanjuti keluhan para customernya.
  2. Aplikasi menggunakan default bahasa inggris. Saya bisa mengerti bahwa customer Blue Bird di Indonesia tidak hanya didominasi oleh masyarakat lokal, tetapi juga foreigner. Menurut saya, akan lebih baik lagi jika di dalam aplikasi diberikan dua opsi bahasa yaitu inggris dan indonesia, mengingat masyarakat kita belum terlalu familiar dengan bahasa inggris.
  3. Untuk customer yang sering mengadakan perjalanan dengan Blue Bird taksi, mungkin bisa diberikan reward. Misalnya customer yang telah menempuh perjalanan dengan jarak tertentu dalam seminggu atau bisa juga dari jumlah frekuensi reservasi taksi yang dilakukan. Reward bisa berupa perjalanan gratis, point yang bisa di-reedem dengan voucher belanja 🙂 atau diskon-diskon saat melakukan perjalanan.
  4. Opsi pembayaran yang diberikan bisa ditambahkan dengan opsi “kartu kredit”. Hal ini untuk mengantisipasi customer yang tidak membawa uang cash dan tidak memiliki cadangan e-voucher. Menurut saya ini sangat bermanfaat karena terkadang saya sendiri merasa sangat dimudahkan dengan metode payment ini.

Overall, saya sangat senang dengan aplikasi online yang ditawarkan oleh Blue Bird beserta fitur-fitur barunya. Mudah-mudahan ke depannya Blue Bird semakin menunjukkan improvisasinya dan tetap mengutamakan profesionalitas dalam melayani konsumennya. Sebagai armada taksi terbaik di Indonesia, sudah selayaknya Blue Bird menjadi teladan bagi perusahan-perusahaan transportasi lainnya dalam memberikan kualitas pelayanan yang unggul dan bersahabat dengan masyarakat.

 

Please follow and like me:

Wajah Pelayanan Kesehatan di Indonesia Gara-Gara Ada BPJS Kesehatan

Dalam kehidupan ini, ada hal-hal yang terjadi dengan tidak pasti, misalnya sesuatu yang datang tak terduga yaitu sakit. Kita mungkin tak perlu terlalu khawatir jika sakit itu datang ketika kita masih berusia produktif, berpenghasilan cukup, dan mampu untuk menjangkau biaya pengobatan. Namun, ketika sakit itu datang saat usia kita sudah renta dan tak lagi berpenghasilan, bagaimana kita bisa mendapatkan perawatan dan pelayanan kesehatan yang memadai, terjangkau, kapan saja, dan di mana saja?

Menjadi peserta asuransi kesehatan mungkin bisa menjadi salah satu pilihan karena asuransi kesehatan dapat mengurangi risiko masyarakat menanggung biaya kesehatan dari kantong sendiri (out of pocket) yang kadang-kadang diperlukan biaya yang sangat besar dan dalam jumlah yang tidak bisa diprediksi. Akan tetapi, dengan asuransi kesehatan saja tidaklah cukup. Dalam hal ini, diperlukan Asuransi Kesehatan Sosial atau Jaminan Kesehatan Sosial karena premi asuransi kesehatan (komersial) relatif tinggi sehingga sebagian masyarakat tidak mampu menjangkaunya. Selain itu, manfaat yang ditawarkan oleh asuransi kesehatan (komersial) biasanya terbatas sehingga tidak semua biaya pengobatan dapat diklaim.

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikembangkan di Indonesia merupakan bagian dari program jaminan sosial yang diselenggarakan melalui BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Berdasarkan Undang-Undang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), Asuransi Kesehatan Sosial ini bersifat wajib (mandatory) dengan tujuan agar semua penduduk Indonesia terlindungi dalam sistem asuransi sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak. Salah satu prinsip yang diterapkan oleh BPJS adalah prinsip kegotongroyongan. Prinsip ini sudah mengakar dalam kebudayaan Indonesia. Lebih jauh lagi, prinsip ini dapat diartikan bahwa peserta yang mampu akan membantu peserta yang kurang mampu atau peserta yang sehat membantu peserta yang sakit. Hal ini tentu saja dapat terwujud karena kepesertaan dalam BPJS bersifat wajib untuk seluruh penduduk Indonesia. Dengan demikian, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia diharapkan dapat tercapai.

Sejak mulai dilaksanakannya BPJS Kesehatan pada tanggal 1 Januari 2014, mungkin kita sudah banyak mendengar pengalaman-pengalaman dari keluarga, kerabat, teman, tetangga, atau mungkin pengalaman pribadi dalam mendapatkan pelayanan kesehatan melalui sistem JKN ini? Jamak diketahui, suatu kebijakan baru umumnya menuai pro dan kontra. Banyak masyarakat yang sudah merasakan manfaat dari kepesertaannya dalam BPJS, salah satunya kakek saya sendiri yang biaya operasi kataraknya dicover sepenuhnya oleh BPJS. Melalui serentetan prosedur administratif yang harus dilalui, akhirnya proses operasi katarak bisa diselenggarakan dengan lancar. Demikian halnya dengan orang tua dari rekan sekantor saya yang harus menjalani operasi by-pass jantung. Keluarganya tidak lagi khawatir dengan besarnya dana yang harus dikeluarkan dari kantong sendiri karena semua biaya operasi pada akhirnya ditanggung oleh BPJS. Pengalaman lainnya, ketika saya berdiskusi santai dengan seorang sopir taksi yang baru pulih dari sakit Hepatitis-nya. Dia mengatakan walaupun antrian peserta BPJS yang harus dihadapi cukup panjang dan prosedurnya dianggap agak ribet, tetapi dia menyadari bahwa hal tersebut tidak sia-sia karena “harganya” tidak sebanding dengan seluruh biaya pengobatan yang sudah dibayarkan oleh BPJS. Dengan BPJS, kehidupan masyarakat tertolong tanpa harus menjadi jatuh miskin karena sakit yang dideritanya.

Boleh jadi, pernyataan saya di atas tidak disetujui oleh kaum yang kontra dengan kehadiran BPJS. Tidak sedikit yang mengeluhkan buruknya pelayanan yang mereka dapatkan sebagai peserta BPJS. Apakah benar, ini sepenuhnya salah BPJS? Dalam suatu kesempatan saya mewawancarai pasien-pasien peserta BPJS di beberapa rumah sakit, ada kesan kecewa dalam gurat wajah mereka disebabkan mereka merasa di-nomor-sekian-kan oleh para petugas kesehatan. Mungkin karena pasien-pasien tersebut adalah peserta BPJS sehingga pelayanan yang diberikan oleh fasilitas kesehatan tidak se-responsif jika mereka membayar dari dompet sendiri. Beberapa mengeluhkan panjangnya antrian rawat jalan. Sebagian lagi tidak terima karena orang sakit disuruh menunggu berbulan-bulan lamanya untuk mendapatkan jadwal operasi. Tak jarang juga pasien rawat inap yang kecewa karena tidak ditempatkan di kelas perawatan yang seharusnya. Kekecewaan juga dialami oleh rekan kerja saya ketika sedang berjuang mengobati anaknya yang sakit Demam Berdarah dan harus berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya demi mendapat fasilitas rawat inap seperti yang telah ditentukan dalam surat rujukan dokter puskesmas. Karena merasa ‘ditolak’ oleh beberapa rumah sakit, akhirnya rekan saya terpaksa membayar dengan dana pribadi untuk pengobatan anaknya tersebut. Semua kekecewaan, keluhan, dan ketidakpuasan ini gara-gara BPJS, benarkah demikian?

Lain kata pasien, lain lagi kata petugas kesehatan dan perangkat manajemen penyelenggara fasilitas kesehatan. Keluhan yang biasa diungkapkan oleh para dokter adalah sedikitnya jasa pelayanan yang didapat, jasa yang belum dibayarkan oleh BPJS, ribetnya proses pengisian rekam medis (terutama dikeluhkan para dokter spesialis atau sub-spesialis) yang harus lengkap terisi gara-gara BPJS, dll. Bagi perangkat rumah sakit, keluhan ada di seputar prosedur klaim yang ribet karena harus menyertakan kelengkapan dokumen pemeriksaan, proses verifikasi yang lama dan kadang berkas-berkas klaim dikembalikan lagi ke rumah sakit karena kurang lengkap, dll. Apakah ini semua juga gara-gara BPJS?

Seperti ditulis oleh Bapak Tonang Dwi Ardyantobahwa selama ini kita telanjur terjebak pada persepsi yang menimbulkan salah kaprah. Yang kita tahu adalah BPJS, bukan JKN sehingga kita pun terjebak untuk selalu menudingkan hampir semua hal dalam JKN kepada BPJS Kesehatan. Rupanya salah kaprah ini masih saja terjadi di tahun ketiga pelaksanaan JKN. Oleh karena itu, tidak heran jika akhir-akhir ini kita pun masih sering mendengar atau menjumpai kritikan-kritikan yang terlontar “gara-gara BPJS”.

Satu hal yang perlu digaris-bawahi dalam hal ini adalah banyaknya unsur atau “pemain” yang terlibat di dalam pelaksanaan sistem JKN ini. BPJS Kesehatan hanyalah satu dari sekian banyak “pemain” yang berperan di dalamnya. Unsur-unsur lainnya misalnya Kementerian Kesehatan dan fasilitas penyelenggara kesehatan (puskesmas, klinik, rumah sakit, dll). Jadi, sebenarnya kurang tepat jika semua kekacauan, kekecewaan, atau kesalahpahaman yang terjadi melulu ditudingkan kepada BPJS. BPJS itu fungsi utamanya mengatur kepesertaan dan mengelola dana amanat atau iuran rakyat. Urusan outcomepelayanan kesehatan, besaran jasa pelayanan, kebijakan yang terkait dengan pelayanan di fasilitas kesehatan semua murni urusan internal fasilitas kesehatan itu sendiri dan bukan ranah BPJS.

Ibarat bayi, di usianya saat ini BPJS masih belajar berjalan. Dukungan berbagai pihak sangat diperlukan agar tujuan Universal Health Coverage (jaminan kesehatan bagi semua penduduk) di tahun 2019 bisa terwujud. Oleh karena itu, fasilitas kesehatan dan segenap perangkatnya harus mau berbenah diri, Kementerian Kesehatan perlu terus mensupport, demikian juga dengan masyarakat Indonesia harus mau bergotong-royong dalam membangun kesejahteraan kesehatan di masa depan.

Mari kita bahu membahu demi Indonesia yang lebih sehat. Dengan bergotong royong dalam beriuran, secara tidak langsung peserta yang mampu akan membantu peserta yang kurang mampu secara finansial atau peserta yang sehat membantu peserta yang sakit. Dengan demikian, tidak ada lagi masyarakat Indonesia yang menjadi miskin karena sakit dan tidak ada lagi stigma bahwa orang miskin dilarang sakit.

Referensi:

Buku Pegangan Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional, Kemenkes RI

JKN Bukan BPJS: Sampai Kapan Salah Kaprah Ini? (Tonang Dwi Ardyanto)
Selengkapnya: http://www.kompasiana.com/tonangardyanto/jkn-bukan-bpjs-sampai-kapan-salah-kaprah-ini_56d4b7fa90fdfdc02fb1b6e7


DISCLAIMER: Tulisan ini diikutkan dalam Blog Competition yang diselenggarakan oleh Kompasiana.

Artikel dipublikasikan di http://www.kompasiana.com/eskaningrum/wajah-pelayanan-kesehatan-di-indonesia-gara-gara-ada-bpjs-kesehatan_5766c8ed82afbdc209b924ed

Please follow and like me:

Apakah #BahagiadiRumah adalah Sebuah Pilihan?

Belajar dari filosofi ikan salmon, mereka ditetaskan dari telur-telur di perairan tawar, lalu bermigrasi ke lautan untuk menghabiskan hidupnya bertahun-tahun. Setelah dewasa, salmon-salmon akan menempuh perjalanan kembali ke tempat di mana mereka ‘dilahirkan’. Dalam perjalanannya yang tak singkat, salmon akan menemui berbagai kesulitan, risiko, dan ancaman kematian. Tetapi mereka akan tetap kembali, tanpa ada yang tahu apa alasannya yang pasti.

Sumber: www.bendbulletin.com

Tidak hanya salmon, manusia pun demikian adanya. Sejauh-jauh kita pergi meninggalkan tempat asal kita, suatu saat pasti kita akan rindu untuk kembali. Kembali ke peraduan, di mana berlimpah kehangatan dan kasih sayang keluarga. Kembali ke rumah. Kembali ke pelukan ibu dan bapak.

Berbicara tentang ibu sama halnya menghadirkan sebuah kerinduan yang mendalam. Sebagai anak rantau yang hampir sembilan tahun berjauhan dengan keluarga, merupakan kebahagiaan tersendiri ketika saya berkesempatan pulang ke rumah dan menemukan sosok ibu dengan senyum merekah di wajah yang kian tampak garis kerutannya. Saya rindu menghirup aroma teh buatannya, mencicip masakan-masakannya, mencium aroma keringat tubuhnya, melihat senyumannya, dan mendengar omelan-omelan kecilnya.

Ibu adalah seseorang tangguh yang selalu hadir di sepanjang hidup saya dan adik-adik. Sejauh ingatan saya, ibu belum pernah meninggalkan kami dalam jangka waktu yang lama, sehari-dua hari pun tidak! Ketika sosok ibu ‘menghilang’ beberapa jam saja dari pandangan mata kami, mulut-mulut kecil kami akan selalu bertanya-tanya mencarinya. Ah, begitu mudahnya rindu itu datang. Kehadiran ibu selalu membuat hati ini tenang. Pantas saja, ketika ibu pergi ke tanah suci beberapa waktu lalu, uraian air mata kami jatuh tak terbendung. Ibu belum pernah meninggalkan kami untuk waktu yang lama, sehari-dua hari pun tidak! Entah kekuatan magis apa yang membuat sosok seorang ibu selalu dirindu kehadirannya.

***

Dalam hitungan bulan, saya, adalah seorang perempuan yang (atas izin-Nya) akan menjalani peran baru sebagai seorang Ibu. Perlahan namun pasti, saya mencoba memahami bahwa seorang ibu memiliki peran yang tidak main-main dalam sebuah keluarga. Ibu adalah jantung keluarga yang harus terus berdegup untuk bisa melanjutkan nafas demi nafas kehidupan.

Berkaca dari sosok ibu saya, ketika nanti saya menjadi seorang ibu, saya ingin menjadi seseorang yang jarang absen dalam kehidupan anak-anak, yang keberadaannya selalu dinantikan, yang masakan-masakannya selalu dirindukan, yang selalu hadir dalam setiap tahap pertumbuhan anak-anaknya. Terlalu idealiskah? Mungkin, dulunya ibu saya pun tidak pernah punya cita-cita demikian. Beliau tidak berburu ilmu parenting seperti ibu-ibu modern masa kini, beliau yang awam hanya berusaha menjalani perannya saja, let it flow. Akan tetapi, justru hal-hal tersebut yang kemudian menginspirasi dan menjadi motivasi saya: untuk selalu ‘hadir’ di tengah keluarga.

Pada akhirnya, saya harus menentukan jalan untuk beberapa episode ke depannya, akankah tetap menjadi working mom atau stay-at-home-mom? Saya tidak sedang terjebak dalam perdebatan mana yang lebih baik dan mana yang tersudutkan. Apapun keputusan saya nantinya, tentunya hal itu akan menjadi salah satu keputusan tersulit bagi saya yang sudah telanjur mencintai pekerjaan tetapi di sisi lain saya ingin memaksimalkan peran saya sebagai jantung keluarga.

Untuk benar-benar menjadi ibu rumah tangga, saya sangsi, suami pun sangsi. Saya adalah orang yang tidak bisa berdiam diri di rumah. Jadi, pesan suami di sela-sela diskusi akan hal ini “kamu harus cari aktivitas biar tetap produktif dan nggak bosan di rumah”

Well, keputusan memang belum diambil. Saya sedang menata diri, juga menata batu-batu loncatan yang sekiranya bisa saya pijak untuk melangkah ke depannya. Toh kehidupan menawarkan beragam pilihan, kita tinggal ikhtiar dan pilih jalannya ‘kan? Perihal apakah saya bahagia, ah… itu saya yang harus menciptakannya sendiri.

Saya harus selesai dengan diri saya. Baiklah, barangkali, jika saya memutuskan untuk stay di rumah dan resign dari pekerjaan, saya jadi bisa menyalurkan keinginan dan hobi saya yang kemarin dulu belum sempat terealisasi karena kesibukan di kantor. Misalnya, saya bisa mencoba resep-resep masakan, mempelajari ilmu baking, menanam bunga, menulis lebih konsisten, dan tentunya saya memiliki waktu lebih banyak untuk ber-quality time bersama keluarga. Semua itu merupakan sumber kebahagiaan tersendiri bagi saya.

Selain itu, jika saya memilih untuk stay di rumah, saya jadi bisa lebih fokus mempersiapkan diri untuk mencapai cita-cita yang masih tertunda yaitu melanjutkan studi master di negara-empat-musim. Oh ya, sebelum ini, tepatnya hingga tahun lalu, saya adalah seorang scholarship hunter yang sudah beberapa kali mengajukan aplikasi ke beberapa universitas di luar negeri dan beberapa lembaga pemberi beasiswa. Namun, segalanya masih menuai hasil ‘nyaris berhasil’ atau ‘masih gagal’. He he he….

Kalau memang mau jadi ibu rumah tangga, ngapain sekolah lagi?

Saya berprinsip bahwa seorang perempuan, di manapun ia berpijak nantinya, harus berpendidikan tinggi. Hal ini berlaku bagi yang ingin berkarir maupun menjadi ibu rumah tangga. Kita tahu bukan, bahwa seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya? Jadi sudah selayaknya seorang ibu, baik yang bekerja atau tidak, sebaiknya berpendidikan tinggi. Lagipula, hidup itu berjalan begitu dinamis. Bisa jadi hari ini kita menjadi wanita karir, tapi kemudian menjadi full-time mom, lalu ketika anak-anak sudah besar kita bisa menjadi apa saja sesuai passion kita, bukan? Jadi, belajarlah sebanyak-banyaknya.

Dalam rangka mempersiapkan diri menjelang keputusan yang akan saya ambil nantinya, kini saya lebih mengeksplorasi dunia tulis-menulis, terutama blog. Jadi, seandainya pun saya menjadi stay-at-home-mom, saya sudah berbekal pengetahuan dan ilmu menulis yang bisa diaplikasikan di mana saja. Dua bulan lalu, niat saya menjadi seorang blogger yang lebih serius diawali dengan berpindahnya alamat blog ke domain sendiri. Setelah itu, saya termasuk cukup rajin mengikuti beberapa kegiatan komunitas blogger dan event-event yang mengupas tentang dunia blogger.

Salah satu event yang saya datangi adalah “Ngobrol Inspirasi Bareng Nova” pada 26 Februari 2016 lalu dalam rangka NOVAVERSARY, yaitu event perayaan 28 tahun Tabloid NOVA menemani sahabatnya. Dalam acara tersebut, dihadirkan tiga narasumber yang membahas tentang seluk beluk blog, vlog, dan cara memotret yang baik.

Hal yang berbekas dalam ingatan saya adalah tema campaign NOVA: “Happy Home, Happy Life”. Tidak pernah ada sekolah khusus untuk menjadi seorang perempuan atau seorang ibu. Untuk itulah, NOVA mencoba menjadi sahabat perempuan melalui berbagi pengalaman dari para expertise di bidangnya masing-masing.

Menurut Pimred Tabloid Nova, menciptakan “Happy Home, Happy Life” bisa dimulai dari diri kita sendiri. Well, ini berarti suasana bahagia di rumah adalah pilihan yang bisa kita ciptakan sendiri, bukan? Mungkin definisi bahagia itu relatif berbeda bagi masing-masing individu. Yang pasti, kebahagiaan itu terletak pada bagaimana kita bersyukur terhadap jalan kehidupan yang kita pilih dan garis takdir yang kita hadapi. Jadi, bersyukurlah jika ingin hidup bahagia 🙂

Please follow and like me: