Nak, Selalu Ada Cinta dalam Untaian Doa Untukmu

Saya bekerja di salah satu pusat riset di kampus. Usai cuti melahirkan dan saya harus kembali ke rutinitas pekerjaan, hari pertama masuk kerja Halwa dititipkan di daycare. Jangan tanya bagaimana perasaan saya waktu ninggalin dia di sana ya, campur aduk dan baper banget!

Saat saya masuk kantor dan berjumpa dengan Bapak-Ibu Profesor dan teman-teman, mereka menanyakan di mana anak saya. Saya jawab  “daycare”. Tahu apa respon mereka? Mereka kompak menasehati saya agar jangan titip Halwa di daycare, kalau memang saya belum punya asisten, bawa saja Halwa ke kantor. WOW! Saya bener-bener terharu diizinkan membawa bayi saya ke kantor. Ah rasanya bahagia dan bersyukur banget bekerja di lingkungan seperti ini, tempat yang sangat ramah dan bernuansa kekeluargaan.

Sejak saat itu, dimulailah hari-hari saya membawa Halwa ke kantor setiap hari hingga dia berusia 10 bulan. Saya cukup bahagia karena di saat working mom di Indonesia pada umumnya hanya punya waktu intens bersama anak selama 3 bulan saat cuti, saya punya waktu yang lebih panjang lagi. Tapi jangan salah ya, beban pikiran saya juga semakin bertambah. Continue reading “Nak, Selalu Ada Cinta dalam Untaian Doa Untukmu”

Please follow and like me:

Resolusi 2018: Ingin Menjejakkan Kaki ke Benua Eropa

Akhir November kemarin saya mendapati satu email dari nama yang nggak asing buat saya, Ms. Willems. Saat saya baca emailnya, ternyata beliau “mengundang” saya untuk datang ke Program Short Course di Negeri Kincir Angin. Memang sudah menjadi impian saya untuk bisa menjejakkan kaki di Benua Eropa, khususnya untuk bersekolah di sana. Bahkan hal itu sudah menjadi resolusi saya dari tahun 2016 hingga sekarang. Namun, impian untuk mengambil studi master harus tertunda sementara waktu karena dalam perjalanan menuju impian saya itu, saya mendapat rejeki lain yaitu suami dan anak. Karena saat ini waktunya belum memungkinkan untuk saya studi overseas dua tahun, saya putuskan untuk mendaftar short course yang waktunya lebih singkat.

Bagi siapapun yang mengaku sebagai Scholarship Hunter, pasti ngerti banget hal-hal apa saja yang harus diperjuangkan untuk bisa bersekolah di luar negeri dan mendapat beasiswa. Tentunya ada dua hal penting yang jadi kunci utama: LoA (Letter of Acceptance) dari universitas tujuan dan beasiswa. Untuk mendapat satu dari kedua hal itu juga bukan perkara mudah. Ada banyak hal yang harus dikorbankan baik dari segi waktu, biaya, energi, dan pikiran. Sebelum ke arah sana pun kita harus mengumpulkan banyak informasi tentang cara pendaftaran, deadline, persyaratan, pilihan program studi, funding, dll. Mungkin lain kali akan saya bahas mengenai hal ini ya. Continue reading “Resolusi 2018: Ingin Menjejakkan Kaki ke Benua Eropa”

Please follow and like me:

Sabtu Kelabu: Tentang Kehilangan

Memasuki bulan Desember kali ini, saya excited menjelang liburan panjang di akhir tahun. Tiket kereta sudah ada di tangan. Kami sekeluarga berencana pulang kampung ke sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Kebumen. Sudah hampir setengah tahun saya tidak pulang ke kota kelahiran. Rencananya kami –saya, suami, dan baby Halwa– akan berlibur dari sebelum Natal hingga selesai Tahun Baru.

Jumat pagi, saya dan suami (Mas Ry) berjalan-jalan pagi bersama Halwa. Sudah menjadi kebiasaan kami saat libur untuk menyempatkan jalan-jalan di sekitar rumah. Apalagi, suasana pagi di kawasan Kampus UI Depok sangat cocok untuk berolahraga atau hanya sekadar menikmati udara segarnya. Pagi itu, saya bercerita kepada Mas Ry soal mimpi saya semalam tentang meninggalnya simbah kakung (kakek). Konon katanya, mimpi buruk pantang diceritakan. Mimpi buruk juga tidak boleh ditafsirkan karena tidak semua mimpi itu benar dan mimpi mungkin hanya bawaan perasaan atau bisikan hati. Namun, kali itu saya merasa perlu menceritakan perihal mimpi saya pada suami dengan tujuan untuk antisipasi seandainya hal itu sungguh terjadi.

Halwa (saat usia 1 bulan) bersama simbah buyut

Sejak sebulan terakhir ini simbah kakung memang kerap sakit-sakitan: mulai dari terjatuh di dekat sumur hingga kepalanya sakit, katarak yang hendak dioperasi, hingga kabar terakhir mengatakan simbah stroke karena terjadi penyumbatan pembuluh darah di otak sehingga beliau harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari terakhir. Siang hari itu, terlepas dari firasat mimpi buruk saya semalam, saya mendapat kabar bahwa kondisi simbah kritis dan harus dirawat di ICU. Pikiran saya tidak tenang, doa selalu saya lantunkan memohon yang terbaik untuk simbah.

Continue reading “Sabtu Kelabu: Tentang Kehilangan”

Please follow and like me:

Rekreasi ke Waterbom PIK dengan Kupon Diskon BambiDeal

Menjelang weekend minggu lalu, saya ingin mengajak Halwa berenang. Biasanya kami berenang di waterpark dekat rumah yang HTM-nya 35.000 saat weekend. Kali itu saya ingin sekalian ajak Halwa jalan-jalan yang agak jauhan tapi tetap dengan harga murah. Hehe. Passss banget buka BambiDeal, ada diskon tiket masuk ke Waterbom Pondok Indah Kapuk (PIK) dari harga Rp 270.000 menjadi Rp 85.000. Wow banget kan? Kapan lagi dapat diskonan 69%. Setelah diskusi dengan Mas Ry, akhirnya kami putuskan untuk rekreasi ke Waterbom PIK. Continue reading “Rekreasi ke Waterbom PIK dengan Kupon Diskon BambiDeal”

Please follow and like me:

Mengatasi Napas Grok-grok pada Bayi

Nggak terasa usia baby Halwa menjelang satu tahun. Dikaruniai anak yang sehat, pintar, lincah, pertumbuhan dan perkembangan sesuai tahap usia adalah hal yang patut disyukuri.

Flashback setahun lalu saat saya dan mas Ry hanya berduaan saja (tanpa keluarga) menghadapi persalinan, saat menegangkan di ruang bersalin, hingga masa setelah Halwa lahir. Namanya juga perantau, kudu mandiri donk Mak! Pengasuhan Halwa pun mostly ditangani saya dan Mas Ry.

Jauh-jauh hari sebelum Halwa lahir, saya melakukan beberapa persiapan “ilmu” untuk menghadapi situasi tidak-ada-yang-membantu-merawat Halwa, antara lain dengan membaca buku-buku pengasuhan dan perawatan bayi. Mengikuti Whatsapp grup support ASI Eksklusif, mengikuti seminar pre-natal, dll. Untuk apa? Biar nggak panik-panik amat pas punya bayi nantinya, Mak.

Seminggu setelah Halwa lahir, semua berjalan baik-baik saja tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah ya. Nah, saat Halwa berusia 2-3 minggu, mulailah kepanikan terjadi. Saat itu saya mendengar napas halwa bunyi “grok grok” kasar seperti ada yang menyumbat jalan napasnya. Meskipun tadi saya bilang sudah “persiapan ilmu” sebelum punya bayi, tapi tetap saja menghadapi realita itu lumayan bikin emak panik, he he he. Apalagi waktu itu Mas Ry sudah pergi ke kantor, saya hanya berdua saja dengan baby Halwa dan napas grok-grok-nya. Maju mundur mau periksa ke dokter anak sambil mikir: “Ini wajar nggak ya? Perlu ke dokter nggak ya?” (Ngaku deh, sebagian ibu yang baru punya satu anak pasti pernah begitu juga kan, panikan, bertanya-tanya anak saya begini wajar nggak, anak saya nggak poop berhari-hari wajar nggak, anak saya nggak mau nyusu maunya bobo mulu wajar nggak? Hehehe, begitulah ya emak baru).

Akhirnya saya cari tahu tentang napas grok-grok pada bayi. Saya tanya ke teman yang berprofesi dokter dan dia sudah lebih berpengalaman mengasuh 3 orang anak. Menurutnya, napas yang berbunyi tersebut disebabkan karena terdapat lendir di saluran napasnya dan ini umum terjadi pada newbon. Dia sarankan olesi transpulmin yang bisa dibeli di apotek dan sering-sering jemur Halwa pagi hari. Hari itu juga saya minta Mas Ry mampir apotek sepulang dari kantor. Beli si transpulmin yang dimaksud. Oh ya ternyata transpulmin ada dua macam, untuk anak di bawah 2 tahun dan di atas 2 tahun. Jadi, untuk Halwa saya beli Transpulmin BB (Balsam Bayi).

Untuk selanjutnya, Transpulmin BB ini selalu saya gunakan jika Halwa terindikasi batuk pilek (selesma / commom cold).

Continue reading “Mengatasi Napas Grok-grok pada Bayi”

Please follow and like me:

The Best Gift is Love

Seseorang pernah berkata pada saya enam tahun lalu, “Kalau nggak mau kecewa dan sakit hati, jangan jatuh cinta dulu karena wanita lebih rentan patah hati”. Jawaban itu keluar dari seorang kakak, di hari pernikahannya, saat saya bertanya bagaimana akhirnya dia memilih laki-laki sebagai pendampingnya. Dalam hati saya salut, sambil membatin “Bagaimana bisa ya menikah tanpa jatuh cinta. Dia bisa, tapi saya belum tentu bisa seperti dia. Kondisi ini tidak berlaku untuk semua orang”.

Dua tahun yang lalu….

Mei 2015. Sepulang dari Jepang setelah menghadiri konferensi ilmiah di Yokohama, saya landing di Soekarno Hatta dan sedang menanti bagasi. Ada seorang teman mengirim chat bermaksud mengenalkan seorang laki-laki pada saya. Jujur saja saya agak malas meresponnya. Saya malas dengan topik perjodohan, apalagi menikah, karena tekad saya bulat untuk memperjuangkan kembali kesempatan studi master di UK. Marriage is 1000 miles away… Malam itu, di tengah lelah dalam perjalanan taxi menuju Depok, saya memaksakan diri untuk berbasa-basi merespon teman saya karena nggak enak kan ya kalau langsung menolak.

Juni 2015. Entah bagaimana awalnya, saya yang sekadar berbasa-basi dan bermaksud menolak halus tawaran perkenalan dari teman saya itu, akhirnya dipertemukan dengan si laki-laki. Dan entah kenapa, saya bersedia sampai tahap itu. Saya sendiri bingung. Kami ketemuan bertiga: saya, teman saya, dan si laki-laki. Setelah ketemuan itu, saya berniat nggak akan melanjutkan ke tahap lebih serius. Sudah stop saja lah. Saya mau fokus lanjut studi dulu. Tapiii, lagi-lagi si pihak lelaki berniat untuk ke tahap serius. Nah loh, saya harus cari alasan buat nolak dengan elegan #lho.

Juli 2015. Saya berniat menolak, by evidence based. Iya harus berdasar bukti biar logis. Nggak hanya sekadar “I dont like you” kemudian kelar perkara. Karena jiwa researcher sepertinya sudah tertanam dalam mindset, saya minta waktu kurang lebih 2 minggu untuk mengeksplor si laki-laki. Saya ajukan beberapa pertanyaan kualitatif, melakukan indepth interview, tidak lupa triangulasi informasi *halaah*. Jarak usia dan perbedaan background menjadi salah satu hambatan untuk bisa menggali informasi tentang si laki-laki. Akhirnya, setelah saya berhasil mengumpulkan cukup informasi dari beberapa sumber, saya berkesimpulan bahwa saya belum menemukan celah untuk menolak si laki-laki ini. Selanjutnya, saya hanya pasrah beristikharoh dan menyerahkan ke ortu saya.

Agustus 2015. Sebulan setelah si laki-laki menemui ortu saya, diadakan pertemuan antarkeluaga untuk melakukan prosesi lamaran. Saya masih agak kaget dan nggak menyangka bisa sampai tahap ini.

September 2015. Sebulan setelah proses lamaran dan pertemuan kedua keluarga, kami menikah. Taraaaaa………. (Happy Ending).

Singkat cerita, begitulah bagaimana saya dan si laki-laki, sebut saja Mas Ry, menikah. Prosesnya secepat kilat. Mungkin begitulah yang namanya takdir ya. Kurang dari empat bulan berkenalan, berakhirnya di pelaminan. Awalnya tentu saja saya dipenuhi keraguan karena belum berencana menikah (apalagi secepat itu) tapi akhirnya dipertemukan juga dengan pendamping hidup. Tentunya masih banyak cerita tentang kebimbangan di dalamnya (yang tidak saya kupas tuntas) hingga akhirnya saya memutuskan untuk menikah.

Apakah saya cinta Mas Ry?

Jujur saja tidak ada cinta di awalnya. Ternyata kalimat enam tahun lalu yang dikatakan seorang kakak terjadi juga pada saya. Bahwa, bisa ya menikah tanpa ada rasa cinta. Iya sangat bisa, saya sudah membuktikannya sendiri. Koq bisa? Entah ya, saya hanya berbekal istikharoh dan tiba pada keyakinan bahwa Mas Ry adalah seseorang yang ditakdirkan untuk saya. Dia adalah jawaban dari doa-doa saya.

Setelah menikah, masa sulit bagi saya dan Mas Ry untuk beradaptasi satu sama lain. Saya yang defaultnya belum mahir dan disiplin mengurus diri sendiri, tiba-tiba harus “dibebani” untuk mengurus Mas Ry. Meskipun Mas Ry tipikal orang mandiri dan nggak banyak menuntut, ada dorongan kuat dalam diri saya bahwa seorang istri harus bisa masak, rajin bangun pagi, rapi mengurus rumah, dan minimal menyiapkan secangkir teh untuk suami. Aduhai itu beban berat buat saya loh.

Ke tukang sayur  saya lebih sering kesiangan dan kehabisan sayuran. Di tukang sayur pun, kadang saya masih suka tanya-tanya mana lengkuas dan mana jahe, atau pertanyaan tentang bumbu yang dipakai untuk masak sayur ini dan itu. Tukang sayur adalah saksi hidup betapa kemampuan masak saya di bawah rata-rata. Hahhaa. Nguprak resep dan mengolah sayur lauk bisa menghabiskan 2 jam di dapur. Effort yang besar buat saya loh untuk bisa menyiapkan hidangan makan malam dan sarapan. Dan saya akan sangat kesal kalau Mas Ry makannya cuma sedikit. Iya dulu saya sering ngambek dan nangis karena merasa usaha saya nggak dihargai, padahal sih mungkin memang rasa masakannya yang nggak enak. Hehe.

 

Kapan ada cinta?

Saya mulai bisa merasa nyaman hidup dengan Mas Ry adalah saat saya menyadari bahwa rasa sayangnya ke saya begitu besar, terutama saat saya hamil baby Halwa. Awal kehamilan yang tidak mudah bagi saya karena obgyn berkata ada risiko keguguran sehingga saya harus bedrest beberapa minggu. Mas Ry selalu bisa menenangkan dan menguatkan saya saat itu. Dia pernah ijin pulang dari kantor hanya demi memastikan istrinya mau makan siang. Dia pernah menerjang hujan demi memenuhi permintaan istrinya yang sedang ngidam sate. Dia yang ikhlas dicubit istrinya kalau mengendara motornya nggak smooth, sudah begitu masih dibandingkan pula dengan abang gojek yang mengendara motornya lebih pelan karena tau penumpangnya hamil. Dia yang bersemangat bangunin dan anterin istri di Minggu pagi agar istrinya mau ikut prenatal yoga, kalimat pamungkasnya kalau saya males-malesan bangun “Ini yang hamil siapa ya, kenapa aku yang ribut”. Hehehe. Dia juga selalu menemani dan antar jemput saya di setiap aktivitas. Dia menurut saja saat saya “jerumuskan” dia untuk ikut kelas persalinan, kelas edukasi ASI, dan aktivitas yoga couple.

Saat baby Halwa lahir, kami berdua yang notabene perantau hanya berdua-duaan saja menyambut baby Halwa di RS. Mas Ry membuktikan dirinya pantas dilabeli suami siaga, dia yang mondar-mandir mengurus segala hal. Tidak sekalipun mengeluh walaupun saya tahu raut wajahnya menunjukkan kelelahan.

Saat saya terkena baby blues syndrom pascamelahirkan, Mas Ry dengan sabarnya saban hari mendengarkan curhatan saya yang isinya itu-itu saja: lelah menjaga bayi seorang diri, nyerinya puting lecet, bekas jahitan yang masih nyut-nyutan, pekerjaan kantor yang tak kunjung selesai (walaupun saya ambil cuti tapi masih ada PR yang harus saya kerjakan). Hampir setiap pulang kantor dia mendapati istrinya menangis sesenggukan atau bermata sembab sambil mewek bilang “Kayaknya aku belum pantes jadi seorang Ibu. Aku belum siap punya anak”. Mungkin dalam hatinya Mas Ry bilang “Lha itu bayi udah brojol tapi koq belum siap punya anak” *tepok jidat* haha.

Begitulah kurang lebihnya, cinta itu tumbuh subur karena dipupuk. Ternyata sayang dan cinta bisa dibangun melalui proses. Meskipun tidak pernah ada bucket bunga untuk saya, bukan berarti dia tidak sayang. Kata Mas Ry, daripada uangnya buat belikan bunga kan mending buat beli durian, bisa dimakan. Ya ya ya, itulah suami saya. Efisien. Kami jarang sekali mengumbar keromantisan di media sosial. Boro-boro saling komentar semacam “I love you” di status update, lha wong update status saja kami jarang melakukan. Kalau pun tag atau mention, paling bagus hanya di-like or love oleh si pasangan. Kalau lagi sama-sama kurang kerjaan barulah kami saling berbalas komentar, haha.

Romantis yang belakangan ini saya maknai adalah saat dia selalu ada untuk saya, menyodorkan bahu atau menawarkan dekapan saat saya dalam situasi insecure. Romantis tidak melulu ditampilkan menjadi konsumsi publik, cukup kami yang meresapinya sepenuh jiwa. Pada akhirnya, dialah si romantis yang selalu bisa saya andalkan dan saya sayangi.

Kejutan untuk si dia

Kami jarang saling memberi gift untuk kejutan, tapi kami sering mengejutkan satu sama lain (hehe). Bagaimana tidak terkejut kalau apa yang baru saja terlintas di pikiran, ternyata bisa seolah “dibaca” oleh si dia? Entah saya ataupun Mas Ry sering sekali merasakan hal itu. “Itu yang namanya sehati kali ya”, kata Mas Ry. Saya hanya mengangkat bahu.

Pernah suatu ketika dengan sengaja saya tanya hadiah apa yang sedang dia inginkan? Tanpa basa basi, langsung dijawab: “Jam Tangan”. Langsung saya mengecek harga jam tangan, Mas Ry lanjutin lagi “Jam Tangan Suunto Ambit3”. Pas saya cek detilnya, ya ampun harganya mahal hahahaha. Jadi urung niat mau kasih hadiah dalam waktu dekat, perlu nabung-nabung dulu kalau harganya selangit begitu sih.

Tapi menurut saya nggak apa juga kalau suatu saat saya benar-benar menghadiahi  si Suunto Ambit itu buat Mas Ry, sebagai rasa terima kasih atas pengorbanan, keikhlasan, kasih sayang, dan pengertiannya selama ini. Sabar dulu tapi ya Sayang, hehe. Kalau mau hadiah yang realistis dan bisa segera dibeli barangkali baju baru buat lebaran kali ya. Kan sebentar lagi masuk bulan suci Ramadhan, nah saatnya pula hunting baju lebaran 2017. Hehehe…

Love is the Best Gift

Akhirnya saya berkesimpulan kalau cinta adalah anugerah terindah yang nilainya tak terkira. Menikah tanpa jatuh cinta sangatlah mungkin, bukan berarti tidak akan pernah ada cinta dan rasa sayang. Cinta itu perlu ditanam, disiram, dan dipupuk agar tumbuh subur. Salah satu cara menjaganya adalah dengan saling memberi hadiah atau kejutan antarpasangan. Tidakpun dengan pemberian barang mewah sebagai hadiah, kita bisa memberikan perhatian, pelukan, pujian, atau hanya secangkir teh di pagi hari.

Please follow and like me:

Secangkir Teh dalam Pernikahan

Menikmati suguhan teh manis hangat sudah menjadi tradisi masyarakat di Indonesia. Fenomena ini pun akhirnya mendarah-daging di keluarga saya. Entah apakah ini suatu tradisi, tetapi membuatkan secangkir teh untuk suami di pagi hari laiknya suatu kewajiban.

Pernikahan saya baru genap setahun. Saya bukan tipe yang rajin menyuguhkan teh di pagi hari, tidak seperti ibu saya atau ibu-ibu kebanyakan di daerah saya, Jawa Tengah. Gimana mau menyuguhkan teh kalau saya saja sering bangun lebih siang daripada suami, bahkan seringkali saya masih terlelap saat suami berpamitan pergi ke kantor. Oops! Untungnya, Mas Ry nggak pernah protes. Walaupun jarang membuat teh pagi-pagi, tetapi wajib banget bikin teh panas menjelang petang untuk menyambut suami pulang. Stok teh memang nggak boleh kosong di rumah saya. Continue reading “Secangkir Teh dalam Pernikahan”

Please follow and like me:

Pengalaman Melahirkan dengan “Gentle Birth” dan Minim Trauma

Sabtu, 1 Oktober 2016 usia kandungan saya tepat 38 minggu 5 hari. Pagi itu tidak ada yang berbeda dari sebelumnya. Weekend adalah waktunya saya dan suami bisa menghabiskan waktu bersama. Rutinitas weekend kami memang agak berbeda selama saya hamil. Sabtu adalah waktunya kontrol ke dokter untuk antenatal care (ANC) dan Minggu pagi adalah waktunya saya untuk mengikuti kelas prenatal yoga di dekat danau Kampus UI. Pagi itu kami sudah bersiap untuk jalan-jalan, kebetulan saya lagi pengen banget makan lontong sayur. Namun, tiba-tiba segala rencana berubah arah hari itu.

Pukul 06.30

Saya merasakan nyeri di perut bagian bawah. Hal ini wajar terjadi karena di usia kehamilan trimester ketiga, kontraksi palsu yang ditandai dengan perut terasa kencang di bagian bawah seringkali saya alami. Biasanya sih hal ini terjadi kalau saya lagi kecapean.

Pukul 07.00

Ketika saya cek, keluar lendir dan darah segar dari vagina dan volumenya agak banyak. Agak banyak di sini maksudnya seperti ketika saya sedang menstruasi hari ke-2-4 saat darah yang mengalir sedang banyak-banyaknya. Nyeri di perut datang semakin intens. Kalau boleh dibilang, nyerinya itu seperti nyeri haid. FYI, bagi sebagian wanita, nyeri haid adalah bukan hal yang main-main karena rasanya aduhaiii… saya sendiri kalau lagi haid sering guling-guling di kasur, meringkuk, dan nggak bisa bangun. Hehehe. Namun, nyerinya kali itu masih bisa saya atasi.

Saya telepon ibu saya di kampung untuk mengabari kondisi saya pagi ini. Saya telepon dengan nada ceria seperti biasanya, sesekali meringis nahan nyeri sih. Ibu orangnya agak panikan jadi kalau saya mengabarinya pakai nada panik, beliau pasti ikut panik. Hehe. Benar saja, saya yang mengabari dengan suara sebiasa mungkin ternyata membuat ibu heboh. “Cepetan ke rumah sakit loh soalnya ada orang yang tipe melahirkannya emang cepet, jangan sampai kebrojolan di rumah!”. Wkwkwkwkwk…

Saya dan suami bersiap ke rumah sakit. Satu tas besar yang berisi kebutuhan newborn dan ibu pascamelahirkan sudah saya siapkan jauh-jauh hari sehingga hari itu kami tidak kelabakan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Saya orangnya yang agak santai (tapi serius) pagi itu masih sempat saja mengeringkan rambut pakai hair dryer sembari menunggu driver taksi datang menjemput.

Saya cek waktu kontraksinya muncul sudah teratur per 5 menit sekali. Wow! Padahal sependek yang saya tahu biasanya kontraksi menjelang persalinan itu diawali dengan kontraksi palsu yang sering muncul dan hilang. Biasanya juga terjadi beberapa jam sekali hingga pada akhirnya teratur terjadi per 10 menit sekali, dan seterusnya.

Ketika driver taksi datang, saya mengatur napas dan menghitung waktu agar saya bisa berjalan dengan baik keluar rumah menuju ke dalam taksi. Rasanya ya masih sama, nyut-nyut seperti nyeri haid tapi munculnya sudah teratur tiap 5 menit sekali. Jadi saat nyut-nyut itu hilang, saya segera berjalan ke arah taksi. “Bisa jalan nggak?” tanya ibu kontrakan yang rumahnya masih satu komplek dengan rumah kami ketika melihat saya keluar rumah. “Hehehe, jangankan jalan Bu, joget aja saya masih bisa,” seloroh saya sambil nyengir. 😛

Pukul 08.30

Saya tiba di lobi RS dan langsung menuju ke bagian informasi untuk bisa mengakses ruang bersalin. Di sinilah saya merasa betapa pentingnya mengumpulkan informasi-informasi terkait rencana persalinan dari jauh-jauh hari. Ketika hari-H itu terjadi, saya tidak panik karena saya tahu harus datang ke bagian mana. Bahkan saya sudah reservasi ruang perawatan ibu dan bayi dari jauh-jauh hari.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya perawat di bagian informasi.

“Saya mau ke ruang bersalin, kayaknya sih saya mau melahirkan”, jawab saya.

Perawat itu agak tergopoh mengambilkan kursi roda untuk saya dan saya disuruh duduk di atasnya

“Emmm, saya masih bisa jalan koq Mba,” kata saya menolak halus. Iya saya memang masih kuat berjalan.

SOP nya begitu Bu, nggak apa-apa duduk saja di sini nanti saya antar ke ruangan,” kata si perawat. Ya sudah saya manut deh.

Saya dibawa ke ruangan observasi. Sebelumnya, saya ijin ke toilet. Maklum ya ibu hamil besar hobi banget keluar-masuk toilet.

“Bisa jalan ke toilet sendiri Bu?” tanya perawat di ruang observasi. Setelah saya mengiyakan, dia menunjukkan letak toilet.

Di ruang observasi, bidan melakukan cek dalam atau cek panggul (Vaginal Toucher) untuk tahu sudah ada pembukaan jalan lahir atau belum. Dia memasukkan jari ke dalam vagina saya, pemeriksaan ini dirasa nggak nyaman bagi sebagian besar kaum wanita. Tapi menurut saya sih nggak sakit, hanya risih sedikit. Saya tahu kalau saya harus rileks agar otot sekitar vagina juga bisa rileks saat pemeriksaan dalam.

“Sudah ada pembukaan Bu?” tanya saya.

“Ya, sekitar 2 atau 3 lah,” kata si bidan.

“Ooouh… begini toh rasanya pembukaan 2 atau 3, gimana kalau sudah mau pembukaan lengkap ya? Nyerinya pasti Wowwww bangettt,” batin saya. Saya tetap berusaha rileks dan mengatur napas.

Sekitar 10 menit kemudian, bidan memberi tahu saya kalau dokter obgyn saya kebetulan sedang ada tindakan di ruangan tersebut jadi bisa sekaligus mengobservasi saya. Ah iya, kebetulan sekali memang hari Sabtu yang seharusnya saya bertemu obgyn di poliklinik untuk ANC, sekarang malah bisa ketemu di ruang observasi.

Cek panggul kembali dilakukan oleh obgyn. Agak lama dan khidmat dia mengeceknya, lebih lama dari si bidan sebelumnya.

“Gimana Dok? Sudah pembukaan berapa?” tanya saya.

Dokter berhenti sejenak. Dia melanjutkan “Ibu, ini udah bukaan 8! Ibu tahan nyeri banget sih Bu!” serunya dengan nada terkejut.

Saya cuma tersenyum, dalam hati deg-degan banget. Saya sambil berpikir juga masa iya jarak antara pembukaan 2-3 ke pembukaan 8 hanya selang beberapa menit ya? Atau mungkin bidan tadi yang kurang jeli ngeceknya sehingga dia kira masih pembukaan 3. Ahh yasudah lah yaaa…

Tim tenaga kesehatan yang akan membantu saya bersalin bersegera mempersiapkan ruangan bersalin untuk saya. Sebelum saya dipindah dari ruang observasi ke ruang bersalin, saya ijin lagi untuk ke toilet (tuh kan, hobi banget ke toilet). Kali ini bidan dan perawat kompak melarang saya. Katanya, sudah pembukaan besar dilarang jalan-jalan. Akhirnya mereka membantu saya BAK menggunakan pispot.

Di ruang bersalin, kondisi saya masih sama seperti sebelumnya ketika di rumah. Entah perawat atau bidan ada yang bertanya kepada saya, lebih tepatnya mungkin dia heran karena reaksi saya –di saat pembukaan delapan ini- biasa saja tidak seperti ibu hamil kebanyakan, bahkan saya malah mau ijin jalan ke toilet sendiri. Apakah benar saya biasa saja? Hahaha, sebenarnya rasanya campur aduk. Maklum pengalaman pertama.

Menuju Pertemuan yang Membahagiakan

Hi world, my name is Adzkia Halwa

Saya terbaring di atas bed dan merasakan kesibukan di sana sini mempersiapkan segala sesuatunya. Ada yang memasangkan selang oksigen, ada yang memasukkan jarum infus di pergelangan tangan saya, dan ada yang memantau alat detak jantung. Semua sibuk dengan urusan masing-masing.

Saya seperti bermeditasi sejenak di ruangan itu sambil berusaha mengatur pernapasan sebaik mungkin. Gelombang cinta dari sang bayi datang semakin hebat dan hebatnya. Saya mencoba berkomunikasi dengan diri sendiri, Allah, dan janin di dalam kandungan saya. This will be pass… Allah sudah ciptakan janin dalam rahim saya, Allah pasti juga sudah berikan jalan lahir untuknya. Allah sudah mendesain tubuh saya sedemikian rupa beserta perangkat-perangkatnya untuk bisa mengandung dan melahirkan bayi saya. Terlepas dari segala upaya saya selama ini dalam memberdayakan diri, saya berpasrah kepada-Nya. Masih hangat di ingatan saya ketika seminggu yang lalu hasil USG memperlihatkan posisi janin yang masih telentang meskipun kepala sudah berada di bawah. Obgyn mengatakan “Persalinan normal masih mungkin dilakukan tapi agak seret, agak lama bayi keluarnya kalau posisi masih seperti ini. Agar bayi bisa mapan ke posisi yang tepat pun kemungkinannya ada, tapi kalau sudah usia kandungan besar ya agak susah”.

Lantunan dzikir dan untaian doa tak terhenti dari mulut saya, berharap proses persalinan berjalan dengan baik, entah pervaginam atau persectio. Mudah-mudahan ibu dan bayi selamat. Andaikan dalam perjalanannya nanti harus berakhir di meja operasi, saya pun ikhlas. Setiap bayi sudah memiliki cara lahirnya masing-masing. Jika saja terjadi hal-hal di luar dugaan yang menyebabkan komplikasi persalinan tidak tertangani, saya hanya berharap kepada Sang Pemilik Kehidupan agar dimudahkan untuk saya kembali dalam keadaan khusnul khotimah dan syahid. Saya mencoba fokus, saya seolah lupa perkataan obgyn seminggu lalu bahwa letak bayi masih di posisi telentang dengan satu lilitan tali pusat.

Selanjutnya saya berupaya me-recall teknik pernapasan perut yang sering dipraktikkan saat sesi kelas yoga prenatal. Saya pun berusaha mengingat teknik mengejan yang pernah diajarkan oleh instruktur saat senam hamil di RS. Kata orang-orang sih, kalau sudah di ruang bersalin, segala teori yang pernah dipelajari akan terlupakan. Menurut saya? Saya ingat semua yang ingin saya ingat, hanya saja mengaplikasikan pada realitanya saya agak kesulitan karena gelombang cinta itu datang semakin hebat sehingga untuk bisa bernapas dalam dan panjang pun saya sedikit kewalahan.

Saya pun kembali mengajak bayi saya berbicara agar dia kooperatif saat proses persalinan itu tiba. “Kita akan segera bertemu, Nak…”.

Sekitar Pukul 09.30

Perjuangan saya di ruang bersalin hampir mencapai titik puncaknya. Di sela-sela mengejan, terjadi obrolan-obrolan antara saya, obgyn, dan bidan.

“Bu, jangan di angkat, letakkan saja pantat (maaf) nya,” kata dokter berkali-kali.

“Ini udah saya letakkin Dok,” jawab saya sambil mikir pant*t mana lagi yang musti diletakkan.

Ah ternyata ya bersalin itu terkadang membuat kita berada di antara sadar dan tidak sadar. Menurut saya, saya sudah berusaha rileks dan pada posisi yang benar tapi menurut tenaga medis, posisi saya masih salah.

Lucunya lagi, di sela-sela saya mengejan, dokter memberikan instruksi begini,

Dokter: “Ibu, nanti kalau saya bilang STOP, Ibu jangan mengejan ya Bu.”

Saya: “Oke”

Beberapa saat kemudian….

Dokter: “Stop Bu, stop!”…. “Ibu stop jangan ngeden!”

Saya: (sambil berteriak galak) “Saya udah nggak ngeden koq!”

Dokter, perawat, bidan: (heboh) “Ibu stop Bu! Stop!”

Haduh beneran deh saya tuh “merasa” udah nahan untuk nggak ngeden sesuai instruksi dokter tapi ya seperti saya bilang sebelumnya, bersalin itu menempatkan kita dalam posisi antara sadar dan tidak sadar. Hehehe.

Alhamdulillah dengan 3x mengejan, bayi mungil cantik meluncur sempurna pada pukul 09.50, tepatnya kurang dari 4 jam sejak saya merasakan nyeri kontraksi.

Saya: “Eh, udah dok? Udah selesai nih?”

Dokter: “Iya selamat ya Bu, bayinya sudah lahir”

Saya: (masih nggak percaya, nanya lagi ke suami): “Ini udah selesai? Udah lahir beneran?”. Suami mengiyakan. Saya meminta suami untuk “mengawal” bayi kami yang baru lahir, takut tertukar dengan bayi-bayi lainnya. Percaya tidak percaya, cukup banyak bayi yang lahir di tanggal itu. Entah kebetulan atau memang ada yang memilih Hari Kesaktian Pancasila sebagai hari lahir para bayi.

Dokter menjahit luka sobekan (saya sendiri nggak tahu berapa jahitan, dokter tidak memberi tahu). Di sela-sela dokter menjahit bekas robekan, kami pun mengobrol.

Dokter: “Ibu, tadi saya bilang stop jangan ngeden kenapa masih aja ngeden”

Saya: “Beneran deh Dok, saya udah nahan nggak ngeden, bahkan sampai saya nahan napas loh Dok”

Dokter: “Ya nggak usah sampai nahan napas juga kali Bu, hehe. Ini anak pertama ya Bu? Cepet banget lahirnya, sering ikutan senam ya?”

Saya: “Iya Dok, rutin ikutan yoga hamil”.

Dokter: “Kalau sering olahraga memang membantu persalinan. Bayinya tadi juga cepet banget keluarnya kaya roller coaster. Ibu tau roller coaster kan?

Saya: “Iya, saya pernah naik itu (roller coastaer) beberapa kali”

Dokter: “Pantesan, bayinya meluncur tadi Bu keluarnya, hehe”

Obrolan-obrolan tadi membuat saya tidak merasakan sakit dijahit. Tidak terasa dokter selesai menjahit bekas robekan jalan lahir.

Tak henti-hentinya saya mengucap syukur kepada Allah atas kemudahan-kemudahan yang telah Dia berikan kepada saya. Padahal kemarin saya masih masuk kantor seperti biasanya. Teman kantor mengajak jalan ke mall sore harinya, dan malamnya suami masih ngajak nyari angkringan. Keesokan paginya saya merasakan kontraksi dan kurang dari 4 jam bayi saya lahir. Alhamdulillah atas segala kenikmatan ini.

Persalinan yang awalnya saya takutkan akhirnya bisa saja jalani dengan sangat rileks dan gentle. Selama hamil, saya berusaha memberdayakan diri sendiri sehingga sugesti “gentle birth” tertanam dalam benak saya. Saya pun bersyukur karena dipertemukan dengan Komunitas GBUS (Gentle Birth Untuk Semua) yang anggota-anggotanya senang berbagi dan mensupport satu sama lainnya. Yang saya percaya, setiap anak sudah dirancang jalan dan cara lahirnya masing-masing. Kebetulan ini pengalaman pertama saya hamil dan melahirkan. Beruntungnya saya diberi kemudahan dalam menjalani prosesnya sehingga minim trauma. Untuk selanjutnya saya menjadi lebih percaya diri jika suatu saat nanti diberi rejeki untuk memiliki anak lagi.

Saran saya bagi yang sedang menantikan kelahiran buah hatinya: tidak perlu takut. Sugesti diri sendiri bahwa proses persalinan tidak semenakutkan yang sering ditampilkan di televisi itu. Berdayakan diri sendiri, cari ilmu sebanyak-banyaknya seputar proses kehamilan dan persalinan, makan makanan yang bergizi, rajin berolahraga, rencanakan persalinan yang diinginkan, libatkan suami dalam setiap proses, dan yang paling utama adalah perbanyak berdoa.

Selamat menanti datangnya gelombang cinta ya 🙂

 

Please follow and like me:

Apakah #BahagiadiRumah adalah Sebuah Pilihan?

Belajar dari filosofi ikan salmon, mereka ditetaskan dari telur-telur di perairan tawar, lalu bermigrasi ke lautan untuk menghabiskan hidupnya bertahun-tahun. Setelah dewasa, salmon-salmon akan menempuh perjalanan kembali ke tempat di mana mereka ‘dilahirkan’. Dalam perjalanannya yang tak singkat, salmon akan menemui berbagai kesulitan, risiko, dan ancaman kematian. Tetapi mereka akan tetap kembali, tanpa ada yang tahu apa alasannya yang pasti.

Sumber: www.bendbulletin.com

Tidak hanya salmon, manusia pun demikian adanya. Sejauh-jauh kita pergi meninggalkan tempat asal kita, suatu saat pasti kita akan rindu untuk kembali. Kembali ke peraduan, di mana berlimpah kehangatan dan kasih sayang keluarga. Kembali ke rumah. Kembali ke pelukan ibu dan bapak.

Berbicara tentang ibu sama halnya menghadirkan sebuah kerinduan yang mendalam. Sebagai anak rantau yang hampir sembilan tahun berjauhan dengan keluarga, merupakan kebahagiaan tersendiri ketika saya berkesempatan pulang ke rumah dan menemukan sosok ibu dengan senyum merekah di wajah yang kian tampak garis kerutannya. Saya rindu menghirup aroma teh buatannya, mencicip masakan-masakannya, mencium aroma keringat tubuhnya, melihat senyumannya, dan mendengar omelan-omelan kecilnya.

Ibu adalah seseorang tangguh yang selalu hadir di sepanjang hidup saya dan adik-adik. Sejauh ingatan saya, ibu belum pernah meninggalkan kami dalam jangka waktu yang lama, sehari-dua hari pun tidak! Ketika sosok ibu ‘menghilang’ beberapa jam saja dari pandangan mata kami, mulut-mulut kecil kami akan selalu bertanya-tanya mencarinya. Ah, begitu mudahnya rindu itu datang. Kehadiran ibu selalu membuat hati ini tenang. Pantas saja, ketika ibu pergi ke tanah suci beberapa waktu lalu, uraian air mata kami jatuh tak terbendung. Ibu belum pernah meninggalkan kami untuk waktu yang lama, sehari-dua hari pun tidak! Entah kekuatan magis apa yang membuat sosok seorang ibu selalu dirindu kehadirannya.

***

Dalam hitungan bulan, saya, adalah seorang perempuan yang (atas izin-Nya) akan menjalani peran baru sebagai seorang Ibu. Perlahan namun pasti, saya mencoba memahami bahwa seorang ibu memiliki peran yang tidak main-main dalam sebuah keluarga. Ibu adalah jantung keluarga yang harus terus berdegup untuk bisa melanjutkan nafas demi nafas kehidupan.

Berkaca dari sosok ibu saya, ketika nanti saya menjadi seorang ibu, saya ingin menjadi seseorang yang jarang absen dalam kehidupan anak-anak, yang keberadaannya selalu dinantikan, yang masakan-masakannya selalu dirindukan, yang selalu hadir dalam setiap tahap pertumbuhan anak-anaknya. Terlalu idealiskah? Mungkin, dulunya ibu saya pun tidak pernah punya cita-cita demikian. Beliau tidak berburu ilmu parenting seperti ibu-ibu modern masa kini, beliau yang awam hanya berusaha menjalani perannya saja, let it flow. Akan tetapi, justru hal-hal tersebut yang kemudian menginspirasi dan menjadi motivasi saya: untuk selalu ‘hadir’ di tengah keluarga.

Pada akhirnya, saya harus menentukan jalan untuk beberapa episode ke depannya, akankah tetap menjadi working mom atau stay-at-home-mom? Saya tidak sedang terjebak dalam perdebatan mana yang lebih baik dan mana yang tersudutkan. Apapun keputusan saya nantinya, tentunya hal itu akan menjadi salah satu keputusan tersulit bagi saya yang sudah telanjur mencintai pekerjaan tetapi di sisi lain saya ingin memaksimalkan peran saya sebagai jantung keluarga.

Untuk benar-benar menjadi ibu rumah tangga, saya sangsi, suami pun sangsi. Saya adalah orang yang tidak bisa berdiam diri di rumah. Jadi, pesan suami di sela-sela diskusi akan hal ini “kamu harus cari aktivitas biar tetap produktif dan nggak bosan di rumah”

Well, keputusan memang belum diambil. Saya sedang menata diri, juga menata batu-batu loncatan yang sekiranya bisa saya pijak untuk melangkah ke depannya. Toh kehidupan menawarkan beragam pilihan, kita tinggal ikhtiar dan pilih jalannya ‘kan? Perihal apakah saya bahagia, ah… itu saya yang harus menciptakannya sendiri.

Saya harus selesai dengan diri saya. Baiklah, barangkali, jika saya memutuskan untuk stay di rumah dan resign dari pekerjaan, saya jadi bisa menyalurkan keinginan dan hobi saya yang kemarin dulu belum sempat terealisasi karena kesibukan di kantor. Misalnya, saya bisa mencoba resep-resep masakan, mempelajari ilmu baking, menanam bunga, menulis lebih konsisten, dan tentunya saya memiliki waktu lebih banyak untuk ber-quality time bersama keluarga. Semua itu merupakan sumber kebahagiaan tersendiri bagi saya.

Selain itu, jika saya memilih untuk stay di rumah, saya jadi bisa lebih fokus mempersiapkan diri untuk mencapai cita-cita yang masih tertunda yaitu melanjutkan studi master di negara-empat-musim. Oh ya, sebelum ini, tepatnya hingga tahun lalu, saya adalah seorang scholarship hunter yang sudah beberapa kali mengajukan aplikasi ke beberapa universitas di luar negeri dan beberapa lembaga pemberi beasiswa. Namun, segalanya masih menuai hasil ‘nyaris berhasil’ atau ‘masih gagal’. He he he….

Kalau memang mau jadi ibu rumah tangga, ngapain sekolah lagi?

Saya berprinsip bahwa seorang perempuan, di manapun ia berpijak nantinya, harus berpendidikan tinggi. Hal ini berlaku bagi yang ingin berkarir maupun menjadi ibu rumah tangga. Kita tahu bukan, bahwa seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya? Jadi sudah selayaknya seorang ibu, baik yang bekerja atau tidak, sebaiknya berpendidikan tinggi. Lagipula, hidup itu berjalan begitu dinamis. Bisa jadi hari ini kita menjadi wanita karir, tapi kemudian menjadi full-time mom, lalu ketika anak-anak sudah besar kita bisa menjadi apa saja sesuai passion kita, bukan? Jadi, belajarlah sebanyak-banyaknya.

Dalam rangka mempersiapkan diri menjelang keputusan yang akan saya ambil nantinya, kini saya lebih mengeksplorasi dunia tulis-menulis, terutama blog. Jadi, seandainya pun saya menjadi stay-at-home-mom, saya sudah berbekal pengetahuan dan ilmu menulis yang bisa diaplikasikan di mana saja. Dua bulan lalu, niat saya menjadi seorang blogger yang lebih serius diawali dengan berpindahnya alamat blog ke domain sendiri. Setelah itu, saya termasuk cukup rajin mengikuti beberapa kegiatan komunitas blogger dan event-event yang mengupas tentang dunia blogger.

Salah satu event yang saya datangi adalah “Ngobrol Inspirasi Bareng Nova” pada 26 Februari 2016 lalu dalam rangka NOVAVERSARY, yaitu event perayaan 28 tahun Tabloid NOVA menemani sahabatnya. Dalam acara tersebut, dihadirkan tiga narasumber yang membahas tentang seluk beluk blog, vlog, dan cara memotret yang baik.

Hal yang berbekas dalam ingatan saya adalah tema campaign NOVA: “Happy Home, Happy Life”. Tidak pernah ada sekolah khusus untuk menjadi seorang perempuan atau seorang ibu. Untuk itulah, NOVA mencoba menjadi sahabat perempuan melalui berbagi pengalaman dari para expertise di bidangnya masing-masing.

Menurut Pimred Tabloid Nova, menciptakan “Happy Home, Happy Life” bisa dimulai dari diri kita sendiri. Well, ini berarti suasana bahagia di rumah adalah pilihan yang bisa kita ciptakan sendiri, bukan? Mungkin definisi bahagia itu relatif berbeda bagi masing-masing individu. Yang pasti, kebahagiaan itu terletak pada bagaimana kita bersyukur terhadap jalan kehidupan yang kita pilih dan garis takdir yang kita hadapi. Jadi, bersyukurlah jika ingin hidup bahagia 🙂

Please follow and like me: