Nak, Selalu Ada Cinta dalam Untaian Doa Untukmu

Saya bekerja di salah satu pusat riset di kampus. Usai cuti melahirkan dan saya harus kembali ke rutinitas pekerjaan, hari pertama masuk kerja Halwa dititipkan di daycare. Jangan tanya bagaimana perasaan saya waktu ninggalin dia di sana ya, campur aduk dan baper banget!

Saat saya masuk kantor dan berjumpa dengan Bapak-Ibu Profesor dan teman-teman, mereka menanyakan di mana anak saya. Saya jawab  “daycare”. Tahu apa respon mereka? Mereka kompak menasehati saya agar jangan titip Halwa di daycare, kalau memang saya belum punya asisten, bawa saja Halwa ke kantor. WOW! Saya bener-bener terharu diizinkan membawa bayi saya ke kantor. Ah rasanya bahagia dan bersyukur banget bekerja di lingkungan seperti ini, tempat yang sangat ramah dan bernuansa kekeluargaan.

Sejak saat itu, dimulailah hari-hari saya membawa Halwa ke kantor setiap hari hingga dia berusia 10 bulan. Saya cukup bahagia karena di saat working mom di Indonesia pada umumnya hanya punya waktu intens bersama anak selama 3 bulan saat cuti, saya punya waktu yang lebih panjang lagi. Tapi jangan salah ya, beban pikiran saya juga semakin bertambah. Continue reading “Nak, Selalu Ada Cinta dalam Untaian Doa Untukmu”

Please follow and like me:

Resolusi 2018: Ingin Menjejakkan Kaki ke Benua Eropa

Akhir November kemarin saya mendapati satu email dari nama yang nggak asing buat saya, Ms. Willems. Saat saya baca emailnya, ternyata beliau “mengundang” saya untuk datang ke Program Short Course di Negeri Kincir Angin. Memang sudah menjadi impian saya untuk bisa menjejakkan kaki di Benua Eropa, khususnya untuk bersekolah di sana. Bahkan hal itu sudah menjadi resolusi saya dari tahun 2016 hingga sekarang. Namun, impian untuk mengambil studi master harus tertunda sementara waktu karena dalam perjalanan menuju impian saya itu, saya mendapat rejeki lain yaitu suami dan anak. Karena saat ini waktunya belum memungkinkan untuk saya studi overseas dua tahun, saya putuskan untuk mendaftar short course yang waktunya lebih singkat.

Bagi siapapun yang mengaku sebagai Scholarship Hunter, pasti ngerti banget hal-hal apa saja yang harus diperjuangkan untuk bisa bersekolah di luar negeri dan mendapat beasiswa. Tentunya ada dua hal penting yang jadi kunci utama: LoA (Letter of Acceptance) dari universitas tujuan dan beasiswa. Untuk mendapat satu dari kedua hal itu juga bukan perkara mudah. Ada banyak hal yang harus dikorbankan baik dari segi waktu, biaya, energi, dan pikiran. Sebelum ke arah sana pun kita harus mengumpulkan banyak informasi tentang cara pendaftaran, deadline, persyaratan, pilihan program studi, funding, dll. Mungkin lain kali akan saya bahas mengenai hal ini ya. Continue reading “Resolusi 2018: Ingin Menjejakkan Kaki ke Benua Eropa”

Please follow and like me:

Yuk Konsumsi Telur, si Protein Hewani Padat Gizi

Setiap Ibu pasti pasti pernah menghadapi anaknya yang susah makan (GTM = Gerakan Tutup Mulut), tidak terkecuali saya, hehe. Badai GTM Halwa itu hilang timbul. Kadang dia lahap makan, tapi kadang ya gitu deh bisa masuk 5 suap aja alhamdulillah. Grafik pertumbuhan berat badannya selalu saya pantau, asalkan masih masuk range berat badan sesuai tahapan usianya sih saya tenang saja meskipun garisnya ada di batas bawah. Melihat fenomena nggak doyan makan seperti itu, saya jadi berpikir untuk memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) yang padat gizi. Susu? Ah dia nggak doyan susu formula atau UHT. Baru saya berikan akhir-akhir ini sih tapi reaksinya nggak terlalu happy.

Mencari bahan MPASI yang padat gizi, murah, dan gampang dijumpai sehari-hari sebenarnya tidak sulit, misalnya saja telur ayam. Beruntungnya di dekat rumah saya ada warungnya si Bang Udin yang superrr lengkap menjual sembako dan kebutuhan sehari-hari. Warung yang hanya berjarak 10 langkah dari rumah saya ini menjual telur dengan kisaran harga 20-22 ribu per kilo. Nah di depan warung Bang Udin, ada yang jual ayam potong. Pokoknya bersyukur deh saya bisa mendapat bahan protein hewani dengan mudah untuk konsumsi keluarga.

Continue reading “Yuk Konsumsi Telur, si Protein Hewani Padat Gizi”

Please follow and like me:

Mengatasi Napas Grok-grok pada Bayi

Nggak terasa usia baby Halwa menjelang satu tahun. Dikaruniai anak yang sehat, pintar, lincah, pertumbuhan dan perkembangan sesuai tahap usia adalah hal yang patut disyukuri.

Flashback setahun lalu saat saya dan mas Ry hanya berduaan saja (tanpa keluarga) menghadapi persalinan, saat menegangkan di ruang bersalin, hingga masa setelah Halwa lahir. Namanya juga perantau, kudu mandiri donk Mak! Pengasuhan Halwa pun mostly ditangani saya dan Mas Ry.

Jauh-jauh hari sebelum Halwa lahir, saya melakukan beberapa persiapan “ilmu” untuk menghadapi situasi tidak-ada-yang-membantu-merawat Halwa, antara lain dengan membaca buku-buku pengasuhan dan perawatan bayi. Mengikuti Whatsapp grup support ASI Eksklusif, mengikuti seminar pre-natal, dll. Untuk apa? Biar nggak panik-panik amat pas punya bayi nantinya, Mak.

Seminggu setelah Halwa lahir, semua berjalan baik-baik saja tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah ya. Nah, saat Halwa berusia 2-3 minggu, mulailah kepanikan terjadi. Saat itu saya mendengar napas halwa bunyi “grok grok” kasar seperti ada yang menyumbat jalan napasnya. Meskipun tadi saya bilang sudah “persiapan ilmu” sebelum punya bayi, tapi tetap saja menghadapi realita itu lumayan bikin emak panik, he he he. Apalagi waktu itu Mas Ry sudah pergi ke kantor, saya hanya berdua saja dengan baby Halwa dan napas grok-grok-nya. Maju mundur mau periksa ke dokter anak sambil mikir: “Ini wajar nggak ya? Perlu ke dokter nggak ya?” (Ngaku deh, sebagian ibu yang baru punya satu anak pasti pernah begitu juga kan, panikan, bertanya-tanya anak saya begini wajar nggak, anak saya nggak poop berhari-hari wajar nggak, anak saya nggak mau nyusu maunya bobo mulu wajar nggak? Hehehe, begitulah ya emak baru).

Akhirnya saya cari tahu tentang napas grok-grok pada bayi. Saya tanya ke teman yang berprofesi dokter dan dia sudah lebih berpengalaman mengasuh 3 orang anak. Menurutnya, napas yang berbunyi tersebut disebabkan karena terdapat lendir di saluran napasnya dan ini umum terjadi pada newbon. Dia sarankan olesi transpulmin yang bisa dibeli di apotek dan sering-sering jemur Halwa pagi hari. Hari itu juga saya minta Mas Ry mampir apotek sepulang dari kantor. Beli si transpulmin yang dimaksud. Oh ya ternyata transpulmin ada dua macam, untuk anak di bawah 2 tahun dan di atas 2 tahun. Jadi, untuk Halwa saya beli Transpulmin BB (Balsam Bayi).

Untuk selanjutnya, Transpulmin BB ini selalu saya gunakan jika Halwa terindikasi batuk pilek (selesma / commom cold).

Continue reading “Mengatasi Napas Grok-grok pada Bayi”

Please follow and like me:

Persembahan Pampers untuk Momen Pertama bersama Buah Hati

Momen Pertama

Hari ini, usia kehamilan saya 24 minggu. Babak dua-per-tiga masa kehamilan sudah hampir genap terlewati. Momen pertama menjalani kehamilan bukan hal yang cukup mudah bagi saya. Sesuatu hal baru dan pertama bukankah biasanya tidak terasa nyaman? Tapi saya tetap berusaha menikmati semua ini dengan baik koq 🙂

Akhir dari kehamilan, saya akan memasuki babak baru yaitu momen pertama dalam hidup saya menjadi seorang ibu, memiliki bayi, mengasuhnya dengan segala kerempongan –seperti yang sering saya dengar dari pengalaman ibu-ibu lainnya-. Artinya, saya harus lebih banyak belajar, mencari ilmu, dan berguru pada yang sudah lebih berpengalaman.

Pada tanggal 4 Juni 2016 lalu, saya berkesempatan menghadiri gathering yang diadakan oleh Pampers. Pampers yang tengah merayakan perjalanan #MomenPertama Ibu dan Bayi tersebut menghadirkan kampanye barunya, “Firsts”, yaitu program tentang bagaimana pengalaman orang tua merayakan banyak momen pertama bersama buah hati dalam perjalanan awal mereka menjadi sebuah keluarga. Sebagai persembahan kepada banyaknya momen pertama yang dialami bersama oleh keluarga, Pampers merilis kumpulan video berjudul “Firsts”, yang memperlihatkan banyak momen berharga yang tumbuh di antara orang tua dan bayi mereka. Berikut adalah Video “Firsts” yang menampilkan momen-momen menyentuh dalam perjalanan awal seorang bayi yang membuat sebuah keluarga menjadi lengkap atas kehadirannya.

Saat baru menjadi orang tua bagi buah hati, tidak ada yang lebih berharga dari merasakan semua momen pertama yang indah dari bayi Anda, baik itu adalah momen pertama saat mendengar detak jantung, momen pertama Anda mendekap bayi Anda, momen pertama bayi Anda tidur dengan lelap, Pampers ingin ada di setiap momen pertama dan mendampingi Ibu,” ujar Febrina Herlambang, Communications Manager P&G.

Acara gathering Pampers yang bertempat di SeaGrain Resto and Bar di Doubletree Hilton Cikini Jakarta mengundang para ibu dan calon ibu yang tengah menantikan buah hatinya. Di acara itu pula, hadir brand ambassador Pampers, artis cantik  Gisella Anastasia dan putrinya, Gempita.

Sebagai first time mom, video “First” buat saya sangat brilian karena menyentuh perasaan banyak orang tua baru yang pasti mengalami hal serupa. Saya merasa melihat diri saya dan suami ketika menantikan Gempi lahir. Betapa kami ingin segera melihat dan berbagi semua momen pertama bersamanya. Banyak sekali kejutan luar biasa pada momen-momen pertama saya memiliki bayi.  Sekarang dengan hadirnya Pampers Premium Care New Baby yang dibuat khusus untuk melindungi bayi baru lahir pastinya akan sangat membantu banyak ibu dan menjadi produk yang tepat dalam memberikan proteksi untuk bayi baru lahir mereka,” ujar Gisella.

 

dokumen pribadi

Apakah pospak (misal produk Pampers) baik digunakan pada Newborns?

Perawatan bayi sebenarnya mudah, tapi satu hal yang perlu diingat adalah kulit bayi sangat sensitif dan gampang kering sehingga jika perawatannya tidak tepat bisa mengakibatkan iritasi. Masalah-masalah yang sering terjadi pada kulit bayi antara lain kulit terlihat mengelupas (biasanya pada bayi post-mature) dan timbul jerawat kemerahan pada bayi. Jerawat pada bayi ini sebenarnya bukan diakibatkan oleh makanan ibunya –seperti apa kata orang jaman dulu- tapi lebih karena kondisi kulit bayi yang sensitif.

Untuk mengatasi kulit bayi agar tidak mudah iritasi, beberapa hal perlu kita lakukan, misalnya:

  1. Kita harus mempelajari teknik perawatan kulit bayi secara tepat
  2. Perawatan bayi dari ujung rambut sampai ujung kaki
  3. Perhatikan diaper-nya. Jumlah pipis bayi berbeda-beda sehingga kita perlu mengeceknya sewaktu-waktu.

Dalam sehari minimal bayi pipis sebanyak 6 kali dan pup minimal 4 kali. Bisa dibayangkan ya, berapa banyak popok yang mesti disiapkan untuk ganti?

“Struktur kulit bayi yang baru lahir memiliki kulit yang sangat sensitif. Sesuatu yang sebenarnya tidak mempunyai efek yang berarti pada kulit sensitif orang dewasa, sementara pada kulit bayi bisa mempunyai efek yang besar dan rentan terhadap iritasi. Faktor lingkungan tempat bayi berada merupakan salah satu faktor penting dalam perawatan dan kenyamanan kulit bayi. Terutama dalam pemilihan popok sekali pakai, dengan mendapatkan popok yang tepat yang memang dibuat khusus bagi bayi baru lahir, memiliki daya serap baik, tidak menimbulkan iritasi, dan tidak menghambat gerakan dan perkembangan bayi sehingga bayi dapat tidur lebih nyenyak sepanjang malam,” kata Dr. Margareta Komalasari, Sp.A(K) yang menjadi salah satu pembicara dalam acara gathering.

Jadi para mommies, jika mommies ingin lebih praktis dan efisien dalam hal penggantian popok bayi, mommies bisa saja memakai pospak (popok sekali pakai) dengan bahan yang baik, lembut dan halus, memiliki daya serap tinggi, tidak menimbulkan iritasi, dan tidak menghambat gerakan dan perkembangan bayi. Bayi tidak harus memakai pospak sepanjang hari karena bisa kita rasakan sendiri ya kalau kita memakai pembalut sepanjang hari juga rasanya tidak nyaman, kan? Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik jadi pemakaian pospak perlu disesuaikan dengan kebutuhan si bayi.

dokumen pribadi

Pampers Premium Care New Baby

Sementara kulit bayi yang baru lahir masih beradaptasi, kita bisa memberikan perlindungan dan kasih sayang yang terbaik bagi mereka dengan Pampers Premium Care New Baby. Untuk perlindungan kulit terbaik, Pampers memiliki 5 keunggulan:

  1. Super Gel, yaitu gel dengan daya serap hingga 12 jam
  2. Sirkulasi udara agar kulit tetap kering
  3. Lembut di segala bagian, menjaga kulit tetap nyaman
  4. Bagian pinggang 2x lebih lentur – super pas dan nyaman
  5. Lotion perlindungan kulit

Pampers New Baby memberikan perlindungan bagi kulit bayi yang baru lahir. Teknologi Unique Absorb-Away Layer cepat menyerap basah dan pup yang berair dari kulit bayi yang. Selain itu, keunikan dari Pampers New Baby ini adalah adanya Wetness Indicator yang akan berubah warna menjadi biru saat bayi buang air kecil sehingga para ibu tahu kapan harus mengganti popok. Desain yang melengkung dan pas di daerah perut juga membuat bayi semakin nyaman.

Pampers Premium Care New Baby tersedia di seluruh toko di Indonesia dengan harga Rp. 27.500 untuk Pampers isi 13 dan Rp. 59.900 untuk Pampers isi 28, ukuran yang tersedia mulai dari usia Newborn hingga XL.

Pampers Premium Care New Baby dengan Perlindungan Kulit Bintang 5

 

Khusus 1 April hingga 30 Juni 2016, Pampers memiliki promo diskon 40% di toko-toko tertentu, bisa dicek di sini.

Please follow and like me:

Wajah Pelayanan Kesehatan di Indonesia Gara-Gara Ada BPJS Kesehatan

Dalam kehidupan ini, ada hal-hal yang terjadi dengan tidak pasti, misalnya sesuatu yang datang tak terduga yaitu sakit. Kita mungkin tak perlu terlalu khawatir jika sakit itu datang ketika kita masih berusia produktif, berpenghasilan cukup, dan mampu untuk menjangkau biaya pengobatan. Namun, ketika sakit itu datang saat usia kita sudah renta dan tak lagi berpenghasilan, bagaimana kita bisa mendapatkan perawatan dan pelayanan kesehatan yang memadai, terjangkau, kapan saja, dan di mana saja?

Menjadi peserta asuransi kesehatan mungkin bisa menjadi salah satu pilihan karena asuransi kesehatan dapat mengurangi risiko masyarakat menanggung biaya kesehatan dari kantong sendiri (out of pocket) yang kadang-kadang diperlukan biaya yang sangat besar dan dalam jumlah yang tidak bisa diprediksi. Akan tetapi, dengan asuransi kesehatan saja tidaklah cukup. Dalam hal ini, diperlukan Asuransi Kesehatan Sosial atau Jaminan Kesehatan Sosial karena premi asuransi kesehatan (komersial) relatif tinggi sehingga sebagian masyarakat tidak mampu menjangkaunya. Selain itu, manfaat yang ditawarkan oleh asuransi kesehatan (komersial) biasanya terbatas sehingga tidak semua biaya pengobatan dapat diklaim.

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikembangkan di Indonesia merupakan bagian dari program jaminan sosial yang diselenggarakan melalui BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Berdasarkan Undang-Undang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), Asuransi Kesehatan Sosial ini bersifat wajib (mandatory) dengan tujuan agar semua penduduk Indonesia terlindungi dalam sistem asuransi sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak. Salah satu prinsip yang diterapkan oleh BPJS adalah prinsip kegotongroyongan. Prinsip ini sudah mengakar dalam kebudayaan Indonesia. Lebih jauh lagi, prinsip ini dapat diartikan bahwa peserta yang mampu akan membantu peserta yang kurang mampu atau peserta yang sehat membantu peserta yang sakit. Hal ini tentu saja dapat terwujud karena kepesertaan dalam BPJS bersifat wajib untuk seluruh penduduk Indonesia. Dengan demikian, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia diharapkan dapat tercapai.

Sejak mulai dilaksanakannya BPJS Kesehatan pada tanggal 1 Januari 2014, mungkin kita sudah banyak mendengar pengalaman-pengalaman dari keluarga, kerabat, teman, tetangga, atau mungkin pengalaman pribadi dalam mendapatkan pelayanan kesehatan melalui sistem JKN ini? Jamak diketahui, suatu kebijakan baru umumnya menuai pro dan kontra. Banyak masyarakat yang sudah merasakan manfaat dari kepesertaannya dalam BPJS, salah satunya kakek saya sendiri yang biaya operasi kataraknya dicover sepenuhnya oleh BPJS. Melalui serentetan prosedur administratif yang harus dilalui, akhirnya proses operasi katarak bisa diselenggarakan dengan lancar. Demikian halnya dengan orang tua dari rekan sekantor saya yang harus menjalani operasi by-pass jantung. Keluarganya tidak lagi khawatir dengan besarnya dana yang harus dikeluarkan dari kantong sendiri karena semua biaya operasi pada akhirnya ditanggung oleh BPJS. Pengalaman lainnya, ketika saya berdiskusi santai dengan seorang sopir taksi yang baru pulih dari sakit Hepatitis-nya. Dia mengatakan walaupun antrian peserta BPJS yang harus dihadapi cukup panjang dan prosedurnya dianggap agak ribet, tetapi dia menyadari bahwa hal tersebut tidak sia-sia karena “harganya” tidak sebanding dengan seluruh biaya pengobatan yang sudah dibayarkan oleh BPJS. Dengan BPJS, kehidupan masyarakat tertolong tanpa harus menjadi jatuh miskin karena sakit yang dideritanya.

Boleh jadi, pernyataan saya di atas tidak disetujui oleh kaum yang kontra dengan kehadiran BPJS. Tidak sedikit yang mengeluhkan buruknya pelayanan yang mereka dapatkan sebagai peserta BPJS. Apakah benar, ini sepenuhnya salah BPJS? Dalam suatu kesempatan saya mewawancarai pasien-pasien peserta BPJS di beberapa rumah sakit, ada kesan kecewa dalam gurat wajah mereka disebabkan mereka merasa di-nomor-sekian-kan oleh para petugas kesehatan. Mungkin karena pasien-pasien tersebut adalah peserta BPJS sehingga pelayanan yang diberikan oleh fasilitas kesehatan tidak se-responsif jika mereka membayar dari dompet sendiri. Beberapa mengeluhkan panjangnya antrian rawat jalan. Sebagian lagi tidak terima karena orang sakit disuruh menunggu berbulan-bulan lamanya untuk mendapatkan jadwal operasi. Tak jarang juga pasien rawat inap yang kecewa karena tidak ditempatkan di kelas perawatan yang seharusnya. Kekecewaan juga dialami oleh rekan kerja saya ketika sedang berjuang mengobati anaknya yang sakit Demam Berdarah dan harus berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya demi mendapat fasilitas rawat inap seperti yang telah ditentukan dalam surat rujukan dokter puskesmas. Karena merasa ‘ditolak’ oleh beberapa rumah sakit, akhirnya rekan saya terpaksa membayar dengan dana pribadi untuk pengobatan anaknya tersebut. Semua kekecewaan, keluhan, dan ketidakpuasan ini gara-gara BPJS, benarkah demikian?

Lain kata pasien, lain lagi kata petugas kesehatan dan perangkat manajemen penyelenggara fasilitas kesehatan. Keluhan yang biasa diungkapkan oleh para dokter adalah sedikitnya jasa pelayanan yang didapat, jasa yang belum dibayarkan oleh BPJS, ribetnya proses pengisian rekam medis (terutama dikeluhkan para dokter spesialis atau sub-spesialis) yang harus lengkap terisi gara-gara BPJS, dll. Bagi perangkat rumah sakit, keluhan ada di seputar prosedur klaim yang ribet karena harus menyertakan kelengkapan dokumen pemeriksaan, proses verifikasi yang lama dan kadang berkas-berkas klaim dikembalikan lagi ke rumah sakit karena kurang lengkap, dll. Apakah ini semua juga gara-gara BPJS?

Seperti ditulis oleh Bapak Tonang Dwi Ardyantobahwa selama ini kita telanjur terjebak pada persepsi yang menimbulkan salah kaprah. Yang kita tahu adalah BPJS, bukan JKN sehingga kita pun terjebak untuk selalu menudingkan hampir semua hal dalam JKN kepada BPJS Kesehatan. Rupanya salah kaprah ini masih saja terjadi di tahun ketiga pelaksanaan JKN. Oleh karena itu, tidak heran jika akhir-akhir ini kita pun masih sering mendengar atau menjumpai kritikan-kritikan yang terlontar “gara-gara BPJS”.

Satu hal yang perlu digaris-bawahi dalam hal ini adalah banyaknya unsur atau “pemain” yang terlibat di dalam pelaksanaan sistem JKN ini. BPJS Kesehatan hanyalah satu dari sekian banyak “pemain” yang berperan di dalamnya. Unsur-unsur lainnya misalnya Kementerian Kesehatan dan fasilitas penyelenggara kesehatan (puskesmas, klinik, rumah sakit, dll). Jadi, sebenarnya kurang tepat jika semua kekacauan, kekecewaan, atau kesalahpahaman yang terjadi melulu ditudingkan kepada BPJS. BPJS itu fungsi utamanya mengatur kepesertaan dan mengelola dana amanat atau iuran rakyat. Urusan outcomepelayanan kesehatan, besaran jasa pelayanan, kebijakan yang terkait dengan pelayanan di fasilitas kesehatan semua murni urusan internal fasilitas kesehatan itu sendiri dan bukan ranah BPJS.

Ibarat bayi, di usianya saat ini BPJS masih belajar berjalan. Dukungan berbagai pihak sangat diperlukan agar tujuan Universal Health Coverage (jaminan kesehatan bagi semua penduduk) di tahun 2019 bisa terwujud. Oleh karena itu, fasilitas kesehatan dan segenap perangkatnya harus mau berbenah diri, Kementerian Kesehatan perlu terus mensupport, demikian juga dengan masyarakat Indonesia harus mau bergotong-royong dalam membangun kesejahteraan kesehatan di masa depan.

Mari kita bahu membahu demi Indonesia yang lebih sehat. Dengan bergotong royong dalam beriuran, secara tidak langsung peserta yang mampu akan membantu peserta yang kurang mampu secara finansial atau peserta yang sehat membantu peserta yang sakit. Dengan demikian, tidak ada lagi masyarakat Indonesia yang menjadi miskin karena sakit dan tidak ada lagi stigma bahwa orang miskin dilarang sakit.

Referensi:

Buku Pegangan Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional, Kemenkes RI

JKN Bukan BPJS: Sampai Kapan Salah Kaprah Ini? (Tonang Dwi Ardyanto)
Selengkapnya: http://www.kompasiana.com/tonangardyanto/jkn-bukan-bpjs-sampai-kapan-salah-kaprah-ini_56d4b7fa90fdfdc02fb1b6e7


DISCLAIMER: Tulisan ini diikutkan dalam Blog Competition yang diselenggarakan oleh Kompasiana.

Artikel dipublikasikan di http://www.kompasiana.com/eskaningrum/wajah-pelayanan-kesehatan-di-indonesia-gara-gara-ada-bpjs-kesehatan_5766c8ed82afbdc209b924ed

Please follow and like me: