Kelas Parenting bersama Tiga Generasi: “Mendisiplinkan Anak sejak Bayi, Bisa Nggak Ya?”

“Bunda tau nggak, bedanya Disiplin vs Hukuman?”
“Sejak kapan sih kita harus mendisiplinkan anak?”
Pertanyaan ini dilontarkan oleh Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjoyo, S.Psi selaku pembicara di kelas parenting siang itu.

***

Kelas Parenting Bersama Tiga Generasi

Senin, 20 Juni 2016 lalu saya berkesempatan menghadiri kelas parenting #OrtuJadiTau bersama Tiga Generasi bekerja sama dengan ‪Mums and Babes dan Blibli‬. Acara yang diselenggarakan di Hotel Veranda, Jl. Kyai Maja No.63, Kebayoran Baru ini sekaligus me-launching official store Mums and Babes di Blibli.com. Kelas parenting itu sendiri memiliki beberapa topik yang dibagi ke dalam kelas-kelas kecil, yaitu:

Kelas 1: “Mendisiplinkan Anak sejak Bayi, Bisa Nggak Ya?”
Kelas 2: “Tetap Tenang Hadapi Gerakan Tutup Mulut pada Anak”
Kelas 3: “Membuat MPASI jadi (MP) ASIK”

Peserta diwajibkan memilih kelas mana yang diminatinya kemudian semua peserta mengikuti kelas besar dengan topik “Mengasuh Bareng Kakek-Nenek, Siapa Takut?”. Andai saja diperbolehkan mengikuti semua kelasnya, saya sangat antusias untuk dapetin ilmu dari keseluruhan topik yang diberikan. Namun, karena ketiga kelas kecil diadakan di waktu bersamaan, akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar di Kelas 1.

Di acara ini, diramaikan juga oleh banyak peserta dari kalangan artis loh.

saya berkesempatan foto bareng mba Widi AB-Tree

***

Mendisiplinkan Anak Sejak Bayi, Bisa Nggak Ya?

Kembali ke kelas parenting yang diisi oleh Psikolog Vera, Disiplin tidaklah sama dengan Hukuman. Apa bedanya?
Hukuman: yang diserang adalah konsep diri sehingga konsep diri anak menjadi negatif. Misalnya: kita melihat kamar berantakan lalu mengatai anak kita dengan ucapan “Dasar anak males”.
Disiplin: Konsep diri anak tetap aman sehingga anak tetap merasa disayangi. Misalnya kita mengatakan “Aduh mama sedih karena kamu nggak ngerapihin kamar”

Lalu sejak kapan kita perlu mendisiplinkan anak? Jawabannya adalah: sejak anak lahir. Anak akan tumbuh dari sebuah pembiasaan yang ditanamkan sejak dia lahir. Misalnya, saat mulai MP ASI anak tidak dikenalkan pada garam sehingga ketika suatu saat anak makan telor digaremin, dia akan merasa aneh.
Psikolog Vera memaparkan 2 metode yang terkait dengan mendisiplinkan anak: Metode EASY dan Metode SLOW. Sudah ada yang pernah mendengar kedua metode ini?

Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjoyo, S.Psi

Metode EASY (Hogg, 2002): Eating, Activity, Sleep, You
Dalam metode ini, kita bisa tahu bahwa rutinitas bayi itu teratur seperti sebuah siklus yaitu rutin dan berulang: Eating (makan), Activity (beraktivitas), Sleep (tidur). Ketika bayi tidur, fokuslah pada diri Anda (You) untuk beristirahat dan melakukan kegiatan yang diinginkan. Setelah bayi bangun, rutinitasnya akan diulang lagi dari awal. Dengan demikian, ketika bayi kita menangis di jam-jam tertentu, kita bisa memahami sebab dia menangis dan apa yang dia hendak katakan. Awalnya memang sulit untuk mendisiplinkan bayi, EASY ini bisa efektif diterapkan ketika bayi menginjak usia 6 minggu. Hanya perlu waktu sekitar 3-5 hari untuk mengajarkan rutinitas tersebut, selanjutnya bayi akan mengikuti polanya.

Metode SLOW: Stop, Listen, Observe, What’s Up?
Ketika bayi di perut ibu selama 9 bulan, semua kebutuhannya tercukupi (gizi, kehangatan) sehingga dia terbiasa merasakan lingkungan yang aman dan nyaman. Saat bayi lahir ke dunia, dia akan menangis karena tubuhnya beradaptasi dengan lingkungan baru. Tahun pertama kehidupan bayi adalah masa krusial karena bayi akan merasakan apakah lingkungan barunya mencintai dia atau tidak. Jika lingkungannya kurang mendukung, bayi akan merasakan misstrust, yaitu merasa tidak diinginkan.

Metode SLOW ini mengingatkan kita agar tidak panik dan terburu-buru, tapi setiap hurufnya justru dapat membantu kita untuk mengingat hal apa yang harus dilakukan. Misalkan ketika ibu mandi, bayi menangis dan saat itu tidak memungkinkan kondisinya untuk ibu keluar dari kamar mandi. Hal yang perlu dilakukan ibu yaitu:

Stop. Hentikan kegiatan kita sejenak. Kita tidak perlu panik untuk terburu-buru menggendong bayi yang sedang menangis.
Listen. Dengarkan tangisan dan ‘bahasa’ bayi yang hendak disampaikan, ini bukan berarti ibu melakukan pembiaran terhadap bayi yang menangis ya, tapi lebih kepada mendengarkan arti tangisan bayi. Dalam kasus di atas, ibu bisa mengatakan “sebentar Nak, ibu selesaikan dulu mandinya ya”
Observe. Amati apa arti bahasa tubuhnya ketika bayi menangis? Apa yang terjadi pada lingkungannya?
What’s Up?. Kita bisa memikirkan aktivitas selanjutnya yang perlu dilakukan agar bayi berhenti menangis.

Kenali Diri Sendiri dengan Tes Berikut ini

Psikolog Vera kemudian mengajak para orang tua untuk mengenali dirinya sendiri melalui pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Bagi bunda-bunda yang mau mencoba, silakan dijawab pertanyaan ini ya. Setelah diberi nilai di setiap pertanyaan, jumlahkan totalnya lalu bagi dengan angka 12.

 

And the result is….


4-5 : Rules Freak!
Anda adalah tipe orang yang segalanya serba diatur. Idealis sih kalau saya bilang. Misalnya kalau pakai sikat gigi harus yang begini, begini, tidak boleh yang begitu, bla bla bla. Seseorang dengan tipe ini harus menyadari kalau terkadang segalanya tidak bisa sesuai kehendak dia. Jadi, bukan berarti orang dengan tipe ini sangat kaku, dia bisa fleksibel juga koq pada akhirnya.
3-4 : Flexible
Orang tipe ini bisa fleksibel dalam menghadapi segala situasi, nggak terlalu saklek begitu.
2-3 : Need Support
Nah tipe ini yang agak rawan karena terkadang orangnya teledor sehingga harus sering-sering mencatat.
1-2 : Freedom Rules!
Tipe orang ini membuat sedikit sekali peraturan, harus diwaspadai ya. Psikolog Vera mencontohkan pernah ada kasus seorang anak datang ke sekolah, begitu masuk kelas dia langsung tidur di bawah kolong meja sampai saatnya break-lunch. Anak itu juga suka pakai baju yang kemarin baru dipakai alias bau. Ketika dipanggil orang tuanya, ternyata ortunya memang tipe yang agak membiarkan / cuek dengan hal-hal seperti itu. Tidak banyak peraturan yang dibuat oleh ortu untuk anaknya.

 

Manfaat Peraturan

Bagaimana Cara Mendisiplinkan Anak?

Berikut ini penjelasan tentang cara mendisiplinkan anak oleh Tim Myers (kalau ndak salah tulis namanya):

Distract the child
Alihkan perhatian anak, misalnya untuk sesuatu yang membahayakan atau tidak seharusnya dilakukan anak. Cara ini manjur diterapkan untuk anak usia di bawah 3 tahun karena anak belum terlalu fokus. Anak usia tersebut masih bisa di-distract sebenarnya, hanya saja terkadang kita tidak melihat alternatif lain untuk mengalihkan perhatian anak. Misalnya ketika anak sedang pegang kacamata ibunya, kita bisa alihkan dengan hal lain “Lihat, mama punya sesuatu loh…” pasti anak langsung beralih fokus.

Jangan menggunakan kata “JANGAN” atau “TIDAK BOLEH” karena cara penyimpulan seorang anak di usia tersebut belum sempurna. Alih-alih, kita bisa gunakan kalimat positif lainnya. Misalnya: jangan lari! (Jalan saja); Jangan tarik! (Pegang saja). Ignore misbehaviour
Anak berulah selama ulahnya itu tidak membahayakan dirinya dan orang lain, sebaiknya di-ignore saja. Jika setiap ulah anak diberi perhatian (misalnya pelototan dari sang ibu), anak akan mengulanginya karena hal tersebut dirasa menyenangkan. Semakin senewen ibunya, semakin senang hati anak . Lebih baik ortu menahan diri dengan membiarkan anak mengeksplore sesuatu dan jangan diberi larangan (selama tidak membahayakan loh ya). Namun, jika sudah dalam level bahaya, kita boleh ekstrim melarang anak agar anak bisa membedakan mana larangan yang serius dan mana yang masih fleksibel.

Structure environment
Agar anak mau mendengarkan apa yang kita sampaikan, kita perlu mengkondisikan lingkungan sekitar. Jika suami dan istri mempunyai cara berbeda dalam mengasuh anak, sebaiknya diskusikan dulu di belakang layar agar di depan anak tetap terlihat kompak. Jangan sampai salah satu mengatakan hal lain di depan anak. Jika salah satu ada yang tidak tega menerapkan kedisiplinan untuk anak, sebaiknya “balik kanan” saja.

Control the situation, not the child
Di usia 2 tahun, anak tidak mau diatur atau dilarang. Pada masa ini, anak selalu ingin pegang kendali. Jadi, sebagai orang tua, kita mesti bijak berucap. Misalnya, bukan menggunakan kalimat perintah “Ayo Mandi!” tapi diubah menjadi “Kamu mau mandinya sama si bebek atau si ikan?”.

Involve the child
Berikan konsekuensi yang harus diterima oleh anak jika anak tidak patuh, misalnya ketika anak selesai bermain, dia tidak mau merapikan mainannya kembali. “Kamu mau mama atau kamu yang rapihin mainan? Kalau mama yang rapihin, mama akan simpen mainan ini dan kamu tidak bisa bermain lagi”.

Plan time for loving
Sediakan waktu khusus untuk mencurahkan kasih sayang ke anak meskipun ibunya galak sekalipun. Attachment dengan anak itu sangat penting karena bagaimanapun peraturan itu kita buat, jika kita tidak memiliki kedekatan dengan anak akan percuma. Jika kita memiliki lebih dari satu anak, sediakan waktu khusus hanya berdua saja untuk setiap anak. Idealnya memang setiap hari ada time-alone dengan anak, tetapi jika ortu tidak sempat bisa dibuatkan jadwal, misalnya: Senin waktunya ayah dengan kakak; Selasa waktunya ayah dengan si adik; Rabu waktunya ibu dengan si kakak; Kamis waktunya ibu dengan si adik; dsb.

Cukup luangkan waktu sekitar 10-15 menit saja untuk berdua dengan anak agar attachment dapat terjadi. Di waktu berduaan itulah orang tua bisa menerapkan peraturan yang sama. Hal ini bisa berjalan dengan baik jika time-alone-nya terlaksana.
Jangan sesekali membandingkan satu anak dengan anak lainnya. Haram hukumnya, kata Psikolog Vera. Kecuali jika memang tingkah anak sudah keterlaluan ya.

Let go
Hal ini mungkin agak susah dilakukan oleh sang ibu. Psikolog Vera pernah punya pengalaman ketika si anak tidak mau diantar sampai depan sekolahnya dan berucap “Mama sampai sini saja anternya”. Hal itu mesti kita biarkan dan kita terima.

Increase your consistency
Sekali konsisten harus selamanya konsisten itu diterapkan. Andaikan mau ada excuse, kita mesti beri penjelasan. Misalnya setelah bepergian keluarga dan pulang larut malam, anak sudah lelah ingin tidur. Ibu bisa mengatakan “Kali ini boleh nggak sikat gigi, tapi kali ini saja ya” dengan disertai penjelasan yang bisa diterima anak.

Notice positive behaviour
Berikan attention untuk perilaku anak yang baik, jangan hanya terfokus pada perilakunya saat negatif saja.

Excuse the child with a time-out
Hal ini bukan berarti memberikan strap pada anak. Misal ketika anak sedang tantrum, kita berikan penjelasan seperti “Kita ngomong kalau kamu sudah tenang ya”, atau “Kamu tenangin diri dulu,mama kasih waktu 5 menit”.

Time-out effect ini akan berujung trauma pada anak (karena mungkin nadanya seperti sebuah ancaman) hanya jika anak tidak tahu gunanya. Time-out ini tidak dianjurkan untuk anak di bawah usia 3 tahun.

Anak harus belajar menerima konsekuensi dari perbuatannya sendiri. Misalnya ketika anak kelas 3 SD kelupaan membawa PR-nya ke sekolah, ortu tidak perlu repot tergopoh-gopoh mengantar bukunya ke sekolah anak. Biarkan anak menerima konsekuensi dari gurunya. Time-out ini akan berjalan baik jika sudah diterapkan sedari awal.

Pola Asuh bersama Kakek dan Nenek

Kelas besar dengan topik “Mengasuh Bareng Kakek-Nenek, Siapa Takut?” menghadirkan narasumber: Noella Birowo (istri dari Indra Birowo sekaligus Founder Tiga Generasi); Dra Evita Djaman, M.Psi; dan Psikolog Anna Dauhan, MSc.

Mungkin ada sebagian orang tua (kita sebut Generasi 2/ G2) yang merasa diuntungkan dengan kehadiran kakek nenek (Generasi 1/ G1) dalam pengasuhan anak-anaknya (Generasi 3/ G3). Namun, tidak sedikit juga orang tua yang mengeluh karena pola asuh kakek-nenek tidak sama dengan yang diinginkan oleh orang tua itu sendiri sehingga tak jarang konflik pun terjadi. Dalam kelas ini, dikupas tentang bagaimana agar G1 dan G2 dapat berdampingan dalam mengasuh G3.

Menurut Psikolog Anna, komunikasi antara kita (G2) dengan orang tua kita (G1) haruslah lancar agar bisa menetapkan aturan untuk anak-anak (G3). Dari sisi kakek-nenek, kita harus memahami apa concern mereka terhadap pengasuhan anak-anak kita? Dari sisi kita sebagai orang tua anak, untuk menjadi orang tua yang efektif kita harus mempelajari karakteristik dan kebutuhan orang tua / mertua kita. Selain itu, pemahaman terhadap sudut pandang masing-masing perlu diperhatikan. Misalnya saja sebagai Generasi 2, kita lebih fokus ke karir dan rumah tangga, sedangkan kakek-nenek mungkin memiliki sudut pandang lain.

Ibu Evita juga membenarkan tentang pentingnya komunikasi dan pemahaman karakteristik. G1 dan G2 itu rentan konflik, demikian juga dengan G1 dan G3. Konflik yang biasanya terjadi pada G1 dan G3 misalnya ketika anak-anak itu butuh untuk memanjat dan terjatuh, tetapi kakek-nenek melarang memanjat agar tidak jatuh. Konflik antara G1 dan G2 rentan terjadi. Walau bagaimana pun, dua nahkoda dalam satu rumah tangga itu tidak bagus. Kakek-nenek seharusnya stay away. Namun, jika memang harus tinggal serumah antara ortu dan kakek-nenek, semua kebutuhan well-being masing-masing harus terpenuhi agar masalah dapat teratasi.

Prinsip dalam Pola Asuh bersama Kakek-Nenek:

1)      Komunikasi

2)      Konsisten

3)      Batasan

4)      Kebesaran Hati

Harapan dari kakek-nenek (G1) terhadap pengasuhan anak (G3) antara lain:

1)      terlibat dalam pengasuhan,

2)      menyaksikan pertumbuhan,

3)      mengajarkan nilai-nilai,

4)      terlibat dalam keseharian

5)      menjalin kedekatan emosi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika melibatkan kakek-nenek dalam pengasuhan anak:

1)      Aturan dan batasan di awal

2)      Tanya kesediaan

3)      Sepakati tujuan

4)      Satukan kubu

5)      Ingatkan anak agar patuh

6)      Belajar bersama

7)      Ajak diskusi

8)      Bicarakan hal positif

9)      Penghargaan

10)   Berikan bantuan

Psikolog Anna melanjutkan bahwa konflik yang sering terjadi antara orang tua dan kakek nenek adalah terkait pendisiplinan anak. Terkadang ortu lebih strict atau justru lebih longgar. Misalnya saja ketika di rumah, anak mau mandi sendiri tapi ketika pulang dari rumah neneknya, anak tidak mau mandi sendiri. Contoh lain misalnya saat anak makan, nenek mengharuskan anak makan di meja makan dan menggunakan sendok dan garpu, sedangkan ortu berpendapat bahwa anak-anak baru belajar makan sehingga biarkan saja mau makan di mana asal tidak ribet.

Ibu Evita mengatakan bahwa akhir-akhir ini kita sering berbicara tentang neuro-psikologi. Ketika menginjak usia makin lanjut, ada pemahaman baru bahwa otak berkembang sesuai usia, tetapi tetap ada penurunan di area-area tertentu yang berhubungan dengan karakter. Ketika terjadi perubahan-perubahan ini, orang dengan usia lanjut lebih mudah tersinggung dan merasa demotivasi. Oleh sebab itu, sebagai orang tua yang ada di generasi kedua harus bisa menerima keadaan tersebut untuk menghindari konflik. Berikan pujian pada kakek-nenek agar didapatkan hubungan emosional yang seimbang. Tangkap momen ketika kakek-nenek sedang berlaku baik, jangan hanya menyudutkan ketika mereka melakukan kesalahan.

Tips Bagi Orang Tua

1)      Berpikiran positif dan terbuka

2)      Pahami karakteristik dan kebutuhan kakek-nenek

3)      Terima masukan

4)      Siapkan strategi dan fleksibel

5)      Self-care

6)      It’s ok to feel not ok

7)      Hindari kritik, sampaikan pujian

8)      Beri masukan secara postitif

9)      Hindari rasa bersalah/ ingin menebus

Tips Bagi Kakek-Nenek

1)      Cucu bukan anak Anda

2)      Kenali batasan diri dan hondari over-commit

3)      Hargai aturan dan batasan

4)      Nasihat yang tidak diminta?

5)      Tetap aktif

Referensi:

Memahami Arti Tangisan Bayi dengan Metode E.A.S.Y
http://www.babywhispererforums.com/index.php?topic=65942.0

Please follow and like me:

Persembahan Pampers untuk Momen Pertama bersama Buah Hati

Momen Pertama

Hari ini, usia kehamilan saya 24 minggu. Babak dua-per-tiga masa kehamilan sudah hampir genap terlewati. Momen pertama menjalani kehamilan bukan hal yang cukup mudah bagi saya. Sesuatu hal baru dan pertama bukankah biasanya tidak terasa nyaman? Tapi saya tetap berusaha menikmati semua ini dengan baik koq 🙂

Akhir dari kehamilan, saya akan memasuki babak baru yaitu momen pertama dalam hidup saya menjadi seorang ibu, memiliki bayi, mengasuhnya dengan segala kerempongan –seperti yang sering saya dengar dari pengalaman ibu-ibu lainnya-. Artinya, saya harus lebih banyak belajar, mencari ilmu, dan berguru pada yang sudah lebih berpengalaman.

Pada tanggal 4 Juni 2016 lalu, saya berkesempatan menghadiri gathering yang diadakan oleh Pampers. Pampers yang tengah merayakan perjalanan #MomenPertama Ibu dan Bayi tersebut menghadirkan kampanye barunya, “Firsts”, yaitu program tentang bagaimana pengalaman orang tua merayakan banyak momen pertama bersama buah hati dalam perjalanan awal mereka menjadi sebuah keluarga. Sebagai persembahan kepada banyaknya momen pertama yang dialami bersama oleh keluarga, Pampers merilis kumpulan video berjudul “Firsts”, yang memperlihatkan banyak momen berharga yang tumbuh di antara orang tua dan bayi mereka. Berikut adalah Video “Firsts” yang menampilkan momen-momen menyentuh dalam perjalanan awal seorang bayi yang membuat sebuah keluarga menjadi lengkap atas kehadirannya.

Saat baru menjadi orang tua bagi buah hati, tidak ada yang lebih berharga dari merasakan semua momen pertama yang indah dari bayi Anda, baik itu adalah momen pertama saat mendengar detak jantung, momen pertama Anda mendekap bayi Anda, momen pertama bayi Anda tidur dengan lelap, Pampers ingin ada di setiap momen pertama dan mendampingi Ibu,” ujar Febrina Herlambang, Communications Manager P&G.

Acara gathering Pampers yang bertempat di SeaGrain Resto and Bar di Doubletree Hilton Cikini Jakarta mengundang para ibu dan calon ibu yang tengah menantikan buah hatinya. Di acara itu pula, hadir brand ambassador Pampers, artis cantik  Gisella Anastasia dan putrinya, Gempita.

Sebagai first time mom, video “First” buat saya sangat brilian karena menyentuh perasaan banyak orang tua baru yang pasti mengalami hal serupa. Saya merasa melihat diri saya dan suami ketika menantikan Gempi lahir. Betapa kami ingin segera melihat dan berbagi semua momen pertama bersamanya. Banyak sekali kejutan luar biasa pada momen-momen pertama saya memiliki bayi.  Sekarang dengan hadirnya Pampers Premium Care New Baby yang dibuat khusus untuk melindungi bayi baru lahir pastinya akan sangat membantu banyak ibu dan menjadi produk yang tepat dalam memberikan proteksi untuk bayi baru lahir mereka,” ujar Gisella.

 

dokumen pribadi

Apakah pospak (misal produk Pampers) baik digunakan pada Newborns?

Perawatan bayi sebenarnya mudah, tapi satu hal yang perlu diingat adalah kulit bayi sangat sensitif dan gampang kering sehingga jika perawatannya tidak tepat bisa mengakibatkan iritasi. Masalah-masalah yang sering terjadi pada kulit bayi antara lain kulit terlihat mengelupas (biasanya pada bayi post-mature) dan timbul jerawat kemerahan pada bayi. Jerawat pada bayi ini sebenarnya bukan diakibatkan oleh makanan ibunya –seperti apa kata orang jaman dulu- tapi lebih karena kondisi kulit bayi yang sensitif.

Untuk mengatasi kulit bayi agar tidak mudah iritasi, beberapa hal perlu kita lakukan, misalnya:

  1. Kita harus mempelajari teknik perawatan kulit bayi secara tepat
  2. Perawatan bayi dari ujung rambut sampai ujung kaki
  3. Perhatikan diaper-nya. Jumlah pipis bayi berbeda-beda sehingga kita perlu mengeceknya sewaktu-waktu.

Dalam sehari minimal bayi pipis sebanyak 6 kali dan pup minimal 4 kali. Bisa dibayangkan ya, berapa banyak popok yang mesti disiapkan untuk ganti?

“Struktur kulit bayi yang baru lahir memiliki kulit yang sangat sensitif. Sesuatu yang sebenarnya tidak mempunyai efek yang berarti pada kulit sensitif orang dewasa, sementara pada kulit bayi bisa mempunyai efek yang besar dan rentan terhadap iritasi. Faktor lingkungan tempat bayi berada merupakan salah satu faktor penting dalam perawatan dan kenyamanan kulit bayi. Terutama dalam pemilihan popok sekali pakai, dengan mendapatkan popok yang tepat yang memang dibuat khusus bagi bayi baru lahir, memiliki daya serap baik, tidak menimbulkan iritasi, dan tidak menghambat gerakan dan perkembangan bayi sehingga bayi dapat tidur lebih nyenyak sepanjang malam,” kata Dr. Margareta Komalasari, Sp.A(K) yang menjadi salah satu pembicara dalam acara gathering.

Jadi para mommies, jika mommies ingin lebih praktis dan efisien dalam hal penggantian popok bayi, mommies bisa saja memakai pospak (popok sekali pakai) dengan bahan yang baik, lembut dan halus, memiliki daya serap tinggi, tidak menimbulkan iritasi, dan tidak menghambat gerakan dan perkembangan bayi. Bayi tidak harus memakai pospak sepanjang hari karena bisa kita rasakan sendiri ya kalau kita memakai pembalut sepanjang hari juga rasanya tidak nyaman, kan? Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik jadi pemakaian pospak perlu disesuaikan dengan kebutuhan si bayi.

dokumen pribadi

Pampers Premium Care New Baby

Sementara kulit bayi yang baru lahir masih beradaptasi, kita bisa memberikan perlindungan dan kasih sayang yang terbaik bagi mereka dengan Pampers Premium Care New Baby. Untuk perlindungan kulit terbaik, Pampers memiliki 5 keunggulan:

  1. Super Gel, yaitu gel dengan daya serap hingga 12 jam
  2. Sirkulasi udara agar kulit tetap kering
  3. Lembut di segala bagian, menjaga kulit tetap nyaman
  4. Bagian pinggang 2x lebih lentur – super pas dan nyaman
  5. Lotion perlindungan kulit

Pampers New Baby memberikan perlindungan bagi kulit bayi yang baru lahir. Teknologi Unique Absorb-Away Layer cepat menyerap basah dan pup yang berair dari kulit bayi yang. Selain itu, keunikan dari Pampers New Baby ini adalah adanya Wetness Indicator yang akan berubah warna menjadi biru saat bayi buang air kecil sehingga para ibu tahu kapan harus mengganti popok. Desain yang melengkung dan pas di daerah perut juga membuat bayi semakin nyaman.

Pampers Premium Care New Baby tersedia di seluruh toko di Indonesia dengan harga Rp. 27.500 untuk Pampers isi 13 dan Rp. 59.900 untuk Pampers isi 28, ukuran yang tersedia mulai dari usia Newborn hingga XL.

Pampers Premium Care New Baby dengan Perlindungan Kulit Bintang 5

 

Khusus 1 April hingga 30 Juni 2016, Pampers memiliki promo diskon 40% di toko-toko tertentu, bisa dicek di sini.

Please follow and like me:

Wajah Pelayanan Kesehatan di Indonesia Gara-Gara Ada BPJS Kesehatan

Dalam kehidupan ini, ada hal-hal yang terjadi dengan tidak pasti, misalnya sesuatu yang datang tak terduga yaitu sakit. Kita mungkin tak perlu terlalu khawatir jika sakit itu datang ketika kita masih berusia produktif, berpenghasilan cukup, dan mampu untuk menjangkau biaya pengobatan. Namun, ketika sakit itu datang saat usia kita sudah renta dan tak lagi berpenghasilan, bagaimana kita bisa mendapatkan perawatan dan pelayanan kesehatan yang memadai, terjangkau, kapan saja, dan di mana saja?

Menjadi peserta asuransi kesehatan mungkin bisa menjadi salah satu pilihan karena asuransi kesehatan dapat mengurangi risiko masyarakat menanggung biaya kesehatan dari kantong sendiri (out of pocket) yang kadang-kadang diperlukan biaya yang sangat besar dan dalam jumlah yang tidak bisa diprediksi. Akan tetapi, dengan asuransi kesehatan saja tidaklah cukup. Dalam hal ini, diperlukan Asuransi Kesehatan Sosial atau Jaminan Kesehatan Sosial karena premi asuransi kesehatan (komersial) relatif tinggi sehingga sebagian masyarakat tidak mampu menjangkaunya. Selain itu, manfaat yang ditawarkan oleh asuransi kesehatan (komersial) biasanya terbatas sehingga tidak semua biaya pengobatan dapat diklaim.

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikembangkan di Indonesia merupakan bagian dari program jaminan sosial yang diselenggarakan melalui BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Berdasarkan Undang-Undang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), Asuransi Kesehatan Sosial ini bersifat wajib (mandatory) dengan tujuan agar semua penduduk Indonesia terlindungi dalam sistem asuransi sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak. Salah satu prinsip yang diterapkan oleh BPJS adalah prinsip kegotongroyongan. Prinsip ini sudah mengakar dalam kebudayaan Indonesia. Lebih jauh lagi, prinsip ini dapat diartikan bahwa peserta yang mampu akan membantu peserta yang kurang mampu atau peserta yang sehat membantu peserta yang sakit. Hal ini tentu saja dapat terwujud karena kepesertaan dalam BPJS bersifat wajib untuk seluruh penduduk Indonesia. Dengan demikian, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia diharapkan dapat tercapai.

Sejak mulai dilaksanakannya BPJS Kesehatan pada tanggal 1 Januari 2014, mungkin kita sudah banyak mendengar pengalaman-pengalaman dari keluarga, kerabat, teman, tetangga, atau mungkin pengalaman pribadi dalam mendapatkan pelayanan kesehatan melalui sistem JKN ini? Jamak diketahui, suatu kebijakan baru umumnya menuai pro dan kontra. Banyak masyarakat yang sudah merasakan manfaat dari kepesertaannya dalam BPJS, salah satunya kakek saya sendiri yang biaya operasi kataraknya dicover sepenuhnya oleh BPJS. Melalui serentetan prosedur administratif yang harus dilalui, akhirnya proses operasi katarak bisa diselenggarakan dengan lancar. Demikian halnya dengan orang tua dari rekan sekantor saya yang harus menjalani operasi by-pass jantung. Keluarganya tidak lagi khawatir dengan besarnya dana yang harus dikeluarkan dari kantong sendiri karena semua biaya operasi pada akhirnya ditanggung oleh BPJS. Pengalaman lainnya, ketika saya berdiskusi santai dengan seorang sopir taksi yang baru pulih dari sakit Hepatitis-nya. Dia mengatakan walaupun antrian peserta BPJS yang harus dihadapi cukup panjang dan prosedurnya dianggap agak ribet, tetapi dia menyadari bahwa hal tersebut tidak sia-sia karena “harganya” tidak sebanding dengan seluruh biaya pengobatan yang sudah dibayarkan oleh BPJS. Dengan BPJS, kehidupan masyarakat tertolong tanpa harus menjadi jatuh miskin karena sakit yang dideritanya.

Boleh jadi, pernyataan saya di atas tidak disetujui oleh kaum yang kontra dengan kehadiran BPJS. Tidak sedikit yang mengeluhkan buruknya pelayanan yang mereka dapatkan sebagai peserta BPJS. Apakah benar, ini sepenuhnya salah BPJS? Dalam suatu kesempatan saya mewawancarai pasien-pasien peserta BPJS di beberapa rumah sakit, ada kesan kecewa dalam gurat wajah mereka disebabkan mereka merasa di-nomor-sekian-kan oleh para petugas kesehatan. Mungkin karena pasien-pasien tersebut adalah peserta BPJS sehingga pelayanan yang diberikan oleh fasilitas kesehatan tidak se-responsif jika mereka membayar dari dompet sendiri. Beberapa mengeluhkan panjangnya antrian rawat jalan. Sebagian lagi tidak terima karena orang sakit disuruh menunggu berbulan-bulan lamanya untuk mendapatkan jadwal operasi. Tak jarang juga pasien rawat inap yang kecewa karena tidak ditempatkan di kelas perawatan yang seharusnya. Kekecewaan juga dialami oleh rekan kerja saya ketika sedang berjuang mengobati anaknya yang sakit Demam Berdarah dan harus berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya demi mendapat fasilitas rawat inap seperti yang telah ditentukan dalam surat rujukan dokter puskesmas. Karena merasa ‘ditolak’ oleh beberapa rumah sakit, akhirnya rekan saya terpaksa membayar dengan dana pribadi untuk pengobatan anaknya tersebut. Semua kekecewaan, keluhan, dan ketidakpuasan ini gara-gara BPJS, benarkah demikian?

Lain kata pasien, lain lagi kata petugas kesehatan dan perangkat manajemen penyelenggara fasilitas kesehatan. Keluhan yang biasa diungkapkan oleh para dokter adalah sedikitnya jasa pelayanan yang didapat, jasa yang belum dibayarkan oleh BPJS, ribetnya proses pengisian rekam medis (terutama dikeluhkan para dokter spesialis atau sub-spesialis) yang harus lengkap terisi gara-gara BPJS, dll. Bagi perangkat rumah sakit, keluhan ada di seputar prosedur klaim yang ribet karena harus menyertakan kelengkapan dokumen pemeriksaan, proses verifikasi yang lama dan kadang berkas-berkas klaim dikembalikan lagi ke rumah sakit karena kurang lengkap, dll. Apakah ini semua juga gara-gara BPJS?

Seperti ditulis oleh Bapak Tonang Dwi Ardyantobahwa selama ini kita telanjur terjebak pada persepsi yang menimbulkan salah kaprah. Yang kita tahu adalah BPJS, bukan JKN sehingga kita pun terjebak untuk selalu menudingkan hampir semua hal dalam JKN kepada BPJS Kesehatan. Rupanya salah kaprah ini masih saja terjadi di tahun ketiga pelaksanaan JKN. Oleh karena itu, tidak heran jika akhir-akhir ini kita pun masih sering mendengar atau menjumpai kritikan-kritikan yang terlontar “gara-gara BPJS”.

Satu hal yang perlu digaris-bawahi dalam hal ini adalah banyaknya unsur atau “pemain” yang terlibat di dalam pelaksanaan sistem JKN ini. BPJS Kesehatan hanyalah satu dari sekian banyak “pemain” yang berperan di dalamnya. Unsur-unsur lainnya misalnya Kementerian Kesehatan dan fasilitas penyelenggara kesehatan (puskesmas, klinik, rumah sakit, dll). Jadi, sebenarnya kurang tepat jika semua kekacauan, kekecewaan, atau kesalahpahaman yang terjadi melulu ditudingkan kepada BPJS. BPJS itu fungsi utamanya mengatur kepesertaan dan mengelola dana amanat atau iuran rakyat. Urusan outcomepelayanan kesehatan, besaran jasa pelayanan, kebijakan yang terkait dengan pelayanan di fasilitas kesehatan semua murni urusan internal fasilitas kesehatan itu sendiri dan bukan ranah BPJS.

Ibarat bayi, di usianya saat ini BPJS masih belajar berjalan. Dukungan berbagai pihak sangat diperlukan agar tujuan Universal Health Coverage (jaminan kesehatan bagi semua penduduk) di tahun 2019 bisa terwujud. Oleh karena itu, fasilitas kesehatan dan segenap perangkatnya harus mau berbenah diri, Kementerian Kesehatan perlu terus mensupport, demikian juga dengan masyarakat Indonesia harus mau bergotong-royong dalam membangun kesejahteraan kesehatan di masa depan.

Mari kita bahu membahu demi Indonesia yang lebih sehat. Dengan bergotong royong dalam beriuran, secara tidak langsung peserta yang mampu akan membantu peserta yang kurang mampu secara finansial atau peserta yang sehat membantu peserta yang sakit. Dengan demikian, tidak ada lagi masyarakat Indonesia yang menjadi miskin karena sakit dan tidak ada lagi stigma bahwa orang miskin dilarang sakit.

Referensi:

Buku Pegangan Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional, Kemenkes RI

JKN Bukan BPJS: Sampai Kapan Salah Kaprah Ini? (Tonang Dwi Ardyanto)
Selengkapnya: http://www.kompasiana.com/tonangardyanto/jkn-bukan-bpjs-sampai-kapan-salah-kaprah-ini_56d4b7fa90fdfdc02fb1b6e7


DISCLAIMER: Tulisan ini diikutkan dalam Blog Competition yang diselenggarakan oleh Kompasiana.

Artikel dipublikasikan di http://www.kompasiana.com/eskaningrum/wajah-pelayanan-kesehatan-di-indonesia-gara-gara-ada-bpjs-kesehatan_5766c8ed82afbdc209b924ed

Please follow and like me:

“Story on A Plate”: sajian yang sedap dipandang dan menarik konsumen

Pernah melihat foto atau gambar sajian masakan yang begitu menggiurkan dan menggugah selera? Padahal kita hanya melihatnya lewat foto, bukan real makanannya. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa di zaman digital seperti sekarang ini, orang berlomba-lomba memotret makanannya dan meng-upload ke media sosialnya sebelum dimakan. Atau kalian termasuk salah satu yang sering melakukan itu? Tahu tidak, kalau ternyata ada loh teknik menyajikan makanan melalui kamera agar tampil menggoda. Tips-tips tentang food photography dan food styling inilah yang dibahas di acara workshop Story on A Plate bersama Fonterra Foodservices. Sebelum masuk ke pembahasannya, disimak dulu uraian berikut yuk.

Fonterra Foodservices, pemasok bahan baku berbasis susu untuk industri kuliner yang merupakan unit bisnis dari Fonterra Brands Indonesia, tanggal 31 Mei 2016 lalu berbagi rahasia bagaimana menciptakan “Story on A Plate” – sajian yang tidak hanya sedap dipandang namun juga menarik bagi konsumen dalam media sosial di era digital ini. Forum kreatif ini merupakan bagian dari inisiatif Fonterra Foodservices untuk berbagi keahlian dan pengetahuan di bidang industri kuliner. Tujuannya untuk membantu para pelanggannya, khususnya Usaha Kecil Menengah (UKM), dalam meningkatkan penjualan juga mencapai kesuksesan seiring dengan meningkatnya permintaan konsumen akan sajian yang berkualitas tinggi dan lezat. Acara ini juga menghadirkan workshop food photography dan food styling, dimana pelaku UKM memperoleh tips-tips penting dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana berpromosi.

Kiri ke Kanan: Adinda Zuleika, Anindita Ikasari, Ines Yumahana Gulardi, Yus Andriana, dan MC

Acara tersebut menghadirkan para pembicara dan profesional di industri kuliner yang terdiri dari Anindita Ikasari, Channel Development Manager, Fonterra Foodservices Indonesia; Yus Andriana, Advisory Chef, Fonterra Foodservices Indonesia; Ines Yumahana Gulardi, Senior Nutrition Manager Fonterra Brands Indonesia; Fellexandro Ruby, Food Photographer Profesional; Vania Samperuru, Food Stylist Profesional dan Adinda Zuleika, pemilik bisnis Cake & Pastry D’Patisserie.

Dalam kesempatan tersebut, Anindita Ikasari, Channel Development Manager, Fonterra Foodservices Indonesia, menyampaikan,

“Acara ‘Story on A Plate’ ini merupakan bagian dari komitmen Fonterra Foodservices dalam mendukung mitra usaha kami, terutama mitra UKM, dengan menyediakan bahan baku yang berkualitas dan solusi tepat guna yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis, serta membekali mereka dengan keahlian dan pengetahuan yang diperlukan untuk membantu agar  bisnis dapat berkembang dan sukses”.

“Bersama dengan para ahli di bidang kuliner, kami berharap dapat memberikan inspirasi bagi para pemain industri kuliner untuk memperluas wawasan dan keahlian guna memenuhi permintaan konsumen yang kian kompleks dan beragam, serta pemanfaatan media sosial untuk meningkatkan penjualan,” jelas Anindita.

Demo menghias cake by Adinda dan Chef Yus

Yus Andriana, Advisory Chef, Fonterra Foodservices Indonesia, menyampaikan “Fonterra Foodservices senantiasa mencari cara untuk dapat memenuhi kebutuhan para pelaku bisnis kuliner di Indonesia dengan menyediakan bahan baku yang berkualitas dan mengembangkan produk-produk foodservice yang baru dan inovatif.”

“Hidangan yang lezat dan menarik tidak dapat tercipta tanpa bahan baku yang berkualitas tinggi, yang memegang peranan penting dalam menghasilkan sajian dengan rasa yang lezat sekaligus warna, tekstur dan tampilan yang menarik. Dengan berinvestasi pada bahan baku yang berkualitas, kita dapat menciptakan hidangan yang cantik, photogenic, serta lezat yang tentunya akan disukai pelanggan,” tambah Chef Yus.

Praktik menghias sajian agar tampil menarik bersama Ibu Vania

Ines Yumahana Gulardi, Senior Nutrition Manager, Fonterra Brands Indonesia, mengatakan, Menawarkan tampilan yang menarik dalam mempromosikan sebuah makanan hanyalah salah satu cara dari rangkaian proses. Selain terlihat menarik, sumber makanan juga perlu diperhatikan. Bahan baku makanan yang berkualitas, selain dapat menghasilkan makanan yang lezat dan terlihat menarik, juga merupakan sumber nutrisi penting untuk membangun kekuatan dan kesehatan tubuh. Konsumen Indonesia ingin mengetahui nutrisi yang terkandung dalam sajian mereka dan senantiasa mencari sumber makanan yang terpercaya. Kami ingin membantu masyarakat membuat pilihan yang tepat dan menjadi sumber asupan nutrisi berbasis susu yang terpercaya.”

“Acara pada hari ini merupakan bagian dari inisiatif kami untuk merayakan kebaikan susu yang akan diperingati lewat Hari Susu Nusantara dan Dunia yang jatuh pada tanggal 1 Juni 2016 mendatang. Kami berkomitmen untuk menjadikan nutrisi susu sebagai bagian dari keseharian masyarakat Indonesia dengan menyediakan produk yang inovatif, bernutrisi dan juga lezat,” tambah Ines.

 

Adinda Zuleika, pemilik bisnis Cake & Pastry D’Patisserie, membagikan kisah sukses D’Patisserie – mengenai bagaimana ia mengatasi berbagai tantangan dalam membangun bisnis kue yang tengah melejit. Adinda juga berbagi pengalaman dalam menggunakan produk Anchor dari Fonterra Foodservices untuk meningkatkan rasa, tekstur serta penampilan produknya. Ia menjelaskan, “Bagi saya, ‘Story on A Plate’ merupakan perjalanan indah setiap sajian dari oven ke meja makan, hingga akhirnya tampil di media sosial. Mengambil gambar dari hidangan yang terlihat lezat dan menarik sangat penting bagi saya untuk mempromosikan bisnis melalui media sosial, dan pada akhirnya mampu meningkatkan performa bisnis saya.”

Memberikan tips di sela-sela sesi workshop Fellexandro Ruby, Food Photographer Profesional, mengatakan “Sangat penting untuk menampilkan gambar yang merepresentasikan makanan yang kita sajikan. Gambar dengan kualitas yang baik dan menarik bisa menjadi daya tarik khusus terhadap konten media sosial yang dirilis.”

Praktik food photography bersama Captain Ruby

Tak ketinggalan Vania Samperuru, Food Stylist Profesional, memaparkan tentang tips-tips dalam Food Styling, yaitu menggunakan seni untuk menyajikan makanan agar tampak menawan ketika difoto.

Mau menyimak pembahasan Ibu Vania Samperuru tentang tips Food Styling-nya agar makanan yang difoto tampil cantik dan menarik?? Nantikan kelanjutannya yaaa…

 

 

Please follow and like me: