Review MOOIMOM: Corset, Nursing Bra, Slimming Suit

Dilema sebagian ibu-ibu setelah melahirkan adalah perut yang menggelambir hihihi. Mau bagaimana lagi, 9-10 bulan “mengantongi” jabang bayi, setelah bayi keluar longgarlah perut para emak. Sebelum melahirkan, saya berikrar (pada diri sendiri sih) bahwa saya akan rajin pakai korset. Alamaaaak, kenyataannya rajin sih rajin tapi nggak nyamannya itu loh yang membuat saya tersiksa memakai korset.

Dua hari pertama setelah melahirkan, saya memakai gurita khusus ibu. Lalu, hari ketiga dan selanjutnya saya memakai korset 3-band (korset dengan 3 perekat). Tapi malangnya, kulit saya yang sensitif menjadi kemerah-merahan dan gatal-gatal setiap kali memakai korset 3-band. Selain itu, timbul ketidaknyamanan juga saat memakai karena korsetnya suka menggulung sendiri sehingga harus sering dibetulkan posisi rekatannya.

Ternyata hunting korset yang nyaman dan ramah kantong itu nggak gampang buat saya. Sampai akhirnya saya menemukan korset MOOIMOM yang bahannya nyaman, cara memakainya nggak ribet, dan harganya cukup affordable.

Saya punya tiga macam korset MOOIMOM. Karena reviewnya menurut saya positif dan saya puas memakainya, saya pun mencoba produk MOOIMOM lainnya yaitu bra dan baju pelangsing. Berikut reviewnya.

Continue reading “Review MOOIMOM: Corset, Nursing Bra, Slimming Suit”

Please follow and like me:

Pengalaman Melahirkan dengan “Gentle Birth” dan Minim Trauma

Sabtu, 1 Oktober 2016 usia kandungan saya tepat 38 minggu 5 hari. Pagi itu tidak ada yang berbeda dari sebelumnya. Weekend adalah waktunya saya dan suami bisa menghabiskan waktu bersama. Rutinitas weekend kami memang agak berbeda selama saya hamil. Sabtu adalah waktunya kontrol ke dokter untuk antenatal care (ANC) dan Minggu pagi adalah waktunya saya untuk mengikuti kelas prenatal yoga di dekat danau Kampus UI. Pagi itu kami sudah bersiap untuk jalan-jalan, kebetulan saya lagi pengen banget makan lontong sayur. Namun, tiba-tiba segala rencana berubah arah hari itu.

Pukul 06.30

Saya merasakan nyeri di perut bagian bawah. Hal ini wajar terjadi karena di usia kehamilan trimester ketiga, kontraksi palsu yang ditandai dengan perut terasa kencang di bagian bawah seringkali saya alami. Biasanya sih hal ini terjadi kalau saya lagi kecapean.

Pukul 07.00

Ketika saya cek, keluar lendir dan darah segar dari vagina dan volumenya agak banyak. Agak banyak di sini maksudnya seperti ketika saya sedang menstruasi hari ke-2-4 saat darah yang mengalir sedang banyak-banyaknya. Nyeri di perut datang semakin intens. Kalau boleh dibilang, nyerinya itu seperti nyeri haid. FYI, bagi sebagian wanita, nyeri haid adalah bukan hal yang main-main karena rasanya aduhaiii… saya sendiri kalau lagi haid sering guling-guling di kasur, meringkuk, dan nggak bisa bangun. Hehehe. Namun, nyerinya kali itu masih bisa saya atasi.

Saya telepon ibu saya di kampung untuk mengabari kondisi saya pagi ini. Saya telepon dengan nada ceria seperti biasanya, sesekali meringis nahan nyeri sih. Ibu orangnya agak panikan jadi kalau saya mengabarinya pakai nada panik, beliau pasti ikut panik. Hehe. Benar saja, saya yang mengabari dengan suara sebiasa mungkin ternyata membuat ibu heboh. “Cepetan ke rumah sakit loh soalnya ada orang yang tipe melahirkannya emang cepet, jangan sampai kebrojolan di rumah!”. Wkwkwkwkwk…

Saya dan suami bersiap ke rumah sakit. Satu tas besar yang berisi kebutuhan newborn dan ibu pascamelahirkan sudah saya siapkan jauh-jauh hari sehingga hari itu kami tidak kelabakan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Saya orangnya yang agak santai (tapi serius) pagi itu masih sempat saja mengeringkan rambut pakai hair dryer sembari menunggu driver taksi datang menjemput.

Saya cek waktu kontraksinya muncul sudah teratur per 5 menit sekali. Wow! Padahal sependek yang saya tahu biasanya kontraksi menjelang persalinan itu diawali dengan kontraksi palsu yang sering muncul dan hilang. Biasanya juga terjadi beberapa jam sekali hingga pada akhirnya teratur terjadi per 10 menit sekali, dan seterusnya.

Ketika driver taksi datang, saya mengatur napas dan menghitung waktu agar saya bisa berjalan dengan baik keluar rumah menuju ke dalam taksi. Rasanya ya masih sama, nyut-nyut seperti nyeri haid tapi munculnya sudah teratur tiap 5 menit sekali. Jadi saat nyut-nyut itu hilang, saya segera berjalan ke arah taksi. “Bisa jalan nggak?” tanya ibu kontrakan yang rumahnya masih satu komplek dengan rumah kami ketika melihat saya keluar rumah. “Hehehe, jangankan jalan Bu, joget aja saya masih bisa,” seloroh saya sambil nyengir. 😛

Pukul 08.30

Saya tiba di lobi RS dan langsung menuju ke bagian informasi untuk bisa mengakses ruang bersalin. Di sinilah saya merasa betapa pentingnya mengumpulkan informasi-informasi terkait rencana persalinan dari jauh-jauh hari. Ketika hari-H itu terjadi, saya tidak panik karena saya tahu harus datang ke bagian mana. Bahkan saya sudah reservasi ruang perawatan ibu dan bayi dari jauh-jauh hari.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya perawat di bagian informasi.

“Saya mau ke ruang bersalin, kayaknya sih saya mau melahirkan”, jawab saya.

Perawat itu agak tergopoh mengambilkan kursi roda untuk saya dan saya disuruh duduk di atasnya

“Emmm, saya masih bisa jalan koq Mba,” kata saya menolak halus. Iya saya memang masih kuat berjalan.

SOP nya begitu Bu, nggak apa-apa duduk saja di sini nanti saya antar ke ruangan,” kata si perawat. Ya sudah saya manut deh.

Saya dibawa ke ruangan observasi. Sebelumnya, saya ijin ke toilet. Maklum ya ibu hamil besar hobi banget keluar-masuk toilet.

“Bisa jalan ke toilet sendiri Bu?” tanya perawat di ruang observasi. Setelah saya mengiyakan, dia menunjukkan letak toilet.

Di ruang observasi, bidan melakukan cek dalam atau cek panggul (Vaginal Toucher) untuk tahu sudah ada pembukaan jalan lahir atau belum. Dia memasukkan jari ke dalam vagina saya, pemeriksaan ini dirasa nggak nyaman bagi sebagian besar kaum wanita. Tapi menurut saya sih nggak sakit, hanya risih sedikit. Saya tahu kalau saya harus rileks agar otot sekitar vagina juga bisa rileks saat pemeriksaan dalam.

“Sudah ada pembukaan Bu?” tanya saya.

“Ya, sekitar 2 atau 3 lah,” kata si bidan.

“Ooouh… begini toh rasanya pembukaan 2 atau 3, gimana kalau sudah mau pembukaan lengkap ya? Nyerinya pasti Wowwww bangettt,” batin saya. Saya tetap berusaha rileks dan mengatur napas.

Sekitar 10 menit kemudian, bidan memberi tahu saya kalau dokter obgyn saya kebetulan sedang ada tindakan di ruangan tersebut jadi bisa sekaligus mengobservasi saya. Ah iya, kebetulan sekali memang hari Sabtu yang seharusnya saya bertemu obgyn di poliklinik untuk ANC, sekarang malah bisa ketemu di ruang observasi.

Cek panggul kembali dilakukan oleh obgyn. Agak lama dan khidmat dia mengeceknya, lebih lama dari si bidan sebelumnya.

“Gimana Dok? Sudah pembukaan berapa?” tanya saya.

Dokter berhenti sejenak. Dia melanjutkan “Ibu, ini udah bukaan 8! Ibu tahan nyeri banget sih Bu!” serunya dengan nada terkejut.

Saya cuma tersenyum, dalam hati deg-degan banget. Saya sambil berpikir juga masa iya jarak antara pembukaan 2-3 ke pembukaan 8 hanya selang beberapa menit ya? Atau mungkin bidan tadi yang kurang jeli ngeceknya sehingga dia kira masih pembukaan 3. Ahh yasudah lah yaaa…

Tim tenaga kesehatan yang akan membantu saya bersalin bersegera mempersiapkan ruangan bersalin untuk saya. Sebelum saya dipindah dari ruang observasi ke ruang bersalin, saya ijin lagi untuk ke toilet (tuh kan, hobi banget ke toilet). Kali ini bidan dan perawat kompak melarang saya. Katanya, sudah pembukaan besar dilarang jalan-jalan. Akhirnya mereka membantu saya BAK menggunakan pispot.

Di ruang bersalin, kondisi saya masih sama seperti sebelumnya ketika di rumah. Entah perawat atau bidan ada yang bertanya kepada saya, lebih tepatnya mungkin dia heran karena reaksi saya –di saat pembukaan delapan ini- biasa saja tidak seperti ibu hamil kebanyakan, bahkan saya malah mau ijin jalan ke toilet sendiri. Apakah benar saya biasa saja? Hahaha, sebenarnya rasanya campur aduk. Maklum pengalaman pertama.

Menuju Pertemuan yang Membahagiakan

Hi world, my name is Adzkia Halwa

Saya terbaring di atas bed dan merasakan kesibukan di sana sini mempersiapkan segala sesuatunya. Ada yang memasangkan selang oksigen, ada yang memasukkan jarum infus di pergelangan tangan saya, dan ada yang memantau alat detak jantung. Semua sibuk dengan urusan masing-masing.

Saya seperti bermeditasi sejenak di ruangan itu sambil berusaha mengatur pernapasan sebaik mungkin. Gelombang cinta dari sang bayi datang semakin hebat dan hebatnya. Saya mencoba berkomunikasi dengan diri sendiri, Allah, dan janin di dalam kandungan saya. This will be pass… Allah sudah ciptakan janin dalam rahim saya, Allah pasti juga sudah berikan jalan lahir untuknya. Allah sudah mendesain tubuh saya sedemikian rupa beserta perangkat-perangkatnya untuk bisa mengandung dan melahirkan bayi saya. Terlepas dari segala upaya saya selama ini dalam memberdayakan diri, saya berpasrah kepada-Nya. Masih hangat di ingatan saya ketika seminggu yang lalu hasil USG memperlihatkan posisi janin yang masih telentang meskipun kepala sudah berada di bawah. Obgyn mengatakan “Persalinan normal masih mungkin dilakukan tapi agak seret, agak lama bayi keluarnya kalau posisi masih seperti ini. Agar bayi bisa mapan ke posisi yang tepat pun kemungkinannya ada, tapi kalau sudah usia kandungan besar ya agak susah”.

Lantunan dzikir dan untaian doa tak terhenti dari mulut saya, berharap proses persalinan berjalan dengan baik, entah pervaginam atau persectio. Mudah-mudahan ibu dan bayi selamat. Andaikan dalam perjalanannya nanti harus berakhir di meja operasi, saya pun ikhlas. Setiap bayi sudah memiliki cara lahirnya masing-masing. Jika saja terjadi hal-hal di luar dugaan yang menyebabkan komplikasi persalinan tidak tertangani, saya hanya berharap kepada Sang Pemilik Kehidupan agar dimudahkan untuk saya kembali dalam keadaan khusnul khotimah dan syahid. Saya mencoba fokus, saya seolah lupa perkataan obgyn seminggu lalu bahwa letak bayi masih di posisi telentang dengan satu lilitan tali pusat.

Selanjutnya saya berupaya me-recall teknik pernapasan perut yang sering dipraktikkan saat sesi kelas yoga prenatal. Saya pun berusaha mengingat teknik mengejan yang pernah diajarkan oleh instruktur saat senam hamil di RS. Kata orang-orang sih, kalau sudah di ruang bersalin, segala teori yang pernah dipelajari akan terlupakan. Menurut saya? Saya ingat semua yang ingin saya ingat, hanya saja mengaplikasikan pada realitanya saya agak kesulitan karena gelombang cinta itu datang semakin hebat sehingga untuk bisa bernapas dalam dan panjang pun saya sedikit kewalahan.

Saya pun kembali mengajak bayi saya berbicara agar dia kooperatif saat proses persalinan itu tiba. “Kita akan segera bertemu, Nak…”.

Sekitar Pukul 09.30

Perjuangan saya di ruang bersalin hampir mencapai titik puncaknya. Di sela-sela mengejan, terjadi obrolan-obrolan antara saya, obgyn, dan bidan.

“Bu, jangan di angkat, letakkan saja pantat (maaf) nya,” kata dokter berkali-kali.

“Ini udah saya letakkin Dok,” jawab saya sambil mikir pant*t mana lagi yang musti diletakkan.

Ah ternyata ya bersalin itu terkadang membuat kita berada di antara sadar dan tidak sadar. Menurut saya, saya sudah berusaha rileks dan pada posisi yang benar tapi menurut tenaga medis, posisi saya masih salah.

Lucunya lagi, di sela-sela saya mengejan, dokter memberikan instruksi begini,

Dokter: “Ibu, nanti kalau saya bilang STOP, Ibu jangan mengejan ya Bu.”

Saya: “Oke”

Beberapa saat kemudian….

Dokter: “Stop Bu, stop!”…. “Ibu stop jangan ngeden!”

Saya: (sambil berteriak galak) “Saya udah nggak ngeden koq!”

Dokter, perawat, bidan: (heboh) “Ibu stop Bu! Stop!”

Haduh beneran deh saya tuh “merasa” udah nahan untuk nggak ngeden sesuai instruksi dokter tapi ya seperti saya bilang sebelumnya, bersalin itu menempatkan kita dalam posisi antara sadar dan tidak sadar. Hehehe.

Alhamdulillah dengan 3x mengejan, bayi mungil cantik meluncur sempurna pada pukul 09.50, tepatnya kurang dari 4 jam sejak saya merasakan nyeri kontraksi.

Saya: “Eh, udah dok? Udah selesai nih?”

Dokter: “Iya selamat ya Bu, bayinya sudah lahir”

Saya: (masih nggak percaya, nanya lagi ke suami): “Ini udah selesai? Udah lahir beneran?”. Suami mengiyakan. Saya meminta suami untuk “mengawal” bayi kami yang baru lahir, takut tertukar dengan bayi-bayi lainnya. Percaya tidak percaya, cukup banyak bayi yang lahir di tanggal itu. Entah kebetulan atau memang ada yang memilih Hari Kesaktian Pancasila sebagai hari lahir para bayi.

Dokter menjahit luka sobekan (saya sendiri nggak tahu berapa jahitan, dokter tidak memberi tahu). Di sela-sela dokter menjahit bekas robekan, kami pun mengobrol.

Dokter: “Ibu, tadi saya bilang stop jangan ngeden kenapa masih aja ngeden”

Saya: “Beneran deh Dok, saya udah nahan nggak ngeden, bahkan sampai saya nahan napas loh Dok”

Dokter: “Ya nggak usah sampai nahan napas juga kali Bu, hehe. Ini anak pertama ya Bu? Cepet banget lahirnya, sering ikutan senam ya?”

Saya: “Iya Dok, rutin ikutan yoga hamil”.

Dokter: “Kalau sering olahraga memang membantu persalinan. Bayinya tadi juga cepet banget keluarnya kaya roller coaster. Ibu tau roller coaster kan?

Saya: “Iya, saya pernah naik itu (roller coastaer) beberapa kali”

Dokter: “Pantesan, bayinya meluncur tadi Bu keluarnya, hehe”

Obrolan-obrolan tadi membuat saya tidak merasakan sakit dijahit. Tidak terasa dokter selesai menjahit bekas robekan jalan lahir.

Tak henti-hentinya saya mengucap syukur kepada Allah atas kemudahan-kemudahan yang telah Dia berikan kepada saya. Padahal kemarin saya masih masuk kantor seperti biasanya. Teman kantor mengajak jalan ke mall sore harinya, dan malamnya suami masih ngajak nyari angkringan. Keesokan paginya saya merasakan kontraksi dan kurang dari 4 jam bayi saya lahir. Alhamdulillah atas segala kenikmatan ini.

Persalinan yang awalnya saya takutkan akhirnya bisa saja jalani dengan sangat rileks dan gentle. Selama hamil, saya berusaha memberdayakan diri sendiri sehingga sugesti “gentle birth” tertanam dalam benak saya. Saya pun bersyukur karena dipertemukan dengan Komunitas GBUS (Gentle Birth Untuk Semua) yang anggota-anggotanya senang berbagi dan mensupport satu sama lainnya. Yang saya percaya, setiap anak sudah dirancang jalan dan cara lahirnya masing-masing. Kebetulan ini pengalaman pertama saya hamil dan melahirkan. Beruntungnya saya diberi kemudahan dalam menjalani prosesnya sehingga minim trauma. Untuk selanjutnya saya menjadi lebih percaya diri jika suatu saat nanti diberi rejeki untuk memiliki anak lagi.

Saran saya bagi yang sedang menantikan kelahiran buah hatinya: tidak perlu takut. Sugesti diri sendiri bahwa proses persalinan tidak semenakutkan yang sering ditampilkan di televisi itu. Berdayakan diri sendiri, cari ilmu sebanyak-banyaknya seputar proses kehamilan dan persalinan, makan makanan yang bergizi, rajin berolahraga, rencanakan persalinan yang diinginkan, libatkan suami dalam setiap proses, dan yang paling utama adalah perbanyak berdoa.

Selamat menanti datangnya gelombang cinta ya 🙂

 

Please follow and like me:

Program SMSbunda: Upaya Menurunkan AKI di Indonesia

ANGKA KEMATIAN IBU

Angka Kematian Ibu, atau biasa disebut dengan AKI, di Indonesia masih belum juga mencapai target yang diharapkan. Pemerintah dan segenap jajarannya sudah sangat mengusahakan agar AKI bisa turun meskipun hasil penelitian selama beberapa tahun terakhir menunjukkan kalau AKI belum juga mencapai target dalam waktu yang diharapkan.

Kajian Human Development Report 2015 yang dirilis oleh  United Nation Development Program (UNDP), AKI di Indonesia berada pada posisi 190 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut masih sangat jauh dari target Millenium Development Goals (MDG’s) yang disepakati PBB, mestinya pada 2015 toleransi AKI adalah 102 kematian per 100.000 kelahiran hidup.  Menurut WHO dan UNICEF, tingkat kematian ibu dan bayi di Indonesia tertinggi  di kawasan Asia-Pasifik. Pada lima tahun terakhir, diperkirakan 9.600 perempuan meninggal setiap tahun akibat komplikasi selama kehamilan. (www.direktorijateng.com)

By the way, apakah kalian sudah familiar dengan istilah AKI? Menurut ICD 10, berikut ini definisi AKI (Angka Kematian Ibu):

Kematian Ibu adalah ”Kematian seorang wanita yang terjadi saat hamil atau dalam 42 hari setelah akhir kehamilannya (tanpa melihat usia dan letak kehamilannya) yang diakibatkan oleh sebab apapun yang terkait dengan atau diperburuk oleh kehamilan dan penanganannya. Namun, kematian ini tidak disebabkan oleh insiden dan kecelakaan.”

Kalau dijelaskan secara ringkas, kematian ibu menunjukkan lingkup yang sangat luas mencakup kematian ibu saat masa hamil, bersalin, dan nifas. Kematian ini bisa disebabkan oleh penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung di sini maksudnya adalah kematian yang disebabkan oleh penyebab langsung yang terkait dengan kehamilan dan persalinan. Contoh penyebab langsung (direct): perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, infeksi, partus macet, dan abortus. Sebaliknya, penyebab tidak langsung (indirect) maksudnya adalah kematian yang disebabkan oleh penyakit dan yang tidak terkait dengan kehamilan dan persalinan (semoga penjelasannya cukup bisa dimengerti ya).

PENCEGAHAN TERJADINYA KEMATIAN IBU

Berikut ini saya kutipkan paragraf dari Rencana Percepatan Penurunan AKI Nasional (RAN PP AKI) Kementerian Kesehatan RI tahun 2013:

Diperkirakan 15 % kehamilan dan persalinan akan mengalami komplikasi. Sebagian komplikasi ini dapat mengancam jiwa, tetapi sebagian besar komplikasi dapat dicegah dan ditangani bila:

1) ibu segera mencari pertolongan ke tenaga kesehatan

2) tenaga kesehatan melakukan prosedur penanganan yang sesuai

3) tenaga kesehatan mampu melakukan identifikasi dini komplikasi

4) apabila komplikasi terjadi, tenaga kesehatan dapat memberikan pertolongan pertama dan melakukan tindakan stabilisasi pasien sebelum melakukan rujukan;

5) proses rujukan efektif;

6) pelayanan di RS yang cepat dan tepat guna.

Dengan demikian, untuk komplikasi yang membutuhkan pelayanan di RS, diperlukan penanganan yang berkesinambungan (continuum of care), yaitu dari pelayanan di tingkat dasar sampai di RS. Jadi pada prinsipnya, jika ibu hamil atau bersalin yang mengalami komplikasi bisa mendapatkan pertolongan yang tepat waktu dan tepat guna, insyaAllah kematian ibu bisa dicegah. Namun, pada kenyataannya seringkali langkah-langkah pencegahan dan penanganan komplikasi tidak berjalan sesuai harapan karena keterlambatan di setiap langkah. Nah, apakah kalian pernah mendengar tentang “3 Terlambat”?

  • Terlambat mengambil keputusan: ini biasanya disebabkan oleh tradisi dan wewenang pengambilan keputusan di dalam keluarga. Selain itu, bisa juga disebabkan karena keluarga tidak mengetahui tanda bahaya yang mengancam keselamatan ibu hamil. Tenaga kesehatan mungkin juga berperan dalam keterlambatan ini misalnya dia terlambat mengidentifiasi komplikasi karena kompetensi yang kurang mumpuni.
  • Terlambat mencapai RS rujukan (rujukan tidak efektif): ini biasanya disebabkan masalah geografis dan ketidaktersediaan alat transportasi untuk merujuk pasien.
  • Terlambat mendapatkan pertolongan di RS rujukan: ini mungkin disebabkan karena ketidaktersediaan tenaga medis (SPOG, anestesi, anak, dll), obat-obatan, darah, dan fasilitas.

Well, kayaknya kompleks banget ya permasalahan AKI ini. Tapi percayalah, pemerintah dari tingkat lokal hingga nasional sangat bekerja keras untuk menangani masalah tingginya AKI di Indonesia. AKI ini bukan melulu urusan orang kesehatan lho ya, tetapi juga lintas sektor. Kita mesti bahu-membahu untuk bisa menyelesaikan PR besar ini.

Pemberdayaan masyarakat juga harus dijalankan, terutama bagi ibu hamil itu sendiri. Oleh karena itu, ibu hamil harus pandai dan sangat menjaga kehamilannya dengan cara menjaga asupan makanan bergizi, rajin berolahraga, mencari ilmu dan pengetahuan seputar kehamilan dan persalinan (terutama mengenal tanda bahaya yang mengancam keselamatan ibu dan bayi), tidak termakan mitos-mitos yang menyesatkan, rajin memeriksakan kehamilannya (ANC/ antenatal care). Semua ini demi keselamatan si ibu sendiri dan juga janin yang ada di dalam kandungan.

Nah, dalam rangka upaya menekan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencanangkan Program SMSBunda yang bertujuan untuk menurunkan hingga 25% angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir.

 

PROGRAM SMSBUNDA

Program SMSbunda merupakan satu di antara ikhtiar menyebarluaskan informasi kesehatan ibu hamil dengan basis pesan singkat atau SMS. Program ini digagas oleh Jhpiego dengan support pendanaan dari General Elektrik (GE) Foundation. Jhpiego adalah lembaga sosial dari John Hopkins University Amerika yang sudah 30 tahun membantu pemerintah Indonesia (Kementrian Kesehatan RI) dalam isu kesehatan masyarakat.

SMSBunda pertama kali diluncurkan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada April 2014. Hingga April 2016 tercatat sedikitnya 230.000 ibu hamil mengakses program ini yang tersebar sejumlah kabupaten/kota di Indonesia. Di Provinsi Jawa Tengah pada 2015 program ini secara resmi telah diluncurkan di 11 kabupaten/kota: Kota Semarang, Kudus, Grobogan, Kendal, Batang, Kab. Pekalongan, Kab. Tegal, Brebes, Banyumas, Cilacap dan Purbalingga. Program ini akan terus dioptimalkan dan akan direplikasi di seluruh kabupaten/kota.

Melalui program SMSbunda, ibu hamil yang terdaftar dapat menerima pesan kesehatan tentang kehamilan selama masa kehamilan, persalinan hingga bayi berusia dua tahun. Dengan bekal informasi ini diharapkan mampu mengurangi risiko saat melahirkan. Pesan SMSbunda bersumber dari buku panduan kesehatan yang diterbitkan oleh  Kementrian Kesehatan. Pesan yang diterima sesuai kebutuhan ibu hamil karena menyesuaikan usia kehamilan.

Manfaat SMSbunda adalah meningkatkan pengetahuan ibu tentang kehamilan, dapat mengidentifikasi tanda bahaya selama hamil dan nifas, serta dapat mencari pertolongan tepat waktu saat terjadi emergency.

Bagaimana Cara Mendaftar SMSbunda?

Cara mendapatkan layanan SMSBunda sangat mudah. Cukup mendaftar sekali melalui SMS ke nomor 0811-8469-468 dengan biaya Rp 200 (tergantung masing-masing operator) dengan menyebutkan hari perkiraan kelahiran. Ibu hamil akan menerima SMS gratis secara berkala tentang info kehamilan, persalinan, dan pascamelahirkan hingga bayi berusia dua tahun.

Berikut cara mendaftar SMSbunda:

  1. Daftar ke SMSbunda

Ketik REG <spasi> Perkiraan tanggal bersalin <spasi> Kota/ Kabupaten

Contoh: REG 05/07/2016 SEMARANG

Kirim ke nomor 0811-8469-468

  1. Ganti Tanggal Bersalin

Ketik LAHIR <spasi> Perubahan Tanggal Bersalin

Kirim ke nomor 0811-8469-468

  1. Daftarkan Teman ke SMSbunda

Ketik UNDANG <spasi> No. Hp Teman <spasi> Perkiran Tangal Bersalin <spasi> Kota/Kabupaten

Contoh: UNDANG 08123456789 05/07/2016 SEMARANG

Kirim ke nomor 0811-8469-468

PROGRAM SMSBUNDA DI JAWA TENGAH

Jawa Tengah merupakan satu dari 10 provinsi dengan AKI tertinggi. Pada tahun 2014, kasus ibu meninggal di Jawa Tengah mencapai 711 kasus dan bayi meninggal sebanyak 5.666 kasus. Itu artinya selama tahun 2014, setiap hari terdapat hampir dua orang ibu hamil meninggal dan hampir 16 bayi baru lahir meninggal tiap hari. Sedangkan pada 2015 terjadi sebanyak 619 kasus ibu meninggal dan 5.571 bayi meninggal dunia. AKI dan AKB di Jawa Tengah masih memprihatinkan. (www.direktorijateng.com)

Seperti kita ketahui bersama, Pulau Jawa adalah pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia dan Provinsi Jawa Tengah masuk ke dalam 5 provinsi terpadat di Indonesia menurut Data Sensus Penduduk 2010. Jadi, bisa disimpulkan ya kalau Provinsi Jawa Tengah juga merupakan 5 provinsi penyumbang AKI terbesar di Indonesia. Nah, upaya penurunan AKI di Jawa Tengah ini harus terus digalakkan agar nantinya jika AKI di Jawa Tengah bisa menurun, diperkirakan AKI nasional juga bisa ikut turun. Seperti disebutkan sebelumnya kalau Program SMSbunda  sudah diluncurkan di 11 kab/kota dan akan terus dioptimalkan dan direplikasi ke kab/kota lainnya. Semoga ikhtiar ini menjadi jalan untuk menekan AKI di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah. Aamiin…

Yuuuk para ibu hamil di seluruh Indonesia, kita daftar Program SMSbunda yuuuuk…… Kalau tidak dimulai dari pemberdayaan diri sendiri, siapa lagi yang akan peduli akan keselamatan jiwa ibu dan janin di dalam kandungan ibu? Kebetulan saya sendiri juga sedang hamil dan saya merasakan sendiri manfaat menjadi partisipan dalam Program SMSbunda ini, banyak sekali ilmu dan pengetahuan seputar kehamilan dan persalinan yang saya dapatkan melalui program ini 🙂

Referensi:

Dokumen RAN PP AKI 2013 – 2015, Kementerian Kesehatan RI

http://www.direktorijateng.com/2016/06/lomba-karya-jurnalistik-tentang-upaya.html

http://www.gandjelrel.com/2016/06/lomba-blog-sms-bunda.html

http://sp2010.bps.go.id/index.php

Please follow and like me:

Perawatan Khusus Ibu Hamil, Pasca Melahirkan, dan Bayi di Depok

Pengalaman kehamilan pertama  membuat saya banyak mencari informasi seputar kehamilan, baik secara offline maupun online. Salah satu yang saya cari yaitu pijat untuk ibu hamil. Maklum lah, sebelum kehamilan ini, saya memang hobi pijat dan perawatan. Kalau badan sudah berasa pegal, maunya langsung dipijat oleh mbak-mbak terapist atau tukang pijat langganan. Tetapi sayangnya, saya tidak juga menemukan tempat perawatan pijat khusus untuk ibu hamil di wilayah Depok, Jawa Barat.

Dulu saya suka ke Dian Kenanga untuk perawatan totok aura, tetapi rekan kerja saya bilang dia pernah ditolak perawatan karena sedang hamil. Jadi, selama hamil ini saya memang akan off ke Dian Kenanga karena informasi yang saya dapat, di Dian Kenanga tidak ada paket khusus pijat ibu hamil. Hiks…. Bahkan untuk perawatan totok wajah pun mereka tidak mau menerima jika customer sedang dalam kondisi hamil, mungkin alasan safety ya…. Berselancarlah saya di dunia maya dan ‘bertemu’ dengan komunitas ibu-ibu hamil, saya dapat info tempat rekomended yaitu Pregnancy Spa Mom n Jo, tapi lokasinya jauh di Cibubur. Dan harga paket perawatannya katanya sih lumayaaaan bisa bikin lu manyuuuun… hihihi. Padahal mah saya kepingin banget cobain loh kalau ada kesempatan.

Suatu ketika, saya ceritakan keinginan pijat saya ke tetangga rumah, mba Fai, yang sedang hamil juga kebetulan. Naaaah, tidak berapa lama kemudian, mba Fai menginfokan ada tempat pijat ibu hamil di dekat wilayah kami di Kukusan, Beji, Depok. Segera saya meluncur ke Rumah Cantik Muslimah Mom and Baby Spa, yang berlokasi di Jalan Nusantara Raya No 111.

rumah cantik muslimah depok

Bangunan serba ungu memberikan nuansa teduh. Saya lebih suka lagi begitu masuk ke dalamnya karena customer akan langsung disambut dengan alunan murottal. Adeeeeem……. murottal itu akan menemani kita selama perawatan sampai kita tertidur #eeh. Jadi, nggak hanya ibunya yang diterapi tetapi si calon baby juga turut mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Ini paket-paket perawatan yang ada di sana:

pijat ibu hamil depok

perawatan pasca melahirkan di depok

pijat ibu hamil di depok

perawatan bayi di depok

pijat ibu hamil di depok

pijat ibu hamil di depok

Walaupun namanya Rumah Cantik Muslimah, tetapi customer non-muslim akan tetap disambut dengan baik koq di sana. Menurut saya, sematan ‘muslimah’ itu ditujukan untuk overall pelayanan di sana, yang semua mbak-mbak terapistnya berhijab, santun, ramah sekali, dan juga yang saya suka setiap akan memulai perawatan pasti mereka akan berkata:

“Kita akan mulai perawatannya, baca bismillah dulu ya Bun….”

By the way, saya hanya akan mengulas perawatan ibu hamil di sini karena saya sendiri belum pernah menggunakan fasilitas baby spa atau perawatan pasca persalinannya.

Pertama-tama, saya diberi baju ganti. Sembari saya berganti pakaian, mereka menyiapkan tempat perawatan yang akan digunakan. Setelah itu, kaki saya dibasuh di dalam baskom berisi air hangat dan semacam larutan garam lalu dikeringkan dengan handuk. Kedua, saya diminta berbaring dengan posisi miring. Nah inilah perbedaan mendasar massage ibu hamil dengan massage pada umumnya yang biasanya meminta kita untuk tidur tertelungkup. Kalau lagi hamil kan memang tidak bisa tiduran telungkup hi hi hi…. Ketiga, dimulailah pijatan-pijatan dengan level tekanan pijatan sesuai request kita. Jangan salah ya, walaupun mbak-mbak terapistnya masih muda belia tapi tenaganya cukup strong loh. Proses massage-nya cukup untuk membuat kita tertidur nyenyak sekitar 90 menitan. Saya puas dengan pelayanan di sana, menurut saya recommended deh.

Rumah Cantik Muslimah juga menyediakan pelayanan homecare. Ini sangat cocok bagi ibu-ibu yang susah mencari waktu keluar. Tinggal calling saja, terapis pun akan datang ke rumah. Kalau saya sendiri sih belum pernah homecare karena memang belum begitu memerlukan untuk saat ini. Berita baiknya, untuk wilayah Depok tidak dikenakan ongkos transport bagi terapis. Berita baik selanjutnya adalah…, pelayanan ini bisa menjangkau daerah di luar Depok, bahkan luar planet Bekasi sekalipun! Enak kan?

perawatan home care

FYI, dua bulan terakhir ini secara ajaib dan tak disangka-sangka saya dapat dua paket pelayanan gratis untuk totok wajah dan masker kupas. Yeay……. lumayan banget kan bisa mencoba jenis-jenis perawatan lainnya selain pijat hamil. Semoga saja nanti saya akan lebih sering dapat promo gratisnya *ngarep mode on*.

Untuk yang ingin tahu info lebih lanjut, boleh banget nih kenalan langsung dengan owner-nya yang sangat ramah, mba Tika. 

Please follow and like me: