Nak, Selalu Ada Cinta dalam Untaian Doa Untukmu

Usai cuti, masuk ke rutinitas pekerjaan. Saya bekerja di salah satu pusat riset di kampus. Hari pertama kerja saya menitipkan Halwa di daycare. Jangan tanya bagaiman perasaan saya waktu ninggalin dia di sana ya, campur aduk. Sedih. Saat saya masuk kantor dan berjumpa dengan Bapak-Ibu Profesor dan teman-teman tim, mereka menanyakan di mana anak saya. Saya jawab  “daycare”. Tahu apa respon mereka? Mereka satu suara menasehati saya agar jangan titip anak di daycare, kalau memang saya  nggak punya asisten, bawa saja si baby ke kantor. WOW! Saya bener-bener terharu. Ah rasanya bahagia dan bersyukur banget bekerja di lingkungan seperti ini, tempat yang sangat ramah dan bernuansa kekeluargaan.

Sejak saat itu, dimulailah hari-hari saya membawa Halwa ke kantor setiap hari hingga dia berusia 10 bulan. Saya cukup puas karena di saat working mom di Indonesia pada umumnya hanya punya 3 bulan waktu intens bersama anak saat cuti, saya punya waktu yang lebih panjang lagi. Tapi jangan salah ya, beban pikiran saya juga semakin bertambah.

Membawa anak ke kantor ada plus dan minusnya. Plus-nya ya saya semakin bisa membangun bonding dengan anak, anak dalam pengawasan saya, tumbuh kembang anak bisa saya pantau langsung. Minus-nya? Tentu saja konsentrasi saat bekerja jadi terganggu. Fokus saya terbagi dua. Saat sedang mengerjakan suatu tugas, anak minta nenen, minta timang-timang. Makanya, hal itu membuat saya membalik jadwal bekerja menjadi jadwal mengasuh anak, sedangkan di malam harinya saya merelakan waktu istirahat saya untuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Tapi bersyukurnya teman-teman saya di kantor sangat supportif. Mereka mau bergantian menjaga Halwa saat saya memang harus mengerjakan suatu hal yang urgent. Demikian juga dengan Ibu Prof. Beliau sesekali menengok Halwa di ruangan kami, menggendong, dan mengajak becanda. Beliau juga membawakan stroller untuk Halwa. Stroller itu milik cucunya yang memang nggak terpakai di rumah karena cucunya tinggal di Singapore. Beliau juga seriiing bawakan diapers buat Halwa. Alhamdulillah.

Saya tahu kondisi seperti ini pasti akan ada akhirnya. Karena nggak mungkin selamanya saya bawa Halwa ke kantor. Apalagi, tahapan perkembangan bayi cukup pesat. Dalam beberapa bulan saja dia sudah bisa tengkurap, merangkak, duduk, berdiri, dan merambat. Kegalauan muncul saat masa MPASI karena jam tidur Halwa yang nggak teratur berpengaruh terhadap jam makannya yang nggak teratur. Halwa itu tipe anak yang nggak bisa tidur kalau suasana ramai, naah di kantor itu kadang situasinya nggak bisa ditebak. Saya sendiri juga nggak bisa konsisten. Kadang kalau sedang fokus mengerjakan sesuatu, saya telat menyuapi si kecil. Feeling guilty banget. Kembali lagi pemikiran buat resign dari pekerjaan dan fokus urus Halwa.

Ada saatnya kantor kami kedatangan kolega dari New York. Kedatangannya ke Indonesia memang khusus menemui kami, mengajak meeting intens selama 2-3 minggu. Di sinilah saya harus “berpisah” sejenak dari Halwa. Saya titipkan Halwa di daycare selama 3 minggu, waktu itu usia dia sekitar 7-8 bulan. Dia sudah paham dengan orang tuanya, sudah tahu emosi sedih dan takut. Tahu kan apa yang terjadi setiap pagi saya nitip Halwa di daycare? Dia akan memegang baju saya kuat-kuat agar saya nggak melepasnya. Saat-saat berpamitan jadi momen sendu buat saya karena Halwa selalu nangis kejar. Hiks hiks hiks. Bunda-bunda pengasuh di daycare itulah yang selalu berbisik “Bundanya jangan sedih ya biar dedeknya juga nggak rewel di sini”. Karena memang sebelumnya saya belum pernah berpisah dari Halwa untuk jangka waktu office hours, perpisahan ini bikin saya baperrr dan selalu kangen si kecil. Untungnya hanya berlangsung 2-3 minggu ya.

Setelah berakhir masa-masa Halwa dititipkan ke daycare, tiba-tiba hari itu badannya hangat, demam dan gejala batul pilek pun melanda. Untungnya hari itu weekend, jadi saya dan Mas Ry bisa fokus menemani Halwa. Setiap waktu saya ukur suhu badannya, tentu ada rasa cemas.

Please follow and like me:

Resolusi 2018: Ingin Menjejakkan Kaki ke Benua Eropa

Akhir November kemarin saya mendapati satu email dari nama yang nggak asing buat saya, Mrs. Willem. Saat saya baca emailnya, ternyata beliau mengundang saya untuk datang ke Program Short Course di Negeri Kincir Angin. Memang sudah menjadi impian saya untuk bisa menjejakkan kaki di Benua Eropa. Bahkan itu sudah menjadi resolusi dari tahun 2016 hingga sekarang. Impian sejak lama untuk mengambil studi master yang tertunda sementara waktu. Saya bilang “tertunda sementara” karena memang saya mendapat rejeki lain, yaitu suami dan anak, dalam perjalanan menuju impian saya itu. Karena waktunya belum memungkinkan untuk saya studi overseas dua tahun, saya putuskan untuk mendaftar short course yang waktunya lebih singkat.

Bagi siapapun yang mengaku sebagai Scholarship Hunter, pasti ngerti banget hal-hal apa saja yang harus diperjuangkan untuk bisa bersekolah di luar negeri dan mendapat beasiswa. Tentunya ada dua hal penting yang jadi kunci utama: LoA (Letter of Acceptance) dari universitas tujuan dan beasiswa. Untuk mendapat satu dari kedua hal itu juga bukan perkara mudah. Ada banyak hal yang harus dikorbankan baik dari segi waktu, biaya, energi, dan pikiran. Sebelum ke arah sana pun kita harus mengumpulkan banyak informasi tentang cara pendaftaran, deadline, persyaratan, pilihan program studi, funding, dll. Mungkin lain kali akan saya bahas mengenai hal ini ya.

Kembali lagi ke email dari Mrs Willem tadi. Dia memberikan saya LoA untuk program short course Monitoring and Evaluation in a Dynamic Health Environment (M&E) di Royal Tropical Institute (KIT), Amsterdam. Itu artinya, sesudah proses pendaftaran dan seleksi, saya berhasil diterima di program tersebut. Sebenarnya ini sudah yang ketiga kalinya saya mendapat LoA untuk kelas short course di KIT. Berawal dari akhir tahun lalu, di institusi yang sama, untuk pertama kalinya saya mendaftar program Qualitative Methods in Health Systems Research. Tapi sayangnya, saya belum berhasil mendapatkan funding untuk biaya program, living cost, akomodasi, dan tiket pesawat return. Kalau harus pergi dengan dana sendiri wuaduh berat bangettt.

Resolusi 2018 sekaligus doa saya adalah saya bisa mengikuti program short course akan berlangsung di bulan Agustus 2018 selama dua minggu di Amsterdam. Izin dari Mas Ry sudah saya dapatkan, tinggal mencari funding kalau memang saya akan berangkat tanpa dana mandiri. Sebelum ini, saya pernah mendapat LoA 2x dari KIT dan saya mendaftar untuk 2 beasiswa berbeda tapi kandas. Nah, kali ini, nothing to lose aja lah. Kalau memang sudah rejekinya untuk berkunjung ke Negeri Van Orange, saya yakin insyaAllah dimudahkan prosesnya, tapi misalnya belum saatnya ya sudah saya nggak ngoyo juga. He he he.

  1. Bagi teman-teman yang ingin berkuliah di Belanda, kalian bisa cari informasinya di StudyFinder.
  2. Pilih program yang diinginkan melalui kolom search (kalau memang kalian sudah tahu nama program yang akan diambil). Kalau belum tahu program apa yang akan diambil, kalian bisa melakukan pencarian melalui kolom filter. Misalkan, saya ingin mengambil tipe short course program dengan durasi kurang dari satu bulan, bidang kesehatan. Nanti mereka akan mem-filter-kan list program yang sesuai dengan keinginan saya.
  3. Pilih program yang diinginkan lalu masuk ke website institusi penyelenggara program.
  4. Pelajari persyaratan registrasinya dan catat deadline submission.
  5. Mulai deh berjuang untuk memenuhi persyaratan dari pihak institusi. Biasanya mereka meminta resume/CV, motivation letter, sertifikat bukti kemampuan bahasa inggris (TOEFL/IELTS), dan rencana funding.

Tips dari saya, perhitungkan waktu dengan baik ya. Betul-betul perhatikan tanggal deadline submission dan alokasikan waktu yang cukup untuk memenuhi satu per satu dokumen persyaratannya. Apalagi kalau kalian belum punya sertifikat bahasa inggris, belum punya CV/resume in english, dan belum pernah membuat motivation letter. Intinya, sebaiknya tidak terburu-buru mempersiapkannya.

Setelah berkas kita lengkap dan siap dikirim, jangan lupa berdoa. Biasanya mereka perlu waktu sekitar 4-6 minggu untuk review dan seleksi berkas lalu mengirimkan decision letter terkait apakah kita diterima atau tidak di program mereka. Kalau diterima, nanti kalian akan mendapat LoA. Selamat.

PR selanjutnya adalah mencari dana, seperti saya sekarang ini. Usaha saya mungkin belum maksimal. Tapi informasi beasiwa untuk short course ke Belanda memang tidak banyak saya jumpai. Dulu ada beasiswa NFP (Netherland Fellowship Program), tapi per 2017 Indonesia sudah tidak masuk ke dalam list penerima beasiwa NFP. Huhu sedih. Saya pernah mendaftar NFP dan tidak lolos. Eeh H-3 program dimulai, pihak NFP kembali kirim email ke saya katanya kalau saya sudah pegang visa Schengen, saya bisa langsung berangkat. Lah, dikira bikin visa itu macem bikin tahu bulat yang digoreng dadakan bisa dimakan hangat-hangat. Agak kesal sih, tapi ya sudah lah. Saya pernah juga daftar beasiwa StuNed dan nggak lolos. Setelah saya selidiki, StuNed itu memprioritaskan beberapa bidang yang bisa mempererat kerjasama bilateral antara Indonesia-Belanda, dan bidang kesehatan nggak termasuk di dalamnya. Ya sudah, bye.

Untuk kali ini, mungkin ada di antara pembaca yang bisa memberi saya masukan atau pernah tahu kira-kira beasiwa apa yang bisa saya ikuti seleksinya agar saya bisa ke Belanda sana Agustus nanti? Saya sudah mencoba konsultasi dengan Nuffic-Neso Indonesia (perwakilan resmi Nuffic di Indonesia untuk semua hal mengenai pendidikan tinggi Belanda), mereka menyarankan saya daftar beasiwa StuNed lagi karena belum ada program beasiwa short course lain selain StuNed. Ya sudah mungkin ini satu-satunya pilihan untuk saat ini ya. Bismillah.

Untuk menuju ke resolusi saya di tahun 2018, sebenarnya saya sudah mempersiapkan beberapa hal:

1. Passport. Alhamdulillah kami sekeluarga sudah membuat passport di pertengahan tahun ini, bahkan untuk si kecil Halwa pun sudah sekalian kami buatkan. Tujuannya agar sewaktu-waktu kami harus melancong ke luar negeri, satu proses administrasi ini setidaknya sudah terselesaikan.

2. Persiapan re-take IELTS. Sertifikat bukti kemampuan berbahasa inggris ini menjadi salah satu syarat untuk daftar StuNed. IELTS yang saya punya expired tahun lalu jadi saya harus mengikuti test-nya lagi. Untuk itu, saya harus bisa mengatur waktu untuk mengkhususkan belajar IELTS di sela-sela bekerja, urus suami dan anak, dan pekerjaan sampingan lainnya. Saya dan suami berkomitmen untuk memulai bangun lebih pagi, kami sama-sama belajar untuk persiapan studi karena suami saya juga ada rencana mengambil master tahun depan.

3. Mencari funding. Nah ini nih hal yang paling penting. Kalau nggak ada duit, ya saya nggak jadi pergi. Seperti yang saya sudah tulis tadi, saya sudah melakukan konsultasi dengan Nuffic-Neso dan saat ini saya mau bergerilya mencari informasi tentang kemungkinan penyedia funding lainnya.

4. Jaga kesehatan. Perubahan cuaca yang sebentar hujan, sebentar terik, dan apalagi kemarin Indonesia dilewati siklon tropis juga ya, ini sedikit banyak berpengaruh ke daya tahan tubuh. Mas Ry dalam dua bulan terakhir sudah jumpa dokter tiga kali dengan keluhan batuk, radang tenggorokan, pusing, dan vertigo. Selain obat dari dokter, Mas Ry disuruh minum air putih, makan buah, hindari gorengan, makanan pedas, dan makanan bersantan, istirahat cukup, sedia dopping vitamin (kali ini saya lagi mencoba Theragran-M, produk vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan). Mudah-mudahan kita semua selalu sehat ya dan kalau sakit jangan lama-lama. Menurut saya, menjaga kesehatan ini nggak kalah pentingnya untuk mencapai resolusi 2018. Kebayang kan kalau misalnya segala sesuatu untuk pergi ke Belanda sudah siap tapi tiba-tiba kami sakit? Aduh pasti sedih banget walaupun sakit itu ya memang sebuah kenikmatan dari Allah ya.

Oh ya kenapa pilih Theragran-M ini saya bahas sedikit ya. Ceritanya, saya ke apotek kecil di Kukusan Depok mau beli vitamin. Si bapak apoteker yang sudah berumur memilihkan produk ini. Katanya “Ini salah satu produk terbaik di antara produk-produk lain di kelasnya. Vitamin ini yang puaaling lama ada, sejak jaman baheula, jaman bapak-bapak kita kalau pegal-pegal ya ini vitaminnya”, saya cuma manggut-manggut saja, lhah saya sendiri baru sekali ini denger merk ini koq, mungkin karena saya wanita zaman now (aiih wanita kudet, lebih tepatnya hahaha). Dia melanjutkan, “Ini produk vitamin pertama yang punya label halal, coba saja cari produk lainnya jarang ada yang ada label halal-nya. Dulu pimpinan pabriknya orang muslim jadi dia concern dengan label itu“. Saya cuma ber-oooo panjang lalu langsung beli 4 kaplet seharga Rp 22.000. Sesampai di rumah saya teliti lagi kandungan vitamin dan mineralnya memang cukup lengkap dan indikasinya untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral semasa penyembuhan setelah sakit, cucok lah buat Mas Ry yang lagi gampang nge-drop nih.

Baiklah, sekian cerita resolusi saya di tahun 2018, mudah-mudahan saya mendapat keputusan terbaik apakah bisa atau tidak mewujudkannya. Optimis itu pasti, berjuang itu harus, tapi takdir sudah ada yang menentukan. Salam sehat, tetap semangat!

Disclaimer: Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.

 

Please follow and like me:

Review MOOIMOM: Corset, Nursing Bra, Slimming Suit

Dilema sebagian ibu-ibu setelah melahirkan adalah perut yang menggelambir hihihi. Mau bagaimana lagi, 9-10 bulan “mengantongi” jabang bayi, setelah bayi keluar longgarlah perut para emak. Sebelum melahirkan, saya berikrar (pada diri sendiri sih) bahwa saya akan rajin pakai korset. Alamaaaak, kenyataannya rajin sih rajin tapi nggak nyamannya itu loh yang membuat saya tersiksa memakai korset.

Dua hari pertama setelah melahirkan, saya memakai gurita khusus ibu. Lalu, hari ketiga dan selanjutnya saya memakai korset 3-band (korset dengan 3 perekat). Tapi malangnya, kulit saya yang sensitif menjadi kemerah-merahan dan gatal-gatal setiap kali memakai korset 3-band. Selain itu, timbul ketidaknyamanan juga saat memakai karena korsetnya suka menggulung sendiri sehingga harus sering dibetulkan posisi rekatannya.

Ternyata hunting korset yang nyaman dan ramah kantong itu nggak gampang buat saya. Sampai akhirnya saya menemukan korset MOOIMOM yang bahannya nyaman, cara memakainya nggak ribet, dan harganya cukup affordable.

Saya punya tiga macam korset MOOIMOM. Karena reviewnya menurut saya positif dan saya puas memakainya, saya pun mencoba produk MOOIMOM lainnya yaitu bra dan baju pelangsing. Berikut reviewnya.

Continue reading “Review MOOIMOM: Corset, Nursing Bra, Slimming Suit”

Please follow and like me:

Sajikan Gambar Menarik untuk Artikel Blog

Pernah nggak Mommies membaca blog yang isinya hanya tulisan tanpa gambar? Menurut saya membaca blog yang isinya melulu tulisan terasa hambar dan membosankan. Memang sih kalau konten artikelnya bagus dan berkualitas, hal itu nggak akan jadi masalah. Tapi alangkah lebih baik kalau saja artikel berkualitas dipadukan dengan gambar yang juga berkualitas? Pastinya itu akan membuat tampilan blog lebih hidup dan menarik minat pembaca untuk mampir membaca tulisan kita.

Nggak dipungkiri, gambar memang punya kekuatan tersendiri buat menarik perhatian reader agar lebih fokus membaca konten blog dari awal hingga akhir. Artikel yang menggunakan gambar menarik tentunya akan beredar lebih cepat di media sosial dibandingan dengan artikel dengan kualitas yang sama tapi dengan gambar yang kurang menarik. Jadi, yuk mulai sekarang kita tampilkan gambar terbaik untuk menyejukkan mata para reader kita. Mommies nggak perlu bingung untuk cari gambar-gambar yang menarik karena saat ini sudah banyak website yang menyediakan gambar gratisan dengan kualitas baik, misalnya Pexels, Pixabay, Gratisography, StockSnap.io, Unsplash, Death to Stock Photos, Tookapic Stock, PicJumbo,  Im Free, New Old Stock, Jay Mantri, Life of Pix, etc (saya belum pernah explore ke semua situs tersebut, by the way).

Photo by Mantas Hesthaven on Unsplash

Continue reading “Sajikan Gambar Menarik untuk Artikel Blog”

Please follow and like me: