Arisan Backlinks: Adya Pramudita sang Novelis dan Cerpenis yang Berbakat

Sudah hampir sebulan saya tidak update blog ini *tiup-tiup debu*, saya juga masih punya hutang yang harus dituntaskan yaitu menulis review salah seorang teman blogger (Punten Mba Adya, baru bisa publish tulisan ini sekarang, jangan dijitak yaa…).

Mengintip beberapa ulasan tentang Adya Pramudita, sekilas yang saya tahu adalah dia seorang novelis dan cerpenis. Di dunia blogging, Mba Adya mengakui kalau blognya yang dibuat sejak tahun 2013 itu lebih sering kosong daripada terisi (sama banget Mbaaa…). Bahkan pernah setahun blognya ndak diisi paska dia melahirkan (saya malah dua tahun vakum loh Mba). Awalnya, Mba Adya membuat blog untuk menyimpan hasil karyanya, dia tidak tahu kalau ternyata blog bisa di monetize (iih sama lagi, saya juga awal ngeblog cuma buat menuangkan isi pikiran dan curhat).

Apa sih karya-karya Mba Adya yang ingin di’rekam’ dalam blognya? Banyak! Passion terbesar Mba Adya adalah menulis fiksi, novel, dan cerpen. Saya takjub ketika melirik prestasi Mba Adya: Sudah ada 3 buah novel  (2 solo + 1 kolaborasi) yang diterbitkan dan beberapa cerpen pernah dimuat di majalah dan koran. Novel solonya berjudul “Menjeda” dan “Namaku Loui(sa)”, sedangkan judul-judul cerpennya antara lain “Sang Datuk” (cerpen ini memenangkan Green Pen Literary Award sebagai pemenang ke 2 pada tahun 2015 yang diselenggarakan oleh Perhutani) dan “Pramanik” (cerpen ini membawa Mba Adya menjadi salah satu dari 9 orang penerima beasiswa Anitesa-Mizan di tahun 2013). Melalui beberapa cerpen, dia juga pernah ikut lokakarya cerpen Kompas tahun 2015 lalu.

Saat saya membaca beberapa paragraf tulisan fiksinya, saya jadi ikut terhanyut dengan alur sembari membayangkan setting ceritanya. Kesan puitis, romantis, dan membuat hati gerimis (tsaaah….), Mba Adya lihai dalam menuangkan diksi dalam kalimat-kalimatnya. Saya yang dulunya menyukai kalimat-kalimat romantis ala pujangga, serasa bernostalgia membaca kalimat dan bait puisi Mba Adya. Tapi cita rasa puitis saya harus diasah lagi karena memang sudah lama sekali saya meninggalkan dunia tulis-menulis dan perbloggingan.

Di dalam blognya, ibu beranak tiga ini membagikan tips menulis yang sangat informatif (yang segera saya bookmark karena ada beberapa tips menarik tentang menulis novel, thanks Mba Adya). Di sela-sela kesibukannya saat ini, Mba Adya ingin bisa aktif nge-blog lagi tahun ini dan mulai melakukan pembenahan meskipun kendala gaptek membuat pembenahannya menjadi lama (sama lagi dengan saya nih mba, karena gaptek jadi blognya nggak rapi-rapi deh punya saya).

Lebih lanjut untuk mengenal karya Mba Adya, bisa langsung kunjungi blognya di www.adyapramudita.com. Untuk bersapa dengan Mba Adya bisa melalui FB: Adya Tuti Pramudita dan Twitter: @adyastory

Semoga Mba Adya sukses selalu dan cita-cita ingin punya grup membaca di kota Bogor bisa terlaksana ya Mba. Kalau butuh review-review novelnya, silakan lemparin novelnya ke saya, nanti saya coba review, hehehe.

Please follow and like me:

Arisan Backlinks: April Hamsa yang Produktif Menulis dan Mengurus Keluarga

Ketika ada event invitation di komunitas blogger dan di antara banyaknya komentar para membernya tentang event tersebut, ada yang khas di sana yaitu pertanyaan “boleh bawa anak, nggak? :P”

Itulah bagaimana saya mencirikan seorang Mbak Aprillia Ekasari atau yang lebih kondang dengan nama penanya “April Hamsa”. Saya tersenyum saja ketika beberapa kali Mba April melontarkan pertanyaan serupa di beberapa event invitation bagi para member komunitas blogger. Jika nanti saya punya anak mungkin saya akan meniru Mba April: membawa krucils-nya ke event-event blogger. Mau bagaimana lagi, sesama anak rantau yang hidup jauh dari keluarga dan sanak saudara ini.

Beberapa waktu lalu, di acara workshop parenting dan launching KLOP cookies, saya bertemu untuk kedua kalinya dengan Mba April di Bistronomy-Kemang. Saat itu, Mba April yang datang dengan ditemani dua balitanya terlihat sibuk menyuapi si kecil. Saya ngga habis pikir bagaimana cara Mba April bisa membagi konsentrasi ke acara utama dengan keriweuhan dua anaknya itu (riweuh nggak sih?). Yang jelas, saya Cuma ternganga-nganga saja begitu Mba April posting resportase acara tersebut di blognya. Sumpah lengkap buangetttttssss…….. dan memang ciri khas lain dari Mba April ini adalah tulisan reportase event-event yang dihadirinya itu loh yang super lengkap dari pembukaan sampai penutupan. Ini beneran bikin saya heran sejadi-jadinya. Padahal, Mba April mengaku kalau sebenarnya dia belum bisa menjadwalkan waktu menulis harus jam segini atau jam segitu karena Maxy dan Dema, dua balitanya itu, suka marah kalau ibunya pegang leptop. Kalau mau nulis di malam hari eeh gantian ayahnya yang sebel. Jadi, jika memang ada sela saat semua orang tidur, barulah dia bisa menulis. Tapi tetap saja saya heran “koq bisa sangat produktif ya?” belum lagi beberapa hari sekali saya pasti melihat Mba April membagikan tulisan-tulisan terbarunya di medsos.

Mengenal sosok Mba April lebih dekat lagi, dia arek Suroboyo yang sudah hobi menulis sejak kecil. Setelah menikah, dia berhijrah ke Jakarta. Saat di Surabaya dulu, dia pernah bergabung di lembaga pers mahasiswa kampus dan sempat menjadi pemimpin redaksinya. Selain itu, dia juga sempat bergabung di Forum Lingkar Pena Surabaya, kemudian dengan beberapa orang temannya, mereka mendirikan FLP Kids Surabaya (wadah untuk anak-anak yang ingin menulis) yang berlangsung selama satu periode.

Mba April memiliki cita-cita suatu hari nanti bisa mempunyai buku cerita untuk anak-anak. Semangat dan prestasinya di dunia tulis menulis memang patut diapresiasi. Saat bergabung di lembaga pers kampus, tulisan-tulisannya banyak dipublikasikan di media sekolah/ kampus. Mba April ini mempunyai dua buku antologi yaitu “Kolak Ramadhan: Kumpulan Kisah Manis di Bulan Suci (2008, Buku Antologi bersama Komunitas Sekolah Kehidupan)” dan “Cinta dari Cikini (2010, Buku Antologi bersama Komunitas MP4Palestine”. Satu bukunya lagi akan launching tanggal 20 Juni 2016 nanti.  Dia juga pernah menjadi Juara Pertama Lomba Surat Lingkungan “Life for Live” oleh Kedai Baca WALHI dan Universitas Airlangga (12 Juni 2007).

Pengalaman Mba April di dunia blog sudah sejak tahun 2005-2006, dia sempat berganti platform dari Multiply ke self-hosted blog yang hingga kini masih dipakai yaitu www.keluargahamsa.com. FYI, “Hamsa” itu adalah gabungan nama suaminya (Ilham) dan Mba April (Sari). Umur blognya sudah 3 tahunan lebih, tetapi Mba April baru aktif lagi mengisinya sekitar 6 bulan terakhir ini. Dulu kesibukan mengurus Maxy dan toko online rupanya begitu menyita waktunya. Mba April memutuskan untuk banyak menulis tentang parenting dan kesehatan ibu dan anak. Dari keaktivannya mengisi blog, dia mendapat tawaran menjadi content writer di salah satu web kesehatan ibu dan anak yaitu web bernama rumpibayi.com. Berkah ngeblog lainnya yang dia dapatkan yaitu menjadi Juara Harapan I Giveaway Nostalgia Putih Abu yang diselenggarakan oleh www.arinamabruroh.com (2015) dan Juara II Lomba Potret Laki-laki dan Dunia Anak yang diselenggarakan oleh www.nchiehanie.com, www.deyfikri.com, dan ceritabudi.wordpress.com (2013).

Nah bagi yang ingin berkontak langsung dengan Mba April, si mommy blogger yang inspiratif ini, silakan langsung menuju medsosnya:

  • Blog: www.keluargahamsa.com
  • Facebook: April Hamsa
  • Twitter @april_hamsa
  • IG: @april.hamsa
  • email: april@keluargahamsa.com
Please follow and like me:

Arisan Backlinks: Tertular Semangat dari Sosok Ina Tanaya

Beberapa waktu lalu saat saya membaca-baca artikel di Kompasiana, mata saya mengenali nama seseorang yang tak asing bagi saya. Dia adalah Ina Tanaya, seorang blogger yang saya kenal melalui sebuah acara di Dillo, Bogor. Saya terus menelusuri profil dan tulisan demi tulisannya di Kompasiana hingga akhirnya saya ber”WOW”! Ibu Ina Tanaya ternyata sangat aktif menulis di Kompasiana. Saya pun jadi semakin penasaran lalu mengunjungi blog pribadinya dan menyimpulkan kalau Ibu Tanaya memang penulis yang aktif dan produktif.

Bisa dibilang, di antara peserta di event blogger #BlogHolicID di Dillo, Ibu Tanaya merupakan yang paling senior di antara kami. Tetapi semangat belajarnya yang tinggi dapat kami rasakan saat itu. Hal ini terbukti mulai dari perjuangannya berangkat dari Bintaro sepagi mungkin untuk bisa tiba di Bogor. Perjalanan yang jauh dan penuh tantangan karena transportasi KRL di hari Sabtu sangat padat, belum lagi acara menunggu kereta yang tak kunjung datang. Bu Tanaya sempat hectic kala itu dan datang terlambat di lokasi, tetapi beruntungnya acara juga belum dimulai. Menurut penuturan Bu Tanaya, dia rela melakukan ini semua karena keinginannya yang luar biasa untuk mendapatkan pengetahuan dan materi tentang SEO Blog Writing Tips. Dia sudah sejak lama menantikan waktu untuk dapat memperdalam ilmu tersebut.

Melihat semangat Bu Tanaya yang begitu kuat untuk terus belajar dan menulis, saya jadi tertular ‘greget’nya nih untuk lebih produktif lagi menelurkan karya-karya yang selama ini masih menggantung di angan-angan. Belajar memang tak kenal usia ya, belajar itu hanya perlu tekad dan komitmen kuat. Dua hal inilah yang tentunya dimiliki oleh Bu Tanaya sehingga dia bisa konsisten untuk terus berkarya.

Bu Tanaya bercita-cita menjadi seorang blogger dan penulis profesional. Ibu dari seorang putri ini, dulunya pernah bekerja di perusahaan swasta asing hingga tahun 2009. Setelah resign dari pekerjaannya, Ibu Tanaya mulai menekuni dunia tulis menulis hingga sekarang. Kumpulan tulisan-tulisannya bisa dilihat di Kompasiana maupun blog pribadinya di www.inatanaya.com.

Di blog pribadinya, Bu Tanaya mengulas tentang topik parenting dan traveling. Dia juga menuliskan artikel-artikel lainnya dan review. Selain itu, Bu Tanaya termasuk blogger yang cukup rajin mengikutkan tulisannya dalam writing competition. Hal ini saya tahu ketahui dari beberapa tulisannya yang memang related dengan info lomba-lomba blog yang saya dapatkan, he he he…

Tampilan blog Bu Tanaya cukup simple, feminin, dan enak dibaca. Jika saya boleh memberi sedikit masukan, mungkin kategori ‘article’ yang ada di menu bar bisa di-breakdown lagi, misalkan untuk mendetilkan kategori parenting, traveling, competition, event, dll. Jadi, jika pembaca ingin tahu artikel yang ditulis untuk terkait parenting, pembaca bisa dengan mudah menemukannya di dalam menu bar tersebut. Protection di tampilan blognya sudah cukup baik sebagai pengamanan dari copy paste, tetapi hal ini juga menyulitkan pembaca untuk membuka beberapa tab baru terkait blognya (jadi tidak bisa membuka beberapa tab dengan cara klik kanan). Anyway, secara keseluruhan saya suka dengan tampilan blognya Bu Tanaya. 🙂

Bagi blogger pemula, atau blogger yang hanya punya separuh-tekad, atau mungkin blogger yang sudah lama vakum menulis, berkenalanlah dengan Bu Tanaya dan tulisan-tulisannya. Karena dari karyanya, saya pribadi jadi terinspirasi untuk terus belajar dan menulis.

Untuk mengenal lebih dekat dengan Bu Tanaya, silakan kontak akun pribadinya di sini:

FB: http://www.facebook.com/ina.tanaya

Tweet: https://www.twitter.com/tanaya1504

Ig: http://instagram/ina_tanaya

Kompasiana: http:www.kompasiana.com/www/www.inatanay…

 

Please follow and like me:

Arisan Backlinks: Shine Fikri si Mamah Muda Inspiratif

Dalam hidup, saya belum pernah terpikir sekalipun untuk menjadi ibu rumah tangga. Saya tetap ingin aktif dan produktif menggeluti bidang pekerjaan saya saat ini yaitu dunia riset. Itu pemikiran beberapa tahun lalu saat saya masih single dan sedang senang-senangnya bekerja, lebih tepatnya ketika saya belum menikah dan hamil. Kalau sudah punya anak nanti apakah saya akan tetap punya pemikiran sama? Entahlah, saya sedang mencari inspirasi dan referensi. Seliweran ulasan, curhatan, ‘pembelaan status’ antara working mom vs stay-at-home mom mulai terlintas kembali. Saya mencoba menimang baik-buruknya. Ah, akhirnya ya, terjebak juga dalam situasi galau itu. Hehehe.

Kali ini saya mendapat inspirasi dari seorang ibu rumah tangga muda dengan dua buah hati. Namanya Nur’aeni, tapi dia lebih dikenal dengan nama Shine Fikri. Saat bertemu dengan Shine di suatu acara blogger, dalam hati saya membatin “hadeuh, ribet amat bawa-bawa anak ya…”. Itulah komentar saya, komentar seorang calon-ibu-baru yang belum merasakan bagaimana rasanya ingin tetap produktif walaupun sudah memiliki ‘buntut-buntut’.

*elus-elus perut dulu ah*…

Beberapa bulan lagi saya pun akan ber-’buntut’, insyaAllah. Jalan mana yang akan saya tempuh nantinya? (Halah…). Apakah tetap menjadi seorang workaholic ataukah berubah pikiran untuk menjadi stay-at-home mom? Ah mari kita lupakan sejenak kegalauan itu, kita kenalan dulu lebih dekat dengan si Mba Shine ini, salah satu mahmud (mamah muda) yang bisa dijadikan percontohan mamah-muda-aktif.

Shine Fikri, si mahmud dengan background IT ini tertarik dengan dunia penulisan sejak duduk di bangku SMP dan berlanjut hingga SMA. Saat mewakili SMA-nya dalam lomba menulis surat untuk Bupati Subang, Shine mendapat juara. Pengalamannya ini menuntun dia berkenalan dengan Forum Lingkar Pena (FLP). Kekuatan networking-nya di FLP ‘menjerumuskannya’ berkenalan dengan penulis-penulis keren.

FLP nampaknya telah membukakan jalan Shine untuk melaju lebih kencang lagi di dunia penulisan. Akhirnya Shine menjadi anggota aktif FLP Bekasi dan pernah aktif di kepengurusan dan menjadikannya sebagai sekretaris dan kepala sekolah pra-muda dan muda. Shine terus melesat di FLP dengan 10 buku antologi (kolaborasi) dan 1 buku solo yang telah berhasil ia terbitkan. Berbagai kejuaraan dalam dunia penulisan pun dia raih.

Keadaan kemudian berubah ketika itu… Dunia pernikahan, kehamilan, dan segara urusan rumah tangga seperti memberi jarak bagi seorang Shine dengan dunia penulisannya. Bisa dipahami, sebagai ibu rumah tangga muda memang harus banyak belajar me-manage waktu dan meningkatkan kekuatan multitasking-nya. Inilah fase yang sepertinya juga terjadi dengan diri saya. Iya betul, saya mulai memasuki fase ini dan kini saya sedang mencari jalan agar nanti saya tidak shock seperti yang Shine alami dulu: tidak ada aktivitas berarti, tidak ada karya, dan baby blues syndrome.

Akhirnya Shine mempunyai jalan keluarnya. Dengan bergelut kembali di dunia penulisan, dalam hal ini menjadi seorang blogger aktif, Shine merasa menemukan dirinya lagi yang sempat menghilang. Motivasi kuatnya saat itu adalah dengan melihat fenomena banyaknya ibu rumah tangga yang tetap aktif dan produktif menghasilkan karya di tengah kerepotan mengurus rumah tangga.

Bagi saya sendiri, bertemu dan berkenalan dengan kisah Shine seperti saya menemukan oase di tengah padang pasir tandus. Cerita Shine yang inspiratif ini membuat saya merasa ‘terobati’ di tengah kegalauan yang saat ini sedang melanda. Baik nantinya menjadi seorang wanita karir maupun ibu rumah tangga, dunia menulis tetaplah indah untuk tetap digeluti. Dengan tetap menulis dan berkarya, kita tetap bisa produktif sekalipun kita ‘hanya’ menjadi seorang stay-at-home mom.

Berkunjunglah ke blog Shine Fikri. Blog dengan tagline a Dream Shine, Think Shine, Experience Shine ini bagi Shine sendiri seperti sebuah mantera yang jika dirapal terus menerus bisa menjadi sebuah kenyataan. Tulislah beribu mimpi di banyak lembaran kertas maka keajaiban akan datang.

Terima kasih mba Shine :). Jika teman-teman ingin berkenalan lebih jauh, silakan kunjungi alamat Shine berikut ini.

 

website : www.shinefikri.com
FB : Shine Fikri
Twitter : @shine_fikri
Instagram : shinefikri.fisabilillah

 

Please follow and like me:

Arisan Backlinks: Berkenalan dengan si Beauty Blogger, Amanda Anandita

Beberapa waktu lalu saya sempat browsing tentang beberapa merk lipstik yang recommended, dari segi warna yang natural dan tidak menyebabkan bibir kering. Saya cukup hati-hati jika akan membeli perlengkapan make up karena, jujur saja nih, saya bukan wanita yang hobi memakai make-up. Bisa dihitung berapa kali saya di”poles” seumur hidup ini. Hehehe.

Karena saya tidak terlalu paham dengan dunia kosmetika dan kecantikan, saya mengandalkan review para blogger yang mengulas produk-produk tersebut sebelum akhirnya saya memutuskan untuk membeli satu merk tertentu. Naaah… ini dia, saya perkenalkan kawan baru saya di dunia perbloggingan yang merupakan seorang beauty blogger. Dia adalah mba Amanda Anandita.

eskaningrum.com

Perkenalan singkat saya dan mba Amanda beberapa waktu lalu saat kami sama-sama menghadiri acara BlogHolicID di Bogor. Menilik blog mba Amanda disini, saya amaze sendiri dan membatin “ini nih wanita bangetttt” (istilah yang sering saya gunakan untuk seorang wanita yang hobi dan lihai berdandan, berbeda dengan saya tentunya. Hehhehee).

Blog mba Amanda memiliki niche khusus membahas beauty. Di dalamnya banyak mengulas tentang serba-serbi dunia kecantikan, termasuk tips ber-make up, review produk kosmetik, dan banyak hal lain yang bagi saya it’s something new.

Di salah satu ulasannya yaitu “10 Matte Lipstik Merk Indonesia di bawah Rp 100.000,-” saya menemukan informasi yang sangat bermanfaat dan memang selama ini saya cari-cari. Iya saya ingin membeli lipstik matte dengan harga yang terjangkau. Saya pikir lipstik yang bagus selalu identik dengan yang mahal, tapi mba Amanda memberikan review beberapa merk lipstik matte dengan harga di bawah kisaran 100ribu! Nah saya jadi ingin mencoba beberapa merk yang direview oleh mba Amanda ini….. tapiiiii… di postingan tersebut tidak mengulas secara detil tentang produk dan rekomendasinya, seperti misalnya apakah lisptik tersebut membuat bibir kering, apakah nyaman digunakan, dll. Jadi, saya harus lebih rajin browsing niiih…. anyway terimakasih mba Amanda untuk info-info seputar kecantikannya yaaa 🙂

By the way, saya mau bercerita sedikit tentang mba Amanda. Si wanita manis  ini ternyata memiliki background dokter loh. Hobinya pada dunia kecantikan sejak kuliah menjadikan dia sebagai seorang beauty blogger yang aktif menulis sejak 2013. Boleh dilihat postingan-postingannya yang sangat informatif dan bermanfaat di sini.

Di tahun 2015, mba Amanda mulai memperkaya tulisannya tentang DIY (do-it-yourself) yang lagi-lagi tak kalah menariknya dengan tulisan-tulisan dia lainnya. DIY yang dia tulis antara lain DIY fashion, DIY skincare, dan DIY make up. Nah bagi yang mau berkenalan lebih lanjut, silakan cek it out her social media!

Blog : www.tipscantikmanda.com
Facebook : Amanda Anandita Rizal
Facebook fanspage : Tips Cantik Manda
Twitter : @Amandaanandita
Instagram : @AmandaAnandita
LINE Official : @TipsCantikManda

Please follow and like me:

Arisan Backlinks: Iffahsari Musyrifah and the Fashion Stylish

Kali ini saya akan membahas tentang pemenang arisan backlink bulan ini yaitu Iffahsari Musyrifah. Menilik dari IG dan blognya, kesan pertama yang saya tangkap adalah Ifa seorang gadis yang energik, fashionable, dan K-drama addict!

Dara lulusan freshgraduate dari IPB ini aktif di dunia per-blogging-an sejak tahun 2011, dengan mengulas tema-tema berbau lifestyle di blognya, terutama di bidang fashion ya…. eh ternyata dia member dari hijab blogger juga loh!

eskaningrum

Saya suka dengan postingan ter-up to date di blognya mengenai “Inspirasi OOTD Pastel dari Ghaida Tsurayya”. Sebagai sesama penyuka warna pastel, tulisan dia memberi informasi tentang bagaimana memadu-padankan warna pastel agar lebih berkesan feminin, hangat, dan elegant.

Sebagai informasi, saya adalah aliran satu warna (??). Maksudnya, saya adalah seseorang yang akan semakin confident jika outfit yang saya pakai merujuk pada satu tema, satu warna (dengan gradasi), atau memang warna yang match dari jilbab hingga ujung kaki…. Nah, di ulasan Ifa tentang pastel color ini, saya jadi tahu bahwa warna pastel sebenarnya cocok juga diselaraskan dengan warna pastel lainnya (even mereka tidak satu warna). Bahkan, warna-warna pastel juga ternya cocok disandingkan dengan warna basic seperti hitam dan putih loh

Kalau kata Ifa :

Buat kamu yang menyukai untuk memakai hanya satu warna untuk keseluruhan outfitmu, di tahun 2016 ini saatnya kamu untuk memiliki gaya yang berbeda 🙂 🙂 🙂

Inspirasi OOTD (Outfit of The Day) warna pastel yang dia ulas berasal dari mba Ghaida Tsurraya. Kebetulan saya juga salah satu follower IG-nya mba Ghaida, seorang desainer busana muslim yang juga hijaber dengan penampilan syar’i.

Membaca tulisan-tulisan Ifa ini, saya jadi manggut-manggut dan ber-“oooo” panjang. He he he…. (terus langsung mau kepoin IG mba Ghaida gitu deh)…

By the way nih, masih terkait busana muslim, ternyata ragam pilihan untuk busana muslim pesta juga banyak banget loh….. check it out ya…. bisa buat referensi pergi kondangan dan juga kostum untuk berhari raya… hehehe.

Thanks ya Ifa for sharing your article, untuk yang mau kenal lebih lanjut dengan Ifa, silakan kontak ke beberapa medsosnya yaaa, kali aja kalian juga mendapat inspirasi dari tulisan-tulisan yang Ifa buat:

Twitter : @ifaaahsm
Instagram : @imusyrifah
Facebook : Iffahsari Musyrifah
Blog : http://imusyrifah.blogspot.co.id/
Please follow and like me:

Go Mukena Bersih: berawal dari ide sederhana

Apabila datang Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu (Al-Imam Bukhari ramimahullahu).

Bulan ramadhan menjadi suatu kerinduan tersendiri bagi insan beriman. Kehadiran bulan penuh berkah ini disambut dengan segenap suka cita karena banyaknya keutamaan yang dijanjikan. Umat muslim berlomba meraih pahala di bulan penuh kebaikan ini, baik melalui kesibukan berpuasa, bercengkerama dengan Al-Qur’an, maupun ibadah-ibadan lainnya. Semua dilakukan untuk meningkatkan derajat ketakwaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Masih dalam rangka meraih keutamaan-keutamaan di bulan suci ini, Rina Nur Oktaviana, tidak mau ketinggalan untuk menebar kebaikan. Nae, sapaan akrab Rina, memiliki ide sederhana: menyumbangkan mukena-mukena bersih dan layak pakai ke mushola di sekitar tempat tinggal. Nae mengajak teman-temannya agar rajin menyisihkan uang Rp 5.000 per minggu untuk membeli mukena. Jika uang sudah terkumpul, mereka belikan mukena kemudian mereka berikan ke beberapa mushola yang masih kekurangan mukena bersih.

Siapa yang menyangka, berawal dari ide sederhana seorang Nae dan diiringi komitmen 9 orang teman-teman Nae, mereka membuat Gerakan Go Mukena Bersih yang kini mulai dikenal khalayak ramai. Gerakan ini bertujuan untuk mengumpulkan donasi-donasi, baik dalam bentuk mukena maupun dana, yang nantinya akan dibelanjakan mukena-mukena dan disumbangkan ke berbagai mushola dan masjid yang membutuhkan.

Eksistensi Gerakan Go Mukena Bersih menginjak tahun keduanya di bulan penuh berkah tahun ini. Kegiatan yang pada ramadhan tahun lalu hanya ditargetkan di Kampung Pemulung Cipayung, Depok kini sasarannya meluas hingga ke wilayah Jabodetabek lainnya, termasuk juga mushola di stasiun-stasiun kereta, terminal, mall, dan tempat-tempat yang menjadi titik keramaian massa. Sumbangan mukena yang datang pun seperti tiada hentinya. Jika menengok laporan donasi Gerakan Go Mukena Bersih, per 11 Juli 2014 terkumpul sebanyak 145 buah mukena dan total sumbangan dana sebesar Rp 10.490.119. Wow! Angka yang sangat di luar dugaan.

“Awalnya, kami bersepuluh menyisihkan uang Rp 5000 setiap minggunya, lalu kami belikan mukena kalau uang sudah terkumpul. Kemudian kami berpikiran untuk mengajak teman-teman lainnya. Kami sebarkan info lewat grup BB dan Whatsapp. Alhamdulillah, kami nggak nyangka respon orang-orang begitu positif dengan kegiatan kami. Banyak yang menyumbang mukena-mukena baru, ada juga yang menyumbang mukena bekas layak pakai, dan beberapa donatur juga menyumbang dalam bentuk uang” tutur Nae dalam obrolan hangat kemarin sore.

 

Mukena-mukena yang dikumpulkan dari donatur kemudian dijahitkan logo “Go Mukena Bersih” sebelum disebarkan ke mushola-mushola.

20140717_170545
Logo Go Mukena Bersih yang dijahitkan pada mukena sebelum disumbangkan ke mushola

 

Beberapa waktu lalu, salah satu stasiun TV nasional juga menyiarkan liputan kegiatan ini

Kemarin sore, 17 Juli 2014, saya berkesempatan untuk bertemu langsung dengan Nae di rumahnya –yang penuh dengan mukena sumbangan pastinya- 😀

20140717_170645
saya (kiri) dan Nae (kanan)
20140717_170554
mukena-mukena baru yang disumbangkan oleh para donatur
20140717_170609
mukena bekas layak pakai
20140717_170813
kondisi ruang tengah rumah Nae yang dipenuhi sumbangan-sumbangan mukena

 

Nae benar-benar menginspirasi ramadhan saya kali ini. Keuletan dan kegigihannya bersama teman-temannya untuk berdakwah dan menebar kebaikan patut dicontoh. Bermula dari ide sederhana yang kemudian dia ajak orang lain untuk turut berpartisipasi dalam kebaikan. Ah iya, bukankah benar bahwa segala hal besar selalu diawali dari langkah kecil?

Semangat dan kebaikan itu menular dan bergulir bak bola salju, sedikit demi sedikit jika dilakukan terus menerus akan membuahkan kebermanfaatan. Jadi, jangan ragu untuk melakukan hal-hal kecil yang bernilai kebaikan. Jika sudah berniat melakukan suatu hal yang baik, kita harus segera melakukannya. Bisa jadi kebaikan tersebut hanya menjadi jatah kesempatan di masa lalu, sedangkan nanti ataupun esok mungkin hanyalah milik harapan dan ketidakpastian.

Bagi pembaca yang kebetulan berada di wilayah Jabodetabek dan kebetulan mengetahui di sekitar tempat tinggalnya masih ada mushola/langgar/masjid yang kekurangan mukena, bisa diinformasikan ke saya. Kebetulan Nae sedang memerlukan banyak volunteer untuk menyebarkan mukena-mukena hasil sumbangan donatur yang jumlahnya membludag dari hari ke hari (alhamdulillah….. :D). Atau barangkali ada yang tertarik untuk berpartisipasi menjadi donatur? Kami akan senang hati menerima bantuan dari pembaca sekalian yang ingin mendonasikan mukena baru, mukena bekas, atau berupa uang tunai (100% akan kami belikan mukena). Untuk keterangan lebih lanjut silakan buka tautan ini.

Mumpung masih dalam suasana Ramadhan, yuk beramal baik 🙂

Bersama Kita Sebarkan Kebaikan dengan #SemangatBerbagi. Ikuti acara puncak Smarfren #SemangatBerbagi tanggal 19 Juli 2014 di Cilandak Town Square Jakarta.

 

Acknowledgement:

Saya baru menulis ini selepas sahur pagi tadi, deadline hari ini nih…hehehe. Kebetulan saya baru mengenal Nae dua hari lalu melalui teman saya. Malam itu saya bertemu teman saya selepas taraweh di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Depok. Teman saya mengajak saya untuk menjadi volunteer kegiatan Go Mukena Bersih ini. Kemudian saya berkunjung ke rumah Nae kemarin sore untuk mengambil mukena, saudara-saudara… iya jadi foto-foto itu baru saya dapatkan kemarin sore dan tulisan ini fresh from oven banget! Yuk berpartisipasi dalam kegiatan ini.

ALHAMDULILLAAAH….. TULISAN INI BERHASIL MENJADI JUARA 1 DALAM KONTES SEMANGAT BERBAGI BLOG EMAK GAOEL BERSAMA SMARTFREN 🙂 🙂 🙂

Please follow and like me:

Kekonyolan di TOL

Ouuh….How silly I am!! Begitulah kalimat yang terlontar setiap kali saya mengingat pengalaman yang sangat memalukan ini.

Sore itu, berbekal peta sederhana coretan tangan Rince, saya dan Adila mengendarai sepeda motor menuju ruko Cibubur. Honestly, saya buta arah. Jangan mengajak saya berbicara utara-selatan. Nggak ngerti. Selain itu, daya spasial saya juga sangat buruk. Terbukti rekor saya nyasar sudah ratusan kali. Setiap datang ke tempat baru naik motor sendirian, bisa dipastikan 90% pasti nyasar dan 5%-nya jalan pulang melalui jalanan yang berbeda dengan jalan saat berangkat.

“Ah wanita, sudah biasa”, kira-kira begitulah komentar kebanyakan orang. Menurut buku “Why Men doesn’t Listen and Women can’t Read Maps” oleh Allan dan Barbara Pease, pada umumnya wanita mempunyai kemampuan ruang yang terbatas. Terkadang dia sanggup menggunakan peta ketika tujuannya ke arah Utara, tetapi jika ke Selatan, itu artinya bencana baginya (termasuk untuk saya yang nggak bisa baca peta).

Kembali lagi ke peta. Saya menikmati perjalanan sore itu dengan tetap was-was. Setelah melewati Jalan Jambore, saya ambil “posisi aman” –in my opinion– yaitu kiri jalan. Melewati Cibubur Junction ternyata ada persimpangan jalan di depan… Kemana saya harus melangkah?? Sudah bisa ditebak, saya yang amat takut mengambil posisi menyeberang ke kanan, dengan segala kelatahan saya, akhirnya saya tetap pada pendirian untuk lurus saja di kiri jalan. “Sudahlah gampang nanti cari puteran balik kalau salah jalan” batin saya.

Baru beberapa puluh meter setelah itu, saya dibuat terkejut dengan senyuman aneh beberapa orang di dalam mobil. Saya pelankan gas sambil meyakinkan diri kalau penampilan saya sudah oke (nggak seperti badut_red). Masih dalam keraguan yang nyata, saya bertanya-tanya dalam hati:
“Aduh, apa yang salah dengan saya? Kenapa orang-orang senyum-senyum ngga jelas begitu?

Saya dan Adila berdiskusi karena merasa janggal melihat tidak ada sepeda motor yang melewati jalan ini (selain kami).

Saya: “Dila, ini salah jalan nggak ya, coba liat petanya lagi”.

Adila: “Koq aneh ya Cha, nggak ada motor yang lewat sini.

Saya: “ Ini jalan tol bukan ya?” tanya saya sambil masih saja melaju.

Adila: “Jangan-jangan iya Cha, makanya orang-orang daritadi liatin kita”

Saya: “Terus gimana donk ini? Kita kemana? Aduh!” *frustasi* “Tadi kan ada polisi, kenapa dia gak ngejar kita sih” mulai menuduh Pak Polisi yang tak bersalah.

………………..

Adila: “Pantesan Cha, polisi di persimpangan tuh ngliatin kita sambil bengong”. (Dengan muka polosnya)

@#$%%^%$#**&&&*(

Jyaaaah, pantesan orang-orang pada senyam-senyum ngeledek begitu. Jadi motor saya masuk tol nih? maluuuuuu >.<.

Di akhir cerita, kami berdua berhenti setelah menyadari kepolosan kesalahan kami. Lalu Adila ke tengah jalan, dengan sigapnya Adila melambaikan kedua tangan memberhentikan kendaraan beroda empat yang akan melintas. Jadi, saya bisa putar balik dengan aman (untung helm saya ada kaca penutupnya, jadi malunya ketutupan deh).

 

Saat saya bercerita pada teman-teman tentang pengalaman memalukan ini, mereka bertanya:

Teman: “Emang kamu nggak liat kalau itu jalan tol?” pertanyaan yang seolah menguji kecerdasan saya.

Saya: “Kan nggak keliatan pintu tol-nya disitu, pintu tol agak jauhan”

Teman: “Sebelum masuk jalan itu, kamu nggak liat tanda-tanda jalan tol?

Saya: “errrrr….”, bingung, sejujurnya enggak liat.

Teman: “Kamu tahu rambu jalan tol itu kaya apa????” benar-benar menguji pengetahuan umum saya.

Saya: “ENGGAAAAAAKK……”

 

Diikutkan dalam “The Silly Moment Giveaway” Nunu el Fasa dan HM Zwan

 

Please follow and like me:

Sibling Rivalry: Kejutan Bagi si Nomor Satu

Merujuk pada Buku Just Tell Me What to Say yang ditulis oleh Betsy Brown Braun (yang sebenarnya saya sendiri belum pernah membacanya, hanya sekilas membaca tulisan milik Ika Kartika Amila dalam tugas tesis terjemahan beranotasi buku Just Tell Me What to Say):

For the first two years of yout firstborn’s life, she was the center of your world. Whatever she wanted, she pretty much got it, right then and there. No one else was there with needs to be met. Then second baby arrived. Wow, was Number One in for a surprise!

Sibling rivalry can begin the moment the second child comes home from the hospital. Sometimes you won’t see evidence of it until the younger child begins to encroach on the first child’s life, reaching, then crawling, and then walking into her space.

 Inti permasalahan saudara kandung adalah keinginan alami untuk memiliki orangtua secara utuh. Ada perasaaan “bersaing” meskipun mereka masih terlalu kecil untuk bisa mengerti. Hal ini disebabkan sampai usia 2 tahun, anak adalah pusat dunia yang merasa memiliki segalanya hingga muncullah si nomor dua yang membuat suprise bagi si nomor satu.

Saya adalah si nomor satu yang selalu merasa memenangkan hati banyak orang. Betapa tidak, sebagai satu-satunya cucu pertama perempuan di kedua keluarga besar, tampaknya kehadiran saya begitu memikat perhatian semua orang. Jadwal roadshow saya padat merayap, kalau boleh dikatakan sedikit berlebihan, “perebutan” hak milik itu benar adanya. Kali ini jadwal menginap di rumah simbah dari bapak, di lain waktu jadwal bermain di rumah simbah dari Ibu, dan di saat lainnya sudah di take in bude, bulik, dan om untuk keperluan tamasya, kondangan, silaturahmi, berkunjung ke rumah pacar, atau sekedar bermain dengan iming-iming dimasakkan ayam bacem kesukaan saya.

Masa kejayaan itu saya alami hingga si nomor dua muncul di usia saya yang belum genap 4 tahun. Secara alami, naluri si nomor satu mulai merasakan adanya sibling rivalry yang artinya adalah: periode emas untuk menjadi si nomor satu harus segera diakhiri secara perlahan. Mungkin alasan belum siap untuk menerima adanya pergeseran level perhatian, hal ini membuat si nomor satu suka berbuat kericuhan demi mempertahankan posisi yang sudah disandangnya selama hampir 4 tahun (he he he).

Mungkin orangtua saya saat itu belum terlalu memahami bahwa setiap anak menginginkan kepemilikan orangtua secara utuh tak terbagi. Tentu saja orangtua saya tidak sempat memikirkan hal itu karena kondisi si nomor dua memang sangat memerlukan perhatian ekstra disebabkan kelainan tulang kaki yang dialaminya sejak lahir. Saya melihat orangtua saya begitu fokus kesana kemari demi mengobati si nomor dua, baik menempuh jalan operasi maupun alternatif. Meskipun saya masih terlampau kecil untuk mengerti, saya bisa melihat gurat wajah lelah bapak dan ibu yang berjuang agar kelak anak keduanya bisa berjalan dan menapakkan kedua kakinya dengan sempurna. The time goes by and I realize that after years later…..

 

Fair doesn’t mean that things will work out the way you or your children want them to….. (Betsy Brown Braun)

Saya, si nomor satu ini, adalah tipikal anak yang “nggak mau dan nggak bisa dilarang”. Seingat saya, jarang sekali bapak dan ibu melarang saya melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Sewaktu kecil mungkin saya sering dilarang. Tapi setelah saya menunjukkan jiwa berontak di usia belasan tahun, mereka sudah jarang lagi menghalangi keinginan putrinya ini. Pernah sesekali dua lah, saya dilarang yaitu saat saya minta ijin mau bermain ke Dataran Tinggi Dieng bersama teman band dan Om Ipang’s family (pemilik studio band). Waktu itu, kami ingin liburan sambil merayakan kelulusan dan menyambut datangnya masa-masa berseragam abu-abu-putih. Kedua kalinya yang saya ingat, mereka melarang saya pergi ke Papua untuk bekerja di Free Port dengan alasan “Keadaan lagi ricuh di sana, nanti kamu bisa ketembak”. Alasan yang menurut saya agak lucu dan konyol tapi benar adanya sih. Selebihnya, bentuk larangan dan ketidaksetujuan yang ditunjukkan oleh orangtua lebih bersifat lunak dan berupa himbauan. Tapi pada akhirnya mereka akan berkata “Terserah kamu saja lah”.

 

Sebuah larangan muncul karena adanya dorongan untuk bisa berbuat adil tentunya. Namun, usaha untuk mewujudkan bahwa hidup itu adil, terkadang justru membuat seorang anak semakin tidak siap menerima kenyataan. Dulu saya sering bertanya-tanya di dalam hati:

“Kenapa ya, bapak sama ibu perhatian banget sama si adek? Perasaan dulu pas aku seusia dia, aku nggak diperlakukan sebegitunya. Kenapa ya koq berbeda?”

Saya jarang atau tidak pernah dimarahi karena pulang terlambat ke rumah atau karena bermain terlampau larut. Kalau saya mau berbuat sedikit nakal nih, bisa saja jam les tambahan yang 3x dalam seminggu itu saya pakai untuk membolos dan bermain sesuka hati. Toh mau pulang malam pun, bapak dan ibu hanya tahu bahwa saya ini ada les tambahan, titik. Tidak pernah mereka menelpon untuk bertanya “Koq belum pulang? Lagi dimana?”

Tapi kondisi ini sangat jauh berbeda dengan yang dialami oleh si nomor dua, adik saya. Kalau sudah jamnya pulang sekolah tapi dia belum nongol di rumah, ibu akan panik dan mulai bawel bertanya ke setiap orang “Kemana ya dia? Koq jam segini belum pulang?” lalu ibu pasti akan segera menelpon adik saya “Lagi dimana? Koq belum pulang?”

Ketika saya dan adik saya, Hilda, sudah mulai bisa akur dan saling bercerita selayaknya kakak dan adik, Hilda pernah mengutarakan ke-iriannya pada saya.

“Enak ya, jadi Mba Put. Kalau mau pergi-pergi main gampang. Kalau aku sih pasti dilarang: ‘nggak boleh kesini, nggak boleh kesana’. Masa aku liburan suruh di rumah aja, nggak boleh kemana-mana. Kapan aku bisa mandiri kalau kaya gini?” selorohnya.

Wowww, saya takjub! Kalau boleh dibilang iri, saya iri banget sama Hilda yang selalu ditelpon setiap pulang telat, selalu dicari-cari kalau belum setor muka di depan ibu. Ketika saya ungkapkan hal itu, Hilda menjawab:

Iiih nggak enak tau Mbaaa, masa lagi main ditelponin suruh cepet pulang. Enak tuh jadi Mba Put, mau main kemanapun dan kapanpun selalu dibolehin. Huh”….

Ah benarkah demikian?? Sepertinya memang benar adanya. Hal iseng yang pernah saya lakukan adalah saat sedang liburan kuliah di rumah, saya pergi main sedari pagi sampai menjelang jam 11 malam. Tanpa telpon, tanpa sms, tanpa ada yang menanyakan apapun! Saya sengaja melakukan itu, saya ingin merasakan “dimarahi karena anak gadis pulangnya malam banget” (LOL).

Saat pulang, saya percaya diri untuk mendapat serangan pertanyaan dari bapak dan Ibu.

“Tok, tok”... suara ketuk pintu. Bapak membukakan pintu. ‘siap-siap ditanya nih’ batin saya.

“Oh, sudah pulang”, kata bapak singkat. ‘Lalu?’ batin saya lagi

…………………………………

Ah gagal. Saya ke dapur. Ibu sedang masak-masak sesuatu. Saya mengucap salam dan kembali membatin ‘siap-siap nih….’

“Pulang sama siapa?” tanya Ibu. Kalau pertanyaan ini, jawabannya cukup gampang. Sebut saja satu nama teman laki-laki semacam “Adit” atau “Hammam”, pasti beres. (Ibu akan merasa aman kalau anaknya ini pulang dengan teman laki-laki ketimbang pulang sendiri atau dengan teman perempuan. Aneh ndak? 😛 )

…………………..

Gagal juga’, batin saya. Saya to the point saja pura-pura mengeluh ke Ibu.

“Ibu nggak tanya, aku darimana? Seharian pergi kemana aja? Koq Cuma nanya pulang sama siapa sih? Masa anak gadisnya pergi seharian dari pagi terus pulang malem nggak dimarahin????” tanya saya borongan 😛

Ibu agak kaget, menghentikan kegiatan goreng-gorengnya sejenak, menoleh pada saya sambil tertawa: “Jadi kamu minta dimarahin…??? He he he”….

Aduuuh ini, krik-krik banget deh ya…. -__-

Tanpa saya sadari, sifat adil itu sangat relatif sesuai kebutuhan .

Setelah lebih besar, pelan-pelan ia akan bisa mengerti dan memahami, ia telah diperlakukan secara adil bukan karena memperoleh sesuatu yang sama persis seperti orang lain, tetapi karena ia telah memperoleh apa yang ia perlukan.

Setiap anak itu unik dan orangtua kita tentunya lebih mengenal anak-anaknya sendiri, bagaimana perangainya, bagaimana cara menghadapinya, dan apa yang terbaik untuk mereka. Sikap “membedakan dan kurang adil” sepertinya hanya sebuah judgment bagi saya.

Fair doesn’t mean that things will work out the way you or your children want them to…..

 

Please follow and like me: