Sabtu Kelabu: Tentang Kehilangan

Memasuki bulan Desember kali ini, saya excited menjelang liburan panjang di akhir tahun. Tiket kereta sudah ada di tangan. Kami sekeluarga berencana pulang kampung ke sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Kebumen. Sudah hampir setengah tahun saya tidak pulang ke kota kelahiran. Rencananya kami –saya, suami, dan baby Halwa– akan berlibur dari sebelum Natal hingga selesai Tahun Baru.

Jumat pagi, saya dan suami (Mas Ry) berjalan-jalan pagi bersama Halwa. Sudah menjadi kebiasaan kami saat libur untuk menyempatkan jalan-jalan di sekitar rumah. Apalagi, suasana pagi di kawasan Kampus UI Depok sangat cocok untuk berolahraga atau hanya sekadar menikmati udara segarnya. Pagi itu, saya bercerita kepada Mas Ry soal mimpi saya semalam tentang meninggalnya simbah kakung (kakek). Konon katanya, mimpi buruk pantang diceritakan. Mimpi buruk juga tidak boleh ditafsirkan karena tidak semua mimpi itu benar dan mimpi mungkin hanya bawaan perasaan atau bisikan hati. Namun, kali itu saya merasa perlu menceritakan perihal mimpi saya pada suami dengan tujuan untuk antisipasi seandainya hal itu sungguh terjadi.

Halwa (saat usia 1 bulan) bersama simbah buyut

Sejak sebulan terakhir ini simbah kakung memang kerap sakit-sakitan: mulai dari terjatuh di dekat sumur hingga kepalanya sakit, katarak yang hendak dioperasi, hingga kabar terakhir mengatakan simbah stroke karena terjadi penyumbatan pembuluh darah di otak sehingga beliau harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari terakhir. Siang hari itu, terlepas dari firasat mimpi buruk saya semalam, saya mendapat kabar bahwa kondisi simbah kritis dan harus dirawat di ICU. Pikiran saya tidak tenang, doa selalu saya lantunkan memohon yang terbaik untuk simbah.

Subuh-subuh di Sabtu pagi, handphone saya bergetar tanpa suara. Ternyata sudah ada dua missed call sebelumnya. Pada panggilan yang ketiga, saya berusaha menabahkan hati untuk mengangkat dan mendengar kabar dari adik perempuan saya. Hati saya sudah membatin “This may be a bad news”.

“Mbak, simbah meninggal jam 3 pagi tadi. Mohon doanya. Nanti dimakamkan jam 3 sore”, begitu suara pelan di seberang sana. Suara yang mencoba untuk tetap tegar. Saya hafal, ini sudah ketiga kalinya adik saya mengabarkan tentang berita duka. Sebelumnya, adik saya, dengan nada suara yang sama juga pernah mengabarkan kepergian nenek dan kakek saya. Saya menjawab pelan, masih dengan pikiran tak karuan, “Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun, Mbak belum tahu bisa pulang atau ndak”, jawab saya.

Mas Ry selepas solat subuh menanyakan pada saya, “Bagaimana kondisi simbah?”

“Mbah sudah nggak ada”, jawab saya. Mendengar berita itu, Mas Ry mengajak saya pulang untuk takziyah. Dia tahu kalau saya ingin sekali pulang untuk memberi penghormatan terakhir pada simbah. Setelah berdiskusi, kami sepakat untuk pulang ke Kebumen pagi itu.

Read also:   Resolusi 2018: Ingin Menjejakkan Kaki ke Benua Eropa
Semoga simbah khusnul khotimah. Aamiin

Saya pun membuka website Traveloka, mencari flight terpagi menuju Jogja. Dengan fitur best price finder, tidak sulit untuk menemukan pilihan penerbangan dengan harga termurah karena kita bisa melihatnya di urutan paling atas. Kali itu, kebetulan yang kami cari selain harga bersahabat, juga flight terpagi yang masih bisa kami jangkau agar kami bisa melihat prosesi pemakaman jenazah.

1. Cari penerbangan

Kami memulai pencarian dengan memasukkan detail penerbangan

Contoh isian detail penerbangan

2. Pilih dan pesan penerbangan

Detail penerbangan dapat dilihat di halaman hasil pencarian.

Penerbangan yang dipilih yaitu Citilink

3. Isi data kontak dan penumpang

Setelah memilih penerbangan, kami mengisi data kontak pemesan dan data penumpang yang berangkat. Di sini, kami juga bisa menambahkan asuransi perjalanan melalui pesanan yang kami buat.

4. Lakukan pembayaran

Traveloka menyediakan berbagai macam metode pembayaran yang bisa dipilih sesuai kebutuhan.

Pilihan metode pembayaran

5.  E-tiket dikirimkan

Setelah pembayaran sukses dilakukan, e-tiket resmi Traveloka pun langsung dikirimkan ke alamat email dan nomor handphone saya.

E-ticket diterima melalui email

 

E-ticket dikirimkan juga melalui nomor handphone

Kami mendapat jadwal flight pukul 11.30 siang dengan maskapai Citilink. Perhitungan waktu kami memang tidak terlalu presisi saat itu. Pesawat akan tiba di Jogja pukul 12.40 jika penerbangan lancar. Nah, dari Jogja ke Kebumen bisa ditempuh dalam waktu 2 hingga 3 jam. Kami hanya bisa berharap semoga bisa tiba tepat waktu.

Setelah selesai dengan urusan tiket, saya bergegas packing. Sambil melipat dan merapikan pakaian ke dalam koper, tiba-tiba terlintas kenangan-kenangan saya bersama almarhum simbah. Dulu, hampir seluruh masa kecil saya dihabiskan di rumah simbah. Saya adalah cucu pertama di keluarga besar bapak. Setiap Hari Raya Idhul Fitri, belum afdol rasanya kalau belum mengunjungi rumah simbah dan laut-nya. Rumah simbah hanya berjarak sekitar 4 km dari pesisir pantai selatan dan simbah dulu pernah menjadi nelayan pencari ikan di tengah laut. Tujuh tahun terakhir sejak saya kuliah, simbah selalu mengeluhkan cucunya yang semakin jarang berkunjung apalagi menginap. Katanya, saya sudah berubah, saya tidak betah lagi tinggal di rumah simbah. Padahal, dulu saya kerap menangis jika dijemput pulang dari rumah simbah.

Saya ingat nasehat simbah dua tahun lalu, setelah beberapa saat saya turun dari pelaminan di hari pernikahan saya. Katanya, sekarang saya sudah jadi milik suami saya, begitu pula sebaliknya. Kami harus selalu hidup rukun sejak saat itu (#crying). Time flies, sekarang simbah sudah punya satu cicit dari saya. Aah beruntung sekali Halwa sempat bersua dengan simbah buyutnya meskipun kondisi simbah kakung yang selalu lupa dengan nama Halwa.

Read also:   Tips Menulis Konten Reportase ala Blogger
“Siapa namanya”, tanya simbah.

Bunyi telepon membuyarkan lamunan saya. Seketika saya berhenti sejenak dari kegiatan menata baju ke dalam koper, tinggal sedikit lagi pekerjaan ini selesai. Ternyata, adik saya menelepon lagi untuk mengabarkan sesuatu hal.

“Mbak, pemakaman dimajukan jadi jam 1 siang”.

“Hahh?!” Lhah saya ‘kan jam 1 siang baru akan tiba di Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta. Telepon kemudian dioper ke ibu saya.

“Kamu nggak usah pulang, didoakan saja simbah, kamu pulangnya nanti saja menjelang libur panjang biar nggak bolak-balik”, nasehat ibu saya. Kemudian telepon dioper lagi ke salah satu bulik saya, adik dari bapak.

“Iya nggak usah pulang nggak apa-apa. InsyaAllah semuanya sudah beres. Mohon dimaafkan dan didoakan ya simbah. Tadi warga di sini sepakat memajukan pemakaman jadi jam 1 soalnya kalau sore khawatir hujan”. Baiklah, saya maklum dengan kondisi itu. Tapi tiket saya bagaimana?

Kemudian saya berbicara kepada bapak. Saya mohon maaf tidak jadi pulang meskipun saya sudah beli tiket. Kata bapak, “Sudah banyak yang handle di sini, nggak perlu memaksakan pulang. Tiketnya di-cancel saja.”

Well, karena hampir semua suara “pengambil keputusan” di sana melarang saya pulang, akhirnya, saya terpaksa membatalkan penerbangan. Bisa di-cancel dan refund nggak ya?

Saya membuka e-ticket dari Traveloka. Di bagian paling akhir, ada informasi tentang pembatalan tiket. Saya pun mengikuti prosedur refund yang tersedia. Pengajuan refund melalui Traveloka prosesnya cukup mudah, ada 4 langkah yang perlu dilakukan:

  1. Log in ke akun Traveloka. Karena saat membeli tiket saya belum punya akun, akhirnya saya mendaftarkan akun saya saat akan mengajukan refund. Alamat email yang didaftarkan harus sama dengan yang saya gunakan untuk memesan tiket.
  2. Pilih Pesanan Saya
    Pada halaman dashboard di akun, saya pilih submenu “Pesanan Saya”.

    Pilih “My Booking”
  3. Cek Detail Pesanan
    Pilih pesanan yang ingin di-refund, lalu klik tombol “Detail”.
  4. Isi Formulir Refund
    Pada detail pesanan, klik tombol “Refund”, lalu isi formulir refund dengan mengikuti petunjuk yang ada.

Setelah saya mengajukan refund, Traveloka mengirimi saya email memberitahukan bahwa pengajuan refund sudah diterima. Untuk make sure bahwa refund saya dapat diproses, saya pun menelepon customer service Traveloka di 0804-1500-308. Tidak perlu menunggu lama, operator menjawab telepon saya dan membantu pengecekan data serta menginformasikan bahwa pengajuan refund saya sudah diterima. Refund untuk tiket pesawat memang harus diajukan dalam masa validitas tiket. Jika masa validitas tiket sudah lewat, kita sudah tidak bisa lagi mengajukan refund. Selain itu, refund juga tidak dapat berlaku jika kita sudah melakukan check in (di bandara maupun online). Alhamdulillah saya masih punya kesempatan.

Operator memberitahukan bahwa setiap pengajuan refund, Traveloka akan mengenakan biaya sebesar Rp 30.000 per passenger. Tapi, perlu diingat bahwa ada tambahan biaya yang dikenakan oleh maskapai atas pembatalan ini. Setiap maskapai mempunyai kebijakan yang berbeda. Ketika saya tanya berapa persen biaya cancellation oleh maskapai, operator Traveloka pun membantu saya mengecek ke Citilink. Betapa surprise-nya saya saat operator yang baik hati itu mengabarkan hasil pengecekannya.

“Oleh karena Ibu melakukan pembatalan kurang dari 4 jam, biaya pembatalan dari Citilink sebesar 90%”, begitulah kira-kira. Oh Noooooooo !!!!

“Ooooooh gitu ya Mba”, saya pun hanya bisa pasrah, lemas, sambil ber-‘oooo’ panjang. Lhah biaya potongan Citilink 90%, lalu biaya potongan Traveloka Rp 30.000 per penumpang. Habis donk ya, sama saja uang tidak kembali. Huhuhu.

Ya sudah, tidak ada yang salah dan tidak ada yang perlu disesali. Eeh, saya sedikit menyesal sih, kenapa saya buru-buru issued tiket ya. Hm, ya sudah namanya juga suasana hati lagi kalut. Tapi saya bersyukur karena proses dan pelayanan Traveloka sangat baik. Dalam kondisi genting, Traveloka sangat membantu saat saya mencari penerbangan dengan harga murah. Informasi tercantum bahwa “Harga Awal = Harga Final” memang benar adanya. Tidak ada biaya transaksi dan biaya tersembunyi. Harga yang saya bayar adalah harga yang saya lihat di laman Traveloka. Proses booking hingga payment sangat mudah dan cepat. Bahkan, proses refund pun berjalan lancar. Operator mudah dihubungi dan sigap membantu, pun ketika saya minta tolong cek additional fee di maskapai terkait. Saat ini, saya hanya tinggal menunggu hingga 30 hari ke depan untuk mendapat pengembalian dana.

Hari itu suasana hati saya memang sedang kelabu. Saya diuji agar bersabar dan mengikhlaskan beberapa hal: kehilangan simbah kakung, kenyataan bahwa saya tidak jadi pulang, dan “kehilangan” uang karena biaya cancellation dari pihak maskapai cukup besar. Semoga nanti ada rejeki lainnya untuk saya (menghibur diri).

 

Please follow and like me:

10 thoughts on “Sabtu Kelabu: Tentang Kehilangan

    • betuul betuul… tapi insyaAllah ini takdir yang baik untuk simbah saya agar tidak merasakan kesakitan di dunia. Terima kasih Bu Aya

  • Turut berduka cita ya mbak. Btw aku juga suka banget sama Traveloka. Rasanya aman, nyaman, yang dibayrkan sesuai dengan harga yg tertera ya jadi ga banyak mikir hehehe. Ke Bali, Bandung, Jogja, Lombok dll pesennya juga via Traveloka. Udah jaminan mutu lah hehehe

    • wah sudah langganan traveloka juga toh. Soal refund itu aku malah baru sekali manfaatinnya dan ternyata mudah banget prosesnya.

  • Turut berduka ya mba, dan tentang penggantian tiket InshaAllah akan diganti rezeki yg lebih baik lagi.. Aaminn.. aku belum pernah beli tiket pesawat melalui traveloka, sepertinya sangat mudah, nanti boleh lah di coba! thanks for sharing ya mba

  • Duh sedihnya. Kalo aku daripada uangnya hilang gitu mending pulang aja ga jadi cancel. Emang sih pemakaman udah selesai tapi kan bisa ikut tahlilannya dan silaturahim keluarga.

    • sempat berpikir untuk tetep pulang mba, tapi mempertimbangkan satu dan lain hal (banyak deh pertimbangannya) akhirnya ya legowo untuk nggak jadi pulang, hehe

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *