Cerita Tukang Ojek (Part 1): Bersyukur

Pukul 19.16 WIB di Peron Stasiun Pasar Senen
Saya tiba di stasiun jauh-jauh lebih awal dari jam keberangkatan kereta. Sembari menunggu kereta Sawunggalih datang, saya membuka laptop untuk menulis. Pikir saya, mumpung baterai laptop masih full dan suasana kondusif untuk bisa mengetik. Biasanya saya tiba di stasiun atau bandara dalam jangka waktu yang sangat mepet dari jam keberangkatan kereta/pesawat. Ternyata hari ini bisa juga saya datang awal bahkan hampir 1.5 jam lebih awal, baru kali ini loh…
Saya ingin bercerita tentang 2 tukang ojek yang saya temui hari ini. Tukang ojek pertama adalah yang mengantar saya dari pinggiran jalan raya dekat kosan menuju kampus. Saya berencana meninggalkan kosan sejak pagi tadi sekaligus membawa satu tas barang yang akan saya bawa pulang kampung di sore harinya. Jadi, sepulang dari kampus saya langsung menuju stasiun dan tidak perlu kembali ke kosan hanya untuk mengambil tas barang.
Saya bertemu dengan bapak tukang ojek yang baik. Bagaimana saya tahu dia baik? Aura orang baik terkadang bisa kita rasakan saat pertama bertemu dan ngobrol. Saya jarang sekali mengajak ngobrol tukang ojek karena saya pakai ojek hanya untuk jarak yang relatif dekat. Lain lagi dengan supir taksi, saya memakai taksi untuk perjalanan yang berjarak cukup jauh sehingga seringkali saya ajak ngobrol supir taksi agar dia tidak mengantuk.
“Hati-hati rok-nya ya mba,” kata Bapak tukang ojek mengingatkan saya sambil membantu membawakan tas saya. Saya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Memang bagi pengendara motor yang menggunakan rok, jilbab, pakaian panjang, atau mantel, diharapkan berhati-hati karena tanpa sadar ujung pakaian atau mantel yang menjulur ke arah roda bisa masuk ke gerigi. Dampaknya sangat berbahaya. Bisa dibayangkan perlahan-lahan pakaian/mantel itu tergulung gerigi dan pengendara bisa terjatuh. 
Saya: “Pernah kejadian ya Pak?” 
Ojek: “Iya, pernah lihat sampai ada yang jatuh. Kalau pakai mantel juga, hati-hati mba. Pernah tuh saya lihat ABRI mantelnya kegulung roda,”jelas bapak ojek.
Saya: “Iya memang bahaya, saya juga kalau di jalan sering diperingatkan dan memperingatkan orang. Ngeri ya Pak kalau sampai jatuh.” 
Kemudian bapak ojek bertanya kenapa saya pergi ke kantor bawa tas besar.
Ojek: “Mau ada acara nginep ya?”
Saya: “Enggak, saya mau pulang kampung”
Ojek: “Oh, libur lebaran lama ya mba. Saya juga mau ke Bogor nanti lebaran”
Saya familiar dengan bapak ojek yang satu ini. Seingat saya, ini bukan kali pertama saya diantar dia.
Saya: “Pak rumah dimana?”
Ojek: “Deket Tante Puteh koq rumah saya”. 
Nah kan betul, dia tetangga Tante Puteh (pemilik kosan saya).
Saya: “Bisa ya Pak kalau kapan-kapan saya minta jemput. Biasanya kalau mau bepergian kaya pulang kampung begini, saya biasanya minta Tante carikan ojek buat saya. Tapi tetangga Tante yang sering anter saya biasanya pas lagi ngga bisa. Bapak ada nomer hp?”
Ojek:”Iya ada. Iya boleh nanti hubungi saya. Kalau saya pas lagi nggak anter/jemput nanti saya anter mba. Saya juga ada langganan anak sekolah yang anter-jemput setiap ke sekolah”.
Sesampainya di kampus, saya mencatat nomer hp Pak Yayan. Kemudian saya memberikan sejumlah uang.  Saya sering tidak melakukan tawar menawar di awal. Kalau saya sudah tahu perkiraan harganya, saya lebih baik memberi agak lebih.
Saya: “Cukup nggak Pak kalau segini?”
Ojek: “Iya Alhamdulillah, terimakasih ya mba”
Pak Yayan tersenyum kemudian pergi. Saya senang ketika mendengar Pak Yayan mengucap syukur atas rejeki Allah yang diberikan melalui saya. Memang seharusnya seperti itu, seberapapun rejeki yang kita dapat, kita harus pandai mensyukuri nikmat itu.
(TO BE CONTINUED)
Please follow and like me:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *