Cerita Tukang Ojek (Part 2): Helm itu penting, wahai abang ojek!

Pukul 22.32 di kereta Sawunggalih.

Banyak perubahan terjadi di perusahaan KAI. Mulai dari stasiun yang sudah tampak tertata rapi, kepedulian terhadap kebersihan yang sudah mulai ditingkatkan, serta kondisi kereta yang lebih nyaman. Kereta kelas bisnis yang saya naiki ini ada sambungan listriknya sehingga tidak perlu khawatir hp atau laptop kehabisan baterai. Semoga di kemudian hari setiap kereta dilengkapi dengan meja makan/meja kerja sehingga saya bisa nyaman menggunakan leptop seperti di kereta kelas eksekutif. 
Malam ini, kebetulan saya bisa satu bangku dengan Reni. Kalau memang sudah berjodoh, tanpa perencanaan pun bisa terjadi ya. Selalu ada kebetulan-kebetulan yang tidak direncanakan. Teman sebangku saya tertidur pulas, sepertinya kelelahan. Saya sendiri senang menikmati perjalanan malam dan memilih terjaga sepanjang perjalanan (selain karena takut kebablasan di stasiun tujuan nanti. hehehe).

Perjalanan ke Stasiun Senen petang tadi diawali dengan perjalanan menumpang mobil Mba Fitri (rekan kantor) dari kampus sampai di Stasiun Tanjung Barat. Kemudian dari Stasiun Tanjung Barat saya naik commuterline sampai di Stasiun Gondangdia. Setelah itu, saya lanjut naik ojek menuju Stasiun Pasar Senen. Saya agak waspada dengan tukang ojek di tempat umum semacam stasiun. Selalu ada perasaan tidak se-aman menggunakan ojek di lingkungan kampus. Setiap pangkalan ojek sekitar kampus, tukang ojek lebih tertib bergiliran mengantar penumpang. Jauh berbeda dengan tukang ojek di tempat umum yang berebutan dan agak memaksa dalam mencari penumpang. Mereka tidak salah sih, namanya juga mencari rejeki, hanya saja ketertiban mereka masih kurang.

Saya memang niat memakai ojek dari Stasiun Gondangdia menuju Stasiun Pasar Senen, tapi jika para tukang ojek mulai “beraksi” mengerumuni saya, saya selalu tampak tidak butuh mereka. Seperti dugaan, begitu saya berjalan menuruni tangga keluar Stasiun Gondangdia, belasan tukang ojek sudah ramai menunggu mencari penumpang. Saya mengabaikan tawaran dengan cara menunduk seolah tidak peduli. Sampai pada akhirnya ada seorang bapak berkacamata yang menawari saya. Sepertinya orang baik, saya pilih bapak ojek itu.

Saya: “Pasar Senen ya, ada helm-nya nggak Pak?”

Seperti biasanya, saya tidak melakukan tawar menawar harga di awal. Hal yang harus ditanyakan pertama kali sebelum naik ojek adalah helm. Saya memilih untuk membatalkan naik ojek jika tukang ojek tidak menyediakan helm bagi penumpangnya. Walau bagaimanpun, prinsip safety first harus diterapkan demi kebaikan kita sendiri. Kecuali untuk jarak dan kondisi jalan yang menurut saya bisa ditoleransi, saya masih bisa mengabaikan penggunaan helm. Tapi untuk tukang ojek yang beralasan:
– “deket koq, nggak usah pake helm nggak apa-apa”
– “nggak ada polisi, nggak perlu helm”
– “hehe, saya helmnya cuma satu”

Saya akan bawel pada tukang ojek yang beralasan seperti di atas. Saya juga akan sedikit memaksa mereka mengusahakan ada helm untuk saya.
– “Pak, bukan soal ada polisi atau enggak. Saya peduli keselamatan diri saya”
– “Walaupun jaraknya dekat, tapi tetap saja saya mau pake helm”
– “Yah, koq nggak ada helm buat penumpang sih Pak, bisa pinjemin helm ke temennya nggak Pak?”
Rata-rata tukang ojek itu kooperatif koq karena mereka kan tidak ingin kehilangan calon penumpangnya. Tapi, bagi tukang ojek yang agak membantah, akan saya tegaskan:
“Bapak, helm itu bukan soal ada polisi atau enggak. Saya peduli keselamatan saya. Ada teman saya naik ojek, kecelakaan, meninggal di tempat baik tukang ojek maupun penumpangnya. Seharusnya, teman saya akan diwisuda seminggu setelah hari itu. Teman saya tidak pakai helm, kepalanya hancur. Kalau Bapak nggak ada helm, saya takut ah, mau cari ojek yang ada helmnya saja…”

Saya tidak mengarang cerita tentang teman saya. Itu kisah nyata teman kampus saya (mendiang Novi) yang mengalami kecelakaan saat menumpang ojek hendak pulang ke rumahnya. Kecelakaan beruntun, ditabrak oleh 3 kendaraan beroda empat. Novi dan tukang ojeknya nahas meninggal di lokasi kecelakaan. Padahal, seminggu setelah kejadian itu seharusnya Novi diwisuda. Dia sudah tertinggal satu tahun dibanding teman seangkatan yang sudah lebih dulu diwisuda. Novi belum sempat melihat toga wisudanya hingga detik terakhir hidupnya. Saya dan teman-teman mengantarkan toga wisuda Novi sembari melayat. Tempurung otaknya hancur, malam kejadian itu pihak RSCM bekerja keras menyusun dan menjahit serpihannya. 

Saya pernah menjelaskan perihal cerita nyata itu pada seorang tukang ojek di wilayah Kuningan yang ngotot berkata “tidak apa-apa, tidak usah pakai helm, nggak ada polisi”

Setelah mendengar cerita saya, bapak ojek di daerah Kuningan itu langsung mengeluarkan helmnya untuk saya. Sepertinya cerita saya menarik bagi si bapak ojek. Dalam perjalanan, bapak ojek masih menanyakan kelanjutan cerita tentang teman saya yang meninggal: “Tukang ojeknya meninggal juga ya??” tanyanya ūüėÄ


(TO BE CONTINUED)




Please follow and like me:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *