Cerita Tukang Ojek (Part 3): Saya mau qurban buat bapak saya

Pukul 00.31
Antara Gondangdia dan Pasar Senen (cerita perjalanan petang tadi)
Saya: “Pasar Senen ya, ada helm-nya nggak Pak?” 
Ojek: “Iya, ada banyak”
Tukang ojek menyahut sambil mengarahkan saya ke motornya.
Ojek:”Alhamdulillah” katanya lagi sambil mematikan puntung rokok di tangannya.
Saya:”Eh kenapa Pak?” tanya saya iseng, agak heran dengan ucapan syukurnya yang diiringi gerakannya mematikan rokok.

Ojek:”Saya seneng aja. Bersyukur gitu. Dapet rejeki lagi” lanjut abang ojek.

Saya tidak fokus dengan jawaban bapak itu. Saya lebih tertarik untuk mengomentari rokoknya. Sambil menunggu bapak ojek menyiapkan motor dan helm, serta memposisikan tas saya, saya iseng bertanya:

Saya: “Bapak ngerokok ya? Jangan ngerokok Pak.” (Eska lagi bawel, sedikit-sedikit suka komentar)
Ojek: “Enggak, ini kan sudah saya matikan rokoknya,” entah ini jawaban polos atau ngeles. Bapak berkacamata itu menjawab sambil menunjukkan puntung rokok yang sudah dimatikan (tapi saya lihat sisa batangnya masih disimpan, mungkin dibuang sayang). 
Saya: “Duit koq dibakar-bakar, ngerokok itu nggak sehat lho Pak.” (OMG Eskaaaaa…… komentar mulu sih!)
Ojek: “Hehehe”


Saya memang agak sensitif kalau bicara soal rokok. Saya benci rokok dan perokok aktif. Titik.

Di perjalanan, bapak ojek itu tiba-tiba bercerita:
Ojek: “Saya sedang ngumpulin duit ini mba”
Saya: “Eh… oh.. buat apa Pak?”
Ojek: “Buat beli kambing. Mau qurban buat almarhum bapak saya”.
Saya: “Oooh…. ,” 
Saya menepis kecurigaan kenapa bapak ini tiba-tiba bercerita bahwa dia sedang mengumpulkan uang. Tadinya saya merasa agak aneh tapi sekarang saya hanya fokus mengingat-ingat hukum berqurban bagi orang yang sudah meninggal.

Saya: “Bapaknya sudah nggak ada Pak?”  
Pertanyaan ini hanya untuk memastikan saya tidak salah dengar kalau bapak si tukang ojek ini sudah almarhum. 
Ojek: “Iya, sudah meninggal. Tapi saya mau qurban atas nama almarhum bapak saya. Biar pahalanya nanti buat bapak saya gitu” 
Saya: “Setahu saya dalam Islam tidak membolehkan berqurban atas nama orang yang sudah meninggal Pak. Kenapa nggak atas nama bapak saja? Bapak yang qurban untuk diri bapak dan keluarga, nanti pahalanya bisa untuk keluarga bapak juga.

Ojek: “Oh? Nggak boleh?” Bapak itu tampak kaget.
Sepertinya saya sudah membuat bapak ojek itu bingung atas pernyataan saya. Tetapi yang saya pelajari kemarin itu, qurban untuk orang yang sudah meninggal memang tidak ada dalam syariat Islam berdasarkan dalil terajih. Saya mencoba mencari kalimat yang mudah dipahami bapak ini, juga kalimat yang tidak terlalu “mengagetkan”.

Alhamdulilah koneksi internet saya cukup lancar selama perjalanan. Masih separuh jalan untuk sampai di Pasar Senen. Saya coba membuka sumber-sumber terpercaya melalui website yang membahas tentang hukum berqurban. Saya mencari referensi untuk memberi penjelasan kepada bapak ini.

Di perhentian lampu merah..
Ojek: “Jadi kalau saya mau potong kambing buat qurban atas nama bapak saya, itu nggak boleh ya mba? Kan maksudnya biar bapak saya dapet pahalanya gitu. Makanya saya lagi ngumpul-ngumpulin duit buat beli kambing”.
Saya: “Iya Pak, yang saya tahu itu tidak dicontohkan oleh Rasulullah. Bapak potong hewan qurban untuk bapak dan keluarga, nanti pahalanya akan didapat oleh keluarga bapak, termasuk orang yang sudah meninggal juga akan tetap dapat pahalanya….”

Read also:   Arisan Backlinks: Adya Pramudita sang Novelis dan Cerpenis yang Berbakat

Ojek: “Tapi kan cuma kambing mba, bukan sapi”

Saya: “Iya, cukup seekor kambing pahalanya bisa untuk satu keluarga koq”

Ojek: “Wah, saya baru tahu malahan… Makasih ya Mbak”
Saya masih tetap bergoogling, meyakinkan diri saya sendiri atas jawaban yang saya berikan ke bapak ojeg. Akan merasa sangat berdosa jika saya bicara tidak berdasarkan dalil. Sesampainya di Stasiun Pasar Senen, saya mencoba menjelaskan kembali kepada bapak ojek ini, saya khawatir pembicaraan yang sepotong-sepotong tadi tidak ditangkap secara komprehensif:
Saya: “Dulu sebelum meninggal, apakah almarhum bapaknya pernah berwasiat agar disembelihkan hewan qurban?”
Ojek: “Nggak pernah sih”
Saya: “Kalau dulu bapaknya pernah berwasiat, wasiatnya boleh dilaksanakan Pak. Tapi kalau enggak berwasiat, bapak berqurban untuk diri sendiri dan diniatkan juga untuk keluarga yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Nanti insyaAllah almarhum bapaknya juga dapat pahala dari qurban itu koq. Pahala qurban seekor kambing itu bisa untuk satu keluarga.
Dalam aturan Islam, qurban itu hanya untuk orang yang masih hidup saja. Nah, kalau berqurban untuk orang yang sudah meninggal, para ulama memang berbeda beda pendapatnya. Tetapi, Rasulullah dari dulu nggak pernah mencontohkannya. Rasulullah nggak pernah melakukan penyembelihan hewan qurban untuk saudara-saudaranya yang sudah meninggal. Jadi, sebaiknya kita ikut Rasulullah saja.
Tampak Bapak itu mengangguk-angguk. Setelah bapak ojek itu menunjukkan pintu masuk stasiun, saya membayar sejumlah uang.
Saya: “Ini Pak, cukup nggak?”
(saya sering menanyakan ini karena takut pihak yang dipakai jasanya belum ridho dengan harga yang saya beri. Apalagi di awal tadi kami memang tidak menyepakati harga tertentu)
Ojek: “Iya terimakasih”
Saya: “Bener sudah pas?”
Ojek: “Iya alhamdulillah. Terimakasih banyak mba”

Bismillah, mudah-mudahan penjelasan saya tadi bermanfaat untuk si bapak ojek dan mudah-mudah bapak ojek itu mendapat rejeki untuk bisa membeli hewan qurban. Aamiin….


Beberapa referensi tentang hukum berqurban untuk orang yang sudah meninggal:

http://ulamasunnah.wordpress.com/2010/02/27/berkurban-bagi-orang-yang-telah-meninggal/

http://www.darussalaf.or.id/fiqih/fiqih-ringkas-dalam-berkurban/

http://dzulqarnain.net/berqurban-untuk-orang-yang-telah-meninggal.html





Please follow and like me:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *