Forgiven but Unforgettable

 “Kalau punya masalah, jangan disimpan sendiri, nanti stress… berbagilah ke orang lain. Kalau nggak bisa cerita ke Ibu, paling enggak ya cerita ke temen terdekat kamu…”

Masih hangat di ingatan, pesan Ibu kepada saya beberapa belas tahun lalu. Saya lupa saat itu kejadian apa yang membuat Ibu memberikan nasihat seperti itu. Saya mencoba menurutinya hingga sekarang.

Rasa-rasanya gap antara anak dengan orangtua begitu terasa berjarak sedari saya kecil hingga duduk di bangku kuliah. Itulah kenapa sangat sedikit saya bisa menceritakan masalah saya kepada Ibu dan Bapak. Saya lebih memilih berbagi kisah dengan buku harian dan langit malam….. haha terdengar sentimentil ya.

Di postingan sebelumnya pernah saya katakan, jika memendam sesuatu yang menyesakkan tapi tidak bisa terungkapkan, saya akan menulis bahkan sambil terisak menangis mencari ketentraman di ujung pena pada selembar kertas. Copying stress saya lainnya yaitu saya akan keluar rumah di malam hari, dengan lincahnya memanjat ke atap rumah atau ke bak belakang truk (dulu kami punya truk yang selalu diparkir di halaman depan rumah) kemudian saya akan dengan leluasa tidur-tiduran beralaskan tikar sambil menatap langit, mengajak bicara bintang-bintang, dan sesekali terdiam merenung. Itu sudah lebih dari cukup untuk sedikit mengobati perasaan kacau saya.

“Bintang-bintang dan langit malam itu sahabat baik saya, ketika saya bercerita, bintang-bintang itu akan berkedip-kedip seolah pertanda mengerti dan memahami perasaan saya….”

Saya benar-benar pernah sangat mempercayai hal ini!

Kenapa saat itu saya tidak berbagi dengan teman? Pengalaman hidup mengajarkan saya bahwa tidak ada yang bisa kita percayai selain diri sendiri dan Tuhan. Saat saya mencoba mempercayai seseorang sebagai “teman baik” kemudian saya tahu ternyata dia tidak demikian karena sebuah “pengkhianatan” yang dia lakukan, kecewa saya tak berkesudahan. Hal semacam itu sudah sering saya alami sejak sekolah dasar pun sampai saat ini sehingga saya menjadi pribadi yang tidak gampang percaya kepada orang lain. Itulah kenapa saya menjadi pribadi yang sangat pemilih pada hati mana saya mau berbagi, pada telinga mana saya akan bercerita, dan pada binar mata mana saya bisa percaya.

Read also:   Tentang Rumah Baru

Sekali lancung ujian, selamanya orang tak akan percaya —> It’s work for me!

Setiap orang berhak atas kesempatan kedua, pun dalam hal “dipercayai kembali”. Saya memahami ini. Sekarang, mari kita buat permisalannya. Jika sebuah hubungan diibaratkan seperti piring kaca yang dipecahkan (hubungan yang retak karena sesuatu hal_red), meskipun sudah dicoba untuk direkatkan kembali menjadi bagian yang utuh, serpihan pecahannya tetaplah tidak akan bisa sempurna. Kenyataannya seperti itu toh

Maybe it has been forgiven, but unforgettable yet!

852e2-path2013-09-0522_05

Manusia memang tempat salah dan lupa. Janganlah berekspektasi berlebihan kepada siapa pun. Secara tidak sadar, terkadang kita “menuntut” seseorang agar menjadi sesuai apa yang ada di pikiran kita. Padahal, mereka adalah mereka apa adanya, yang pada kenyataannya bukanlah seperti apa yang kita pikirkan atau harapkan, bahkan mungkin mereka jauh dari tuntutan pikiran kita. Saat tersadar pada kenyataan itulah kita akan merasa dikecewakan, entah karena perbuatannya, perilakunya, kebohongannya, atau pengkhianatannya. Padahal itu tidak seharusnya terjadi jika kita menerapkan prinsip not to judge the book by its cover.

Tidak ada manusia yang sempurna, diri saya pun jauh dari kata sempurna. Oleh karenanya, saya mafhum jika pernah ada seseorang yang saya kecewakan atau saya sakiti perasannya kemudian perlahan mereka mundur dan menjauh tidak peduli pada saya karena saya pun akan melakukan hal demikian.

Kalau bertanya tentang siapa yang patut disalahkan, mungkin jawabannya ada di masa lalu.

Please follow and like me:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *