Friendzone

Obrolan suatu malam….. (dengan sedikit gubahan alur dan isi percakapan)
Suatu malam di sebuah tempat bernama Warung Mie Ayam, saya dengan seorang teman laki-laki yang saya kenal hampir 13 tahun lalu. Masih dengan gaya khasnya yang santai, cuek, analis, dan kritis, dia berhasil “menampar” saya dengan kalimat-kalimatnya malam itu. Kami memang sedikit berdebat seperti biasanya, tetapi kali ini saya menjadi objek utamanya. 
 
“Kalau kamu nggak nikah sama X (menyebutkan nama seseorang), masing-masing pasangan kalian pasti kasihan” selorohnya dengan frontal yang membuat saya kaget sekaligus mengernyitkan dahi untuk pertanyaan:
“Kenapa tiba-tiba kamu berkata begitu? Apa maksudnya?” Dengan jujur saya katakan padanya bahwa saya tidak suka dengan pernyataan dia yang sangat tiba-tiba itu.

Masih asyik melahap mie ayam di mangkoknya, kawan saya ini melanjutkan, “Kalian sudah terlalu dekat”. Oke, lagi-lagi saya membantah pernyataan itu dengan berkata “Biasa saja, kamu kan tahu saya memang bisa dekat dengan siapa saja kalau memang cocok. Kenapa masih saja kamu heran.”
“Dekatnya beda, saya lihat beda” lanjutnya, masih asyik dengan mangkok mie ayam-nya.
Beda bagaimana? Biasa saja! Saya merasa itu biasa saja. Dekat yang wajar karena memang sudah bersahabat lama. Kami jarang komunikasi jika memang tidak benar-benar perlu. Apalagi dengan kesibukan kami masing-masing, ketemu pun hampir nggak pernah. Memang sih sekalinya ketemu kami bisa sangat asyik. Tapi kan masih dalam koridor wajaaaar”, saya tetap membela diri. Tetapi kawan saya segera memotong:
“Iya, kamu anggap biasa. Tapi dia??? Apa juga menganggap kedekatan kalian adalah hal yang biasa saja?”
Saya cukup kenal dengan kawan saya ini. Serangan pertanyaannya sudah dipastikan bukan pertanda perasaan jealous. Justru saya merasa tertuduh dalam hal ini, saya masih saja menebak ke mana arah pembicaraan atas “tuduhan” versinya ini.
Setelah menghabiskan seluruh isi mangkoknya, kawan saya mulai agak fair mengarahkan maksud ucapannya:
“Ayolah, ini sudah bukan masa-masanya kalian becanda seperti dulu. Khususnya buat kamu, sudah harus mulai memaknai agak serius” okay, terlalu rumit kalimatnya untuk saya cerna, saya tetap diam mendengarkan sambil terus menebak arah pembicaraan ini.
“Mungkin biasa saja ya. Tapi apa kamu nggak kasian sama pasangan kamu nantinya, kamu ngga peduli perasaannya? Bagaimana kalau dia tau kamu bisa dekat dengan banyak teman laki-laki. Makanya saya bilang, kamu nikah saja sama X itu, toh kalian sudah dekat kan? Daripada nanti kamu dengan orang lain, X dengan orang lain. Kasihan pasangan kalian masing-masing,” 

Saya kaget sekali dengan ucapan dia yang mengalir begitu saja. Dengan gaya kritisnya yang ceplas-ceplos itu saya sudah biasa, tapi saya tidak mengira dia akan menceramahi saya seperti ini.

“Ya kecuali kalau kamu nanti terima dapat pasangan hidup yang …. gaul, biasa becanda dan pergi bareng temen ceweknya, nggak terlalu mikirin sikap kamu, hidup yang … oh oke you know I mean..?” Saya hanya mengangguk mengiyakan. Kawan saya melanjutkan:
“It’s ok dengan sikap kamu seperti ini. Tapi kalau kamu ingin mendapatkan pasangan yang…. Yang bisa menjaga dirinya hanya untuk kamu… yang begitu menjaga ‘batas’ antara laki-laki dan perempuan, ya… kamu tau sendiri kan?” Walaupun dia tidak seutuhnya merangkai kalimat demi kalimatnya, saya sudah cukup memahami maksudnya. Saya hanya diam, berpikir, dan mencari celah untuk bisa membela diri lagi, tapi di sisi lain sejujurnya saya sudah mengakui kesalahan saya.
Melihat saya tidak bereaksi membantah seperti biasanya, dia melanjutkan: 
Okay, sorry, dalam diri saya sendiri bisa timbul banyak pendapat yang mungkin akan berbeda-beda tergantung kondisi dan waktu, hmm, begini…. teman laki-laki mungkin akan merasa nyaman ngobrol dengan kamu karena kamu bisa menempatkan diri ketika bersama mereka. Mereka nyaman dan merasa dekat. Just a friendzone, mereka nggak akan menembus batas pertemanan dengan kamu. Tapi hubungan yang terlalu dekat, dampaknya ya ke kamunya sendiri juga. Kamu itu perempuan….”. Penjelasan panjang lebarnya membuat saya mencapai pada kesimpulan kalau kawan saya ini ingin mengutarakan:
“Please, jaga sikap kamu!
JLEBBBBBB!!
Sepulang makan malam, saya kepikiran dengan ucapan kawan saya tadi… Benar-benar saya merasa tertampar! Tamparan selanjutnya datang di malam itu juga, ketika saya mencoba berdiskusi dengan seorang teman perempuan via message.
“Sorry ya, dia ada benernya juga.  Bagaimanapun, hubungan dekat dan becanda berlebihan dengan yang bukan mahram itu dekat dengan fitnah. Terserahlah mau dilihat pakai kacamata siapa, coba menurut kamu kalau dari kacamata Islam bagaimana. Dengan merasa dekat dengan seorang laki-laki adalah hal yang biasa hanya karena kamu sudah menganggap dia teman dan sebaliknya….  Kamu yakin dianya juga biasa aja? Atau yakin nggak pernah sedetikpun hati kamu terlena?”
Tamparan kali ini lebih dahsyat. Saya ngga ada celah sedikitpun untuk membela diri.
SKAK MAT!
“Please, mulai sadar kalau kamu itu perempuan… jaga diri… Ayo sama-sama belajar untuk berubah jadi lebih baik lagi. Memang yang namanya perubahan selalu sepaket dengan ketidaknyamanan”salah satu nasihat tersirat dari kawan saya ini.

-oOo-
Jujur saja saya malu dengan diri sendiri. Saya malu pada Allah. Selama ini saya mencoba perlahan memperbaiki diri, menjaga sikap, tetapi ternyata masih tetap saja ada yang luput. Iya manusia tak luput dari khilaf. Tapi khilaf yang disengaja dan disadari seharusnya segera diakhiri. Saya bukannya tidak tahu aturan karena saya termasuk orang yang sangat menjaga “batas” itu. Namun, bagi orang yang menjaga batasan, nila setitik akan segera merusak susu sebelanga. Akan cepat terlihatnya. 

Selama ini saya menyikapi hal-hal semacam “kedekatan” itu adalah suatu hal yang biasa saja karena pada dasarnya saya memang lebih banyak berteman dengan laki-laki sedari dulu. Tetapi apa yang kita anggap biasa saja, ternyata belum tentu menjadi biasa di mata orang lain. Di sinilah kita musti berhati-hati, jangan-jangan memang ada yang salah dengan diri kita tanpa kita sadari. Ah, memang ya kuman di seberang lautan tampak sedangkan gajah di pelupuk mata kadang tidak tampak….


Di sinilah peran seorang sahabat yang bisa kita jadikan “cermin” untuk melihat diri kita sendiri melalui sudut pandangnya, “rem”untuk menahan sikap kita yang tanpa sadar kadang kebablasan, “sirine” sebagai peringatan dan tanda bahaya, dan juga “cambuk” agar sesekali bisa pecut kita agar menjadi pribadi lebih baik. 

Saya bersyukur masih dikelilingi dengan orang-orang yang bisa saling mengingatkan satu sama lain dan bersama-sama belajar menjadi lebih baik… Perubahan itu adalah sebuah proses. Setiap orang berhak atas kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Please follow and like me:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *