Isi Surat Itu…..


Malam itu sayamendapati sebuah email dari dosen pembimbing skripsi saya, dr H. Engkus Kusdinar Achmad, MPH. Ada sepercik rasa haru dan senang, beliau masih saja memberi kalimat-kalimat yang begitu memotivasi, menasihati, dan mendoakan. Beliau adalah seorang Bapak yang sangat baik, bijaksana, mengayomi, dan disiplin waktu. Yang khas dari beliau yaitu beliau selalu menyegerakan salat dan terburu-buru beranjak ke Mushola saat mendengar gema adzan. Tak jarang beliau meninggalkan saya saat kami sedang konsultasi di ruangannya. 

Beliau juga satu-satunya dosen yang selalu menerapkan peraturan di dalam kelas: bagi siapa saja yang datang terlambat masuk kelasnya, wajib bayar Rp 5000. Sedangkan jika beliau sendiri yang terlambat datang, beliau akan membayar dua kali lipatnya. Dan itu benar-benar terjadi! Di akhir semester, sang ketua kelas mengakumulasi rupiah-rupiah hasil keterlambatan para mahasiswa dan Bapak dosen tersebut.

Beliau juga selalu membuat kelas terasa lebih “hidup”. Hal yang ditekankan beliau setiap mengajar adalah adanya dinamika kelas dimana mahasiswa yang aktif akan mendapat tambahan poin nilai. Beliau akan menegur secara halus mahasiswanya yang tampak menguap atau sedang terlelap pulas..  


“Coba Ica, kira-kira pendapat kamu bagaimana tentang penjelasan temanmu tadi?” (begitulah tegurannya kalau sedang memergoki saya mengantuk di kelas, hehehe. Ica adalah panggilan kesayangan beliau pada saya.)


Agaknya perjumpaan saya dengan beliau menjadi kisah tersendiri, dimana beliau adalah seseorang pertama yang membuat sayasanggup menjalani dan menyelesaikan study saya di kampus. Bapak dengan 8 orang putra-putri tersebut mampu membagikan inspirasinya pada saya hingga pada akhirnya hubungan kami tidak hanya sebatas obrolan tentang kuliah dan skripsi, tetapi juga tentang sebuah cita-cita, perjalanan hidup, pengalaman, dan tujuan dari hidup. Segala apa yang saya ceritakan, beliau punya solusinya.

Read also:   NKRI Harga Mati, NKRI Tempat Kembali

Alhamdulillah, sangat beruntung rasanya bisa mengenal beliau. Beberapa teman sempat berterus terang merasa iri padasaya karena sayamendapat beliau sebagai pembimbing, maklumlah Bapak berjenggot putih dan berpeci itu memang menjadi dosen favorit di kampus saya. Sorot matanya yang meneduhkan dan gaya bicaranya yang selalu tenang membawa arti tersendiri di setiap kehadirannya.

Berikut ini balasan email dari beliau, saat saya meminta beliauuntuk menjadi pemberireferensi dalam sebuah urusan.





Thursday, November 24, 2011 11:14 AM
Wa”alaikumussalam Wr.Wb. 
Alhamdulillah, Ica. Saya dan keluarga sehat walafiat. Saya baru pulang haji malam minggu yang lalu setelah meninggalkan tanah air 25 hari. Sepulangnya dari sana rasanya lahir batin lebih sehat. Semoga demikian juga keadaannya dengan Ica dan keluarga besar Ica di kampung halaman.
Saya sangat senang Ica sudah mulai dapat menerapkan ilmu dan pengalaman belajar dimasa lalu sewaktu kuliah dulu dalam kehidupan di dunia nyata. Walaupun mungkin tidak selalu sesuai dengan keinginan, bidang garapan dan tempat mengabdikan ilmu sekarang,  anggaplah itu sebagai  pelajaran tambahan untuk mematangkan proses pembelajaran dulu. Pada hakikatnya memang, kita tidak pernah berhenti belajar. Modal untuk bekerja sekarang 30% diantaranya dari hasil belajar dulu, namun sisanya yang lebih besar justru diperoleh dari tempat pekerjaan sekarang dan di masa datang.
Mengenai pengambilan nama saya untuk keperluan referensi, buat saya tidak ada masalah. Silahkan saja. Malah saya senang karena saya masih bisa memberikan manfaat kepada Ica sekalipun Ica sudah tidak menjadi bimbingan saya lagi. Terus terang, seringkali saya menyebut nama Ica di kelas sebagai mahasiswa bimbingan saya yang berprestasi. Mudah-mudahan sebutan tersebut akan memberi tambahan motivasi kepada adik-adik kelas Ica di FKMUI.
Semoga Ica selalu dapat menampilkan yang terbaik dalam pekerjaan dan hidup ini. Selalu diingat bahwa kita hidup di dunia sekedar singgah sebentar saja. Tujuan hidup kita ada di seberang itu . . . yang kekal, akhirat. Selalu minta doa restu kepada kedua orang tua dan jadikan diri Ica kebanggaan mereka berdua. 

Sukses selalu, ya. . 
Salam,
Pak Kus




***
BAPAK KUSDINAR, SELAMAT HARI GURU Yaaaaa ^^ 


Repost: November 25, 2011 (from my previous blog)
Please follow and like me:

Comments

  1. qorib says:

    This comment has been removed by the author.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *