Kelas Parenting bersama Tiga Generasi: “Mendisiplinkan Anak sejak Bayi, Bisa Nggak Ya?”

“Bunda tau nggak, bedanya Disiplin vs Hukuman?”
“Sejak kapan sih kita harus mendisiplinkan anak?”
Pertanyaan ini dilontarkan oleh Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjoyo, S.Psi selaku pembicara di kelas parenting siang itu.

***

Kelas Parenting Bersama Tiga Generasi

Senin, 20 Juni 2016 lalu saya berkesempatan menghadiri kelas parenting #OrtuJadiTau bersama Tiga Generasi bekerja sama dengan ‪Mums and Babes dan Blibli‬. Acara yang diselenggarakan di Hotel Veranda, Jl. Kyai Maja No.63, Kebayoran Baru ini sekaligus me-launching official store Mums and Babes di Blibli.com. Kelas parenting itu sendiri memiliki beberapa topik yang dibagi ke dalam kelas-kelas kecil, yaitu:

Kelas 1: “Mendisiplinkan Anak sejak Bayi, Bisa Nggak Ya?”
Kelas 2: “Tetap Tenang Hadapi Gerakan Tutup Mulut pada Anak”
Kelas 3: “Membuat MPASI jadi (MP) ASIK”

Peserta diwajibkan memilih kelas mana yang diminatinya kemudian semua peserta mengikuti kelas besar dengan topik “Mengasuh Bareng Kakek-Nenek, Siapa Takut?”. Andai saja diperbolehkan mengikuti semua kelasnya, saya sangat antusias untuk dapetin ilmu dari keseluruhan topik yang diberikan. Namun, karena ketiga kelas kecil diadakan di waktu bersamaan, akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar di Kelas 1.

Di acara ini, diramaikan juga oleh banyak peserta dari kalangan artis loh.

saya berkesempatan foto bareng mba Widi AB-Tree

***

Mendisiplinkan Anak Sejak Bayi, Bisa Nggak Ya?

Kembali ke kelas parenting yang diisi oleh Psikolog Vera, Disiplin tidaklah sama dengan Hukuman. Apa bedanya?
Hukuman: yang diserang adalah konsep diri sehingga konsep diri anak menjadi negatif. Misalnya: kita melihat kamar berantakan lalu mengatai anak kita dengan ucapan “Dasar anak males”.
Disiplin: Konsep diri anak tetap aman sehingga anak tetap merasa disayangi. Misalnya kita mengatakan “Aduh mama sedih karena kamu nggak ngerapihin kamar”

Lalu sejak kapan kita perlu mendisiplinkan anak? Jawabannya adalah: sejak anak lahir. Anak akan tumbuh dari sebuah pembiasaan yang ditanamkan sejak dia lahir. Misalnya, saat mulai MP ASI anak tidak dikenalkan pada garam sehingga ketika suatu saat anak makan telor digaremin, dia akan merasa aneh.
Psikolog Vera memaparkan 2 metode yang terkait dengan mendisiplinkan anak: Metode EASY dan Metode SLOW. Sudah ada yang pernah mendengar kedua metode ini?

Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjoyo, S.Psi

Metode EASY (Hogg, 2002): Eating, Activity, Sleep, You
Dalam metode ini, kita bisa tahu bahwa rutinitas bayi itu teratur seperti sebuah siklus yaitu rutin dan berulang: Eating (makan), Activity (beraktivitas), Sleep (tidur). Ketika bayi tidur, fokuslah pada diri Anda (You) untuk beristirahat dan melakukan kegiatan yang diinginkan. Setelah bayi bangun, rutinitasnya akan diulang lagi dari awal. Dengan demikian, ketika bayi kita menangis di jam-jam tertentu, kita bisa memahami sebab dia menangis dan apa yang dia hendak katakan. Awalnya memang sulit untuk mendisiplinkan bayi, EASY ini bisa efektif diterapkan ketika bayi menginjak usia 6 minggu. Hanya perlu waktu sekitar 3-5 hari untuk mengajarkan rutinitas tersebut, selanjutnya bayi akan mengikuti polanya.

Metode SLOW: Stop, Listen, Observe, What’s Up?
Ketika bayi di perut ibu selama 9 bulan, semua kebutuhannya tercukupi (gizi, kehangatan) sehingga dia terbiasa merasakan lingkungan yang aman dan nyaman. Saat bayi lahir ke dunia, dia akan menangis karena tubuhnya beradaptasi dengan lingkungan baru. Tahun pertama kehidupan bayi adalah masa krusial karena bayi akan merasakan apakah lingkungan barunya mencintai dia atau tidak. Jika lingkungannya kurang mendukung, bayi akan merasakan misstrust, yaitu merasa tidak diinginkan.

Metode SLOW ini mengingatkan kita agar tidak panik dan terburu-buru, tapi setiap hurufnya justru dapat membantu kita untuk mengingat hal apa yang harus dilakukan. Misalkan ketika ibu mandi, bayi menangis dan saat itu tidak memungkinkan kondisinya untuk ibu keluar dari kamar mandi. Hal yang perlu dilakukan ibu yaitu:

Stop. Hentikan kegiatan kita sejenak. Kita tidak perlu panik untuk terburu-buru menggendong bayi yang sedang menangis.
Listen. Dengarkan tangisan dan ‘bahasa’ bayi yang hendak disampaikan, ini bukan berarti ibu melakukan pembiaran terhadap bayi yang menangis ya, tapi lebih kepada mendengarkan arti tangisan bayi. Dalam kasus di atas, ibu bisa mengatakan “sebentar Nak, ibu selesaikan dulu mandinya ya”
Observe. Amati apa arti bahasa tubuhnya ketika bayi menangis? Apa yang terjadi pada lingkungannya?
What’s Up?. Kita bisa memikirkan aktivitas selanjutnya yang perlu dilakukan agar bayi berhenti menangis.

Read also:   Tips Menulis Konten Reportase ala Blogger

Kenali Diri Sendiri dengan Tes Berikut ini

Psikolog Vera kemudian mengajak para orang tua untuk mengenali dirinya sendiri melalui pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Bagi bunda-bunda yang mau mencoba, silakan dijawab pertanyaan ini ya. Setelah diberi nilai di setiap pertanyaan, jumlahkan totalnya lalu bagi dengan angka 12.

 

And the result is….


4-5 : Rules Freak!
Anda adalah tipe orang yang segalanya serba diatur. Idealis sih kalau saya bilang. Misalnya kalau pakai sikat gigi harus yang begini, begini, tidak boleh yang begitu, bla bla bla. Seseorang dengan tipe ini harus menyadari kalau terkadang segalanya tidak bisa sesuai kehendak dia. Jadi, bukan berarti orang dengan tipe ini sangat kaku, dia bisa fleksibel juga koq pada akhirnya.
3-4 : Flexible
Orang tipe ini bisa fleksibel dalam menghadapi segala situasi, nggak terlalu saklek begitu.
2-3 : Need Support
Nah tipe ini yang agak rawan karena terkadang orangnya teledor sehingga harus sering-sering mencatat.
1-2 : Freedom Rules!
Tipe orang ini membuat sedikit sekali peraturan, harus diwaspadai ya. Psikolog Vera mencontohkan pernah ada kasus seorang anak datang ke sekolah, begitu masuk kelas dia langsung tidur di bawah kolong meja sampai saatnya break-lunch. Anak itu juga suka pakai baju yang kemarin baru dipakai alias bau. Ketika dipanggil orang tuanya, ternyata ortunya memang tipe yang agak membiarkan / cuek dengan hal-hal seperti itu. Tidak banyak peraturan yang dibuat oleh ortu untuk anaknya.

 

Manfaat Peraturan

Bagaimana Cara Mendisiplinkan Anak?

Berikut ini penjelasan tentang cara mendisiplinkan anak oleh Tim Myers (kalau ndak salah tulis namanya):

Distract the child
Alihkan perhatian anak, misalnya untuk sesuatu yang membahayakan atau tidak seharusnya dilakukan anak. Cara ini manjur diterapkan untuk anak usia di bawah 3 tahun karena anak belum terlalu fokus. Anak usia tersebut masih bisa di-distract sebenarnya, hanya saja terkadang kita tidak melihat alternatif lain untuk mengalihkan perhatian anak. Misalnya ketika anak sedang pegang kacamata ibunya, kita bisa alihkan dengan hal lain “Lihat, mama punya sesuatu loh…” pasti anak langsung beralih fokus.

Jangan menggunakan kata “JANGAN” atau “TIDAK BOLEH” karena cara penyimpulan seorang anak di usia tersebut belum sempurna. Alih-alih, kita bisa gunakan kalimat positif lainnya. Misalnya: jangan lari! (Jalan saja); Jangan tarik! (Pegang saja). Ignore misbehaviour
Anak berulah selama ulahnya itu tidak membahayakan dirinya dan orang lain, sebaiknya di-ignore saja. Jika setiap ulah anak diberi perhatian (misalnya pelototan dari sang ibu), anak akan mengulanginya karena hal tersebut dirasa menyenangkan. Semakin senewen ibunya, semakin senang hati anak . Lebih baik ortu menahan diri dengan membiarkan anak mengeksplore sesuatu dan jangan diberi larangan (selama tidak membahayakan loh ya). Namun, jika sudah dalam level bahaya, kita boleh ekstrim melarang anak agar anak bisa membedakan mana larangan yang serius dan mana yang masih fleksibel.

Structure environment
Agar anak mau mendengarkan apa yang kita sampaikan, kita perlu mengkondisikan lingkungan sekitar. Jika suami dan istri mempunyai cara berbeda dalam mengasuh anak, sebaiknya diskusikan dulu di belakang layar agar di depan anak tetap terlihat kompak. Jangan sampai salah satu mengatakan hal lain di depan anak. Jika salah satu ada yang tidak tega menerapkan kedisiplinan untuk anak, sebaiknya “balik kanan” saja.

Control the situation, not the child
Di usia 2 tahun, anak tidak mau diatur atau dilarang. Pada masa ini, anak selalu ingin pegang kendali. Jadi, sebagai orang tua, kita mesti bijak berucap. Misalnya, bukan menggunakan kalimat perintah “Ayo Mandi!” tapi diubah menjadi “Kamu mau mandinya sama si bebek atau si ikan?”.

Involve the child
Berikan konsekuensi yang harus diterima oleh anak jika anak tidak patuh, misalnya ketika anak selesai bermain, dia tidak mau merapikan mainannya kembali. “Kamu mau mama atau kamu yang rapihin mainan? Kalau mama yang rapihin, mama akan simpen mainan ini dan kamu tidak bisa bermain lagi”.

Plan time for loving
Sediakan waktu khusus untuk mencurahkan kasih sayang ke anak meskipun ibunya galak sekalipun. Attachment dengan anak itu sangat penting karena bagaimanapun peraturan itu kita buat, jika kita tidak memiliki kedekatan dengan anak akan percuma. Jika kita memiliki lebih dari satu anak, sediakan waktu khusus hanya berdua saja untuk setiap anak. Idealnya memang setiap hari ada time-alone dengan anak, tetapi jika ortu tidak sempat bisa dibuatkan jadwal, misalnya: Senin waktunya ayah dengan kakak; Selasa waktunya ayah dengan si adik; Rabu waktunya ibu dengan si kakak; Kamis waktunya ibu dengan si adik; dsb.

Read also:   Persembahan Pampers untuk Momen Pertama bersama Buah Hati

Cukup luangkan waktu sekitar 10-15 menit saja untuk berdua dengan anak agar attachment dapat terjadi. Di waktu berduaan itulah orang tua bisa menerapkan peraturan yang sama. Hal ini bisa berjalan dengan baik jika time-alone-nya terlaksana.
Jangan sesekali membandingkan satu anak dengan anak lainnya. Haram hukumnya, kata Psikolog Vera. Kecuali jika memang tingkah anak sudah keterlaluan ya.

Let go
Hal ini mungkin agak susah dilakukan oleh sang ibu. Psikolog Vera pernah punya pengalaman ketika si anak tidak mau diantar sampai depan sekolahnya dan berucap “Mama sampai sini saja anternya”. Hal itu mesti kita biarkan dan kita terima.

Increase your consistency
Sekali konsisten harus selamanya konsisten itu diterapkan. Andaikan mau ada excuse, kita mesti beri penjelasan. Misalnya setelah bepergian keluarga dan pulang larut malam, anak sudah lelah ingin tidur. Ibu bisa mengatakan “Kali ini boleh nggak sikat gigi, tapi kali ini saja ya” dengan disertai penjelasan yang bisa diterima anak.

Notice positive behaviour
Berikan attention untuk perilaku anak yang baik, jangan hanya terfokus pada perilakunya saat negatif saja.

Excuse the child with a time-out
Hal ini bukan berarti memberikan strap pada anak. Misal ketika anak sedang tantrum, kita berikan penjelasan seperti “Kita ngomong kalau kamu sudah tenang ya”, atau “Kamu tenangin diri dulu,mama kasih waktu 5 menit”.

Time-out effect ini akan berujung trauma pada anak (karena mungkin nadanya seperti sebuah ancaman) hanya jika anak tidak tahu gunanya. Time-out ini tidak dianjurkan untuk anak di bawah usia 3 tahun.

Anak harus belajar menerima konsekuensi dari perbuatannya sendiri. Misalnya ketika anak kelas 3 SD kelupaan membawa PR-nya ke sekolah, ortu tidak perlu repot tergopoh-gopoh mengantar bukunya ke sekolah anak. Biarkan anak menerima konsekuensi dari gurunya. Time-out ini akan berjalan baik jika sudah diterapkan sedari awal.

Pola Asuh bersama Kakek dan Nenek

Kelas besar dengan topik “Mengasuh Bareng Kakek-Nenek, Siapa Takut?” menghadirkan narasumber: Noella Birowo (istri dari Indra Birowo sekaligus Founder Tiga Generasi); Dra Evita Djaman, M.Psi; dan Psikolog Anna Dauhan, MSc.

Mungkin ada sebagian orang tua (kita sebut Generasi 2/ G2) yang merasa diuntungkan dengan kehadiran kakek nenek (Generasi 1/ G1) dalam pengasuhan anak-anaknya (Generasi 3/ G3). Namun, tidak sedikit juga orang tua yang mengeluh karena pola asuh kakek-nenek tidak sama dengan yang diinginkan oleh orang tua itu sendiri sehingga tak jarang konflik pun terjadi. Dalam kelas ini, dikupas tentang bagaimana agar G1 dan G2 dapat berdampingan dalam mengasuh G3.

Menurut Psikolog Anna, komunikasi antara kita (G2) dengan orang tua kita (G1) haruslah lancar agar bisa menetapkan aturan untuk anak-anak (G3). Dari sisi kakek-nenek, kita harus memahami apa concern mereka terhadap pengasuhan anak-anak kita? Dari sisi kita sebagai orang tua anak, untuk menjadi orang tua yang efektif kita harus mempelajari karakteristik dan kebutuhan orang tua / mertua kita. Selain itu, pemahaman terhadap sudut pandang masing-masing perlu diperhatikan. Misalnya saja sebagai Generasi 2, kita lebih fokus ke karir dan rumah tangga, sedangkan kakek-nenek mungkin memiliki sudut pandang lain.

Read also:   "Story on A Plate": sajian yang sedap dipandang dan menarik konsumen

Ibu Evita juga membenarkan tentang pentingnya komunikasi dan pemahaman karakteristik. G1 dan G2 itu rentan konflik, demikian juga dengan G1 dan G3. Konflik yang biasanya terjadi pada G1 dan G3 misalnya ketika anak-anak itu butuh untuk memanjat dan terjatuh, tetapi kakek-nenek melarang memanjat agar tidak jatuh. Konflik antara G1 dan G2 rentan terjadi. Walau bagaimana pun, dua nahkoda dalam satu rumah tangga itu tidak bagus. Kakek-nenek seharusnya stay away. Namun, jika memang harus tinggal serumah antara ortu dan kakek-nenek, semua kebutuhan well-being masing-masing harus terpenuhi agar masalah dapat teratasi.

Prinsip dalam Pola Asuh bersama Kakek-Nenek:

1)      Komunikasi

2)      Konsisten

3)      Batasan

4)      Kebesaran Hati

Harapan dari kakek-nenek (G1) terhadap pengasuhan anak (G3) antara lain:

1)      terlibat dalam pengasuhan,

2)      menyaksikan pertumbuhan,

3)      mengajarkan nilai-nilai,

4)      terlibat dalam keseharian

5)      menjalin kedekatan emosi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika melibatkan kakek-nenek dalam pengasuhan anak:

1)      Aturan dan batasan di awal

2)      Tanya kesediaan

3)      Sepakati tujuan

4)      Satukan kubu

5)      Ingatkan anak agar patuh

6)      Belajar bersama

7)      Ajak diskusi

8)      Bicarakan hal positif

9)      Penghargaan

10)   Berikan bantuan

Psikolog Anna melanjutkan bahwa konflik yang sering terjadi antara orang tua dan kakek nenek adalah terkait pendisiplinan anak. Terkadang ortu lebih strict atau justru lebih longgar. Misalnya saja ketika di rumah, anak mau mandi sendiri tapi ketika pulang dari rumah neneknya, anak tidak mau mandi sendiri. Contoh lain misalnya saat anak makan, nenek mengharuskan anak makan di meja makan dan menggunakan sendok dan garpu, sedangkan ortu berpendapat bahwa anak-anak baru belajar makan sehingga biarkan saja mau makan di mana asal tidak ribet.

Ibu Evita mengatakan bahwa akhir-akhir ini kita sering berbicara tentang neuro-psikologi. Ketika menginjak usia makin lanjut, ada pemahaman baru bahwa otak berkembang sesuai usia, tetapi tetap ada penurunan di area-area tertentu yang berhubungan dengan karakter. Ketika terjadi perubahan-perubahan ini, orang dengan usia lanjut lebih mudah tersinggung dan merasa demotivasi. Oleh sebab itu, sebagai orang tua yang ada di generasi kedua harus bisa menerima keadaan tersebut untuk menghindari konflik. Berikan pujian pada kakek-nenek agar didapatkan hubungan emosional yang seimbang. Tangkap momen ketika kakek-nenek sedang berlaku baik, jangan hanya menyudutkan ketika mereka melakukan kesalahan.

Tips Bagi Orang Tua

1)      Berpikiran positif dan terbuka

2)      Pahami karakteristik dan kebutuhan kakek-nenek

3)      Terima masukan

4)      Siapkan strategi dan fleksibel

5)      Self-care

6)      It’s ok to feel not ok

7)      Hindari kritik, sampaikan pujian

8)      Beri masukan secara postitif

9)      Hindari rasa bersalah/ ingin menebus

Tips Bagi Kakek-Nenek

1)      Cucu bukan anak Anda

2)      Kenali batasan diri dan hondari over-commit

3)      Hargai aturan dan batasan

4)      Nasihat yang tidak diminta?

5)      Tetap aktif

Referensi:

Memahami Arti Tangisan Bayi dengan Metode E.A.S.Y
http://www.babywhispererforums.com/index.php?topic=65942.0

Please follow and like me:

4 thoughts on “Kelas Parenting bersama Tiga Generasi: “Mendisiplinkan Anak sejak Bayi, Bisa Nggak Ya?”