Menulis daripada Mati

Inspirasi saya untuk kembali menulis datang seketika setelah saya selesai bertugas sebagai relawan guru di Kelas Inspirasi Bogor, tepatnya 11 September 2013 lalu. Salah satu rekan tim saya, Mba Prita (wanita hebat yang baru saya kenal), bercerita tentang kondisi kelas yang beliau kunjungi. Penulis yang juga seorang ibu dari dua anak ini mengajak murid-murid di kelasnya untuk menuliskan hal yang paling mengecewakan atau menyedihkan yang pernah dirasakan oleh masing-masing murid.

Mba Prita lalu meminta salah seorang murid maju untuk membacakan isi tulisan yang ia buat. Di tengah-tengah murid itu membaca tulisannya sendiri, ia menangis. Mba Prita lantas memeluk dan menenangkan muridnya tersebut. Menurut penjelasan yang disampaikan Mba Prita, murid tersebut menangis tersedu karena tengah memendam sesuatu hal yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapapun. Kurang lebihnya, murid tersebut mengungkapkan dalam tulisannya bahwa perlakuan kedua orangtuanya di rumah seolah selalu menyalahkan si murid tersebut. Itulah hal yang ia pendam sehingga membuatnya menangis saat membaca tulisannya sendiri.

Mba Prita dan salah satu muridnya (Photo taken by Om Benny)

Tulisan mampu bercerita tentang hal yang tak terungkap oleh lisan manusia…
Begitulah, menulis menjadi sebuah proses katarsis….

Menurut JS Badudu, Katarsis adalah metode psikologi (psikoterapi) yang menghilangkan beban mental seseorang dengan menghilangkan ingatan traumatisnya dengan membiarkan menceritakan semuanya.

Thanks Mba Prita for inspiring me…
Ingatan saya melayang ke beberapa belas tahun lalu. Saya sudah mulai mempraktikkan proses katarsis itu sejak di bangku sekolah dasar. Saya rajin menulis di buku diary, tidak rutin, tapi selalu dan hampir pasti saya menulis saat saya menghadapi masalah. Ketika saya merasa orangtua tidak ada waktu untuk bisa diajak berbagi, ketika teman-teman saya tidak bisa menjadi sahabat baik yang bisa mendengar keluh kesah, ketika saya merasa dunia menjauh dan saya seorang sendiri menghadapi segala permasalahan….. saat itulah saya menulis. Kebiasaan menulis itu pun berlanjut hingga saya duduk di bangku SMP dan SMA. Sebagian orang mungkin berpikir bahwa menulis diary adalah sesuatu yang sangat melankolis.. Hmm, mungkin ada benarnya ya.

Read also:   Arisan Backlinks: Shine Fikri si Mamah Muda Inspiratif

Bagi saya, menulis adalah media pengungkapan emosi dan terapi kejiwaan. Pena di jemari saya akan menari-nari liar seirama dengan beban dan emosi yang saya tuangkan. Tidak sekali atau dua kali saya menangis ketika saya sedang menuliskan isi perasaan saya, hal itu membuat saya paham kenapa murid Mba Prita menangis saat membaca tulisannya sendiri.

Saya akan terus menulis sampai saya bosan atau saya menemukan kedamaian. Saat saya merasa lega dan telah menumpahkan emosi saya dalam bentuk tulisan, saya berhenti menulis. Jika saya mau, saya akan membaca lagi tulisan yang saya buat. Tetapi lebih sering saya langsung menutup buku dan tidak ingin membacanya sekalipun! Karena bisa jadi apa yang sudah tertulis itu terlalu menyakitkan untuk dibaca kembali. Ibaratnya, membacanya itu bagaikan mengulang dan mengingatkan lagi terhadap situasi menyebalkan yang telah terjadi. Saya akan simpan dengan rapi buku harian saya di tempat yang —menurut saya— aman, hanya saya dan tuhan yang tahu. 😛

Semakin beranjak dewasa, saya melakukan proses katarsis hanya ketika perasaan saya sudah “kacau” dan tidak mampu lagi berbagi. Saya akan menuangkan perasaan saya di selembar kertas, mungkin sebanyak dua halaman atau lebih. Saya menulis tanpa henti selama 15-30 menit, apa saja saya tulis tanpa memperhatikan proses editing, tanpa berpikir tulisan saya sudah cukup baik atau belum. Setelah selesai menulis, saya langsung merobek dan membuang kertas-kertas tadi. Selama emosi sudah terungkapkan, lembaran kertas itu akan menjadi onggokan sampah.

Mencomot dari bio-nya Mba Theoresia Rumthe: “Menulislah dan Jangan Bunuh Diri”. Saya setuju dengan tagline tersebut. Saya pun menganjurkan hal serupa: “Menulislah daripada Memendam Emosi sampai Mati”

Read also:   NKRI Harga Mati, NKRI Tempat Kembali

 

Please follow and like me:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *