Menulis itu Disempatkan, Bukan Menunggu Kesempatan!

Sekarang pukul 23.05 WIB saat saya mulai menulis.

Sudah lama sekali saya ingin ketak ketuk keyboard leptop saya untuk sekadar menulis di blog saya ini. Saya mah terlalu sering bilang “ingin” dan “akan” tapi tidak konkret untuk satu hal ini. Sampai pada akhirnya saya berkesempatan kopdar dengan member KEB yang kemudian menggugah minat saya untuk kembali mengurai isi pikiran dalam media elektronik ini. (Kisah pertemuan dengan member KEB di acara Srikandi Blogger 2014 ini insyaAllah akan saya tuliskan di lain waktu ya –> tuh kan, lagi-lagi berkata “akan” tapi entah kapan mau direalisasikan nulisnya). Hehe.

Saya masih agak kaku mengutak-atik dashboard wordpress ini, maklum baru kali ini punya akun wordpress jadi belum begitu familiar… dan seharusnya ini bukan alasan utama untuk tidak menulis ‘kan ya? (nyinyir karena disindir diri sendiri). Okay, alasan klasik tidak menulis adalah karena kesibukan pekerjaan –yang semestinya ini juga tidak bisa dijadikan alasan sih. Saya paham, menulis itu bukanlah karena adanya kesempatan saja, tapi lebih karena disempatkan. Ingat ya, menulis itu harus disempatkan, Neng! (talk to my self).

Huwaa, malu deh maluuu sama emak-emak yang di samping kesibukan pekerjaan, ngurus anak dan keluarga, tapi masih saja bisa setor tulisan. Mereka pasti menyempatkan menulis ‘kan ya, bukannya menunggu kesempatan kayak saya ini. Huhuhuhu

Sebenarnya saya sibuk ngapain aja sih selama ini? Saya kemana aja sih? Koq ya waktu 24 jam itu kadang terasa kurang. Kesalahan perhitungan pasti ada di saya nih, harusnya mah 24 jam itu sudah sangat cukup buat numpang hidup di dunia dalam sehari *perlu instrospeksi*

Read also:   Bahagia Tak Berskala

Menulis itu memang harus disempatkan, Sayang….
Minggu depan akan menjadi minggu yang hectic. Akhir-akhir ini saja sudah mulai sering pulang malam, bahkan kemarin jam 01.00 dini hari saya baru sampai di kosan. Soal pekerjaan, saya akan tulis di lain waktu ya.

Saya ingin menjadi seorang wanita yang punya skill multitasking, bukan hanya bisanya multi-asking aja -___-. Tapi, tapi, memang agak rumit ya jika dalam sekali waktu harus bisa move your mind anywhere and anytime. Awalnya pasti ada aja hal-hal yang terlewat. Untuk alasan itulah kebiasaan saya membuat to do list tiap hari selalu saya lakukan.

Agaknya dua malam ini menjadi refleksi buat saya, sambil pelan-pelan menyingkirkan sejenak fokus pikiran dari pekerjaan yang sedang meronta-ronta minta dikerjakan, saya secara khusus berkomunikasi dengan diri sendiri dan juga pencipta saya. Saya ini kan cuma numpang tinggal sebentar di dunia, tapi koq tugas utama cari perbekalan akhirat kadang terlupakan ya… sedih…. saya ambil mushaf saya selepas sholat, saya ingat terakhir kali saya menyentuh dan membacanya adalah sebulan lalu. T_T.

Kemudian saya melihat kalender –hobi saya 3 tahun terakhir adalah mencorat-coret kalender– dan saya ingat dua sahabat baik saya, Nor Rofika dan Rini, masing-masing akan menikah di bulan April dan Mei. Sampai saat ini saya belum juga menanyakan perkembangan persiapan dan uluran bantuan yang diperlukan. Saya mencoba mengingat hal-hal lainnya yang mungkin saya lupakan dari ingatan. Ah iya, adik bungsu saya mau menghadapi UN –yang saya juga belum menanyakan kapan tanggal UN-nya–. Kemudian saya ingat kalau Adila sedang sibuk tesis dan saya jarang ke rumahnya untuk menemani baby Faiz main-main. Tunggu, hal penting lainnya adalah menghubungi ortu saya,,, kapan saya terakhir kali telpon rumah ya. Hm, maklum saya bukan anak yang hobi ditelpon atau menelpon tiap hari. Kadang berkomunikasi dengan ortu sebulan sekali atau kadang kalau lagi kangen saja, hehe. Lalu, motor saya itu terakhir kali diservis kapan ya… tunggu, tunggu,…. sepertinya sudah lewat 3 bulan lalu. Boro-boro servis, kalau dicucinya mah kayaknya terakhir kali ya tahun lalu *siul-siul sambil garuk-garuk kepala*. Waah ternyata banyak hal yang kadang tidak bermaksud untuk disepelekan tapi akhirnya agak tersingkir dari ingatan. Apakah itu namanya saya sudah qualified untuk dikatakan multitasking?

Saya harus mengakui kalau kemampuan multitasking saya cukup baik (sok PD begini ya) walaupun masih harus terus diasah. Hal-hal yang saya tulis di atas adalah sebagian dari yang terlewatkan (mudah-mudahan tidak lebih banyak lagi ya). Tapi pada dasarnya saya memang sedang terus belajar untuk membagi-bagi pikiran dalam sekali waktu, antara harus mengerjakan urusan kantor ini dan itu yang tiada habisnya sembari mengingat-ingat cucian yang menumpuk dan harus segera dibawa ke laundry; koordinasi dan komunikasi dengan sana dan sini sambil berpikir keras kapan saya akan melanjutkan studi S2 saya; atau menyiapkan keperluan pengumpulan data sambil mengingat-ingat kalau deadline bayar kosan itu pertengahan bulan. Hihihi.. ^^

Read also:   Forgiven but Unforgettable

Nah-nah, akhirnya jadi juga tulisan saya nih.. Inilah bukti kalau menulis itu disempatkan, bukan menunggu kesempatan lewat.

Saya cukup bangga atas keberhasilan menulis malam ini. Cheerss… 

 

Please follow and like me:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *