Pergi dalam Diam

….waktu kecil dulu, orang-orang dewasa  -yang (merasa) lebih tau tentang baik buruk buat kita- sering membuat keputusan atas sesuatu untuk kita. Ternyata setelah dewasapun kita sering juga mengalaminya. Fait accompli – orang Perancis bilang. Sesuatu sudah diputuskan untuk kita tanpa kita dimintai pertimbangan. Kadang jadi sakit hati yaa. Tapi (karena kita sudah dewasa) tentu kita harus bisa membujuk hati kita, bahwa itu semata-mata untuk kebaikan kita. Nggak usah pakai suudzon, apalagi kalau dengan suudzon itu kita justru akan bertambah sedih. Rugi kan? lha alasan yang jelas untuk bersedih aja selalu ada kok, masak ndadak nyari-nyari tambahan alasan untuk bersedih yang nggak jelas. Lagipula, sekali-kali dilepaskan dari tanggungjawab membuat keputusan itu enak lho..kalau ada apa-apa kita nggak ketempuhan….hehehe.. (SNQ)
Kutipan isi update status dari seorang rekan kantor, pas sekali sebagai pembuka tulisan kali ini…
Segala sesuatunya sudah diputuskan tanpa pertimbangan kita. Sekalinya kita dimintai pertimbangan adalah saat sesuatu sudah pada ambang kritis sehingga apapun yang kita sampaikan juga tidak akan mengubah keadaan tersebut. Namun, jika kita tiba-tiba berpendapat sebelum dimintai pertimbangan, cans membuat runyam keadaan semakin besar, terlalu berisiko! Jadi ada kalanya diam itu menjadi sebaik-baiknya pilihan walaupun dalam hati amat sangat ingin berontak. 
Anda pernah mengalami keadaan tersebut?
Saat berada di posisi yang sulit, terkadang kedewasaan seseorang justru membuatnya memilih untuk diam. Diam karena belum punya kalimat baik yang perlu diucapkan. Sesungguhnya mengetahui sesuatu yang buruk akan terjadi tetapi kita tidak mampu berbuat apa pun (untuk mencegahnya) adalah kondisi yang menjengkelkan. 

Kalau saya mengalami kondisi seperti itu?? Saya memilih perlahan pergi menjauh dalam diam….
Please follow and like me:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *