Resensi Novel: “Embun di Atas Daun Maple”  

Judul: Embun di Atas Daun Maple.

Penulis: Hadis Mevlana.

Penerbit: Tinta Medina, Creative Imprint of Tiga Serangkai, Solo

Tebal: 286

Cetakan Pertama: September 2014.

Novel “Embun di Atas Daun Maple” mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Sofyan dari Teluk Kuantan yang sedang menimba ilmu di University of Saskatchewan, Kanada. Pemuda muslim yang teguh pada keyakinannya dalam memeluk Islam selalu mencoba menyampaikan tentang dakwah dan kebenaran secara logis, sederhana, dan berdasarkan fakta. Penjelasannya dalam menjabarkan Islam mampu diterima dengan baik oleh teman-temannya yang non-muslim sekalipun, termasuk oleh Kiara, gadis orthodox berparas cantik keturuan Rusia-Aceh. Kiara gemar sekali mengajak Sofyan berdiskusi secara kritis dan terbuka. Dari setiap pertanyaan dan rasa penasaran Kiara yang selalu disambut apik oleh Sofyan, ternyata sepotong hatinya pun berujung pada sebuah rasa cinta pada Sofyan. Yang lebih menakjubkannya, di akhir cerita, dua kalimat syahadat pun terucap dengan pasti dari mulut gadis manis ini.

Pembaca akan terbawa ke suasana di Saskatoon dan teduhnya berada di tepi Sungai Saskatchewan dengan rerimbunan daun dari pohon maple. Di sanalah lokasi favorit Sofyan saat merenung untuk menemukan jawaban atau sekadar menumpahkan kerinduan akan kampung halamannya. Penulis mendeskripsikan setting lokasi dengan baik sehingga pembaca seolah-olah turut merasakan berada di Kanada.

Novel ini berbeda dengan novel-novel lainnya yang secara klise membahas tema percintaan. Bahkan pembaca mungkin tidak sadar jika penulis menyelipkan satu-dua fragmen yang mengupas tentang perasaan. Dengan membaca novel ini, pembaca akan terlarut dengan alur yang disusun sedemikian rapi dan memancing rasa penasaran di setiap segmen yang disajikan.

Di dalam novel ini diceritakan kehidupan Sofyan selama menempuh pendidikan di Saskatoon dengan dikelilingi teman-temannya yang hangat dan bersahabat. Toleransi dalam beragama dan kesantunan dalam mengutarakan pendapat bisa kita rasakan ketika membaca novel ini. Kita juga akan menemukan berbagai pengetahuan, terutama lintas agama, yang disajikan dalam bentuk diskusi dan obrolan santai. Penulis mengemas diskusi lintas agama yang berujung pada kedamaian, bukan perang dingin atau dendam di hati.

Read also:   NKRI Harga Mati, NKRI Tempat Kembali

Kesan saya ketika membaca novel ini adalah keinginan untuk terus membacanya hingga akhir cerita. Saya ingin menemukan pengetahuan-pengetahuan baru ataupun lawas yang  selalu disajikan oleh penulis melalui bahasa yang mudah dicerna. Semakin membaca novel ini, semakin diri ini ingin mempelajari Islam lebih jauh lagi. Betapa masih sangat banyak yang belum saya tahu tentang Islam dan betapa bekal ilmu saya harus selalu di-upgrade setiap waktu, baik tentang sejarah peradaban Islam, isi kandungan Al-Quran, perbedaan sejarah yang tertuang dalam Al-Quran versus kitab suci agama lain, dan sebagainya.

Penulis terlihat sangat memahami tentang Islam, Kristen, dan Katolik. Hal ini tampak dari paparan-paparannya saat mengutip ayat Al-Quran atau pasal-pasal dalam Al-Kitab. Pun demikian saat penulis merincikan penjelasan-penjelasan tentang perbedaan yang ada di antara Islam dengan agama lainnya. Novel ini, meskipun tidak banyak konflik yang berujung klimaks di dalamnya dan ending yang menurut saya agak menggantung, tetap merupakan bacaan yang menyejukkan hati dan bermutu. Menemukan intisarinya bagaikan menelan suplemen dan dopping untuk selalu memperluas wawasan terkait Islam.

Please follow and like me:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *