Secangkir Teh dalam Pernikahan

Menikmati suguhan teh manis hangat sudah menjadi tradisi masyarakat di Indonesia. Fenomena ini pun akhirnya mendarah-daging di keluarga saya. Entah apakah ini suatu tradisi, tetapi membuatkan secangkir teh untuk suami di pagi hari laiknya suatu kewajiban.

Pernikahan saya baru genap setahun. Saya bukan tipe yang rajin menyuguhkan teh di pagi hari, tidak seperti ibu saya atau ibu-ibu kebanyakan di daerah saya, Jawa Tengah. Gimana mau menyuguhkan teh kalau saya saja sering bangun lebih siang daripada suami, bahkan seringkali saya masih terlelap saat suami berpamitan pergi ke kantor. Oops! Untungnya, Mas Ry nggak pernah protes. Walaupun jarang membuat teh pagi-pagi, tetapi wajib banget bikin teh panas menjelang petang untuk menyambut suami pulang. Stok teh memang nggak boleh kosong di rumah saya.

Suatu hari saat umur pernikahan baru beberapa hari, Mas Ry pernah menyatakan kalau dia ingin istrinya bangun pagi, minimal jam 4 lah (wew!) menyiapkan sarapan dan beberes rumah. Aduhai itu tipe istri idaman yang dia mau ternyata. Saya pun memenuhi permintaannya walaupun beraaat ye. Walau bagaimanapun saya ingin jadi istri yang taat. Iya saya bangun pagi dan menyiapkan sarapan, bahkan menyiapkan bekal makan siang untuknya. Tapi hal itu berlangsung hanya beberapa saat aja sih, hehe. Lebih seringnya saya ketiduran lagi selepas subuh. Apalagi saat hamil, hasrat pengen nempel di kasur begitu besaaaar. Hahaha. Aaaah, lagi-lagi Mas Ry juga nggak pernah protes.

Dulu, saya kira kebiasaan saya bisa berubah setelah menikah. Saya pikir dengan menikah, saya bisa bangun lebih pagi, menyiapkan sarapan, menyuguhkan secangkir teh, dan bercengkerama sejenak dengan suami. Tapi saya sadar, adanya suami belum lah cukup mengubah hidup saya hahaha.

Read also:   The Best Gift is Love
pic: pixabay.com

Dua bulan ini saya tinggal di rumah ortu saya di Jawa Tengah, rencananya saya memang ingin menghabiskan jatah maternity leave saya. Hampir setiap weekend Mas Ry menengok saya dan Halwa. Melihat kebiasaan saya yang tidak menyuguhkan teh untuk suami, ibu saya sering menegur saya: “Koq kamu belum bikinin teh?”, “Suamimu belum dibikinin minuman tuh”, “Suamimu buatkan teh manis dulu sana”.

Gara-gara secangkir teh, saya sering kena tegur ibu. Melihat gelagat saya yang hendak menanyai Mas Ry apakah dia berkenan dibuatkan teh atau tidak, ibu segera menegur lagi, “Bikinin teh buat suamimu tapi nggak usah ditanyai dulu apa dia mau minum atau enggak. Buatin aja. Nanti juga pasti diminum”. Kyaaaaa, si ibu tau aja kalau suami saya ini tipe yang nggak ingin merepotkan istrinya, hahaha, baiklah segera saya laksanakan titah ibunda untuk membuat secangkir teh manis hangat di pagi hari.

Di awal tahun ini, saya merasa menjadi pribadi yang baru. Sebentar lagi saya akan kembali ke tanah rantau, dengan bayi saya yang menginjak usia 3 bulan. Saya juga akan berpindah tempat tinggal. Selain itu, ada beberapa project pribadi yang sudah masuk daftar list saya. Intinya, akan banyak hal baru yang saya alami.

Mungkin, saya juga akan mulai rajin menyiapkan teh manis hangat untuk suami saya. Suami pernah memuji kalau teh buatan saya enak (cieeee penting banget ini yes), adonannya pas, rasa manis dan kentalnya juga pas. Oiya, saya memang lebih sering membuat teh tubruk dengan aroma khas teh Jawa Tengah.

Teh yang saya buat khusus untuk suami itu dengan tingkat kekentalan medium, sedikit gula pasir, harus panas, dan dia akan lebih senang kalau ada irisan jeruk nipis atau lemon yang saya cemplungkan ke dalamnya. Cukup dicemplungin aja, tanpa diperas ya karena rasanya akan berbeda. Mas Ry memang penikmat teh krampul khas Solo sejak lama. Biasanya dia minum teh krampul di angkringan. Jika sudah suka dengan teh krampul di sebuah angkringan, niscaya dia akan jadi pelanggan tetap angkringan itu. Hahahaha. Nah, katanya nih jarang-jarang loh Mas Ry nemu rasa teh krampul yang seenak saya buat. Hihihi.

Read also:   Apakah #BahagiadiRumah adalah Sebuah Pilihan?

Saya nggak tau pasti teh apa yang dibuat untuk membuat teh krampul asli Solo itu. Yang selalu saya buatkan untuk dia ya teh krampul ala saya dengan bumbu cinta ya (halah!). 

Suguhan teh untuk suami di pagi hari mungkin memiliki arti yang mendalam ya. Semacam lambang kesetiaan, keharmonisan, dan bakti istri kepada suami (ini saya asli ngarang loh). Itulah kenapa ibu sering menegur saya kalau saya belum menghidangkan teh manis untuk suami. Ehm, dan nyatanya sih suami emang selalu merindukan teh buatan saya. Hehe.


Please follow and like me:

Comments

  1. Nuki says:

    ihhhh sama bangeeet kaya aku cha. kalo pas lagi di Gombong ibuku ribut nyuruh bikinin teh, malah langsung dibikinin sendiri sama ibuku. hahaha… padahal suami juga sante aja, paling minta air putih anget.

    1. eskaningrum says:

      hihi ternyata sama aja ya Nuk.. ibuku juga yang ngributin kalau aku belum bikinin teh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *