Sibling Rivalry: Kejutan Bagi si Nomor Satu

Merujuk pada Buku Just Tell Me What to Say yang ditulis oleh Betsy Brown Braun (yang sebenarnya saya sendiri belum pernah membacanya, hanya sekilas membaca tulisan milik Ika Kartika Amila dalam tugas tesis terjemahan beranotasi buku Just Tell Me What to Say):

For the first two years of yout firstborn’s life, she was the center of your world. Whatever she wanted, she pretty much got it, right then and there. No one else was there with needs to be met. Then second baby arrived. Wow, was Number One in for a surprise!

Sibling rivalry can begin the moment the second child comes home from the hospital. Sometimes you won’t see evidence of it until the younger child begins to encroach on the first child’s life, reaching, then crawling, and then walking into her space.

 Inti permasalahan saudara kandung adalah keinginan alami untuk memiliki orangtua secara utuh. Ada perasaaan “bersaing” meskipun mereka masih terlalu kecil untuk bisa mengerti. Hal ini disebabkan sampai usia 2 tahun, anak adalah pusat dunia yang merasa memiliki segalanya hingga muncullah si nomor dua yang membuat suprise bagi si nomor satu.

Saya adalah si nomor satu yang selalu merasa memenangkan hati banyak orang. Betapa tidak, sebagai satu-satunya cucu pertama perempuan di kedua keluarga besar, tampaknya kehadiran saya begitu memikat perhatian semua orang. Jadwal roadshow saya padat merayap, kalau boleh dikatakan sedikit berlebihan, “perebutan” hak milik itu benar adanya. Kali ini jadwal menginap di rumah simbah dari bapak, di lain waktu jadwal bermain di rumah simbah dari Ibu, dan di saat lainnya sudah di take in bude, bulik, dan om untuk keperluan tamasya, kondangan, silaturahmi, berkunjung ke rumah pacar, atau sekedar bermain dengan iming-iming dimasakkan ayam bacem kesukaan saya.

Masa kejayaan itu saya alami hingga si nomor dua muncul di usia saya yang belum genap 4 tahun. Secara alami, naluri si nomor satu mulai merasakan adanya sibling rivalry yang artinya adalah: periode emas untuk menjadi si nomor satu harus segera diakhiri secara perlahan. Mungkin alasan belum siap untuk menerima adanya pergeseran level perhatian, hal ini membuat si nomor satu suka berbuat kericuhan demi mempertahankan posisi yang sudah disandangnya selama hampir 4 tahun (he he he).

Read also:   Tentang Rumah Baru

Mungkin orangtua saya saat itu belum terlalu memahami bahwa setiap anak menginginkan kepemilikan orangtua secara utuh tak terbagi. Tentu saja orangtua saya tidak sempat memikirkan hal itu karena kondisi si nomor dua memang sangat memerlukan perhatian ekstra disebabkan kelainan tulang kaki yang dialaminya sejak lahir. Saya melihat orangtua saya begitu fokus kesana kemari demi mengobati si nomor dua, baik menempuh jalan operasi maupun alternatif. Meskipun saya masih terlampau kecil untuk mengerti, saya bisa melihat gurat wajah lelah bapak dan ibu yang berjuang agar kelak anak keduanya bisa berjalan dan menapakkan kedua kakinya dengan sempurna. The time goes by and I realize that after years later…..

 

Fair doesn’t mean that things will work out the way you or your children want them to….. (Betsy Brown Braun)

Saya, si nomor satu ini, adalah tipikal anak yang “nggak mau dan nggak bisa dilarang”. Seingat saya, jarang sekali bapak dan ibu melarang saya melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Sewaktu kecil mungkin saya sering dilarang. Tapi setelah saya menunjukkan jiwa berontak di usia belasan tahun, mereka sudah jarang lagi menghalangi keinginan putrinya ini. Pernah sesekali dua lah, saya dilarang yaitu saat saya minta ijin mau bermain ke Dataran Tinggi Dieng bersama teman band dan Om Ipang’s family (pemilik studio band). Waktu itu, kami ingin liburan sambil merayakan kelulusan dan menyambut datangnya masa-masa berseragam abu-abu-putih. Kedua kalinya yang saya ingat, mereka melarang saya pergi ke Papua untuk bekerja di Free Port dengan alasan “Keadaan lagi ricuh di sana, nanti kamu bisa ketembak”. Alasan yang menurut saya agak lucu dan konyol tapi benar adanya sih. Selebihnya, bentuk larangan dan ketidaksetujuan yang ditunjukkan oleh orangtua lebih bersifat lunak dan berupa himbauan. Tapi pada akhirnya mereka akan berkata “Terserah kamu saja lah”.

 

Sebuah larangan muncul karena adanya dorongan untuk bisa berbuat adil tentunya. Namun, usaha untuk mewujudkan bahwa hidup itu adil, terkadang justru membuat seorang anak semakin tidak siap menerima kenyataan. Dulu saya sering bertanya-tanya di dalam hati:

Read also:   Ketika Angka 0.5 itu Sangat Berarti

“Kenapa ya, bapak sama ibu perhatian banget sama si adek? Perasaan dulu pas aku seusia dia, aku nggak diperlakukan sebegitunya. Kenapa ya koq berbeda?”

Saya jarang atau tidak pernah dimarahi karena pulang terlambat ke rumah atau karena bermain terlampau larut. Kalau saya mau berbuat sedikit nakal nih, bisa saja jam les tambahan yang 3x dalam seminggu itu saya pakai untuk membolos dan bermain sesuka hati. Toh mau pulang malam pun, bapak dan ibu hanya tahu bahwa saya ini ada les tambahan, titik. Tidak pernah mereka menelpon untuk bertanya “Koq belum pulang? Lagi dimana?”

Tapi kondisi ini sangat jauh berbeda dengan yang dialami oleh si nomor dua, adik saya. Kalau sudah jamnya pulang sekolah tapi dia belum nongol di rumah, ibu akan panik dan mulai bawel bertanya ke setiap orang “Kemana ya dia? Koq jam segini belum pulang?” lalu ibu pasti akan segera menelpon adik saya “Lagi dimana? Koq belum pulang?”

Ketika saya dan adik saya, Hilda, sudah mulai bisa akur dan saling bercerita selayaknya kakak dan adik, Hilda pernah mengutarakan ke-iriannya pada saya.

“Enak ya, jadi Mba Put. Kalau mau pergi-pergi main gampang. Kalau aku sih pasti dilarang: ‘nggak boleh kesini, nggak boleh kesana’. Masa aku liburan suruh di rumah aja, nggak boleh kemana-mana. Kapan aku bisa mandiri kalau kaya gini?” selorohnya.

Wowww, saya takjub! Kalau boleh dibilang iri, saya iri banget sama Hilda yang selalu ditelpon setiap pulang telat, selalu dicari-cari kalau belum setor muka di depan ibu. Ketika saya ungkapkan hal itu, Hilda menjawab:

Iiih nggak enak tau Mbaaa, masa lagi main ditelponin suruh cepet pulang. Enak tuh jadi Mba Put, mau main kemanapun dan kapanpun selalu dibolehin. Huh”….

Ah benarkah demikian?? Sepertinya memang benar adanya. Hal iseng yang pernah saya lakukan adalah saat sedang liburan kuliah di rumah, saya pergi main sedari pagi sampai menjelang jam 11 malam. Tanpa telpon, tanpa sms, tanpa ada yang menanyakan apapun! Saya sengaja melakukan itu, saya ingin merasakan “dimarahi karena anak gadis pulangnya malam banget” (LOL).

Read also:   Arisan Backlinks: Uchy Sudhanto, Story of an Animal Lovers

Saat pulang, saya percaya diri untuk mendapat serangan pertanyaan dari bapak dan Ibu.

“Tok, tok”... suara ketuk pintu. Bapak membukakan pintu. ‘siap-siap ditanya nih’ batin saya.

“Oh, sudah pulang”, kata bapak singkat. ‘Lalu?’ batin saya lagi

…………………………………

Ah gagal. Saya ke dapur. Ibu sedang masak-masak sesuatu. Saya mengucap salam dan kembali membatin ‘siap-siap nih….’

“Pulang sama siapa?” tanya Ibu. Kalau pertanyaan ini, jawabannya cukup gampang. Sebut saja satu nama teman laki-laki semacam “Adit” atau “Hammam”, pasti beres. (Ibu akan merasa aman kalau anaknya ini pulang dengan teman laki-laki ketimbang pulang sendiri atau dengan teman perempuan. Aneh ndak? 😛 )

…………………..

Gagal juga’, batin saya. Saya to the point saja pura-pura mengeluh ke Ibu.

“Ibu nggak tanya, aku darimana? Seharian pergi kemana aja? Koq Cuma nanya pulang sama siapa sih? Masa anak gadisnya pergi seharian dari pagi terus pulang malem nggak dimarahin????” tanya saya borongan 😛

Ibu agak kaget, menghentikan kegiatan goreng-gorengnya sejenak, menoleh pada saya sambil tertawa: “Jadi kamu minta dimarahin…??? He he he”….

Aduuuh ini, krik-krik banget deh ya…. -__-

Tanpa saya sadari, sifat adil itu sangat relatif sesuai kebutuhan .

Setelah lebih besar, pelan-pelan ia akan bisa mengerti dan memahami, ia telah diperlakukan secara adil bukan karena memperoleh sesuatu yang sama persis seperti orang lain, tetapi karena ia telah memperoleh apa yang ia perlukan.

Setiap anak itu unik dan orangtua kita tentunya lebih mengenal anak-anaknya sendiri, bagaimana perangainya, bagaimana cara menghadapinya, dan apa yang terbaik untuk mereka. Sikap “membedakan dan kurang adil” sepertinya hanya sebuah judgment bagi saya.

Fair doesn’t mean that things will work out the way you or your children want them to…..

 

Please follow and like me:

Comments

  1. faziazen says:

    jadi ingat masa masa dimanjain nenek (walaupun sudah punya adik) hehehe
    kadang mikir, benarkan anak pertama cewek lebih dekat ke ayah, atau anak kedua cowok lebih dekat ke ibu?
    salam kenal dari malang 😀

    1. eskaningrum says:

      Halo Mba Faziaaa…. hihi kalau saya mah lebih deket ke Ibu, soalnya Bapak sama saya sama-sama “galak”nya. Hihihi… Enak ya masa kecil dulu penuh dimanja, kalau sekarang cucu-cucunya udah hampir 2 lusin jadi ya aku musti tahu diri. 😀

      Makasih ya sudah meninggalkan jejak di sini… salam kenal dari Depok, Jabar

  2. cputriarty says:

    Hai mbak Arum slam kenal yaa..sekilas emang aku seperti de ja vu, mengalami hal serupa.
    Pokoknya aku seneng banget dengan istilah ini “Setiap anak itu unik dan orangtua kita tentunya lebih mengenal anak-anaknya sendiri, bagaimana perangainya, bagaimana cara menghadapinya, dan apa yang terbaik untuk mereka. Sikap “membedakan dan kurang adil” sepertinya hanya sebuah judgment bagi saya.” Nah ini yang menjadi kesimpulan saya setelah berumah tangga sendiri.
    NB : btw aku sudah follow blog n twitternya..ditunggu folbeknya ya mba:)

  3. eskaningrum says:

    Hai mba Putri, salam kenal juga. Wah terbukti ya mba setelah mba punya anak, cara memperlakukannya “berbeda” bukan berarti pilih kasih tapi memang agar sesuai dengan porsinya masing-masing.

    Aku udah follow twitter dan blognya ya Mak, sudah mampir juga ke Omah Antiknya 😀
    Makasih udah mampir mba….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *