Pengalaman Melahirkan dengan “Gentle Birth” dan Minim Trauma

Sabtu, 1 Oktober 2016 usia kandungan saya tepat 38 minggu 5 hari. Pagi itu tidak ada yang berbeda dari sebelumnya. Weekend adalah waktunya saya dan suami bisa menghabiskan waktu bersama. Rutinitas weekend kami memang agak berbeda selama saya hamil. Sabtu adalah waktunya kontrol ke dokter untuk antenatal care (ANC) dan Minggu pagi adalah waktunya saya untuk mengikuti kelas prenatal yoga di dekat danau Kampus UI. Pagi itu kami sudah bersiap untuk jalan-jalan, kebetulan saya lagi pengen banget makan lontong sayur. Namun, tiba-tiba segala rencana berubah arah hari itu.

Pukul 06.30

Saya merasakan nyeri di perut bagian bawah. Hal ini wajar terjadi karena di usia kehamilan trimester ketiga, kontraksi palsu yang ditandai dengan perut terasa kencang di bagian bawah seringkali saya alami. Biasanya sih hal ini terjadi kalau saya lagi kecapean.

Pukul 07.00

Ketika saya cek, keluar lendir dan darah segar dari vagina dan volumenya agak banyak. Agak banyak di sini maksudnya seperti ketika saya sedang menstruasi hari ke-2-4 saat darah yang mengalir sedang banyak-banyaknya. Nyeri di perut datang semakin intens. Kalau boleh dibilang, nyerinya itu seperti nyeri haid. FYI, bagi sebagian wanita, nyeri haid adalah bukan hal yang main-main karena rasanya aduhaiii… saya sendiri kalau lagi haid sering guling-guling di kasur, meringkuk, dan nggak bisa bangun. Hehehe. Namun, nyerinya kali itu masih bisa saya atasi.

Saya telepon ibu saya di kampung untuk mengabari kondisi saya pagi ini. Saya telepon dengan nada ceria seperti biasanya, sesekali meringis nahan nyeri sih. Ibu orangnya agak panikan jadi kalau saya mengabarinya pakai nada panik, beliau pasti ikut panik. Hehe. Benar saja, saya yang mengabari dengan suara sebiasa mungkin ternyata membuat ibu heboh. “Cepetan ke rumah sakit loh soalnya ada orang yang tipe melahirkannya emang cepet, jangan sampai kebrojolan di rumah!”. Wkwkwkwkwk…

Saya dan suami bersiap ke rumah sakit. Satu tas besar yang berisi kebutuhan newborn dan ibu pascamelahirkan sudah saya siapkan jauh-jauh hari sehingga hari itu kami tidak kelabakan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Saya orangnya yang agak santai (tapi serius) pagi itu masih sempat saja mengeringkan rambut pakai hair dryer sembari menunggu driver taksi datang menjemput.

Saya cek waktu kontraksinya muncul sudah teratur per 5 menit sekali. Wow! Padahal sependek yang saya tahu biasanya kontraksi menjelang persalinan itu diawali dengan kontraksi palsu yang sering muncul dan hilang. Biasanya juga terjadi beberapa jam sekali hingga pada akhirnya teratur terjadi per 10 menit sekali, dan seterusnya.

Ketika driver taksi datang, saya mengatur napas dan menghitung waktu agar saya bisa berjalan dengan baik keluar rumah menuju ke dalam taksi. Rasanya ya masih sama, nyut-nyut seperti nyeri haid tapi munculnya sudah teratur tiap 5 menit sekali. Jadi saat nyut-nyut itu hilang, saya segera berjalan ke arah taksi. “Bisa jalan nggak?” tanya ibu kontrakan yang rumahnya masih satu komplek dengan rumah kami ketika melihat saya keluar rumah. “Hehehe, jangankan jalan Bu, joget aja saya masih bisa,” seloroh saya sambil nyengir. 😛

Pukul 08.30

Saya tiba di lobi RS dan langsung menuju ke bagian informasi untuk bisa mengakses ruang bersalin. Di sinilah saya merasa betapa pentingnya mengumpulkan informasi-informasi terkait rencana persalinan dari jauh-jauh hari. Ketika hari-H itu terjadi, saya tidak panik karena saya tahu harus datang ke bagian mana. Bahkan saya sudah reservasi ruang perawatan ibu dan bayi dari jauh-jauh hari.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya perawat di bagian informasi.

“Saya mau ke ruang bersalin, kayaknya sih saya mau melahirkan”, jawab saya.

Perawat itu agak tergopoh mengambilkan kursi roda untuk saya dan saya disuruh duduk di atasnya

“Emmm, saya masih bisa jalan koq Mba,” kata saya menolak halus. Iya saya memang masih kuat berjalan.

SOP nya begitu Bu, nggak apa-apa duduk saja di sini nanti saya antar ke ruangan,” kata si perawat. Ya sudah saya manut deh.

Saya dibawa ke ruangan observasi. Sebelumnya, saya ijin ke toilet. Maklum ya ibu hamil besar hobi banget keluar-masuk toilet.

“Bisa jalan ke toilet sendiri Bu?” tanya perawat di ruang observasi. Setelah saya mengiyakan, dia menunjukkan letak toilet.

Di ruang observasi, bidan melakukan cek dalam atau cek panggul (Vaginal Toucher) untuk tahu sudah ada pembukaan jalan lahir atau belum. Dia memasukkan jari ke dalam vagina saya, pemeriksaan ini dirasa nggak nyaman bagi sebagian besar kaum wanita. Tapi menurut saya sih nggak sakit, hanya risih sedikit. Saya tahu kalau saya harus rileks agar otot sekitar vagina juga bisa rileks saat pemeriksaan dalam.

“Sudah ada pembukaan Bu?” tanya saya.

“Ya, sekitar 2 atau 3 lah,” kata si bidan.

“Ooouh… begini toh rasanya pembukaan 2 atau 3, gimana kalau sudah mau pembukaan lengkap ya? Nyerinya pasti Wowwww bangettt,” batin saya. Saya tetap berusaha rileks dan mengatur napas.

Sekitar 10 menit kemudian, bidan memberi tahu saya kalau dokter obgyn saya kebetulan sedang ada tindakan di ruangan tersebut jadi bisa sekaligus mengobservasi saya. Ah iya, kebetulan sekali memang hari Sabtu yang seharusnya saya bertemu obgyn di poliklinik untuk ANC, sekarang malah bisa ketemu di ruang observasi.

Cek panggul kembali dilakukan oleh obgyn. Agak lama dan khidmat dia mengeceknya, lebih lama dari si bidan sebelumnya.

“Gimana Dok? Sudah pembukaan berapa?” tanya saya.

Dokter berhenti sejenak. Dia melanjutkan “Ibu, ini udah bukaan 8! Ibu tahan nyeri banget sih Bu!” serunya dengan nada terkejut.

Saya cuma tersenyum, dalam hati deg-degan banget. Saya sambil berpikir juga masa iya jarak antara pembukaan 2-3 ke pembukaan 8 hanya selang beberapa menit ya? Atau mungkin bidan tadi yang kurang jeli ngeceknya sehingga dia kira masih pembukaan 3. Ahh yasudah lah yaaa…

Tim tenaga kesehatan yang akan membantu saya bersalin bersegera mempersiapkan ruangan bersalin untuk saya. Sebelum saya dipindah dari ruang observasi ke ruang bersalin, saya ijin lagi untuk ke toilet (tuh kan, hobi banget ke toilet). Kali ini bidan dan perawat kompak melarang saya. Katanya, sudah pembukaan besar dilarang jalan-jalan. Akhirnya mereka membantu saya BAK menggunakan pispot.

Di ruang bersalin, kondisi saya masih sama seperti sebelumnya ketika di rumah. Entah perawat atau bidan ada yang bertanya kepada saya, lebih tepatnya mungkin dia heran karena reaksi saya –di saat pembukaan delapan ini- biasa saja tidak seperti ibu hamil kebanyakan, bahkan saya malah mau ijin jalan ke toilet sendiri. Apakah benar saya biasa saja? Hahaha, sebenarnya rasanya campur aduk. Maklum pengalaman pertama.

Menuju Pertemuan yang Membahagiakan

Hi world, my name is Adzkia Halwa

Saya terbaring di atas bed dan merasakan kesibukan di sana sini mempersiapkan segala sesuatunya. Ada yang memasangkan selang oksigen, ada yang memasukkan jarum infus di pergelangan tangan saya, dan ada yang memantau alat detak jantung. Semua sibuk dengan urusan masing-masing.

Saya seperti bermeditasi sejenak di ruangan itu sambil berusaha mengatur pernapasan sebaik mungkin. Gelombang cinta dari sang bayi datang semakin hebat dan hebatnya. Saya mencoba berkomunikasi dengan diri sendiri, Allah, dan janin di dalam kandungan saya. This will be pass… Allah sudah ciptakan janin dalam rahim saya, Allah pasti juga sudah berikan jalan lahir untuknya. Allah sudah mendesain tubuh saya sedemikian rupa beserta perangkat-perangkatnya untuk bisa mengandung dan melahirkan bayi saya. Terlepas dari segala upaya saya selama ini dalam memberdayakan diri, saya berpasrah kepada-Nya. Masih hangat di ingatan saya ketika seminggu yang lalu hasil USG memperlihatkan posisi janin yang masih telentang meskipun kepala sudah berada di bawah. Obgyn mengatakan “Persalinan normal masih mungkin dilakukan tapi agak seret, agak lama bayi keluarnya kalau posisi masih seperti ini. Agar bayi bisa mapan ke posisi yang tepat pun kemungkinannya ada, tapi kalau sudah usia kandungan besar ya agak susah”.

Lantunan dzikir dan untaian doa tak terhenti dari mulut saya, berharap proses persalinan berjalan dengan baik, entah pervaginam atau persectio. Mudah-mudahan ibu dan bayi selamat. Andaikan dalam perjalanannya nanti harus berakhir di meja operasi, saya pun ikhlas. Setiap bayi sudah memiliki cara lahirnya masing-masing. Jika saja terjadi hal-hal di luar dugaan yang menyebabkan komplikasi persalinan tidak tertangani, saya hanya berharap kepada Sang Pemilik Kehidupan agar dimudahkan untuk saya kembali dalam keadaan khusnul khotimah dan syahid. Saya mencoba fokus, saya seolah lupa perkataan obgyn seminggu lalu bahwa letak bayi masih di posisi telentang dengan satu lilitan tali pusat.

Selanjutnya saya berupaya me-recall teknik pernapasan perut yang sering dipraktikkan saat sesi kelas yoga prenatal. Saya pun berusaha mengingat teknik mengejan yang pernah diajarkan oleh instruktur saat senam hamil di RS. Kata orang-orang sih, kalau sudah di ruang bersalin, segala teori yang pernah dipelajari akan terlupakan. Menurut saya? Saya ingat semua yang ingin saya ingat, hanya saja mengaplikasikan pada realitanya saya agak kesulitan karena gelombang cinta itu datang semakin hebat sehingga untuk bisa bernapas dalam dan panjang pun saya sedikit kewalahan.

Saya pun kembali mengajak bayi saya berbicara agar dia kooperatif saat proses persalinan itu tiba. “Kita akan segera bertemu, Nak…”.

Sekitar Pukul 09.30

Perjuangan saya di ruang bersalin hampir mencapai titik puncaknya. Di sela-sela mengejan, terjadi obrolan-obrolan antara saya, obgyn, dan bidan.

“Bu, jangan di angkat, letakkan saja pantat (maaf) nya,” kata dokter berkali-kali.

“Ini udah saya letakkin Dok,” jawab saya sambil mikir pant*t mana lagi yang musti diletakkan.

Ah ternyata ya bersalin itu terkadang membuat kita berada di antara sadar dan tidak sadar. Menurut saya, saya sudah berusaha rileks dan pada posisi yang benar tapi menurut tenaga medis, posisi saya masih salah.

Lucunya lagi, di sela-sela saya mengejan, dokter memberikan instruksi begini,

Dokter: “Ibu, nanti kalau saya bilang STOP, Ibu jangan mengejan ya Bu.”

Saya: “Oke”

Beberapa saat kemudian….

Dokter: “Stop Bu, stop!”…. “Ibu stop jangan ngeden!”

Saya: (sambil berteriak galak) “Saya udah nggak ngeden koq!”

Dokter, perawat, bidan: (heboh) “Ibu stop Bu! Stop!”

Haduh beneran deh saya tuh “merasa” udah nahan untuk nggak ngeden sesuai instruksi dokter tapi ya seperti saya bilang sebelumnya, bersalin itu menempatkan kita dalam posisi antara sadar dan tidak sadar. Hehehe.

Alhamdulillah dengan 3x mengejan, bayi mungil cantik meluncur sempurna pada pukul 09.50, tepatnya kurang dari 4 jam sejak saya merasakan nyeri kontraksi.

Saya: “Eh, udah dok? Udah selesai nih?”

Dokter: “Iya selamat ya Bu, bayinya sudah lahir”

Saya: (masih nggak percaya, nanya lagi ke suami): “Ini udah selesai? Udah lahir beneran?”. Suami mengiyakan. Saya meminta suami untuk “mengawal” bayi kami yang baru lahir, takut tertukar dengan bayi-bayi lainnya. Percaya tidak percaya, cukup banyak bayi yang lahir di tanggal itu. Entah kebetulan atau memang ada yang memilih Hari Kesaktian Pancasila sebagai hari lahir para bayi.

Dokter menjahit luka sobekan (saya sendiri nggak tahu berapa jahitan, dokter tidak memberi tahu). Di sela-sela dokter menjahit bekas robekan, kami pun mengobrol.

Dokter: “Ibu, tadi saya bilang stop jangan ngeden kenapa masih aja ngeden”

Saya: “Beneran deh Dok, saya udah nahan nggak ngeden, bahkan sampai saya nahan napas loh Dok”

Dokter: “Ya nggak usah sampai nahan napas juga kali Bu, hehe. Ini anak pertama ya Bu? Cepet banget lahirnya, sering ikutan senam ya?”

Saya: “Iya Dok, rutin ikutan yoga hamil”.

Dokter: “Kalau sering olahraga memang membantu persalinan. Bayinya tadi juga cepet banget keluarnya kaya roller coaster. Ibu tau roller coaster kan?

Saya: “Iya, saya pernah naik itu (roller coastaer) beberapa kali”

Dokter: “Pantesan, bayinya meluncur tadi Bu keluarnya, hehe”

Obrolan-obrolan tadi membuat saya tidak merasakan sakit dijahit. Tidak terasa dokter selesai menjahit bekas robekan jalan lahir.

Tak henti-hentinya saya mengucap syukur kepada Allah atas kemudahan-kemudahan yang telah Dia berikan kepada saya. Padahal kemarin saya masih masuk kantor seperti biasanya. Teman kantor mengajak jalan ke mall sore harinya, dan malamnya suami masih ngajak nyari angkringan. Keesokan paginya saya merasakan kontraksi dan kurang dari 4 jam bayi saya lahir. Alhamdulillah atas segala kenikmatan ini.

Persalinan yang awalnya saya takutkan akhirnya bisa saja jalani dengan sangat rileks dan gentle. Selama hamil, saya berusaha memberdayakan diri sendiri sehingga sugesti “gentle birth” tertanam dalam benak saya. Saya pun bersyukur karena dipertemukan dengan Komunitas GBUS (Gentle Birth Untuk Semua) yang anggota-anggotanya senang berbagi dan mensupport satu sama lainnya. Yang saya percaya, setiap anak sudah dirancang jalan dan cara lahirnya masing-masing. Kebetulan ini pengalaman pertama saya hamil dan melahirkan. Beruntungnya saya diberi kemudahan dalam menjalani prosesnya sehingga minim trauma. Untuk selanjutnya saya menjadi lebih percaya diri jika suatu saat nanti diberi rejeki untuk memiliki anak lagi.

Saran saya bagi yang sedang menantikan kelahiran buah hatinya: tidak perlu takut. Sugesti diri sendiri bahwa proses persalinan tidak semenakutkan yang sering ditampilkan di televisi itu. Berdayakan diri sendiri, cari ilmu sebanyak-banyaknya seputar proses kehamilan dan persalinan, makan makanan yang bergizi, rajin berolahraga, rencanakan persalinan yang diinginkan, libatkan suami dalam setiap proses, dan yang paling utama adalah perbanyak berdoa.

Selamat menanti datangnya gelombang cinta ya 🙂

 

Please follow and like me: