The Best Gift is Love

Seseorang pernah berkata pada saya enam tahun lalu, “Kalau nggak mau kecewa dan sakit hati, jangan jatuh cinta dulu karena wanita lebih rentan patah hati”. Jawaban itu keluar dari seorang kakak, di hari pernikahannya, saat saya bertanya bagaimana akhirnya dia memilih laki-laki sebagai pendampingnya. Dalam hati saya salut, sambil membatin “Bagaimana bisa ya menikah tanpa jatuh cinta. Dia bisa, tapi saya belum tentu bisa seperti dia. Kondisi ini tidak berlaku untuk semua orang”.

Dua tahun yang lalu….

Mei 2015. Sepulang dari Jepang setelah menghadiri konferensi ilmiah di Yokohama, saya landing di Soekarno Hatta dan sedang menanti bagasi. Ada seorang teman mengirim chat bermaksud mengenalkan seorang laki-laki pada saya. Jujur saja saya agak malas meresponnya. Saya malas dengan topik perjodohan, apalagi menikah, karena tekad saya bulat untuk memperjuangkan kembali kesempatan studi master di UK. Marriage is 1000 miles away… Malam itu, di tengah lelah dalam perjalanan taxi menuju Depok, saya memaksakan diri untuk berbasa-basi merespon teman saya karena nggak enak kan ya kalau langsung menolak.

Juni 2015. Entah bagaimana awalnya, saya yang sekadar berbasa-basi dan bermaksud menolak halus tawaran perkenalan dari teman saya itu, akhirnya dipertemukan dengan si laki-laki. Dan entah kenapa, saya bersedia sampai tahap itu. Saya sendiri bingung. Kami ketemuan bertiga: saya, teman saya, dan si laki-laki. Setelah ketemuan itu, saya berniat nggak akan melanjutkan ke tahap lebih serius. Sudah stop saja lah. Saya mau fokus lanjut studi dulu. Tapiii, lagi-lagi si pihak lelaki berniat untuk ke tahap serius. Nah loh, saya harus cari alasan buat nolak dengan elegan #lho.

Juli 2015. Saya berniat menolak, by evidence based. Iya harus berdasar bukti biar logis. Nggak hanya sekadar “I dont like you” kemudian kelar perkara. Karena jiwa researcher sepertinya sudah tertanam dalam mindset, saya minta waktu kurang lebih 2 minggu untuk mengeksplor si laki-laki. Saya ajukan beberapa pertanyaan kualitatif, melakukan indepth interview, tidak lupa triangulasi informasi *halaah*. Jarak usia dan perbedaan background menjadi salah satu hambatan untuk bisa menggali informasi tentang si laki-laki. Akhirnya, setelah saya berhasil mengumpulkan cukup informasi dari beberapa sumber, saya berkesimpulan bahwa saya belum menemukan celah untuk menolak si laki-laki ini. Selanjutnya, saya hanya pasrah beristikharoh dan menyerahkan ke ortu saya.

Agustus 2015. Sebulan setelah si laki-laki menemui ortu saya, diadakan pertemuan antarkeluaga untuk melakukan prosesi lamaran. Saya masih agak kaget dan nggak menyangka bisa sampai tahap ini.

Read also:   Secangkir Teh dalam Pernikahan

September 2015. Sebulan setelah proses lamaran dan pertemuan kedua keluarga, kami menikah. Taraaaaa………. (Happy Ending).

Singkat cerita, begitulah bagaimana saya dan si laki-laki, sebut saja Mas Ry, menikah. Prosesnya secepat kilat. Mungkin begitulah yang namanya takdir ya. Kurang dari empat bulan berkenalan, berakhirnya di pelaminan. Awalnya tentu saja saya dipenuhi keraguan karena belum berencana menikah (apalagi secepat itu) tapi akhirnya dipertemukan juga dengan pendamping hidup. Tentunya masih banyak cerita tentang kebimbangan di dalamnya (yang tidak saya kupas tuntas) hingga akhirnya saya memutuskan untuk menikah.

Apakah saya cinta Mas Ry?

Jujur saja tidak ada cinta di awalnya. Ternyata kalimat enam tahun lalu yang dikatakan seorang kakak terjadi juga pada saya. Bahwa, bisa ya menikah tanpa ada rasa cinta. Iya sangat bisa, saya sudah membuktikannya sendiri. Koq bisa? Entah ya, saya hanya berbekal istikharoh dan tiba pada keyakinan bahwa Mas Ry adalah seseorang yang ditakdirkan untuk saya. Dia adalah jawaban dari doa-doa saya.

Setelah menikah, masa sulit bagi saya dan Mas Ry untuk beradaptasi satu sama lain. Saya yang defaultnya belum mahir dan disiplin mengurus diri sendiri, tiba-tiba harus “dibebani” untuk mengurus Mas Ry. Meskipun Mas Ry tipikal orang mandiri dan nggak banyak menuntut, ada dorongan kuat dalam diri saya bahwa seorang istri harus bisa masak, rajin bangun pagi, rapi mengurus rumah, dan minimal menyiapkan secangkir teh untuk suami. Aduhai itu beban berat buat saya loh.

Ke tukang sayur  saya lebih sering kesiangan dan kehabisan sayuran. Di tukang sayur pun, kadang saya masih suka tanya-tanya mana lengkuas dan mana jahe, atau pertanyaan tentang bumbu yang dipakai untuk masak sayur ini dan itu. Tukang sayur adalah saksi hidup betapa kemampuan masak saya di bawah rata-rata. Hahhaa. Nguprak resep dan mengolah sayur lauk bisa menghabiskan 2 jam di dapur. Effort yang besar buat saya loh untuk bisa menyiapkan hidangan makan malam dan sarapan. Dan saya akan sangat kesal kalau Mas Ry makannya cuma sedikit. Iya dulu saya sering ngambek dan nangis karena merasa usaha saya nggak dihargai, padahal sih mungkin memang rasa masakannya yang nggak enak. Hehe.

 

Kapan ada cinta?

Saya mulai bisa merasa nyaman hidup dengan Mas Ry adalah saat saya menyadari bahwa rasa sayangnya ke saya begitu besar, terutama saat saya hamil baby Halwa. Awal kehamilan yang tidak mudah bagi saya karena obgyn berkata ada risiko keguguran sehingga saya harus bedrest beberapa minggu. Mas Ry selalu bisa menenangkan dan menguatkan saya saat itu. Dia pernah ijin pulang dari kantor hanya demi memastikan istrinya mau makan siang. Dia pernah menerjang hujan demi memenuhi permintaan istrinya yang sedang ngidam sate. Dia yang ikhlas dicubit istrinya kalau mengendara motornya nggak smooth, sudah begitu masih dibandingkan pula dengan abang gojek yang mengendara motornya lebih pelan karena tau penumpangnya hamil. Dia yang bersemangat bangunin dan anterin istri di Minggu pagi agar istrinya mau ikut prenatal yoga, kalimat pamungkasnya kalau saya males-malesan bangun “Ini yang hamil siapa ya, kenapa aku yang ribut”. Hehehe. Dia juga selalu menemani dan antar jemput saya di setiap aktivitas. Dia menurut saja saat saya “jerumuskan” dia untuk ikut kelas persalinan, kelas edukasi ASI, dan aktivitas yoga couple.

Read also:   Secangkir Teh dalam Pernikahan

Saat baby Halwa lahir, kami berdua yang notabene perantau hanya berdua-duaan saja menyambut baby Halwa di RS. Mas Ry membuktikan dirinya pantas dilabeli suami siaga, dia yang mondar-mandir mengurus segala hal. Tidak sekalipun mengeluh walaupun saya tahu raut wajahnya menunjukkan kelelahan.

Saat saya terkena baby blues syndrom pascamelahirkan, Mas Ry dengan sabarnya saban hari mendengarkan curhatan saya yang isinya itu-itu saja: lelah menjaga bayi seorang diri, nyerinya puting lecet, bekas jahitan yang masih nyut-nyutan, pekerjaan kantor yang tak kunjung selesai (walaupun saya ambil cuti tapi masih ada PR yang harus saya kerjakan). Hampir setiap pulang kantor dia mendapati istrinya menangis sesenggukan atau bermata sembab sambil mewek bilang “Kayaknya aku belum pantes jadi seorang Ibu. Aku belum siap punya anak”. Mungkin dalam hatinya Mas Ry bilang “Lha itu bayi udah brojol tapi koq belum siap punya anak” *tepok jidat* haha.

Begitulah kurang lebihnya, cinta itu tumbuh subur karena dipupuk. Ternyata sayang dan cinta bisa dibangun melalui proses. Meskipun tidak pernah ada bucket bunga untuk saya, bukan berarti dia tidak sayang. Kata Mas Ry, daripada uangnya buat belikan bunga kan mending buat beli durian, bisa dimakan. Ya ya ya, itulah suami saya. Efisien. Kami jarang sekali mengumbar keromantisan di media sosial. Boro-boro saling komentar semacam “I love you” di status update, lha wong update status saja kami jarang melakukan. Kalau pun tag atau mention, paling bagus hanya di-like or love oleh si pasangan. Kalau lagi sama-sama kurang kerjaan barulah kami saling berbalas komentar, haha.

Romantis yang belakangan ini saya maknai adalah saat dia selalu ada untuk saya, menyodorkan bahu atau menawarkan dekapan saat saya dalam situasi insecure. Romantis tidak melulu ditampilkan menjadi konsumsi publik, cukup kami yang meresapinya sepenuh jiwa. Pada akhirnya, dialah si romantis yang selalu bisa saya andalkan dan saya sayangi.

Read also:   Secangkir Teh dalam Pernikahan

Kejutan untuk si dia

Kami jarang saling memberi gift untuk kejutan, tapi kami sering mengejutkan satu sama lain (hehe). Bagaimana tidak terkejut kalau apa yang baru saja terlintas di pikiran, ternyata bisa seolah “dibaca” oleh si dia? Entah saya ataupun Mas Ry sering sekali merasakan hal itu. “Itu yang namanya sehati kali ya”, kata Mas Ry. Saya hanya mengangkat bahu.

Pernah suatu ketika dengan sengaja saya tanya hadiah apa yang sedang dia inginkan? Tanpa basa basi, langsung dijawab: “Jam Tangan”. Langsung saya mengecek harga jam tangan, Mas Ry lanjutin lagi “Jam Tangan Suunto Ambit3”. Pas saya cek detilnya, ya ampun harganya mahal hahahaha. Jadi urung niat mau kasih hadiah dalam waktu dekat, perlu nabung-nabung dulu kalau harganya selangit begitu sih.

Tapi menurut saya nggak apa juga kalau suatu saat saya benar-benar menghadiahi  si Suunto Ambit itu buat Mas Ry, sebagai rasa terima kasih atas pengorbanan, keikhlasan, kasih sayang, dan pengertiannya selama ini. Sabar dulu tapi ya Sayang, hehe. Kalau mau hadiah yang realistis dan bisa segera dibeli barangkali baju baru buat lebaran kali ya. Kan sebentar lagi masuk bulan suci Ramadhan, nah saatnya pula hunting baju lebaran 2017. Hehehe…

Love is the Best Gift

Akhirnya saya berkesimpulan kalau cinta adalah anugerah terindah yang nilainya tak terkira. Menikah tanpa jatuh cinta sangatlah mungkin, bukan berarti tidak akan pernah ada cinta dan rasa sayang. Cinta itu perlu ditanam, disiram, dan dipupuk agar tumbuh subur. Salah satu cara menjaganya adalah dengan saling memberi hadiah atau kejutan antarpasangan. Tidakpun dengan pemberian barang mewah sebagai hadiah, kita bisa memberikan perhatian, pelukan, pujian, atau hanya secangkir teh di pagi hari.

Please follow and like me:

Comments

  1. Anazkia says:

    Wih, sukak ceritanya. Wah! Jadi perantau berdua saja? Semoga bisa sering2 silaturrahim ke Depok. Eh, sering? Pernah aja belum hahahahaha

  2. Saya terharu bacanyaa mbaak. Proses dan perjuangan membangun rumah tangga dan cinta. To love and to be loved is everything. Langgeng yaa mbaak sama mas ry dan sehat” terus mbak eska dan keluargaa. . Aamiin. . salam kenaal ya mbaak. .

  3. Sinta Legian says:

    Wah, iya bener banget. Rasa cinta itu fluktuatif. Bisa bertambah, tetap, berkurang, bahkan hilang. Kalau menikah hanya karena ada rasa cinta menurut saya sih ga menjamin langgeng juga. Kalau suatu saat di tengah jalan rasa itu sedang menurun atau hilang, wah bisa2 langsung pisah. Menurut saya yang paling penting itu komitmen. Meskipun di awalnya ga ada rasa, tapi komitmen sudah kuat, akan ada usaha untuk menumbuhkannya. Saat lagi turun, harus dinaikkan lagi. Saat lagi hilang, harus dimunculkan lagi. Setuju deh sama tulisan ini, cinta harus dirawat agar bisa tumbuh dengan baik.

  4. Alhamdulillah kalau punya suami yang sangat bisa diandalkan ya mba. Smoga bahagia selalu dan rukun-rukun ya. Btw, emang pas abis lahiran juga aku ngerasa lemah gitu. Rasanya capeek

  5. Ummu maryam depong says:

    Mba ukhty, oo mba.. Mengurus diri blm bisa, sekarang musti dibebani ngurus suami wkwk.. Oo maak.. MasyaAllah, begitu ya kisahnya, sederhana sekali hatimu bu.. setuju banget, sebisa mungkin memang cintanya hanya utk yg halal nanti.. InsyaAllah buahnya lebih manis * halahh.. Pengalaman masa jahil bu, qadarallah wa masyaa a fa’al. Barakallahu fiik

  6. D I J A says:

    semoga sakinah mawaddah warahmah ya Tante
    sampai ke surga nanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *