Thomas Alfa Edison dan Sayur Asem

Akhir-akhir ini, salah satu grup whatsapp yang saya ikuti sering membahas soal makanan, diet, dan tentu saja agenda wajib per-bully-an antaranggota. Belakangan ini, satu kawan kami (Ajat) yang sedang kuliah di Australia sana gemar-gemarnya memasak dan memposting foto hasil masakannya. Bentuk-masakannya memang tampak menarik, tapi entah bagaimana rasanya. Kata si empunya sih, cukup kacau rasanya. Hahaha….  Entahlah, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Bersamaan dengan Ajat yang sering posting foto hasil masakannya, kami para perempuan merasa tertantang untuk mulai rajin memasak lagi. Salah seorang kawan ((Reni) sudah berhasil membuat donat kentang pertamanya walaupun lebih tampak seperti roti goreng, tapi rasanya enak menurut pengakuannya. Saya? Masih setia membuat omelet demi omelet ala saya sendiri. Entah itu lebih mirip seperti telur dadar atau memang bisa dikatakan omelet, tidak penting. Yang pasti bentuknya enak dilihat dan rasanya pas di lidah. Hehehe.

Saya ingat, kemarin dulu ketika saya sedang gemar memasak, benda wajib yang harus ada di dapur selain peralatan masak adalah ponsel. Kenapa ponsel? Ponsel sangat membantu saya dalam proses memasak, dari mulai menyiapkan racikan sampai memperbaiki rasa masakan yang kacau. Tentu saja ponsel tersebut harus didukung oleh pulsa yang cukup untuk melakukan panggilan ke nomor Ibu dan teman-teman saya. Merekalah yang akan membantu mengarahkan saya tentang apa yang harus saya lakukan selanjutnya?

Jujur saja, antara kemiri, merica, dan ketumbar saya masih sering salah membedakan. Begitu pula dengan jahe, lengkuas, dan kunyit. Budhe penjual sayuran dekat kosan saya sepertinya sudah memaklumi hal ini sehingga Budhe sering membantu saya mengambilkan bumbu-bumbu dapur yang saya perlukan. Dalam proses memasaknya sendiri, saya melakukannya sambil menelepon siapapun yang bisa saya andalkan untuk mengarahkan saya. 

Saya suka sayur asem. Apalagi sayur asem disandingkan dengan tempe goreng dan sambal terasi. Nikmat tiada tara. Tapi sayangnya, saya belum berhasil membuat sayur asem yang enak dan pas di lidah. Bahkan untuk bisa disebut sayur asem saja, saya masih harus berjuang keras. #lebay.

#Percobaan 1:
Dengan sedikit pengarahan dari Umma-nya Aim dan Aira, dengan sangat percaya diri saya mulai meracik, memasukkan, dan mengaduk-aduk sayur asem. Tetapi, Saya terlalu banyak menakar air dan sayurannya pun saya rasa berlebihan sehingga porsi sayur asemnya kebanyakan. Ketika saya mencicipi rasanya….. OMG, hambaaaar sekali. Aneh. Saya langsung menelpon Umma Aim-Aira:

Liaaaaa, sayur asem aku nggak ada rasanya. Mana bikinnya dalam porsi yang banyak. Hiks”... seketika saya merasa gagal membuat sayur asem sesuai harapan.

Tambah terasi udang, coba” katanya,

Saya segera turun ke lantai bawah untuk membeli terasi di warung Ibu kost. Tanpa pikir panjang, setelah mendapat terasi langsung saya masukkan sedikit demi sedikit ke adonan sayur. Tapi tunggu, oooh tidaaaak. entah terasi macam apa yang saya beli, warnanya kemerahan dan rasanya aneh. Saya jadi teringan liputan Investigasi beberapa waktu lalu terkait terasi yang pembuatannya menggunakan pewarna. Aduh, saya jadi illfeel dengan adonan sayur asem saya yang menjelma kemerah-merahan.

Mission Failed. Saya buang semua sayuran saya dengan rasa kecewa.


#Percobaan 2:
Kali ini “persenjataan” saya cukup lengkap. Terasi udang yang cukup ber-merk sudah saya beli. Ibu kost mendapati saya membawa kantong plastik isi sayuran dan menanyakan saya akan memasak apa hari ini.

Sayur asem Bu. Ibu kalau masak gimana bumbunya?” tanya saya berharap Ibu kost mau share tips memasak sayur asem yang benar.

“Ibu mah nggak ngeracik-racik bumbu, udah Eska beli aja ni bumbu instant sayur asem. Tinggal diaduk aja pake air” kata si Ibu sambil menunjuk bumbu instan di warungnya.

Saya berpikir… “Em…. kalau pakai bumbu instant kemungkinan memang rasanya lebih terjamin dan terstandar rasa sayur asemnya. Tapi koq ngga ada tantangannya ya… Ibaratnya ikut pertandingan sih menang Walk Out. Menang sebelum bertanding. Ngga seru ah”

Saya memutuskan tidak membeli bumbu instant, mau racik-racik bumbu sendiri saja. Sebelum memasak tentu saja saya berkomunikasi dulu dengan Umma Aim-Aira. Setelah yakin semua sudah Ok dan saya siap memasak, dengan percaya diri saya mulai memasak. Kemudian ketika hampir selesai:

Liaaaaa…. sayur asem aku ngga ada rasanya lagi. Udah pake terasi padahal”, teriak saya lewat telepon.

“Coba garam sama gula pasirnya ditambah, sedikit sedikit aja. Dimainin garam sama gulanya kalau kamu nggak mau pake bumbu masak”, sahut suara di seberang sana.

Iya saya memang mencoba menghindari penggunaan perasa. Selain lebih sehat juga agar masakan saya menggunakan bumbu-bumbuan alami dan tanpa campuran bahan pengawet. Mencoba ideal dalam hal ini tidak salah toh.

Alhasil sayur asem buatan saya kali ini lumayan mirip dengan sayur asem yang saya harapkan walaupun tetaaap saja rasanya ada yang kurang pas. At least dari segi bentuk dan aromanya sudah lebih layak untuk dikatakan sebagai sayur asem. 


#Percobaan 3
Saya belum berani untuk mencobanya lagi, takut kecewa kalau kali ini rasanya tidak benar-benar enak. Kapan-kapan saja lah saya mencobanya. Kalau ada Thomas Alfa Edison di sini mungkin beliau akan berkata”

“Tenang Cha, masih ada 998 kesempatan lagi untuk bisa mendapat rasa sayur asem yang pas sesuai harapan” 

Hah? 998 percobaan lagi??!! !@#$%^&*())&^%$#@@
Please follow and like me:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *