Yuk Konsumsi Telur, si Protein Hewani Padat Gizi

Setiap Ibu pasti pasti pernah menghadapi anaknya yang susah makan (GTM = Gerakan Tutup Mulut), tidak terkecuali saya, hehe. Badai GTM Halwa itu hilang timbul. Kadang dia lahap makan, tapi kadang ya gitu deh bisa masuk 5 suap aja alhamdulillah. Grafik pertumbuhan berat badannya selalu saya pantau, asalkan masih masuk range berat badan sesuai tahapan usianya sih saya tenang saja meskipun garisnya ada di batas bawah. Melihat fenomena nggak doyan makan seperti itu, saya jadi berpikir untuk memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) yang padat gizi. Susu? Ah dia nggak doyan susu formula atau UHT. Baru saya berikan akhir-akhir ini sih tapi reaksinya nggak terlalu happy.

Mencari bahan MPASI yang padat gizi, murah, dan gampang dijumpai sehari-hari sebenarnya tidak sulit, misalnya saja telur ayam. Beruntungnya di dekat rumah saya ada warungnya si Bang Udin yang superrr lengkap menjual sembako dan kebutuhan sehari-hari. Warung yang hanya berjarak 10 langkah dari rumah saya ini menjual telur dengan kisaran harga 20-22 ribu per kilo. Nah di depan warung Bang Udin, ada yang jual ayam potong. Pokoknya bersyukur deh saya bisa mendapat bahan protein hewani dengan mudah untuk konsumsi keluarga.

By the way, kenapa sih kita, terutama anak-anak, perlu konsumsi protein hewani? Begini, tubuh kita memerlukan protein sebagai zat pembangun dan zat pengatur tubuh. Ada dua macam protein yang biasa dikonsumsi yaitu hewani dan nabati. Kalau kita lihat dari kualitas dan keragaman jenis asam-asam amino penyusunnya, protein hewani mempunyai keunggulan dibanding protein nabati karena kandungan asam aminonya lebih lengkap. Asam amino punya banyak manfaat, mulai dari memperbaiki jaringan tubuh, membantu pertumbuhan, menguraikan makanan, dan sebagai sumber energi tubuh. Selain itu, asam amino juga berkaitan dengan kecerdasan karena berfungsi membentuk struktur otak dan zat penghantar rangsang (zat neurotransmitter) pada sambungan sel syaraf.

Asam amino esensial (valin, histidin, triptofan, isoleusin, lisin, leusin, metionin, treonin, dan fenilalanin) adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia, tetapi tubuh kita tidak dapat memproduksinya sendiri. So, asam amino esensial hanya bisa didapatkan dari luar tubuh yaitu dari sumber makanan kita sehari-hari. Sumber protein nabati yang memiliki asam amino esensial antara lain kacang-kacangan, biji-bijian, dan kedelai, sedangkan sumber protein hewani yang bisa kita andalkan antara lain telur, daging, ikan, dan daging unggas.

Read also:   Indonesia Darurat Rokok, ke mana Saya Harus Mengadu?

Daging ayam termasuk jenis protein hewani yang masih bisa dibilang terjangkau. Kalau saya sendiri prefer untuk konsumsi daging ayam kampung dibandingkan broiler. Isu yang sering terdengar, ayam broiler itu cepat tumbuh besar karena suntikan hormon. Kenyataannya? Dari informasi yang saya dapat, beberapa sumber mengatakan kalau hal itu sama sekali tidak beralasan. Satu dosis hormon untuk sekali suntik saja bisa mencapai 5 USD (65 ribu), padahal harga ayam di tingkat peternak kurang dari 20 ribu per ekor. Jadi, tidak logis kalau dikatakan peternak menyuntik ayamnya dengan hormon.

https://vetindonesia.com/

Tapi kenapa ayam broiler badannya besar-besar ya? Nah, ini disebabkan karena ayam broiler sudah mengalami selective breeding sehingga didapatkan bobot ayam yang diinginkan dalam waktu singkat. Di tahun 1950, diperlukan waktu pemeliharaan ayam pedaging/ broiler selama 84 hari untuk mencapai bobot 1,8 kg. Untuk saat ini, hanya diperlukan waktu 28 hari untuk mencapai bobot 1,8 kg. Hal ini terjadi karena adanya desain pemuliaan yang tepat dan seleksi yang ketat sehingga membentuk broiler yang tumbuh cepat dari generasi ke generasi. Performa broiler minimal ditentukan oleh 3 faktor yaitu genetik, lingkungan dan nutrisi. Jadi, ketakutan masyarakat oleh isu negatif bahwa broiler disuntik hormon rasanya memang perlu diluruskan ya.

Protein hewani yang tidak kalah terjangkau adalah telur. Jujur saja saya selalu menyetok telur di kulkas. Selain karena memang doyan, enak, dan bergizi, sekarang telur jadi ‘senjata’ utama untuk melengkapi MPASI baby Halwa. Untuk mencukupi protein hewani yang dibutuhkan anak balita, cukup berikan sebutir telur (terutama kuning telur) setiap hari, sedangkan untuk orang dewasa dianjurkan mengonsumsi tiga butir telur setiap minggu. Wanita hamil dan menyusui memerlukan tambahan gizi yang dapat dicukupi dengan makan dua butir telur setiap hari untuk pertumbuhan janin dan pembentukan ASI (Air Susu Ibu) bagi ibu yang sedang menyusui.

Tapi… lagi-lagi masyarakat banyak yang memiliki “pendapat lain” soal telur sehingga mereka membatasi konsumsi atau bahkan menghindari. Nah, apa saja sih isu yang sering beredar di masyarakat tentang si oval yang padat gizi ini?

  • Telur Tinggi Kolesterol (?)
Read also:   Mengatasi Napas Grok-grok pada Bayi

Kandungan kolesterol dalam satu butir kuning telur sekitar 200 mg. Kandungan sebesar ini masih dapat ditoleransi tubuh karena kebutuhan kolesterol tubuh kita antara 1000 – 1500 mg. Kolesterol ini diperlukan untuk memproduksi vitamin D dan getah lambung, melindungi sel syaraf serta menghasilkan berbagai hormon. Kalau seseorang mengonsumsi 2 butir telur sehari = kolesterol sebanyak 400 mg. Penderita sakit jantung masih diperbolehkan mengonsumsi kolesterol sampai 200-300 mg atau setara dengan sebutir telur ayam sehari. Jadi konsumsi telur tidak menunjukkan peningkatan kolesterol (USDA Research Service, 2004).

Yang perlu dicatat adalah, dalam sehari itu jangan konsumsi makanan dengan total jumlah kolesterol melebihi ambang batas kebutuhan tubuh kita. Kalau cuma 2 butir telur nggak masalah. Tapi kalau 2 butir telur + 1 kg seafood ya silakan dihitung dulu jumlah total kolesterolnya ya, he he he.

  • Telur Penyebab Bisul/ Alergi (?)

Kasus bisulan ini sifatnya sangat individual. Bisul bisa disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya kuman Staphylococcus aureus yang bisa menyebabkan peradangan pada kulit. Bisul juga bisa terjadi pada orang yang punya riwayat alergi telur. Bagaimana dengan yang tidak punya riwayat alergi telur? Tentu saja kalian tidak perlu khawatir ya untuk konsumsi telur yang kaya zat gizi ini.

Dari beberapa macam sumber protein pada tabel di atas, harga protein hewani yang cukup terjangkau adalah telur dan daging broiler. Kalau dilihat lebih detil harga per gram protein, harga telur ayam yang paling murah, bahkan lebih murah dari tahu dan tempe. Namun, sayangnya sebagian masyarakat kita belum terlalu aware dengan hal itu. Bahkan untuk masyarakat kelas menengah ke bawah, telur masih dianggap sebagai makanan mewah dan mahal.

Kalau kita bandingkan telur dengan rokok, harga sebutir telur itu kurang lebih harganya sama dengan sebatang rokok. Bahkan di Jakarta, harga sebutir telur sama dengan satu atau dua buah kerupuk loh. Namun, konsumsi telur masyarakat Indonesia masih rendah yaitu hanya 100 butir per orang per tahun, sedangkan konsumsi rokok masyarakat Indonesia mencapai lebih dari 1.100 batang per orang per tahun berdasarkan data pemerintah. Kontras sekali yah.

Read also:   5 Kiat Berdamai dengan Tanggal Tua

Pernah ada seorang wartawan TV yang mewawancarai tukang ojek di Jakarta. Dengan penghasilkan 60 ribu per hari, tukang ojek mampu membeli rokok 6 batang per hari, tetapi dia jarang sekali membelikan daging ayam dan telur untuk keluarganya (lihat video berjudul Manfaat Ayam dan Telur di www.pinsarindonesia.com atau klik di sini).

Nah, dari informasi di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa rendahnya konsumsi telur dan daging ayam bukan semata-mata karena rendahnya daya beli masyarakat. Buktinya, beli rokok setiap hari pun masih sanggup. Kondisi ini sangat memprihatinkan. Pola belanja masyarakat belum berorientasi pada kesehatan dan gizi seimbang.

Perlu adanya upaya serius untuk melakukan edukasi ke masyarakat mengenai pentingnya konsumsi protein hewani agar masyarakat menjadi lebih sehat dan cerdas. Dalam keadaan perekonomian keluarga yang terbatas, telur ayam menjadi prioritas pilihan yang paling layak sebagai sumber protein hewani bagi keluarga. Dengan meningkatnya konsumsi telur dan ayam, roda ekonomi masyarakat peternakan unggas pun bisa terus bergerak dan berkembang.

Disclaimer:

Tulisan ini saya niatkan untuk mengedukasi masyarakat bahwa protein hewani memiliki peran penting bagi pertumbuhan, terutama bagi anak-anak. Protein hewani yang bisa didapatkan dengan harga terjangkau misalnya telur ayam dan daging ayam. Jika harga daging dirasakan cukup mahal, minimal konsumsilah telur karena banyak manfaat dan zat gizinya lengkap. Mudah-mudahan masyarakat kita semakin terbuka kesadarannya untuk menerapkan hidup sehat dengan pola gizi seimbang ya. Tulisan ini saya sertakan juga dalam lomba blog untuk memeriahkan “Hari Ayam dan Telur Nasional”  2017 yang diperingati di Indonesia setiap tanggal 15 Oktober.

REFERENSI:

Kementan RI dan Kemenkes RI. 2010. Booklet Tanya Jawab Seputar Telur Sumber Makanan Bergizi. Jakarta.

http://lifestyle.kompas.com/read/2014/04/24/1436524/Lebih.Banyak.Protein.Daging.atau.Telur.

http://pinsarindonesia.com/bahan-lomba-menulis-artikel-hari-ayam-dan-telur-nasional-hatn-2017dan-hari-telur-sedunia-2017/

http://www.alodokter.com/kenali-fungsi-dan-sumber-makanan-asam-amino-esensial

Benarkah ayam broiler cepat gemuk karena pemberian hormon?

Please follow and like me:

Comments

  1. Artha Amalia says:

    Iyah yah…kenapa jg orang2 lebih suka beli rokok drpd telur? Gizinya gak ada…racunnya banyak. Hmmm… Perlu edukasi terus menerus nih

    1. eskaningrum says:

      itulah mba karena kurang sadar gizi dan kesehatan. Mudah-mudahan masyarakat kita semakin cerdas. Aamiin

  2. Rina susanti says:

    Iya telur terhitung murah, kerupuk aja yg ga ada gizinya seribu ya hehhe

    1. eskaningrum says:

      Iya bahkan pas lagi CFD di depok ada penjual pecel yang jual kerupuk 4000. Zonk banget mending buat beli telor yak

  3. Kalo direbus begitu saja saya kurang suka, tapi setelah direbus lalu dibalado, naaah… baru saya suka 🙂

    1. eskaningrum says:

      itu juga saya suka, telur balado dimakan sama nasi anget ya Pak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *