Ini 4 Cara Memilih Kosmetik Halal

Kenapa harus memilih kosmetik halal?

Ternyata bukan hanya makanan saja yang perlu disertifikasi kehalalannya loh, kosmetik pun  perlu disertifikasi halal. Sertifikat halal ini penting untuk memastikan tubuh tidak terkontaminasi bahan-bahan yang diharamkan menurut agama Islam. Walaupun kosmetik bukan sesuatu yang dimakan dan masuk ke dalam tubuh, kita tetap harus cermat memperhatikan jangan sampai kita menggunakan produk kosmetik yang berbahan najis karena ketentuan hukum Islam sendiri sudah jelas bahwa ada aspek halal, haram, dan najis.  Kalau ada najis yang menempel di tubuh kita, otomatis itu akan berdampak pada keabsahan ibadah seorang Muslim. Persyaratan dalam  solat, misalnya, menyebutkan bahwa seorang Muslim harus suci badan, pakaian, dan tempat dari najis. Continue reading “Ini 4 Cara Memilih Kosmetik Halal”

Please follow and like me:

Mau Sekolah ke Luar Negeri? Baca Kisah Inspiratif Neng Koala

“Kenapa harus di luar negeri, sih? Di Indonesia banyak koq perguruan tinggi yang bagus

“Emang kamu mau ngapain, ngoyo banget mau sekolah ke luar negeri?”

“Udah lah kamu cewek, ngga perlu sekolah tinggi-tinggi, nanti cowok pada minder deketin kamu, susah dapet jodoh loh”

Saya hanya bisa menghela napas panjang sambil terus meyakinkan diri “Memangnya nggak boleh ya kalau saya punya cita-cita sekolah di luar negeri?” Kalau pertanyaan semacam itu datang dari orang tak dikenal, I don’t care very much. Payahnya, pertanyaan “demotivasi” itu justru dilontarkan orang-orang terdekat saya. Alih-alih didukung, ternyata masih banyak mindset orang yang mengganggap bahwa wanita tidak perlu memiliki status dan pendidikan tinggi. Ah, memang orang terdekat kita justru yang paling berpotensi menyakiti ya (baper deh!)

Mengutip secuplik kalimat Butet Manurung di Kata Pengantar Buku Neng Koala, “Cita-cita itu personal sifatnya, jadi cita-cita seorang perempuan adalah tentang ia dan dirinya. Kalaupun ada kompetisi, itu adalah pertarungannya dengan diri sendiri, bagaimana agar dirinya lebih baik dari kemarin”. Just be my self, ini adalah tentang saya dan diri sendiri. Masa-masa baper sudah berlalu. Saya sudah berdamai dengan diri sendiri. Sedikit kisah kecut yang saya alami bertubi-tubi demi memperjuangkan cita-cita akan saya tuturkan lewat tulisan ini. Tentunya kisah ini belum menemui akhir ceritanya karena perjalanan hidup saya saat ini masih dalam rangka mencari jawaban tentang akhir cerita itu.

Continue reading “Mau Sekolah ke Luar Negeri? Baca Kisah Inspiratif Neng Koala”

Please follow and like me:

Bermain di Taman Pemuda Pratama, Taman Ramah Anak di Kota Depok

Taman Pemuda Pratama, Taman Ramah Anak di Kota Depok

Yang mengaku warga Depok, ada yang belum pernah dengar Taman Pemuda Pratama? Saya tahu sekilas tempat ini dari postingan seorang teman di beranda Facebook. Karena lokasinya di Tanah Baru, cukup dekat dengan rumah saya, minggu lalu saya ajak suami dan anak bermain ke taman ini. Nggak akan menyesal pergi kesini karena selain tamannya bersih, rapi, taman ini juga menyediakan beberapa wahana ramah anak.

Tujuan dibangun Taman Pemuda Pratama ini adalah sebagai dukungan kepada pemerintah kota Depok yaitu program Kota Layak Anak (KLA), dengan demikian akan menjadi bentuk sinergritas antara warga dengan pemerintah yang menjadikan Taman Pemuda Pratama sebagai sarana bermain yang ramah anak (dikutip dari website tamanpratama.id)

Taman Pemuda Pratama berlokasi di JL. Sairin RT.01/011 Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji – Kota Depok. Kalau dari arah Tugu Tanah Baru, sekitar 1 km dari arah tugu kita belok kiri di Gang Saidan, lurus mentok sampai di perempatan jalan nanti posisi tamannya ada di seberang lapangan, cukup eye catching koq!

FYI, Taman Pemuda Pratama buka setiap hari Selasa – Minggu, mulai pukul 07.00 – 17.00 WIB. Pertama kali ke sana, saya tiba pukul 17.45 WIB loh, dan petugas masih mengizinkan kami melihat-lihat area taman sebelum pukul 18.00 WIB. Hari Senin taman ini tutup untuk maintenance dan kebersihan.

Continue reading “Bermain di Taman Pemuda Pratama, Taman Ramah Anak di Kota Depok”

Please follow and like me:

Nak, Selalu Ada Cinta dalam Untaian Doa Untukmu

Saya bekerja di salah satu pusat riset di kampus. Usai cuti melahirkan dan saya harus kembali ke rutinitas pekerjaan, hari pertama masuk kerja Halwa dititipkan di daycare. Jangan tanya bagaimana perasaan saya waktu ninggalin dia di sana ya, campur aduk dan baper banget!

Saat saya masuk kantor dan berjumpa dengan Bapak-Ibu Profesor dan teman-teman, mereka menanyakan di mana anak saya. Saya jawab  “daycare”. Tahu apa respon mereka? Mereka kompak menasehati saya agar jangan titip Halwa di daycare, kalau memang saya belum punya asisten, bawa saja Halwa ke kantor. WOW! Saya bener-bener terharu diizinkan membawa bayi saya ke kantor. Ah rasanya bahagia dan bersyukur banget bekerja di lingkungan seperti ini, tempat yang sangat ramah dan bernuansa kekeluargaan.

Sejak saat itu, dimulailah hari-hari saya membawa Halwa ke kantor setiap hari hingga dia berusia 10 bulan. Saya cukup bahagia karena di saat working mom di Indonesia pada umumnya hanya punya waktu intens bersama anak selama 3 bulan saat cuti, saya punya waktu yang lebih panjang lagi. Tapi jangan salah ya, beban pikiran saya juga semakin bertambah. Continue reading “Nak, Selalu Ada Cinta dalam Untaian Doa Untukmu”

Please follow and like me:

Resolusi 2018: Ingin Menjejakkan Kaki ke Benua Eropa

Akhir November kemarin saya mendapati satu email dari nama yang nggak asing buat saya, Ms. Willems. Saat saya baca emailnya, ternyata beliau “mengundang” saya untuk datang ke Program Short Course di Negeri Kincir Angin. Memang sudah menjadi impian saya untuk bisa menjejakkan kaki di Benua Eropa, khususnya untuk bersekolah di sana. Bahkan hal itu sudah menjadi resolusi saya dari tahun 2016 hingga sekarang. Namun, impian untuk mengambil studi master harus tertunda sementara waktu karena dalam perjalanan menuju impian saya itu, saya mendapat rejeki lain yaitu suami dan anak. Karena saat ini waktunya belum memungkinkan untuk saya studi overseas dua tahun, saya putuskan untuk mendaftar short course yang waktunya lebih singkat.

Bagi siapapun yang mengaku sebagai Scholarship Hunter, pasti ngerti banget hal-hal apa saja yang harus diperjuangkan untuk bisa bersekolah di luar negeri dan mendapat beasiswa. Tentunya ada dua hal penting yang jadi kunci utama: LoA (Letter of Acceptance) dari universitas tujuan dan beasiswa. Untuk mendapat satu dari kedua hal itu juga bukan perkara mudah. Ada banyak hal yang harus dikorbankan baik dari segi waktu, biaya, energi, dan pikiran. Sebelum ke arah sana pun kita harus mengumpulkan banyak informasi tentang cara pendaftaran, deadline, persyaratan, pilihan program studi, funding, dll. Mungkin lain kali akan saya bahas mengenai hal ini ya. Continue reading “Resolusi 2018: Ingin Menjejakkan Kaki ke Benua Eropa”

Please follow and like me:

Sabtu Kelabu: Tentang Kehilangan

Memasuki bulan Desember kali ini, saya excited menjelang liburan panjang di akhir tahun. Tiket kereta sudah ada di tangan. Kami sekeluarga berencana pulang kampung ke sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Kebumen. Sudah hampir setengah tahun saya tidak pulang ke kota kelahiran. Rencananya kami –saya, suami, dan baby Halwa– akan berlibur dari sebelum Natal hingga selesai Tahun Baru.

Jumat pagi, saya dan suami (Mas Ry) berjalan-jalan pagi bersama Halwa. Sudah menjadi kebiasaan kami saat libur untuk menyempatkan jalan-jalan di sekitar rumah. Apalagi, suasana pagi di kawasan Kampus UI Depok sangat cocok untuk berolahraga atau hanya sekadar menikmati udara segarnya. Pagi itu, saya bercerita kepada Mas Ry soal mimpi saya semalam tentang meninggalnya simbah kakung (kakek). Konon katanya, mimpi buruk pantang diceritakan. Mimpi buruk juga tidak boleh ditafsirkan karena tidak semua mimpi itu benar dan mimpi mungkin hanya bawaan perasaan atau bisikan hati. Namun, kali itu saya merasa perlu menceritakan perihal mimpi saya pada suami dengan tujuan untuk antisipasi seandainya hal itu sungguh terjadi.

Halwa (saat usia 1 bulan) bersama simbah buyut

Sejak sebulan terakhir ini simbah kakung memang kerap sakit-sakitan: mulai dari terjatuh di dekat sumur hingga kepalanya sakit, katarak yang hendak dioperasi, hingga kabar terakhir mengatakan simbah stroke karena terjadi penyumbatan pembuluh darah di otak sehingga beliau harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari terakhir. Siang hari itu, terlepas dari firasat mimpi buruk saya semalam, saya mendapat kabar bahwa kondisi simbah kritis dan harus dirawat di ICU. Pikiran saya tidak tenang, doa selalu saya lantunkan memohon yang terbaik untuk simbah.

Continue reading “Sabtu Kelabu: Tentang Kehilangan”

Please follow and like me:

Rekreasi ke Waterbom PIK dengan Kupon Diskon BambiDeal

Menjelang weekend minggu lalu, saya ingin mengajak Halwa berenang. Biasanya kami berenang di waterpark dekat rumah yang HTM-nya 35.000 saat weekend. Kali itu saya ingin sekalian ajak Halwa jalan-jalan yang agak jauhan tapi tetap dengan harga murah. Hehe. Passss banget buka BambiDeal, ada diskon tiket masuk ke Waterbom Pondok Indah Kapuk (PIK) dari harga Rp 270.000 menjadi Rp 85.000. Wow banget kan? Kapan lagi dapat diskonan 69%. Setelah diskusi dengan Mas Ry, akhirnya kami putuskan untuk rekreasi ke Waterbom PIK. Continue reading “Rekreasi ke Waterbom PIK dengan Kupon Diskon BambiDeal”

Please follow and like me:

Mengatasi Napas Grok-grok pada Bayi

Nggak terasa usia baby Halwa menjelang satu tahun. Dikaruniai anak yang sehat, pintar, lincah, pertumbuhan dan perkembangan sesuai tahap usia adalah hal yang patut disyukuri.

Flashback setahun lalu saat saya dan mas Ry hanya berduaan saja (tanpa keluarga) menghadapi persalinan, saat menegangkan di ruang bersalin, hingga masa setelah Halwa lahir. Namanya juga perantau, kudu mandiri donk Mak! Pengasuhan Halwa pun mostly ditangani saya dan Mas Ry.

Jauh-jauh hari sebelum Halwa lahir, saya melakukan beberapa persiapan “ilmu” untuk menghadapi situasi tidak-ada-yang-membantu-merawat Halwa, antara lain dengan membaca buku-buku pengasuhan dan perawatan bayi. Mengikuti Whatsapp grup support ASI Eksklusif, mengikuti seminar pre-natal, dll. Untuk apa? Biar nggak panik-panik amat pas punya bayi nantinya, Mak.

Seminggu setelah Halwa lahir, semua berjalan baik-baik saja tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah ya. Nah, saat Halwa berusia 2-3 minggu, mulailah kepanikan terjadi. Saat itu saya mendengar napas halwa bunyi “grok grok” kasar seperti ada yang menyumbat jalan napasnya. Meskipun tadi saya bilang sudah “persiapan ilmu” sebelum punya bayi, tapi tetap saja menghadapi realita itu lumayan bikin emak panik, he he he. Apalagi waktu itu Mas Ry sudah pergi ke kantor, saya hanya berdua saja dengan baby Halwa dan napas grok-grok-nya. Maju mundur mau periksa ke dokter anak sambil mikir: “Ini wajar nggak ya? Perlu ke dokter nggak ya?” (Ngaku deh, sebagian ibu yang baru punya satu anak pasti pernah begitu juga kan, panikan, bertanya-tanya anak saya begini wajar nggak, anak saya nggak poop berhari-hari wajar nggak, anak saya nggak mau nyusu maunya bobo mulu wajar nggak? Hehehe, begitulah ya emak baru).

Akhirnya saya cari tahu tentang napas grok-grok pada bayi. Saya tanya ke teman yang berprofesi dokter dan dia sudah lebih berpengalaman mengasuh 3 orang anak. Menurutnya, napas yang berbunyi tersebut disebabkan karena terdapat lendir di saluran napasnya dan ini umum terjadi pada newbon. Dia sarankan olesi transpulmin yang bisa dibeli di apotek dan sering-sering jemur Halwa pagi hari. Hari itu juga saya minta Mas Ry mampir apotek sepulang dari kantor. Beli si transpulmin yang dimaksud. Oh ya ternyata transpulmin ada dua macam, untuk anak di bawah 2 tahun dan di atas 2 tahun. Jadi, untuk Halwa saya beli Transpulmin BB (Balsam Bayi).

Untuk selanjutnya, Transpulmin BB ini selalu saya gunakan jika Halwa terindikasi batuk pilek (selesma / commom cold).

Continue reading “Mengatasi Napas Grok-grok pada Bayi”

Please follow and like me:

The Best Gift is Love

Seseorang pernah berkata pada saya enam tahun lalu, “Kalau nggak mau kecewa dan sakit hati, jangan jatuh cinta dulu karena wanita lebih rentan patah hati”. Jawaban itu keluar dari seorang kakak, di hari pernikahannya, saat saya bertanya bagaimana akhirnya dia memilih laki-laki sebagai pendampingnya. Dalam hati saya salut, sambil membatin “Bagaimana bisa ya menikah tanpa jatuh cinta. Dia bisa, tapi saya belum tentu bisa seperti dia. Kondisi ini tidak berlaku untuk semua orang”.

Dua tahun yang lalu….

Mei 2015. Sepulang dari Jepang setelah menghadiri konferensi ilmiah di Yokohama, saya landing di Soekarno Hatta dan sedang menanti bagasi. Ada seorang teman mengirim chat bermaksud mengenalkan seorang laki-laki pada saya. Jujur saja saya agak malas meresponnya. Saya malas dengan topik perjodohan, apalagi menikah, karena tekad saya bulat untuk memperjuangkan kembali kesempatan studi master di UK. Marriage is 1000 miles away… Malam itu, di tengah lelah dalam perjalanan taxi menuju Depok, saya memaksakan diri untuk berbasa-basi merespon teman saya karena nggak enak kan ya kalau langsung menolak.

Juni 2015. Entah bagaimana awalnya, saya yang sekadar berbasa-basi dan bermaksud menolak halus tawaran perkenalan dari teman saya itu, akhirnya dipertemukan dengan si laki-laki. Dan entah kenapa, saya bersedia sampai tahap itu. Saya sendiri bingung. Kami ketemuan bertiga: saya, teman saya, dan si laki-laki. Setelah ketemuan itu, saya berniat nggak akan melanjutkan ke tahap lebih serius. Sudah stop saja lah. Saya mau fokus lanjut studi dulu. Tapiii, lagi-lagi si pihak lelaki berniat untuk ke tahap serius. Nah loh, saya harus cari alasan buat nolak dengan elegan #lho.

Juli 2015. Saya berniat menolak, by evidence based. Iya harus berdasar bukti biar logis. Nggak hanya sekadar “I dont like you” kemudian kelar perkara. Karena jiwa researcher sepertinya sudah tertanam dalam mindset, saya minta waktu kurang lebih 2 minggu untuk mengeksplor si laki-laki. Saya ajukan beberapa pertanyaan kualitatif, melakukan indepth interview, tidak lupa triangulasi informasi *halaah*. Jarak usia dan perbedaan background menjadi salah satu hambatan untuk bisa menggali informasi tentang si laki-laki. Akhirnya, setelah saya berhasil mengumpulkan cukup informasi dari beberapa sumber, saya berkesimpulan bahwa saya belum menemukan celah untuk menolak si laki-laki ini. Selanjutnya, saya hanya pasrah beristikharoh dan menyerahkan ke ortu saya.

Agustus 2015. Sebulan setelah si laki-laki menemui ortu saya, diadakan pertemuan antarkeluaga untuk melakukan prosesi lamaran. Saya masih agak kaget dan nggak menyangka bisa sampai tahap ini.

September 2015. Sebulan setelah proses lamaran dan pertemuan kedua keluarga, kami menikah. Taraaaaa………. (Happy Ending).

Singkat cerita, begitulah bagaimana saya dan si laki-laki, sebut saja Mas Ry, menikah. Prosesnya secepat kilat. Mungkin begitulah yang namanya takdir ya. Kurang dari empat bulan berkenalan, berakhirnya di pelaminan. Awalnya tentu saja saya dipenuhi keraguan karena belum berencana menikah (apalagi secepat itu) tapi akhirnya dipertemukan juga dengan pendamping hidup. Tentunya masih banyak cerita tentang kebimbangan di dalamnya (yang tidak saya kupas tuntas) hingga akhirnya saya memutuskan untuk menikah.

Apakah saya cinta Mas Ry?

Jujur saja tidak ada cinta di awalnya. Ternyata kalimat enam tahun lalu yang dikatakan seorang kakak terjadi juga pada saya. Bahwa, bisa ya menikah tanpa ada rasa cinta. Iya sangat bisa, saya sudah membuktikannya sendiri. Koq bisa? Entah ya, saya hanya berbekal istikharoh dan tiba pada keyakinan bahwa Mas Ry adalah seseorang yang ditakdirkan untuk saya. Dia adalah jawaban dari doa-doa saya.

Setelah menikah, masa sulit bagi saya dan Mas Ry untuk beradaptasi satu sama lain. Saya yang defaultnya belum mahir dan disiplin mengurus diri sendiri, tiba-tiba harus “dibebani” untuk mengurus Mas Ry. Meskipun Mas Ry tipikal orang mandiri dan nggak banyak menuntut, ada dorongan kuat dalam diri saya bahwa seorang istri harus bisa masak, rajin bangun pagi, rapi mengurus rumah, dan minimal menyiapkan secangkir teh untuk suami. Aduhai itu beban berat buat saya loh.

Ke tukang sayur  saya lebih sering kesiangan dan kehabisan sayuran. Di tukang sayur pun, kadang saya masih suka tanya-tanya mana lengkuas dan mana jahe, atau pertanyaan tentang bumbu yang dipakai untuk masak sayur ini dan itu. Tukang sayur adalah saksi hidup betapa kemampuan masak saya di bawah rata-rata. Hahhaa. Nguprak resep dan mengolah sayur lauk bisa menghabiskan 2 jam di dapur. Effort yang besar buat saya loh untuk bisa menyiapkan hidangan makan malam dan sarapan. Dan saya akan sangat kesal kalau Mas Ry makannya cuma sedikit. Iya dulu saya sering ngambek dan nangis karena merasa usaha saya nggak dihargai, padahal sih mungkin memang rasa masakannya yang nggak enak. Hehe.

 

Kapan ada cinta?

Saya mulai bisa merasa nyaman hidup dengan Mas Ry adalah saat saya menyadari bahwa rasa sayangnya ke saya begitu besar, terutama saat saya hamil baby Halwa. Awal kehamilan yang tidak mudah bagi saya karena obgyn berkata ada risiko keguguran sehingga saya harus bedrest beberapa minggu. Mas Ry selalu bisa menenangkan dan menguatkan saya saat itu. Dia pernah ijin pulang dari kantor hanya demi memastikan istrinya mau makan siang. Dia pernah menerjang hujan demi memenuhi permintaan istrinya yang sedang ngidam sate. Dia yang ikhlas dicubit istrinya kalau mengendara motornya nggak smooth, sudah begitu masih dibandingkan pula dengan abang gojek yang mengendara motornya lebih pelan karena tau penumpangnya hamil. Dia yang bersemangat bangunin dan anterin istri di Minggu pagi agar istrinya mau ikut prenatal yoga, kalimat pamungkasnya kalau saya males-malesan bangun “Ini yang hamil siapa ya, kenapa aku yang ribut”. Hehehe. Dia juga selalu menemani dan antar jemput saya di setiap aktivitas. Dia menurut saja saat saya “jerumuskan” dia untuk ikut kelas persalinan, kelas edukasi ASI, dan aktivitas yoga couple.

Saat baby Halwa lahir, kami berdua yang notabene perantau hanya berdua-duaan saja menyambut baby Halwa di RS. Mas Ry membuktikan dirinya pantas dilabeli suami siaga, dia yang mondar-mandir mengurus segala hal. Tidak sekalipun mengeluh walaupun saya tahu raut wajahnya menunjukkan kelelahan.

Saat saya terkena baby blues syndrom pascamelahirkan, Mas Ry dengan sabarnya saban hari mendengarkan curhatan saya yang isinya itu-itu saja: lelah menjaga bayi seorang diri, nyerinya puting lecet, bekas jahitan yang masih nyut-nyutan, pekerjaan kantor yang tak kunjung selesai (walaupun saya ambil cuti tapi masih ada PR yang harus saya kerjakan). Hampir setiap pulang kantor dia mendapati istrinya menangis sesenggukan atau bermata sembab sambil mewek bilang “Kayaknya aku belum pantes jadi seorang Ibu. Aku belum siap punya anak”. Mungkin dalam hatinya Mas Ry bilang “Lha itu bayi udah brojol tapi koq belum siap punya anak” *tepok jidat* haha.

Begitulah kurang lebihnya, cinta itu tumbuh subur karena dipupuk. Ternyata sayang dan cinta bisa dibangun melalui proses. Meskipun tidak pernah ada bucket bunga untuk saya, bukan berarti dia tidak sayang. Kata Mas Ry, daripada uangnya buat belikan bunga kan mending buat beli durian, bisa dimakan. Ya ya ya, itulah suami saya. Efisien. Kami jarang sekali mengumbar keromantisan di media sosial. Boro-boro saling komentar semacam “I love you” di status update, lha wong update status saja kami jarang melakukan. Kalau pun tag atau mention, paling bagus hanya di-like or love oleh si pasangan. Kalau lagi sama-sama kurang kerjaan barulah kami saling berbalas komentar, haha.

Romantis yang belakangan ini saya maknai adalah saat dia selalu ada untuk saya, menyodorkan bahu atau menawarkan dekapan saat saya dalam situasi insecure. Romantis tidak melulu ditampilkan menjadi konsumsi publik, cukup kami yang meresapinya sepenuh jiwa. Pada akhirnya, dialah si romantis yang selalu bisa saya andalkan dan saya sayangi.

Kejutan untuk si dia

Kami jarang saling memberi gift untuk kejutan, tapi kami sering mengejutkan satu sama lain (hehe). Bagaimana tidak terkejut kalau apa yang baru saja terlintas di pikiran, ternyata bisa seolah “dibaca” oleh si dia? Entah saya ataupun Mas Ry sering sekali merasakan hal itu. “Itu yang namanya sehati kali ya”, kata Mas Ry. Saya hanya mengangkat bahu.

Pernah suatu ketika dengan sengaja saya tanya hadiah apa yang sedang dia inginkan? Tanpa basa basi, langsung dijawab: “Jam Tangan”. Langsung saya mengecek harga jam tangan, Mas Ry lanjutin lagi “Jam Tangan Suunto Ambit3”. Pas saya cek detilnya, ya ampun harganya mahal hahahaha. Jadi urung niat mau kasih hadiah dalam waktu dekat, perlu nabung-nabung dulu kalau harganya selangit begitu sih.

Tapi menurut saya nggak apa juga kalau suatu saat saya benar-benar menghadiahi  si Suunto Ambit itu buat Mas Ry, sebagai rasa terima kasih atas pengorbanan, keikhlasan, kasih sayang, dan pengertiannya selama ini. Sabar dulu tapi ya Sayang, hehe. Kalau mau hadiah yang realistis dan bisa segera dibeli barangkali baju baru buat lebaran kali ya. Kan sebentar lagi masuk bulan suci Ramadhan, nah saatnya pula hunting baju lebaran 2017. Hehehe…

Love is the Best Gift

Akhirnya saya berkesimpulan kalau cinta adalah anugerah terindah yang nilainya tak terkira. Menikah tanpa jatuh cinta sangatlah mungkin, bukan berarti tidak akan pernah ada cinta dan rasa sayang. Cinta itu perlu ditanam, disiram, dan dipupuk agar tumbuh subur. Salah satu cara menjaganya adalah dengan saling memberi hadiah atau kejutan antarpasangan. Tidakpun dengan pemberian barang mewah sebagai hadiah, kita bisa memberikan perhatian, pelukan, pujian, atau hanya secangkir teh di pagi hari.

Please follow and like me:

Secangkir Teh dalam Pernikahan

Menikmati suguhan teh manis hangat sudah menjadi tradisi masyarakat di Indonesia. Fenomena ini pun akhirnya mendarah-daging di keluarga saya. Entah apakah ini suatu tradisi, tetapi membuatkan secangkir teh untuk suami di pagi hari laiknya suatu kewajiban.

Pernikahan saya baru genap setahun. Saya bukan tipe yang rajin menyuguhkan teh di pagi hari, tidak seperti ibu saya atau ibu-ibu kebanyakan di daerah saya, Jawa Tengah. Gimana mau menyuguhkan teh kalau saya saja sering bangun lebih siang daripada suami, bahkan seringkali saya masih terlelap saat suami berpamitan pergi ke kantor. Oops! Untungnya, Mas Ry nggak pernah protes. Walaupun jarang membuat teh pagi-pagi, tetapi wajib banget bikin teh panas menjelang petang untuk menyambut suami pulang. Stok teh memang nggak boleh kosong di rumah saya. Continue reading “Secangkir Teh dalam Pernikahan”

Please follow and like me: