Gadget untuk Anak, YES or NO?

Karakteristik anak di era digital

Akhir-akhir ini saya sedang mencari informasi tentang penggunaan gadget untuk anak. Saya merasa, melahirkan anak di zaman millennial seperti sekarang ini pastilah tantangan ke depan akan semakin berat. For your info, anak era digital punya karakteristik tersendiri misalnya: punya ambisi besar untuk sukses, cinta kepraktisan dan kebebasan, berperilaku instan, percaya diri, punya keinginan besar untuk mendapat pengakuan, serta update dengan teknologi informasi dan digital. Continue reading “Gadget untuk Anak, YES or NO?”

Please follow and like me:

Metode Montessori itu Simpel, Belajar di Montessori Haus Asia Yuk!

Bismillah…

Bicara soal metode Montessori, saya langsung teringat dengan seorang teman, Julia Sarah Rangkuti (JSR). Mungkin ibu-ibu muda kekinian sudah nggak asing ya dengan nama tersebut? Ya, JSR adalah seorang Ibu muda dengan 3 orang anak yang sekaligus sebagai praktisi Montessori. Coba deh kalian tengok akun instagramnya di @juliasarahrangkuti, berbagai informasi dan pengetahuan tentang metode Montessori sering dia bagikan di feed instagramnya.

Jauh sebelum saya tahu apa dan bagaimana itu metode Montessori, di pemikiran saya  “Metode Montessori adalah bermain sambil belajar, dengan memanfaatkan benda apa saja yang ada di rumah”. That’s it. Bagi saya yang awam saat itu, melihat JSR yang sering posting momen dia bermain dengan anak-anaknya menggunakan bahan-bahan yang sangat simple dan mudah ditemukan di rumah rasanya brilliant sekali idenya. Kreatif! Sejak saat itulah saya perlahan menerapkan metode ini kepada anak saya. Berusaha memutar otak memanfatkan apa saja barang-barang di rumah yang bisa digunakan sebagai alat bermain dan memicu kreativitas.

Continue reading “Metode Montessori itu Simpel, Belajar di Montessori Haus Asia Yuk!”

Please follow and like me:

Review MOOIMOM: Stretch Mark Cream, Hands Free Pumping Bra

Review MOOIMOM: Stretch Mark Cream, Hands Free Pumping

Assalamualaykum, Moms. Setelah saya review beberapa produk Mooimom yaitu korset, bra menyusui, dan baju pelangsing (review bisa dilihat di sini), kali ini saya mau memberikan review lagi untuk dua produk Mooimom lainnya yaitu krim stretch mark dan hands free pumping bra.

 

MOOIMOM STRETCH MARK CREAM

Siapa di sini yang pas hamil atau setelah melahirkan punya garis-garis cinta alias stretch mark? Katanya sih tak usah kau risaukan itu Mom karena itu adalah bukti cinta dan perjuangan sebagai seorang Ibu. Masa’ sih? Kalau saya sih nggak risau, cuma risih saja. Kalau bisa diatasi dengan menyamarkan stretch mark, kenapa tidak dicoba, ye kan? Continue reading “Review MOOIMOM: Stretch Mark Cream, Hands Free Pumping Bra”

Please follow and like me:

Nak, Selalu Ada Cinta dalam Untaian Doa Untukmu

Saya bekerja di salah satu pusat riset di kampus. Usai cuti melahirkan dan saya harus kembali ke rutinitas pekerjaan, hari pertama masuk kerja Halwa dititipkan di daycare. Jangan tanya bagaimana perasaan saya waktu ninggalin dia di sana ya, campur aduk dan baper banget!

Saat saya masuk kantor dan berjumpa dengan Bapak-Ibu Profesor dan teman-teman, mereka menanyakan di mana anak saya. Saya jawab  “daycare”. Tahu apa respon mereka? Mereka kompak menasehati saya agar jangan titip Halwa di daycare, kalau memang saya belum punya asisten, bawa saja Halwa ke kantor. WOW! Saya bener-bener terharu diizinkan membawa bayi saya ke kantor. Ah rasanya bahagia dan bersyukur banget bekerja di lingkungan seperti ini, tempat yang sangat ramah dan bernuansa kekeluargaan.

Sejak saat itu, dimulailah hari-hari saya membawa Halwa ke kantor setiap hari hingga dia berusia 10 bulan. Saya cukup bahagia karena di saat working mom di Indonesia pada umumnya hanya punya waktu intens bersama anak selama 3 bulan saat cuti, saya punya waktu yang lebih panjang lagi. Tapi jangan salah ya, beban pikiran saya juga semakin bertambah. Continue reading “Nak, Selalu Ada Cinta dalam Untaian Doa Untukmu”

Please follow and like me:

Review MOOIMOM: Corset, Nursing Bra, Slimming Suit

Dilema sebagian ibu-ibu setelah melahirkan adalah perut yang menggelambir hihihi. Mau bagaimana lagi, 9-10 bulan “mengantongi” jabang bayi, setelah bayi keluar longgarlah perut para emak. Sebelum melahirkan, saya berikrar (pada diri sendiri sih) bahwa saya akan rajin pakai korset. Alamaaaak, kenyataannya rajin sih rajin tapi nggak nyamannya itu loh yang membuat saya tersiksa memakai korset.

Dua hari pertama setelah melahirkan, saya memakai gurita khusus ibu. Lalu, hari ketiga dan selanjutnya saya memakai korset 3-band (korset dengan 3 perekat). Tapi malangnya, kulit saya yang sensitif menjadi kemerah-merahan dan gatal-gatal setiap kali memakai korset 3-band. Selain itu, timbul ketidaknyamanan juga saat memakai karena korsetnya suka menggulung sendiri sehingga harus sering dibetulkan posisi rekatannya.

Ternyata hunting korset yang nyaman dan ramah kantong itu nggak gampang buat saya. Sampai akhirnya saya menemukan korset MOOIMOM yang bahannya nyaman, cara memakainya nggak ribet, dan harganya cukup affordable.

Saya punya tiga macam korset MOOIMOM. Karena reviewnya menurut saya positif dan saya puas memakainya, saya pun mencoba produk MOOIMOM lainnya yaitu bra dan baju pelangsing. Berikut reviewnya.

Continue reading “Review MOOIMOM: Corset, Nursing Bra, Slimming Suit”

Please follow and like me:

Mengatasi Napas Grok-grok pada Bayi

Nggak terasa usia baby Halwa menjelang satu tahun. Dikaruniai anak yang sehat, pintar, lincah, pertumbuhan dan perkembangan sesuai tahap usia adalah hal yang patut disyukuri.

Flashback setahun lalu saat saya dan mas Ry hanya berduaan saja (tanpa keluarga) menghadapi persalinan, saat menegangkan di ruang bersalin, hingga masa setelah Halwa lahir. Namanya juga perantau, kudu mandiri donk Mak! Pengasuhan Halwa pun mostly ditangani saya dan Mas Ry.

Jauh-jauh hari sebelum Halwa lahir, saya melakukan beberapa persiapan “ilmu” untuk menghadapi situasi tidak-ada-yang-membantu-merawat Halwa, antara lain dengan membaca buku-buku pengasuhan dan perawatan bayi. Mengikuti Whatsapp grup support ASI Eksklusif, mengikuti seminar pre-natal, dll. Untuk apa? Biar nggak panik-panik amat pas punya bayi nantinya, Mak.

Seminggu setelah Halwa lahir, semua berjalan baik-baik saja tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah ya. Nah, saat Halwa berusia 2-3 minggu, mulailah kepanikan terjadi. Saat itu saya mendengar napas halwa bunyi “grok grok” kasar seperti ada yang menyumbat jalan napasnya. Meskipun tadi saya bilang sudah “persiapan ilmu” sebelum punya bayi, tapi tetap saja menghadapi realita itu lumayan bikin emak panik, he he he. Apalagi waktu itu Mas Ry sudah pergi ke kantor, saya hanya berdua saja dengan baby Halwa dan napas grok-grok-nya. Maju mundur mau periksa ke dokter anak sambil mikir: “Ini wajar nggak ya? Perlu ke dokter nggak ya?” (Ngaku deh, sebagian ibu yang baru punya satu anak pasti pernah begitu juga kan, panikan, bertanya-tanya anak saya begini wajar nggak, anak saya nggak poop berhari-hari wajar nggak, anak saya nggak mau nyusu maunya bobo mulu wajar nggak? Hehehe, begitulah ya emak baru).

Akhirnya saya cari tahu tentang napas grok-grok pada bayi. Saya tanya ke teman yang berprofesi dokter dan dia sudah lebih berpengalaman mengasuh 3 orang anak. Menurutnya, napas yang berbunyi tersebut disebabkan karena terdapat lendir di saluran napasnya dan ini umum terjadi pada newbon. Dia sarankan olesi transpulmin yang bisa dibeli di apotek dan sering-sering jemur Halwa pagi hari. Hari itu juga saya minta Mas Ry mampir apotek sepulang dari kantor. Beli si transpulmin yang dimaksud. Oh ya ternyata transpulmin ada dua macam, untuk anak di bawah 2 tahun dan di atas 2 tahun. Jadi, untuk Halwa saya beli Transpulmin BB (Balsam Bayi).

Untuk selanjutnya, Transpulmin BB ini selalu saya gunakan jika Halwa terindikasi batuk pilek (selesma / commom cold).

Continue reading “Mengatasi Napas Grok-grok pada Bayi”

Please follow and like me:

Tips Memilih Popok Sekali Pakai yang Tepat untuk Bayi Baru Lahir

Hallo mommies, akhirnya saya bisa memposting artikel yang berkaitan dengan bayi. Setelah melahirkan dan penuh dengan keriweuhan mengurus baby Halwa, saya memplokamirkan diri menjadi mom blogger (prok, prok, prokkk). Saya baru punya satu anak, mohon maklum ya kalau masih proses belajar urus bayi, mohon maklum kalau nanti akan banyak mengeluh rempong, mohon maklum kalau nggak rajin posting blog #eeh.

Di postingan kali ini, saya pengen sharing tentang pemilihan popok untuk si kecil, terutama newborn ya. Awalnya banyak kegalauan untuk memilih popok bayi. Ada yang menyarankan agar beberapa bulan pertama pakai popok kain saja, jangan pakai popok sekali pakai (pospak) karena risiko ruam. Tapi, kondisi saya saat itu tidak memungkinkan untuk konsisten memakaikan popok kain. Lelahnya itu subhanallah… Bayi sehari pipis berkali-kali, kalau pakai popok kain bukan hanya popoknya saja yang basah tapi juga alas ompol dan bedongnya. Untuk mencuci setumpukan cucian bayi itu loh penuh perjuangan sekali. Mamak lelah dan angkat tangan deh pokoknya.

Akhirnya saja berubah haluan, saya mix penggunaan antara popok kain dan pospak. Sebelum memilih pospak, saya baca review ibu-ibu tentang pospak. Saya juga banyak bertanya ke ibu-ibu senior tentang rekomendasi pospak pilihan ibu-ibu. Setelah mendapat cukup informasi, saya mengambil beberapa kesimpulan tentang hal-hal yang harus diperhatikan saat memilih popok bayi sekali pakai:

  1. Gampang dicari

Maksud ‘gampang dicari’ adalah popoknya banyak dijual di pasaran. Mulai dari warung kelontongan, mini market, sampe mall besar sekalipun. Jadi, misalnya  kita kehabisan popok sewaktu-waktu, kita bisa beli popok itu kapan aja dan nggak perlu jauh-jauh ke mall, beli di warung atau mini market juga nggak masalah.

  1. Bahannya lembut

Bahan yang lembut ini penting banget karena akan mempengaruhi kenyamanan si baby saat beraktivitas. Popok yang berbahan lembut akan meminimalisir kulit baby terkena iritasi/ ruam popok. Selain itu, baby juga akan jarang rewel hanya karena popoknya bikin nggak betah gerak.

  1. Daya serap tinggi

Mom, tau donk ya kalau bayi baru lahir itu bisa pipis sampe 20x sehari. Kalau popok yang dipakai nggak punya daya serap yang cepat dan tinggi, pasti sulit menjaga kelembabannya. Daya serap tinggi juga dapat mencegah kebocoran karena lapisannya bisa menyerap pipis berkali-kali sehingga popok bisa dipakai dalam waktu lama.

  1. Lapisan yang punya sirkulasi udara yang bagus

Popok yang bagus menurut saya salah satunya adalah popok yang punya aerasi atau perputaran udara yang bagus, so baby bisa tetap nyaman meskipun sudah pipis beberapa kali dalam satu popok.

  1. Ban pinggang yang nyaman

Satu lagi nih yang menurut saya penting untuk diperhatikan saat mau memilih popok. Bayi yang baru lahir pusarnya kan masih sensitif ya, jadi kita mesti pakaikan dia popok yang ban pinggangnya nyaman dan berlekuk. Hal ini berfungsi untuk melindungi pusar bayi yang belum sembuh.

  1. Meminta saran dari orang terdekat

Menurut saya, testimoni juga penting karena dari situ kita bisa tahu produk yang kita pilih apakah sudah terbukti bagus atau enggak. Testimoni dari orang-orang adalah salah satu faktor penting untuk menentukan apakah kita harus coba pakai produk tersebut atau nggak.

 

Nah, 6 hal di atas menurut saya sangat penting untuk diperhatikan saat memilih popok bayi sekali pakai, apalagi untuk newborn baby yang kulitnya masih sensitif sekali. Saya sendiri sempat beberapa kali berganti merk pospak karena nggak langsung cocok ketika dicoba di kulit bayi. Pas kebetulan Ibu Prof di kantor menghadiahi MamyPoko Extra Dry Newborn banyak banget buat Halwa, saat dipakai ternyata cocok banget buat kulit Halwa. Akhirnya sampai sekarang saya memakai Mamypoko, itu juga karena dapat saran dari teman-teman dan review ibu-ibu di grup WA banyak memakai produknya Mamypoko. Jadi bisa dibilang Mamypoko ini memang sudah dipercaya dari generasi ke generasi hehehe.

Baby Halwa nyaman memakai MamyPoko Extra Dry Newborn, bobonya pules dan jarang rewel kebangun (kebangun kalau pas mau minta nenen aja). MamyPoko Extra Dry punya lapisan bergelombang yang bisa menyerap banyak cairan dan mengunci pipis di dalamnya, jadi lapisan keringnya tetep terjaga. Sirkulasi udaranya bagus karena lapisannya berpori sehingga panas dan lembab bisa terlepas dan kulit bayi bebas iritasi/ruam.

Saya jadi lega kalau bawa baby Halwa jalan-jalan keluar rumah dalam waktu lama karena dia bisa betah beraktivitas tanpa nangis kejer gara-gara popoknya bikin iritasi atau gerah. Btw, saya baru tahu kalau Mamypoko juga punya popok yang khusus untuk bayi prematur loh. Ukurannya menyesuaikan ukuran tubuh baby yang lahirnya prematur. Jadi, nggak perlu bingung lagi buat mommies yang punya bayi premature karena si Mamypoko ini menurut saya sangat menolong.

Selain MamyPoko Extra Dry dan Extra Soft, Halwa cocok juga pake produk Pampers (yang premium dominasi warna pink-gold), Sweety Premium, Nepia Genki (ini produk paling oke dan mahal yang pernah dipake), terus sekarang nemu lagi popok andalan dengan harga terjangkau dan kualitas juga oke yaitu Merries (warna ijo). Itu semua merk yang Mommy rekomendasikan untuk dicoba ya Moms, silakan.

Oh iya, Mom. Selain hal-hal di atas, waktu milih popok biasakan juga untuk mencari testimony dari teman atau keluarga yang pernah pakai produk tersebut. Kalau memang testimoninya bagus, ya nggak ada salahnya buat dicoba. Seperti saya kemarin-kemarin banyak bertanya dan minta rekomendasi keluarga dan teman-teman, hehehe.

Sekian tips per-popok-bayi-an dari saya, nantikan cerita-cerita lainnya ya Mom.

Please follow and like me:

Pengalaman Melahirkan dengan “Gentle Birth” dan Minim Trauma

Sabtu, 1 Oktober 2016 usia kandungan saya tepat 38 minggu 5 hari. Pagi itu tidak ada yang berbeda dari sebelumnya. Weekend adalah waktunya saya dan suami bisa menghabiskan waktu bersama. Rutinitas weekend kami memang agak berbeda selama saya hamil. Sabtu adalah waktunya kontrol ke dokter untuk antenatal care (ANC) dan Minggu pagi adalah waktunya saya untuk mengikuti kelas prenatal yoga di dekat danau Kampus UI. Pagi itu kami sudah bersiap untuk jalan-jalan, kebetulan saya lagi pengen banget makan lontong sayur. Namun, tiba-tiba segala rencana berubah arah hari itu.

Pukul 06.30

Saya merasakan nyeri di perut bagian bawah. Hal ini wajar terjadi karena di usia kehamilan trimester ketiga, kontraksi palsu yang ditandai dengan perut terasa kencang di bagian bawah seringkali saya alami. Biasanya sih hal ini terjadi kalau saya lagi kecapean.

Pukul 07.00

Ketika saya cek, keluar lendir dan darah segar dari vagina dan volumenya agak banyak. Agak banyak di sini maksudnya seperti ketika saya sedang menstruasi hari ke-2-4 saat darah yang mengalir sedang banyak-banyaknya. Nyeri di perut datang semakin intens. Kalau boleh dibilang, nyerinya itu seperti nyeri haid. FYI, bagi sebagian wanita, nyeri haid adalah bukan hal yang main-main karena rasanya aduhaiii… saya sendiri kalau lagi haid sering guling-guling di kasur, meringkuk, dan nggak bisa bangun. Hehehe. Namun, nyerinya kali itu masih bisa saya atasi.

Saya telepon ibu saya di kampung untuk mengabari kondisi saya pagi ini. Saya telepon dengan nada ceria seperti biasanya, sesekali meringis nahan nyeri sih. Ibu orangnya agak panikan jadi kalau saya mengabarinya pakai nada panik, beliau pasti ikut panik. Hehe. Benar saja, saya yang mengabari dengan suara sebiasa mungkin ternyata membuat ibu heboh. “Cepetan ke rumah sakit loh soalnya ada orang yang tipe melahirkannya emang cepet, jangan sampai kebrojolan di rumah!”. Wkwkwkwkwk…

Saya dan suami bersiap ke rumah sakit. Satu tas besar yang berisi kebutuhan newborn dan ibu pascamelahirkan sudah saya siapkan jauh-jauh hari sehingga hari itu kami tidak kelabakan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Saya orangnya yang agak santai (tapi serius) pagi itu masih sempat saja mengeringkan rambut pakai hair dryer sembari menunggu driver taksi datang menjemput.

Saya cek waktu kontraksinya muncul sudah teratur per 5 menit sekali. Wow! Padahal sependek yang saya tahu biasanya kontraksi menjelang persalinan itu diawali dengan kontraksi palsu yang sering muncul dan hilang. Biasanya juga terjadi beberapa jam sekali hingga pada akhirnya teratur terjadi per 10 menit sekali, dan seterusnya.

Ketika driver taksi datang, saya mengatur napas dan menghitung waktu agar saya bisa berjalan dengan baik keluar rumah menuju ke dalam taksi. Rasanya ya masih sama, nyut-nyut seperti nyeri haid tapi munculnya sudah teratur tiap 5 menit sekali. Jadi saat nyut-nyut itu hilang, saya segera berjalan ke arah taksi. “Bisa jalan nggak?” tanya ibu kontrakan yang rumahnya masih satu komplek dengan rumah kami ketika melihat saya keluar rumah. “Hehehe, jangankan jalan Bu, joget aja saya masih bisa,” seloroh saya sambil nyengir. 😛

Pukul 08.30

Saya tiba di lobi RS dan langsung menuju ke bagian informasi untuk bisa mengakses ruang bersalin. Di sinilah saya merasa betapa pentingnya mengumpulkan informasi-informasi terkait rencana persalinan dari jauh-jauh hari. Ketika hari-H itu terjadi, saya tidak panik karena saya tahu harus datang ke bagian mana. Bahkan saya sudah reservasi ruang perawatan ibu dan bayi dari jauh-jauh hari.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya perawat di bagian informasi.

“Saya mau ke ruang bersalin, kayaknya sih saya mau melahirkan”, jawab saya.

Perawat itu agak tergopoh mengambilkan kursi roda untuk saya dan saya disuruh duduk di atasnya

“Emmm, saya masih bisa jalan koq Mba,” kata saya menolak halus. Iya saya memang masih kuat berjalan.

SOP nya begitu Bu, nggak apa-apa duduk saja di sini nanti saya antar ke ruangan,” kata si perawat. Ya sudah saya manut deh.

Saya dibawa ke ruangan observasi. Sebelumnya, saya ijin ke toilet. Maklum ya ibu hamil besar hobi banget keluar-masuk toilet.

“Bisa jalan ke toilet sendiri Bu?” tanya perawat di ruang observasi. Setelah saya mengiyakan, dia menunjukkan letak toilet.

Di ruang observasi, bidan melakukan cek dalam atau cek panggul (Vaginal Toucher) untuk tahu sudah ada pembukaan jalan lahir atau belum. Dia memasukkan jari ke dalam vagina saya, pemeriksaan ini dirasa nggak nyaman bagi sebagian besar kaum wanita. Tapi menurut saya sih nggak sakit, hanya risih sedikit. Saya tahu kalau saya harus rileks agar otot sekitar vagina juga bisa rileks saat pemeriksaan dalam.

“Sudah ada pembukaan Bu?” tanya saya.

“Ya, sekitar 2 atau 3 lah,” kata si bidan.

“Ooouh… begini toh rasanya pembukaan 2 atau 3, gimana kalau sudah mau pembukaan lengkap ya? Nyerinya pasti Wowwww bangettt,” batin saya. Saya tetap berusaha rileks dan mengatur napas.

Sekitar 10 menit kemudian, bidan memberi tahu saya kalau dokter obgyn saya kebetulan sedang ada tindakan di ruangan tersebut jadi bisa sekaligus mengobservasi saya. Ah iya, kebetulan sekali memang hari Sabtu yang seharusnya saya bertemu obgyn di poliklinik untuk ANC, sekarang malah bisa ketemu di ruang observasi.

Cek panggul kembali dilakukan oleh obgyn. Agak lama dan khidmat dia mengeceknya, lebih lama dari si bidan sebelumnya.

“Gimana Dok? Sudah pembukaan berapa?” tanya saya.

Dokter berhenti sejenak. Dia melanjutkan “Ibu, ini udah bukaan 8! Ibu tahan nyeri banget sih Bu!” serunya dengan nada terkejut.

Saya cuma tersenyum, dalam hati deg-degan banget. Saya sambil berpikir juga masa iya jarak antara pembukaan 2-3 ke pembukaan 8 hanya selang beberapa menit ya? Atau mungkin bidan tadi yang kurang jeli ngeceknya sehingga dia kira masih pembukaan 3. Ahh yasudah lah yaaa…

Tim tenaga kesehatan yang akan membantu saya bersalin bersegera mempersiapkan ruangan bersalin untuk saya. Sebelum saya dipindah dari ruang observasi ke ruang bersalin, saya ijin lagi untuk ke toilet (tuh kan, hobi banget ke toilet). Kali ini bidan dan perawat kompak melarang saya. Katanya, sudah pembukaan besar dilarang jalan-jalan. Akhirnya mereka membantu saya BAK menggunakan pispot.

Di ruang bersalin, kondisi saya masih sama seperti sebelumnya ketika di rumah. Entah perawat atau bidan ada yang bertanya kepada saya, lebih tepatnya mungkin dia heran karena reaksi saya –di saat pembukaan delapan ini- biasa saja tidak seperti ibu hamil kebanyakan, bahkan saya malah mau ijin jalan ke toilet sendiri. Apakah benar saya biasa saja? Hahaha, sebenarnya rasanya campur aduk. Maklum pengalaman pertama.

Menuju Pertemuan yang Membahagiakan

Hi world, my name is Adzkia Halwa

Saya terbaring di atas bed dan merasakan kesibukan di sana sini mempersiapkan segala sesuatunya. Ada yang memasangkan selang oksigen, ada yang memasukkan jarum infus di pergelangan tangan saya, dan ada yang memantau alat detak jantung. Semua sibuk dengan urusan masing-masing.

Saya seperti bermeditasi sejenak di ruangan itu sambil berusaha mengatur pernapasan sebaik mungkin. Gelombang cinta dari sang bayi datang semakin hebat dan hebatnya. Saya mencoba berkomunikasi dengan diri sendiri, Allah, dan janin di dalam kandungan saya. This will be pass… Allah sudah ciptakan janin dalam rahim saya, Allah pasti juga sudah berikan jalan lahir untuknya. Allah sudah mendesain tubuh saya sedemikian rupa beserta perangkat-perangkatnya untuk bisa mengandung dan melahirkan bayi saya. Terlepas dari segala upaya saya selama ini dalam memberdayakan diri, saya berpasrah kepada-Nya. Masih hangat di ingatan saya ketika seminggu yang lalu hasil USG memperlihatkan posisi janin yang masih telentang meskipun kepala sudah berada di bawah. Obgyn mengatakan “Persalinan normal masih mungkin dilakukan tapi agak seret, agak lama bayi keluarnya kalau posisi masih seperti ini. Agar bayi bisa mapan ke posisi yang tepat pun kemungkinannya ada, tapi kalau sudah usia kandungan besar ya agak susah”.

Lantunan dzikir dan untaian doa tak terhenti dari mulut saya, berharap proses persalinan berjalan dengan baik, entah pervaginam atau persectio. Mudah-mudahan ibu dan bayi selamat. Andaikan dalam perjalanannya nanti harus berakhir di meja operasi, saya pun ikhlas. Setiap bayi sudah memiliki cara lahirnya masing-masing. Jika saja terjadi hal-hal di luar dugaan yang menyebabkan komplikasi persalinan tidak tertangani, saya hanya berharap kepada Sang Pemilik Kehidupan agar dimudahkan untuk saya kembali dalam keadaan khusnul khotimah dan syahid. Saya mencoba fokus, saya seolah lupa perkataan obgyn seminggu lalu bahwa letak bayi masih di posisi telentang dengan satu lilitan tali pusat.

Selanjutnya saya berupaya me-recall teknik pernapasan perut yang sering dipraktikkan saat sesi kelas yoga prenatal. Saya pun berusaha mengingat teknik mengejan yang pernah diajarkan oleh instruktur saat senam hamil di RS. Kata orang-orang sih, kalau sudah di ruang bersalin, segala teori yang pernah dipelajari akan terlupakan. Menurut saya? Saya ingat semua yang ingin saya ingat, hanya saja mengaplikasikan pada realitanya saya agak kesulitan karena gelombang cinta itu datang semakin hebat sehingga untuk bisa bernapas dalam dan panjang pun saya sedikit kewalahan.

Saya pun kembali mengajak bayi saya berbicara agar dia kooperatif saat proses persalinan itu tiba. “Kita akan segera bertemu, Nak…”.

Sekitar Pukul 09.30

Perjuangan saya di ruang bersalin hampir mencapai titik puncaknya. Di sela-sela mengejan, terjadi obrolan-obrolan antara saya, obgyn, dan bidan.

“Bu, jangan di angkat, letakkan saja pantat (maaf) nya,” kata dokter berkali-kali.

“Ini udah saya letakkin Dok,” jawab saya sambil mikir pant*t mana lagi yang musti diletakkan.

Ah ternyata ya bersalin itu terkadang membuat kita berada di antara sadar dan tidak sadar. Menurut saya, saya sudah berusaha rileks dan pada posisi yang benar tapi menurut tenaga medis, posisi saya masih salah.

Lucunya lagi, di sela-sela saya mengejan, dokter memberikan instruksi begini,

Dokter: “Ibu, nanti kalau saya bilang STOP, Ibu jangan mengejan ya Bu.”

Saya: “Oke”

Beberapa saat kemudian….

Dokter: “Stop Bu, stop!”…. “Ibu stop jangan ngeden!”

Saya: (sambil berteriak galak) “Saya udah nggak ngeden koq!”

Dokter, perawat, bidan: (heboh) “Ibu stop Bu! Stop!”

Haduh beneran deh saya tuh “merasa” udah nahan untuk nggak ngeden sesuai instruksi dokter tapi ya seperti saya bilang sebelumnya, bersalin itu menempatkan kita dalam posisi antara sadar dan tidak sadar. Hehehe.

Alhamdulillah dengan 3x mengejan, bayi mungil cantik meluncur sempurna pada pukul 09.50, tepatnya kurang dari 4 jam sejak saya merasakan nyeri kontraksi.

Saya: “Eh, udah dok? Udah selesai nih?”

Dokter: “Iya selamat ya Bu, bayinya sudah lahir”

Saya: (masih nggak percaya, nanya lagi ke suami): “Ini udah selesai? Udah lahir beneran?”. Suami mengiyakan. Saya meminta suami untuk “mengawal” bayi kami yang baru lahir, takut tertukar dengan bayi-bayi lainnya. Percaya tidak percaya, cukup banyak bayi yang lahir di tanggal itu. Entah kebetulan atau memang ada yang memilih Hari Kesaktian Pancasila sebagai hari lahir para bayi.

Dokter menjahit luka sobekan (saya sendiri nggak tahu berapa jahitan, dokter tidak memberi tahu). Di sela-sela dokter menjahit bekas robekan, kami pun mengobrol.

Dokter: “Ibu, tadi saya bilang stop jangan ngeden kenapa masih aja ngeden”

Saya: “Beneran deh Dok, saya udah nahan nggak ngeden, bahkan sampai saya nahan napas loh Dok”

Dokter: “Ya nggak usah sampai nahan napas juga kali Bu, hehe. Ini anak pertama ya Bu? Cepet banget lahirnya, sering ikutan senam ya?”

Saya: “Iya Dok, rutin ikutan yoga hamil”.

Dokter: “Kalau sering olahraga memang membantu persalinan. Bayinya tadi juga cepet banget keluarnya kaya roller coaster. Ibu tau roller coaster kan?

Saya: “Iya, saya pernah naik itu (roller coastaer) beberapa kali”

Dokter: “Pantesan, bayinya meluncur tadi Bu keluarnya, hehe”

Obrolan-obrolan tadi membuat saya tidak merasakan sakit dijahit. Tidak terasa dokter selesai menjahit bekas robekan jalan lahir.

Tak henti-hentinya saya mengucap syukur kepada Allah atas kemudahan-kemudahan yang telah Dia berikan kepada saya. Padahal kemarin saya masih masuk kantor seperti biasanya. Teman kantor mengajak jalan ke mall sore harinya, dan malamnya suami masih ngajak nyari angkringan. Keesokan paginya saya merasakan kontraksi dan kurang dari 4 jam bayi saya lahir. Alhamdulillah atas segala kenikmatan ini.

Persalinan yang awalnya saya takutkan akhirnya bisa saja jalani dengan sangat rileks dan gentle. Selama hamil, saya berusaha memberdayakan diri sendiri sehingga sugesti “gentle birth” tertanam dalam benak saya. Saya pun bersyukur karena dipertemukan dengan Komunitas GBUS (Gentle Birth Untuk Semua) yang anggota-anggotanya senang berbagi dan mensupport satu sama lainnya. Yang saya percaya, setiap anak sudah dirancang jalan dan cara lahirnya masing-masing. Kebetulan ini pengalaman pertama saya hamil dan melahirkan. Beruntungnya saya diberi kemudahan dalam menjalani prosesnya sehingga minim trauma. Untuk selanjutnya saya menjadi lebih percaya diri jika suatu saat nanti diberi rejeki untuk memiliki anak lagi.

Saran saya bagi yang sedang menantikan kelahiran buah hatinya: tidak perlu takut. Sugesti diri sendiri bahwa proses persalinan tidak semenakutkan yang sering ditampilkan di televisi itu. Berdayakan diri sendiri, cari ilmu sebanyak-banyaknya seputar proses kehamilan dan persalinan, makan makanan yang bergizi, rajin berolahraga, rencanakan persalinan yang diinginkan, libatkan suami dalam setiap proses, dan yang paling utama adalah perbanyak berdoa.

Selamat menanti datangnya gelombang cinta ya 🙂

 

Please follow and like me:

Program SMSbunda: Upaya Menurunkan AKI di Indonesia

ANGKA KEMATIAN IBU

Angka Kematian Ibu, atau biasa disebut dengan AKI, di Indonesia masih belum juga mencapai target yang diharapkan. Pemerintah dan segenap jajarannya sudah sangat mengusahakan agar AKI bisa turun meskipun hasil penelitian selama beberapa tahun terakhir menunjukkan kalau AKI belum juga mencapai target dalam waktu yang diharapkan.

Kajian Human Development Report 2015 yang dirilis oleh  United Nation Development Program (UNDP), AKI di Indonesia berada pada posisi 190 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut masih sangat jauh dari target Millenium Development Goals (MDG’s) yang disepakati PBB, mestinya pada 2015 toleransi AKI adalah 102 kematian per 100.000 kelahiran hidup.  Menurut WHO dan UNICEF, tingkat kematian ibu dan bayi di Indonesia tertinggi  di kawasan Asia-Pasifik. Pada lima tahun terakhir, diperkirakan 9.600 perempuan meninggal setiap tahun akibat komplikasi selama kehamilan. (www.direktorijateng.com)

By the way, apakah kalian sudah familiar dengan istilah AKI? Menurut ICD 10, berikut ini definisi AKI (Angka Kematian Ibu):

Kematian Ibu adalah ”Kematian seorang wanita yang terjadi saat hamil atau dalam 42 hari setelah akhir kehamilannya (tanpa melihat usia dan letak kehamilannya) yang diakibatkan oleh sebab apapun yang terkait dengan atau diperburuk oleh kehamilan dan penanganannya. Namun, kematian ini tidak disebabkan oleh insiden dan kecelakaan.”

Kalau dijelaskan secara ringkas, kematian ibu menunjukkan lingkup yang sangat luas mencakup kematian ibu saat masa hamil, bersalin, dan nifas. Kematian ini bisa disebabkan oleh penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung di sini maksudnya adalah kematian yang disebabkan oleh penyebab langsung yang terkait dengan kehamilan dan persalinan. Contoh penyebab langsung (direct): perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, infeksi, partus macet, dan abortus. Sebaliknya, penyebab tidak langsung (indirect) maksudnya adalah kematian yang disebabkan oleh penyakit dan yang tidak terkait dengan kehamilan dan persalinan (semoga penjelasannya cukup bisa dimengerti ya).

PENCEGAHAN TERJADINYA KEMATIAN IBU

Berikut ini saya kutipkan paragraf dari Rencana Percepatan Penurunan AKI Nasional (RAN PP AKI) Kementerian Kesehatan RI tahun 2013:

Diperkirakan 15 % kehamilan dan persalinan akan mengalami komplikasi. Sebagian komplikasi ini dapat mengancam jiwa, tetapi sebagian besar komplikasi dapat dicegah dan ditangani bila:

1) ibu segera mencari pertolongan ke tenaga kesehatan

2) tenaga kesehatan melakukan prosedur penanganan yang sesuai

3) tenaga kesehatan mampu melakukan identifikasi dini komplikasi

4) apabila komplikasi terjadi, tenaga kesehatan dapat memberikan pertolongan pertama dan melakukan tindakan stabilisasi pasien sebelum melakukan rujukan;

5) proses rujukan efektif;

6) pelayanan di RS yang cepat dan tepat guna.

Dengan demikian, untuk komplikasi yang membutuhkan pelayanan di RS, diperlukan penanganan yang berkesinambungan (continuum of care), yaitu dari pelayanan di tingkat dasar sampai di RS. Jadi pada prinsipnya, jika ibu hamil atau bersalin yang mengalami komplikasi bisa mendapatkan pertolongan yang tepat waktu dan tepat guna, insyaAllah kematian ibu bisa dicegah. Namun, pada kenyataannya seringkali langkah-langkah pencegahan dan penanganan komplikasi tidak berjalan sesuai harapan karena keterlambatan di setiap langkah. Nah, apakah kalian pernah mendengar tentang “3 Terlambat”?

  • Terlambat mengambil keputusan: ini biasanya disebabkan oleh tradisi dan wewenang pengambilan keputusan di dalam keluarga. Selain itu, bisa juga disebabkan karena keluarga tidak mengetahui tanda bahaya yang mengancam keselamatan ibu hamil. Tenaga kesehatan mungkin juga berperan dalam keterlambatan ini misalnya dia terlambat mengidentifiasi komplikasi karena kompetensi yang kurang mumpuni.
  • Terlambat mencapai RS rujukan (rujukan tidak efektif): ini biasanya disebabkan masalah geografis dan ketidaktersediaan alat transportasi untuk merujuk pasien.
  • Terlambat mendapatkan pertolongan di RS rujukan: ini mungkin disebabkan karena ketidaktersediaan tenaga medis (SPOG, anestesi, anak, dll), obat-obatan, darah, dan fasilitas.

Well, kayaknya kompleks banget ya permasalahan AKI ini. Tapi percayalah, pemerintah dari tingkat lokal hingga nasional sangat bekerja keras untuk menangani masalah tingginya AKI di Indonesia. AKI ini bukan melulu urusan orang kesehatan lho ya, tetapi juga lintas sektor. Kita mesti bahu-membahu untuk bisa menyelesaikan PR besar ini.

Pemberdayaan masyarakat juga harus dijalankan, terutama bagi ibu hamil itu sendiri. Oleh karena itu, ibu hamil harus pandai dan sangat menjaga kehamilannya dengan cara menjaga asupan makanan bergizi, rajin berolahraga, mencari ilmu dan pengetahuan seputar kehamilan dan persalinan (terutama mengenal tanda bahaya yang mengancam keselamatan ibu dan bayi), tidak termakan mitos-mitos yang menyesatkan, rajin memeriksakan kehamilannya (ANC/ antenatal care). Semua ini demi keselamatan si ibu sendiri dan juga janin yang ada di dalam kandungan.

Nah, dalam rangka upaya menekan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencanangkan Program SMSBunda yang bertujuan untuk menurunkan hingga 25% angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir.

 

PROGRAM SMSBUNDA

Program SMSbunda merupakan satu di antara ikhtiar menyebarluaskan informasi kesehatan ibu hamil dengan basis pesan singkat atau SMS. Program ini digagas oleh Jhpiego dengan support pendanaan dari General Elektrik (GE) Foundation. Jhpiego adalah lembaga sosial dari John Hopkins University Amerika yang sudah 30 tahun membantu pemerintah Indonesia (Kementrian Kesehatan RI) dalam isu kesehatan masyarakat.

SMSBunda pertama kali diluncurkan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada April 2014. Hingga April 2016 tercatat sedikitnya 230.000 ibu hamil mengakses program ini yang tersebar sejumlah kabupaten/kota di Indonesia. Di Provinsi Jawa Tengah pada 2015 program ini secara resmi telah diluncurkan di 11 kabupaten/kota: Kota Semarang, Kudus, Grobogan, Kendal, Batang, Kab. Pekalongan, Kab. Tegal, Brebes, Banyumas, Cilacap dan Purbalingga. Program ini akan terus dioptimalkan dan akan direplikasi di seluruh kabupaten/kota.

Melalui program SMSbunda, ibu hamil yang terdaftar dapat menerima pesan kesehatan tentang kehamilan selama masa kehamilan, persalinan hingga bayi berusia dua tahun. Dengan bekal informasi ini diharapkan mampu mengurangi risiko saat melahirkan. Pesan SMSbunda bersumber dari buku panduan kesehatan yang diterbitkan oleh  Kementrian Kesehatan. Pesan yang diterima sesuai kebutuhan ibu hamil karena menyesuaikan usia kehamilan.

Manfaat SMSbunda adalah meningkatkan pengetahuan ibu tentang kehamilan, dapat mengidentifikasi tanda bahaya selama hamil dan nifas, serta dapat mencari pertolongan tepat waktu saat terjadi emergency.

Bagaimana Cara Mendaftar SMSbunda?

Cara mendapatkan layanan SMSBunda sangat mudah. Cukup mendaftar sekali melalui SMS ke nomor 0811-8469-468 dengan biaya Rp 200 (tergantung masing-masing operator) dengan menyebutkan hari perkiraan kelahiran. Ibu hamil akan menerima SMS gratis secara berkala tentang info kehamilan, persalinan, dan pascamelahirkan hingga bayi berusia dua tahun.

Berikut cara mendaftar SMSbunda:

  1. Daftar ke SMSbunda

Ketik REG <spasi> Perkiraan tanggal bersalin <spasi> Kota/ Kabupaten

Contoh: REG 05/07/2016 SEMARANG

Kirim ke nomor 0811-8469-468

  1. Ganti Tanggal Bersalin

Ketik LAHIR <spasi> Perubahan Tanggal Bersalin

Kirim ke nomor 0811-8469-468

  1. Daftarkan Teman ke SMSbunda

Ketik UNDANG <spasi> No. Hp Teman <spasi> Perkiran Tangal Bersalin <spasi> Kota/Kabupaten

Contoh: UNDANG 08123456789 05/07/2016 SEMARANG

Kirim ke nomor 0811-8469-468

PROGRAM SMSBUNDA DI JAWA TENGAH

Jawa Tengah merupakan satu dari 10 provinsi dengan AKI tertinggi. Pada tahun 2014, kasus ibu meninggal di Jawa Tengah mencapai 711 kasus dan bayi meninggal sebanyak 5.666 kasus. Itu artinya selama tahun 2014, setiap hari terdapat hampir dua orang ibu hamil meninggal dan hampir 16 bayi baru lahir meninggal tiap hari. Sedangkan pada 2015 terjadi sebanyak 619 kasus ibu meninggal dan 5.571 bayi meninggal dunia. AKI dan AKB di Jawa Tengah masih memprihatinkan. (www.direktorijateng.com)

Seperti kita ketahui bersama, Pulau Jawa adalah pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia dan Provinsi Jawa Tengah masuk ke dalam 5 provinsi terpadat di Indonesia menurut Data Sensus Penduduk 2010. Jadi, bisa disimpulkan ya kalau Provinsi Jawa Tengah juga merupakan 5 provinsi penyumbang AKI terbesar di Indonesia. Nah, upaya penurunan AKI di Jawa Tengah ini harus terus digalakkan agar nantinya jika AKI di Jawa Tengah bisa menurun, diperkirakan AKI nasional juga bisa ikut turun. Seperti disebutkan sebelumnya kalau Program SMSbunda  sudah diluncurkan di 11 kab/kota dan akan terus dioptimalkan dan direplikasi ke kab/kota lainnya. Semoga ikhtiar ini menjadi jalan untuk menekan AKI di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah. Aamiin…

Yuuuk para ibu hamil di seluruh Indonesia, kita daftar Program SMSbunda yuuuuk…… Kalau tidak dimulai dari pemberdayaan diri sendiri, siapa lagi yang akan peduli akan keselamatan jiwa ibu dan janin di dalam kandungan ibu? Kebetulan saya sendiri juga sedang hamil dan saya merasakan sendiri manfaat menjadi partisipan dalam Program SMSbunda ini, banyak sekali ilmu dan pengetahuan seputar kehamilan dan persalinan yang saya dapatkan melalui program ini 🙂

Referensi:

Dokumen RAN PP AKI 2013 – 2015, Kementerian Kesehatan RI

http://www.direktorijateng.com/2016/06/lomba-karya-jurnalistik-tentang-upaya.html

http://www.gandjelrel.com/2016/06/lomba-blog-sms-bunda.html

http://sp2010.bps.go.id/index.php

Please follow and like me:

Kelas Parenting bersama Tiga Generasi: “Mendisiplinkan Anak sejak Bayi, Bisa Nggak Ya?”

“Bunda tau nggak, bedanya Disiplin vs Hukuman?”
“Sejak kapan sih kita harus mendisiplinkan anak?”
Pertanyaan ini dilontarkan oleh Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjoyo, S.Psi selaku pembicara di kelas parenting siang itu.

***

Kelas Parenting Bersama Tiga Generasi

Senin, 20 Juni 2016 lalu saya berkesempatan menghadiri kelas parenting #OrtuJadiTau bersama Tiga Generasi bekerja sama dengan ‪Mums and Babes dan Blibli‬. Acara yang diselenggarakan di Hotel Veranda, Jl. Kyai Maja No.63, Kebayoran Baru ini sekaligus me-launching official store Mums and Babes di Blibli.com. Kelas parenting itu sendiri memiliki beberapa topik yang dibagi ke dalam kelas-kelas kecil, yaitu:

Kelas 1: “Mendisiplinkan Anak sejak Bayi, Bisa Nggak Ya?”
Kelas 2: “Tetap Tenang Hadapi Gerakan Tutup Mulut pada Anak”
Kelas 3: “Membuat MPASI jadi (MP) ASIK”

Peserta diwajibkan memilih kelas mana yang diminatinya kemudian semua peserta mengikuti kelas besar dengan topik “Mengasuh Bareng Kakek-Nenek, Siapa Takut?”. Andai saja diperbolehkan mengikuti semua kelasnya, saya sangat antusias untuk dapetin ilmu dari keseluruhan topik yang diberikan. Namun, karena ketiga kelas kecil diadakan di waktu bersamaan, akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar di Kelas 1.

Di acara ini, diramaikan juga oleh banyak peserta dari kalangan artis loh.

saya berkesempatan foto bareng mba Widi AB-Tree

***

Mendisiplinkan Anak Sejak Bayi, Bisa Nggak Ya?

Kembali ke kelas parenting yang diisi oleh Psikolog Vera, Disiplin tidaklah sama dengan Hukuman. Apa bedanya?
Hukuman: yang diserang adalah konsep diri sehingga konsep diri anak menjadi negatif. Misalnya: kita melihat kamar berantakan lalu mengatai anak kita dengan ucapan “Dasar anak males”.
Disiplin: Konsep diri anak tetap aman sehingga anak tetap merasa disayangi. Misalnya kita mengatakan “Aduh mama sedih karena kamu nggak ngerapihin kamar”

Lalu sejak kapan kita perlu mendisiplinkan anak? Jawabannya adalah: sejak anak lahir. Anak akan tumbuh dari sebuah pembiasaan yang ditanamkan sejak dia lahir. Misalnya, saat mulai MP ASI anak tidak dikenalkan pada garam sehingga ketika suatu saat anak makan telor digaremin, dia akan merasa aneh.
Psikolog Vera memaparkan 2 metode yang terkait dengan mendisiplinkan anak: Metode EASY dan Metode SLOW. Sudah ada yang pernah mendengar kedua metode ini?

Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjoyo, S.Psi

Metode EASY (Hogg, 2002): Eating, Activity, Sleep, You
Dalam metode ini, kita bisa tahu bahwa rutinitas bayi itu teratur seperti sebuah siklus yaitu rutin dan berulang: Eating (makan), Activity (beraktivitas), Sleep (tidur). Ketika bayi tidur, fokuslah pada diri Anda (You) untuk beristirahat dan melakukan kegiatan yang diinginkan. Setelah bayi bangun, rutinitasnya akan diulang lagi dari awal. Dengan demikian, ketika bayi kita menangis di jam-jam tertentu, kita bisa memahami sebab dia menangis dan apa yang dia hendak katakan. Awalnya memang sulit untuk mendisiplinkan bayi, EASY ini bisa efektif diterapkan ketika bayi menginjak usia 6 minggu. Hanya perlu waktu sekitar 3-5 hari untuk mengajarkan rutinitas tersebut, selanjutnya bayi akan mengikuti polanya.

Metode SLOW: Stop, Listen, Observe, What’s Up?
Ketika bayi di perut ibu selama 9 bulan, semua kebutuhannya tercukupi (gizi, kehangatan) sehingga dia terbiasa merasakan lingkungan yang aman dan nyaman. Saat bayi lahir ke dunia, dia akan menangis karena tubuhnya beradaptasi dengan lingkungan baru. Tahun pertama kehidupan bayi adalah masa krusial karena bayi akan merasakan apakah lingkungan barunya mencintai dia atau tidak. Jika lingkungannya kurang mendukung, bayi akan merasakan misstrust, yaitu merasa tidak diinginkan.

Metode SLOW ini mengingatkan kita agar tidak panik dan terburu-buru, tapi setiap hurufnya justru dapat membantu kita untuk mengingat hal apa yang harus dilakukan. Misalkan ketika ibu mandi, bayi menangis dan saat itu tidak memungkinkan kondisinya untuk ibu keluar dari kamar mandi. Hal yang perlu dilakukan ibu yaitu:

Stop. Hentikan kegiatan kita sejenak. Kita tidak perlu panik untuk terburu-buru menggendong bayi yang sedang menangis.
Listen. Dengarkan tangisan dan ‘bahasa’ bayi yang hendak disampaikan, ini bukan berarti ibu melakukan pembiaran terhadap bayi yang menangis ya, tapi lebih kepada mendengarkan arti tangisan bayi. Dalam kasus di atas, ibu bisa mengatakan “sebentar Nak, ibu selesaikan dulu mandinya ya”
Observe. Amati apa arti bahasa tubuhnya ketika bayi menangis? Apa yang terjadi pada lingkungannya?
What’s Up?. Kita bisa memikirkan aktivitas selanjutnya yang perlu dilakukan agar bayi berhenti menangis.

Kenali Diri Sendiri dengan Tes Berikut ini

Psikolog Vera kemudian mengajak para orang tua untuk mengenali dirinya sendiri melalui pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Bagi bunda-bunda yang mau mencoba, silakan dijawab pertanyaan ini ya. Setelah diberi nilai di setiap pertanyaan, jumlahkan totalnya lalu bagi dengan angka 12.

 

And the result is….


4-5 : Rules Freak!
Anda adalah tipe orang yang segalanya serba diatur. Idealis sih kalau saya bilang. Misalnya kalau pakai sikat gigi harus yang begini, begini, tidak boleh yang begitu, bla bla bla. Seseorang dengan tipe ini harus menyadari kalau terkadang segalanya tidak bisa sesuai kehendak dia. Jadi, bukan berarti orang dengan tipe ini sangat kaku, dia bisa fleksibel juga koq pada akhirnya.
3-4 : Flexible
Orang tipe ini bisa fleksibel dalam menghadapi segala situasi, nggak terlalu saklek begitu.
2-3 : Need Support
Nah tipe ini yang agak rawan karena terkadang orangnya teledor sehingga harus sering-sering mencatat.
1-2 : Freedom Rules!
Tipe orang ini membuat sedikit sekali peraturan, harus diwaspadai ya. Psikolog Vera mencontohkan pernah ada kasus seorang anak datang ke sekolah, begitu masuk kelas dia langsung tidur di bawah kolong meja sampai saatnya break-lunch. Anak itu juga suka pakai baju yang kemarin baru dipakai alias bau. Ketika dipanggil orang tuanya, ternyata ortunya memang tipe yang agak membiarkan / cuek dengan hal-hal seperti itu. Tidak banyak peraturan yang dibuat oleh ortu untuk anaknya.

 

Manfaat Peraturan

Bagaimana Cara Mendisiplinkan Anak?

Berikut ini penjelasan tentang cara mendisiplinkan anak oleh Tim Myers (kalau ndak salah tulis namanya):

Distract the child
Alihkan perhatian anak, misalnya untuk sesuatu yang membahayakan atau tidak seharusnya dilakukan anak. Cara ini manjur diterapkan untuk anak usia di bawah 3 tahun karena anak belum terlalu fokus. Anak usia tersebut masih bisa di-distract sebenarnya, hanya saja terkadang kita tidak melihat alternatif lain untuk mengalihkan perhatian anak. Misalnya ketika anak sedang pegang kacamata ibunya, kita bisa alihkan dengan hal lain “Lihat, mama punya sesuatu loh…” pasti anak langsung beralih fokus.

Jangan menggunakan kata “JANGAN” atau “TIDAK BOLEH” karena cara penyimpulan seorang anak di usia tersebut belum sempurna. Alih-alih, kita bisa gunakan kalimat positif lainnya. Misalnya: jangan lari! (Jalan saja); Jangan tarik! (Pegang saja). Ignore misbehaviour
Anak berulah selama ulahnya itu tidak membahayakan dirinya dan orang lain, sebaiknya di-ignore saja. Jika setiap ulah anak diberi perhatian (misalnya pelototan dari sang ibu), anak akan mengulanginya karena hal tersebut dirasa menyenangkan. Semakin senewen ibunya, semakin senang hati anak . Lebih baik ortu menahan diri dengan membiarkan anak mengeksplore sesuatu dan jangan diberi larangan (selama tidak membahayakan loh ya). Namun, jika sudah dalam level bahaya, kita boleh ekstrim melarang anak agar anak bisa membedakan mana larangan yang serius dan mana yang masih fleksibel.

Structure environment
Agar anak mau mendengarkan apa yang kita sampaikan, kita perlu mengkondisikan lingkungan sekitar. Jika suami dan istri mempunyai cara berbeda dalam mengasuh anak, sebaiknya diskusikan dulu di belakang layar agar di depan anak tetap terlihat kompak. Jangan sampai salah satu mengatakan hal lain di depan anak. Jika salah satu ada yang tidak tega menerapkan kedisiplinan untuk anak, sebaiknya “balik kanan” saja.

Control the situation, not the child
Di usia 2 tahun, anak tidak mau diatur atau dilarang. Pada masa ini, anak selalu ingin pegang kendali. Jadi, sebagai orang tua, kita mesti bijak berucap. Misalnya, bukan menggunakan kalimat perintah “Ayo Mandi!” tapi diubah menjadi “Kamu mau mandinya sama si bebek atau si ikan?”.

Involve the child
Berikan konsekuensi yang harus diterima oleh anak jika anak tidak patuh, misalnya ketika anak selesai bermain, dia tidak mau merapikan mainannya kembali. “Kamu mau mama atau kamu yang rapihin mainan? Kalau mama yang rapihin, mama akan simpen mainan ini dan kamu tidak bisa bermain lagi”.

Plan time for loving
Sediakan waktu khusus untuk mencurahkan kasih sayang ke anak meskipun ibunya galak sekalipun. Attachment dengan anak itu sangat penting karena bagaimanapun peraturan itu kita buat, jika kita tidak memiliki kedekatan dengan anak akan percuma. Jika kita memiliki lebih dari satu anak, sediakan waktu khusus hanya berdua saja untuk setiap anak. Idealnya memang setiap hari ada time-alone dengan anak, tetapi jika ortu tidak sempat bisa dibuatkan jadwal, misalnya: Senin waktunya ayah dengan kakak; Selasa waktunya ayah dengan si adik; Rabu waktunya ibu dengan si kakak; Kamis waktunya ibu dengan si adik; dsb.

Cukup luangkan waktu sekitar 10-15 menit saja untuk berdua dengan anak agar attachment dapat terjadi. Di waktu berduaan itulah orang tua bisa menerapkan peraturan yang sama. Hal ini bisa berjalan dengan baik jika time-alone-nya terlaksana.
Jangan sesekali membandingkan satu anak dengan anak lainnya. Haram hukumnya, kata Psikolog Vera. Kecuali jika memang tingkah anak sudah keterlaluan ya.

Let go
Hal ini mungkin agak susah dilakukan oleh sang ibu. Psikolog Vera pernah punya pengalaman ketika si anak tidak mau diantar sampai depan sekolahnya dan berucap “Mama sampai sini saja anternya”. Hal itu mesti kita biarkan dan kita terima.

Increase your consistency
Sekali konsisten harus selamanya konsisten itu diterapkan. Andaikan mau ada excuse, kita mesti beri penjelasan. Misalnya setelah bepergian keluarga dan pulang larut malam, anak sudah lelah ingin tidur. Ibu bisa mengatakan “Kali ini boleh nggak sikat gigi, tapi kali ini saja ya” dengan disertai penjelasan yang bisa diterima anak.

Notice positive behaviour
Berikan attention untuk perilaku anak yang baik, jangan hanya terfokus pada perilakunya saat negatif saja.

Excuse the child with a time-out
Hal ini bukan berarti memberikan strap pada anak. Misal ketika anak sedang tantrum, kita berikan penjelasan seperti “Kita ngomong kalau kamu sudah tenang ya”, atau “Kamu tenangin diri dulu,mama kasih waktu 5 menit”.

Time-out effect ini akan berujung trauma pada anak (karena mungkin nadanya seperti sebuah ancaman) hanya jika anak tidak tahu gunanya. Time-out ini tidak dianjurkan untuk anak di bawah usia 3 tahun.

Anak harus belajar menerima konsekuensi dari perbuatannya sendiri. Misalnya ketika anak kelas 3 SD kelupaan membawa PR-nya ke sekolah, ortu tidak perlu repot tergopoh-gopoh mengantar bukunya ke sekolah anak. Biarkan anak menerima konsekuensi dari gurunya. Time-out ini akan berjalan baik jika sudah diterapkan sedari awal.

Pola Asuh bersama Kakek dan Nenek

Kelas besar dengan topik “Mengasuh Bareng Kakek-Nenek, Siapa Takut?” menghadirkan narasumber: Noella Birowo (istri dari Indra Birowo sekaligus Founder Tiga Generasi); Dra Evita Djaman, M.Psi; dan Psikolog Anna Dauhan, MSc.

Mungkin ada sebagian orang tua (kita sebut Generasi 2/ G2) yang merasa diuntungkan dengan kehadiran kakek nenek (Generasi 1/ G1) dalam pengasuhan anak-anaknya (Generasi 3/ G3). Namun, tidak sedikit juga orang tua yang mengeluh karena pola asuh kakek-nenek tidak sama dengan yang diinginkan oleh orang tua itu sendiri sehingga tak jarang konflik pun terjadi. Dalam kelas ini, dikupas tentang bagaimana agar G1 dan G2 dapat berdampingan dalam mengasuh G3.

Menurut Psikolog Anna, komunikasi antara kita (G2) dengan orang tua kita (G1) haruslah lancar agar bisa menetapkan aturan untuk anak-anak (G3). Dari sisi kakek-nenek, kita harus memahami apa concern mereka terhadap pengasuhan anak-anak kita? Dari sisi kita sebagai orang tua anak, untuk menjadi orang tua yang efektif kita harus mempelajari karakteristik dan kebutuhan orang tua / mertua kita. Selain itu, pemahaman terhadap sudut pandang masing-masing perlu diperhatikan. Misalnya saja sebagai Generasi 2, kita lebih fokus ke karir dan rumah tangga, sedangkan kakek-nenek mungkin memiliki sudut pandang lain.

Ibu Evita juga membenarkan tentang pentingnya komunikasi dan pemahaman karakteristik. G1 dan G2 itu rentan konflik, demikian juga dengan G1 dan G3. Konflik yang biasanya terjadi pada G1 dan G3 misalnya ketika anak-anak itu butuh untuk memanjat dan terjatuh, tetapi kakek-nenek melarang memanjat agar tidak jatuh. Konflik antara G1 dan G2 rentan terjadi. Walau bagaimana pun, dua nahkoda dalam satu rumah tangga itu tidak bagus. Kakek-nenek seharusnya stay away. Namun, jika memang harus tinggal serumah antara ortu dan kakek-nenek, semua kebutuhan well-being masing-masing harus terpenuhi agar masalah dapat teratasi.

Prinsip dalam Pola Asuh bersama Kakek-Nenek:

1)      Komunikasi

2)      Konsisten

3)      Batasan

4)      Kebesaran Hati

Harapan dari kakek-nenek (G1) terhadap pengasuhan anak (G3) antara lain:

1)      terlibat dalam pengasuhan,

2)      menyaksikan pertumbuhan,

3)      mengajarkan nilai-nilai,

4)      terlibat dalam keseharian

5)      menjalin kedekatan emosi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika melibatkan kakek-nenek dalam pengasuhan anak:

1)      Aturan dan batasan di awal

2)      Tanya kesediaan

3)      Sepakati tujuan

4)      Satukan kubu

5)      Ingatkan anak agar patuh

6)      Belajar bersama

7)      Ajak diskusi

8)      Bicarakan hal positif

9)      Penghargaan

10)   Berikan bantuan

Psikolog Anna melanjutkan bahwa konflik yang sering terjadi antara orang tua dan kakek nenek adalah terkait pendisiplinan anak. Terkadang ortu lebih strict atau justru lebih longgar. Misalnya saja ketika di rumah, anak mau mandi sendiri tapi ketika pulang dari rumah neneknya, anak tidak mau mandi sendiri. Contoh lain misalnya saat anak makan, nenek mengharuskan anak makan di meja makan dan menggunakan sendok dan garpu, sedangkan ortu berpendapat bahwa anak-anak baru belajar makan sehingga biarkan saja mau makan di mana asal tidak ribet.

Ibu Evita mengatakan bahwa akhir-akhir ini kita sering berbicara tentang neuro-psikologi. Ketika menginjak usia makin lanjut, ada pemahaman baru bahwa otak berkembang sesuai usia, tetapi tetap ada penurunan di area-area tertentu yang berhubungan dengan karakter. Ketika terjadi perubahan-perubahan ini, orang dengan usia lanjut lebih mudah tersinggung dan merasa demotivasi. Oleh sebab itu, sebagai orang tua yang ada di generasi kedua harus bisa menerima keadaan tersebut untuk menghindari konflik. Berikan pujian pada kakek-nenek agar didapatkan hubungan emosional yang seimbang. Tangkap momen ketika kakek-nenek sedang berlaku baik, jangan hanya menyudutkan ketika mereka melakukan kesalahan.

Tips Bagi Orang Tua

1)      Berpikiran positif dan terbuka

2)      Pahami karakteristik dan kebutuhan kakek-nenek

3)      Terima masukan

4)      Siapkan strategi dan fleksibel

5)      Self-care

6)      It’s ok to feel not ok

7)      Hindari kritik, sampaikan pujian

8)      Beri masukan secara postitif

9)      Hindari rasa bersalah/ ingin menebus

Tips Bagi Kakek-Nenek

1)      Cucu bukan anak Anda

2)      Kenali batasan diri dan hondari over-commit

3)      Hargai aturan dan batasan

4)      Nasihat yang tidak diminta?

5)      Tetap aktif

Referensi:

Memahami Arti Tangisan Bayi dengan Metode E.A.S.Y
http://www.babywhispererforums.com/index.php?topic=65942.0

Please follow and like me: