5 Cara Berterima Kasih kepada si Mbak ART

Drama Emak-emak

 

“ART ku nggak balik lagi setelah lebaran”

“Kalau ada info ART kasihtau aku donk, mbakku pulang kampung tapi nggak balik lagi”

 

Habis lebaran, terbitlah duka emak-emak  yang ditinggal pergi ART (Asisten Rumah Tangga).

Fenomena ini hampir selalu menghiasi kehidupan sebagian emak yang demanding banget sama ART.

ART itu kalau memang jodoh pastilah akan bertemu. Tapi terkadang juga ART mirip jaelangkung yang datang tak diundang, pulang tak diantar (kemudian kabur tak kembali selamanya). Begitulah balada emak-emak.

Saya pernah banget ditinggal kabur si mbak ART usai libur lebaran. Peristiwa setahun silam tapi masih nyesek banget kalau diingat. Yang paling bikin kesal adalah dia pergi membawa beberapa koleksi Tupperware saya. Huhuhu. Greget banget donk!

 

Greget ditinggal ART (pic: pixabay)

 

Padahal saat itu saya lagi dapet tugas dinas ke Anyer, Banten. Saya perlu seorang asisten untuk saya ajak pergi dinas dan mengasuh Halwa. Halwa saya ajakin dinas karena dia masih minum ASI dan dia nggak bisa bobo malem tanpa saya. PR saya adalah harus sesegera mungkin cari ART buat mendampingi saya ke luar kota.

 

Percayalah Cari ART itu BERAT, Dilan aja belum tentu bisa nemu!

 

Setelah berupaya mencari ART, saya cuma bisa pasrah sambil terus istikharoh menanti jawaban terbaik dari Allah. Jadi Moms, bukan hanya perihal mencari jodoh saja yang  perlu istikharoh. Segala persoalan hidup kalau emang kita nggak ngerti lagi harus bagaimana menghadapinya ya lakukan istikharoh. Saya sudah pasrah seandainya nggak nemu ART saat itu, saya mau resign saja.

 

Pusing cari ART

 

Tak lama berselang, kabar baik pun datang. Alhamdulillah sudah ada calon ART yang bersedia mengasuh Halwa. Dia adalah tetangga uyutnya Halwa di kampung halaman.

 

“Anaknya masih muda, bersih, kalem”, kata bulik saya melalui telepon.

Saya tepok jidat.

 

“Masih muda? Pernah ngasuh bayi nggak?” tanya saya.

Kata bulik (dengan santainya) “Yaa nanti diajarin saja kan lama-lama juga bisa”.

“Bisa masak nggak?” tanya saya lagi.

Lagi-lagi jawaban bulik mengambang “Yaaa nanti diajakin saja masak bareng sama kamu, nanti lama-lama kan bisa”.

Kemudian saya males melanjutkan pertanyaan karena saya yakin jawabannya nggak memuaskan.

 

Pagi itu, dengan diantar Om saya mengendarai mobil dari Kebumen ke Depok, si mbak ART baru ini tiba di rumah saya.

Jreng jreng… masih muda cuy! Saya cuma membatin kala itu “Bisa nggak nih anak pegang Halwa?”. Pertama kali dia “kenalan” sama Halwa, si Halwa kejeerrrr banget mendapati sosok orang asing di rumah. Apalagi si mbak ini orangnya kalem banget. Kalem atau bingung, entahlah.

Kami memanggilnya Sansan

Si mbak yang masih belia itu bernama Mu’minatun Khasanah, arti namanya kurang lebih “seorang mukmin yang baik”. Saya dan Mas Ry lebih senang memanggilnya Sansan (dia nggak keberatan dengan panggilan ini). Si mbak asisten yang awalnya saya ragu apakah bisa mengasuh Halwa, sekarang justru menjadi orang kepercayaan kami karena orangnya amanah dan baik.

Read also:   Go Mukena Bersih: berawal dari ide sederhana

 

Standar saya dan Mas Ry dalam mencari pengasuh untuk Halwa sebenarnya nggak terlalu neko-neko. Yang penting dia rajin solat, sehat, sayang Halwa, amanah, dan mau belajar. Urusan lainnya menyusul belakangan.

 

Hal yang menjadi concern sebagian orang terhadap ART yang masih muda biasanya adalah : suka main gadget dan pacaran. Saya pun awalnya mengkhawatirkan hal itu, tapi alhamdulillah sejauh ini Sansan terhindar dari hal-hal semacam itu.

 

Halwa suka main bareng Mbak Sansan

 

Mungkin memang sudah rezeki saya diberi ART yang rajin, gesit, cepat tanggap, sopan, baik, penurut, mau belajar, dan utamanya sayang banget sama Halwa alias gemathi kalau kata orang Jawa. Tiap adzan berkumandang dia bersegera solat.

 

Kalau sedang dinas ke luar kota untuk urusan kantor, dari satu kota ke kota lain atau dari satu hotel ke hotel lain, Sansan dan Halwa selalu ikut dengan saya. Saya punya prinsip setidaknya di dua tahun pertama usia Halwa, saya nggak mau meninggalkan Halwa semalam pun! Jadi ya konsekuensinya bawa satu rombongan begitu.

 

Peran Sansan sangat penting sebagai support system dalam kehidupan saya sebagai ibu baru. Kalau nggak ada dia, mungkin saya akan memutuskan resign lebih awal saat Halwa belum punya pengasuh. Kehadiran Sansan membuat saya merasa aman setiap kali menitipkan Halwa padanya sehingga saya bisa lebih fokus melakukan pekerjaan saya di kantor.

 

Halwa begitu telaten diurusnya, pekerjaan rumah tangga pun terbantu olehnya.  Sebagai working mom dengan load pekerjaan saya yang cukup menguras waktu, tenaga, dan pikiran, jarang sekali saya bisa turun langsung untuk membereskan rumah. Apalagi saya sangat tidak suka mencuci dan menyetrika baju. Saya bisa membayangkan betapa kacaunya rumah saya tanpa dia.

 

5 Cara Berterima Kasih

Berikut ini 5 hal yang saya dan Mas Ry lakukan sebagai rasa terima kasih kami kepada Sansan.

 

  1. Ajak dia bepergian / refreshing
    Karena kami sudah menganggap Sansan seperti adik sendiri, terkadang kami pun pergi bersama saat weekend meskipun hanya sekadar main ke taman, jalan-jalan ke mall, main ke kolam renang, waterboom, pantai. Kadang cuma makan mie ayam di warung juga mengasyikkan loh. Ingat, asisten kita workload-nya tinggi loh. Mereka juga manusia biasa yang bisa jenuh dan butuh refreshing.
Refreshing di warung mie ayam hits deket rumah

 

2. Perhatikan keluarganya
Sansan bekerja untuk membantu orangtuanya membiayai dua adiknya yang masih bersekolah. Saya sering menanyakan kabar keluarganya, adik-adik, atau kakaknya. Sansan ini anaknya agak pendiem, dia nggak akan mulai cerita kalau kami tidak mengawali dengan pertanyaan. Kalau ada kesempatan, kami berkunjung ke rumahnya untuk bersilaturahmi dengan keluarganya.

Read also:   Mengatasi Napas Grok-grok pada Bayi

 

3. Beri dia libur
Sebenarnya Sansan hampir nggak pernah libur sih karena setiap hari dia terlibat membantu saya di rumah. Apalagi Halwa suka banget main bareng Sansan. Makanya ketika suatu kali dia meminta izin pulang ke kampung karena mau kondangan teman dekatnya, kami izinkan. Mungkin kesannya hanya ‘’yaelah kondangan doang” tapi bisa jadi itu momen yang berharga banget untuk dia. Waktu adiknya mau khataman baca Qur’an pun kami mengizinkannya pulang. Kapan lagi kan dia bisa berlibur sejenak?

 

4. Dukung dia untuk berkembang
Usia Sansan baru 21 tahun. Tentu saja masa depannya masih sangat panjang. Pendidikan terakhirnya SMP. Kala itu dia terpaksa tidak melanjutkan ke jenjang selanjutnya karena keterbatasan biaya. Sangat disayangkan kalau anak pintar dan rajin seperti dia nggak diberi kesempatan menempuh pendidikan tinggi. Saya dan Mas Ry sepakat untuk men-support Sansan melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda. Pendidikan itu investasi jangka panjang. Saya optimis banget suatu saat nanti dia bisa mengangkat kesejahteraan keluarganya melalui ilmu dan pendidikan yang ia miliki. InsyaAllah.

 

Suatu hari saya menawarkan dia lanjut sekolah kejar paket C. Hal tak terlupakan saat itu adalah ketika dengan berkaca-kaca dia bertanya “Aku boleh sekolah lagi Mbak? Mbak ngizinin?” (dia panggil saya dengan sebutan “Mbak” yang berarti kakak perempuan).

 

Dan saya jawab “Masa depan kamu masih panjang San. Sekarang kamu lagi bantu aku di sini jadi asisten rumah tangga, bukan berarti kamu nggak boleh punya cita-cita tinggi. Apalagi kamu kan pintar (dia termasuk ranking 11 besar di SMP-nya dulu), sayang kalau nggak sekolah tinggi. Aku malah seneng kalau kamu lanjut sekolah, kalau bisa sampai kuliah”.

 Alhamdulillah, di tahun ajaran 2018 ini Sansan pun mulai bersekolah kejar paket C.

 

 

5. Berikan hadiah

Sebenarnya not literally hadiah sih, tapi kalau saya dan Mas Ry lagi ada sedikit rezeki ya kami bagi ke Sansan untuk sekadar jadi uang jajan atau berupa subsidi tiket kereta pulang kampung.

 

Saat baru masuk sekolah kejar paket C, saya bertanya kepada Sansan tentang biaya apa saja yang dikeluarkan untuk keperluan sekolah dan berapa besarannya. Dia bilang “GRATIS semuanya Mbak, alhamdulillah. Kata tutorku, modal buat belajar di sekolah ini cuma 2 hal: paket data sama Smartphone”. Ah betapa saya merasa turut bersyukur dengan sistem pendidikan yang begitu memudahkan semua kalangan untuk mengejar ketertinggalan pendidikan.

 

Saya dan Mas Ry selalu mendukung aktivitas belajar Sansan, misalnya dengan mempersilakan Sansan memakai laptop kami untuk mengerjakan tugas. Kalau ada pelajaran yang nggak dipahami, kami pun menawarkan bantuan untuk jadi guru privatnya.

Read also:   Apakah #BahagiadiRumah adalah Sebuah Pilihan?

 

Saya berpikir kalau kami membelikan pulsa atau paket data untuk dia pasti akan sangat bermanfaat dalam mendukung kegiatan belajarnya. Di era serba digital ini, semua materi pelajaran dan tugasnya memerlukan internet untuk download tugas maupun browsing materi. Oleh karena itu, saya sengaja mengisi lebih banyak saldo TCASH Wallet saya, selain untuk kepentingan saya pribadi, saya juga membelikan pulsa atau paket data untuk Sansan.

 

Fiture TCASH Wallet, saya pakai layanan Pulsa/Data

 

Semua Bisa #pakeTCASH

By the way saya mau cerita sekilas tentang TCASH. TCASH adalah layanan uang elektronik dari Telkomsel yang bisa dinikmati oleh semua operator untuk berbagai transaksi non-tunai. Saya menggunakan TCASH ini terutama untuk membeli paket data telkomsel. Beli paket data melalui TCASH Wallet itu harganya lebih murah dibandingkan membeli melalui #363* atau aplikasi Telkomsel. Asyiknya lagi pakai TCASH adalah bisa dinikmati oleh operator selain telkomsel. Jadi, meskipun saya dan Sansan beda operator, hal itu tidak jadi masalah.

 

Saya pakai layanan beli pulsa untuk nomor lain

 

Cara top up saldonya juga gampang banget, kalau saya biasanya melalui m-banking Mandiri atau m-banking BNI. Selain melalui rekening bank, bisa juga isi saldo melalui Indomaret, Alfamart, GraPARI, dan agen TCASH.

 

Kegunaan TCASH antara lain untuk berbagai transaksi seperti bayar merchant TCASH, beli pulsa, bayar beli di HP (misal untuk listrik, BPJS, PDAM), belanja online, dan berbagi uang.

 

Pernah kan liat sticker TCASH TAP yang berwarna merah seperti ini? Salah satu cara bayar TCASH yaitu dengan tap. Kita bisa melakukan tap stiker di mesin EDC merchant. Selain itu, bisa juga dengan cara snap QR code di TCASH Wallet.

Sticker TCASH (merah)

 

Setelah saya resign, apakah tetap pakai ART?

Yes! Tentu saja saya masih perlu ART. Saya belum sanggup menjadi ibu rumah tangga yang mengurus segala sesuatunya seorang diri. Saya nggak se-strong itu. Hehehe. Selama kita bisa mendelegasikan pekerjaan ke orang lain, kenapa nggak? Apalagi sejak resign, saya jadi freelancer di rumah, nongkrongnya di depan leptop terus. Si kecil Halwa kalau nggak diajak main pasti akan ngerusuh. Nah, Mbak Sansan inilah yang berperan penting meng-handle Halwa saat saya lagi fokus mantengin leptop.

Thank you so much Mbak Sansan, semoga segalanya berkah #BuatKamu dan tercapai segala cita-citamu, aamiin.

 

 

-SKA-

Please follow and like me:

9 thoughts on “5 Cara Berterima Kasih kepada si Mbak ART

  • Kisahnya bagus mba Eska. Alhamdulillah skarang ada mba Sansan yang bisa menemani ya mba jadinya ga ragu lagi untuk aktifitas. Memang ya nyari ART itu susah banget dan memang Dilan nggak akan sanggup. Hahhaha
    Amin smoga doaanya buat mba Sansan bisa terkabul ya

  • Urusan ART itu emang gampang-gampang susah apalagi saat anak-anak masih kecil. Kalau aku ya salah satu tipsnya dengan memperlakukan dia layaknya keluarga sendiri. Tapi ya memang sih ada juga yang tetep aja ngeselin hehehe. Alhamdulillah anak2 sekarang sudah remaja dan mandiri, sudah 5 tahunan tanpa ART

  • Aku punya ART udah 7 tahunan yg PP. Alhamdulillaah masih kerja dengan baik dan betah. Kata orangtuaku, ART harus diperlakukan smaa seperti kita sebagai keluarga. Yang penting peutnya, hatinya, beri kepercayaan untuk bebenah rumah sesuai bagaimana nyamannya. Kan enak kita bisa santai kayak di pantai hehee.. Kasih bonus juga, kasih kado dll 🙂

  • alhamdulllah jodoh ya sama mba Sansan. Ucapan terimakasih dan gaji saja masih kurang ya mba, untuk mengapresiasi ART, sepakat bbanget mereka perlu dapat reward lainnya seperti ini, terlebih kalau kerjanya bagus, jadi support system luar biasa yang kita bisa tetep produktif

  • Terharu bangeeet. Semoga Sansan tetap semangat belajar mengejar cita-cita. Betul banget mbak, kadang hal-hal kecil sudah bisa membahagiakan ART ya. Nggak perlu yang neko-neko, perhatian dan reward terima kasih dari kita pasti bernilai besar bagi asisten rumah tangga. Jadi kangen sama ART aku yang dulu. Hiks. Kalau dulu reward yang aku berikan adalah ngajak dia jalan-jalan dan makan bareng.

  • Lho ternyata mbk Eska udah resign to?
    Nyari ART emang susah zaman skrng, alhamdulillah ya nemu yg cocok.
    Kyk ART sepupuku jg baru aja lulus sekolah, SMA. Emang kalau udah gtu ya dilema jg, krn masa depan si mbak msh panjang ya mau gak mau harus izinin mbaknya sekolah lg dan siap2 mumet cari ART lg…

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *