STUNTING TIDAK BISA DIOBATI TAPI BISA DICEGAH

Apakah kamu akhir-akhir ini familiar dengan kata “STUNTING”? Ya gaungnya memang terasa terdengar belakangan ini. Stunting ini bukanlah masalah yang baru terjadi, melainkan ini masalah yang sudah ada sejak lama di Indonesia tapi isunya baru muncul ke permukaan.

Agaknya para pegiat isu stunting dan praktisi kesehatan harus benar-benar bersyukur atas pidato presiden dua tahun belakangan ini yang menyelipkan isu pencegahan stunting ini di pidato kenegaraan dalam rangka HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, di tahun 2017 dan 2018. Berikut cuplikan pidato yang saya maksud:

“… Pembangunan sumber daya manusia akan terus berlanjut. Pemerintah bukan hanya konsentrasi untuk mengurangi dampak kekurangan gizi kronis, menekan angka stunting, tapi juga menyiapkan generasi muda yang berkualitas, yang terampil dan siap untuk berkompetisi…(Pidato Presiden tahun 2017, sumber: liputan6)

“Pemerintah, lanjut Presiden, bekerja memastikan bahwa setiap anak Indonesia dapat lahir dengan sehat, dapat tumbuh dengan gizi yang cukup, bebas dari stunting atau tumbuh kerdil. Ketika mereka memasuki usia sekolah, tidak boleh lagi anak-anak, termasuk anak-anak yatim piatu, yang terpaksa putus sekolah karena alasan biaya pendidikan yang tidak terjangkau.” (Pidato Presiden tahun 2018, sumber: setkab)

Yup, karena sudah menjadi perhatian presiden, upaya mencegah stunting ini pun akhirnya “heboh” di Indonesia alias menjadi perhatian nasional. Keseriusan pemerintah dalam menangani stunting tertuang dalam RPJMN 2015-2019 bahwa pemerintah menargetkan penurunan stunting pada anak usia di bawah dua tahun (Baduta) dari 32,9 persen di 2013 menjadi 28 persen di 2019.

Selain itu, pemerintah menjadikan pencegahan stunting sebagai salah satu Proyek Prioritas Nasional di dalam rencana kerja pemerintah (RKP) 2018. Untuk melakukan percepatan penurunan stunting di Indonesia, pemerintah mendapatkan pinjaman sebesar US$ 400 juta atau sekitar Rp 5,8 triliun (kurs Rp 14.500) dari World Bank.

Karena isu pencegahan stunting ini sudah menjadi perhatian nasional, tentunya kita sebagai warga negara yang baik harus mendukung program pemerintah untuk mencegah stunting, bukan? Yuk tonton dulu video berikut ini sebelum kita membahas lebih jauh tentang stunting.

Apa itu Stunting

Stunting adalah kondisi pendek atau kerdil atau gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama di 1000 hari pertama kehidupannya (1000 HPK).

Arti 1000 HPK: 

Seribu hari pertama kehidupan (sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun)  merupakan periode masa emas / golden period yang sangat penting karena kebanyakan kerusakan, atau terhambatnya pertumbuhan yang disebabkan oleh kurang gizi, terjadi selama periode tersebut.

Gagal tumbuh dapat terjadi karena terhambatnya perkembangan otak yang tidak dapat diperbaiki sesudah periode tersebut. Oleh sebab itu, sangat penting untuk memfokuskan perhatian pada periode 1000 hari pertama kehidupan, dan memastikan bahwa ibu mendapat gizi yang cukup selama kehamilan serta mengerjakan berbagai langkah untuk mencegah anak menjadi kurang gizi selama dua tahun pertama kehidupannya.

Intervensi untuk mencegah kurang gizi pada 1000 hari pertama kehidupan bukan hanya dapat meningkatkan tinggi badan seorang, tetapi juga dapat meningkatkan kesehatan dan kelangsungan hidup seorang anak, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, serta pertumbuhan otak yang optimum.

Stunting ditandai dengan tinggi badan anak yang lebih rendah / pendek dibandingkan standar tinggi badan anak seusianya.

Di bawah ini contoh gambar anak stunted. Mereka sama-sama duduk di kelas empat sekolah dasar. Dengan usia sama, tinggi badannya berbeda-beda ada yang tinggi, sedang, dan pendek.

tinggi badan anak
Sumber: depkes.go.id (slide PPT Bapak Abas Basuni Jahari)

Dari foto di atas, manakah anak-anak yang disebut mengalami gagal tumbuh / stunting?

Untuk menjawab itu, sebenarnya tidak selalu bisa kita lihat secara kasat mata meskipun kita langsung bisa menunjuk mana anak yang bertubuh pendek. Di sinilah perlunya pengukuran panjang dan tinggi badan anak secara rutin untuk diplotkan ke dalam kurva pertumbuhan (semisal kurva WHO atau KMS). Dari kurva pertumbuhan, kita bisa menyimpulkan apakah seorang anak tumbuh sesuai usianya atau mengalami gagal tumbuh.

Masalah Kurang Gizi

Selain stunting sebenarnya ada beberapa masalah yang timbul akibat kekurangan gizi, antara lain:

status-gizi-anak
Status Gizi Anak (Sumber: cegahstunting.id)
  • Kurus (wasting): berat badan kurang untuk ukuran tinggi badannya.
  • Pendek (stunting): tinggi badan kurang untuk usianya.
  • Kurang gizi: berat badan kurang untuk usianya
  • Kekurangan gizi mikro: bila seseorang kekurangan vitamin atau mineral tertentu, seperti misalnya vitamin A, zat besi atau yodium.

Penyebab Kurang Gizi

Banyak orang mengira bahwa kurang gizi adalah kondisi kurangnya asupan makanan. Tapi, sebenarnya banyak faktor penting lainnya yang turut berkontribusi terhadap kondisi kurang gizi.

Akar masalah kurang gizi sebetulnya dilatarbelakangi oleh krisis ekonomi dan politik yang kemudian menyebabkan kemiskinan sebagai penyebab utama kurang gizi.

Lihat grafik di bawah ini ya:

masalah-gizi
Masalah Gizi (Sumber: arali2008.wordpress.com)

Memang betul anak-anak bisa mengalami kurang gizi kalau mereka kurang asupan makanan bergizi. Selain itu juga, anak yang menderita penyakit-penyakit infeksius seperti diare, cacingan, campak dan malaria (atau penyakit yang menyebabkan tubuh kehilangan zat gizi) merupakan penyebab mereka kekurangan gizi. Jadi, bisa dikatakan kalau asupan gizi dan penyakit adalah penyebab langsung dari kurang gizi.

Jangan salah ya, masih ada penyebab tidak langsung permasalahan kurang gizi, termasuk di antaranya saat rumah tangga tidak mampu membeli makanan yang cukup alias permasalahan ketahanan pangan rumah tangga.

Minimnya pola asuh yang baik terutama dalam pemberian ASI, makanan pendamping ASI, dan perawatan terhadap ibu sebelum dan selama kehamilan serta setelah persalinan juga turut berkontribusi loh.

Selain itu, air, sanitasi, dan higien yang buruk bisa meningkatkan penularan berbagai penyakit seperti misalnya diare yang berdampak pada kurang gizi. Layanan kesehatan yang kurang memadai, misalnya ibu dan anak tidak dapat menerima intervensi yang memadai untuk mencegah dan menangani kurang gizi dan berbagai penyakit menular juga merupakan faktor penyebab kekurangan gizi secara tidak langsung.

Mengapa Stunting Perlu Diwaspadai?

Nah, mungkin kamu bertanya-tanya kenapa segitu hebohnya isu stunting ini sampai jadi perhatian nasional sih? Masalah malnutrisi di Indonesia bukan hanya stunting (pendek), melainkan ada wasting (kurus), dan overweight (gizi lebih). Tapi kenapa hanya stunting yang digembor-gemborkan?

Pertama yang harus kamu tahu adalah bahwa STUNTING BERSIFAT IRREVERSIBLE (tidak dapat kembali) alias permanen. Kalau seorang anak punya badan kurus atau terlalu gemuk, anak tersebut masih berpotensi untuk bisa mempunyai status gizi normal dengan cara mengubah pola makan dan pola hidupnya. Berbeda dengan stunting. Kalau sudah terjadi stunting pada seorang anak , seumur hidup dia akan memiliki postur tubuh pendek. Hal ini tidak bisa diperbaiki dengan cara apapun.

Lebih dari itu, stunting bukan hanya soal penampilan fisik tapi juga berkaitan dengan terganggunya perkembangan otak. Kalau perkembangan otak terhambat, dampaknya kemampuan dan prestasi di sekolah menurun, tingkat produktivitas dan kreativitas seseorang kurang optimal. Saat masuk dunia kerja anak stunted akan kalah bersaing dan menjadi beban keluarga sehingga bisa mewariskan kemiskinan pada generasi selanjutnya.

Hal itulah yang menjadi perhatian serius Pak Presiden, Pak Wapres, beserta jajarannya karena bicara soal stunting sama halnya bicara tentang masa dengan bangsa dan generasi mendatang. Stunting bukanlah masalah saat ini saja tetapi masalah yang dampaknya baru akan kita rasakan di masa depan. Coba bayangkan, bagaimana generasi penerus bangsa mampu bersaing dengan negara-negara lainnya kalau produktivitasnya rendah akibat stunting?

Kesimpulannya, masalah stunting adalah masalah nasional yang cukup serius karena bisa menggangu pembangunan negara.  Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Berdasarkan sebuah studi, kerugian ekonomi Indonesia akibat stunting mencapai  dua sampai tiga persen Produk Domestik Bruto atau  400 triliun rupiah kerugian ekonomi per tahunnya. Wow itu jumlah yang tidak sedikit!

Demi mencapai Indonesia sehat dan mencetak generasi bangsa yang cerdas, produktif, serta berdaya saing tinggi, upaya pencegahan stunting memang perlu digalakkan dan diberi perhatian khusus.

Kondisi Stunting di Indonesia

Dari data yang saya temukan, angka stunting balita di Indonesia berada di tahap yang mengkhawatirkan. Indonesia masuk ke dalam 5 besar stunting di Asia Tenggara, tentu saja ini bukan prestasi yang bisa dibanggakan.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) tahun 2013 menunjukkan, angka stunting balita di Indonesia mencapai 9 juta orang (sekitar 37%) atau mencakup 1/3 balita di Indonesia. Hal ini menjadi perhatian serius karena angka ini merupakan bagian dari masa depan bangsa yang jumlahnya cukup besar.

Bagaimana Kita Mendeteksi Anak Stunted?

Stunting ini bukan seperti penyakit-penyakit umum yang bisa segera dikenali gejalanya. Memang hal yang agak sulit mengenali stunting di usia dini karena memang tidak ada gejala klinis seperti demam atau rasa sakit di bagian tubuh tertentu. Ini yang kadang menyebabkan orang tua pada umumnya tidak menyadari kalau telah terjadi stunting pada anaknya.

Satu-satunya cara untuk mendeteksi stunting pada anak adalah kita sebagai orang tua harus rutin melalukan pemantauan status tinggi dan berat badan anak. Ini bisa dilakukan dengan kita datang ke posyandu, puskesmas, rumah sakit, atau klinik tumbuh kembang. Untuk mengukur panjang badan anak berusia di bawah dua tahun bisa dengan posisi berbaring. Sementara anak-anak di atas dua tahun bisa diukur tinggi badannya dalam posisi berdiri.

pertumbuhan-normal
Sumber: depkes.go.id (slide PPT Bapak Abas Basuni Jahari)

Kalau sudah tahu hasil pengukurannya, kita bisa langsung plot ke grafik WHO yang biasanya ada di buku KIA. Zaman sekarang juga sudah banyak aplikasi digital yang bisa digunakan untuk menyimpan dan memplotkan angka berat dan tinggi badan anak ke dalam grafik WHO.

Anak stunted akan memiliki grafik tinggi badan yang letaknya di bawah grafik normal. yaitu tepat atau di bawah grafik minus 2 atau minus 3. Terkait plotting grafik ini bisa dikonsultasikan ke tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan ya.

Oh ya, stunting biasanya juga ditandai dengan penurunan berat badan dan penurunan fungsi kognitif anak. Hal ini biasanya terjadi saat anak berusia 3-24 bulan (informasi menurut Dr. dr. Damayanti R. Sjarif, SpA(K)). Karena tak bisa diperbaiki, hal yang bisa dilakukan adalah mencegah agar anak Indonesia tidak mengalami stunting. Itu sebabnya dr. Damayanti mengimbau para orangtua untuk merujuk anaknya yang mengalami tanda-tanda stunting ke dokter spesialis anak. Nantinya dokter akan dapat mengenali apakah perawakan pendek yang dialami anak tersebut merujuk pada stunting atau penyakit genetik.

Apa yang Perlu Dilakukan Untuk Mencegah Stunting?

Stunting ini tidak bisa diobati, tetapi bisa dicegah. Upaya untuk mengatasi stunting sepenuhnya adalah upaya pencegahan karena stunting ditentukan oleh kondisi 1000 hari pertama kehidupan seorang anak, yaitu sejak janin ada di dalam kandungan hingga anak berumur 2 tahun.

Gambar di bawah ini saya rasa sudah sangat menjelaskan tentang keseluruhan intervensi yang bisa dilakukan di 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK), itulah waktu terbaik untuk mencegah stunting.

Ingat ya 1000 HPK itu bukan dimulai saat anak lahir, tapi jauh sebelum anak lahir yaitu ketika pertama kali ibu hamil sadar bahwa dia sedang mengandung.

intervensi-gizi-1000-hpk
Intervensi Gizi Selama 1000 HPK (Sumber: cegahstunting.id)

1000 HPK = 9 bulan ibu mengandung + 2 tahun pertama usia anak.

JIKA KAMU ADALAH IBU HAMIL

  1. Sejak konsepsi ibu hamil harus mengonsumsi tablet besi folat / gizi mikro (ini bisa kita minta saat periksa ANC/ antenatal care di fasilitas kesehatan, bisa juga beli di apotek).
  2. Selama kehamilan, asupan makanan harus dipastikan mengandung gizi yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan. Jangan sampai ibu hamil kekurangan gizi dan menderita kekurangan energi dan protein kronis ya.
  3. Jagalah kesehatan dengan mencegah ibu hamil tertular penyakit infeksi.

JIKA KAMU ADALAH IBU MENYUSUI DENGAN ANAK USIA 0-6 BULAN

  1. Berikan kolostrum atau ASI yang keluar pertama kali (yang berwarna kuning, jangan malah dibuang ya!)
  2. Berikan ASI secara eksklusif selama 6 bulan pertama tanpa memberikan makanan tambahan lainnya (berikan ASI saja).
  3. Jangan lupa selalu mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun setiap akan makan, sesudah makan, sesudah berhajat, sesudah mengganti popok bayi. Jaga kebersihan badan itu harus!

JIKA KAMU ADALAH IBU MENYUSUI DENGAN ANAK USIA 7-24 BULAN

  1. Lanjutkan memberi ASI hingga anak berusia 24 bulan.
  2. Berikan makanan pendamping ASI (MPASI) sejak anak berusia 6 bulan.
  3. Berikan kapsul vitamin A hingga usia anak mencapai 5 tahun, obat cacing pada anak usia 1-5 tahun, dan garam yodium di tingkat rumah tangga.
  4. Berikan imunisasi dasar lengkap.

Selain itu, intervensi gizi spesifik (langsung) lain di antaranya program Pemberian Makanan Tambahan (PMT), penanganan gizi buruk (kurus) serta pencegahan dan penanganan penyakit seperti diare, cacingan, dan malaria.

Intervensi gizi sensitif (tidak langsung) yang menjadi program pemerintah antara lain mempermudah akses pangan yang bergizi untuk semua, meningkatkan akses terhadap air bersih, sanitasi dan perilaku bersih sehat untuk mengurangi infeksi dan penyakit, pendidikan anak usia dini, keluarga berencana, program perlindungan sosial seperti bantuan tunai bersyarat melalui Program Keluarga Harapan (PKH) serta cakupan jaminan kesehatan semesta.

Anakku Mengalami Stunting, Apa yang Harus Dilakukan?

Sekali stunting terjadi, maka selamanya tidak bisa dipulihkan. Anak berusia lebih dari 2 tahun yang mengalami stunting mungkin tidak bisa mengejar pertumbuhan yang hilang. Kalau sudah telanjur terjadi stunting, hal yang bisa dilakukan adalah pencegahan infeksi dan pemberian stimulasi. Jangan sampai anak stunted yang kondisi gizinya sudah kurang kemudian diperberat dengan infeksi. Cara mencegah infeksi yaitu dengan melakukan pola hidup bersih dan sehat, serta pemberian imunisasi dasar.

Pencegahan stunting memang efektif kalau dilakukan di 1000 HPK karena di 1000 HPK itu sinapsnya dan saraf lebih bagus sehingga perkembangan otaknya lebih optimal. Hal ini disampaikan oleh dr. Minerva Riani Kadir SpA dari RS Sari Asih Ciputat. Diakui dr Minerva memang ada beberapa kekurangan jika intervensi stunting dilakukan di atas 1000 HPK. Namun, bukan berarti ibu putus asa dan si kecil dibiarkan saja tidak diapa-apakan.

Yuk, Kita Cegah Stunting demi Indonesia Sehat

Setelah kita mengerti begitu pentingnya pencegahan stunting demi generasi Indonesia yang sehat dan cerdas, yuk sekarang kita bersama-sama turut berpartisipasi mencegah stunting.

Kita bisa memulai dengan melakukan intervensi spesifik alias yang langsung bisa kita kerjakan. Lihat orang-orang terdekat di sekitar kita, baik itu keluarga, saudara, tetangga, atau teman. Adakah yang sedang hamil, menyusui, atau memiliki anak usia baduta (bawah dua tahun)? Sambil mengobrol santai dengan mereka, kita bisa menyampaikan informasi (tanpa menggurui tentunya ya) tentang pentingnya konsumsi tablet tambah darah dan folat bagi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayi, pemberian makanan pendamping ASI setelah anak berusia 6 bulan, meneruskan pemberian ASI hingga 2 tahun, dll.

Pemerintah pun sedang menjalankan perannya dalam melakukan intervensi sensitif demi pencegahan stunting. Pemerintah dalam hal ini bukan hanya Kementerian Kesehatan saja lho ya, tapi segenap jajaran pemerintahan dari lintas sektor. Karena pencegahan stunting ini bukan hanya tanggung jawab bidang kesehatan saja, melainkan diperlukan koordinasi lintas kementerian.

Pak Presiden pun menekankan, bahwa masalah stunting ini menjadi perhatian bersama sehingga upaya penurunan angka stunting membutuhkan kerja bersama yang harus melibatkan lintas sektor dan semua elemen masyarakat.

Referensi

http://www.depkes.go.id/article/view/18040700003/pemerintah-fokus-cegah-stunting-di-100-kabupaten-kota.html

‘https://www.liputan6.com/news/read/3060178/pidato-lengkap-presiden-jokowi-dalam-sidang-bersama-dpd-dan-dpr

Pidato di Depan MPR, Presiden Jokowi: Pengangguran Turun Jadi 5,13%, Gini Rasio Turun Jadi 0,389

https://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/04/04/p6o2yp428-penurunan-stunting-masuk-program-prioritas-nasional

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4219278/kurangi-stunting-ri-dapat-utang-rp-58-t-dari-bank-dunia?_ga=2.25649277.1964199221.1537636638-303658606.1495526022

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4218667/9-juta-anak-ri-alami-stunting?_ga=2.257327179.1964199221.1537636638-303658606.1495526022

‘https://wnpg.lipi.go.id/2018/07/06/wakil-presiden-bahas-stunting-di-wnpg-xi/

http://www.depkes.go.id/resources/download/info-terkini/materi%20pra%20rakerkesnas%202018/Pakar%20Stunting.pdf

https://cegahstunting.id/stunt/

https://www.worldbank.org/in/news/feature/2018/06/26/indonesia-fights-stunting-commitment-convergence-and-communities

https://www.worldbank.org/in/news/infographic/2018/06/27/growing-up-smart-and-tall

https://www.suara.com/health/2018/09/13/172016/begini-cara-mendeteksi-anak-stunting

Please follow and like me:

25 thoughts on “STUNTING TIDAK BISA DIOBATI TAPI BISA DICEGAH

  • wah benar ya harus waspada karena ada di nomor 17 dari 117 negara. Pola.gizi dari awal memang penting banget ya . Semoga makin banyak yang aware tentang hal ini.

  • Berarti yg utama dan penting sekali sumbernya ya ibu hamil. Jangan sampai kekurangan gizi dan vitamin dll. Bayi yg dilahirkan nantinya juga hrs full ASI agar pertumbuhannya normal. Ga boleh lupa selalu cuci tangan sebelum makan dll. Harus paham dan direalisasikan nih untuk mencegah terjadinya stunting.

  • Wah… stunting itu berawal dari bayi dalam kandungan ibu ya. Sebagai ibu wajib nih memperhatikan kesehatan dan asupan gizi anak. Jangan sampe anak kita stunting. Semoga anak² Indonesia bisa terhindar dari Stunting.
    Orang tua harus banget memperhatikan kesehatan dan asupan makanan pada anak ya… terimakasih infonya lengkap sekali

  • Orangtua memang kudu aware bgt soal pertumbuhan anak. Karena kalau cuek, anaknya bisa stunting begini ya. Dan kalau sudah stunting, penangannnya kudu ekstra ya…

  • waktu di Gorontalo aku lihay sendiri program pemerintah dan rakyat jd menyatu dan nilai persentase stunting turun. bahaya stunting berkelanjutan kalau tidak dicegah

  • Sekarang pemerintah tu konsennya ke sini yaaaaa. Supaya generasi Indonesia mendatang makin sehat dan berkualitas. Bener kuncinya adalah di ibunya sebelum menikah bahkan yaaa, soal gizinya

  • Stunting dpt diidentifikasi dari tinggi badan bayi saat lahir. Jika bayi lahir kurang dari 48 cm maka kemungkinan besar bayi tsb akan mengalami stunted. Hrs banyak diberi asupan protein utk mengejar ketertinggalannya

  • Di kampung saya masih ada banyak anak2 yang terlantar dan menderita kekerdilan. Maklum banyak perempuan yang jadi TKW, sementara anak cukup dititip di nene atau saudara. Jadinya tumbuh kembang tidak maksimal. Saya lihat sosialisasi pun kurang. Malah mereka masih banyak yang memberikan SKM kepada anak sebagai minuman susu…

  • setuju banget ini mbak. generasi kedepan emang perlu direncanakan yang matang untuk membangun keluarga kususnya, umumnya membangun generasi bangsa. faktor adat sebenernya sering berlaku di masyarakat indonesia. terutama bagi wanita yang sangat mematuhi apa kata ibunya. yang selalu nurut tentang mitos yang masih berlaku, meskipun tidak semua mitos turun temurun itu benar adanya.

  • Berharap stunting bisa di obati dan tidak ada lagi anak mengalami stunting. Masyarakat banyak yang kurang peduli dengan kesehatan. Masyarakat juga harus tau penyebab dan pencegahan stunting.

  • Dstu saya pikir saya kena stunting juga, karena waktu SD sampai SMA saya paling pendek dan kayaknya sampai jaman kuliah, berat badan saya selalu di bawah normal deh.. dengan tinggi 155cm, berat badan saya pas kuliah cm 39kg.

    Ternyata saya cuma telat dewasa aja, baru datang bulan pas SMA kelas 3. Hahaha..setelah itu tinggi badan saya masuk ke area rata2 orang indonesia, 155cm. Masalah berat badan under? Ternyata saya punya metabolisme 3 kali orang biasa. Jad makan apa saja langsung habis terbakar di dalam badan.

    Di Indonesia padahal banyak makanan pengganti yang kaya vitamin dan mineral ya. Saya dr kecil meski jarang makan nasi dan minum susu, tapi sering makan jagung, singkong, ubi, dan berbagai jenis makanan laut karena itu yang murah dan mudah ditemui di daerah saya. Jadi mestinya pemahaman soal gizi dan subtitusi makanan lokal juga bisa membantu mengatasi stunting di daerah ya.

  • Saya sendiri dari pengertiannya sedikit familiar tapi nama stunting sendiri rasanya masih terasa asing di telinga. Terima kasih sharingnya, Teh. Semoga makin banyak masyarakat yang peduli akan hal ini. Ini untuk orang tua atau calon orang tua harus tahu, penting banget.

  • Wah semoga masalah kekurangan gizi dan stunting bisa terus dicegah ya … semoga negara kita menjadi negara yang makmur hingga ga ada kasus kekurangan gizi karena ketidakmampuan secara ekonomi 🙂

  • Semoga semakin banyak ibu hamil yang paham pentingnya nutrisi lengkap bagi janinnya untuk mencegah stunting di kemudian hari. Hal yang ga kalah penting adalah meningkatnya kesejahteraan rakyat agar akses pemenuhan nutrisi bisa terealisasi.

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *