Film Chrisye: Mengupas Kisah Cinta, Cita, dan Religi

Hari ini H-1 penayangan perdana Film Chrisye di bioskop. Mungkin ada di antara kalian yang masih menimbang-nimbang, mau nonton nggak ya? Atau mungkin ada yang sudah apatis duluan dengan film Indonesia (duuh, jangan donk). Saya bukan fans Chrisye, yang saya tahu hanyalah Chrisye sang musisi legendaris dengan suaranya yang khas, lagu-lagunya yang tak lekang oleh zaman, dan gaya panggungnya yang kaku. Kalau saya pribadi, saat tahu film Chrisye akan ditayangkan, terbersit pertanyaan: “Kira-kira kisah apa yang mau diangkat di film ini ya? Apa kira-kira menarik atau justru membosankan? Jadi, perlu nggak saya nonton?”.

Yaah kalau hanya memprediksi saja sih nggak bakal nemu jawaban, tonton dulu donk baru bisa komentar. Beruntungnya saya berkesempatan untuk menghadiri undangan exclusive Gala Premier Film Chrisye di Epicentrum XXI Jakarta pada hari Jumat, 1 Desember 2017 lalu yang digelar oleh MNC Pictures bersama Vito Global Visi. Gala Premier yang dilanjutkan dengan Press Conference ini menghadirkan sang sutradara Rizal Mantovani, Ibu Damayanti Noor (istri almarhum Chrisye), jajaran aktor dan aktris pemeran: Vino G. Bastian, Velove Vexia, Ray Sahetapy, Andi Arsyil, Dwi Sasono, dan pemain pendukung lainnya. Tak hanya itu, di acara Gala Premiere ini turut hadir juga sejumlah pejabat, film maker, dan deretan musisi Indonesia.

Saya mau membagikan sinopsis yang saya dapat setelah menonton Gala Premiere, tenang saja, no spoiler kok.

Sinopsis

Film ini mengisahkan perjalanan hidup Chrisye dan menghadirkan konflik yang muncul di sepanjang hidupnya. Saat remaja, Chrisye menentang keinginan ayahnya yang meminta dia menjadi seorang insinyur. Diam-diam Chrisye bermusik dan berjuang membuktikan bahwa dia bisa menjadi musisi yang sukses pada jamannya. Di awal kariernya, Chrisye berkesempatan untuk memanggung bersama Gipsy Band di New York selama setahun, tepatnya di Ramayana Restaurant milik perusahaan Pertamina.

Sekembalinya ke Indonesia  di akhir 1976, Chrisye dihampiri oleh Imran Amir, pemimpin Radio Prambors, yang meminta agar Chrisye menjadi vokalis untuk Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors. Chrisye sempat menolaknya karena dia tidak mau bernyanyi solo, tetapi setelah mendengarkan lirik lagu “Lilin-lilin kecil” Chrisye pun setuju untuk membawakan lagu tersebut. Setelah itu, Chrisye mulai rekaman untuk lagu-lagu solo lainnya.

Read also:   Review MOOIMOM: Corset, Nursing Bra, Slimming Suit

Dalam perjalanan hidupnya, Chrisye menjadi mualaf dan mengganti namanya menjadi Chrismansyah Rahadi. Chrisye kemudian menikahi Gusti Firoza Damayanti Noor (Yanti) yang tidak lain adalah sekretaris Guruh Soekarno Putra. Mereka memulai kehidupan rumah tangga di sebuah kontrakan sederhana. Seiring dengan kesuksesan Chrisye, mereka akhirnya bisa membeli rumah dan membesarkan empat orang buah hatinya. Di tengah ketidakpastian finansial sebagai seorang musisi kala itu, Chrisye pernah mengalami kondisi finansial yang sulit. Bahkan dia sempat vakum dari dunia musik dan mempertimbangkan untuk berhenti lalu mencari pekerjaan lainnya. Walau bagaimana pun, pada akhirnya Chrisye berhasil membuktikan pada semua orang bahwa dia sukses dalam karier musiknya.

Konflik yang dialami Chrisye semasa hidup

Film yang disutradari oleh Rizal Mantovani ini sebenarnya lebih banyak mengupas sisi kehidupan Chrisye dalam peranannya sebagai seorang suami, seorang anak, dan seorang ayah. Kisah hidup Chrisye diceritakan dari sudut pandang Damayanti Noor, istri Chrisye. Melalui film ini saya akhirnya tahu bahwa di balik sosok Chrisye sebagai musisi ternama, dia hanyalah manusia biasa yang tidak terlalu confident saat bernyanyi. Chrisye adalah seorang yang mudah tertekan dan penuh kekhawatiran saat menghadapi konflik. Ini terlihat saat ayah Chrisye melarangnya pergi ke New York, Chrisye jatuh sakit. Demikian juga setiap selesai rekaman album baru. Menurut istrinya, Chrisye sakit karena memikirkan kekhawatiran albumnya tidak laris terjual di pasaran. “Kebiasaan” sakit inilah yang juga menjadi kendala saat Chrisye bersama Erwin Gutawa dan Jay Subyakto akan menggelar konser kolaborasi. Bayangkan saja, Chrisye kehilangan suaranya menjelang konser besar yang akan digelar di JCC Senayan dengan ribuan tiket sudah terjual habis!

Apakah konser tetap dilaksanakan dalam kondisi seperti itu? Atau justru dibatalkan?

Perjalanan spiritual dan pencarian jati diri seorang Chrisye juga menjadi sisi menarik untuk dibahas. Bagaimana tiba-tiba seorang Chrisye yang terlahir dari keluarga Tionghoa-Indonesia ini akhirnya mendapat bisikan kalbu untuk beralih kepercayaan dan menjadi seorang mualaf. Kemudian di puncak karirnya justru Chrisye mengalami kekosongan jiwa yang pada akhirnya menuntunnya untuk membuat sebuah lagu religi. Namun, dia hanya bisa membuat irama lagunya saja tapi kesulitan menuliskan liriknya sehingga dia meminta bantuan Taufiq Ismail, sang penyair dan sastrawan besar Indonesia, untuk membuat lirik lagu tersebut. Setelah lirik lagu selesai dikerjakan, ternyata Chrisye tak sanggup untuk menyanyikannya. Bukan suara yang keluar dari tenggorokan, melainkan air mata yang deras mengalir setiap kali mencoba menyanyikan lagu “Ketika Tangan dan Kaki Berkata”. Kenapa demikian? Bahkan istrinya sampai diminta hadir ke studio untuk menemani Chrisye menyelesaikan rekaman satu lagu itu. Taufiq Ismail pun ditelepon untuk dimintai keterangan mengapa syairnya begitu berat untuk dinyanyikan.

Read also:   Tips Menulis Konten Reportase ala Blogger

Dari keseluruhan kisah kehidupan dan konflik yang dialami Chrisye, kehadiran Yanti memegang peranan sangat penting sebagai seseorang yang selalu mendukung dan menguatkan Chrisye di balik sosok Chrisye yang perfeksionis dan mudah khawatir ini.

 

Komentar tentang Film

Alur cerita Film Chrisye mengalir asyik. Di awal hingga pertengahan cerita, kita akan banyak mendapati selingan percakapan yang mengundang tawa. Termasuk ketika melihat keluguan dan kekakuan seorang Chrisye saat melakukan pendekatan dengan Yanti. Namun, saya justru bertanya-tanya dalam hati, “Bukannya Chrisye tampaknya kalem ya? Tapi kok jadi agak kocak begini saat diperankan oleh Vino?”. Tapi, jujur saja saya toh tidak mengenal karakter Chrisye secara mendalam ya jadi sebenarnya saya juga nggak tau mendiang Chrisye itu seperti apa. Di tengah hingga akhir cerita, penonton akan disuguhi scene-scene yang membuat haru dan trenyuh. Terasa sekali perbedaan suasana yang terjadi dari awal hingga akhir. Overall, saya menikmati alurnya yang mengalir begitu saja.

Dalam film produksi MNC Pictures dan Vito Global Visi ini, Vino G. Bastian dipercaya untuk memerankan karakter Chrisye. Totalitas akting Vino nggak perlu ditanyakan lagi ya. Bahkan demi totalitas penampilannya, Vino sampai rela memasang rahang palsu dan rambut gondrong. Menurut informasi, untuk memasang rambut gondrong ini bisa menghabiskan waktu 1,5 jam, loh. Selain itu, untuk mendukung perannya, Vino pun harus banyak belajar soal musik dan dance, yang sebenarnya itu bukan bidangnya. Tapi semua usaha Vino terbayar sudah: ‘Vino adalah Chrisye’. Bahkan Damayanti Noor mengaku melihat sosok suaminya dalam diri Vino.

Velove Vexia, Vino G. Bastian, Damayanti Noor (kiri-kanan)

Di film ini, Vino beradu akting dengan Velove Vexia yang berperan sebagai istri Chrisye. Sebagai wanita zaman now tentunya ada tantangan tersendiri bagi Velove saat harus memerankan sosok wanita tahun 1970-an. Menurut Velove, dia harus rela mengubah penampilannya seperti memotong rambut, khususnya poni dan juga harus memakai lipstik warna merah gonjreng untuk bisa menyerupai wanita era ‘70-an.

Read also:   Mengatasi Napas Grok-grok pada Bayi

Overall, saya menikmati saat menonton film ini. Di akhir cerita seperti ada beberapa scene yang terpotong terutama tentang sakitnya Chrisye yang tidak terlalu di-expose, tetapi hal itu tidak mengurangi inti ceritanya. Suguhan akting dari pemain-pemain bertalenta cukup menghibur dan sukses mempengaruhi suasana hati penonton. (Beneran deh, keluar dari bioskop saya masih melihat beberapa orang yang mata merah berair abis nangis).

Jadi, bagi yang masih bingung mau nonton film ini atau enggak, mending nonton aja deh ya biar bisa menikmati keseluruhan isi cerita. Insya Allah nggak rugi. Oh ya jangan lupa, Film Chrisye mulai tayang besok ya, 7 Desember 2017.

 

Please follow and like me:

28 thoughts on “Film Chrisye: Mengupas Kisah Cinta, Cita, dan Religi