Apakah #BahagiadiRumah adalah Sebuah Pilihan?

Belajar dari filosofi ikan salmon, mereka ditetaskan dari telur-telur di perairan tawar, lalu bermigrasi ke lautan untuk menghabiskan hidupnya bertahun-tahun. Setelah dewasa, salmon-salmon akan menempuh perjalanan kembali ke tempat di mana mereka ‘dilahirkan’. Dalam perjalanannya yang tak singkat, salmon akan menemui berbagai kesulitan, risiko, dan ancaman kematian. Tetapi mereka akan tetap kembali, tanpa ada yang tahu apa alasannya yang pasti.

Sumber: www.bendbulletin.com

Tidak hanya salmon, manusia pun demikian adanya. Sejauh-jauh kita pergi meninggalkan tempat asal kita, suatu saat pasti kita akan rindu untuk kembali. Kembali ke peraduan, di mana berlimpah kehangatan dan kasih sayang keluarga. Kembali ke rumah. Kembali ke pelukan ibu dan bapak.

Berbicara tentang ibu sama halnya menghadirkan sebuah kerinduan yang mendalam. Sebagai anak rantau yang hampir sembilan tahun berjauhan dengan keluarga, merupakan kebahagiaan tersendiri ketika saya berkesempatan pulang ke rumah dan menemukan sosok ibu dengan senyum merekah di wajah yang kian tampak garis kerutannya. Saya rindu menghirup aroma teh buatannya, mencicip masakan-masakannya, mencium aroma keringat tubuhnya, melihat senyumannya, dan mendengar omelan-omelan kecilnya.

Ibu adalah seseorang tangguh yang selalu hadir di sepanjang hidup saya dan adik-adik. Sejauh ingatan saya, ibu belum pernah meninggalkan kami dalam jangka waktu yang lama, sehari-dua hari pun tidak! Ketika sosok ibu ‘menghilang’ beberapa jam saja dari pandangan mata kami, mulut-mulut kecil kami akan selalu bertanya-tanya mencarinya. Ah, begitu mudahnya rindu itu datang. Kehadiran ibu selalu membuat hati ini tenang. Pantas saja, ketika ibu pergi ke tanah suci beberapa waktu lalu, uraian air mata kami jatuh tak terbendung. Ibu belum pernah meninggalkan kami untuk waktu yang lama, sehari-dua hari pun tidak! Entah kekuatan magis apa yang membuat sosok seorang ibu selalu dirindu kehadirannya.

***

Dalam hitungan bulan, saya, adalah seorang perempuan yang (atas izin-Nya) akan menjalani peran baru sebagai seorang Ibu. Perlahan namun pasti, saya mencoba memahami bahwa seorang ibu memiliki peran yang tidak main-main dalam sebuah keluarga. Ibu adalah jantung keluarga yang harus terus berdegup untuk bisa melanjutkan nafas demi nafas kehidupan.

Read also:   Wajah Pelayanan Kesehatan di Indonesia Gara-Gara Ada BPJS Kesehatan

Berkaca dari sosok ibu saya, ketika nanti saya menjadi seorang ibu, saya ingin menjadi seseorang yang jarang absen dalam kehidupan anak-anak, yang keberadaannya selalu dinantikan, yang masakan-masakannya selalu dirindukan, yang selalu hadir dalam setiap tahap pertumbuhan anak-anaknya. Terlalu idealiskah? Mungkin, dulunya ibu saya pun tidak pernah punya cita-cita demikian. Beliau tidak berburu ilmu parenting seperti ibu-ibu modern masa kini, beliau yang awam hanya berusaha menjalani perannya saja, let it flow. Akan tetapi, justru hal-hal tersebut yang kemudian menginspirasi dan menjadi motivasi saya: untuk selalu ‘hadir’ di tengah keluarga.

Pada akhirnya, saya harus menentukan jalan untuk beberapa episode ke depannya, akankah tetap menjadi working mom atau stay-at-home-mom? Saya tidak sedang terjebak dalam perdebatan mana yang lebih baik dan mana yang tersudutkan. Apapun keputusan saya nantinya, tentunya hal itu akan menjadi salah satu keputusan tersulit bagi saya yang sudah telanjur mencintai pekerjaan tetapi di sisi lain saya ingin memaksimalkan peran saya sebagai jantung keluarga.

Untuk benar-benar menjadi ibu rumah tangga, saya sangsi, suami pun sangsi. Saya adalah orang yang tidak bisa berdiam diri di rumah. Jadi, pesan suami di sela-sela diskusi akan hal ini “kamu harus cari aktivitas biar tetap produktif dan nggak bosan di rumah”

Well, keputusan memang belum diambil. Saya sedang menata diri, juga menata batu-batu loncatan yang sekiranya bisa saya pijak untuk melangkah ke depannya. Toh kehidupan menawarkan beragam pilihan, kita tinggal ikhtiar dan pilih jalannya ‘kan? Perihal apakah saya bahagia, ah… itu saya yang harus menciptakannya sendiri.

Saya harus selesai dengan diri saya. Baiklah, barangkali, jika saya memutuskan untuk stay di rumah dan resign dari pekerjaan, saya jadi bisa menyalurkan keinginan dan hobi saya yang kemarin dulu belum sempat terealisasi karena kesibukan di kantor. Misalnya, saya bisa mencoba resep-resep masakan, mempelajari ilmu baking, menanam bunga, menulis lebih konsisten, dan tentunya saya memiliki waktu lebih banyak untuk ber-quality time bersama keluarga. Semua itu merupakan sumber kebahagiaan tersendiri bagi saya.

Read also:   Pengalaman Melahirkan dengan "Gentle"

Selain itu, jika saya memilih untuk stay di rumah, saya jadi bisa lebih fokus mempersiapkan diri untuk mencapai cita-cita yang masih tertunda yaitu melanjutkan studi master di negara-empat-musim. Oh ya, sebelum ini, tepatnya hingga tahun lalu, saya adalah seorang scholarship hunter yang sudah beberapa kali mengajukan aplikasi ke beberapa universitas di luar negeri dan beberapa lembaga pemberi beasiswa. Namun, segalanya masih menuai hasil ‘nyaris berhasil’ atau ‘masih gagal’. He he he….

Kalau memang mau jadi ibu rumah tangga, ngapain sekolah lagi?

Saya berprinsip bahwa seorang perempuan, di manapun ia berpijak nantinya, harus berpendidikan tinggi. Hal ini berlaku bagi yang ingin berkarir maupun menjadi ibu rumah tangga. Kita tahu bukan, bahwa seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya? Jadi sudah selayaknya seorang ibu, baik yang bekerja atau tidak, sebaiknya berpendidikan tinggi. Lagipula, hidup itu berjalan begitu dinamis. Bisa jadi hari ini kita menjadi wanita karir, tapi kemudian menjadi full-time mom, lalu ketika anak-anak sudah besar kita bisa menjadi apa saja sesuai passion kita, bukan? Jadi, belajarlah sebanyak-banyaknya.

Dalam rangka mempersiapkan diri menjelang keputusan yang akan saya ambil nantinya, kini saya lebih mengeksplorasi dunia tulis-menulis, terutama blog. Jadi, seandainya pun saya menjadi stay-at-home-mom, saya sudah berbekal pengetahuan dan ilmu menulis yang bisa diaplikasikan di mana saja. Dua bulan lalu, niat saya menjadi seorang blogger yang lebih serius diawali dengan berpindahnya alamat blog ke domain sendiri. Setelah itu, saya termasuk cukup rajin mengikuti beberapa kegiatan komunitas blogger dan event-event yang mengupas tentang dunia blogger.

Salah satu event yang saya datangi adalah “Ngobrol Inspirasi Bareng Nova” pada 26 Februari 2016 lalu dalam rangka NOVAVERSARY, yaitu event perayaan 28 tahun Tabloid NOVA menemani sahabatnya. Dalam acara tersebut, dihadirkan tiga narasumber yang membahas tentang seluk beluk blog, vlog, dan cara memotret yang baik.

Read also:   Program SMSbunda: Upaya Menurunkan AKI di Indonesia

Hal yang berbekas dalam ingatan saya adalah tema campaign NOVA: “Happy Home, Happy Life”. Tidak pernah ada sekolah khusus untuk menjadi seorang perempuan atau seorang ibu. Untuk itulah, NOVA mencoba menjadi sahabat perempuan melalui berbagi pengalaman dari para expertise di bidangnya masing-masing.

Menurut Pimred Tabloid Nova, menciptakan “Happy Home, Happy Life” bisa dimulai dari diri kita sendiri. Well, ini berarti suasana bahagia di rumah adalah pilihan yang bisa kita ciptakan sendiri, bukan? Mungkin definisi bahagia itu relatif berbeda bagi masing-masing individu. Yang pasti, kebahagiaan itu terletak pada bagaimana kita bersyukur terhadap jalan kehidupan yang kita pilih dan garis takdir yang kita hadapi. Jadi, bersyukurlah jika ingin hidup bahagia 🙂

Please follow and like me:

Comments

  1. Semangat ya Kak.
    Menulis akan membawa kita ke pintu ke mana saja

    sukses selalu.

    1. eskaningrum says:

      Aamiin. Setuju banget menulis (dan membaca) bener-bener akan bermanfaat dan membuka wawasan, juga silaturahmi. Makasih sudah berkunjung yaaa

  2. Maria Soraya says:

    betuuuul banyak2 bersyukur ya mak 🙂

    1. eskaningrum says:

      Yup harus mak biar ngga ngeluh terus

  3. winny says:

    bersyukur itu penting banget pak

    1. eskaningrum says:

      sip, banyak bersyukur biar rejekinya nambah

  4. Ery Udya says:

    Ayo menulis at home, saya juga lagi belajar mengembangkan blog.

    1. eskaningrum says:

      hayuk lah… semoga beberapa waktu ke depan bisa benar-benar mendatangkan manfaat dari hasil menulis ini

  5. Yup…bahagia itu tergantung kita sendiri. Intinya mensyukuri apa yang ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *