Gadget untuk Anak, YES or NO?

Karakteristik anak di era digital

Akhir-akhir ini saya sedang mencari informasi tentang penggunaan gadget untuk anak. Saya merasa, melahirkan anak di zaman millennial seperti sekarang ini pastilah tantangan ke depan akan semakin berat. For your info, anak era digital punya karakteristik tersendiri misalnya: punya ambisi besar untuk sukses, cinta kepraktisan dan kebebasan, berperilaku instan, percaya diri, punya keinginan besar untuk mendapat pengakuan, serta update dengan teknologi informasi dan digital.

Anak saya, Halwa (23 bulan) sudah sangat tertarik dengan gadget di usianya yang masih hitungan bulan. Ya pastilah sebabnya karena orang-orang di sekitarnya (termasuk saya sendiri) hampir setiap harinya “memaparkan” dia dengan gadget. Entah untuk berkomunikasi (chat, telepon, medsos) maupun mengambil foto atau video kelucuan tingkahnya.

Halwa sudah bisa meminta, misalnya tiba-tiba dia bilang “Mau liat video Halwa” sambil dia mengambilkan handphone saya. Nah, kalau nggak dikasih liat, dia akan terus-terusan meminta. Kalau dikasih liat video dari handphone, di situlah saya semacam feel guilty karena untuk menyudahinya susaah banget.

Saya khawatir banget ke depannya Halwa adiktif dengan gadget karena saudaranya sudah ada yang punya bibit-bibit adiktif gadget di usianya yang masih sangat belia.

“Raising Children in Digital Era”

Beruntungnya saya dapat undangan dari Blogger Perempuan dan SIS Bonavista tanggal 31 Agustus 2018 untuk hadir di talkshow yang membahas tentang “Raising Children in Digital Era”. Narasumber di acara tersebut adalah psikolog Elizabeth T. Santosa yang cantik, kece, dan asyik banget orangnya. Bahasa pemaparannya juga gampang banget diterima oleh para mommy peserta talkshow.

Mba Lizzie, sapaan hangat Elizabeth T. Santosa, juga adalah penulis buku “Raising Children in Digital Era” yaitu buku parenting pertama di Indonesia yang memberikan informasi tentang cara mendidik anak yang efektif dalam era digital. Kamu bisa dapetin bukunya di Gramedia terdekat. Saya tertarik beli bukunya, tapi masuk wishlist dulu lah karena saya masih punya PR baca buku-buku yang sudah dibeli tapi belum dibaca. Nanti kalau saya sudah baca buku Mba Lizzie, insyaAllah saya review ya bukunya.

Kali ini saya akan ulas pembahasan dari Mba Lizzie saat talkshow ya.

Apakah gadget selalu berdampak buruk untuk anak?

Ternyata tidak.

Gadget itu bukan monster dan tidak jahat selama digunakan dengan baik dan untuk hal positif. Bahkan, gadget bisa banget digunakan sebagai media untuk meningkatkan kemampuan akademik dan kreativitas anak. Menurut Mba Lizzie tidak ada bedanya mengajarkan huruf kepada anak melalui gadget vs flashcard. Sama saja.

Contoh lainnya penggunaan gadget adalah untuk bermain video games. Hal yang sangat bagus kalau anak bermain video games bersama orang tua untuk bonding orang tua-anak. Nah, masalahnya apakah orang tua mau bermain video games bareng anaknya?

Gadget ibarat dua mata pisau, tergantung tujuan dan cara menggunakannya. Pesan Mba Lizzie, janganlah melulu lihat sisi negatif dari gadget ya Moms. Ibu bijak di era digital adalah ibu yang update dengan perkembangan zaman dan tidak mudah melarang anak melakukan sesuatu. Tapi, penting bagi kita untuk tetap harus mendampingi atau mensupervisi kegiatan anak.

Read also:   Pengalaman Melahirkan dengan "Gentle Birth" dan Minim Trauma

Bagaimana dengan anak yang kecanduan bermain gadget?

Jangan salahkan gadget, media, atau aplikasi sebagai biang kerok anak yang adiktif alias kecanduan gadget. Tapi, salahkan penggunanya. Kalau ada anak di bawah umur 13 tahun kecanduan bermain gadget, berarti salahkanlah orang tua yang memberi gadget pada anaknya.

Anak suka bermain gadget hingga kecanduan gadget mungkin karena orang tuanya malas memberikan/ mencarikan aktivitas permainan untuk anak. Padahal, anak-anak selalu butuh mainan.

Kalau anak sudah kecanduan gadget, mau nggak mau ya kita harus tegas bersikap. Ambil gadgetnya. Pastilah nggak ada anak adiktif gadget yang senang kalau gadgetnya diambil. Di hari-hari awal tanpa gadget, pastilah dia akan ngamuk, teriak, atau menangis meminta gadgetnya kembali. Itu wajar karena perubahan dalam hidup itu nggak ada yang enak. Tapi kita manusia yg adaptif, apalagi anak kecil. Nah, tinggal seberapa tahan kita melihat anak marah dan ngamuk ketika kita membuat perubahan itu.

Tidak memberi gadget = Tidak sayang anak?

Ini konteksnya masih terkait dengan anak yang kecanduan gadget ya Moms. Dengan kita ambil gadget dari si anak demi mengurangi keterpaparannya terhadap gadget, bukan berarti kita nggak sayang anak. Kata Mbak Lizzie, “Kasihi anak tapi jangan memanjakan dengan selalu memberi segala kemudahan dan fasilitas”.

Kita bisa bandingkan zaman now dengan zaman old. Dulu itu zaman susah, mainan saja susah didapat. Beda dengan zaman sekarang yang segalanya mudah banget didapatkan. Jangan sampai kemudahan-kemudahan dan fasilitas yang ada justru membuat anak kita manja.

Pernah terpikir nggak, berapa lama sih waktu kebersamaan kita dengan anak? Di umur 18 tahun, dia sudah milik teman-temannya. Nggak ada yang bisa menjamin anak-anak kita siap menghadapi dunianya ketika kita nggak ada. Oleh sebab itu, kita mesti membentengi anak-anak kita sejak usia dini agar siap menghadapi kehidupannya kelak.

 

Tantangan internet dan media sosial

Kecanduan internet dan games lebih popular dibanding kecanduan narkoba. Coba Moms, pikirkan hal apa yang sekiranya akan terjadi 10 tahun ke depan terhadap anak kita agar bisa kita cegah dari sekarang. Misalkan ada anak usia 8 tahun yang mengalami adiksi terhadap media, games online chatting room itu merupakan pintu gerbang masuknya pornografi loh. Sampai kapan pun isu pornografi dan adiksi, bully/ cyberbully, dan sexting masih akan tetap ada di era yang serba digital ini.

Memori terhadap pornografi sulit dihapus

Menurut Dr. Victor Kline, pada dasarnya manusia merekam semua memori di otak, khususnya ingatan yang membuat emosi senang dan bahagia tidak mudah dilupakan. Semakin tinggi intensitas emosi, semakin sulit dihapus ingatan tersebut.

Saat anak menonton konten seksual, anak akan terangsang dan merasakan sensasi seksual secara fisiologis. Sensasi ini akan terekan secara pernamen di otak oleh hormon epinephrine. Akibatnya, anak akan mengingat kembali adegan fantasi seksual saat masturbasi. Dalam jangka panjang, anak akan tergoda untuk merealisasikan fantasi seksual tersebut.

Read also:   Nak, Selalu Ada Cinta dalam Untaian Doa Untukmu

Dr. Jerry Bergman menyatakan bahwa anak yang melihat konten pornografi dan sensasi seksual sejak dini dapat mengakibatkan rasa bingung dan stimulasi berlebihan yang belum siap diterima oleh perkembangan mentalnya saat itu.

Karakteristik anak dan remaja yang kecanduan pornografi dan online:

  1. Perilakunya tidak terkontrol
  2. Menunjukkan euphoria saat di depan computer dan aktivitas internet
  3. Menelantarkan teman dan keluarga
  4. Perilaku kurang tidur
  5. Menunjukkan sikap bersalah, rasa malu, cemas, ataupun depresi sebagai akibat dari perilaku adiksi
  6. Perubahan fisik seperti berat badan bertambah atau berkurang drastic dalam waktu beberapa bulan, sakit punggung, sakit kepala, dan sindrom lorong karpal
  7. Menghindar dari aktivitas lain yang menyenangkan
  8. Nilai akademik turun drastis.

Moms, cegahlah dari saat ini dengan mendampingi anak bermain gadget, bisa lakukan tips di bawah ini .

 

Tips menggunakan internet dan media sosial

  1. Larang anak usia di bawah 13 tahun menggunakan sosial media.
  2. Aplikasikan peraturan dasar, antara lain dengan membatasi jam bermain gadget anak hanya di waktu-waktu tertentu misalnya anak hanya boleh bermain gadget di hari Sabtu dan Minggu ketika ada orang tuanya.
  3. Setting privasi dalam media sosial, misalnya dengan setting private konten dewasa pada youtube.
  4. Gunakan perangkat lunak yang dapat menyaring website (filtering software).
  5. TIDAK menggunakan laptop/ komputer di kamar untuk anak di bawah usia 14 tahun.
  6. Orangtua perlu jeli untuk memperhatikan situs-situs yang sering anak kunjungi dan orang-orang yang berkomunikasi dengannya. Jadi, rajin-rajinlah mengecek histori pada mesin pencari.
  7. Orangtua wajib mencontohkan perilaku teladan dalam menggunakan sosial media.
  8. Batasi penggunaan telepon genggam.
  9. Fenomena Nomophobia (No mobile phone phobia).
  10. Bicarakan dengan anak mengenai bahaya online.
  11. Orang tua harus melek teknologi agar selalu ter-update perkembangan teknologi dan informasi.

Yang terpenting dari semua ini adalah bangun bonding yang kuat dengan anak kita, Moms. Ikatan emosional menjadi sangat penting karena ikatan emosional yang sehat antara anak dengan orang tuanya sangat membantu anak dan remaja dalam menerima supervisi dari orangtua, mengadopsi nilai-nilai yang dianut orang tua, dan anak juga bisa menaati aturan dalam keluarga.

Tentunya kita nggak mau kan, ketika anak kita beranjak dewasa justru jarang berkomunikasi dengan orang tuanya sendiri. Untuk itulah ikatan emosional perlu dibangun sejak anak masih dini. Ajaklah anak berkomunikasi setiap hari, jadilah sahabat yang menyenangkan untuk anak, tunjukkan kasih sayang kita pada anak, dukung setiap kegiatan positif anak kita, berikan apresiasi untuk usahanya berbuat baik, dll.

 

Ternyata topik bahasan kids digital hari ini related banget dengan visi misinya SIS Bona Vista. Btw, murid-murid di Singapore School Bona Vista sama sekali nggak dilarang membawa gadget. Walau bagaimanapun, gadget itu penting banget untuk media komunikasi murid dengan orang tuanya, misalnya dalam hal penjemputan saat jam sekolah berakhir.

Read also:   Tips Memilih Popok Sekali Pakai yang Tepat untuk Bayi Baru Lahir

Tapi peraturan di Singapore International School ini cukup ketat tentang penggunaan gadget. Saat jam sekolah, murid-murid WAJIB menyimpan gadget mereka.

Dalam rangkaian acara talkshow di SIS Bona Vista, selesai diskusi dengan Mba Lizzie kami diajak tour di area sekolah SIS Bona Vista.

 

SIS Bona Vista

Singapore Intercultural School (SIS) Group of School sudah ada sejak 1996. Di Jakarta sendiri ada 3 SIS (Bona Vista, Kelapa Gading, dan PIK), sedangkan di kota lainnya ada di Cilegon, Semarang, Palembang, dan Medan. Salah satu Kelebihan dari SIS adalah diterapkannya 3 kurikulum terbaik dunia: Singapore, Cambridge, dan International Baccalaureate  (IB).

Kalau kita mengunjungi SIS, sebagian besar pengajar dan muridnya adalah expatriat, hanya sepertiga murid saja yang berasal dari Indonesia. Oleh karena itu, bahasa utama yang dipakai di Singapore International School ini adalah bahasa inggris, baru kemudian mandarin dan bahasa indonesia.

Saat saya berkeliling area SIS Bona Vista, murid-murid dan gurunya tampak akrab sekali, terasa banget nuansa kekeluargaan diterapkan oleh SIS meskipun mereka berasal dari berbagai kebangsaan. Apalagi, ketika saya tahu bahwa jumlah murid per kelasnya dibatasi hanya sekitar 18-24, keakraban antar teman dan guru semakin terasa dengan sedikitnya jumlah murid di kelas tersebut.

Tentu saja saya nggak melihat ada murid yang bermain gadget di sana. Selain karena peraturannya demikian, tapi saya lihat fasilitas di SIS yang begitu lengkap berhasil membuat murid-murid sibuk mengeksplorasi lingkungannya. Fasilitas yang disediakan selain ruang kelas antara lain laboratorium sains, ruang musik, ruang seni, perpustakaan, teater, gym, playground, lab komputer, lapangan sepak bola dan futsal, kantin, dll.

Di SIS ada 4 divisi yaitu Pre-School (setara Paud – SD), Primary (setara SMP), Secondary (setara SMA), dan Junior College. Untuk anak seumuran Halwa, bisa nih masuk ke Pre-School Division yang diperuntukkan untuk anak mulai usia 18 bulan – 6 tahun.

Bagi yang ingin tau lebih lanjut tentang Singapore School ini, datang saja ke Open House SIS Bona Vista di hari Sabtu,15 Sept 2018 (minggu depan) pukul 09.30 – 11.30 WIB

Berikut ini alamatnya ya:

SIS Bona Vista

Jl. Bona Vista Raya, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan

Telp. (021) 759 14414

IG & Twitter: @sisbonavista

Web: https://sisschools.org/sis-bonavista

 

Please follow and like me:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *