Kasus DBD Meningkat di Musim Hujan, Lakukan Tips ini Yuk!

Di sebuah WA Grup, ada seorang ibu bercerita kalau orangtua teman anaknya baru saja meninggal karena demam berdarah (DBD). Seseorang lainnya menimpali kalau tetangganya juga ada yang terkena DBD, selang dua jam masuk RS kemudian meninggal. Saya turut sedih mendengar kabar-kabar duka itu. Sebenarnya di beberapa portal berita juga sudah dikabarkan beberapa kasus kematian yang belakangan ini terjadi akibat DBD. Saat musim hujan kaya sekarang ini memang penderita DBD semakin meningkat.


Perihal DBD ini dikupas tuntas dalam acara meet up Healthies pada hari Kamis (7 Februari 2019) di Kantorkuu Agro Plaza Kuningan yang menghadirkan narasumber dari Kementerian Kesehatan (dr. Siti Nadia Tarmizi) dan influencer (dr. Gia Pratama).

 

Kadang saya berpikir, musuh kita saat ini sekecil itu (nyamuk, maksudnya) tapi akibat kalau tertular bisa fatal banget. Minimal dirawat di rumah sakit, akibat paling fatalnya bisa terjadi kematian. Saat meet up Healthies, dr. Siti Nadia Tarmizi dari bagian P2PTVZ Kemenkes menjelaskan banyak hal tentang nyamuk penyebab demam berdarah, penularannya, serta tips pencegahannya.

 

Agar Penderita DBD tidak Semakin Kritis

Di kesempatan itu, surprisingly Ibu Menteri Kesehatan (Prof. dr. Nila Moelek) hadir di tengah acara. Nah saya gunakan kesempatan itu untuk bertanya kepada beliau tentang bagaimana mencegah agar orang yang sudah terjangkit DBD tidak semakin parah kondisinya hingga berujung pada kematian?

 

Dr. Nila menjelaskan bahwa pasien yang terkena DBD bila dengan cepat mendapatkan pertolongan medis akan berpeluang mengurangi angka kematian. Adapun pasien yang meninggal karena DBD, menurut dia, karena umumnya pasien terlambat menndapat pertolongan medis.

 

Dr. Gia Pratama (dokter sekaligus influencer/ selebtwit, kenal kan?) juga menambahkan bahwa fase paling berbahaya dalam perjalanan penyakit DBD biasa disebut fase pelana kuda. Pada kondisi ini, demam yang turun kerap dianggap ‘sembuh’, padahal justru pasien harus segera mendapatkan penanganan. Jika terlambat, pasien bisa meninggal karena jumlah trombosit yang terus-menerus turun. Setelah memasuki hari keempat hingga keenam, demam cenderung turun, pasien DBD cenderung menimbulkan perdarahan, seperti mimisan. Namun kebanyakan orang tidak mewaspadai fase yang paling berbahaya ini.

 

Jadi Moms, untuk kita waspadai bersama ya kalau ada anggota keluarga terutama anak-anak yang mengalami demam hingga tiga hari berturut-turut, segera saja dibawa ke dokter untuk segera dicari penyebab demamnya ya.

Read also:   Tips Mencegah Stunting? Millennials WAJIB Tahu Ini Sebelum Menikah!

 

 

Penyebab DBD

Penyebab demam berdarah adalah virus dengue. Nyamuk dari spesies Aedes jadi perantara penyebaran virus dengue tersebut. Nyamuk yang punya badan belang-belang hitam dan putih ini tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Makanya, nggak heran ya kasus DBD ini merata terjadi di hampir seluruh wilayah di Indonesia.

 

Nyamuk Aedes ini biasanya menggingit atau mengisap darah manusia di pagi dan sore hari. Nah Mom, kita harus waspada nih kalau anak-anak sering main di rumah saat jam operasional si keluarga Aedes ini ya.

 

Nyamuk yang perkembangannya pesat banget ini suka berkembang biak di di tempat penampungan air dan barang-barang yang memungkinkan air tergenang. Selain itu, mereka juga berkembang biak di selokan/ got/ kolam air yang langsung berhubungan dengan tanah. Jadi, kita mesti hindari ya Mom segala tempat yang memungkinkan untuk perkembangbiakan nyamuk ini.

 

 

Siklus Hidup Nyamuk Ae. Aegypti

Apa sih makanan utama nyamuk? Ternyata nyamuk Aedes Aegypti jantan hanya makan buah, sedangkan nyamuk betina selain makan buah juga mengisap darah manusia. Untuk apa darah manusia?

Darah manusia diperlukan nyamuk betina untuk membantu pematangan telur nyamuk. Nyamuk betina ini mengisap darah manusia tiap sehari 2x lalu mereka bertelur di air. Ketika bertelur, nyamuk ini menghasilkan sekitar 30-150 telur per 2-3 hari. Kemudian, telor-telor nyamuk ini akan mereka letakkan di dinding tempat air atau pada benda yang terapung di permukaan air. Oh ya, sudah tau kah Mom, kalau telur nyamuk ini ternyata bisa bertahan hidup tanpa air sekitar 6 bulan?

Spesies Aedes ini bermetamorfosis secara sempurna! Telur nyamuk akan berubah jadi larva, kemudian berubah lagi jadi pupa sebelum akhirnya jadi serangga dewasa.

 

 

Musim Hujan, Musim Demam Berdarah

Kalian perhatikan nggak, kasus DBD ini sering terjadi di bulan Januari hingga Februari. Kenapa penyebaran DBD meningkat saat musim hujan? Jawabannya adalah saat musim hujan. kelembapan dan suhu optimum bagi nyamuk sehingga umur rata-rata nyamuk lebih panjang. Kondisi inilah yang mengakibatkan meningkatnya jumlah penderita DBD pada musim hujan.

 

Cara Penularan

Virus dengue berkembang biak dengan cara membelah diri dan virus ini akan berpindah bersama air liur nyamuk saat nyamuk menggigit manusia. Penularan paling sering dilakukan oleh nyamuk Aedes Aegypti. Nyamuk yang sudah mengandung virus dengue seumur hidupnya bisa menularkan kepada orang lain.

Read also:   Persembahan Pampers untuk Momen Pertama bersama Buah Hati

 

Pencegahan DBD

Berikut ini upaya yang bisa kita lakukan untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk DBD:

Cegah dengan 3 M Plus

Saat ini, cara yang dianggap paling efektif adalah kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus, yaitu:

1) Menguras = membersihkan tempat penampungan air misalnya bak mandi, ember, tempat penampungan air minum, tempat penampungan air lemari es, dll.

2) Menutup = menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dll.

3) Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk. (Ingat ya, bukan mengubur barang bekas tapi sebaiknya mendaur ulangnya sehingga kita turut berpartisipasi dalam menjaga bumi kita tercinta).

PLUS nya apa donk??

Nah, yang dimaksud PLUS adalah segala bentuk kegiatan pencegahan seperti:
1) Menabur bubuk larvasida di tempat penampungan air yang sulit dibersihkan.
2) Menggunakan obat nyamuk/ obat anti nyamuk.
3) Menggunakan kelambu saat tidur.
4) Memelihara ikan cupang/ ikan pemangsa jentik nyamuk.
5) Menanam tanaman pengusir nyamuk, seperti lavender, bunga kenanga, bunga krisan, sereh, kemangi, dll.
6) Menggiatkan program 1 rumah 1 jumantik.
7) Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah.
8) Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa jadi tempat istirahat si nyamuk, dll

 

Ada beberapa hal yang mau saya tekankan dan mungkin jadi pertanyaan para Mommy:

 

Fogging, Yes or No?

Pastinya di daerah Mommies sudah ada yang dilakukan fogging ya. Tapi ternyata fogging itu hanya efektif mematikan nyamuk dewasa saja, tapi tidak memberantas telur, larva, dan jentik nyamuknya. Jadi, selain fogging bisa juga dibarengi dengan upaya lainnya ya, Mom.
Oh ya, fogging itu kan pengasapan dengan bahan insektisida, jadi bagi yang punya hewan piaraan bisa diungsikan dulu ya supaya nggak terkena asapnya, kasihan kan. Lalu, upayakan semua anggota keluarga pakai masker selama proses fogging dilakukan.

 

Lotion Anti Nyamuk, Yes or No?

Banyak pasti ya di antara kita yang menggunakan lotion anti nyamuk. Saya juga kadang menggunakan untuk si kecil. Tapi ternyata lotion ini nggak boleh dipakai setiap hari karena penggunaan berlebihan bisa berdampak buruk bagi pengguna dan nyamuk Aedes Aegypti itu sendiri. Loh, koq bisa?

Read also:   Wajah Pelayanan Kesehatan di Indonesia Gara-Gara Ada BPJS Kesehatan

Menurut Profesor Saleha Sungkar, salah satu pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, penggunaan lotion yang berlebihan membuat pemakainya berisiko mengalami iritasi kulit hingga alergi karena insektisida yang menempel pada kulit. Oleh karena itu, disarankan penggunaan lotion atau spray antinyamuk diselingi dengan bahan alami, seperti minyak kayu putih atau minyak sereh. Misalnya hari ini pakai lotion anti nyamuk, besok pakai minyak kayu putih. Diselang seling seperti ini jauh lebih baik dan efektif.

 

Selain itu, penggunaan lotion dan spray antinyamuk juga tidak selalu harus digunakan pada kulit. Kalau takut iritasi kulit yang disebabkan oleh bahan kimia dari lotion, kita bisa mengoleskannya di pakaian atau kaos kaki saja karena efektivitasnya sama saja dengan yang dioles di kulit.

 

Bikin Larvitrap Sendiri, kenapa tidak?

Di akhir acara meet up, dihadirkan tim dari BBTKLPP (Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit) yang mengajari para audience tentang cara membuat larvitrap sendiri di rumah dengan bahan sederhana : botol air bekas, plastik, hitam, kain kasa, cutter. Nah, buat apa sih larvitrap ini?

– Menyediakan tempat nyamuk untuk bertelur, namun saat jentik berkembang menjadi larva dan nyamuk akan mati karena tidak bisa keluar
– Larvitrap merupakan teknologi tepat guna (TTG) yang mudah direplikasikan dan digunakan oleh masyarakat
– Larvitrap dapat digunakan sebagai alat surveilans (pemantauan) vector, dan sebagai alat pengendalian vector.
– Larvitrap sebagai perangkap larva/nyamuk yang dapat dibuat dari limbah botol plastic bekas yang ada di sekitar permukiman penduduk, berguna untuk menekan populasi nyamuk
– Masyarakat dapat diberdayakan dalam pembuatan larvitrap dan penggunaan larvitrap.

 

 

Nah sekian informasi kesehatan ini ya Mom, yang pasti tubuh kita harus dijaga agar sehat selalu dan daya tahan baik sehingga bisa menangkal berbagai macam virus yang mampir di tubuh kita. Keep Healthy!

 

 

-SKA-

Please follow and like me:

2 thoughts on “Kasus DBD Meningkat di Musim Hujan, Lakukan Tips ini Yuk!

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *