tips mencegah stunting

Tips Mencegah Stunting? Millennials WAJIB Tahu Ini Sebelum Menikah!

Pendek vs Kurus, Lebih Bahaya Mana?

 

“Anakku BB-nya nggak naik nih…”

“Anakku naik BB-nya sedikit banget, diberi booster apa ya biar mau makan?”

“Duh, anakku lagi GTM (Gerakan Tutup Mulut_red) susah banget makannya”

 

Familiar dengan keluhan-keluhan semacam itu?

Berat badan anak dan anak susah makan adalah dua hal yang menjadi momok kegelisahan hati para emak di dunia pengasuhan anak masa kini.

Ini permasalahan klasik. Kamu, wahai para ibu di seluruh jagat raya, hanya perlu menghadapinya dengan SABAR.

Saya berada di barisan emak yang punya anak dengan berat badan irit. Kita tak perlu risau, selama grafik berat badan anak ada di rentang garis hijau KMS (Kartu Menuju Sehat), terpantau naik, anak jarang sakit, dan tumbuh kembang anak sesuai tahapan usia.

 

kartu-menuju-sehat
Kartu Menuju Sehat (KMS)

 

Anak kurus masih diperbaiki status gizinya (reversible). Hal yang seharusnya LEBIH DIKHAWATIRKAN adalah ANAK STUNTING (tubuh pendek). Stunting sifatnya irreversible, artinya tinggi badan anak tidak bisa dipulihkan dengan cara yang sama seperti mereka memperoleh kembali berat badannya.

 

Mengapa Stunting itu Genting?

Kalau anak telanjur stunting, dia akan berpostur tubuh pendek selamanya. Konsekuensi stunting bukan hanya soal penampilan fisik ya, tapi ada persoalan yang lebih serius yaitu terhambatnya perkembangan fungsi kognitif. Stunting tidak ada obatnya.

 

Karena gentingnya isu stunting di Indonesia,  Presiden RI menetapkan stunting sebagai prioritas masalah nasional. Generasi stunting akan menghadapi risiko perkembangan kognitif terhambat, pencapaian akademis buruk, serta produktivitas ekonomi pun rendah. Jelas, ini menjadi isu nasional yang harus segera ditangani.

 

Angka stunting balita di Indonesia mencapai 37%. Artinya, sekitar sepertiga balita di Indonesia mengalami stunting. Apakah kita tega membiarkan buah hati kita mengalami stunting? Oh NO!

 

1000 Hari Pertama yang Menentukan Masa Depan

Seribu hari pertama kehidupan bayi (sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun) adalah periode masa emas / golden period yang akan menentukan masa depannya. Jika di usia ini asupan gizinya kurang, pertumbuhan bayi akan terhambat dan bisa terjadi kerusakan fungsi otak permanen (tidak bisa dipulihkan).

 

gizi 1000 hpk
Intervensi Gizi Selama 1000 HPK (Sumber: cegahstunting.id)

 

Anak pertama saya, Halwa, genap berusia 2 tahun. Alhamdulillah saya dikaruniai buah hati yang jarang sekali sakit. Halwa hanya beberapa kali mengalami selesma (batuk pilek) sejak bayi hingga usia 16 bulan. Kemudian diam-diam saya mengamini manfaat besar pemberian ASI Eksklusif beserta pemberian imunisasi wajib dasar untuk anak.

 

Melalui tulisan ini, saya bermaksud membagikan pengalaman saya, tentang cerita persiapan kehamilan saya dan apa yang telah saya lakukan dalam memberikan modal terbaik di awal kehidupan Halwa.

 

Wahai Ladies, Persiapkan Gizimu sebelum Menikah

Status gizi ibu hamil tidak dibangun dalam waktu semalam! Seorang wanita hendaknya mempersiapkan diri menghadapi kehamilan jauh-jauh hari sebelum dia menikah.

Mereka perlu menyadari bahwa tubuh seorang wanita didesain untuk hamil, melahirkan, dan menyusui. Jadi, sebelum tiba masa trimester awal kehamilan yang digadang-gadang sebagai masa paling kritis pembentukan otak bayi, sebaiknya kita sudah punya cadangan zat gizi yang mumpuni di dalam tubuh kita.

Beberapa tahun sebelum menikah, saya sudah menerapkan prinsip hidup sehat dengan rajin berolahraga, makan makanan bergizi seimbang, mengurangi minuman ringan dan fast food, memperbanyak porsi makan sayur dan buah, dan berusaha tidur cukup di malam hari.

Setelah saya menikah (meskipun belum hamil) saya rajin mengkonsumsi tablet multi-mikronutrien (MMN). Ketika datang menstruasi pun saya hampir selalu mengonsumsi tablet tambah darah. Hal ini bertujuan agar cadangan zat gizi dalam tubuh saya nantinya mampu memenuhi kebutuhan yang meningkat terutama di awal kehamilan.

 

Wahai Ibu Hamil, Upayakan Bayimu Tidak Lahir BBLR

Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram. Di berbagai jurnal disebutkan bahwa bayi yang lahir BBLR berkaitan erat dengan kejadian stunting. Selain itu, saat dewasa nanti, bayi BBLR punya risiko lebih tinggi dalam hal menderita berbagai macam penyakit kronis.

Iby hamil (bumil) HARUS MENJAGA ASUPAN GIZI selama kehamilan. Makanan bumil bukan lagi untuk dirinya sendiri, tapi juga digunakan untuk perkembangan janinnya. Jadi, jangan sampai bumil menderita kekurangan gizi ya karena janin yang berada di dalam lingkungan kurang gizi bisa terhambat perkembangannya dan berpotensi lahir BBLR.

 

TIPS UNTUK BUMIL: Bacalah Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA)

Informasi di dalam Buku KIA ini sudah sangat lengkap, bahasa mudah dimengerti, dan bisa diaplikasikan oleh siapa saja.

buku kia
Contoh Buku KIA, ini versi lama

Buku KIA ini dilengkapi dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) dan kartu imunisasi. Buku terbitan Kemenkes ini bisa kamu dapatkan di posyandu atau puskesmas.

 

isi buku kia
Isi Buku KIA

 

5 TIPS di Masa Kehamilan

 

  1. Makan makanan bergizi seimbang
    Kebutuhan makan bumil meningkat karena makanannya bukan hanya untuk kebutuhan bumil saja, tetapi juga untuk kebutuhan perkembangan organ-organ vital janin.
  1. Patuh minum tablet tambah darah (TTD) dan vitamin
    Saya rutin minum TTD minimal 90 tablet selama hamil untuk menghindari anemia defisiensi besi. Bumil yang anemia dapat membahayakan dirinya dan janinnya.
  1. Rajin memeriksakan kehamilan / ANC
    Jangan malas memeriksakan kehamilan ya, minimal 4 kali selama hamil. Dulu saya hampir setiap bulan periksa ANC.

    antenatal care
    Hasil USG saat Kunjungan ANC
  2. Rajin olah raga
    Dulu saya ikut kelas yoga prenatal di komunitas GBUS (Gentle Birth untuk Semua), kamu pun bisa lihat di channel youtube tentang gerakan yoga khusus prenatal. Selain itu, saya juga ikut kelas senam hamil yang diadakan di rumah sakit.
latihan yoga
Yoga Prenatal bersama Komunitas GBUS
  1. Berdayakan diri
    Saya senang bergabung dengan komunitas positif , misalnya dengan mengikuti kelas parenting, kelas persalinan, kelas edukasi ASI dan menyusui, dan kelas couple yoga.
kelas persiapan persalinan
Kelas persiapan persalinan bersama Mba Prita, founder @temanlahiran

 

6 TIPS saat Usia Bayi 0-2 Tahun

  1. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
    Saya segera melakukan skin to skin contact setelah bayi lahir. Jangan khawatir kalau ASI tak segera keluar karena bayi tidak disusui selama 3×24 jam masih bisa bertahan hidup karena dia memiliki cadangan makanan dari tali plasentanya.
  2. ASI Eksklusif selama 6 Bulan
    Teori bahwa bayi ASI Eksklusif tidak gampang sakit sudah saya buktikan sendiri. Jangan ragu, HANYA MEMBERIKAN ASI di 6 bulan pertama kehidupan bayi ya! Lalu lanjutkan hingga usia 2 tahun.

    Asi perah, upaya working mom untuk tetap bisa memberikan asi eksklusif
  3. Berikan MPASI di Usia 6 Bulan
    Ibu muda biasanya bingung memberikan makanan pertama untuk bayinya. Saran saya, bergabunglah dengan komunitas seperti HHBF (Homemade Healthy Baby Food) atau Gema Indonesia Menyusui yang sering berbagi tips dan ilmu tentang MPASI.
  4. Berikan Imunisasi
    Jangan menjadi kaum antivaksin demi kesehatan anak kita sendiri. Minimal berikan imunisasi dasar lengkap untuk anak. 

    imunisasi di posyandu
    Penyuluhan tentang imunisasi di posyandu

     

  5. Pantau Status Gizi Anak
    Saya selalu meluangkan waktu datang ke posyandu untuk memantau status gizi anak. Selain itu, di posyandu kita bisa mendapat vitamin A, obat cacing, dan imunisasi.
  6. Jaga Kebersihan Bayi
    Saya selalu membiasakan mencuci tangan sebelum memegang bayi dan setelah mengganti popoknya. Saya juga sering mengelap tangan bayi dengan waslap dan air hangat atau tisu basah terutama di masa oral.

 

Keterlibatan Suami

Suami adalah partner dalam mengasuh anak. Suami juga sebagai pengambil keputusan utama dalam keluarga. Saya hampir selalu melibatkan suami saya di setiap hal yang menyangkut kesehatan si bayi. Misalnya, suami harus ikut masuk ke ruang poli kebidanan untuk ikut mendengarkan penjelasan dokter saat ANC. Saya juga sering mengajak suami ikut kelas persiapan persalinan, sesi couple yoga prenatal, kelas edukasi ASI dan Menyusui, seminar parenting, dll. Edukasilah suami jauh-jauh hari karena suami punya peranan besar untuk memotivasi si ibu.

 

suami mengasuh anak
Dukungan suami diperlukan dalam mengasuh anak

 

 

 

 

-SKA-

Please follow and like me:

9 thoughts on “Tips Mencegah Stunting? Millennials WAJIB Tahu Ini Sebelum Menikah!

  • Ini tips cegah stunting yang lengkap, mulai dari hulu sampai hilirnya..semoga semakin banyak orangua yang teredukasi tentang dampak stunting bagi anak.. dan Indonesia angka stunting pada anak menjadi lebih berkurang.. aamiin

  • Aku baru tau soal stunting ini, aku pikir selama ini penyebabnya hanyalah genetik saja, ternyata banyak faktor ya.
    Alhamdulillah jadi tahu dan informasinya bermanfaat banget untuk ibu-ibu yang masih produktif. Thanks for sharing, Eska

  • Kok aku jadi deg-degan ya. Semoga anak-anakku nggak stunting karena mereka badannya tuh imut2 untuk ukuran anak-anak seusia mereka. Ini penting banget untuk para wanita muda yang berencana menikah dan memiliki anak untuk mengedukasi diri tentang stunting ini ya.

  • Betul banget, stunting bia dicegah kalau ibunya mempersiapkan kehamilannya bahkan sebelum dirinya hamil ya mbak. Soalnya daripada kejadian… Gizi ibu harus bagus dulu, sebelum melahirkan anak2 yang punya badan sehat juga ya 😀
    .

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *