Mau Sekolah ke Luar Negeri? Baca Kisah Inspiratif Neng Koala

“Kenapa harus di luar negeri, sih? Di Indonesia banyak koq perguruan tinggi yang bagus

“Emang kamu mau ngapain, ngoyo banget mau sekolah ke luar negeri?”

“Udah lah kamu cewek, ngga perlu sekolah tinggi-tinggi, nanti cowok pada minder deketin kamu, susah dapet jodoh loh”

Saya hanya bisa menghela napas panjang sambil terus meyakinkan diri “Memangnya nggak boleh ya kalau saya punya cita-cita sekolah di luar negeri?” Kalau pertanyaan semacam itu datang dari orang tak dikenal, I don’t care very much. Payahnya, pertanyaan “demotivasi” itu justru dilontarkan orang-orang terdekat saya. Alih-alih didukung, ternyata masih banyak mindset orang yang mengganggap bahwa wanita tidak perlu memiliki status dan pendidikan tinggi. Ah, memang orang terdekat kita justru yang paling berpotensi menyakiti ya (baper deh!)

Mengutip secuplik kalimat Butet Manurung di Kata Pengantar Buku Neng Koala, “Cita-cita itu personal sifatnya, jadi cita-cita seorang perempuan adalah tentang ia dan dirinya. Kalaupun ada kompetisi, itu adalah pertarungannya dengan diri sendiri, bagaimana agar dirinya lebih baik dari kemarin”. Just be my self, ini adalah tentang saya dan diri sendiri. Masa-masa baper sudah berlalu. Saya sudah berdamai dengan diri sendiri. Sedikit kisah kecut yang saya alami bertubi-tubi demi memperjuangkan cita-cita akan saya tuturkan lewat tulisan ini. Tentunya kisah ini belum menemui akhir ceritanya karena perjalanan hidup saya saat ini masih dalam rangka mencari jawaban tentang akhir cerita itu.

Perjuangan penuh liku mencari beasiswa

Selepas kuliah sarjana, enam tahun silam, saya on fire mencari info perguruan tinggi dan beasiswa untuk studi master di luar negeri. Jiwa muda dengan semangat membara ini (ciyeh!) mengantar langkah saya untuk hadir di berbagai event pameran pendidikan internasional, seperti EHEF (European Higher Education Fair), Pameran Pendidikan Australia, EducationUSA Indonesia, IDP Education Fair, dan lainnya. Saya juga mencari info beasiswa dengan bergabung di Milis Beasiswa (yang belakangan ini sepertinya sudah nggak terlalu aktif ya?). Selain itu, saya pun jadi suka sok kenal sok dekat dengan senior yang sedang menempuh studi di berbagai belahan dunia. Namanya juga usaha kan, sah-sah saja untuk kepo.

Sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk apply perguruan tinggi di Britania Raya di tahun 2012. Nggak tanggung-tanggung, saya apply di dua universitas ternama yaitu Nottingham dan London School of Health and Tropical Medicine (LSHTM). Alhamdulillah saya mendapat Letter of Acceptance (LOA) walaupun sifatnya masih “conditional”, maksudnya pada prinsipnya saya diberi kesempatan untuk studi di dua universitas itu dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu sertifikat nilai IELTS dan funding.

perjuangan mencari beasiswa
source: https://8-images.blogspot.co.id

Persoalan funding ini sudah saya pikirkan, jauh-jauh hari saya mendaftar dua beasiswa populer Indonesia yaitu DIKTI dan LPDP. Proses seleksi keduanya sudah sampai di tahap wawancara. Bahkan, saya sudah tanda tangan kontrak dengan pihak DIKTI untuk kesediaan saya memenuhi kewajiban mengabdi di Universitas Nusa Cendana di Nusa Tenggara Timur sekembalinya saya ke tanah air. FYI, saya tanda tangan kontrak itu habis berurai air mata loh karena sebelumnya saya telpon kedua ortu di kampung halaman untuk minta restu.

Proses wawancara beasiswa LPDP relatif berjalan lancar dan sangat santai (waktu itu saya daftar LPDP Batch 2, masih awal banget kan). Salah seorang interviewer bahkan dengan gamblangnya menulis di form penilaian bahwa saya lolos bersyarat, asalkaan…. minggu depan saya bisa memenuhi tantangannya untuk menyerahkan bukti hasil tes IELTS dengan nilai sesuai persyaratan yang diminta oleh kampus tujuan saya. Padahal, nilai IELTS saya saat itu sudah memenuhi persyaratan untuk mendaftar LPDP.

Long story short, saya nggak lolos seleksi DIKTI dan LPDP. Kenapa? Takdir. Kandas impian saat itu. Jangan tanya betapa hancur hati ini ya, berkeping-keping jadinya deh.

Ditinggal teman-teman kuliah di luar negeri

Saya punya circle yang isinya para scholarship hunter. Sejak kegagalan saya dalam seleksi beasiswa yang akhirnya membuat saya gagal juga menempuh studi master di United Kingdom tahun itu, rasa menyesak ternyata belum berakhir. Saya kembali harus menegarkan diri melepas kepergian satu-persatu teman-teman  circle saya yang berangkat sekolah ke luar negeri. Tentu saja saya bangga dengan keberhasilan mereka, tapi nggak bisa bohong ya kalau ada setitik rasa iri (positif) datang menyeruak. Saya bertekad, suatu saat nanti saya pasti akan menyusul jejak mereka.

Read also:   Indonesia Darurat Rokok, ke mana Saya Harus Mengadu?

Dua tahun pun berlalu, teman-teman sudah selesai menempuh pendidikannya dan kembali ke tanah air dengan segudang cerita tentang pengalaman sekolahnya. Bahkan ada yang pergi lagi melanjutkan untuk menempuh PhD. Lhah saya sendiri? Hidup saya masih begini-gini saja (nangis di pojokan).

just be yourself
Just be yourself

 

Hidup saya meaningful koq

Sebenarnya, dalam masa tahun 2013-2015 itu saya terus belajar. Saya pernah mengikuti kursus TOEFL di Lembaga Bahasa Internasional Universitas Indonesia (LBI UI). Saya juga ikut kursus intensif  IELTS di IALF Kuningan selama 8 minggu (kursusnya Senin-Kamis, jam 7 – 9 malam). Jadi selepas kerja jam 5 sore, saya harus menerjang padatnya jalanan dari Depok ke Kuningan. Pulang lagi ke kosan paling cepat jam 10 malam. Begitu setiap harinya. Selain itu, saya pun punya kelas online khusus belajar IELTS tiap malam. Pengalaman tes IELTS? Oh, saya sudah retake berkali kali, hahaha. Jadi, goal saya saat itu adalah menaklukkan soal IELTS yang sekali test harganya 195 USD, yaelah segitunya banget yak (please jangan dinyinyirin ya).

Oh ya, back to scholarship. Tiga kali saya mendapat LOA program short course di KIT Royal Tropical Institute di Amsterdam. Untuk funding, saya pernah apply beasiswa STUNED dan NFP. STUNED nggak lolos mungkin karena program yang saya ambil bukan menjadi area proritas STUNED, sedangkan NFP awalnya saya mendapat email notifikasi nggak lolos. Tapi, H-3 program short course dimulai, saya mendapat lagi email cinta dari NFP yang intinya: “Kalau lo sekarang udah pegang Visa Schengen, gue berangkatin deh!” Beuh! Saya dongkol donk dapet email itu. Itu sih sama saja memberi harapan palsu. Proses pembuatan Visa Schengen dikiranya sekali kedip langsung jadi kali ya. Huhhh, lelah hati hayati bang, lelaaah.

Nah, yang masih anget banget nih “kasusnya”, Maret 2018 kemarin saya kelewat tanggal deadline pengajuan beasiswa OKP! Alasannya cukup sederhana: saya lupa. Intinya saya gagal lagi, gagal lagi, untuk yang kesekian kalinya. Hahahaha. Kandas sudah resolusi 2018 untuk menjejakkan kaki ke Negeri Kincir Angin tahun ini.

 

Mendapat Cinta, Menunda Cita

Pertengahan tahun 2015, sekembalinya saya dari mengikuti konferensi di Jepang, saya membulatkan tekad untuk kembali apply beasiswa. Saya harus apply di tahun itu juga (batin saya). Tapi siapa sangka takdir kembali berkata lain, saya malah bertemu calon suami lalu kami menikah.

Awal tahun 2016 saya diberi amanah untuk hamil dan sekarang saya berstatus menjadi ibu dari satu putri cantik berusia 1,5 tahun. Bisa dibilang, di tahun 2016-2017 saya hibernasi dari pencarian beasiswa. Rutinitas saya saat ini di samping bekerja di salah satu pusat riset di kampus, saya fokus mengurus keluarga, mencoba beberapa resep masakan baru, dan bergabung dengan komunitas blogger.

pentingnya pendidikan

Cita-cita kuliahnya bagaimana? Ooh tentu saja impian itu masih tersimpan dengan baik, hanya saja masih tertunda untuk sementara waktu. Beruntungnya saya terlahir di keluarga sederhana tapi begitu menomorsatukan pendidikan. Ibarat kata, uang bisa dicari yang penting anak-anak bisa sekolah sampai jenjang tinggi. Lebih beruntungnya lagi, suami saya pun mendukung penuh keinginan saya untuk bersekolah lagi dan rencananya kami ingin studi di luar negeri bersama, insya Allah. Kami hanya sedang diminta bersabar menunggu waktu yang pas.

Read also:   Persembahan Pampers untuk Momen Pertama bersama Buah Hati

Neng Koala: berbagai kisah, inspirasi, dan motivasi

Apa sih Neng Koala? Neng Koala adalah buku kompilasi kisah-kisah nyata mahasiswi Indonesia yang pernah menempuh studi di Australia. Awalnya, kisah-kisah mereka dituliskan dalam blog yang dirilis  tahun 2012 dengan kontributor sekitar 20 mahasiswi yang kemudian berkembang menjadi 100-an mahasiswi. Dengan dukungan dari Australia Global Alumni melalui skema Alumni Grant Scheme serta Causindy Alumni Grant Scheme, kisah kehidupan tersebut diterbitkan menjadi buku Neng Koala yang berisi beraneka ragam cerita inspiratif yang dituturkan oleh 34 orang mahasiswi.

Buku ini terdiri dari 7 bab dengan topik bahasan di masing-masing bab yang menarik untuk disimak khususnya bagi para pemburu beasiswa, misalnya di buku ini diulas bagaimana perjuangan, persiapan, tips dan trik dalam berburu beasiswa. Selain itu diceritakan pula bagaimana kisah para Neng (sebutan bagi para kontributor Neng Koala) yang multitalenta dengan piawainya mengatur waktu mereka untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah, mengurus suami dan anak, mengurus rumah tangga, hingga bekerja paruh waktu. Ya terkadang Neng harus mengambil semua peran sekaligus! Multitasking banget kan wanita itu. Kehidupan kampus, pendidikan anak di childcare atau daycare, serta keseharian di Australia turut mewarnai isi buku Neng Koala. Beberapa tips praktis yang membahas tentang kamus dapur (ini unik sih menurut saya), bagaimana menyiasati kuliah sambil bekerja, dan berburu akomodasi juga semakin melengkapi isi buku Neng Koala ini.

 

Neng Koala: Mengobarkan semangat meraih impian

Menurut saya, buku ini recommended untuk dibaca oleh kamu yang punya mimpi, sedang mempersiapkan studi ke luar negeri, atau kamu yang sedang menunda mimpi untuk sementara waktu (seperti saya). Teruntuk emak-emak yang terbiasa dasteran di rumah (kayak saya juga nih), buku ini mampu meniupkan angin segar di tengah rutinitas mengurus rumah tangga. Kita jadi tahu gambaran kehidupan di belahan dunia sana yang bisa kita coba raih selagi ada kemauan dan ketekunan. Akan lebih bagus lagi kalau pasangan dan keluargamu juga ikut membacanya agar mereka terpapar dengan pernak-pernik kehidupan di luar negeri (khususnya Australia) sehingga mereka bisa aware dan memberikan dukungan penuh untuk cita-citamu.

Membaca buku ini, saya jadi ikut larut terbawa suasana sampai saya manggut-manggut dan senyam-senyum sendiri saat membaca beberapa kisah para Neng karena kisahnya “gue banget” atau “kalau gue jadi berangkat studi bareng suami dan anak, bakalan kaya si Neng ini deh rempongnya, hihihi”. Karena semua penulisnya wanita, mudah bagi saya untuk memahami perasaan dan memposisikan diri dalam alur ceritanya.

kisah-kisah inspiratif di buku neng koala
Kisah Inspiratif di Buku Neng Koala

Ketika membaca tulisan Neng Gena Lysistrata tentang “Emak-emak Mengejar Beasiswa”,kalimat pembukanya langsung menarik saya untuk membaca hingga selesai. Dia menanyakan memangnya kalau sudah menikah, punya anak,dan jadi emak-emak nggak boleh ya mengejar beasiswa? Ah isi pikirannya sungguh mewakili pertanyaan yang sering berputar-putar di kepala saya tentang impian sekolah yang masih tertunda. Kondisi Gena sedikit berbeda dengan saya karena saat masih single, impian Gena untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri hanya sekadar keinginan tanpa realisasi, baru terealisasi setelah disentil omongan suaminya. Saya sendiri? Sejak single sudah bergerilya apply sana-sini, interview ini dan itu, tapi sampai sekarang belum terealisasi untuk sekolah lagi. Hehehe. Dalam tulisannya, Gena menekankan untuk disiplin belajar dan membuat target harian untuk belajar IELTS meskipun di tengah keriweuhannya membagi waktu antara mengurus suami, anak, dan belajar. Jadi, setelah menyusui dia curi-curi waktu belajar, bukannya ikut terlelap. Kalau saya sih masih suka ikut tidur setelah menyusui Halwa. Hihihi. Ini nasihat penting banget buat saya. Menurut dia, waktu belajar yang paling mantap tuh di tengah malam, selesai solat tahajud, dan setelah menyusui anak. Well noted, Neng Gena!

Read also:   Keluhan Terjawab dengan 6 Fitur Terbaru di Aplikasi #NewMyBlueBird

Di tulisan Neng Diah Naluri, saya mendapat banyak insight tentang pendidikan anak usia dini di Australia. Anak Diah lahir di tengah kesibukan Diah dan suaminya menempuh S3. Karena harus masuk kuliah setiap hari, mereka terpaksa menitipkan anak di childcare. Saya paham banget perasaan seorang ibu yang harus nitip anak di tempat asing. Nano nano! Tapi ternyata childcare di Australia itu menyebut dirinya Early Childcare Learning Center yang punya kurikulum dan target outcome dari proses belajar anak-anak di institusi mereka. Childcare adalah tempat belajar tentang basic life skill seperti kemandirian, sosialiasi, dan asah bakat. Menurut Diah, panduan proses pembelajaran anak-anak usia dini di Australia menggunakan pedoman Early Years Learning Framework (EYLF) dengan  visi agar semua anak punya pengalaman play-based learning yang dapat membantu mereka membangun hidup  sukses. Anak-anak harus fun dan bahagia. Hati saya rasanya ikutan PLONG membaca bagian childcare di Australia. Itu artinya, kalau saya nantinya kuliah di sana, saya nggak perlu diliputi rasa khawatir berlebihan kalau menitipkan Halwa di childcare.

 

Launching Event Buku Neng Koala

Saya beruntung karena bisa hadir di launching buku Neng Koala, 25 April 2018 di Kampus Anggrek BINUS. Di acara itu, 5 pembicara wanita Indonesia yang kesemuanya pernah bersekolah di Australia berbagi kisah-kisah inspiratif mereka. Neng Melati, sebagai founder Neng Koala menceritakan blog Neng Koala berawal dari keprihatinannya saat ada teman wanitanya yang melepas tawaran beasiswa di Australia. Akhirnya, Melati mengajak mahasiswi-mahasiswi Indonesia yang sedang kuliah di Australia untuk berbagi kisah perjuangan dalam meraih pendidikan tinggi di luar negeri.

Di akhir acara, tiba-tiba Neng Sitta Rosdaniah (alumni Australian National University) mendekati saya, mungkin karena dia mendengar curhatan sekilas saya tentang perjuangan saya mendapatkan beasiswa yang hingga kini belum terealisasi. Dengan mantapnya, dia berkata “Kamu pasti bisa koq Mbak, dulu aku juga nyoba berkali-kali dan gagal buat dapetin beasiswa. Itu cuma soal waktu aja koq. Yang penting jangan patah semangat”. Ah rasanya hari itu saya disuntik semangat berkali-kali.

beberapa kontributor Neng Koala
Beberapa kontributor Neng Koala

Jujur saja bukan hal mudah bagi saya menuliskan semua ini, rasanya seperti mengingat lagi kegagalan demi kegagalan, seperti menguliti rasa kecewa. Tapi, kesempatan bertatap muka langsung dengan para Neng (sebutan untuk kontributor Neng Koala) dan membaca kisah-kisah inspiratif mereka di Buku Neng Koala membuat saya belajar berdamai dengan diri sendiri. Yang saya yakini, rejeki saya ada di langit dan sudah ada yang mengatur. Tinggal saya ketuk saja pintu langit dengan doa dan usaha. Insya Allah, jika memang sudah tiba waktunya, cita-cita saya akan terwujud.

Don’t compare yourself with others because you have your own timeline. Capek cyiiintt kalau bandingin hidup kita dengan orang lain.

 

 

Salam dari pejuang beasiswa

-SKA-

 

Note:

Twitter dan IG neng koala: @nengkoala

Facebook: Neng Koala

Web: www.nengkoala.id

 

Please follow and like me:

6 thoughts on “Mau Sekolah ke Luar Negeri? Baca Kisah Inspiratif Neng Koala

  • Bagus ya jadi banyak pandangan terkait sekolah ke Australia
    Yang awam kaya saya jadi paham dan mengerti. Ah gak sabar ingin segera baca bukunya juga ih

  • Terkadang saat kita memang perlu menutup telinga sejenak dari omongan orang lain.

    Cukup kalimat-kalimat menohok mereka mampir ke telinga kanan, lalu keluar telinga kiri.

    Sayapun hari selalu belajar dan terus belajar sabar.. untuk tidak baper dengan semua omongan negatif orang 🙂

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *