Resolusi 2018: Ingin Menjejakkan Kaki ke Benua Eropa

Akhir November kemarin saya mendapati satu email dari nama yang nggak asing buat saya, Ms. Willems. Saat saya baca emailnya, ternyata beliau “mengundang” saya untuk datang ke Program Short Course di Negeri Kincir Angin. Memang sudah menjadi impian saya untuk bisa menjejakkan kaki di Benua Eropa, khususnya untuk bersekolah di sana. Bahkan hal itu sudah menjadi resolusi saya dari tahun 2016 hingga sekarang. Namun, impian untuk mengambil studi master harus tertunda sementara waktu karena dalam perjalanan menuju impian saya itu, saya mendapat rejeki lain yaitu suami dan anak. Karena saat ini waktunya belum memungkinkan untuk saya studi overseas dua tahun, saya putuskan untuk mendaftar short course yang waktunya lebih singkat.

Bagi siapapun yang mengaku sebagai Scholarship Hunter, pasti ngerti banget hal-hal apa saja yang harus diperjuangkan untuk bisa bersekolah di luar negeri dan mendapat beasiswa. Tentunya ada dua hal penting yang jadi kunci utama: LoA (Letter of Acceptance) dari universitas tujuan dan beasiswa. Untuk mendapat satu dari kedua hal itu juga bukan perkara mudah. Ada banyak hal yang harus dikorbankan baik dari segi waktu, biaya, energi, dan pikiran. Sebelum ke arah sana pun kita harus mengumpulkan banyak informasi tentang cara pendaftaran, deadline, persyaratan, pilihan program studi, funding, dll. Mungkin lain kali akan saya bahas mengenai hal ini ya.

Email dari Mrs Willems

Kembali lagi ke email dari Ms. Willems tadi. Dia memberikan saya Unconditional LoA untuk program short course Monitoring and Evaluation in a Dynamic Health Environment (M&E) di Royal Tropical Institute (KIT), Amsterdam. Itu artinya, sesudah proses pendaftaran dan seleksi, saya berhasil diterima di program tersebut dengan persyaratan yang perlu dipenuhi yaitu funding. Sebenarnya ini sudah yang ketiga kalinya saya mendapat Unconditional LoA untuk kelas short course di KIT. Berawal dari akhir tahun lalu, di institusi yang sama, untuk pertama kalinya saya mendaftar program Qualitative Methods in Health Systems Research. Tapi sayangnya, saya belum berhasil mendapatkan funding untuk biaya program, living cost, akomodasi, dan tiket pesawat return. Kalau harus pergi dengan dana sendiri wuaduh berat bangettt.

Resolusi 2018 sekaligus doa saya adalah saya bisa mengikuti program short course akan berlangsung di bulan Agustus 2018 selama dua minggu di Amsterdam. Izin dari Mas Ry sudah saya dapatkan, tinggal mencari funding kalau memang saya akan berangkat tanpa dana mandiri. Sebelum ini, saya pernah mendapat LoA 2x dari KIT dan saya mendaftar untuk 2 beasiswa berbeda tapi kandas. Nah, kali ini, nothing to lose aja lah. Kalau memang sudah rejekinya untuk berkunjung ke Negeri Van Orange, saya yakin insyaAllah dimudahkan prosesnya, tapi misalnya belum saatnya ya sudah saya nggak ngoyo juga. He he he.

Read also:   The Best Gift is Love
Unconditional LoA dari KIT Royal Amsterdam

Berikut ini langkah-langkah saya saat mendaftar short course di Belanda, barangkali ada yang tertarik atau ingin mendaftar sekolah di sana semoga ini bisa sedikit membantu.

  1. Informasi tentang program studi, universitas, durasi waktu, dll bisa dicari melalui StudyFinder.
  2. Pilih program yang diinginkan melalui kolom search (kalau memang kalian sudah tahu nama program yang akan diambil). Kalau belum tahu program apa yang akan diambil, kalian bisa melakukan pencarian melalui kolom filter. Misalkan, saya ingin mengambil tipe short course program dengan durasi kurang dari satu bulan, bidang kesehatan. Nanti mereka akan mem-filter-kan list program yang sesuai dengan keinginan saya.
  3. Pilih program yang diinginkan lalu masuk ke website institusi penyelenggara program.
  4. Pelajari persyaratan registrasinya dan catat deadline submission.
  5. Mulai deh berjuang untuk memenuhi persyaratan dari pihak institusi. Biasanya mereka meminta resume/CV, motivation letter, sertifikat bukti kemampuan bahasa inggris (TOEFL/IELTS), dan rencana funding.

Tips dari saya, perhitungkan waktu dengan baik ya. Betul-betul perhatikan tanggal deadline submission dan alokasikan waktu yang cukup untuk memenuhi satu per satu dokumen persyaratannya. Apalagi kalau kalian belum punya sertifikat bahasa inggris, belum punya CV/resume in english, dan belum pernah membuat motivation letter. Intinya, sebaiknya tidak terburu-buru mempersiapkannya.

Setelah berkas kita lengkap dan siap dikirim, jangan lupa berdoa ya. Biasanya mereka perlu waktu sekitar 4-6 minggu untuk review dan seleksi berkas lalu mengirimkan decision letter terkait apakah kita diterima atau tidak di program mereka. Kalau diterima, nanti kalian akan mendapat LoA. Selamat.

PR selanjutnya adalah mencari dana, seperti saya sekarang ini. Usaha saya mungkin belum maksimal. Tapi informasi beasiwa untuk short course ke Belanda memang tidak banyak saya jumpai. Dulu ada beasiswa NFP (Netherland Fellowship Program), tapi per 2017 Indonesia sudah tidak masuk ke dalam list penerima beasiwa NFP. Huhu sedih. Saya pernah mendaftar NFP dan tidak lolos. Eeh H-3 program dimulai, pihak NFP kembali kirim email ke saya katanya kalau saya sudah pegang visa Schengen, saya bisa langsung berangkat. Lah, dikira bikin visa itu macem bikin tahu bulat yang digoreng dadakan bisa dimakan hangat-hangat. Agak kesal sih, tapi ya sudah lah.

Read also:   5 Kiat Berdamai dengan Tanggal Tua

Saya pernah juga daftar beasiwa StuNed dan nggak lolos. Setelah saya selidiki, StuNed itu memprioritaskan beberapa bidang yang bisa mempererat kerjasama bilateral antara Indonesia-Belanda, dan bidang kesehatan nggak termasuk di dalamnya. Ya sudah, bye.

Untuk kali ini, mungkin ada di antara pembaca yang bisa memberi saya masukan atau pernah tahu kira-kira beasiwa apa yang bisa saya ikuti seleksinya agar saya bisa ke Belanda sana Agustus nanti? Saya sudah mencoba konsultasi dengan Nuffic-Neso Indonesia (perwakilan resmi Nuffic di Indonesia untuk semua hal mengenai pendidikan tinggi Belanda), mereka menyarankan saya daftar beasiwa StuNed lagi karena belum ada program beasiwa short course lain selain StuNed. Ya sudah mungkin ini satu-satunya pilihan untuk saat ini ya. Bismillah.

Updated InformasiSaya baru saja menemukan beasiwa bernama OKP Fellowship (yang sebelumnya bernama NFP) dan Indonesia masuk ke dalam list negara OKP. Jadi, bismillah saya mau apply yang ini juga. Doakan yaaa…

Untuk menuju ke resolusi saya di tahun 2018, sebenarnya saya sudah mempersiapkan beberapa hal:

1. Passport. Alhamdulillah kami sekeluarga sudah membuat passport di pertengahan tahun 2017, bahkan untuk si kecil Halwa pun sudah sekalian kami buatkan. Tujuannya agar sewaktu-waktu kami harus melancong ke luar negeri untuk urusan studi atau liburan, satu proses administrasi ini setidaknya sudah terselesaikan.

2. Persiapan re-take IELTS. Sertifikat bukti kemampuan berbahasa inggris ini menjadi salah satu syarat untuk daftar StuNed. IELTS yang saya punya expired tahun lalu jadi saya harus mengikuti test-nya lagi. Untuk itu, saya harus bisa mengatur waktu untuk mengkhususkan belajar IELTS di sela-sela bekerja, urus suami dan anak, dan pekerjaan sampingan lainnya. Saya dan suami berkomitmen untuk memulai bangun lebih pagi, kami sama-sama belajar untuk persiapan studi karena suami saya juga ada rencana mengambil master tahun depan.

3. Mencari funding. Nah ini nih hal yang paling penting. Kalau nggak ada duit, ya saya nggak jadi pergi. Seperti yang saya sudah tulis tadi, saya sudah melakukan konsultasi dengan Nuffic-Neso dan saat ini saya mau bergerilya mencari informasi tentang kemungkinan penyedia funding lainnya.

4. Jaga kesehatan. Perubahan cuaca yang sebentar hujan, sebentar terik, dan apalagi kemarin Indonesia dilewati siklon tropis juga ya, ini sedikit banyak berpengaruh ke daya tahan tubuh. Mas Ry dalam dua bulan terakhir sudah jumpa dokter tiga kali dengan keluhan batuk, radang tenggorokan, pusing, dan vertigo. Selain obat dari dokter, Mas Ry disuruh minum air putih, makan buah, hindari gorengan, makanan pedas, dan makanan bersantan, istirahat cukup, sedia dopping vitamin (kali ini saya lagi mencoba Theragran-M, produk vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan).

Read also:   Heart of Spora: Menjadi “Spora” Kebaikan

Mudah-mudahan kita semua selalu sehat ya dan kalau sakit jangan lama-lama. Menurut saya, menjaga kesehatan ini nggak kalah pentingnya untuk mencapai resolusi 2018. Kebayang kan kalau misalnya segala sesuatu untuk pergi ke Belanda sudah siap tapi tiba-tiba kami sakit? Aduh pasti sedih banget walaupun sakit itu ya memang sebuah kenikmatan dari Allah ya.

Oh ya kenapa pilih Theragran-M ini saya bahas sedikit ya. Ceritanya, saya ke apotek kecil di Kukusan Depok mau beli vitamin. Si bapak apoteker yang sudah berumur memilihkan produk ini. Katanya “Ini salah satu produk terbaik di antara produk-produk lain di kelasnya. Vitamin ini yang puaaling lama ada, sejak jaman baheula, jaman bapak-bapak kita kalau pegal-pegal ya ini vitaminnya”, saya cuma manggut-manggut saja, lhah saya sendiri baru sekali ini denger merk ini koq, mungkin karena saya wanita zaman now (aiih wanita kudet, lebih tepatnya hahaha). Dia melanjutkan, “Ini produk vitamin pertama yang punya label halal, coba saja cari produk lainnya jarang ada yang ada label halal-nya. Dulu pimpinan pabriknya orang muslim jadi dia concern dengan label itu“. Saya cuma ber-oooo panjang lalu langsung beli 4 kaplet seharga Rp 22.000. Sesampai di rumah saya teliti lagi kandungan vitamin dan mineralnya memang cukup lengkap dan indikasinya untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral semasa penyembuhan setelah sakit, cucok lah buat Mas Ry yang lagi gampang nge-drop nih.

Ada logo halal di pojok kanan atas

Baiklah, sekian cerita resolusi saya di tahun 2018, mudah-mudahan saya mendapat keputusan terbaik apakah bisa atau tidak mewujudkannya. Optimis itu pasti, berjuang itu harus, tapi takdir sudah ada yang menentukan. Salam sehat, tetap semangat!

Disclaimer: Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.

 

Please follow and like me:

20 thoughts on “Resolusi 2018: Ingin Menjejakkan Kaki ke Benua Eropa