Mengetahui Potensi Anak, Pentingkah?

Assalamualaykum Moms, apa kabar? Di tulisan saya kali ini, saya mau sharing tentang parenting. Kebetulan kemarin ada talkshow dari Mamacomm dan AJT CogTest (18 Juli 2019) di Rojiro Cafe, Cimanggis. Temanya bagus banget yaitu “How to Discover Your Child’s Potential” dengan narasumber Psikolog AJT CogTest,  Diana Lie, M.Psi (Thanks very much buat Mbak Zata Ligouw karena sudah ngajakin saya hadir di acara yang bagus ini). Di acara ini, para Moms diedukasi tentang pentingnya peran kemampuan kognitif dalam mencapai kesuksesan belajar dan mengajar anak-anak. Stay tune ya Moms!

 

sharing session
Sharing session dengan Psikolog Diana Lie, M.Psi (dok. Zata Ligouw)

 

Jangan Memberi Label Negatif pada Anak

Sadar nggak sih, terkadang kita sebagai orang tua memberi label negatif ke anak kita sendiri? Saya sendiri sih nggak sering, tapi kadang suka keceplosan “Kamu ngeyel banget deh” atau “Ceriwis ih nanya terus”. Padahal, kata Diana Lie, tanda anak pintar itu ya kalau dilarang pasti minta reason. Jadi saya pikir lagi, oooh ya mungkin si Halwa ini emang anaknya pinter makanya tiap saya larang sesuatu pasti nanya terus. Dia akan nanya kenapa begini, kenapa begitu, panjaaaang banget nanyanya (ceriwis) dan kadang bikin kesal karena terlihat dia nggak nurut (ngeyel).

 

Di era Mom War kaya sekarang ini, hati-hati juga loh Moms, jangan sampai kita memberi label negatif ke anak kita hanya karena anak kita perkembangannya nggak sama seperti anak orang lain yang seusianya. Yang perlu diingat adalah: setiap anak itu unik! Mereka punya skill, potensi, kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

 

Pernah nonton film Gifted? Saya belum nonton full filmnya, cuma lihat cuplikannya saja. Film ini recommended ditonton oleh para ortu. Cerita singkatnya, seorang anak benama Mary (7 tahun) yang diasuh oleh pamannya dengan metode belajar homeschooling, akhirnya bersekolah di sekolah formal karena pamannya ingin Mary bisa bersosialisasi. Si Mary ini malas banget ke sekolah sebenarnya. Pas di kelas lagi pelajaran Matematika, si Mary ini tingkahnya agak nyeleneh. Kelihatan sok tau banget dan cenderung menyepelekan pelajaran.

 

mary gifted
Mary, anak jenius berusia 7 tahun (Film Gifted)

 

Awalnya, bu guru tampak kesal dengan tingkah Mary. Akhirnya bu guru memberi soal matematika yang harus Mary jawab. Ajaibnya, Mary selalu bisa menjawab pertanyaan gurunya, bahkan untuk pelajaran matematika level tinggi pun Mary bisa menjawab dengan benar. Keren ya?

 

Nah, di situasi seperti cerita Mary inilah yang seharusnya orang tua dan guru bisa menangkap potensi kecerdasan anak alih-alih menganggap si anak bermasalah di kelas. Permasalahan Mary yang terlihat menyepelekan pelajaran adalah karena kebutuhan belajar dia berbeda dengan teman-teman sekelasnya.  Coba kalau gurunya nggak lihai mengetahui potensi anak tersebut dengan baik, pasti guru akan melabeli Mary sebagai anak yang bermasalah (nakal, bandel, malas, bodoh, dll).

 

Read also: Kelas Parenting bersama Tiga Generasi: “Mendisiplinkan Anak sejak Bayi, Bisa Nggak Ya?”

 

Mengetahui Potensi Anak

Diana menekankan bahwa dalam kesuksesan anak terdapat peran orang tua di samping peran pendidik di sekolah dan anak itu sendiri. Kalau kita berhasil mengetahui potensi anak dan mengoptimalkan potensi tersebut, tentunya anak-anak akan meraih kesuksesan dalam belajarnya. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara kita mengetahui potensi anak? Menurut Diana, ini bisa tergantung dari gaya parenting yang diterapkan orangtua dan potential mapping (memetakan potensi anak).

 

Kenali Parenting Style

Menurut Teori Baumrind, ada 4 kategori gaya mendidik anak: otoriter (authoritarian), otoritaria/demokratis (authoritarian), permisif, dan neglect/uninvolved (tidak dipedulikan).

 

parenting style
Tipe Parenting Style

Mau tahu kamu tipe parent yang menerapkan gaya parenting apa? Yuk jawab soal ini ya Moms. Jawab soalnya sambil ingat/hitung jawaban kamu kebanyakan ada di warna apa.

 

Soal 1
Soal 1

 

Soal 2
Soal 2

 

Soal 3
Soal 3

 

Soal 4
Soal 4

 

tipe parenting
Lihat penjelasan di bawah ini ya

 

 

Apa makna dari warna-warna itu?

Nah, ini dia jawabannya: Kalau jawaban kamu banyak yang berwarna kuning, artinya kamu tipe OTORITER. Merah artinya PERMISIF. Hijau artinya NEGLECTED. Biru artinya DEMOKRATIS.

 

  • OTORITER: kontrol orang tua ketat terhadap anak dan tuntutannya pun tinggi. Orang tua banyak mengharuskan anak begini dan begitu. Tapi orang tua bersikap dingin ketika anak gagal melakukan sesuatu bahkan anak nggak diberi support. Keberhasilan anak nggak diapresiasi. Dampak dari gaya parenting ini adalah emosional anak nggak terpenuhi sehingga anak merasa takut/segan terhadap orang tua.
  • PERMISIF: Nurture / support terhadap anak tinggi tapi nggak ada tuntutan untuk anak harus begini atau begitu. Menurut penjelasan Diana, dampak yang bisa terjadi adalah anak merasa dicintai orang tuanya tapi dia nggak tahu bagaimana harus bersikap.
  • UNINVOLVED/NEGLECTED: Dalam hal ini, orang tua nggak menuntut anak tapi juga support-nya kurang. Lama kelamaan kondisi ini akan membuat hubungan orang tua dan anak menjadi dingin karena anak merasa diabaikan.
  • DEMOKRATIS: Ini gaya parenting yang paling ideal diterapkan. Kontrol terhadap anak bagus, nurture/ support juga tinggi. Ketika ada situasi yang tidak menyenangkan, anak nggak banyak dituntut untuk harus begini dan begitu tapi orang tua bisa memulai memberi pengakuan/penerimaan dengan memulai pertanyaan misalnya “Are you happy?”.

 

Memang sih teori demokratis ini paling ideal tapi kenyataan di lapangan nggak selalu mudah diterapkan. Nah, sebelum bicara soal potensi anak, parenting style ini harus dikuasai dulu. Yang perlu diingat adalah value setiap keluarga berbeda sehingga penerapan teori parenting disesuaikan dengan value masing-masing keluarga.

 

Read also: Gadget untuk Anak, YES or NO?

 

Bagaimana Cara Membangun Parenting Style yang Baik?

Kuncinya adalah menerapkan Heart to Heart Communication alias komunikasi dari hati ke hati:

  1. Orang tua lebih banyak mendengarkan anak. Jangan terburu-buru take action sebelum mendengar penjelasan anak.
  2. Orang tua dan anak itu equal loh, sama-sama manusia yang punya pikiran dan perasaan. Nah, terkadang orang tua kurang memperhatikan hal ini mungkin karena adanya perbedaan usia. Inget Moms, meskipun kita dan anak berbeda usia, anak juga punya perasaan dan pemikiran untuk dipahami.
  3. Jangan segan mendiskusikan perasaan antara orang tua dan anak atau istilahnya eksplorasi emosi masing-masing. Jangan hanya berkata “Saya nggak suka si dia”, tapi biasakan untuk memberi alasan kenapa tidak suka.
  4. Kalau Moms sedang marah ke anak, sebaiknya jelaskan kenapa Moms marah. Misalnya “Saya marah sama kamu karena saya takut kehilangan kamu”.
  5. Physical touch. Sentuhan fisik ini adalah bentuk rasa sayang. Misalnya peluk atau ciumlah anak sebagai tanda sayang. Soal physical touch ini, Diana bercerita bahwa ada anak dan orang tua yang berbeda persepsi tentang rasa sayang. Orang tua (yang sibuk dengan pekerjaan) menganggap dengan membelikan banyak mainan ke anak adalah tanda cintanya, tapi ternyata menurut si anak kalau yang namanya sayang ya dengan cara memeluk, bukan (hanya) memberikan mainan.

 

 

Bagaimana Cara Memetakan Potensi Anak?

Menurut teori tentang Broad Ability, ada 8 aspek gabungan kemampuan di otak manusia yang disebut General Cognitive Ability (GCA) atau KECERDASAN UMUM.

kecerdasan umum
8 Area Kecerdasan Umum

 

Untuk memproses informasi di otak, ke-8 aspek itu dibagi ke dalam empat kelompok: Penerimaan = Penyimpanan – Pengolahan – Penyampaian

 

proses informasi
8 Kecerdasan Umum dalam Empat Kategori

 

Bagaimana cara memetakan / mengetahui potensi anak? Nah ini salah satunya bisa dilakukan melalui tes kognitif dengan tools yang dimiliki oleh AJT. Tools AJT dibuat untuk mengukur 8 aspek kecerdasan secara mendalam. Maksudnya, AJT bisa menjelaskan profil ke -8 aspek tersebut dengan detil bukan hanya melalui keseluruhan skor test IQ.

 

Misalnya nih, ada dua anak yang nilai IQ nya sama yaitu 131, tapi profil masing-masing bisa jadi sangat berbeda ketika diukur kecerdasannya. Lihat gambar di bawah ya supaya lebih jelas.

 

psikogram
Contoh Psikogram

 

Kalau orang tua bisa memetakan potensi anak dan mengetahui profil setiap anak melalui hasil tes kognitif, orang tua jadi bisa mengarahkan anak untuk menggali dan mengembangkan minatnya. Tes kognitif ini nggak hanya berlaku untuk anak-anak saja, tapi bisa untuk orang dewasa. Oh ya, bukan juga dikhususkan untuk anak yang dianggap “bermasalah”, tapi anak yang nggak bermasalah pun perlu mengetahui potensi dirinya, betul? Walau bagaimana pun, anak-anak itu nggak tahu di mana letak kekurangan dan kelebihannya.

 

Yang perlu diingat adalah Tes Kognisi seperti AJT CogTest ini bukan digunakan untuk meningkatkan potensi anak, tapi lebih untuk meningkatkan performance anak agar dia bisa menyelesaikan masalahnya. Idealnya tiap orangtua perlu mengetahui profil kognitif anaknya agar kesulitan belajar anak dapat difasilitasi atau disediakan dukungan yang sesuai dan tepat.

 

foto bersama
Foto bersama para audience

 

———

 

Nah, demikian tadi hal-hal yang didiskusikan di acara kemarin Moms. Semoga bermanfaat ya. Ari Kunwidodo selaku Direktur Utama PT Melintas Cakrawala Indonesia menyampaikan, tema How to Discover Your Child’s Potential diangkat dikarenakan banyaknya orang tua yang bersemangat membantu anaknya untuk sukses namun ternyata upayanya justru kadang membuat anak itu sendiri menjadi enggan berusaha lebih giat.

 

mci
Ari Kunwidodo – Direktur Utama PT Melintas Cakrawala Indonesia (dok. Zata Ligouw)

 

Diharapkan setelah acara tersebut, kami bisa berbagi ilmu mengenai parenting ke yang lain dan sadar pentingnya memahami profil kognitif anak sejak dini.

 

Read also: Metode Montessori itu Simpel

 

-SKA-

 

 

 

 

 

Please follow and like me:
error

9 thoughts on “Mengetahui Potensi Anak, Pentingkah?

  1. Mba Eska… Masya Allah, aku langsung refleksi diri, bagaimana aku mendidik Resky. Beberapa pertanyaan kayaknya otoriter, ada juga yang demokratis nih. Aku jadi mau mengikutsertakan Resky untuk Tes Kognisi, biar lebih tahu bagaimana performancenya, cara belajarnya yang tepat. Thanks for sharing ya Mba…

  2. MashaAllah.. lengkap banget infonya mba, memang ya kalo anak itu punya potensi masing masing dan sebagai orangtua harus jeli melihat potensi anaknya, kalo anak sulit belajar ya orang tua harus membantu anak mencari solusinya.. sehingga anak bisa memunculkan potensinya

  3. Setuju banget bahwa semua anak itu unik, jadi baiknya jangan bandingkan dengan anak lainnya. Mereka punya waktunya sendiri. Aku coba jawab pertanyaan-pertanyaan di atas juga nih walaupun belum punya anak ehehe hasilnya demokratis, semoga kalo udah punya anak beneran hasilnya gak berubah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.